Disclaimer Hidekaz Himaruya

Warning : Rape-Chapter!, Yaoi, Typo (s), Gaje, Abal, OOC, dll

Rate : M

Pair : UsUk

A/N : Khusus untuk chapter ini!
Rape-chapter! ahahaaha! #ketawa tanpa dosa~!
Yukk langsung..
Cekidot..

Note : Semuanya hanya fiksi tingkat dewa. jadi tolong jangan disangkut pautkan pada dunia nyata. Terima kasih

.

.

World Is Changing Fate

.

.

United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland..

"Huahh..."Arthur menguap lebar."Sudah malam ya?" Gumamnya.

Ia duduk di tepi tempat tidur dan menggaruk-garuk rambut blonde-nya. Seharusnya ia bernafas lega karena telah menaklukkan Amerika yg selama ini menjadi ex-colony-nya. Tapi rasanya, ia tidak bisa seperti itu. Ada sedikit rasa penyesalan ketika ia membakar White House yg selama ini jadi kebanggaan negara yg dijuluki Paman Sam itu. Entahlah.

"BRAKKK..."tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibanting. Ia kaget dan langsung bangkit.

"Ah? S-siapa?"

Sesosok pria muncul di tengah kegelapan. Ia sangat mengenal pria itu. Arthur terpojok di dinding. Ia tidak percaya akan sosok di hadapannya. Sangat tidak percaya. Di sisi lain, ia takut dengan pria yg sekarang berdiri di hadapannya.

"Malam, Arthur.."

"Alfred.. M-mau apa kau kesini?"Suara Arthur gemetar ketika mengucapkan nama itu. Ternyata, sosok pria itu adalah Alfred. Alfred menghampiri Arthur yg ketakutan. Ia merasakan Aura yg sangat dingin dari arah pria Amerika itu. Lantas Alfred mengunci Arthur dengan tangan Kirinya. Alfred meletakkan Tangan kirinya di sisi sebelah kiri Arthur.

"Apa kabar, Arthur? Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu..."

"A-apa yg kau lakukan disini, Alfred!" bentak Arthur kesal.

"Haha, padahal aku sudah jauh-jauh dari Amerika yg barusan kau rebut itu, Arthur..."Alfred mengusap pipi Arthur. Dan menatap Mata Emerald-nya dalam-dalam.

"C-cepat pergi, Alfred.. Aku tidak ingin melakukan ini denganmu!"

"Kenapa? Bukankah ini yg dilakukan oleh Seme dan Uke, Hm Arthur-chan?" Alfred berbisik tepat di telinga Arthur.

"A-Al..." Arthur berusaha mendorong tubuh Alfred menjauh. Tapi ia tidak bisa melawan Pria kekar di hadapannya ini. Wajah Arthur sangat memerah saat itu.

"Bukankah kau yg selalu ingin berperang denganku, hm?" Alfred menjilat tengkuk Arthur. Membuatnya mengerang tertahan.

"Seperti dugaanku, kau memang manis, Arthur..." Alfred melanjutkan kegiatannya. Ia menjilat, menghisap dan menggigit-gigit kecil kulit leher Arthur. Membuat Kissmark disana. Sementara Arthur terus menggigit bibir bawahnya dengan maksud menahan erangan yg keluar dari bibirnya.

"A-Alfred... Ngh, C-cukup.. Hentikan.." Ucap Arthur sambil mengerang.

"Aku takkan menghentikan ini, sampai urusanku selesai semua, Arthur... Nikmati saja permainan yg akan aku berikan padamu..." Tangan Alfred masuk ke dalam Boxer yg Arthur kenakan. Ia memijat dan meremas ereksi Arthur yg menegang sedari tadi.

"Emh.. Alf.. Hentikan... Ah, Ngh.."Arthur hanya bisa mendesah ketika Alfred melancarkan servisnya itu. Pijatan Alfred semakin kuat. Sementara Arthur mendesah tak karuan. Ia pun mencapai puncaknya seketika itu juga. Alfred melepaskan genggamannya dan menjilat cairan putih yg ada di tangannya.

"Tenang saja, Ini bukan babak akhir kok, Aku baru saja mulai..." Bisik Alfred lagi. Ia melepas jaket Bomber miliknya dan melemparnya ke lantai. Ia mendorong tubuh Arthur ke tempat tidur. Dan melepas celana Arthur.

"A-Apa yg kau lakukan, Alfred!" Ucap Arthur kaget. Tiba-tiba Alfred melepas celana Arthur dan membuangnya ke lantai.

"Ayo kita mulai.. Permainan cinta kita berdua..." Alfred membuka resleting celananya dan mengeluarkan benda kebanggaannya. Ia membalikkan tubuh Arthur dan mulai memasukkan kesejatiannya.

"A-Alfred, Kumohon Ja-.. AH!"

"Sa-Sakit Alfred.. Ngh.."Arthur merintih kesakitan. Ia mulai merasa kalau darah mengalir dari lubang satu-satunya itu. Peluh mulai membasahi wajahnya. Air mata pun mulai berjatuhan dari kedua mata Emerald-nya.

"Ahh.. Engh, Alfred.. Ah.."Arthur benar-benar kehilangan kesadarannya sekarang. Ia terus saja mendesah ketika benda itu memasuki lubangnya lebih dalam. Akhirnya benda itu sudah mencapai dasar lubangnya. Arthur mulai bernafas terengah-engah.

"Alfred.. tunggu sebentar.." Alfred tidak mendengar perkataan Arthur. Ia mulai menggerakkan tubuhnya. Dan itu membuat Arthur tersentak kaget.

"Ah, Ah.. Engh.. Jangan, Alf.. Ah, Ah..."

"Sempit.. Sekali, Arthur..." Alfred juga. Peluh menetes dari pelipisnya. Nafasnya juga terengah-engah.

"Ah...Alfred.. D-disana.. Ah, Ah..." desah Arthur ketika Alfred mencapai titik Prostat-nya. Kesadarannya benar-benar hilang saat itu juga. Ketika Alfred mendengar itu, Ia terus bersemangat menggerakkan tubuhnya. Ketika Arthur akan mencapai Puncak. Ia meneriakkan nama Alfred kala itu. Dan, Pandangannya kabur. Menjadi putih.

"Maafkan aku... Arthur.."

Esoknya...

"Ngh.." Arthur mengucek-ucek matanya. Ia melihat ke sekeliling. Dia di atas tempat tidur sekarang. Ia berjalan ke arah Jendela, dan menyibakkan gorden hijau yg ada disana.

"Ugh.. Masih sakit..." Gumam Arthur. Yap. Lubangnya masih terasa sangat sakit karena kemarin. Rasa sakit itu masih ia rasakan sampai sekarang. Arthur duduk di tepi tempat tidur, ia memijat pelipisnya. Pusing. Kepalanya sangat pusing. Tiba-tiba ia mendapati ada sepucuk surat di atas lacinya. Arthur pun mengambil surat itu dan membacanya.

Untuk Arthur,
Selamat Pagi, Artie. Ketika kau bangun, Mungkin aku sudah tidak ada di England lagi. Haha, lebih tepatnya aku sudah kembali ke Amerika. Oh ya, jaga kesehatanmu, Art. Maaf soal kemarin malam. Aku benar-benar minta maaf padamu. Tolong maafkan aku..

Salam sayang,
Alfred F. Jones

"Dasar Bodoh..." Arthur meremas surat itu. Air mata-nya berjatuhan."Kenapa kau begitu bodoh, Alfred? Kenapa?" Ia menangis di kamar itu. Kamar yg menjadi saksi bisu, perlakuan Alfred kemarin malam.

Washington DC...

Dulu, kota ini mempunyai kebanggaan. Yaitu gedung-gedung pencakar langit yg bertebaran di setiap sudut kota. Kota ini juga menjadi Ibukota dari negara perserikatan Amerika. Tapi, kini gedung-gedung pencakar langit itu rata dengan tanah. Menjadi abu. Tidak ada keramaian seperti dulu. Tidak ada suara derum mobil di jalanan kota itu. Disitu, hanya ada keheningan.

"Beginikah? Beginikah Akhir dari Washington DC?"Alfred menatap reruntuhan rumah dan gedung yg ada dimana-mana. Ia tahu siapa yg melakukan ini. Siapa lagi kalau bukan Arthur?. Alfred mendapati sebuah boneka Teddy di salah satu reruntuhan rumah. Ia mengusap wajah boneka Teddy itu dengan sedih.

"Haha.. Takdir memang susah untuk dilawan..." Ia mengusap air mata yg jatuh dari Kedua bola mata biru Safirnya. Ia menatap langit biru di atasnya.

"Ya kan, Arthur?"

.

.

Tsuzuku

.

.

YAAAA!
Akhirnya Alfred nge-rape Arthur!
Hahahaha XDD
Tunggu chap yg selanjutnya ya...

Mind To Review?