"Oh Victor, demi tuhan. Kenapa kau begitu nampak kacau akhir-akhir ini?"

Sebuah pertanyaan yang sama keluar dari mulut orang yang berbeda. Sampai ia tidak tahu harus menomori orang itu yang keberapa dari sekian banyak orang yang menanyakannya. Ia memejamkan mata dan memijat kening karena kepalanya nyeri.

"Ini tidak seperti dirimu."

"Ya— Ini bukan diriku. "Dia" lah yang telah menghancurkan hidupku."

"Dia?" tanya orang itu kebingungan. Siapa yang Victor maksud?

Victor terkekeh dan tersenyum frustasi. "Dia— Pria yang pernah kuceritakan padamu Georgi. Pria yang membuat duniaku bewarna. Oh tuhan aku ingin... ingin sekali bertemu dengannya lagi! Aku... tidak kuasa menahan rasa rindu ini."

Pria yang diajak Victor bicara itu menghela nafas panjang. "Jadi, apa kau punya nomor atau sesuatu untuk dihubungi?" Victor menggeleng dan kembali menggambil tempat dikursi kerjanya. "Kalau ada, sudah dari kemarin-kemarin aku menelponnya. Dia hanya meninggalkanku foto keluarganya saja."

" Cinderella— Entah kenapa aku merasa hal ini seperti cerita Cinderella. Bukan kah kau berpikiran sama, Victor?"

Kenapa dia disaat-saat seperti ini mengeluarkan komentar yang tidak jelas?! Dan kalau dipikir lagi, dia memang ada benarnya juga.

"Kau benar sekali Georgi." Puji Victor. Georgi tersenyum mendengarnya. "Terima kasih atas pujiannya Victor tapi sekarang kau harus fokus dulu dengan pekerjaanmu supaya mereka saat diacara nanti tidak akan mencemooh dirimu."

Dia benar sekali. Aku harus fokus dengan pekerjaan yang sama dan membosankan ini. Mengurus laporan ini dan itu. Membaca, menandatangani, menyetujui, menyuruh revisi dan lain-lainnya. Georgi— orang yang kini sedang duduk di sofa sedang membantuku merapihkan kertas putih yang tebal itu. Entah kapan pekerjaan yang melelahkan ini akan selesai. Kuharap ini akan selesai sesegera mungkin karena malam ini aku ada janji disebuah restaurant. Restaurant steak yang terkenal mahal. Karena itu, aku harus menyelesaikannya pekerjaan ini supaya tidak mengecewakannya.


Yuri on Ice

Mitsuro Kubo

-o-

Ada Oc untuk mengisi kekosongan.

Kutak bermaksud menghina, jangan blame aku :(. Ini kayak pakai VOCAL*ID kalau mau dibuat nyanyi lagu barat :(, Maafkan aku.

Dan ini kebanyakan pake lagu yang ada ditrack list.


SATU BULAN KEMUDIAN.

Yuuri menghela nafas panjang. Matanya menatap langit kelabu. Hati nya dipenuhi rasa gundah.

Bahkan hari ini pun hujan akan turun. Bagaimana kabar cucianku yang belum kumasukkan kedalam rumah?

Tangan kembali mengusap jendal yang perlahan bersih sebelum berlanjut ke jendela selanjutnya.

"Yuuri!" Panggil seseorang dan reflek ia menoleh keseorang senior yang memanggilnya. umurnya masih lebih muda dari nya namun hal itu tidak membuat Yuuri terusik sama sekali. Ia tersenyum lebar dan menunjukkan benda ditangannya.

"Ayo kita pergi karoke mumpung aku punya kupon karoke loh!"

Yuuri menatap orang didepannya ragu. "Apa aku boleh iku dengan mu, Minami?— Maksudku kan para senior yang lain—"

"Tidak Yuuri, tidak. Ada juga Junior sepertimu yang ikut kok, jadi tenang saja! Bagaimana mau ikut kami selepas kerja?"

Yuuri mengangguk dan Minami tersenyum lebar. "Baiklah, kutunggu kau dipintu belakang oke sehabis kerja!"

Minami pamit. Yuuri kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan jendela. Pikirannya melayang, membayangkan apa yang akan dia lakukan ditempat karoke itu. Dan ia tahu. Itu adalah momen yang sangat pas untuk saling mengenal satu sama lain. Kebetulan sekali, ini adalah kali pertamanya ia pergi ketempat karoke dan ia tidak mau merecokinya.

Setelah semua pekerjaan selesai, ia melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian casual sebelum pergi ketempat yang dijanjikan Minami. Dan ternyata sudah ada Minami itu sendiri dan juga lima orang yang seluruhnya tidak ia kenal sebelumnya. Setelah semua berkumpul mereka pergi kekaroke. Jaraknya dari tempat mereka bekerja tidak begitu jauh jadi mereka kesana hanya berjalan kaki saja. Ketika yang lain nya mengobrol satu sama lain, hanya Yuuri seoranglah yang diam dan terlihat seperti memiliki barier tak terlihat disekelilingnya.

"Yuuri, kau juga harus mencoba berbaur dengan yang lain!" sahut Minami sambil memukul punggungnya pelan.

"Ah, un. Akan kuusahakan."

Oh benar. Aku harus berusaha berbaur dan berbicara dengan mereka seolah aku sudah kenal. Demi tuhan, aku tidak tahu mereka siapa? Mana mungkin aku langsung "menerkam" mereka dengan percakapan yang tidak berarti! Pasti mereka menganggapku "si aneh ini kenapa?" Aku malu sekali— sungguh. Kenapa aku harus terlahir dengan sifat introvert seperti ini!

Untungnya siksaanku tidak berlangsung lama karena kami sudah tiba tempat karoke dan untungnya lagi hujan turun saat kami sampai.—ah cucianku belum kuangkat. Yasudah lah, kubisa apa.

Dan langsung saja Minami memesan tempat dengan menukarkan voucher tersebut. Lalu salah satu perempuan di resepsionisitu memandu kami keruangan yang ada dilantai 2—Ruangan bernomor 20. Didalam sana ada sofa empuk meja dan tentunya tv dan dua buah mic. Kami duduk memangambil tempat namun karena aku masih malu-malu makanya aku duduk didekat Minami. Sebelum mengacak giliran menanyanyi, kami memesan minuman. Kebanyakan mereka memilih bir tapi aku memilih jus jeruk dan juga air mineral untuk menghindari mabuk. Barulah sehabis itu kami menentukan urutan menyanyi dengan "batu gunting kertas—!"

"A— Aku giliran pertama..."katanya lesu.

Padahal aku ingin giliran terakhir!

Semua orang menatap Yuuri dengan tatapan jahat. Bahkan Minami tidak bisa menyembunyikan tawa liciknya— Dan Yuuri merutuk keputusannya menunjukkan punggung tangannya. Setelah urutannya ditetapkan, mereka berempat langsung saja memilihkan lagu untuk Yuuri nyanyikan. Hati nya berdegub, takut mendapatkan lagu yang nada tangga nya tidak dapat ia raih dan juga lagu bahasa asing.

"Jadi Yuuri apa kau sudah siap?" Tanya seorang perempuan dengan wajah menahan geli.

"Kurasa.. aku siap..?"

"Kami ingin kau menyanyikan Chiken attack" Dan perempuan itu tertawa lepas membayangkan bagaimana Yuuri menyanyikannya.

Oh tidak. Aku punya firasat buruk tentang lagu itu— Dan dugaanku benar. Jujur ini lagu tentang apa! Kenapa awal nya—

"Awoooo... Awoooo... yu shurudo nou da za man— witto a paawa obu—" (You should know that the man with a power of—)

Gawat lagu apa ini! Bahasa inggris ku blepotan!

"kan buringu yu to za endo obu yu rakku—aaaaaa" (can bring you to the end of you luck)

"dat yu are abouto to be masiifuli, foruss to gibu ap" (that yoy are about to be massively force to give up)

"ciken atakku—aaaaaa, ciken atakku— waaaaa" (chiken attack, chiken attack)

"nou go, nou furai aaaaaa—iii... Yu oun za suka aaaaa-iii" (Now go, Now fly. You own the sky.)

Kenapa kalian semua tertawa! Kalian juga tidak bisa bernyanyi pakai bahasa inggris bukan! Aaaaah cepatlah selesai— cepatlah selesai...

"Awooooo... auuuuuuu—"

"Fak!" (fucked)

.

.

.

"you're yan ando yu hanguri, peruhapusu shooto obu mani, i gibu dis ciken todai" (yo're young and your hungry, perhaps short of money, i give this chiken today."

"itsu eegu foru dina, itsu regu foru winta—" (it's egg for dinner, its leg for winter)

Kini layar berubah menjadi percakapan seorang kakek-kakek pecinta ayam dan juga seorang penjahat. Si penjahat kagum dengan kebijaksanaan si kakek dan— Ini absurd sekali. Apa maksudnya?! Lalu ending nya apa banget?!

"oraide uuuuuuuwuwuwuwuwuwuwuuuu?!"

"oraide uwuwuwuwuwuwuwuuuuu?!"

Semua orang tertawa. Dan aku juga tertawa hingga lagu habis— Aku tertawa?!

Suara tawa mereka menggema ruangan dan setelah Yuuri selesai bernyanyi, mereka bertepuk tangan menunjukkan apresiasinya terhadap Yuuri. Mulutnya tidak bisa berhenti tersenyum dan tertawa.

"Oh Yuuri, kau benar-benar ingin menirukan pria itu?!" Sahut seorang lelaki yang ia tidak ketahui namanya. Ia malah tertawa geli hingga membanting meja, membuat Yuuri tidak menjawab pertanyaanya.

Akhirnya, ia bisa merasakan perasaan senang dan sekaligus juga geli. Hal itu membuatnya merasa hidup. Selama ini ia belum pernah tertawa bebas dengan membawa perasaannya. Hanya tawa hambar saja. –Tanpa kusadari aku juga ikut tertawa. Benar-benar sudah lama sekali ya.

Setelah itu giliran si perempuan lalu Minami diikuti oleh dua lelaki lainnya. Setelah semua nya selesai menyanyi, kini giliran Yuuri untuk bernyanyi. Tapi dalam sesi ini, mereka bebas memilih lagu kesukaannya masing-masing.

"Kurasa, aku akan menyanyikan lagu ini." Kata si perempuan sembari menunjuk alphabet bertuliskan "Jingo Jungle". Minami tersenyum. "Coba kau nyanyikan Yuko!"

"Un aku akan berusaha. Hei Takeshi dan Rou, apa yang nantinya akan kalian nyanyikan?"

"...kurasa aku akan menyanyikan "Zen Zen Zen Se" " Balas laki-laki bernama Takeshi yang duduk disebelah perempuan itu sembari meneguk bir yang ia pesan. Sedangkan lelaki bernama Rou menggeleng, belum memutuskan lagu apa yang nantinya akan dinyanyikan. Kini pandangannya teralihkan kearah Yuuri dan Minami. "Lalu kalau kalian berdua akan menyanyikan apa?"

"Aku akan menyanyikan "Ikenai Borderline!"" Jawab Minami penuh semangat sedangkan Yuuri masih tertegun menatap buku berisi judul lagu tapi ia sudah menemukan lagu apa yang ingin ia nyanyikan.

"Aku... akan menyanyi lagu "Kimi Janakya Dame Mitai" " Balasnya tersenyum meragukan

Mereka bernyanyi dengan hebohnya karena sama-sama dikompori satu sama lain. Ditambah lagi Minami dan Rou mabuk, membuat suasana semakin memanas dan semakin heboh. Membuat Yuuri hanyut dengan suasana. Dan tanpa sadar, mereka keluar karoke pukul sebelas malam— saking serunya meledek satu sama lain, meghina pada saat bernyanyi dan lain-lain. Mereka menunjukkan wajah lelah saat keluar ruangan namun hatinya dipenuhi oleh perasaan senang. Terutama Yuuri yang baru pertama kali ke tempat karoke.—Tidak buruk jika aku sekali-kali kesini. Lain kali aku akan kesini—

Didepan tempat karoke mereka berpisah untuk pulang namun sebelum itu Yuuri harus mengantar seniornya— Minami terlebih dahulu kerumahnya. Untung nya ia pernah kerumah seniornya beberapa hari yang lalu, makanya ia hafal dengan jalannya. Yang paling ia ingat adalah rumahnya yang dekat dengan restaurant steak. Konon katanya steak disana benar-benar enak. Ia berharap suatu hari nanti bisa makan disana.

Hah! aku kewalahan membawa Minami! Berat badannya tidak berbanding lurus dengan tingginya. Dan dia juga kebanyakan berceloteh yang aneh-aneh saat mabuk— mengingatkan diriku saja saat mabuk. Aku malu sekali!

Yang seharusnya perjalanan membutuhkan waktu sekitar 10 menit, kini menjadi satu setengah jam. Saat sampai rumahnya— atau apartement nya ini, aku dipersusah dengan kunci apartementnya yang tidak tahu berada dimana. Untunglah benda itu tersimpan rapih dibawah keset dan langsung saja aku masuk. Menaruhnya diatas kasur lalu pulang.

Tidak kusangka tadi itu benar-benar menyenangkan. Sungguh menyenangkan. Aku pasti, akan merindukan hari ini.

Hidupku tidak hampa lagi. Hidupku kini, dipenuhi oleh warna— meskipun sedikit demi sedikit. Aku bersyukur, masih bisa hidup hingga saat ini—

Mobil hitam yang melaju dari arah kirinya berhenti mendadak hingga menimbulkan bunyi dan juga bekas kehitaman diaspal. Dadanya tercekat mendengar suara rem mendadak itu. Ia menoleh kearah mobil yang hampir menabraknya dan seorang lelaki keluar dari balik kaca mobil .

"Hei bodoh, kalau jalan lihat-lihat!"

Menyadari apa yang baru saja ia perbuat, langsung saja ia meminta maaf dan melarikan diri dari tempat kejadian perkara. –Yuuri kau bodoh sekali! Seharusnya kalau kau menyeberang jalan lihat lampu lalu lintas dulu!

Ia merutuk dirinya dalam perjalanan pulang. Dan semenjak hal itu ia percaya jika ia terlalu senang dengan suatu hal, pasti sesuatu buruk akan menimpanya.