Untuk beberapa bulan kedepan, Yuuri bisa mencukupi kehidupannya. Ia berterima kasih sekali kepada kliennya karena telah memberinya banyak uang. Tapi malaupun uangnya kini melimpah namun dirinya dipenuhi rasa kegundahan. –Akankah dia mencariku atau melaporkanku kepihak berwajib karena telah mengambil uangnya?. Dan kini ia menyesali perbuatannya... dan mungkin juga tidak— Menyesal karena ia mengambil uang tanpa sepengetahuan kliennya dan tidak menyesal karena ia tidak ditendang dari apartement. Setidaknya "dosa" baru yang ia buat itu membuatnya selamat dari kehilangan tempat tinggal. Mata sendunya menatap pemandangan kota yang indah.
Apa aku bisa berubah? Aku tidak ingin hidup seperti ini terus. Aku tidak mau bekerja sebagai seorang pelacur lagi. Terlalu pedih. Aku merogoh kantung celana untuk mengambil foto keluarga yang kusimpan disana. Aku ingin mengenang keluargaku lagi— Eh? Tidak ada?! Kemana hilangnya?! Oh tidak, oh tidak! Itu hanya peninggalan mereka satu-satunya. Oh tidak—! Foto nya benar-benar menghilang!
Yuri on Ice
Mitsuro kubou
Ini dibuat atas dasar stress dan tekanan karna kebanyakan "gaya". Maaf kalau ada tipo dan ga nyambung—
"Jadi kau semalam tidur dengan seorang lelaki dan kau kini ingin mencari jejak laki-laki itu? Oh Victor! Itu seperti bukan dirimu!" Lelaki itu— Jean Jacques Leroy, atau yang biasa dikenal dengan panggilan "JJ" meledek. Dan orang yang ia sebut menghela nafas frustasi. Ia memejamkan matanya.
"Ya JJ aku tahu. Tapi kau tahu laki-laki itu begitu menawan! Sangat menawan— Oh tuhan. Jika aku mengingat bagaimana dia menikmati permainanku... Dia membuatku menjadi "keras""
"Oh tunggu, tunggu dulu Victor. Tenangkan dirimu ok. Kau waktu itu sedang mabuk! Makanya kau melihat laki-laki itu begitu rupawan." JJ menunjukkan ekspresi kaget dan geli. Victor memijat keningnya. "Tidak JJ, Malam itu aku tidak mabuk. Aku masih bisa mengendalikan kesadaranku. Jika kau tidak percaya tidak masalah karena kau tidak merasakannya pula dan satu hal lagi." Victor mengambil sesuatu dari saku bajunya sebelum menunjukkannya ke JJ. Orang itu nampak terkejut melihat sebuah foto dengan wajah yang tidak ia kenali.
"Mereka ini siapa?"
"Kurasa anggota keluarga laki-laki itu. dan ini." telunjuknya menunjuk tepat kewajah seorang laki-laki yang ia kenal. "Dia adalah pria yang menemaniku kemarin malam. Aku ingin mencarinya."
JJ mengedipkan matanya dua kali. "Dan jika kau menemukannya?"
"Aku tidak akan menceritakan hal ini kepadamu. Untungnya dibalik foto itu tertulis dengan jelas nama keluarga dan juga nama mereka hanya saja, apa ini perasaanku atau nama laki-laki itu memang sengaja di hapus?"
"Katsuki... Banyak sekali Katsuki. Apa kau ingin mencarinya?" JJ meragukannya. Namun dia mengangguk penuh percaya diri—"Ya tentu saja. Akan kucari dia hingga keujung dunia."
Setelah percakapan singkatnya itu. JJ kembali keruangannya dan meninggalkan Victor sendiri dalam ruangan. Dia kembali kemeja, membereskan berkas-berkas yang memenuhi meja. Sebelum memulai kerja, ia melihat foto yang tak sengaja tertinggal.
Oh Katsuki, dimana kau berada? Aku merindukanmu. Apa kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti? Karenamu pikiranku menjadi kacau. Kau harus membayar semuanya. Dan aku kembali melanjutkan pekerjaan yang membosankan. Menandatangani hal ini dan hal itu. Mengurusi hal ini dan hal itu disini. Dari pagi hingga malam— Bahkan sampai pagi datang kembali. Mereka mengira pekerjaanku hanyalah duduk tapi mereka semua salah. Aku juga bekerja, sialan! Aku ingin pulang, ingin tidur. Ingin melakukan hal ini dan juga hal itu yang tidak sempat kulakukan. Bahkan entah sudah berapa bulan ini aku tidak bermain skate karena pekerjaan ini.
Karena itu setiap ada kesempatan, aku selalu meluangkan diriku pergi kebar. Alasannya sederhana, karena aku tidak punya waktu untuk berlibur sama sekali akhir-akhir ini. Makanya aku banyak menghabiskan waktuku di bar untuk meminum Vodka, Whisky atau bir untuk melepas stress— Meskipun pada akhirnya aku berakhir dengan meniduri orang-orang yang tidak kukenal. ...ini adalah kali ke-10 aku meniduri orang-orang itu dan baru kali ini aku tertarik dengan laki-laki itu. Entah kenapa.
Menandatangi berkas yang menumpuk, Membuat laporan, menghadiri rapat— adalah rutinitasnya hari ini. Ia akui pekerjaannya ini sangat melelahkan dan ingin sekali secepatnya ia pulang dan merebahkan dirinya dikasur. –Melelahkan. Aku ingin pergi kebar lagi, mungkin saja bertemu dia.
Dan ia kembali pulang dari kantor pukul 11 malam. Tapi ia tidak langsung pulang, melainkan singgah sebentar kebar untuk mengecek sekaligus mencari laki-laki yang ia tiduri kemarin malam. Tapi disana ia tidak menemukan sosok itu diantara ribuan orang yang berada disana. Hanya sekumpulan hidung belang, pemabuk dan lainnya. Victor duduk didekat bar, berharap laki-laki itu datang.
"Tuan, anda mau pesan apa?"
"Ah tidak terima kasih."
Kurasa aku akan menunggu nya hingga jam 12. Kuharap dia akan muncul. Kuharap— Jika dia tidak kunjung datang, lebih baik aku pulang. ...Apa lebih baik kutanyakan hal ini kepada bartender saja? Mungkin dia punya info tentang orang itu. Kupanggil bartender itu dan dia menghampiriku.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa kau tahu tentang laki-laki yang bersamaku kemarin?"
"Saya melihatnya 2 bulan yang lalu dan semenjak itu, dia tidak pernah datang kembali dan baru saja kemarin dia datang kesini lagi. Hanya itu yang saya tau."
"Begituya, Terima kasih."
Sebuah jawaban yang tidak memuaskan rasa ingin tahu Victor. Meskipun begitu ia sedikit mengetahui pola pergerakkan laki-laki itu. Ia beranggapan bisa saja ia tidak pernah pergi kesini lagi karena uang yang orang itu ambil sudah cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan karena itu, dengan perasaan kecewa ia pulang kerumah sebelum tengah malam tiba. Dan begitu ia sampai dikamar apartementnya ia langsung merebahkan dirinya dikasur.
Untuk pertama kalinya ia merasa hidupnya diacak-acak oleh seseorang yang tidak ia kenal— Pria yang telah memunculkan warna dikehidupannya. Dalam tidurnya ia mengingat wajah manis pria berambut hitam itu— Sedang tertawa sembarimelakukan dance battle saat mabuk. Membuat Victor sendiri gemas melihatnya. Dan tanpa sengaja pria itu menggodanya dan membuat Victor lepas kendali. –Dia benar-benar setan penggoda manusia. Aku benar-benar menyukainya. Apalagi saat melihat dia menangis— Oh tuhan dia benar-benar manis sekali apalagi saat ia mulai mengeram dan mendesah, aku tidak tahan ingin menerkamnya saat bertemu dengannya lagi.
Victor tertidur pulas karena membayangkan pria itu dibenakknya.
-0-
Yuuri diam penuh arti— Stress kehilangan satu-satunya kenanganmiliknya. Ia menenangkan dirinya— mencoba mengingat kemana saja ia pada saat 2 hari yang lalu. –Aku kebanyakan menghabiskan waktuku dirumah setelah diomeli sama tua bangka itu, aku pergi ke bar dan bertemu dengan klienku. Setelah itu dia mengajakku kerumahnya dan disana aku ditantang untuk meminum Whisky hingga aku mabuk dan tak sadarkan diri. Saat kubangun aku sudah tidur disampingnya dan dengan secepat kilat aku pergi dari sana setelah mengambil uang. Jadi kemungkinannya adalah tertinggal dibar, jatuh dijalan dan skenario paling buruknya adalah tertinggal dirumah klienku. Setelah perbuatanku yang kuperbuat kurasa aku tidak akan pernah menghampiri klienku lagi.
Dia menghela nafas panjang, dan merebahkan dirinya dilantai. Menatap langit kamar— berharap tiba-tiba saja foto keluarganya jatuh dari langit kamar. Tapi itu adalah hal mustahil.
Dan untungnya namaku yang ada dibelakang foto kuhapus. Jadi siapa pun yang menemukannya tidak akan tahu siapa aku— Dan ketika aku kehilangan foto itu maka aku akan kesusahan mencarinya. Lebih baik aku menganggap benda itu hilang untuk selama-lamanya.
Sebentar lagi waktuku untuk keluar dari kehidupan busuk ini akan tiba. Tinggal menunggu persetujuan dari atasan saja dan jika hal itu disetujui maka, kehidupanku akan berubah meskipun tidak begitu drastis. Setidaknya aku bisa keluar dari lingkaran setan itu dan bisa memulai hidup yang lebih baik.
Aku sudah mengirimkan protofolioku ketiga tempat dan hari ini hasilnya akan diumumkan hasilnya. Kuharap aku bisa diterima disalah satu tempat dari tiga formulir yang kukirimkan. Dan begitu aku sudah bekerja, maka aku akan menjauhi dunia prostitusi.
Tak berselang lama sebuah amplop cokelat muncul dari pintu masuk. Buru-buru ia mengambilnya dan membukanya. Tanda cap merah terbubuh diatas kertas putih— Ia diterima sebc agai seorang staff kebersihan suatu gedung acara yang terletak agak jauh dari pusat kota namun gedung itu agak dekat dengan apartementnya. Jaraknya sekitar 1 km saja dari sini. Kesenangan tidak bisa ia bendung hingga air matanya mengalir dari mata— Tak kuasa menahan air mata kegembiraan. –Oh tuhan terima kasih! Terisak sembari memeluk selembaran putih itu. Ia benar-benar bersyukur diterima ditempat itu, Sangat bersyukur. Mimpinya menjadi nyata pada akhirnya walaupun ia sendiri tidak yakin benar-benar bisa keluar dari dunia prostitusi tapi jika ia meyakinkan dirinya "bisa" keluar dari sana, maka hal mustahil itu bisa ia lewati.
Mulai senin depan— Dengan kata lain dua hari yang akan datang dia sudah bisa bekerja disana.
Aku tidak sabar memulai debut karirku. Tidak sabar lagi!
-0-
Ia menyisir poninya kebelakang. Mengenakan topi dan mulai keluar dari ruangan khusus staff. Membawa sapu dan juga pengki dan kini ia mulai membersihkan gedung dari lantai bawah. Setelah selesai ia membersihkan kamar mandi laki-laki dan membersihkan jendela. Walaupun ia bekerja sebagai pekerjaan yang diremehkan oleh khalayak banyak tapi ia menikmatinya. Ini sudah seminggu semenjak debut pertamanya bekerja. Baru pertama kalinya ia merasakan yang namanya "kesenangan" dalam bekerja. Berbeda dengan pekerjaan nya dulu, ia sama sekali tidak merasakan "kesenangan". Ia hanya bagaikan boneka sex yang digunakan sebebasnya dan sepuasnya oleh pelanggannya saja meskipun sudah ada peraturan Do and Not Do sebelum mereka melakukan hubungan intim.
Jika gedung tidak disewa oleh orang, biasanya Yuuri akan pulang sekitar pukul enam sore hingga pukul tujuh malam namun jika gedungnya sedang disewa untuk acara, biasa nya Yuuri pulang pukul sebelas hingga dua belas malam. Dia tidak keberatan oleh hal itu karena itu adalah resikonya dalam bekerja. Ketika sampai rumah ia merebahkan dirinya dilantai dan tertidur beralaskan koran dan diselimuti pula oleh koran. Niatnya besok ia akan membeli kasur, bantal dan juga beberapa seprai. Dan jika uangnya cukup ia akan membeli handphone lalu tv— Ya itu adalah goal miliknya.
Dan dengan barang-barang itu kehidupanku yang dulu perlahan kembali, aku mulai bisa hidup seperti dulu dimana saat aku memiliki benda itu. Dan kudengar 1 bulan lagi ada sebuah acara pesta yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan besar. Katanya untuk mepererat tali hubungan kerja sama. Hmm menarik sekali. Tapi sayangnya, yang paling kujengkeli adalah perusaha itu minta para OB berpakaian seperti layaknya pelayan— harus berpakaian jas. Oh yang benar saja?! Aku tidak punya jas sama sekali. Jas harganya begitu mahal, mana mungkin aku membelinya?
Tapi untuk apa juga seorang OB harus mengenakan jas pada saat bekerja. Apa jangan-jangan untuk menutupi kastanya yang dianggap rendah itu? Oh yang benar saja!
Yuuri tidak mau tahu dan tidak begitu peduli dengan permintaan si pemesan selama ia diberi uang atau dibelikan jas oleh si pemesan, maka dia tidak akan banyak mengeluh. Ia memejamkan matanya dan tidur untuk mengakhiri hari. Besok akan ada pekerjaan berat yang akan menghampirinya.
