Disclaimer : Naruto belongs to its creator.
.
.
.
Author's note : I'm more a reader than a writer. Maaf telat updatenya. Banyak yang kuskip di chapter ini supaya bisa segera ke bagian romance tuk main pairingnya. Jadi adegan dirumah sakit, masa pemulihan, kuhilangkan. Yah, semoga chapter ini cukup memuaskan tuk GaaHina lovers.
...
Warning : OOC, Mature Contents, Susunan Kalimat Ga Jelas, dll.
...
Chapter 8
.
.
PENYANYI TERKENAL HYUUGA HINATA DAN BACK SINGER HADATE TEMARI BERADA DALAM KONDISI KRITIS SETELAH KECELAKAAN MOBIL YANG MENGENASKAN.
Gaara meletakkan koran yang dibacanya, matanya melirik headline yang tertulis pada kertas yang kini tergeletak di lantai disampingnya. Dia menggelengkan kepala perlahan, bersender pada kursi keras terbuat dari plastik milik rumah sakit yang diberikan padanya sementara dia berjaga di kamar Hinata.
Shock yang diterimanya saat ia keluar dari kamar mandi dan menemukan kenyataan bahwa gadis itu pergi sembunyi-sembunyi darinya masih bisa dirasakannya. Dan itu mengingatkannya pada luka lama.
Perasaan akan bahaya yang sudah sangat dikenalinya berkecamuk dalam dadanya sampai telpon dari rumah sakit memberikan kabar kecelakaan itu.
Gaara memijat dahinya dengan lelah. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya saat menyaksikan Hinata berdarah-darah di meja operasi, rasanya lebih intens dari semua rasa sakit dan nyeri yang pernah dialaminya selama ini. Mungkin sensasinya sama jika diibaratkan seperti seseorang mencabut jantungnya di saat dia masih bernafas. Ia bahkan tidak tidur sama sekali sejak itu. Ia berdiri di sudut kamar rumah sakit tempat Hinata dan Temari terbaring setiap malam, mengawasinya dengan cemas.
Wajah Hinata masih pucat ketakutan, lengannya di gips, perban-perban menutupi kepala dan dadanya, tapi dia masih hidup. Hidup dan bernafas. Dia akan sembuh. Dan itulah yang terpenting.
**Hinata..Tak akan kubiarkan kau lepas dari penglihatanku lagi..**
Untungnya, kondisi Temari tidak separah Hinata. Lengan Temari patah, gagar otak ringan, namun ia bertahan dari kecelakaan itu tanpa cedera.
Gaara tersentak dari lamunannya saat seorang pemuda berambut coklat muncul di pintu kamar. Pemuda itu membawa vas berisi bunga mawar berwarna peach di tangan kanannya, dan berwarna merah gelap di tangan kirinya. Dua buah tas hadiah berjuntai disikunya saat dia berusaha melewati Gaara untuk masuk ke kamar.
Gaara berdiri dan menghalangi jalan pemuda itu. "Apa yang kau lakukan? Siapa kamu?"
"Aku Inuzuka Kiba," pemuda itu menjawab dengan senyum ramah. "Dan kau adalah..?"
"Sabaku Gaara," jawab Gaara pelan, menatap pemuda didepannya dengan curiga. "Kau mau apa?"
"Menjenguk Hinata dan Temari," jawab Kiba simple, merasa tidak terancam dengan tatapan Gaara yang sedingin es.
"Tidak boleh," kata Gaara tajam.
"Aku yakinkan kau kalau aku tidak punya niat membahayakan mereka sama sekali," kata pemuda itu sopan. "Mereka mengenalku. Aku bersedia menunggu di luar sementara kau bertanya pada mereka, jika kau mau."
"Ti-"
"Inuzuka," suara Naruto dari belakang Gaara. "Tak apa Gaara, biarkan dia lewat."
"Naruto," sapa Kiba lega. "Senang melihatmu."
"Uh huh," gumam Naruto.
Gaara mundur ke dalam kamar, mengawasi Kiba yang menghampiri tempat tidur. Pemuda itu meletakkan vas di meja yang terletak di antara tempat tidur Hinata dan tempat tidur Temari, dan dengan cepat mendaratkan ciuman di dahi Temari.
"Temari," ucapnya lembut.
Perlahan, kelopak mata Temari terbuka. Expresi kesakitan nampak sekilas di wajah gadis berambut pirang tersebut. Matanya terbuka lebar saat menyadari Kiba berdiri di samping tempat tidurnya.
"Kiba-kun," bisiknya parau. "Ya Tuhan.."
"Temari," sahut Kiba, meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi gadis itu. "Aku langsung kesini begitu mendengar kabar kecelakaan itu. Bagaimana keadaanmu?"
"Aku sudah lebih baik," jawab Temari tersenyum kecil.
"Ki...Kiba...?"
"Hinata!" teriak Kiba, beralih ke gadis yang satunya. "Kau sudah sadar..."
Pemuda itu berjalan ke ranjang Hinata dan mencium pipi gadis itu dengan lembut. "Aku sudah dengar semuanya. Kalian cewek-cewek sungguh beruntung masih hidup. Ino menelponku. Aku langsung meninggalkan Tokyo dengan segera. Bagaimana perasaanmu?"
"M-mengerikan," gagap Hinata. "Seluruh tubuhku sakit. O-obatnya...cuma membuat kebas rasa sakitnya."
"I'm sorry, my precious," bisik Kiba, mengusap pipi gadis itu dengan lembut. "Aku menyesal semua ini harus terjadi."
"Aku juga," jawab Hinata pelan. "I-ini semua salahku...Aku menyelinap pergi dari G-Gaara...seharusnya aku mendengarkan."
"Hush sudah sudah," kata Kiba menengangkan. Kemudian menengok ke arah Gaara, yang masih berdiri di pintu di samping Naruto.
"Bolehkah aku ditinggalkan sendirian dulu dengan mereka?"
Memutuskan pemuda itu tidak berbahaya, Gaara mengangguk, mundur sambil mendesak Naruto untuk mengikutinya.
Naruto mendelik ke arah Kiba sesaat sebelum berjalan keluar.
"Aku benci orang itu." gerutunya, memandangi punggung Kiba dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa memangnya?" tanya Gaara, sekali lagi menenggelamkan dirinya di atas kursi.
Menghela nafas, Naruto menyandarkan diri di dinding sambil mengangkat bahu. "Dia terlalu akrab dengan mereka berdua. Dulunya dia pacar Temari. Entahlah...dia membuatku marah. Dia terlalu riang."
.
.
.
"Kalian berdua benar-benar bikin aku takut," bisik Kiba, menarik sebuah kursi diantara kedua ranjang dan duduk.
"Kiba-chan," Temari menggumam. "Sumpah...kupikir aku akan mati...seluruh perjalanan hidupku...aku bisa melihat semuanya saat itu...dan Hinata...Hinata sempat mati... Naruto yang bilang dia mati hampir selama empat menit...benar-benar menakutkan, Kiba."
"Aku tahu," kata Kiba pelan, meraih jemari Temari dan menekankan ciuman lembut di belakang jemarinya. "Aku tahu...aku akan tinggal di sini untuk sementara. Aku akan memastikan kalian berdua sudah aman dulu, baru aku akan kembali ke Tokyo."
Hinata menutup matanya, air mata bergulir ke arah pipinya. "Sa...saat itu...saat aku...aku melihat orangtuaku...dan mereka memanggil-manggilku...aku ingin pergi bersama mereka...tapi..."
"Ya?" desak Kiba.
"Aku mendengar Gaara memanggilku," kata Hinata dengan suara yang hampir tidak bisa didengar. "Bukan dari telingaku...tapi dari...hatiku...nggak masuk akal...maaf..."
Kiba meremas tangan Hinata. "It makes sense, precious. Apa kau jatuh cinta padanya?"
Hinata membuka matanya dan menatap Kiba. "Aku tidak tahu."
Pemuda itu mengusap lembut air mata Hinata dengan jemarinya.
"Kita akan mencari orang yang melakukan ini padamu," katanya pelan. "Kita akan menghabisinya."
.
.
.
"Kurasa sebaiknya kita mencari perlindungan extra," Gaara menginformasikan Naruto dengan tiba-tiba.
"Hmm?" gumam Naruto, bingung.
"Untuk gadis-gadis itu," lanjut Gaara, berpikir keras. "Sekarang Temari juga harus dilindungi. Kau dan aku tidak bisa menghandlenya sendirian. Aku berada di shower selama lima belas menit, Hinata menghilang. Aku tidak ingin itu terjadi lagi."
Naruto mengangguk setelah beberapa saat. "Apa saranmu?"
"Ada satu orang pria, selain kamu, yang membuatku merasa nyaman untuk membantuku melindungi mereka," kata Gaara. "Seseorang yang sangat bisa kupercaya."
"Siapa?"
"Nara Shikamaru."
.
.
.
"Apa kau mencintai Hinata?"
Naruto pucat mendengar pertanyaan itu, menoleh ke arah wajah tanpa ekspresi Gaara dengan mata biru shapirnya yang terbelalak. Pemuda berambut pirang itu membuang muka sedetik kemudian, memandang lurus ke jalanan. "Ya..."
Gaara menyembunyikan keterkejutannya dengan jawaban Naruto yang spontan. Sejujurnya dia sama sekali tidak mengharapkan jawaban dari pemuda itu.
"Sudah berapa lama kau jatuh cinta padanya?" tanya Gaara lagi setelah beberapa saat mereka diam dalam kesunyian.
Naruto terdiam untuk waktu yang cukup lama, membuat Gaara mengira dia tidak akan menjawabnya kali ini.
Setelah beberapa menit, Naruto bergeser dari tempat duduknya, bersandar pada pintu saat limo yang dikendarainya berhenti di lampu merah berikutnya. "Dua tahun, kurasa..."
"Apa dia tahu?" tanya Gaara, dengan hati-hati mencoba untuk tidak menatap ekspresi wajah Naruto yang terlihat terluka.
Naruto menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Aku mengerti," gumam Gaara.
"Bagaimana denganmu Gaara?" Naruto balik bertanya, menatap wajah pria berambut merah itu dari kaca spion.
"Kenapa denganku?"
"Bagaimana perasaanmu terhadap Hinata?" tanya Naruto lagi. "Aku sering memperhatikan caramu memandangnya...saat kau pikir tidak ada yang melihat..."
"Aku tidak memandangnya dengan cara tertentu," jawab Gaara datar.
Naruto mendengus dengan tidak sopan. "Ya, yaaa.."
"Dia itu employerku," kata Gaara pelan, menambahkan nada dingin pada suaranya. "Aku bawahannya. Tidak lebih, tidak ada apa-apa di antara kami."
Naruto diam saja, memutuskan untuk membiarkan kebohongan itu lewat. Ia sudah melihat kepedulian Gaara terhadap Hinata. Pria bermata hijau itu pintar menyembunyikan perasaannya, namun tatapan horror Gaara saat menerima telpon dari rumah sakit, bukanlah pura-pura. Tatapan itu sangat nyata. Emosi diwajahnya terlihat jelas, kekhawatiran atas keadaan Hinata saat itu. Perasaan Gaara pada gadis bermata mutiara itu lebih dari kewajibannya yang normal sebagai seorang bodyguard yang cemas terhadap orang yang sedang dilindunginya. Bahkan Gaara sendiri gagal untuk mengakuinya, Naruto bisa membaca gerak-gerik pria disampingnya ini yang sangat berhati-hati.
.
.
.
Hinata menghela nafas dalam-dalam, matanya memandang langit malam. Ia bisa mendengar suara Temari dan Kiba yang sedang bercakap-cakap di tepi kolam dari kursi roda di balkoni kamarnya, sambil menikmati udara segar.
Ia bersenandung pelan, tenggelam dalam lagu sedih yang dinyanyikannya sendiri. Saat lagu yang dinyanyikannya berakhir, Hinata merasa air matanya jatuh. Dengan kasar diusap kedua matanya. **Berhentilah menangis, Hinata..jangan bodoh..kau sendiri yang menjerumuskan diri dalam kekacauan ini..buat apa menangisinya sekarang...**
"Indah sekali," sebuah suara pelan dari belakangnya.
Hinata terlonjak, menengok kebelakang dan melihat Gaara berdiri di sana, matanya tajam, bersandar dengan santai di pintu kamarnya.
"Ga-Gaara," katanya gugup, sedikit bergetar. "Kau menakutiku..."
"Maaf," gumam Gaara, berjalan mendekat ke arah Hinata. "Aku tidak bermaksud menganggumu. Cuma ingin mengecek..memastikan kalau kau baik-baik saja..."
"Memangnya aku kenapa?" tanya Hinata, memaksakan diri untuk tertawa dengan gugup.
"Kau menangis." kata Gaara pelan, meringkuk di depan kursi roda Hinata sehingga mata mereka bertatapan.
"Ah, bukan apa-apa," bisik Hinata, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Hinata menegang saat jemari Gaara menyentuh wajahnya untuk mengusap air mata dari pipinya. Dia mengira pria itu akan berhenti menyentuhnya saat air matanya mulai memudar, tapi, cukup aneh, jari-jarinya terus mengusap-usap kulit wajahnya dengan lembut.
"Gaara," Hinata berbisik, matanya menelusuri garis-garis wajah pria itu.
Gaara masih menatapnya dengan intens. "Katakan padaku ada masalah apa?" desak Gaara dengan tenang.
Hinata merasa mulutnya kering menyadari betapa dekatnya wajah Gaara dengan wajahnya. "Tidak ada...cuma...lagunya...membuatku emosional..."
Hinata menggigiti bibirnya dengan gugup, memalingkan muka. "Gaara?"
"Ya?"
"Aku...maafkan aku," bisik Hinata.
"Maaf kenapa?" ulang Gaara.
"Karena pergi diam-diam," jawab Hinata, menutup matanya dengan singkat. "Aku...aku bodoh sekali...aku mempekerjakanmu untuk suatu alasan, tapi aku malah bertingkah seperti anak manja...apa kau...apa kau memaafkanku?"
"Tak ada yang perlu dimaafkan," kata Gaara tenang, menyelipkan rambut sehalus sutra milik Hinata kebelakang telinga gadis itu. "Kau tidak perlu minta maaf padaku. Kau sendiri yang membahayakan dirimu. Jika kau behutang maaf, maka kau berhutang pada dirimu sendiri..."
"Kau benar.., tapi-"
Gaara mendiamkannya dengan gelengan kepala, menempelkan sebuah jari pada bibir Hinata.
"Tidak ada tapi-tapian," sahutnya tajam.
Kedua mata Hinata melebar merasakan jemari dibibirnya. Gadis itu menarik diri, membiarkan bibirnya jatuh terbuka, matanya fokus pada tatapan intens Gaara.
"Gaara..."
"Ya?"
"Cium aku."
.
.
.
Gaara menatapnya untuk beberapa saat, mata hijaunya berkilat-kilat dalam keremangan. Untuk beberapa detik, Hinata berpikir pria itu akan menolak, tapi kemudian Gaara mendekatkan wajahnya, menekankan ciuman ringan dibibirnya.
Hinata terengah lembut, perasaan kecewa menyembur dadanya saat Gaara mulai menarik diri. Tanpa sadar gadis itu menyusupkan jemarinya kerambut pria itu dan menariknya mendekat, menekankan bibirnya sekali lagi ke bibir Gaara.
Untuk beberapa saat hanya ciuman-ciuman tak berdosa, tidak lebih dari sekedar bibir yang saling bersentuhan ringan, namun kemudian ciuman itu meledak.
Jari-jari Gaara menyusup ke rambut gelap Hinata, menarik kepala gadis itu kebelakang sementara lidahnya membuka mulut Hinata, memasukinya dan menjelajahinya dengan cepat dan penuh hasrat.
Hinata mengeluarkan erangan lembut dalam mulutnya, menarik rambut Gaara, sementara mulut pria itu terus-menerus menyerangnya dengan lapar.
Ciuman itu terus berlanjut dan semakin memanas. Mereka berhenti untuk mengambil nafas, terengah-engah, Gaara mulai menciumi leher Hinata sementara Hinata mendongakkan kepalanya kebelakang. Mereka berciuman lagi dengan lebih intens sampai sebuah suara gebrakan keras menghentikan aktifitas mereka, membuat Gaara terlonjak menjauh dari Hinata dengan cepat. Ekspresinya berubah menjadi perasaan bersalah saat menyadari siapa yang telah menginterupsi mereka.
Naruto berdiri di pintu kamar Hinata, mata birunya menyipit marah. Jika tatapan bisa membunuh, mungkin Gaara sudah mati saat itu juga.
Gaara berdiri menjauh dari Hinata, memperhatikan rona merah di pipi gadis itu. Dia terlihat cantik sekali dengan nafas terengah-engah, jemarinya memegangi bibirnya, membuat Gaara enggan untuk meninggalkannya. Namun dengan tatapan Naruto yang seperti mau meledak, Gaara memutuskan untuk keluar dari kamar Hinata dan mengikuti pemuda yang sangat marah itu.
Begitu mereka hilang dari pandangan dan pendengaran Hinata, Naruto memutar dan mencengkeram kerah baju Gaara dan mendorong pria berambut merah itu dengan kasar menghantam dinding dibelakangnya.
"APA ITU TADI!" seru Naruto, mengeratkan cengkramannya pada kerah baju Gaara.
Mata Gaara menyipit berbahaya, berkilat menakutkan di keremangan koridor. "Lepaskan."
Naruto kaget dengan perubahan sikap Gaara yang begitu drastis, dan dengan segera melepaskan cengkramannya, perhatiannya tidak luput dari rahang Gaara yang mengeras.
"Apa itu tadi?" tanya Naruto lagi, kali ini dengan suara yang lebih tenang, kedua tangannya mengepal di kedua sisinya seolah menahan diri untuk tidak menghajar sesuatu, apapun itu untuk melampiaskan kemarahannya.
"Kelihatannya seperti apa?" gumam Gaara dingin, merapikan baju depannya yang kusut akibat cengkraman Naruto.
Naruto menatapnya dengan mulut terbuka. "Kau tahu apa maksudku."
"Tidak, aku tidak tahu," jawab Gaara dingin, balas menatap pemuda didepannya dengan tajam. "Kenapa tidak kau beritahu saja aku?"
"Kau tahu bagaimana perasaanku terhadapnya," kata Naruto pelan, memalingkan wajahnya untuk menatap koridor kosong dengan perasaan tak menentu. "Aku sudah bilang padamu..."
"Aku juga tahu kau sama sekali tak berbuat apa-apa dengan perasaanmu itu," balas Gaara. "Dia memintaku untuk menciumnya. Seharusnya tidak kulakukan, tapi kulakukan juga. Cukup kukatakan bahwa itu tidak akan terjadi lagi."
Naruto menatapnya tak percaya. "Oh, ya?"
"Aku bawahannya," jawab Gaara tegas, menjauh dari Naruto dan berjalan menuju kamarnya. "Aku telah melewati batas. Jangan pedulikan. Kejadian ini tidak akan terulang lagi."
Naruto terus menatap Gaara sampai pria itu menghilang dari pandangannya. Dari ekspresi Hinata, jelas ia sangat menikmati ciuman itu. Naruto bisa melihat Hinata mulai tergila-gila pada bodyguardnya. Pemuda itu tahu kalau Hinata tidak akan puas mendengar Gaara mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah mengulangi ciuman mereka lagi.
Untuk sesaat, naruto merasa tubuhnya terbakar marah karena cemburu. Ia dan Gaara sudah mulai membentuk ikatan persahabatn beberapa minggu terakhir ini. Dia tidak mau persahabatan itu putus begitu saja, tapi gila saja jika dipikirnya ia mau membiarkan pria berambut merah itu mengambil Hinata tanpa bertarung dulu dengannya.
.
.
.
Dua minggu telah berlalu semenjak mereka kembali dari rumah sakit. Hinata sudah bisa bangun dari kursi rodanya, bebas bergerak selama dia bisa menghindari lelah. Momen di balcony itu terus-menerus membayangi benaknya. Ciuman itu sangat kuat, penuh gairah dan sesuatu lain yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Sesuatu itu selalu ada di sana, menempel dipikirannya, terutama saat matanya menatap wajah tampan Gaara.
Pria itu telah menghindarinya sejak malam itu. Dia tahu Naruto marah dan mungkin menyuruh Gaara untuk mundur. Pikiran itu membuat Hinata menyipitkan matanya dengan marah. Naruto tak punya hak mengatur hidupnya. Ia tahu Naruto mengaggap dirinya seperti seorang kakak, tapi mereka tidak sedarah dan Hinata tak mau membiarkan pemuda itu membuatkan keputusan-keputusan untuknya.
Pagi itu Hinata memasuki dapur dan melihat Kiba dan Temari sedang cekikikkan di meja makan.
"Pagi, Hinata!" sapa Kiba riang, mata coklatnya bersinar melihat Hinata.
Hinata duduk diseberang mereka, tersenyum senang saat pelayan meletakkan segelas orange juice didepannya.
"Toast, ma'am!" seru Temari, tersenyum lebar.
"Toast," jawab Hinata, membalas senyum Temari sebelum beralih ke Kiba.
Pemuda riang itu kini selalu bersama mereka sejak kembali dari rumah sakit. Hinata merasa senang ada Kiba. Sifat tenang dan periangnya membuat suasana di rumah itu lebih hidup.
"Coba tebak, Hinata," kata Temari. "KIBA-chan membelikan kita buku 'Star Wars' terbaru! Movienya akan segera keluar!"
Kedua gadis itu ternyata adalah fans sejati 'Star Wars'. Mereka berdua sering menghabiskan malam menonton trilogynya.
Kegembiraan Hinata memuncak saat Kiba menyodorkan buku dengan hardcover didepannya. Hinata melirik covernya dan menyengir singkat.
"'Attack of the Clones'," katanya senang, membuka bukunya untuk melihat dalamnya. "Kapan movienya keluar, Temari?"
"Bulan depan!" jawab Temari dengan cengiran. "Kita akan pergi ke pemutaran premierenya, ingat?"
Hinata mengangguk. "Terima kasih, Kiba. Aku sudah menunggu-nunggu untuk membaca ini."
Kiba mengibaskan tangannya. "Bukan masalah."
"'I am a Jedi, like my father before me'," Temari cekikikan memperagakan sebuah adegan, memeluk buku barunya erat-erat di dada. "Kita harus menonton triloginya lagi malam ini! Bagaimana menurut kalian? Mau bergadang?"
"Tentu," jawab Hinata, bersandar ke belakang saat pelayan mulai menghidangkan makanan didepannya.
"Aku tak punya tempat lain yang ingin kukunjungi," gumam Kiba, melemparkan tangannya ke bahu Temari dan menarik kearahnya erat dengan lembut sebelum melepaskannya. Lalu pemuda itu berdiri. "Aku harus menelpon beberapa orang dulu. Sampai ketemu lagi, girls!"
Temari menyengir kearahnya sampai pemuda itu menghilang, kemudian duduk disamping Hinata, tersenyum keji. "Coba tebak? Aku punya berita lain..."
"Hmm?" respon Hinata sambil menyuap makanannya.
"Shikamaru akan datang hari ini," bisik Temari, bersandar dibangkunya dengan tatapan dreamy terukir diwajahnya. "Sabaku yang bilang padaku dia akan datang jam dua siang. Isn't it great?"
Hinata mengangguk, menyembunyikan senyum senangnya di balik gelas jus orangenya. Temari sangat mudah ditebak.
.
.
.
"Itu dia," Temari berbisik, berdiri di dekat Hinata untuk mengintip ke luar jendela. Pria berambut hitam itu sedang berdiri disamping Mercedes hitam, berbicara dengan Gaara sementara matanya menyapu keadaan disekelilingnya. "Cuma masalah waktu sekarang."
"Cuma masalah waktu apanya?" tanya Hinata bingung. Menyingkir dari jendela dan duduk di kursi sofa yang terbuat dari kulit.
"Sebelum aku merayunya, tentu saja," jawab Temari jahil. Menjatuhkan dirinya di samping Hinata.
Hinata mendengus, membuka kembali bukunya dan mulai membaca paragraf yang dicarinya saat Temari datang. "Tentu saja."
Temari cekikikan nakal.
"Bagaimana rencanamu melakukannya?" tanya Hinata sesaat kemudian, memperhatikan sosok Temari yang cantik.
"Aku punya beberapa cara," jawab Temari misterius.
.
.
.
TBC
.
.
.
Kalau suka chapter ini, review yah..! :D
Kalau tidak suka ga usah direview gpp. Walau ga pernah balas review tapi semua author pasti senang kalo ceritanya direview ^^
Cerita ini mendekati lemon... Tapi belum kuputuskan apakah akan kutulis mendetail atau cuma 'dan merekapun bercinta'. Weks. Malu rasanya. Pdhl aku senang baca fic yang ada gituannya. Seandainya saja cerita 'Lawless' bisa diupdate lebih cepat ma shiorinsan.. Duh suka banget aku fic itu. Alasan utama kenapa aku tiba-tiba suka ma GaaHina pairing ya setelah baca 'Lawless'.
