"Buka bajumu perlahan dan coba goda diriku."
"..."
Yuri on ice
Mitsuru Kubo
-0-
Out of Control!
Ia bergerak menuruti perintah. Kekesalan masih ada didalam hatinya namun ia tida bisa berbuat banyak. Membiarkannya mengalir adalah opsi yang tepat untuk kali ini. Yuuri membuka bajunya perlahan disusul oleh celana dan boxernya hingga kini badannya terekspos sempurna. Dari kursi, Victor memperhatikannya dari kejauhan dengan segelas Whisky ditangannya.
"Setelah kau membuka semuanya, kumau kau bermain dengan benda yang sudah kusediakan disampingmu. Terserah kau mau memilih yang mana tapi aku menyarankanmu bermain dengan menggunakan Vibrator. Oh jangan lupa saat kau bermain dengan dirimu sendiri, menghadaplah kearahku."
Kau ingin mempermalukanku!
Diatas kasur terdapat, Vibrator, Butt Plug dan lainnya tidak lupa ada juga pelumas. Yuuri memberanikan diri mengambil Vibrator dan melumasinya sebelum memasukkannya kedalam lubang anus dengan keadaan berjongkok menghadap orang yang ia benci— Sehingga ia bisa melihatnya dengan jelas bagaimana lubang itu melahap benda kecil itu.
"Tambah 3 Vibrator lagi kelubangmu."
Dia ingin membunuhku! Permintaannya sama sekali tidak masuk akal tapi aku tetap saja menurutinya. Saat aku memasukan benda itu perlahan-lahan kedalam anus, aku tidak bisa berhenti mendesah. Merasa geli dengan benda asing yang ada didalam lubangku. Aku bisa merasakan bagaimana otot rektumku menjepit erat benda itu. Mencoba terbiasa dengan benda itu didalamku bukanlah hal yang gampang. Rasanya aneh— aneh sekali. Tapi terasa nikmat juga—
"Sebutkan warna Vibrator yang kau pakai."
"M..Merah— Hij-jau, kuning— ah! ...Biru..."
"Dengarkan aba-abaku. Pertama nyalakan yang warna hijau. low"
Aku mengambil remote hijau yang menggantung dan memutar alat pengatur getarannya ke huruf low dan sepersekian detik aku merasakan benda itu bergetar didalam sana. Aku melengguh dan mendesah kecil. Kumelirik dia— yang sedang tersenyum dan meminum Whiskynya. Benar-benar memalukan.
"Merah, low."
Aku menambil remote merah dan menyalakannya lagi—!
"Ahn... a—"
"Hijau, low "
Ia melakukan hal yang sama seperti yang sebelumnya hingga yang warna biru. Setelah semuanya menyala, Yuuri mulai sering mengeluarkan desahan geli dan menikmati— Membuat pria itu menengang perlahan-lahan.
"Merah, Speed high!"
Badannya gemetaran saat mencoba meraih remote merah— Tak kuasa menahan stimulan yang diberikan. Ia pun langsung terjatuh kekasur setelah berhasil mengatur remotenya menjadi high. Ia mendesah merasakan benda empat benda itu bergetar didalam rektum. Dan salah satu dari benda itu tanpa sengaja mengenai titik sensitifnya sehingga ia mendesah semakin liar. Orang itu tidak kuasa melihat Yuuri bermain sendiri menghampirinya.
"Jangan pernah sentuh dirimu Yuuri." Katanya sembari menaruh gelas Whisky diatas meja. Ia duduk disebelahnya dan melihat secara langsung perjuangan Yuuri mengeluarkan Vibrator itu. Memandanginya dengan intens— begitu erotis. Dan akhirnya dengan sekali dorongan, benda bewarna hijau itu keluar lebih pertama. Tidak menyianyiakannya, laki-laki itu mematikan Vibrator lalu memasukkan nya kembali kedalam Yuuri sehingga dia mendesah panjang— Menyalakannya kembali dengan kecepatan tinggi. Diikuti dengan Vibrator yang belum diseting high.
"Hen—AH!" Yuuri tidak bisa menghentikan desahannya.
"Tidak. Belum saatnya."
"Keluar— !"
Cairan putih keluar membasahi seprai lalu pria itu menarik semua Vibrator keluar dari lubangnya. Yuuri mengambil nafasnya. Badannya masih sensitif dan disaat itu juga laki-laki itu menciumnya dan menyelusupkan lidahnya. Kedua tangannya memainkan puting ranum itu dengan tempo yang berbeda-beda— yang satu mencubitnya, yang satu memutar-mutarnya. Setelah puas bermain dengan mulutnya, ia menjilat jenjang leher Yuuri dan meninggalkan cupang bewarna keunguan.
"Perdengarkan suaramu, Yuuri."
Tangannya meraih penisnya yang mulai menegang kembali. Ia elus perlahan-lahan— Yuuri mendesah merasakan gelitikkan yang membuatnya terangsang. Begitu sensitif tempat itu.
Ia turun menuju kejantananku. Melahapnya dengan mulut hangat dan basahnya, Aku melempar kepalaku kebelakang, tidak sanggup lagi. Lidahnya menggoda kepala kejantananku dan apa ini reflek gag-nya! Sepertinya aku ingin keluar lagi—!
"Aku... mau—!"
Setelah membuat Yuuri keluar untuk kedua kalinya, laki-laki itu membasahi jari-jari tangannya dengan pelumas. Jari tengahnya ia masukkan kedalam lubang yang sudah dipetranisi sebelumnya dengan Vibrator. Satu jarinya sudah dimasukkan kedalam dengan mudah. Ia menghujam lubang itu dengan tangannya lalu menambah digit jarinya. Ia membenamkannya didalam— bergerak menggunting sehingga Yuuri mendesah tak terkira-kira. Lalu menambahkan satu jarinyanya kedalam lagi. Menghujamnya— lalu bergerak tak karuan sehingga Yuuri melenguh.
"Katakan apa yang kau mau, Yuuri." Godannya sembari memainkan lubangnya. Yuuri tidak menjawab karena stimulan yang tiada akhirnya terus menerus menutupi pikirannya— Membuat pikirannya berkabut. "Apa dengan tanganku cukup?"
"P—ah..! eni.."
"Minta dengan suara yang jelas Yuuri."
"Hu—ah! Huj-jam lubang ini deng-an! Pe-penismu!"
Puas mendengar jawabannya. Laki-laki itu mengambil Whisky yang ia taruh diatas meja, meminumkannya ke Yuuri ditengah ciumannya. Yuuri menelannya.
"Akan kubuat otakmu keluar, Yuuri!" Laki-laki itu tersenyum senang dan menyingkirkan tangannya dari lubang masuk. Ia mengarahkan penisnya dan langsung menusuk Yuuri. Melihat reaksi Yuuri yang relaks, baru ia bergerak dengan tempo pelan.
"Kumohon— Lebih cepat!"
"Tidak Yuuri. Tidak. Ini permainanku, nikmati saja!"
Dan suara desahan itu keluar dari mulut Yuuri. Membuat pria yang sedang menusuknya terangsang dan mempercepat gerakkannya.
"ah!"
Yuuri keluar lagi dan pria itu melanjutkan tugasnya. Sembari menusuk, ia bermain-main dengan penis yang mengecil itu— mengocok-ngocoknya sehingga ia membesar lagi. Ditambah lagi hujaman penisnya tepat mengenai prostatnya. Dan Yuuri menjerit.
"Hen..hentikan Ahn!"
"Sebentar lagi!"
Dan dengan beberapa tusukkan akhirnya ia keluar didalam. Bersama-sama dengan Yuuri. Karena kewalahan, langsung saja Yuuri tertidur begitu ia meraih climaks. Setelah mengeluarkan luapannya didalam ia lalu menjatuhkan diri diatas Yuuri lalu mengcup keningnnya.
-0-
Berat— Apa yang menimpaku? Lengket dan juga menyesakkan dan Saat kubuka mataku, Pria itu sudah menibanku. Tangannya mendekapku erat sehingga aku tidak bisa pergi— untuk bergerak saja susah. Aku menunggu ia terbangun.
Ah benar! kemarin malam kami baru saja! Oh tuhan, memalukan sekali! Aku ingin mengubur diriku—
"...Selamat pagi Yuuri." Sapanya. Ia mengangkat wajahnya sehingga ia dapat melihat jelas wajah Yuuri. Tidak lupa ia mengecup bibir manisnya.
"Menyingkirlah. Berat tau."
"O-oh, maaf."
Tidak ada sehelai kain menutupi mereka. Pakaian mereka berserakkan dilantai. Setelah melihat jam Yuuri pergi kekamar mandi yang dekat sekali dengan kamar makanya ia tidak pelu berputar-putar mencarinya— tanpa mengeluarkan sepatah kata dengan handuk dan pakaian bersih ditangan. Memutar kenop lalu air mengalir.
...Apa dengan begini, aku akan bebas menjalani kehidupanku. Ditambah lagi, aku— aku belum mengenal namanya. Kenapa dia tidak memperkenalkan namanya?
Membasuh badannya dengan air. Pikirannya larut bersamaan dengan suara gemercik air. Tidak bergerak sedikit pun- Menikmati dinginnya suhu air yang membasahi kulitnya. Badannya sakit benar-benar sakit. Ia sekarang ingin sekali merebahkan dirinya diatas kasur tapi dia tau ini bukan rumahnya. Terima kasih kepada laki-laki itu karenanya ia telat bekerja. Setelah membasuh dirinya, ia mengaca. Diantara jenjang lehernya, terdapat tanda- Yang sengaja laki-laki itu buat. Ia menyentuhnya.
...Tidak lagi-
Setelah selesai berpakaian, Yuuri keluar dan bergegas menuju pintu keluar namun ia ditahan oleh pria itu- yang memeluknya dari belakang.
"Lepaskan aku! Aku harus pergi kerja."
"Kau tidak sarapan dulu? Aku sudah membuatkanmu toast."
"Tidak terima kasih. Aku terburu-buru, lepaskan aku!"
"...Tapi malam ini kau akan kembali kesini kan?" Tanyanya dengan nada rendah yang ia bisikkan tepat ditelinganya.
"..."
Ia melepaskan tangan yang menghalanginya dan bergegas keluar dari sana. Selama perjalanan ia memikirkan kejadian yang menimpanya-hingga ia tidak fokus dengan jalan yang ia lewati. Ia berhenti didekat tiang lampu- menangis. Tapi orang-orang tidak menyadari tangisannya karena terhalang oleh lengan yang menutupi matanya.
bahkan takdir begitu kejam. Untuk apa dia mencariku coba? kenapa... kenapa aku harus- bertemu dengannya.
Aku ingin pulang keapartementku. Tidur dan melupakan semuanya. Hari ini kuputuskan tidak bekerja.
buru-buruku masuk kamar dan merebahkan diriku keatas futon- melanjutkan tangisku. Aku harap dia mau melepaskanku-
Nada dering handphoneku berputar. Saat kulihat, itu dari seseorang yang tidak kuketahui.
"Yuuri disini."
"Kau ada dimana?" Suara itu, suara Yuuko.
Masalah yang lainnya pun datang.
-0-
Dan ia nampak bahagia. Wajahnya sedari tadi berseri-seri— Orang yang melihat keadaannya sekarang heran "Kenapa laki-laki itu?" Hanya JJ dan Georgi saja yang tahu kenapa ia bisa sebahagia itu. Dia tidak menunjukkan wajah lelahnya— Selalu mengumbar senyum kepada siapa saja yang menyapanya, tidak seperti beberapa hari yang lalu. Hal tak biasa yang ia lakukan menjadi buah bibir para karyawannya. Ia menghiraukannya semua itu tidak selama mereka tidak menyinggungnya. Sebagai keberhasilannya, Victor mengajak teman dekatnya—JJ, Georgi dan Mauve untuk makan di restaurant steak malam itu juga. Tapi Georgi berhalangan hadir karena ia sudah punya janji sebelumnya dengan kekasihnya. Dengan makanan sudah tersaji didepan mereka, kapan saja mereka bisa melahapnya.
"Oh tuhan, ini nampak enak sekali—" Puji JJ saat ia mencium bau daging sapi dengan saus jamur didepannya. "Lain kali akan kuajak Isabel kesini."
"Coba kau makan, JJ. Rasanya enakloh. Ini baru kali pertamamu kesini bukan?" Tanya Mauve.
"Baiklah akan kumakan." Ia memotong daging itu, mencocolnya diatas saus jamur dan menambahkan sedikit sayur didalam garpunya. "—nnh! I-Ini... Ini enak sekali! Aku ingin menangis!"
"Kau terlalu melebihkannya hahaha." Victor tertawa.
Restaurant malam itu tidak begitu ramai. Banyak sekali kursi yang belum ditempati. Disatu sisi ia juga melihat banyak pelayang yang sedang mengobrol satu sama lain sembari mengisi waktu menunggu pelanggan bagusnya lagi, ia dapat melihat pelanggan yang hendak mencari tempat karena tidak terhalang oleh pelanggan yang sudah ada. Lalu diantara pelanggan yang masuk, matanya menangkap seorang laki-laki yang tidak asing bersama dengan segerombol orang.
"..Yuuri—"
Dia sedang bersama keempat temannya. Nampak sedih dan tak bersemangat. Mereka mengambil tempat yang tidak jauh dari Victor dan kawannya namun Yuuri membelakangin Victor sehingga ia sendiri tidak menyadari keberadaan orang itu.
"Yuuri semangatlah! Kau dulu ingin sekali makan disinikan?"
Sayang jawabannya tidak terdengar jelas— membuat Victor penasaran.
"Hei Victor, kau kenap—Ah! Jangan bilang orang yang membuatmu senang ada disana."
Victor menoleh kearah Mauve. "Ya kau benar sekali. Dia ada disana— Ah... kebetulan sekali ya..."
"Yang mana dia?" Tambah JJ sembari mengunyah makanannya.
"Laki-laki rambut hitam yang memakai kacamata frame biru itu loh." Jawabnya sembari tersenyum hangat. Teman-temannya bukan mencari orang yang dimaksud melainkan terus menatap Victor dengan tidak percaya. Victor yang dikenal dingin, jutek, sadis dan tukang marah kini tersenyum.
"Kenapa kau tidak memperkenalkannya kepada kita?"
"Baiklah jika itu yang kau mau."
Ia ambil handphonenya, menulis pesan ke Yuuri untuk menghampirinya lalu mengirimnya. Victor mendapatkan emailnya kemarin malam. Saat Yuuri sibuk dengan urusannya. Saat Yuuri tidak menyadarinya, ia membuka handphone yang untung nya tidak diberi keamanan— Menulis email Yuuri.
Tak berselang lama ia muncul dimeja Victor— Dengan wajah tidak suka dan juga merasa tidak nyaman.
"Apa maumu?"
"Duduklah disampingku."
Ia menuruti perintah Victor dan duduk disebelahnya. Mauve dan JJ menatapnya— Mengamati Yuuri. Dan tatapan itu membuat Yuuri merasa risih.
"Kuperkenalkan kepada kalian, Ini adalah calon tunanganku. Katsuki Yuuri." Kata Victor dengan senang dan tanpa beban. Satu meja hening mendengar penjelasannya, terutama Yuuri— yang namanya disangkutpautkan.
"K-Kau bercanda bukan?" Yuuri membuka mulut dan menatap Victor dengan tatapan horror.
"Tidak. Aku bersungguh-sungguh ingin bertunangan denganmu."
