Yuri On Ice

Mitsuro kubo

-0-

Semoga ana berhasil dapetin doujinnya mba minatu :'D

Bonus sebelum hiatus US


Setelah hari itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Setelah hari itu mereka tidak pernah berbicara lewat pesan pendek. Benar-benar menghilang bayangan lelaki itu dari hidupnya. Sebuah kedamaian yang ia harapkan. Ia bekerja seperti biasa, melakukan hal ini dan juga hal itu tanpa tertekan oleh kehadirannya— Seperti dulu sebelum laki-laki itu menemukan dirinya. Yuuri bersyukur karena bisa lepas dari laki-laki itu tapi hatinya sampai sekarang masih merasa bersalah karena telah melukai hatinya.

Kembali kekehidupan normal. Tidak ada yang membuatkanku makan, tidak ada yang menganggu hidupku lagi. Benar-benar kehidupan yang aku inginkan. Tapi perasaan tidak mengenakkan itu selalu menghantuiku— Seolah aku telah memperdaya dirinya saja—Malu sekali aku. Dia pasti membenciku. Tapi setidaknya aku sudah berusaha menolak tawarannya— yah kurasa ini bukan semua salahku.

"Maafkan aku... sampai jumpa"—Adalah kata-kata terakhir yang ia ucapkan dan hingga saat ini masih teringiang dbenak. Kutak mengerti kenapa ia mengucapkan maaf. Apa.. dia sudah merelakan semua hutangku— Ah tidak, aku harus tetap membayarnya. Tidak boleh kubiarkan begitu saja.

...dan jika seandainya kalian semua berada disini— kira-kira kalian akan mengatakan apa ya?

Ruangan kecil itu kini terasa sepi. Tidak terdengar suara rayuan dan suara manja laki-laki itu. Hanya tv dan angin saja yang membuat ramai. Disaat segang seperti ini, biasanya Yuuri meminum bir atau memakan cemilan jadi ia pergi kekulkas untuk mencari sekaleng bir. Alangkah terkejutnya ia melihat botol hitam dengan tutup gabus menutupi ujung botol. Tidak salah lagi itu adalah wine yang sengaja ditinggalkan oleh pria itu— Sebuah red wine. Minuman itu ditaruh diatas lemari dengan posisi tidur. Pantas saja ia tidak melihatnya dengan jelas. Setelah puas melihatnya ia menaruh keposisi semula.

...Maafkan aku.

-0-

Untuk membayar hutang-hutangnya ia perlu bekerja lebih keras. Karena itu ia mengambil pekerjaan lainnya seperti magang menjadi karyawan salah satu restaurant ternama. Ia tidak ingin bekerja seperti pelacur lagi. Ia takut kejadian sama terulang kembali— Walaupun hanya sepersekian persen kemungkinan itu terjadi.

Pekerjaannya menjadi berat. Sangat berat tapi ia harus melakukannya supaya ia benar-benar terbebas dari cengkramannya.

Uang yang kukumpulkan sama sekali belum terkumpul— Aku harus mencari alternatif lain.

Terus berusaha membanting tulang demi hutang terbayar. Walaupun lingkungan kerjanya membuat ia stress, walaupun para seniornya tidak suka dirinya. Ia tetap saja meneruskan pekerjaanya. Lelah tentu adalah bayaran yang pantas tapi ia tetap berusaha sebisanya. Menjaga performanya tetap terjaga.

Jika aku sudah keluar dari sini aku juga tidak akan merasakan tekanan dan umpatan kalian. Kali ini aku akan tetap bersabar.

Saat gaji turun wajahnya sumringah. Ia tidak dapat menahan rasa kebahagiaannya. Menghitung isi didalam amplop cokelat itu dan barulah ia membaginya menjadi beberapa bagaian : Untuk kehidupannya, untuk tabungannya dan untuk membayar hutang. Tapi prioritasnya adalah untuk membayar hutang makanya hampir 30 % gajinya disisihkan untuk membayar hutang.

Dan hari ini akhirnya ia bisa memakan nasi kembali.

Kalau dipikir ini sudah hampir dari 2 bulan semenjak hari itu. Dia sama sekali tidak memberiku kabar— Baguslah kalau dia sudah melupakanku. Hah... tapi uang ini belum cukup. Apa kuharus jual ginjal? Tidak. Aku tidak mau. Masih kurang... 500 ribu lagi. kurasa bulan besok aku bisa membayarkan semuanya.

-0-

"Hmm? Orang yang memesan gedung ini 3 bulan yang lalu. Hmm mereka bilang atas nama Nikiforov. Ada apa memangnya?" Tanya bos. Yuuri hanya tersenyum

"Tidak apa-apa... hanya penasaran saja."

"Apa karena waktu itu ia mengajakmu menari lalu pergi kerumahmu?" Bos tersenyum bodoh tanpa berdosa sama sekali. Semburat merah muncul dikedua pipinya mendengar godaan atasannya.

"Ja-Jadi anda yang memberitahu alamat rumah saya?"

"um, kau benar. Awalnya aku menolak tapi dia terus menerus memaksaku. Dan saat kumenanyakan alasannya dia jawab '...Aku ingin bertemu dengan laki-laki yang telah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku sama sekali tidak tahu namanya dan sampai detik ini masih mengejarnya cintanya. Karena itu— beritahu aku namanya dan juga alamat rumahnya! Kuingin mengunjunginya!'. "

Hatinya berdegub mendengar penjelasan atasannya. Tidak menduga kalau atasannya itu menjelaskan semuanya kepada Yuuri.

Dia.. berkata seperti itu sebelumnya?! –ya tuhan aku semakin merasa bersalah.

"Jadi... Bagaimana hubungan kalian berdua sekarang?"

"Ah... itu— Ka-kami baik-baik saja"

"Baguslah kalau begitu, kumengharapkan yang terbaik untuk kalian"

Yuuri buru-buru pamit dan meninggalkan ruang atasan. Ia buru-buru ketoilet dan duduk didalam sana. Ia menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.

Dia benar-benar mencintaiku— Sampai dia rela mengejar-ngejar diriku. Aku merasa bersalah telah melukai hatinya. Aku harus minta maaf kepadanya. Bagaimana pun juga aku harus meminta maaf kepadanya—Ah.. kenapa air mata ini tidak bisa berhenti keluar? Kenapa jantungku tidak bisa berhenti berdebar dengan cepat? ...Kenapa setelah semua itu, aku baru merasakan kehangatannya sekarang?

Maafkan aku— Aku benar-benar.. minta maaf...

Dan esoknya, Yuuri pergi kekantor milik Victor. Ia berpakaian kemeja putih dengan celana hitam. Memasuki kantor dengan penuh percaya diri untuk menutupi ketakutannya. Ia menuju administrasi.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya perempuan itu dengan ramah.

"S-Saya ingin bertemu dengan tuan Victor Nikiforov."

"Maaf, boss sedang pergi keluar negeri karena urusan kerja sama."

"Untuk berapa lama?" Tanya Yuuri dengan nada penuh kekecewaan.

"Kira-kira sekitar tujuh bulan—"

Itu waktu yang lama sekali! Ya ampun... apa yang harus kulakukan sembari menunggu kepulangannya?

"Dan apa sebelumnya anda sudah punya jadwal untuk bertemu dengannya?"

"Ah belum— Kalau begitu terima kasih telah menginfokannya kepadaku."

Tapi itu mungkin juga menjadi alasan yang tepat jika ia tidak pernah mengirim pesan sama sekali. Yuuri kenapa kau berharap sekali mendapat pesan dari dirinya?! Dia pasti membencimu! Jangan terlalu berharap!

Untuk mengalihkan pikirannya, ia tetap bekerja seperti biasa. Menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan. Dia juga tidak sengaja menjadi instruktur tari karena salah seorang perempuan bernama Minako tidak sengaja melihat nya menari dengan begitu indah. Dan ia pun keluar dari pekerjaan awalnya dan ikut Minako.

Pekerjaan yang sesuai dengan hatinya. Ia melakukannya dengan sepenuh hati. Ia merasakan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang. Bayarannya pula juga cukup besar tapi ia tidak mempedulikannya.

-0-

7 bulan kemudian.

Yusana. uri sedari tadi berdiri didepan gedung. Memperhatikan orang yang lalu lalang keluar masuk gedung. Ia tidak berani masuk dan menanyakan keberadaan orang itu. ia juga tidak tahu pasti kapan laki-laki itu datang dari luar negeri. Tapi ia selalu datang dan datang menunggu kehadirannya. Matanya menangkap sosoknya sedang keluar dengan bersama seorang perempuan berpakaian kantor. Tanpa babibu ia langsung menghampiri dirinya.

"V-Victor!"

Pria itu berhenti dan menoleh kearah Yuuri yang berlari menujunya. Wajahnya menujukkan sedikit keterkejutan tapi ia tidak meperlihatkannya begitu jelas. Kecanggungan begitu terasa, terutama bagi Yuuri. Ia keluarkan semuanya keberaniannya dan mulai berbicara.

"Ah.. ini.." Ia keluarkan amplop cokelat dari kantongnya dan menyodorkannya. Victor menatapnya dengan mata dinginnya.

"Apa maksudmu dengan semua ini?" tanyanya dengan nada dingin.

"...Aku ingin menebus semua hutangku dan... Maafkan aku.." Ia menundukkan wajahnya, tak kuasa menatap dirinya.

"Elizabeth ayo." Mereka meninggalkan Yuuri. Dan Yuuri tidak membiarkan mereka begitu saja. Ia mengejarnya— terus mengejarnya hingga Victor kesal.

Ia mengambil amplop cokelat miliknya dan membuangnya ketanah. Hatinya terasa sesak begitu saja melihat kerja kerasnya sia-sia. Ia hanya diam melihat kepergian Victor bersama dengan perempuan itu. Menaiki mobil sedan mahal dan melaju entah kemana.

Tidak ada gunanya. Dia tidak ingin bertemu denganku. Dia sangat murka dengan apa yang telah kulakukan—

Yuuri memilih kembali pulang. Tidak ada gunanya tetap berada disana jika hanya dijadikan pusat perhatian. Sepanjang perjalanan pulang ia hanya memejamkan matanya. Mengingat semua kesalahannya. Sesampainya dirumah ia langsung merebahkan diri diatas futon.

Ia ingin melupakan semuannya. Kesalahannya maupun pria itu. Susah sekali untuk melupakan semuanya begitu saja. Yuuri dihantui rasa gelisah yang tak berujung. Meminta maaf saja tidaklah cukup— Ia harus melakukan sesuatu. Tapi ia tidak tahu harus melakukan apa.

...Lebih baik aku ke bar.

-0-

"...Kenapa kau mengajakku kesini?" Tanya Chris— salah satu temannya dengan nada heran.

"Aku butuh teman minum." Victor menuangkan segelas vodka kegelas milik Chris.

"Terima kasih." Ia meneguk minuman miliknya. Victor menghela nafas panjang sembari melihat keseliling bar yang ramai dengan orang. Victor kembali fokus kearah Chris.

"...Aku benar-benar tidak bisa melupakan dirinya." Victor memulai percakapan. "Kukira dengan kepergianku kemarin, aku bisa melupakannya tapi. Ya tuhan... wajahnya terus terngiang dibenakku. Tadi aku bertemu dengannya didepan kantor. Ia menyodorkan amplop berisi uang dan—"

"Dan kau menerima nya?"

"Tidak. Aku membuangnya dan pergi meninggalkannya. Dan juga kudengar tadi ia meminta maaf kepadaku. Tapi dari semua itu yang membuatku terkejut adalah. Dia memanggil namaku. Padahal aku belum pernah memberitahukannya."

"...err Victor— kurasa dia ada disini." Chris menunjuk kearah podium dimana tempat para pole dancer menari erotis. Victor menoleh dan kaget melihat bagaimana Yuuri menari. Menggoda semua orang disana bahkan hingga ia disoraki oleh para lelaki dibawah podium. Secepatnya ia bangun dan dari sofa dan menghampiri Yuuri yang semakin lama menggila diatas sana.

"O-Oi Victor?!"

Tidak akan kubiarkan—