Yuri on Ice
Mitsuro kubo
-0-
15/02, Ketika sub akun dapet Yurio dan Main akunmu ampas. Mungkin kalian disini ada yang minat main shingeki no bahamut demi dapetin Yuuri? (Meskipun ana ga jamin dapet doi sih)
(Kalo ana lagi gelisah sama sesuatu di IRL , biasanya bawaanya pengen cepet update)
"Hebat sekali kau bisa mengikuti iramanku. Ini baru kali pertamamu bukan?"
Puji Victor yang kagum dengan kemampuan menyerap ilmu barunya yang amat cepat. Pipi laki-laki itu sedikit memerah dipuji olehnya namun tidak terlihat kasat mata karena tertutup topeng.
"Te..terima kasih." Balasnya terbata.
Matanya mengamati detail pakaian yang laki-laki itu pakai. Lalu memberanikan diri untuk bertanya.
"Jadi kau yang ada ditoilet lantai dua itu ya?"
"Begitulah tuan. Apa dengan hal itu membuat anda mau melepaskan tangan saya?"
"Omong kosong. Aku tidak berniat menghentikan dansa kita yang makin seru ini. Karena sekali kau terjebak didalamnya, maka kau akan ketagihan terus-menerus."
Laki-laki itu tertawa kecil mendengar celotehan Victor. "Oh benarkah?, kurasa itu dalam kasus anda. Dari pada menari waltz lebih baik aku menari balet dan menerapkannya diatas es."
Mata Victor melebar— Kaget dengan pernyataan orang didepannya. "Kau... bisa skate?"
"Un. Tapi itu sudah dulu sekali. Dan sekarang aku tidak punya uang untuk pergi ke rink jadinya aku tidak pernah kesana lagi walaupun aku merindukannya." Ia tersenyum pahit dan menunduk kebawah.
"Begitu ya, sangat disayangkan sekali. Apa kau sudah mencoba semua makanan dan minuma yang tersaji disini?"
"...Kudengar para petugas dan pelayan dilarang makan jadi aku mencoba menahannya keinginan egoisku."
"Akan kuambilkan untukmu, tidak masalah kah?"
"Tidak perlu tuan!—"
Victor mencengkram erat pergelangan tangan laki-laki itu hingga ia meringgis kesakitan. "Turuti aku saja, tidak perlu sungkan." Karena tak punya pilihan lagi akhirnya pria itu menerima mengangguk sebagai respon.
Alunan musik berubah menjadi cepat dan Victor mempercepat iramanya, begitu pula laki-laki itu. Semua mata terpukau melihat mereka menari dengan indahnya dan juga energik sekali. Keringat membasahi kulit mereka— membuat rasa lengket dikulit yang bersentuhan dengan pakaian yang mereka kenakan. Tapi hal itu mengurangi semangat mereka yang mengebu dihati. Saat lagu berhenti, semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Victor melihat laki-laki didepannya sembari tersenyum puas.
"Terima kasih telah membuat malamku lebih indah."
"—Sama-sama."
"Dan sesuai janjiku tadi, aku akan mengambilkan beberapa makanan yang kau mau."
"Tuan tidak perlu bersusah-susah—"
Victor yang kesal dengan jawaban orang didepannya menghela nafas kekecewaan. Ia menggenggam tangan laki-laki itu dan menyeretnya pergi kebalkon.
"Ada apa tuan?"
"Diam dan ikuti aku."
Langkahnya terkesan buru-buru tapi sebenarnya ia tidak terburu-buru. Saat sampai sana ternyata sedang ada dua orang pasangan yang saling bermesraan dan untungnya mereka sudah selesai dengan urusan mereka. Dan langsung saja Victor menutup gorden jendela supaya yang lain tidak tahu kalau dirinya ada disini. Bisa dibilang ini adalah tempat rahasia yang dimiliki oleh gedung ini. Dari sini mereka bisa melihat pemandangan danau yang diterangi oleh cahaya bulan purnama— kebetulan langi sedang cerah sehingga terlihat ribuan bintang yang menemani bulan. Victor terpukau dengan pemandangan itu begitu juga dengan laki-laki itu.
"...Ja-jadi tuan, kenapa anda mengajakku kesini?" Ia memulai pembicaran. Victor yang terlalu terpaku dengan pemandangan didepannya menoleh.
"Temani aku disini. "
Laki-laki itu mendekati Victor dan berdiri disampingnya. Ia menopang dagunya diatas pagar sembari melihat pemandangan didepannya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Semua nya diam seribu bahasa—tidak berniat mengungkapkan perasaannya masing-masing. Tenggelam dalam lautan kata yang ada dibenak mereka. Hanya angin dingin yang menerpa mereka mengisi kekosongan diantara mereka.
...Aku ingin minum
"Jangan beranjak kemana-mana, aku akan kembali sebentar." Dan dengan itu Victor pergi masuk kedalam gedung. Ia pergi menuju lantai dua, mengambil Champagne dan juga Wine Rose sebelum kembali lagi. Laki-laki itu masih ada disana saat ia datang. Ia menoleh kearah Victor sebelum kembali melihat pemandangan itu.
"Apa kau minum?" Tawarnya. Laki-laki itu menggeleng pelan.
"Aku mencoba untuk tidak minum minuman beralkohol akhir-akhir ini. Walaupun terkadang aku sering kebablasan minum."
"Begitu ya, Kalau begitu maukah kau menemaniku minum. Hanya seteguk saja kok."
"...Baiklah—"
Victor tersenyum "Wine atau Champagne?"
"Terserah padamu. Aku tidak tahu harus memilih yang mana." Balasnya.
"Akan kusarankan kau minum Wine ini. Berhubung ini rasanya manis." Ia menyodorkan gelas berisi Wine dan laki-laki itu menerima.
"Sebelum kau minum, pertama putar sedikit gelasnya supaya Wine didalam nya berputar— barulah kau minum"
Ia mengikuti interuksi Victor. Setelah meminum Wine bewarna bening kepink-an itu, ia menatap Victor. "Oh tuhan, ini enak sekali—! Baru kali ini aku mencobanya." Ia memutar gelasnya lagi sebelum meneguk untuk kedua kalinya. Victor nyengir melihat reaksi orang didepannya.
"—Entah kenapa, melihat kepolosanmu mengingatkanku dengan seseorang."
"Demikian pula diriku. Aku jadi teringat dengan kebodohanku."
"Kebodohanmu?" Tanya Victor penasaran dan laki-laki itu mengangguk.
"Ya kebodohanku. Suatu hari ada seorang temanku yang mengajakku minum. Dironde pertama dia mengajakku minum satu shot Whisky. Kukira itu yang terakhir namun kusalah. Saat sampai rumahnya dia menyuruhku menemaninya minum lagi. Dan aku termakan omongan orang itu. Akhirnya aku mabuk dan entah apa yang sudah keperbuat dengannya."
Katanya tanpa ada beban sama sekali. Menggunakan "teman" sebagai pengganti orang yang ia tidak ketahui itu. Pintar sekali dirinya— Aku harus memancingnya. ...Dia adalah orang yang kucari-cari itu. Aku harus menangkapnya!
"Jika kau mabuk, biasanya apa yang akan terjadi?"
"Kata mereka sih, aku biasanya akan mulai mengajak orang-orang untuk dance off"
Dia kemarin malah melakukan tarian erotis dihadapanku.—Maafkan aku yang waktu itu memintamu menari seperti itu namun untungnya kau lupa hingga detik ini.
Victor tertawa. "Menarik sekali."
"Ja-Jangan ditertawakan! Memalukan!"
Kurasa saatnya menggulung senar.
Victor mendekati pria itu dan memojokkannya ditembok— Memastikan dirinya tidak memberi celah untuk pria itu. Pria itu menatapnya binggung.
"Maaf, bisa kah anda—"
"Apa kau ingat pada malam itu?" Ia mendekatkan dirinya kewajah pria itu tanpa ragu. Tangan kanannya mengangkat dagunya sehingga mata nya bisa bertemu pandang. "Malam dimana kita bertemu? Dan melakukan hal ini dan hal itu, lalu saat pagi tiba kau meninggalkanku?"
"Maksud an—"
"Mengambil uangku diam-diam dan meninggalkan secarik foto keluarganya untukku."
Skakmat!. Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Mengakulah didepanku-!
Laki-laki itu tiba-tiba menyiram Wine kewajah Victor sehingga ia berjalan mundur— kaget dengan serangan laki-laki itu. Ia lupa kalau orang yang ia pojoki memegang gelas berisi Wine. Bergegas laki-laki itu menjauhi Victor.
"Tunggu!" Teriak Victor dari belakang dan ikut mengejar pria itu. Suara teriakkan nya membuat para pengunjung terkejut dan menoleh kearah Victor. Pria itu dengan lihainya menghindari para tamu— Victor kewalahan mengejarnya. –Fuck!. Cepat sekali dia berlari! Dia terus berlari.. berlari... menghindari tamu itu dengan mudahnya. Membuatku kesal saja. Bisa saja aku panggil keamanan untuk menangkapnya! Haruskah— Oh Victor ini bukanlah saat yang tepat untuk ragu. Tentukan pilihanmu sekarang!
Laki-laki itu menuruni tangga dan secepatnya dan menghilang didalam redupnya penerangan jalan yang menuntun menuju gedung. Victor berhenti berlari karena kehilangan jejaknya.
Oh cintaku. Kau tidak akan bisa lari dariku lagi. Dengan semua informasi yang kupunya ini kubisa menemukanmu.
-0-
"Yuuri kenapa kau sedih sekali akhir-akhir ini?" Tanya takeshi yang sedang memakai seragamnya. Yuuri tidak bergeming. Ia menggelengkan kepalanya sebagai respon.
"Semangatlah Yuuri meski—"
Kau tidak mengerti Takeshi. Pesta kemarin adalah malapetaka untukku. Dia kini menemukanku— Lalu melaporkannya kepada polisi dan berakhirlah sudah hidupku. Apa yang harus kulakukan tuhan? Apa ini adalah balasan karena perbuatan jahatku kemarin? Aku tidak tahu— Rasanya kuingin mengikuti jejak mereka tapi aku terlalu takut mengakhiri hidupku sendiri. Jika seandainya aku masuk penjara, aku akan menerimanya.
Mencoba menjalani rutinitas seperti biasanya tapi tekanan yang ia pikirkan terus menerus membuat pekerjanya terkesan setengah-setengah dan dia menyadari kinerja buruknya. –Fokus! Fokus! Jangan teralihkan oleh hal itu. Dan hal itu mustahil rasanya untuk ia lupakan begitu saja. Ingin menangis rasanya tapi ia harus menyimpan air matanya itu. Mengurung diri dalam kamar dan tidak menunjukkan dirinya kepada dunia— adalah yang ia mau sayangnya, jika ia melakukan hal itu maka ia tidak akan mendapatkan gaji.
Aku ingin minum bir dan melupakan semuanya—
Sehabis pulang dari tempat kerjanya, ia mampir ke family mart dan membeli 10 kaleng bir dan juga beberapa cemilan dan perlengkapan mandi.
Melupakan semua beban dipundak. Melupakan semua kewajibanku. Melupakan dirinya. Jika seandainya foto itu benar-benar menghilang, pasti dia tidak akan pernah menemukanku. Aku berjalan pelan menuju apartement. Dan saat menaiki tangga menuju lantai 2, aku berpapasan dengan si tua bangka itu. Untungnya dia tidak berkata sepatah kata apapun tentang diriku. Aku menelusuri lorong untuk sampai kekamarku-!
Orang itu! kenapa dia bisa berada disana— Tertidur disamping pintu kamarku?! Oh tuhan kenapa ini semakin ribet.
Yuuri perlahan-lahan bergerak menuju pintu— supaya tidak membangunkan orang itu. Ia ambil kunci dari kantung celana. Memasukkanya kedalam lubang kunci dan memutarnya sehingga terdengar suara yang agak besar. Ia melirik orang dibawahnya. Memastikan ia masih terlelap.
"Kumenemukanmu!"
Dan ia yang kaget langsung masuk kedalam kamarnya. Ia menyenderkan dirinya dibelakang diri— lalu merosot kebawah dan terduduk. Ia masih bisa mendengar suara laki-laki itu diluar.
"Yuuri, buka pintunya" Pintanya dengan nada pelan.
Dia sudah tau namaku! Tamat sudah riwayatmu.
"Yuuri, cepat buka pintunya! Aku kedinginan diluar sini!"
Apa yang harus kulakukan—
"Jika kau tidak membuka pintunya. Maka aku akan melaporkanmu."
Kata-kata nya tidak terdengar nada keraguan. Yuuri gugup mendengar perkataannya dan dengan terpaksa— demi kenyamanan dirinya, ia membuka pintu. Ia mengintip dari celah pintu sebelum mempersilahkan orang itu masuk. Laki-laki yang memakai parka itu tersenyum saat dirinya berhadapan dengan Yuuri. Saking tidak bisa menahan kebahagiaannya, ia terlihat seperti sedang tertawa dari pada sedang tersenyum.
"Oh kau mau berpesta bir. Ajaklah aku!"
"...Apa mau mu?"
Ia tertawa kecil. "Kemana sifat ramahmu Yuuri?. Seharusnya kau minta maaf kepadaku karena telah menyiramkan Wine Rose yang mahal itu kewajahku."
Yuuri mengepalkan tangannya, gemas. "Jangan basa-basi, apa yang kau mau dariku?"
"Lihat dirimu. Semenjak hari itu kau akhirnya berhasil membeli tv dan juga membeli kulkas kecil. Seharus nya kau berterima—"
"Apa yang membuatmu kesini?! Jika kau mau aku membayar hutang maka akan kubayarkan sekarang juga!"
Victor tersenyum licik. "Kau tahu. Aku selalu terusik dengan bayangan dirimu. Dan hal itu menganggu kinerjaku. Jadi, apakah itu juga akan kau bayar?"
"Untuk apa?! Kau bercanda bukan. Itu semua salahmu! Bukan salahku!" mendengar jawaban Yuuri, Victor tertawa— Teringat dengan kenangan saat ia mabuk.
"Baiklah jika kau tidak mau. Aku akan menelpon polisi sekarang juga—"
Dasar keparat!
"Jika kau tidak menginginkannya maka." Victor menjeda kata-katanya "Ikuti semua permintaanku. Dan dengan begitu kau akan selamat dari laporanku."
Lagi.. semua berakhir seperti ini...
"Jadi, apa yang kau mau dariku?" Tanya Yuuri dengan sedikit percaya diri.
"Pack pakaianmu sekarang! Kau akan menginap dirumahku, mulai hari ini!."
Yuuri, selamat datang didunia yang baru.
