Disclaimer : Jika Naruto milikku, Sasuke akan menjadi milik Hinata...
.
.
.
Chapter 6
.
.
.
"Hinata," ulangnya lembut. "Kau baik-baik saja?"
Hinata hanya berkedip menatapnya. "Apa?"
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Gaara lagi. "Kau terjatuh cukup keras."
Hinata mendorong dirinya dari atas Gaara, wajahnya terasa panas. "Aku baik-baik saja," jawab gadis itu sambil tertawa gugup. **Oh Tuhan...aku berbaring di atas tubuhnya dan melongo memandanginya seperti orang idiot!**
Gaara bangun dan mengibaskan pasir dari bajunya. "Kurasa latihan untuk malam ini sudah cukup," katanya, tersenyum kecil kepada Hinata. "Kita seharusnya segera kembali ke hotel."
Hinata mengangguk sedikit, pipinya masih terasa panas. **Apa yang sedang dipikirkannya? Aku ingin tahu apakah dia terpengaruh olehku seperti aku terpengaruh olehnya...**
Dengan cepat pria berambut merah itu berdiri, mengulurkan tangan ke arah gadis berambut indigo yang masih terduduk di atas pasir.
Hinata menyambut tangan itu, dan menarik tubuhnya berdiri. Lalu melepaskan tangan Gaara dengan segera, perasaan hangat menjulur keseluruh tubuhnya karena sentuhan kecil tersebut.
"Terima kasih," ucapnya pelan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona dengan berpura-pura mencari sandalnya.
Mereka berdua berjalan kembali ke hotel dalam keheningan. Hinata melirik sembunyi-sembunyi ke arah Gaara sementara mereka berjalan. Pria itu sungguh tampan. Rambutnya yang berwarna merah menyala benar-benar cocok dengan warna kulitnya yang putih bersih. Mata hijaunya yang dalam juga sangat menawan. Ia bisa dibilang pendek, hanya beberapa inchi lebih tinggi dari Hinata, tapi pembawaannya yang percaya diri membuatnya terlihat lebih tinggi. Tubuhnya terbungkus otot yang ramping; Hinata bisa merasakan setiap inchi ototnya saat terjatuh diatasnya tadi. Ingatan tersebut kembali membuat pipinya merona. Tidak bisa disangkal, Sabaku Gaara memilki fisik yang benar-benar sempurna.
**Orang ini seperti sebuah teka-teki. Kadang dia sepertinya sangat jauh. Di lain waktu, seperti saat di pantai tadi, dia begitu baik dan peduli. Aku penasaran orang seperti apa dia sebenarnya...Aku yakin aku bisa sangat menyukainya jika saja dia terbuka padaku...Aku ingin tahu jika dia bisa...Jika dia bisa melihatku sebagai seorang teman ataukah dia hanya akan selalu melihatku sebagai seseorang yang membayarnya untuk melindungiku...*
Hinata menghilangkan pikiran-pikiran itu dari kepalanya saat mereka sampai di depan pintu kamarnya. Ia dan Temari tidur di kamar yang sama sementara Naruto dan Gaara berbagi kamar di sebelah kamar mereka.
"Aku ada di sebelah jika kau memerlukan aku," kata Gaara lembut.
Hinata tersenyum padanya, mengangguk singkat. "Selamat malam, Gaara."
"Selamat malam, Miss-Hinata," gumamnya. "Tidurlah yang nyenyak. Kita akan memulai hari pagi-pagi sekali besok."
"Kau juga," jawab Hinata sebelum menutup pintu kamarnya pelan-pelan. Begitu berada di dalam, gadis itu bersandar di balik pintu sambil menghela nafas. Tiba-tiba merasa sangat kesepian. **Aku...Aku ingin tahu seperti apa cinta itu...Aku belum pernah mengalaminya...Apakah aku akan menemukan seseorang yang akan membuatku tidak merasa hampa seperti saat ini...**
.
.
.
"Jam tiga di pagi buta," gerutu Naruto jengkel sambil menggosok-gosok matanya. "Kenapa kita tidak bisa melakukannya di siang hari saja? Aku masih SAANGAT pusing..."
"Seharusnya kau jangan tidur terlalu telat," Hinata menegurnya dengan lembut. "Kau kan sudah tau jam berapa kita harus bangun..."
Naruto mengerang dan melotot ke arah Hinata. "Ino pulang lebih telat daripada aku dan dia tetap tinggal di hotel dan tidur..."
"Kalau begitu kembali saja ke hotel kalau kau mau!" bentak Hinata. "Tidak ada yang menyuruhmu ikut..."
Naruto nyengir, menarik-narik rambut Hinata. "Jangan marah donk, nona kecil. Aku ikut karena aku mau..."
"Kalau begitu berhentilah mengeluh," sahut Temari ketus dari bangku disebelahnya. "Suaramu nyaring sekali, kepalaku mau pecah mendengarnya."
Naruto mendengus. "Lihat siapa yang sedang bicara."
Gaara memandang mereka dari kaca spion kanan. Merasa geli. Sebuah seringai kecil tersungging dibibirnya. "Kita sudah sampai..."
Dengan cepat Hinata keluar dari mobil, memperhatikan photographer dan para kru-nya yang sudah standby di sana.
"Hinata, darling!" Ia mendengar suara memanggil.
Gadis bermata pucat itu menoleh ke arah suara, dalam keadaan setengah gelap, melihat orang itu berjalan menghampirinya, mengenakan celana hitam ketat dan baju hitam yang sama ketatnya.
"Hei, Sai!" katanya riang, menyambut pria itu dengan sebuah ciuman di pipi.
"Berapa lama pemotretan ini akan berlangsung?" tanya Naruto, bersandar pada mobilnya. Dia tidak pernah menunggui kegiatan-kegiatan keartisan Hinata sebelumnya. Alasan utama dia mau menemani gadis itu kali ini adalah karena adanya kejadian akhir-akhir ini. Sekarang ia hampir paranoid untuk meninggalkannya sendirian.
Laki-laki berambut hitam yang sedang memeluk Hinata, kini melihat ke arahnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Sabar, sweetheart," katanya. "Kau tidak boleh memburu-buru orang jenius."
"Sweetheart?" Naruto ngedumel pada dirinya sendiri. "Orang aneh."
"Ayo dimulai make-up nya!" kata Sai, menepuk tangannya. "Ayo Hinata, Temari!"
Gaara mengawasi mereka saat mereka berjalan ke arah trailer. Si phographer sepertinya cukup aman. Mendengar sebuah erangan, bodyguard itu menoleh ke arah pemuda dibelakangnya.
"Bagaimana kau berharap bisa melindungi Miss Hyuuga kalau kau masih hungover?" tanyanya, bersandar pada mobil disebelah Naruto.
Ia merasa pemuda itu sedang melotot kearahnya. "Jangan khawatir. Aku bisa melindunginya."
Gaara tersenyum dalam hati. Pemuda disebelahnya ini tidak bisa mengendalikan temperamennya.
"Aku punya penawaran untukmu," kata Gaara lembut.
"Penawaran apa?" tanya Naruto, merosot ke atas pasir untuk duduk bersila.
"Jika kita berdua akan menjaga Miss Hyuuga, aku yakin kita berdua harus akur," jawab Gaara, melirik ke bawah, kearah pemuda tersebut. "Kita tidak harus setuju akan semua hal, tapi kita bisa mencoba untuk bekerja sama."
Naruto diam untuk beberapa saat. "Kurasa kau benar..."
"Kalau begitu sudah ditetapkan," sahut Gaara. "Kau akan menjadi asistenku untuk melindungi Miss Hyuuga."
"Asistenmu!" seru Naruto. "Kenapa harus aku yang jadi asisten?"
"Karena diantara kita berdua akulah yang punya pengalaman enam tahun jadi bodyguard," respon Gaara santai. "Sedangkan firasat sebagai seorang bodyguard yang tidak kamu miliki sangat dibutuhkan..."
"Benar juga," Naruto menggerutu. "Tapi jangan berharap aku mau mendengar kata-katamu. Kamu bukan bosku. Dan aku tidak sudi diperintah-perintah."
Gaara hampir menghela nafas. "Tadi kubilang bekerja sama, kan?"
"Ya, ya," gumam Naruto. "Baiklah, kita akan bekerja sama."
"Bagus," gumam Gaara.
.
.
.
"Ini akan menjadi delapan halaman terpisah, Hinata," kata Sai dua jam kemudian. "Foto-fotonya akan muncul di berbagai majalah dimana-mana. Kakashi's designs mengguncang dunia. Keputusanmu untuk menjadi modelnya membuatnya sangat senang."
Hinata tersenyum. "Aku dan Temari juga senang. Dia sudah sering mendesain baju kami, bahkan menamai parfumnya namaku. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalasnya."
"Dia sangat mengagumi bakatmu," jawab Sai tersenyum. "Dia akan menawarimu apapun untuk menjadi 'wajahnya'"
"Aku akan senang melakukannya," bisik Hinata.
"Matahari akan segera naik," kata Sai. "Kita harus menyelesaikan persiapannya. Kita akan mulai beberapa menit lagi."
Hinata beralih ke Temari begitu Sai menjauh. Jika Hinata mengenakan gaun hitam ketat, Temari mengenakan gaun merah super mini. Rambut pirangnya ditata dengan gaya exotic dan lipstic warna merah seperti warna bajunya.
"Looking good," kata Temari saat Hinata menghampirinya. "I'm so excited!"
"Aku juga," respon Hinata.
Naruto muncul dibelakang mereka dan merangkul kedua gadis itu. "Kalian terlihat seksi sekali!"
Temari tertawa dan menonjok bahu Naruto.
"Ok, Hinata," kata Sai, memanggilnya. "Kita akan memulai pemotretan dirimu dan Temari dulu. Nanti, model pria akan tiba dan kita akan melakukan pemotretan dengan baju renang. Lalu akan ada arahan dimana kami akan memintamu melepaskan bikini bagian atas. Kurasa kau dan Kakashi sudah membahasnya kan? Kami akan menyuruh semua orang pergi kecuali para kru. Satu-satunya orang yang bisa melihatmu topless cuma si model pria, Sco-"
"Tunggu, tunggu, tunggu!" Naruto menginterupsi dengan suara nyaring. "Orang asing akan melihatnya topless? Tidak boleh..."
"Naruto, tidak apa-apa," desis Hinata. "Cuma beberapa gambar. Kami sudah membicarakannya. Bukan untuk dipajang di cover depan."
Naruto menggelengkan kepanya dengan pasti. "Tidak boleh!"
"Kau tidak punya hak untuk melarangku!" bentak Hinata.
"Tak seorang model pria keparat manapun yang boleh menatapmu bertelanjang dada!" teriak Naruto. "Aku tidak akan membiarkannya."
"Lalu menurutmu Hinata harus berpose dengan siapa?" tanya Sai, yang mulai kehilangan kesabaran. "Pemotretan ini sudah dibayar dan aku harus melaksanakan apa yang diminta Kakashi."
"Skip saja yang bagian topless-nya," kata Naruto dengan tegas.
Sai menggelengkan kepala. "Impossible."
"Jangan jadi pengganggu, Naruto," sela Temari. "Hinata kan tidak berpose telanjang atau semacamnya."
"Mungkin sama saja!" Naruto hampir teriak lagi.
"Kau berlebihan," bisik Hinata, mulai naik darah.
"Dengar, aku tidak akan membiarkan orang asing melihatmu tidak memakai baju, titik!" bentak Naruto, matanya menyipit.
"Kamu bukan ayahku!" teriak Hinata. "Jangan coba-coba berlagak seperti bos padaku!"
"Well, aku penjagamu dan aku juga temanmu dan kubilang-"
"Tunggu, tunggu," kali ini Sai yang menyela, tersenyum jahat. "Bagaimana kalau kau saja yang jadi model prianya?"
"APA!" Naruto dan Hinata menyahut bersamaan.
.
.
.
(karena buka scene Gaahina, kita skip aja sesi pemotretan yg super hot antara Naruto dan Hinata)
.
.
.
Satu jam kemudian, mereka semua sedang duduk di restoran pinggir jalan. Sai dan para kru-nya sudah kembali ke hotel mereka, meninggalkan grup kecil itu sendiri lagi.
Hinata blushing di bawah tatapan Temari yang masih menggodanya. "Kalian berdua hot banget tadi!" kata Temari sambil kipas-kipas. "Oh, my..."
Wajah Hinata semakin memerah. "Diam, Temari."
Gaara tetap diam, sesekali meneguk lemon dingin digelasnya.
Pipi Naruto juga berwarna pink dan dia makan dalam diam.
Memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya, Hinata melirik ke arah Gaara. Mata mereka bertemu, Gaara tersenyum kecil.
**Ciuman Naruto menyenangkan...tapi aku ingin tahu...seperti apa rasanya mencium Gaara...**
Pipi gadis itu terasa hangat memikirkannya. **Mungkin suatu hari aku harus cari tahu...**
.
.
.
Gaara berguling ditempat tidurnya sambil mendesah, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sudah seminggu berlalu sejak pengambilan gambar di Hawaii, tapi gambaran hari itu masih melekat diingatannya.
Hinata menatap kearahnya saat ia menanggalkan bikini atasnya dan memegang bikini itu di atas air dengan tatapan mata mutiaranya yang menggoda. Kulitnya yang seputih gading mengkilat di bawah sinar matahari sementara rambutnya yang basah melekat pada kulit punggungnya yang mulus. Keseksian yang dipancarkannya hari itu membuat tenggorokan Gaara kering. Ekspresi gadis itu seperti bermain-main, bibirnya membentuk seringai menggoda. Kemudian dia berpose dengan pemuda itu, mengangkangi pangkuan pemuda itu dengan paha rampingnya, leher melengkung kebelakang dengan cantiknya saat dia mengikuti arahan si photographer. Untuk sejenak, Gaara hampir berharap dirinyalah yang sedang memangku Hinata.
Dengan cepat ia mengusir pikiran tersebut. Ia cuma bodyguardnya, tidak lebih. Tapi ia juga seorang laki-laki. Gaara mengakui kalau Hinata adalah seorang gadis yang sangat cantik.
Malam itu dia bermimpi membiarkan tangannya merajalela membelai kulit Hinata yang selembut sutera. Ia terbangun kaget dengan tubuh berkeringat.
Tidak sepantasnya ia berfantasi tentang orang yang mempekerjakannya. Gadis itu baru sembilan belas tahun. Masih gadis, belum menjadi seorang wanita. Naruto lebih mendekati umur Hinata dan Gaara bisa bilang kalau pemuda berambut pirang itu menginginkan Hinata. Buktinya adalah caranya memandang tubuh Hinata saat dikiranya tak seorangpun melihat. Naruto pasti sudah berhenti menganggap Hinata sebagai adiknya semenjak lama, tapi tetap bersikap seperti seorang kakak. Gaara tak habis pikir, kenapa pemuda itu tidak berterus terang saja mengakui perasaannya pada Hinata.
Menengok ke arah jam, Gaara menahan erangan, dia punya waktu empat jam sebelum ia harus bangun untuk memulai persiapan konser. Kemungkinan besar dia tidak akan bisa tidur sama sekali.
.
.
.
Begitu Hinata naik ke atas panggung, penonton langsung memanggil namanya terus-menerus. Ia memulai konser dengan berjalan dengan langkah ringan ke tengah panggung. Lagu langsung diputar hampir bersamaan dengan videonya muncul di belakang layar. Setelah lagu pertama selesai, ia akan berhenti sebentar untuk menyapa penonton.
"Kalian harus membantuku! Jika kalian tahu lagu ini, maka bernyanyilah bersamaku! Ladies and gentlemen, my backup singers, Temari and Emily!"
Temari dan Emily muncul di belakang Hinata, berpakaian sama dengan yang dikenakan Hinata, jubah hitam. Mereka melambai ke arah penonton sebelum mundur lagi begitu instrumen lagu dimainkan. Itu lagu populer dan para penonton langsung mengenalinya.
Hinata tersenyum gembira saat dia mengambil posisi di tengah panggung, menarik jubahnya dengan sekali gerakan. Jubah itu jatuh dikakinya menampakkan pakaian yang menantang dibaliknya.
.
.
.
Gaara merasa matanya terbelalak saat Hinata mulai bernyanyi. Pakaian yang dikenakannya murni erotis. Gadis itu mengenakan celana ketat dari kulit yang terlihat seperti kulit keduanya, melekat mengikuti lekuk pinggangnya, dan kain yang dieratkan oleh gesper perak yang mempertontonkan sebagian besar kulitnya yang creamy dan putih.
Temari dan Emily mengenakan pakaian yang sama, tapi Hinatalah yang menjadi pusat perhatian. Gerakan pinggulnya saat menari bersama penari pria membuat pikiran-pikiran tentang sex memenuhi kepala bodyguard itu. Untuk sesaat, yang bisa dipikirkannya hanyalah tubuh ramping Hinata gemetaran di bawah tubuhnya sambil mengerang kenikmatan di kegelapan saat Gaara menindihnya.
Ia menyingkirkan pikiran erotisnya jauh-jauh, matanya mulai menyapu di keramaian. Orang-orang ikut menari mengikuti irama. Setelah tepuk tangan yang sangat meriah, Hinata menyanyikan lagu selanjutnya, yang kali ini berirama lambat.
Saat lirik terakhir selesai diucapkannya, para penonton terdiam, menatap kagum pada gadis cantik di atas panggung. Mereka semua seperti terhipnotis lalu kemudian sadar dan bertepuk tangan sangat meriah. Seluruh arena seperti gemetar karena suara tepuk tangan yang membahana diseluruh penjuru ruangan tersebut. Untuk pertama kalinya Gaara bisa melihat dengan tepat kenapa Hyuuga Hinata bisa sangat populer. Suaranya menakjubkan, kecantikkannya memukau, dan pribadinya membuat orang terhipnotis. Sesuatu tentang dirinya memberi kesan terbuka dan misterius secara bersamaan. Dia adalah seorang Diva, tapi saat yang bersamaan dia juga seorang gadis muda yang tak berdosa. Gaara belum pernah bertemu orang seperti itu sebelumnya, dan ia bahkan ragu jika ia hidup sejuta tahun lamanya, ia akan bisa bertemu orang seperti itu lagi.
.
.
.
"Aku nggak mood untuk kepesta malam ini," kata Hinata letih di belakang panggung. "Aku hanya ingin kembali ke hotel dan tidur."
"Aww," keluh Temari, menatap Hinata galak. "Ayo ke pesta!"
Hinata menggelengkan kepala. Dia melepaskan gaunnya dan berganti jubah handuk. "Aku capek sekali, Temari. Kau pergilah. Aku yakin Ino dan Naruto akan pergi bersamamu."
"Baiklah," kata Temari, melangkah keluar kamar ganti dengan menghentak-hentakan kaki. "Akan kulihat apakah Sabaku mau pergi bersama kami."
Hinata menghela nafas begitu Temari pergi, menatap bayangannya pada cermin dalam ruangan tersebut. Smokey eye shadow membuat matanya terlihat lebih bersinar. Ia memutuskan untuk membersihkan make upnya kalau sudah tiba di hotel saja. Dengan cepat Hinata mengenakan celana jeans biru dan kaos hitam.
Ketukan pelan terdengar dipintu saat gadis itu sedang menyisir rambut panjangnya. "Siapa?"
"Gaara," informasi suara lembut itu. "Apa kau sudah siap, Hinata?"
"Tunggu sebentar!" panggil Hinata, berjongkok untuk memakai sepatunya.
Mengambil dompet dan melirik sekali lagi kearah cermin untuk melihat penampilannya, Hinata tersenyum dan berjalan menuju pintu. Gaara sedang menunggu dengan sabar di lorong.
"Apa kau akan pergi ke pesta bersama Temari?" tanya Hinata saat Gaara membukakan pintu limousine untuknya.
Dengan cepat pria itu menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku harus tinggal bersamamu setiap waktu."
"Kau boleh pergi kalau kau mau," Hinata berkata padanya saat pria itu masuk ke mobil dan duduk disebelahnya.
Gaara tersenyum kecil. "Aku tidak suka pesta."
"Begitu ya," gumam Hinata, bersandar pada jok kulit yang adem. "Lalu kau sukanya apa?"
"Berlatih pedang dan seni bela diri'" jawabnya lembut. "Bersantai, membaca..."
"Hmmm...aku suka bersantai," bisik Hinata, menutup matanya. "Aku capek sekali."
"Kita tidak terlalu jauh dari hotel," kata Gaara. "Tidur saja sekarang kalau kau mau. Akan kubangunkan kalau sudah sampai."
.
.
.
Hinata memercikkan air hangat kewajahnya dengan tangan satu, sementara tangan yang satunya lagi meraba-raba mencari handuk. Membutuhkan waktu hampir dua puluh lima menit untuk membersihkan sisa-sia make up yang sudah menempel diwajahnya selama seharian ini.
Gadis itu melempar handuk tersebut ke atas wastafel dan segera menuju tempat tidur, menyusupkan dirinya di bawah selimut tebalnya yang berat lalu memejamkan mata.
Dia terjaga dengan kaget beberapa waktu kemudian karena mendengar suara keras ketukkan pintu. Hinata turun dari tempat tidurnya, berjalan dengan susah payah sambil berkedip berkali-kali untuk mengusir ngantuk dimatanya. **Sial Temari mungkin lupa membawa kunci lagi...**
Ia menarik pintu terbuka dan menengok keluar. "Temari?"
Keningnya berkerut kebingungan saat menyadari lorong itu benar-benar kosong. Dia melangkah maju dengan hati-hati, menengok ke atas dan ke bawah lorong hotel sementara perasaan tak tenang mulai terbentuk didadanya.
Tiba-tiba lampu-lampu di lorong tersebut berkedip-kedip. Sekali, dua kali...gelap.
Tersentak, Hinata mundur dengan cepat, membanting pintu kamarnya supaya tertutup. Dengan cepat ia naik ke atas tempat tidurnya dan sembunyi di bawah selimut. **Dia tidak ada disini...hotel ini cuma sedang ada gangguan listrik...tak ada yang perlu ditakutkan...**
Hinata memposisikan kepalanya di atas bantal, mencoba bernafas senormal mungkin. Rasa kantuk mulai menghampirinya lagi saat dia merasa selimutnya ditarik dengan perlahan. Gadis itu mengerang dengan lembut, berputar menghadap jendela. Tarikan pada selimutnya tidak juga berhenti, dan segera selimut berat yang menutupi tubuhnya itu meluncur turun, mengekspos kulitnya dalam dinginnya ruangan.
Hinata mendesah, memungut selimutnya dengan kesal sebelum kesadaran memukulnya dengan keras bahwa dirinya tidak lagi sendirian di kamar itu.
Gadis itu membeku, menutup matanya rapat-rapat. **Tidak, tidak...tidak...tidak...**
Tempat tidur itu berbunyi sedikit karena ada tambahan beban berat diujungnya.
Jika memungkinkan, Hinata sudah lebih menegang dari sebelumnya. **Ini tidak terjadi...**
Sebuah tangan yang hangat menyentuh betisnya dan perlahan mulai bergerak ke atas pahanya.
Hinata tersentak menjauh secara refleks. Teriakan penuh teror tertahan ditenggorokkannya, tidak bisa keluar. Sebelum ia bisa turun dari tempat tidur, dua buah paha menyelip kakinya lalu menduduki pinggangnya dan tangan-tangan yang kuat menyematkan kedua tangannya di atas kepalanya.
Hinata bisa berteriak kali ini, berusaha melepaskan diri dengan membabi buta. Sebuah suara dalam, tertawa kecil dalam kegelapan. **Dia tertawa...dia menertawakanku...dia sedang menertawakanku...**
"Lepaskan!" teriaknya, berjuang keras melepaskan diri. "LEPASKAN! HENTIKAN! GAAR-"
Suaranya terpotong secara mendadak saat dirasakannya sebuah bantal ditekankan kewajahnya dengan kasar. Nafas Hinata terengah-engah menembus bantal, kakinya meronta-ronta dengan liar. Kedua tangannya mencoba menarik bantal itu dari wajahnya, tapi percuma. Orang itu terlalu kuat. **Tidak bisa bernafas...tidak bisa...**
"Hinata!"
"..."
"Hinata, bangun! Ini aku! Ini aku!"
Kepalan tangan Hinata maju untuk meninju dada orang yang ada diatasnya. "Hentikan! Menyingkir dariku!"
"Hinata, sadarlah! Aku Gaara!"
Hinata membuka matanya dengan cepat, jantungnya berdetak kesetanan. Gaara sedang memegangi bahunya dengan wajah khawatir. Sinar dari lorong masuk kedalam kamar melalui pintu yang terbuka. Hinata menatap kearah pintu, memperhatikan pegangan pintu kamarnya yang telah dihancurkan. Serpihan kayu terlihat jelas di atas karpet.
"G-Gaara?" gadis itu tergagap, merasa air matanya mulai membasahi pipinya.
"Cuma mimpi buruk," kata Gaara pelan. "Cuma mimpi buruk. Kau baik-baik saja..."
Hinata terbangun dengan isakkan, menghempaskan dirinya ke lengan bodyguardnya. "Sa-SANGAT mengerikan. Aku bersumpah...rasanya seperti dia ada bersamaku di sini!"
"Shh," Gaara menenangkan, lengannya memegangi gadis itu. "Aku sudah berjanji untuk melindungimu. Tak akan kubiarkan hal buruk menimpamu."
Dibiarkannya Hinata menangis untuk sesaat sebelum ia melepaskan gadis itu dengan lembut. "Aku telah menembak kuncinya supaya bisa masuk. Kurasa sebentar lagi security akan datang. Suara tembakannya tadi sangat nyaring."
Baru saat itu Hinata memperhatikan sebuah pistol berkilauan dingin tergeletak disamping tempat tidurnya.
"Maaf," gumam Gaara, dengan cepat mengambil senjata api itu dan memasukkannya di ikat pinggang celananya.
Begitu security datang dan mendapat penjelasan situasinya, Hinata dan Gaara sekali lagi ditinggalkan sendirian.
"Aku bilang pada mereka kita akan membayar kerusakannya," kata Gaara, berjalan ke luar kamar untuk bicara dengan security dengan suara pelan.
"Sudah tidak ada kamar kosong lagi malam ini," informasi pria berambut merah itu. "Aku akan tidur disini, kau dan Miss Temari bisa tidur di kamarku."
Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tolong...jangan tinggalkan aku...aku tidak mau sendirian..."
"Well..." mulai Gaara ragu, "Kurasa kau bisa tidur dikamarku dan aku bisa tidur di lantai, jika kau mau. Aku yakin Naruto mau tidur di kamar ini dan Ino akan mengajak Temari tidur dikamarnya."
Hinata mengangguk. "Aku..aku mau begitu saja jika kau tidak keberatan..."
"Tentu saja," gumam Gaara. "Ayo kalau begitu...kau perlu istirahat banyak."
Dengan cepat Hinata turun dari tempat tidur, membawa serta bantal dan selimutnya lalu mengikuti Gaara.
Gaara menutup pintu kamarnya begitu Hinata telah masuk. Gadis itu melirik ke arah tempat tidur dengan gugup.
Hinata baru sadar kalau Gaara hanya mengenakan boxer. Dadanya telanjang dan ketakutan Hinata terlupakan saat gadis itu tanpa sadar memandangi otot-otot perut Gaara. Kemudian pandangannya beralih ke wajah pria itu, dan ia menyadari sedang ketangkap basah memandanginya, karena Gaara hanya berdiri diam sambil mengawasi dirinya yang sedang menatap tubuhnya.
Wajah Hinata memerah. "Ku-kurasa sebaiknya kita segera tidur..."
Gaara mengangguk, melangkah maju untuk mengambil bantal yang disodorkan Hinata untuknya. Kemudian menyiapkan tempat tidur buatan di lantai dengan menggunakan selimut.
"Selamat malam," gumamnya, lalu berbaring di atas lantai.
"Selamat malam," bisik Hinata, menarik selimut sampai kedagunya. Sprei tempat tidur itu samar-samar berbau cologne yang Gaara pakai. Hinata menghirupnya dalam-dalam, merasa nyaman dengan wanginya.
Dua jam kemudian, Hinata menemukan dirinya sedang menatap langit-langit kamar, sambil mendengarkan suara nafas Gaara yang teratur. Dia tidak bisa tidur. Meskipun ada Gaara dikamar, dia tetap merasa tak tenang. Rasa takut masih menempel di belakang kepalanya seperti mimpi buruk.
"Gaara?" bisiknya, setengah berharap pria itu tidak mendengarnya.
"Hmm?" gumam Gaara ngantuk.
"Apa menurutmu..."
"Ya?" tanyanya setelah keheningan yang cukup lama.
"Apa kau bisa tidur di atas, disampingku?" tanya gadis itu nekat.
Gaara terdiam sesaat, kemudian berdiri. "Apa kau yakin?"
"Ya," jawab Hinata pelan. "Hanya berbaring saja disebelahku...please? Aku masih takut..."
Gaara menyelinap kedalam selimut tanpa kata, berbaring dengan memunggungi Hinata. Berusaha menciptakan jarak dengan hati-hati.
Sesaat kemudian, Hinata mulai memejamkan mata, langsung tertidur. Keberadaan Gaara disampingnya mengusir semua perasaan takut yang membebaninya.
.
.
.
TBC...
Terima kasih krn sdh mo baca fic ini! :) jgn lupa review yah!
