Yuri on Ice

Mitsuro Kubo

-0-

Maaf kalau Typo dan ga nyambung. Pas nulis ini ana lagi masa Cooling down. Otomatis kekurangan "gaya". Alhasil— Jadi (menurut ana) gajelas. Dan chapter kali ini pendek.

mumpung ada kuota, upload saja lah o)-(


Victor terpaku pada foto ditangannya. Ia mengelus gambar seorang anak kecil dengan jempolnya— yang menurutnya itu adalah pria yang ia tiduri waktu itu.

Laki-laki itu sama seperti yang aku temui dibar. Benar-benar mirip. Apakah itu dirinya? Seharusnya kemarin saat aku melihatnya seharusnya aku langsung mengejarnya tapi karena aku masih kaget karena supir tiba-tiba rem mendadak, makanya aku tidak bergeming. Oh ini buruk! aku ingin bertemu dengannya—

"Tuan Victor, hari ini kita ada rapat."

Victor menghela nafas mengikuti sekretarisnya menuju ruang rapat. Disana telah menunggu orang-orang penting. Ia duduk dikursi paling ujung dekat dengan tempat presentasi. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pembicaraan.

Victor semangatlah! Sehabis ini kau punya waktu kosong untuk mencari dirinya sebelum pesta itu dimulai malam harinya.

Dan dengan ini presentasi dibuka. Kami membahas hal yang sama meskipun topik utamanya berbeda dengan yang sebelumnya. Bersenda gurau, berdebat— itulah presentasi kali ini. Setelah semua selesai, aku kembali keruang kerja untuk mengambil tas dan jaketku dan barulah aku menuju keparkiran dan pulang. Aku mengurungkan niat untuk mencari dirinya. Bukan menyerah, aku hanya lelah— ingin beristirahat terlebih dahulu. Jujur saja, aku lupa jika hari aku punya acara yang penting— Bagi mereka tapi tidak penting bagiku. Kalau kubilang, ini seperti perkumpulan dimana orang-orang nantinya saling menyombongkan dirinya dengan harta kekayaan mereka.

"Dan aku benci itu." bisiknya pelan.

Matanya menatap layar LCD yang sedang memutar acara tv. Entah apa yang sedang ia tonton namun ia menikmatinya.

Acara mulai pukul 7 malam, aku sudah harus bersiap pukul 5 sore karena aku tuan rumahnya dan juga jarak gedungnya yang lumayan jauh dari rumahku. Haah... aku masih ingin merebahkan diriku diatas kasur, memejamkan mataku lalu tertidur. Tapi jika aku lakukan itu, kuyakin aku pasti akan telat kesana. Dengan terpaksa aku meminum kopi, berharap efek cafein membuatku tetap terjaga.

Ingin sekali Victor merutuk orang yang membuat hidupnya terkekang. Namun ia bersyukur meski hidup terkekang, Victor bisa menghasilkan banyak uang. Tidak seperti teman-teman lainnya, Victor lebih sering menyumbangkan— menyisihkan sedikit gajinya untuk sumbangan dan amal.

Ini mungkin gila tapi, apa aku bisa menemukannya disana?

Dia hanya bisa berharap tuhan mengabulkan doanya— Dan pria itu adalah alasan kenapa ia mau datang ke pesta. Bisa saja dia ada diantara ribuan orang yang hadir meskipun ia sendiri tidak dapat menjaminnya.

Semakin hari hidupnya ia merasakan kalau hidupnya semakin kacau. Ia ingin sekali secepatnya bertemu dengan laki-laki itu dan menyelesaikan masalah diantara mereka berdua. Tapi hal itu ia rasakan sangat mustahil. Dirinya jarang sekali mencari info tentang pria itu dan ia berharap menemukannya dengan ucapan yang dapat memunculkan pria itu dihadapannya. Kesibukkan membuatnya tidak sempat mencari pria itu— ia kini menyesalinya.

Kuharus melupakannya. Ini akan mengganggu kinerjaku.

Sembari menunggu waktunya tiba, ia menghabiskan waktunya dengan bermain game Resident of evil 7 yang baru saja rilis. Walaupun ia sering kaget karena jump scare, tapi ia menikmati permainannya dan juga jalan ceritanya. Sampai ia bermain hingga lupa waktu.

Oh tidak, aku terlambat!

-0-

Untunglah Victor sampai tepat waktu digedung sebelum mantan direkturnya mengomel dari handphones. buru-buru ia keluar mobil, menguncinya dan berlari masuk kedalam gedung. Disana telah menunggu Mila, Georgi dan seorang lelaki tua yang masih sehat- mantan direkturnya, Yakov.

"Vitya! kenapa kau datang terlambat hah?!"

"Maaf.. tadi macet.." dusta Victor. Entah reaksi apa yang akan dia berikan jika Victor memberi tahu kejadian sesungguhnya.

"Cepatlah bersiap, Yang lain sedang menunggu. Oh jangan lupa, gunakan topengmu!" Yakov menyodorkan topeng bewarna putih polos

Seperti katanya. Saat kubuka pintu masuk, disana sudah banyak kerumunan manusia menunggu. Berpakaian gaun dan jas. Menggunakan pernak-pernik yang menurutku sangat aneh. Dan langsung saja aku menyuruh para tamu masuk kedalam gedung. Kebanyakan mereka memakai topeng- Jujur aku lupa kalau ini adalah pesta topeng. Pantas saja aku merasa aneh pada saat Yakov memberiku topeng.

Oh! Jadi ini pesta dansa?! Bukannya pertemuan yang membosankan itu?! Kenapa aku bisa lupa?!

"Baiklah... Tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian. Selamat datang dalam pesta dansaku! Maaf walau agak terlambat namun kuyakin kalian pasti dengan sabarnya menunggu bukan? Dari pada kita menunggu lagi, lebih baik kita masuk dan... merayakan pesta ini.."

Pintu yang sebelumnya tertutup terbuka lebar. Dan para tamunya mulai masuk kedalam ballroom. Victor diam dan melihat bagaimana para tamunya melewati dirinya.

Dan neraka sesungguhnya akan dimulai. Setelah mereka masuk langsung saja buru-buru aku mencari sudut ruangan untuk kabur dari tatapan ratusan orang yang menghadiri pesta.

Belum sempat ia bernafas lega karena pesan pendek dari Georgi membuatnya harus menahan hasratnya untuk kabur dari kerumunan orang.

"Yakov ingin kau menyambut Kolya. Cepat kemari."

Tempat ini dipisahkan oleh dua tempat. Lantai satu untuk mereka menari dan lantai dua untuk para tamu duduk dan memakan jamuan yang sudah disediakan sebelumnya. Ia bergegas menuju lantai dua dan disana sudah ada Yakov dengan orang bernama Kolya. Dibelakang Kolya berdiri seorang anak laki-laki berambut bolnde. Memakai topeng sehingga ia tidak tahu bagaimana rupanya.

"Ini dia pangeran yang kita tunggu-tunggu."

"Maaf membuatmu menunggu tuan Kolya." Ia berajabat dengan pria yang sebaya dengan Yakov. Ia menyunggingkan senyum tipis sebagai reaksi. Matanya saling bertatapan untuk beberapa saat.

Membosankan. Pasti hal ini akan membosankan. Kenapa aku tidak ingin bergaul.

"Bagaimana kabarmu?"

Oh tidak. Aku tidak ingin berbicara dengannya.

"-Kenalkan dia adalah cucuku. Dia lah yang akan mewarisi perusahaanku."

Aku sudah tau...

"Maaf, aku harus pergi ke toilet sebentar."

Hanya dengan alasan itu barulah orang-orang mau melepaskan dirinya dari percakapan yang membosankan itu. Secepatnya ia masuk kamar mandi, berdiri didepan cermin dan membasuh wajahnya. Kantung mata yang tertutup oleh topeng kini terlihat jelas—membuktikan kalau ia jarang sekali tidur berkulitas dari seminggu yang lalu karena beban dibahu dan juga dihatinya.

"Oh tuhan... Aku ingin sekali pulang" bisiknya. Didalam sana, hanya ada dia dan juga seorang tukang bersih. Berpakaian jas dan juga memakai topeng— membuatnya makin misterius. Orang itu hanya menatap Victor dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.

Ia memasang kembali topengnya, menyisir kembali poninya yang sudah ia angkat kebelakang sebelum pergi kembali kedalam pesta yang dipenuhi kerumunan manusia yang ingin ia hindari. Kewajiban membelengu keinginannya. Harga dirinya dipertaruhkan dalam pesta ini— Seandainya "mata itu" tidak tertuju kepadanya, mungkin sudah dari tadi ia kabur dari sini. Meskipun Yakov akan memarahinya karena ia kabur dari pesta tapi hal itu sudah biasa terjadi makanya suara itu masuk dikuping kiri lalu keluar di kuping kanan.

-0-

Karena dansalah yang membuat pesta ini lebih menarik. Dengan mereka yang saling "terikat" maupun "tidak terikat" bergabung ditengah ballroom— Menari mengikuti alunan musik. Hal inilah yang menjadi daya tarik pesta yang hampir setiap setahun sekali diadakan Victor. Entah itu lawan atau kawan, kenal maupun tidak, semuanya hanyut dalam gerakkan dansa dan lagu yang mengiringi.

Dan kini masalahnya adalah dia belum menemukan partner untuk berdansa. Di lubuk hatinya, ia tidak mau berdansa tapi lagi-lagi harga diri perusahaannya dipermainkan disini. -Aku harus berdansa dengan seseorang, tapi siapa-!

"Victor?"

Ia menoleh kearah wanita yang memanggilnya. Ia berambut cokelat tua yang digerai. memakai dress warna merah dengan hiasan sederhana— dan Victor menyukai gaya berpakaiannya itu.

"Oh, Mauve! Kau benar-benar datang!"

"Tentu. Ini sebagai rasa terima kasihku karena kau telah mentraktirku makan kemarin. Jujur aku jadi ingin kesana lagi."

Victor tersenyum tipis. "Oh baguslah kalau kau menyukainya. Lain kali akanku ajak kau kesana."

"Jadi... apa kau mau berdansa denganku?" Mauve menawarkan dirinya untuk menjadi teman berdansa Victor. Ia mengangguk sebagai jawaban dan langsung saja Mauve mengulurkan tangannya lalu Victor mencium tangannya dengan lembut sebelum menuntunnya ketengah-tengah ballroom. Mereka mulai menari mengikuti alunan musik.

"Jadi, kau sudah menemukan laki-laki itu?" tanyanya disela dansa.

"Belum cintaku. Aku masih mencari bayangan dirinya. Dan aku dengan bodohnya berharap dia ada disini."

"Teruslah berharap Victor, maka kau tidak akan menemukannya. Sesekali carilah info tentang dirinya jika ada waktu segang. Aku dengan senang hati akan membantumu jikau meminta"

"Terima kasih, seperti biasanya-"

Laki-laki itu, seperti nya ia ingin mencoba menari. Apa lebih baik aku ajak saja dia? –Orang yang ditoilet tadi apa orang yang berbeda ya? Sudahlah, kuhampiri saja dia.

"Ada apa?" Tanya Mauve heran melihat Victor.

"Err Mauve maaf aku harus mengakhiri dansa dengamu. Ada seseorang yang ingin kuajak menari."

Mauve menoleh kebelakang untuk mencari tahu siapa yang ingin Victor jadikan partner dansanya lalu ia tersenyum tipis saat bertatapan dengan Victor.

"Oh dengannya. Baiklah aku tidak keberatan. Semoga berhasil, "pangeranku" "

Ia melepaskan tangan Mauve dan buru-buru menuju laki-laki itu- Takut orang itu tiba-tiba pergi. Langkahnya berhenti saat ia berhadapan dengannya.

"Ada apa..tuan?"

"Berdansalah denganku."

"Maaf?" Tanyanya meragukan ajakan Victor. "Saya kan-"

"Tenang. Aku akan memandumu jika kau tidak bisa."

"Err... Lebih baik kau bersama dengan wanita tadi. Aku tidak pantas dengan anda dan lagi pula, aku ini laki-laki."

"Aku tidak mempedulikan gender. Sekarang ayo ikuti aku."

Pernyataannya membungkam pria didepannya. "Semoga kau tidak menyesalinya" balasnya dengan nada pelan.