Pantas saja dia selalu mencoba menghindariku. Rupanya dia masih merasa bersalah karena hutang itu. –Dia manis sekali ya tuhan. Aku ingin secepat mungkin menjadikan dia menjadi milikku seutuhnya. Berarti aku harus cari cara lain untuk mendekatinya. Mungkin dengan sedikit... kehangatan— Jangan tergesa-gesa— Ikuti arusnya lalu tangkap dia saat momen yang pas.
Yuri on Ice
Mitsuro kubo
-0-
Huft kudu benerin ch kemarin ya o)-(
Satu minggu kemudian.
"Yuuri bagaimana kalau hari ini kita pergi kesuatu tempat?" Victor tersenyum lebar hingga bentuk hati dibibirnya terlihat jelas.
Ini adalah hari libur. Kebetulan sekali mereka berdua sama-sama libur dihari yang sama makanya Victor berinisiatif ingin mengajak Yuuri pergi—Walaupun orang yang ingin ia ajak menunjukkan wajah tidak berkenan sama sekali. Mereka berdua berada didalam apartement Yuuri dan dia sendiri adalah tamu yang datang tanpa diundang. Kedatangannya yang tiba-tiba dan juga yang terlalu awal baginya membuat bencana dipagi hari—yang seharusnya disaat seperti ini ia masih tertidur malah dipaksa menjadi "orang pagi"
"Masih pagi... Aku ingin tidur lebih lama lagi..."
Semua orang yang lelahpun akan bereaksi sama seperti Yuuri— Malas untuk tidak kehabisan akal dan mencoba mengeluarkan Yuuri dari zona nyamannya. Yuuri mengubur dirinya dengan selimut dan mencoba tidur lagi. Sayang rencananya digagalkan oleh Victor yang gatal sekali ingin pergi. Ia mendesis kearah pria yang menggangu tidurnya.
"Kau—Cepat katakan apa yang kau mau!" Yuuri sebenarnya tidak ingin marah namun Victor membuatnya harus mengomel dipagi hari.
"Ayo kita pergi." Jawabnya kalem. Ia bangun dari futon dengan terpaksa, pergi kekamar mandi dan ia keluar dari sana dengan pakaian rapih. Setelah membawa dompet dan handphone mereka pergi ke parkiran. Victor menyalakan mesin lalu ia menoleh keYuuri.
"Kau ingin kemana?"
"...Terserah kau. Aku akan mengikutimu saja."
"Kalau aku terjatuh kau juga ikut terjatuh gitu?"
"Tidak— ugh— oke-oke... ayo kita pergi ketempat favoritmu." Yuuri memijat keningnya. Dari dulu ia memang tidak megerti jalan pikiran Victor dan anehnya lagi dia juga tidak pernah menolak permintaan Victor—Seandainya aku tidak mengambil uangnya dihari itu, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.
Dia sebenarnya tidak begitu peduli dibawa kemana. Selama ia bisa tidur sehabis pulang dari kerja maka Yuuri tidak akan banyak protes. Jika ia menolak, laki-laki itu akan mengancam dengan dosa yang ia perbuat. Duduk dan diam adalah hal yang ia lakukan. Sebisa mungkin ia mencoba menghindari percakapan dengan laki-laki yang tengah menyetir. Ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa-siapa. Tapi jika dia yang memulai bicara, mau tak mau Yuuri harus merespon. –Dia tipikal orang yang tidak bisa dihiraukan begitu saja.
"Besok kau kerja?"
"...Tidak."
"Jadi kalau menginap semalam saja tidak masalah kan?"
OI kenapa kau membuat planing baru lagi! Kalau kau ingin menginap seharusnya kau bilang dari tadi supaya aku menyiapkan pakaianku!
"Mendadak ya? Hahaha, maaf. Aku juga baru kepikiran tadi saat melewati sebuah hotel. Kudengar ada sebuah hotel bagus diatas pegunungan dan kebetulan juga hotelnya dekat dengan laut— hmm mungkin terdengar aneh tapi aku tidak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa. Kalau begitu kita langsung saja pergi kesana?"
Yuuri mendesis. "Tunggu! Kau mau kesana tapi kau sendiri tidak membawa pakaian. Mau mu apa?!" Ia melihat Victor dengan jengkel lalu menghela nafas untuk menenangkan emosi.
"Oh iya, benar juga. Bagaimana kalau kita mampir mal dulu baru kesana?"
Dan dia benar-benar pergi ke mal yang ada di kiri jalan— tidak jauh dari posisi kami sebelumnya. Setiap dia belanja disebuah toko, aku selalu berada diluar toko— Menikmati keramaian yang biasanya "sebisa" mungkin aku hindari. Dari satu toko pakaian— ke toko lainnya— Lagi dan.. lagi! Kami berhenti disebuah kafetaria dilantai 3. Ya tuhan... belanjaannya menumpuk.. menggunung! Entah apa yang dia beli ditoko itu.
Kira-kira jika ditotal harga keseluruhannya berapa ya— Itulah hal yang menggelitik hati kecilku. Maklum aku hanyalah orang berpenghasilan rendah makanya aku pasti merasa heran tentunya dengan belanjaan yang ia beli.
"Yuuri kau mau minum?" Tanyanya dan Yuuri menggeleng sebagai respon. Dia tidak merasa haus ataupun lapar. Ia hanya ingin beristirahat tanpa diganggu oleh lelaki dihadapannya.
"Jadi... aku hanya mengantarmu ke hotel lalu pulang sendiri kan?" Yuuri balik menanya. Laki-laki itu tersenyum geli.
"Tidak. Kau ikut denganku. Aku sudah membeli pakaian untukmu— Walaupun kutak yakin akan muat dibadanmu."
Sampai jumpa liburan tentramku... Hah... Kenapa setiap harinya aku harus "bekerja" dengan dia. Melakukan hal itu, membuatku mabuk terus menerus— Tunggu siapa namanya? V— V... "V" siapa?! Waktu itu ketika kau mabuk, dia memberi tahu namanya— yang kuingat hanya V. Hanya V saja. Sungguh!
-0-
Saat mereka sampai, langit sudah menjadi gelap. Dan untunglah Victor sudah memesan saat mereka mampi di mal sebentar. Bagaikan orang yang baru pertama kali kekota, Yuuri terpana dengan ruang tunggu hotel yang begitu megah dan mewah.—...Aku tidak pantas berada disini— Aku ingin pulang!
"Yuuri aku sudah check in. Ayo ikuti aku."
Tidak butuh waktu lama untuk sampai kekamar mereka pesan. Kamar berada dilantai 6— 601. Kamar dengan dua single bed didalam dan juga jendela yang mengarah kearah lautan yang gelap. Ada tv berukuran 21 inch terpasang ditembok. Kamar mandi denga bathtub dan juga meja besera kursi—Isinya Standar seperti hotel berkelas kebanyakan. Yuuri duduk dikasur, memperhatikan bagaimana "V" menaruh barang belanjaannya. –Oh tuhan, siapa nama orang didepanku ini?
Ia merasa tidak nyaman langsung tidur begitu saja— membiarkan orang itu membawa barang-barang miliknya sendiri.
"Yuuri, ini pakaian ganti mu." Katanya sembari melempar pakaian yang masih baru. Itu sebuah kaos putih dengan gambar abstrak dan juga celana pendek selutut bewarna hitam. "Dan juga ini dalammu. Maaf aku tidak tahu itu bakal pas dibadan atau tidak jadi— cobalah pakai."
"Baiklah akan kucoba."
Pakaian yang ia belikan untukku muat semua— ini hanya sebuah kebetulan muat kan?
Victor senang mengetahui baju yang ia beli pas dengan badan Yuuri. Dan langsung saja secepatnya ia berganti pakaian dan merebahkan diri diatas kasur yang empuk. Ia melirik Yuuri yang hanya duduk diatas kasur— seperti enggan untuk tidur disana. Desakkan Victor yang terus-menerus membuat Yuuri menyerah dan akhirnya ikut merebahkan diri dikasur. Mereka sama sekali tidak saling berhadapan. Yuuri mengelak dengan tidur menyamping kearah kanannya— menghindari kontak mata dengan Victor. Dan kebetulan juga memang lebih nyaman jika tidur menyamping kekanan dari pada kekiri.
"Besok teman aku kelaut yuk!" Ajaknya dengan nada penuh semangat. Yuuri menoleh kebelakang untuk melihat Victor.
"—Kita lihat saja besok nanti... selamat malam."
"Ah...baiklah— selamat malam juga."
Kenapa aku malah terbayangkan dia bagaikan seekor anak anjing—
-0-
Pagi pun tiba. Hari ini ia mengira akan tertidur lebih lama namun naasnya Victor membangunkannya lagi, seperti kemarin. Yuuri melenguh dan mencoba mengusir Victor yang telah mengusik tidurnya.
"Ayo kita sarapan Yuuri! Habis itu kita pergi kepantai.
Ya tuhan... dia seperti anak-anak saja. Bagaimana caranya supaya aku bisa menghadapi bayi dewasa disebelahku ini?!
Dan dengan malasnya aku mengikuti perkataannya. Mencuci muka, menyikat gigi, menyisir rambutku sedikit dan pergi untuk sarapan. Disana sudah banyak sekali orang yang datang untuk makan. Setelah ia berbincang dengan entah apa namanya itu, baru kami diijinkan masuk dan makan disana. Kami duduk disekitar taman yang dipenuhi oleh anak-anak yang sedang bermain. Secara bergantian, kami pergi untuk mengambil makanan yang diinginkan.
Dia mengambil sosis, scramble egg, kentang jus apel, air mineral dan salad. Sedangkan aku hanya mengambil satu mangkok sereal, susu dan air putih. Untungnya, ia sama sekali tidak mengomentari apa yang kumakan. Setelah semua selesai, ia langsung mengajakku pergi kepantai. Jaraknya kalau menurutku— Sangatlah jauh! Entah harus berapa kali lagi aku menuruni anak tangga dan menaikinya? Tapi melihat wajahnya penuh dengan antusianisme membuatku tutup mulut— tidak ingin menggangu dirinya yang sedang bersenang-senang.
Saat mereka sampai, pantai masihlah agak sedikit sepi. Angin berhemus kencang meniup dari arah laut lepas. Victor berlari menuju kepinggir laut sedangkan Yuuri hanya mengawasinya dari kejauhan seperti layaknya seorang ibu yang sedang mengawasi anak-anaknnya bermain.
"Yuuri ayo kemari!" Ia melambaikan tangannya. Yuuri menghela nafas panjang dan menghampirinya.
Sebuah serangan mendadak dilakukan oleh Victor. Ia mengambil air lalu melemparkannya kearah Yuuri. Dan hal itu membuatnya kesal. Ia yang awalnya tidak ingin bermain air pada akhirnya ikut-ikutan melemparkan air kearah Victor.
"Dasar!— Rasakan ini!" Teriak Yuuri sambil melempar air.
"Tidak akan kubiarkan!" Balas Victor.
Mereka pulang dengan baju basah dan dipenuhi peluh. Setelah mereka mandi, mereka pegi lagi mengunjungi wahana yang berada diatas gunung—Dekat dengan hotel. Wahana yang menantang adrenalin mereka. Ada Flying fox, Panjat tebing, mendayung kano dan lainnya. Seharus nya Yuuri tidak terbawa arus—Seharusnya. Tapi karena ini adalah kali pertamanya maka Yuuri bermain seperti ini makanya ia terbawa arus. Dan seharusnya Yuuri menolak tapi Victor yang keras kepala terus memaksanya hingga ia mau mencoba wahana itu—Flying fox. Saat Yuuri meluncur dari atas pohon sembari menggengam erat tali yang ia pegang Victor merekamnya dari bawah sembari menahan tawa— Geli melihat Yuuri yang ketakutan setengah mati.
Mereka jajal hampir semua permainan yang ada—Mumpung tempat itu tidak begitu ramai seperti hari libur biasanya. Setelah puas barulah mereka beristirahat disebuah kafetaria.
"Menyenangkan bukan?" Victor tersenyum lebar. "Kau bahkan menjerit saat menaiki Flying fox. Sebuah pemandangan langka. Hahahaha."
"Diam! Jangan ungkit hal itu lagi kumohon" Yuuri menghela nafas dan memejamkan matanya. "Aku baru pertama kali menaiki wahana itu. Rasanya.. menyenangkan dan perutku seperti ada kupu-kupu saat melesat turun dari ketinggian segitu."
Victor meneguk air. "...Bagaimana kalau kita menaiki biang lala? Kuyakin kita bisa melihat pemandangan yang indah. "
"Terserahkau saja. Aku disini hanya menemanimu sajakan— seperti seorang baby sitter."
"Ah. Kau benar sekali..."
Hmm? Kenapa dia?
-0-
Untunglah biang lala sepi jadi mereka bisa masuk dengan mudahnya tanpa perlu perjuangan mengantri panjang. Mereka duduk berhadapan. Karena merasa tidak enak, Yuuri menunduk.
Tak berselang lama biang lala mulai berputar dengan kecepatan agak lambat. Yuuri diam dan menoleh kearah jendela. Jantungnya berdegup dengan kencang—Takut melihat kebawah sembari membayangkan hal buruk yang bisa saja terjadi kapan saja.
"Yuuri?"
Ia masih belum terbiasa berada dekat dengan Victor meskipun ia sudah sering berdekatan dengannya dari beberapa minggu yang lalu. Hati merasa tidak enak ditekan oleh dua sisi— Ketakutan dan tidak kenyamanan berada didekat Victor.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya dengan nada khawatir. Yuuri menggeleng pelan."Aku baik-baik saja. Hanya— ketakutan saja."
Yang membuatku merasa tidak enakkan adalah kepeduliannya terhadap diriku. Dia tidak mau melepaskanku— Sama sekali tidak ingin melepaskan diriku. Kenapa... Kenapa ia begitu baik kepadaku? Bukannya dia melakukan hal semua ini supaya aku bisa membayar hutangku?— Menjadikanku sebagai pemuas hawa nafsu saja. Menjadikanku sebagai baby sitternya saja?— Dia hanya bercanda soal tunanganya kan?! Itu hanya bualan saja kan?
...Tidak, dia benar-benar serius ingin bertunangan denganku. Dia ingin membuatku jatuh cinta dengannya—Laki-laki pantang menyerah dan keras kepala.
Cahaya oranye bersinat terang diufuk barat. Meskipun cahaya kini hampir ditelan oleh horizon. Langit perlahan berubah menjadi gelap. Yuuri terpana dengan keindahannya. Jarang sekali ia melihat pemandangan matahari tenggelam dari ketinggian—Jarang sekali.
Ckrek!
Ah! "Siapa yang kau foto?"
Ia tersenyum tipis, melihat ponselnya. "Tentu dirimu. Sebuah hal yang jarang melihat mu terpana dengan pemandangan ini." Kini ia menoleh kearah Yuuri. Wajahnya tulus sekali saat tersenyum— Membuat wajah Yuuri sedikit memerah.
...Aku rasa aku harus kerumah sakit. Aku tidak tahan dengan debaran jantungkuini. Kenapa dia bisa-bisa nya berkata seperti itu. Apa jangan-jangan ia hanya menyuapku dengan kata-kata manis supaya nanti ia bisa berhubungan denganku lagi?
Sampai detik ini aku tidak percaya kalau dia benar-benar mencintaiku. Apa ini hanya tipu muslihatnya saja?
