Yuri On Ice

Mitsuro Kubo

-0-

Menantikan Bagian Nsfw? Bersabarlah, mungkin chapter depan atau mungkin 2 chapter lagi baru muncul.


Kuharap dia menyadarinya. Kuharap dia menyadari betapa besarnya cintaku padanya. Kuharap dia bisa mengerti perasaanku ini. Kuharap dia membalas cintaku juga. Kuharap... dia juga mencintaiku sebagaimana aku mencintainya.

Aku ingin mendekapnya sekarang juga namun kuyakin dia pasti sedang menghindari skin ship— Dia masih meragukanku. Bahasa tubuhnya yang memberitahuku kalau dirinya memang merasa tidak nyaman. Apa yang harus kulakukan sekarang?

-0-

Ini adalah hari terbaik bagi Victor. Bisa membawa pergi Yuuri berkencan dengan dalih "tolong temani aku pergi." Dan Yuuri dengan sangat terpaksa menerima ajakkannya walaupun dirinya sempat merasa kesal saat ditengah jalan karena acara yang terlalu mendadak. Melihat bagaimana Yuuri menikmati liburannya membuat Victor sediki lega—Tidak sia-sia aku ajak dia kesini.

Kurasa dia tidak tahu kalau ini adalah sebuah kencan. Lebih baik seperti itu.

-0-

"Maaf aku tidak ingin bergandengan." Tolak Yuuri ramah. Ia memalingkan wajahnya-menolak bertatapan dengan Victor. Padahal Victor sedari tadi berharap bisa mengandeng Yuuri selama perjalanan menuju hotel. Tapi harapannya harus pupus. Dia tidak mau memaksa keinginannnya. Dia hanya mau Yuuri nyaman.

"Baiklah"

Walaupun sakit tapi Victor mencoba lapang dada menerimanya. Ia hanya tersenyum kecut melihat laki-laki itu pergi menjauhinya. Yang bisa ia lakukan adalah diam dan mengejar dari belakang menuju kembali kekamar.

Begitu sampai Yuuri langsung merebahkan diri sejenak sebelum masuk kamar mandi. Victor hanya melihat kepergiannya dan merebahkan diri diatas kasur. Tak berselang lama Yuuri keluar dengan handuk putih menutupi pinggulnya. Ia berjalan menuju kasurnya dan duduk menghadap kearah Victor—Ia ingin menyampaikan sesuatu.

"Aku butuh dalaman dan baju bersih jika ada."

"Oh! Tentu-tentu aku masih punya beberapa.' Ia bangun dan segera mencarikan pakaian dalam dan juga baju serta celana. Ia memberinya langsung ke Yuuri—Tidak melemparnya.

"Um.. terima kasih." Ia langsung memakai boxer bewarna hitam ditempat— Membiarkan Victor melihatnya. Bukannya mengenakan pakaian, ia malah duduk lagi ditempat sama. Menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai berbicara lagi.

"Hei... Bolehku tahu apa alasanmu mengajakku kemari?" Tanyanya dengan senyum hambar terplester dimulutnya. Wajahnya menunjukkan kelelahan dan juga mengedipkan matanya beberapa kali— mencerna perkataan Yuuri. "Maksudku kenapa kau berbaik hati sekali mengajakku kesini? Apa motifmu mengajakku kesini— Jangan-jangan dari kemarin... kita sedang berkencan?!"

"Hmm... memang rencananya seperti itu— Memangnya kenapa? Kau nampak tidak suka?"

"...Berarti kini hutangku lunas kan? Aku sudah menuruti semua permintaanmu dari A sampai Z, sudah memuaskanmu berkali-kali. Apa dengan ini sudah cukup?" Nadanya ia rendahkan, talut menyinggung orang didepannya.

Ah... dia sama sekali tidak menyadari perasaanku.

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Karena... aku merasa seperti sedang dipermainkan oleh mu. Kau membuatku harus membayar lebih dengan tubuh ini... Dan juga aku lelah berhadapan denganmu terus— Membuatku semakin merasa bersalah dengan semua yang kau berikan kepadaku. Entah bagaimana aku harus membayarnya?"

"Jatuh cintalah kepadaku." Ia menggenggam pergelangan tangan Yuuri. Jempolnya mengusap kulit Yuuri perlahan. "Hanya itu yang kumau."

"...maaf. Hatiku sama sekali belum bisa menerimamu"

-0-

Aragumen yang panjang dan menguras emosi kedua belah pihak. Mereka saling membenarkan pandangannya masing-masing dan menjelaskannya sebisa mereka. Victor hanya diam mendengar aragumen Yuuri yang penuh dengan emosi dan kesedihan yang ia pendam. Entah sudah berapa kali ia meminta maaf dan meminta menghentikan semua "gurauan" ini. Victor menghela nafas. Lelah karena penjelasannya tidak cukup membuat Yuuri percaya.

"Kita akhiri saja." Katanya tanpa ragu— namun nadanya sedikit bergetar— Takut menyinggung perasaan Victor. Namun ia salah. Victor terpelatuk mendengar kata-kata itu— Ia teringat semua jerih payah, kerja keras dan juga kenangan yang manis itu. Ia menundukkan kepalanya.

"Ah— Maafkan aku.. A-Aku tidak bermaksud—"

Air mata mengalir dari kedua mata birunya. Suasana berubah menjadi sangat canggung dengan isakan kecil terdengar dari Victor— menahan sakit hatinya. Yuuri mematung melihat bagaimana air mata itu mengalir dari matanya. Tidak terbesit dibenaknnya untuk menanyakan kenapa ia menangis."—Ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan" Batinnya.

"Haah... Percuma saja usaha dan kerja kerasku... Sampai kapan pun kau tidak akan pernah menyadarinya." Rutuk Victor dengan nada yang sedikit bergetar. Yuuri panik bukan main. Ini adalah kali pertamanya ia membuat menangis seseorang. Ia mencengkram kain bajunya dengan erat— menahan emosi. Untuk petama kalinya juga, Victor menangisi orang yang tidak mencintainya. Mendadak ia mendekati Yuuri dan menidurkannya diatas kasur miliknya. Ia mencium bibir itu dengan kasarnya membuat Yuuri menggerang kesakitan. Reflek Yuuri mencoba mendorong tubuh yang menimpannya namun usahanya sia-sia. Kedua tangannya ditahan oleh tangan Victor.

Ia mengigit bibir bagian bawah dan memasukkan lidahnya. Tapi ini tidak seperti biasanya yang ia lakukan— Terlalu kasar. Dia benar-benar marah kepadaku.

"Hen—Ti—kan!" Kata Yuuri disela-sela ciuman. Victor tidak bergeming dan terus menciumnya hinga Yuuri kehabisan nafas. Kini ia melepas handuk yang menutupi pinggul. Tangannya bergerak menuju lubang pink. Ia masukan satu jarinya yang tanpa pelumas. Ia tidak membiarkan Yuuri terbiasa dengan jari didalamnya dan mulai memasukkan kembali jari keduanya.

"Sa-kit! Ma—Maaf—an a-ku! Ah!"

Begitu jari digerakkan ia berteriak kesakitkan. Benar-benar sakit meskipun rasa sakit itu tidak menggambarkan sebarapa sakit dan perih hati yang terluka itu. Ia hanya diam melihat reaksi Yuuri yang kesakitan. Air mata yang keluar tidak dapat meluluhkan dirinya yang termakan amarah. Jari-jari digantikan oleh penis yang sudah menegang. ia arahkan kelubang masuk dan dengan sekali dorongan, benda itu masuk kedalam Yuuri.

Victor menghujam Yuuri tanpa ampun. Teriakkan nya makin besar dan ia pun mencoba menutup mulutnya karena menyadari ruangan mereka berada tidaklah kedap suara.

Ini sakit sekali!— Aku tidak kuat! Kumohon hentikan! Hentikan—! Tapi suaraku tidak akan pernah terdengar olehnya. Terus menghujamku hingga kurasakan darah mengalir dari sana— membuat hal ini terasa semakin perih. Ia tidak menatapku— sama sekali tidak menatapku.

Pace yang cepat tanpa ampun bagaikan siksaan. Ingin sekali ia menendang Victor tapi kaki yang dicengkarm kuat itu tidak bisa bergerak. Tak berselang lama, Victor berhenti— dan menjatuhkan badannya diatas Yuuri yang terisak. Victor membenamkan wajah disekitar tulang selangka Yuuri.

Aku bisa merasakan badannya bergetar. Dan ku juga mendengar suara isakan dari dirinya dan air matanya membasahi leherku. Isakannya berubah menjadi tangis yang terdengar jelas. Tidak ada kata yang terucap dari dirinya. Untuk terakhir kalinya ia meninggalkan bekas disana—Aku tahu saat merasa seperti digigit.

"Maafkan aku... sampai jumpa—"

Kata-kata terakhir yang kudengar darinya. Ia bangkit dan mencium keningku untuk terakhir kalinya— Seolah dia tidak sanggup membiarkanku pergi— Tidak ada celah untuk mencegahnya pergi. Ia meninggalkanku begitu saja dan pergi entah kemana— Mungkin meninggalkanku dihotel. Menghentikan semua ini— Aku maupun dia sama-sama belum mencapai klimaks...