"Tidak. Aku bersunguh-sungguh ingin bertunangan denganmu."
Jawabannya membuat dadaku terasa sesak. ...Baru saja bertemu kemarin dan sekarang— Apa maksudnya? "Bertunangan"? Kenapa dia dengan seenaknya memutuskannya begitu saja. Ingin sekali aku menghajarnya.
Yuri on Ice
Mitsuro kubo
16/02— Ketika mengharapkan dapet atk type tapi malah ga sengaja kebuat balance type dan kartunya enggak bisa balik— Author lagi maen shingeki no bahamut X Yuri on ice
Maaf kalau gaje dan typo
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. DIa yang mengemudi dan Yuuri duduk bangku sebelahnya— memandang pemandangan yang bergerak. Tidak ada yang memulai percakapan, seperti waktu itu, Saat dia memaksa Yuuri mengikutinya. Yuuri terpaksa pulang meninggalkan teman-temannya lebih awal karena dia memintanya dan mungkin sekarang ini teman-temannya sedang membicarakannya.
Tidak ada yang ingin ia bahas— Ia hanya berharap apa yang dia katakan tadi hanya dusta belaka. Hanya itu saja. 30 menit berlalu dan akhirnya mereka sampai keapartementnya . Yuuri masuk kedalam terlebih dahulu lalu diikuti oleh orang itu dari belakang. Setelah menaruh semua barang yang ia turunkan dari mobil, orang itu duduk disofa, menyenderkan punggungnya yang pegal sembari menonton Tv.
"Yuuri, sampai kapan kau mau berdiri disana terus? Ayo cepatlah masuk!" ia berkata seperti itu karena menyadari Yuuri tak kunjung masuk kedalam. Pria yang dipanggil muncul namun ia tidak duduk melainkan masih saja berdiri, membuat dia gemas.
"Ayo duduk bersamaku..." Tawarnya dan Yuuri tidak bergeming.
"...Hei, apa kau benar-benar hanya bergurau tentang tunangan itu? Kau hanya ingin mereka kagum saja kan?" Ia tertunduk, tidak ingin bertatapan.
"Yuuri aku serius tentang hal itu—"
"Jangan seenaknya memutuskannya sendiri !"
"Tapi aku mencintaimu—"
"Aku tidak mencintaimu sama sekali!"
Victor terkejut mendengar perkataan Yuuri. Ia menarik nafas dalam-dalam— mencoba mengontrol emosinya. Segera ia beranjak dari sofa dan menghampiri Yuuri dan memojokkannya.
"Kau tidak mencintai ku karena kau baru kenal denganku untuk pertama kalinya kan? Tidak masalah, karena akan kubuat kau mencintaiku— Apapun caranya." Ia mendekatkan wajahnya sehingga Yuuri bisa merasakan nafasnya yang hangat.
Wajahnya memanas dan rasanya ingin sekali Yuuri menyembunyikan dirinya dari hadapan Victor. Ia mengelus wajahnya perlahan— Menciumnya dengan kasar— memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut. Yuuri ditarik dengan kasar menuju ranjang. Laki-laki itu melanjutkan ciumannya yang sempat terhenti.
Yuuri selalu mengikuti alur permainnya walaupun ia sangat tidak suka digoda olehnya disela berhubungan— Apalagi menjelang klimaksnya.
Kenapa aku harus melakukan semua ini ya tuhan... Sampai kapan dia berhenti menyetubuhiku? Aku— Aku tidak suka dengannya! Kenapa dia begitu— menyebalkan..
Tangannya bermain dengan putingnya, lidah menjilat dan memberi tanda yang tidak bertahan lama dibagian jenjang leher sebelum bergerak turun menjilati puting. Suara yang paling tidak ingin ia dengarkan keluar bersamaan dengan titik sensitif yang distimulasi terus menerus. Rasanya geli dan juga sakit tapi terasa seperti berada disurga. Laki-laki itu menyingkir dari ranjang dan mengambil kotak kayu berisi benda-benda yang tidak ingin ia tunjukkan kepada orang banyak terkecuali "pasangannya"
Ia ambil borgol dari dalam kotak. Memasangkannya ke pergelangan tangan Yuuri dan mengaitkan kedua tangannya keatas tempat tidur. Ia memasngkan penutup mata dan juga gagball.
"Baiklah. Yuuri. Akan kutunjukkan seberapa besar cintaku padamu."
"nffffgh!"
Tangan miliknya mengocok pelan penis Yuuri yang belum menegang sempurna. Tidak hanya itu ia juga memijat kedua bola miliknya sehingga Yuuri mengeluarkan suara. Setelah puas dengan penisnya. Ia ambil benda lainnya dari dalam kotak—sebuah bola berukuran sedang yang saling bertautan satu sama lain. Tapi sebelum memasukkannya, ia sengaja membuat Yuuri membuka lebar pahanya dengan besi yang dipasang diantara pahanya—Lubang merah itu terlihat begitu indah.
Ia memasukkannya begitu saja tanpa melumasinya dan ia bisa mendengar Yuuri menahan sakitnya saat benda itu masuk kedalamnya.
"ffffghhh! Fghhhh!"
"Tenang babi kecilku. Ini akan terasa nikmat."
Bola itu masuk kedalam lubang merahnya begitu saja—Semua nya masuk dengan mudahnya. Pria itu pergi meninggalkan ranjang dan membiarkan Yuuri begitu saja. Ia menjauhi ranjang untuk mengambil Wine merah dari lemari pendingin. Ia membukanya dan menaruhnya didalam gelas untuk ia cicipi sedikit. Sengaja ia menuang cairan merah itu keatas tubuh Yuuri lalu lidahnya mulai mengusik Yuuri lagi—mengecap semua rasa yang menyatu.
Karena tak tahan ingin mendengar desahan Yuuri, ia akhirnya lepaskan bola gag itu dari mulutnya. Liur mengalir dari sudut bibirnya.
"Dengar kan aba-abaku. Keluarkan bola itu sebisamu oke?"
Ia menurutinya. Pikirannya sudah dipenuhi kabut untuk berpikir secara waras. Dengan sekali dorongan, Bola pertama keluar dengan mudahnya dari lubang yang sudah basah itu. Setiap bola keluar dari anusnya, Yuuri mendesah dan terus mengeluarkan suaranya hingga laki-laki yang ada dihadapnnya terangsang. Karena sudah tidak sabar akhirnya ia mmenarik benda itu keluar dari rektum. Ia singkirkan besi yang ada di paha Yuuri karena menggangunya. Tanganya memijat penisnya pelan sementara lidah nya berada didepan masuk—
"He-Hentik-!"
Botol wine ia ambil dan dituangkan tepat kelubang masuknya. Tanganya menggantikan kerja lidahnya. Jari tengah masuk bersamaan dengan wine yang mengalir— Menggantikan lube.
"K-Kau- Ber-chanda kan?"
"Kau menikmatinya kan Yuuri?"
Ia menambah jari. Bergerak menggunting didalam sana sembari mencari titik prostat. Saat ia menemukannya, barulah ia tambah satu jari lagi dan menggerakkannya sembarangan—Yuuri melenguh dan langsung kilmaks ditangan kiri pria itu.
Setelah selesai mempersiapkan Yuuri, ia mengarahkan kepala penis tepat kedepan rektum dan mulai bergerak dengan cepat— Tanpa mempedulikan Yuuri. Ia sendiri tidak tahan hanya memikirkan dirinya sendiri. Menghujam titik yang sama. Titik yang membuat Yuuri lepas kendali. Desahan yang keluar semakin lama semakin terdengar besar— Membuat pria itu terbakar. Wine yang ia masukkan adalah penyebab kenapa Yuuri hingga seperti itu. Tubuhnya terasa panas dan setiap sentuhan kulit saja sudah membuatnya melenguh.
Pria itu mengeluarkan carian miliknya didalam. Nafasnya tak terkontrol tapi ia masih punya stamina yang cukup untuk bermain dengan Yuuri. Mata emasnya menunjukkan keserakahan— Ia masih ingin melakukan hal itu lagi. Pria itu tersenyum jahat.
"Kau masih ingin lagi?"
"...ah... um... lagi..."
"Baiklah, bagaimana kalau kita bermain dengan menggunakan Vibrator kali ini?"
-0-
Ketika bangun, badannya terasa berat, pegal dan juga sakit. Ia menatap orang disebelahnya yang masih tertidur pulas. Matanya menerawang kesekeliling— Mengumpulkan nyawa sebelum beranjak kekamar mandi. Tubuhnya dalam kondiri telanjang tapi ia tidak mempedulikannya. Kepalanya masih terasa sakit dan lebih buruknya ia lupa kejadian tadi malam.
Setelah mandi, ia bergegas untuk kembali keapartement lamanya namun orang itu menghadangnya. Dia mengajaknya sarapan dan Yuuri menerimanya karena dia memang sedang lapar. Pria itu tersenyum tipis.
"Kau ingin minum teh atau susu?"
"Teh manis hangat..."
Yuuri duduk dimeja makan sembari menunggu pria itu selesai masak. Ia tidak bergeming dan memandang kosong pemandangan didepannya.
...Apa yang terjadi tadi malam? Aku tidak ingat sama sekali—
Pria itu datang dengan dua piring dikedua tangannya. Ia kembali kedapur sekali lagi untuk mengambil minuman. Semua sudah tersaji dan orang didepannya mempersilahkan Yuuri untuk memakan lebih dulu. Ia tidak menyangka roti panggang itu rasanya akan enak jadi ia memakannya dengan lahap dan dia yang ada didepannya tersenyum senang melihat dia memakan masakan buatannya dengan lahap.
"Apa perlu aku buatkan kau bekal?" Tanyanya dan Yuuri menggeleng.
"Tidak perlu. Ini sudah cukup. Terima kasih."
"Hei Yuuri. Apa malam ini kau ada acara?"
"Tidak... memangnya ada apa?"
"Berkencanlah denganku."
Yuuri membelakkan matanya. Baru kali ini ada seseorang yang mengajaknya pergi berkencan. Ia menatap pria didepannya dengan pandangan tak percaya.
"Akan kuantar kemanapun kau mau, Yuuri."
...Dia benar-benar bersungguh-sungguh—!
"Lebih baik aku pulang saja. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan disana. Terima kasih telah mengajakku dan juga terima kasih atas sarapannya. Masakkanmu begitu enak— Aku menyukainya. Maaf telah merepotkanmu."
Yuuri pamit kepada pemilik rumah. Tapi sebelum pergi, pria itu menarik tangannya sehingga ia menoleh kearahnya. Tiba-tiba pria itu mengecup bibirnya dengan lembut. Hal yang sangat jarang sekali ia rasakan—Membuatnya sedikit terkejut. Setelah itu ia membiarkan Yuuri pulang walaupun tersirat diwajahnya ia tidak merelakan kepergiannya.
Kurasa dia akan datang malam ini kerumahku. Dengan membawa makanan dan minuman. Mengganggu. Kuingin sendirian— untuk satu hari ini saja. Dia tipikal orang yang seenaknya saja jadi agak susah untuk membantahnya. Kuharap dia tidak datang malam ini— Tunggu dulu, siapa nama laki-laki itu?
Aku tidak pernah menanyakannya— Dia tidak pernah memberitahuku.
Jadwalnya hari ini adalah membereskan rumah yang sempat terbelengkalai karena kehadiran orang itu. Pekerjaannya kali ini sekaligus juga untuk mengalihkannya dari kejadian malam tadi. Sampai detik ini ia lupa apa yang terjadi pada waktu itu.
-0-
Malampun tiba dengan semua pekerjaan selesai. Ia merebahkan diri diatas futon sembari melihat pemandangan perkotaan dari balik jendela. Udara dingin masuk kedalam ruangan yang hangat. Tentunya Yuuri sudah mandi sehabis beraktifitas berat. Bel berbunyi dan segera mungkin ia membuka pintu.
"Kau datang lagi?"
"Ehehehe... Kau belum makan kan?"
Pria itu langsung masuk begitu saja. Pergi kemeja dan mempersiapkan semuanya. Barang yang ada didalam tas ia keluarkan semua. Sekarang diatas meja tersaji pasta dan juga wine. Yuuri menelan ludah begitu melihat masakan yang begitu enak. Tapi ia tidak menunjukkan nya secara terang-terangan.
"Ayo kesini Yuuri. Ayo kita makan bersama."
"Ah— umm..."
Mereka makan bersama. Tidak ada sepatah kata keluar dari mereka—Termaksud Yuuri yang ingin sekali memuji kelezatan masakan yang ia buat. Ditambah dengan segelas wine, maka lengkaplah sudah makan malam kali ini. Dan akhirnya juga, Yuuri mabuk karena kebanyakan meneguk wine. Rasa Wine yang berpadu dengan makanan yang ia makan membuatnya ketagihan. Hampir 1 botol ia habiskan sendiri.
"..kh... kenapa kau baik sekali..."
Pertanyaannya hanya asal keluar dari mulutnya. Yuuri membenamkan wajahnya diatas meja. Tidak menatap dirinya.
"Apa... kau ada... motif... terselubung...? hah... maksudku... kau ingin aku mebayar... nya umn.."
"Aku mecintaimu. Makanya aku melakukan semua ini."
"...hmm bo..hong—hmm... kau... hanya ingin mempermainkanku saja... kan... eh... siapa namamu?"
"Victor. Victor Nikiforov."
"Ya! Kau hanya ingin mempermainkanku saja kan Victor... Karena hutang itu... makanya kau menyuruhku... ahh... melakukan hal itu... mnn..."
Yuuri tertidur. Victor mengerjap, cukup langka melihat dia langsung tidur setelah mabuk. Sepertinya ia salah langkah namun ia mengerti kenapa Yuuri selalu mencoba menghindarinya. Ia memindahkan tubuh Yuuri dan menidurkanya diatas futon.
"Selamat malam, cintaku."
