Disclaimer : Naruto's belong to Kishimoto, I'm just a plagiat that needs to entertain and be entertained.

.

.

.

Maaf ya.. Selama ini aku ga pernah balas review kalian.. Soalnya aku ngecek email, ngetik dan update fic ini cuma pake hp (quick office), jd mungkin pada berpikir aku krg berinteraksi ma pembaca sekalian.

Hmm, Hinatanya OOC ya? Pdhl menurutku chapter sebelumnya itu masih tahap wajar. Hinata kan artis, dan bukan artis baru. Walaupun dia basicnya gadis pendiam dan pemalu, kalau udh bertahun-tahun jd artis, pasti soal berpakaian sexy menjadi hal biasa. Apalagi org Jepang setahu aku sama bebasnya dgn negeri barat baik dalam hal berpakaian maupun pergaulan. Dan krn sering melakukan konser pastinya Hinata ingin tampil total menghibur tdk hanya mengandalkan suara agar penggemarnya tdk bosan. Tapi sepertinya pada ga setuju, duh.. ^^; mohon maaf and thanks atas masukannya.

Eh serius nih mau dibocorin siapa stalker nya sekarang? Ku kasih clue aj.. Dia udh pernah muncul di chapter 1. Pasti langsung ketebak kan :p

.

.

.

Warning : Characters OOC, Typo, Adult Theme, Susunan kalimat ga jelas (mohon maaf lagi, untuk penulisan PoV hanya akan dr view orang ketiga, no character's PoV, soalnya jadi merubah alur cerita yg udh ada, bingung.), dll.

.

.

.

Chapter 7

.

.

.

"Ayo people! Kita harus menyelesaikan video klip ini jam empat! ambil posisi! Baiklah, 3...2..." Seorang pria mengisyaratkan nomor terakhir dengan menggunakan jari telunjuknya, dan musikpun mulai mengalun nyaring dari belakang.

Begitu intro berakhir, Hinata mulai menari sambil lip synch mengikuti rekaman suaranya.

Beberapa menit kemudian...

"Bagus sekali, Hinata!" kata si director dengan suara keras saat scene mendekati akhir lagu. "Tapi untuk bagian terakhir aku ingin diulang setelah kita break dulu selama sejam, ok?"

Hinata mengangguk capek, melangkah turun dari panggung dengan hati-hati karena dia memakai sepatu hak setinggi lima inchi.

"Sepatu boot ini membunuhku," keluhnya pada Temari, sambil mengusap keringat dari wajahnya dengan tisu.

"Ceritakan padaku," kata Temari pelan, menenggelamkan badannya di sofa empuk dan menghela nafas. "Aku terlalu capek untuk pergi kemanapun."

"Aku mau tidur siang," gumam Hinata, merenggangkan badan. "Kau mau membangunkan aku kan nanti?"

Temari mengangguk, mengangkat botol air dan mendekatkan ke mulutnya lalu meneguk isinya banyak-banyak.

"Gaara, aku mau tidur dulu," kata Hinata, berhenti disamping Gaara yang sedang baring-baring di kursi sofa di ruang tunggu.

Bodyguard itu segera berdiri, berjalan disamping Hinata dalam keheningan sampai mereka tiba di tempat parkir.

"Kau kelihatan lelah," kata Gaara lembut. "Kau mau aku meminta mereka untuk meneruskan syuting besok saja?"

Hinata menggelengkan kepalanya dengan tergesa-gesa. "Jangan. Aku ingin menyelesaikannya malam ini. Kurasa aku akan baik-baik saja setelah istirahat sebentar."

"Baiklah," kata Gaara, membuka pintu trailer lebar-lebar untuk Hinata. "Infokan padaku kalau kau berubah pikiran..."

"Tentu," bisik Hinata dengan suara berterima kasih. "Thanks, Gaara."

Gaara mundur untuk pergi. "Aku akan berada diluar sini."

"Ga usah, Gaara," kata Hinata cepat. "Kembalilah ke dalam dan istirahat. Aku akan baik-baik saja. Disini sangat tenang."

"Kurasa itu bukan ide ba-"

"Dengar, Gaara," interupsi Hinata. "Pergi dan istirahatlah. Kita semua lelah. Cuma sejam, aku akan baik-baik saja."

"Kau yakin?" tanya Gaara tidak yakin.

"Please," bisik Hinata, memalingkan muka. "Aku senang ada kamu yang melindungiku, tapi aku ingin bersantai sebentar saja. Aku tidak ingin terus-terusan merasa diawasi."

"Aku mengerti," jawab Gaara pelan. "Tapi ini pekerjaanku...akan kubiarkan kau sendirian, tapi aku akan datang untuk mengecekmu secara periodik."

"Terima kasih," Gumam Hinata, menutup pintu.

Menjauh dari pintu, Hinata bergegas menyalakan lampu dan melepas sepatu bootnya. Menghela nafas lega, Hinata berjalan menuju kamar tidur kecil di sudut Trailer.

Gadis itu sudah sampai dipintu kamar tidur saat menyadari bahwa dia melewati sesuatu di meja dapur. Sebuah kotak kecil, bungkusnya berwarna coklat. Ia yakin kotak itu tidak ada disana sebelumnya saat dia pergi ke studio untuk syuting tadi pagi.

Hinata perlahan beralih menatap bingkisan tersebut, jantungnya mulai berdetak dengan cepat. Secara tidak sadar dia menghampiri bingkisan itu, tangannya menjulur memungutnya. Bingkisan itu terbuka. Hinata menatap isinya dengan bingung. Ada sebuah surat dan sebuah CD.

Hinata membuka surat itu dengan kaku.

Hinata Hyuuga,

Aku membuat CD ini special untukmu. Tolong dengarkan.

Tidak bisa mencegah dirinya sendiri, Hinata beralih ke stereo kecil dan memasukkan CD itu kedalamnya. Sebuah suara asing kemudian terdengar. "Hinata...saat kau mendengar lagu ini, ketahuilah aku sedang datang padamu...ketika kau mendengar lagu ini di saat berikutnya, itu berarti kematianmu..."

"...is Dexter ill, is Dexter ill, is Dexter ill

is Dexter ill today? Mr. Kirk, Dexter's in school

I'm afraid he's not Miss Fishborne

Dexter's truancy problem is way out of hand

The Baltimore County school board have decided to expel

Dexter from the entire public school system

"Oh, Mr. Kirk, I am as upset to as you to learn of Dexter's truancy

But surely, expulsion is not the answer!

I'm afraid expulsion is the only answer

It's the opinion of entire staff that Dexter is criminally insane..."

Kedua bola mata Hinata membelalak dengan bingung pada lagu bergaya percakapan yang baru dia dengar. **Apa...?**

Musik dimulai lagi beberapa detik kemudian, membuyarkan pikiran Hinata. Lagu yang aneh dan samar-samar menghantui.

"That boy needs therapy, psychosomatic

That boy needs therapy, purely psychosomatic

That boy needs therapy

Lying down on the couch, what does that mean?

You're a nut! You're crazy in the coconut!

What does that mean? That boy needs therapy

I'm gonna kill you, that boy needs therapy

Renagazoo, let's have a tune

Now when I count three

That, that, that, that, that boy...boy needs therapy

He was white as a sheet

Eyes like blood

And he also laid false teeth..."

**Lagu apa ini?** pikir Hinata, mendengarkan lagu itu dalam keterkejutan yang hening. Lagunya aneh, creepy, dan pastinya tidak seperti lagu-lagu yang pernah didengarnya sebelumnya.

"Hinata! Oh, kau masih belum tidur..."

Hinata menengok ke arah suara dan melihat Temari berdiri di ambang pintu.

"Ada masalah apa?" tanya Temari, melangkah maju. "Ini kan lagunya The Avalanches."

"Avalanches?" ulang Hinata.

"Yeah. Ini lagu mereka...um..'Frontier Psychiatrist'...kalo ga salah."

"Frontier Psychiatrist," gumam Hinata, sedikit merinding.

"Kau ok, Hinata?" tanya Temari curiga, duduk disebelah Hinata. "Ada apa?"

Hinata menggelengkan kepala dengan cepat, berdiri, memungut bingkisan kecil di meja dan membuangnya di tong sampah.

"Tidak ada apa-apa," jawabnya, mematikan stereo sebelum bagian akhir lagu selesai diputar. "Sama sekali tidak ada apa-apa."

.

.

.

"Kepalan tanganmu jangan terlalu tegang," terang Gaara, mengambil tangan Hinata dan melemaskan jari-jari kaku gadis itu. "Harus relax sampai mengenai sasaran."

Mereka telah berlatih disamping kolam renang selama berjam-jam. Hanabi menonton mereka dengan penuh minat dari kursi santai sambil minum es teh.

"Seperti ini?" tanya Hinata, meninju udara didepannya dengan gerak cepat.

"Tepat sekali," jawab Gaara dengan senyum kecil. "Ayo kita break dulu beberapa menit."

Hinata mengangguk, duduk di kursi di sebelah adiknya dan meminum es teh yang dibawa Hanabi. Cuaca hari itu cukup panas. Gaara sudah melepas kaos putihnya. Hinata meliriknya diam-diam. Tubuh Gaara, apabila diungkapkan dengan sebuah kata, sempurna.

"Menurutmu apa dia juga mau mengajariku jika kuminta?" tanya Hanabi disampingnya.

Hinata menoleh ke arah adiknya dan tersenyum singkat. "Aku yakin dia mau."

"Kapan kalian akan berangkat ke Canada?" tanya Hanabi lagi.

"Lima hari lagi," jawab Hinata, bersandar dikursinya dan menutup mata. "Aku berharap bisa tinggal di Konoha lebih lama."

"Sama," sahut Hanabi pelan. Dengan iseng mengaduk-aduk sedotan dalam gelasnya. "Aku kangen padamu saat kau pergi."

"Aku juga merindukanmu, Hanabi." gumam Hinata masih memejamkan mata, menikmati sinar matahari yang membakar kulitnya.

"Sakura jarang berada di rumah akhir-akhir ini," komentar Hanabi. "Kurasa dia punya pacar."

Mata pucat Hinata terbuka mendengarnya. "Benarkah?"

Mengangguk, Hanabi menyeruput pelan minumannya.

"Wow," bisik Hinata, mencondong ke depan."Aku heran kenapa dia tak pernah menyinggung hal itu padaku."

Hanabi mengangkat bahu. "Siapa yang tahu? Mungkin dia ingin merahasiakannya."

"Hmm," gumam Hinata, melihat Gaara mendekat sambil berbicara di handphonenya.

Dia segera mematikan handphonenya begitu tiba didepan Hinata. "Siap untuk ronde berikutnya?"

.

.

.

"Dimana Sabaku?" tanya Temari terkejut saat Hinata mengetuk pintu apartemennya dua hari kemudian.

"Aku keluar rumah sembunyi-sembunyi saat dia sedang mandi," info Hinata, melangkah masuk melewati lantai-lantai marble yang dingin di apartemen Temari.

Temari menatapnya tak percaya. "Kenapa kau lakukan itu?"

Hinata membaringkan diri di kursi empuk yang terbuat dari bahan kulit di ruang tengah milik Temari. "Aku cuma lelah terus-menerus diawasi."

"Tapi kan sudah memang tugasnya untuk menjagamu," sahut gadis berambut pirang itu, menjatuhkan diri di samping Hinata. "Kau mempekerjakannya untuk itu."

"Aku tahu," kata Hinata pelan. "Tapi aku ingin sendirian untuk sebentar saja. Aku kesini untuk melihat apakah kau mau pergi shopping."

"Sure!" kata Temari riang. "Kau tahu aja aku senang belanja. Tunggu, aku ambil dompet dulu!"

Hinata tertawa. "Ayo cepatlah. Aku lagi mood menghabiskan uang."

Mereka mengendarai Mercedes hitam milik Hinata. Memutuskan untuk melewati rute pariwisata menuju mall, Hinata berbelok ke arah Ocean Drive dan melirik beberapa pasang kekasih sedang berjalan-jalan di tepi pantai.

"Aku jadi bertanya-tanya sedang apa Shikamaru sekarang," kata Temari disebelahnya.

"Wah, kalian sudah saling memanggil nama depan, ya?" tanya Hinata, tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

"I wish," jawab Temari sambil terkekeh. "Didepan wajahnya, aku memanggilnya Mr. Nara, tapi aku suka namanya. Shika...terdengar sexy...kira-kira Sabaku mau memberitahuku nomornya nggak ya..."

"Mungkin jika kau memintanya baik-baik," respon Hinata sambil tertawa.

"Aku bisa berlutut dan memohon," kata Temari sambil tersenyum nakal. "Aku rasa aku tidak keberatan 'berlutut' didepannya...hmmm..."

"Temari!" Hinata tersentak kaget. "Kau ini ada-ada saja."

"Jangan bilang pikiran itu tidak pernah terlintas dibenakmu," gumam Temari. "Sabaku tidak diragukan lagi adalah salah satu specimen pria yang lezat."

"Aku tak bisa menyangkal kalau soal itu," kata Hinata mengangguk.

"Bisakah kita setel musik?" tanya Temari. "Aku tidak tahan duduk disini tanpa hiburan."

"Tentu," jawab Hinata. "Pilih saja yang kau mau."

Temari menyalakan radio.

"...is Dexter ill, is Dexter ill, is Dexter ill

is Dexter ill today? Mr. Kirk, Dexter's in school

I'm afraid he's not Miss Fishborne

Dexter's truancy problem is way out of hand

The Baltimore County school board have decided to expel

Dexter from the entire public school system..."

Tangan Hinata mulai gemetar saat melody familiar itu mulai terdengar. Ia mencengkeram setir dengan erat sementara telapak tangannya mulai berkeringat.

"The Avalanches lagi?" gumam Temari. "Aku tidak pernah mendengar lagu ini di radio sebelumnya..."

"Matikan," pinta Hinata lembut. "Matikan sekarang."

"Kenapa?" tanya Temari, menatap temannya dengan bingung. "Kukira kau suka lagu ini..."

Hinata menggelengkan kepalanya dengan galau. "Kumohon matikan radionya."

"Baiklah."

"That boy needs therapy, psychosomatic

That boy needs therapy, purely psychosomatic

I'm gonna kill you, that boy needs therapy..."

"Aku tidak bisa mematikannya," kata Temari setelah beberapa saat. "Sepertinya ada sesuatu yang menahannya di dalam sini."

Hinata menggigit bibirnya dengan keras untuk menahan dirinya agar tidak gemetaran, teringat kata-kata suara asing sebelumnya padanya.

"'...saat berikutnya kau mendengarkan lagu ini, itu artinya kematianmu...'"

"My God, Hinata, kau kenapa?" tanya Temari mendadak. "Kau terlihat seperti habis melihat hantu..."

"Matikan radionya!" teriak Hinata. "Kumohon matikan."

"Aku sedang berusaha!" Temari balas teriak, dengan putus asa menekan-nekan tombol-tombol di radio. "Shit..."

Pegangan Hinata pada kemudinya semakin erat sampai buku-buku jarinya memutih. Dia telah belok dari Ocean Drive ke jalanan sepi, tapi sebuah mobil telah muncul di kaca spion kanannya di kejauhan. Dia menatap terkejut saat gambar di kaca spionnya semakin membesar saat mobil itu mencoba membuntuti Mercedesnya.

"Aneh sekali," sahut Temari, melotot frustasi pada radio didepannya. "Aku tak bisa mematikan radionya! Hinata, sumpah radi-"

Temari tersentak ke depan tiba-tiba saat Hinata menginjak gas.

"What the hell?" gerutu Temari, menempelkan diri pada kursinya secara refleks. "ADa APA DENGANMU, HINATA?"

"Seseorang membuntuti kita," jawab Hinata, mengawasi dari kaca spion kanan depan dengan cemas.

"Membuntuti kita?" oceh Temari, mengernyit saat Hinata membelok dengan tajam. "Kau membuatnya terdengar seolah kita sedang melaju karena dikejar-kejar polisi atau apa. Slow down! Jalanan ini sangat berbahaya jika menyetir selaju ini!"

"Dia akan menangkapku!" bisik Hinata dengan suara panik. "Dia datang..."

"SIAPA yang datang?" desak Temari. "Hinata, kau menakutiku!"

"Orang itu datang," jawab Hinata, matanya sekali lagi melirik ke kaca spion disebelah kanannya. "Dia mengirimiku CD The Avalanches itu...dia bilang saat aku dengar lagu ini lagi, itu artinya kematianku..."

"APA?" jerit Temari. "Kenapa kau tidak bilang padaku sebelumnya? Apa Sabaku sudah tahu?"

Hinata menggelengkan kepala, berbelok ke kiri dengan suara berdecit. "Aku tidak mau mengatakannya pada siapapun. Kupikir dengan mengabaikannya...

"Dammit, Hinata!" teriak Temari histeris, memegangi kursinya erat-erat. "Dan kau menyelinap keluar sementara Sabaku mandi...Aku tak percaya ini...orang itu mungkin telah mengikutimu selama ini...dia bisa saja membunuhmu..."

"Dia sedang mencoba membunuhku sekarang!" Hinata juga berteriak histeris. "Coba kau lihat ke belakang...kalau aku melaju, mobilnya melaju juga. Itu pasti dia...pasti dia yang mengacaukan radioku. Makanya lagunya tidak mau berhenti."

"Tapi bagaimana caranya dia bisa tahu kalau kau akan menyetir sendirian hari ini?" Tanya Temari tiba-tiba tersadar.

"Dia t-tidak mungkin bisa tahu," Hinata mulai gugup. "Dia pasti sudah menunggu...mengawasi...dan aku memberinya kesempatan yang se-sempurna untuk mengejarku. Ak-aku aku aku bo-bodoh sekali!"

"Shh, coba kita tenang dulu," Temari berusaha menenangkan, mencoba mengendalikan rasa takut yang juga mulai membendung didadanya. "Ayo kita kembali ke jalan utama."

"Jalang utama masih bermil-mil jauhnya!" teriak Hinata. "Dia akan bisa menyusul kita!"

"Kalau gitu lebih cepat!" kata Temari tajam. "Tenanglah Hinata. Dia ingin membuatmu panik."

"Aku tak bis-" Hinata tersentak ke depan tiba-tiba. Begitu juga dengan Temari. Mobil yang mengikuti mereka telah menyusul dan sekarang menabrak bumper mobilnya di sebelah kanan dengan ngotot.

"LEBIH CEPAT!" jerit Temari, kehilangan ketenangan yang sempat dimilikinya beberapa saat yang lalu.

Hinata menginjak gas sekuatnya, mendorongnya agar mobil itu bisa membawa mereka sejauhnya, tapi mobil yang mengekori mereka lebih cepat lagi. Mobil itu kini sudah berada di samping mobil mereka. Beberapa detik kemudian, mobil asing itu menyerempet sisi mobil mereka, diikuti jeritan histeris Temari.

"Dia mencoba menjatuhkan kita ke jurang!" teriak Temari, menggenggam erat sabuk pengamannya dengan tegang. "LEBIH CEPAT, HINATA! LEBIH CEPAT!"

"Mobil ini sudah tidak bisa lebih cepat lagi!" Hinata balas berteriak, memengang erat kemudi saat mobil disebelah mereka menyerempet lagi.

"Aku tidak bisa melihat orangnya!" jerit Temari lagi. "Kacanya berwarna gelap. Siapa dia! Kenapa dia melakukan ini?"

"Aku tidak-aghh," Hinata tergelincir kesamping saat mobil itu menghantam sisi Mercedesnya, pintu di samping kursi penumpang di belakang terbuka.

Suara gesekan metal berdenging di telinga Hinata saat mobil asing tersebut menyeruduk mereka lagi, menyebabkan Mercedes hitam itu tergelincir ke ujung jalan.

"AKU KEHILANGAN KENDALI!" teriak Hinata, berusaha bertahan dikemudinya.

Temari terisak saat mobil itu menghantam mereka lagi.

"Aku...aku..."

Satu tubrukan lagi dan Hinata kehilangan pegangannya pada kemudi. Mobilnya tergelincir menuju ujung jurang dengan decitan ban yang membuat kerikil dan kotoran terbang di segala arah. Mobilnya terasa menggantung di udara untuk beberapa saat sebelum meluncur turun ke tanah di bawahnya.

Semua batu-batu seperti mengejar menyusul mereka, samar-samar Hinata mendengar Temari meneriakkan sesuatu. Kemudian...

Gelap...

.

.

.

Tbc..

.

.

.

Trims buat yg ngarepin update kilatnya :)

belum byk momen Gaahina yang bisa dimunculkan di chap ini, tapi di chapter selanjutnya kayaknya dah akan ada romancenya..

Keep review yah!