Yuri On Ice

Mitsuro Kubo.

Notes : Reupload! Ch. 3 menyusul. Mau hiatus. (Tapi masih aja upload)


Tidak ada hal yang berubah dalam keseharian Victor.

Semuanya kembali normal meskipun kemarin sempat terjadi kehebohan yang disebabkan oleh temannya yang tiba-tiba saja menyelenggarakan sayembara : kirimkan surat cinta kalian kepada Victor.

Victor tidak ambil pusing dengan candaan temannya itu hanya saja jika mereka— fansnya benar-benar mengirimkan surat kepada dirinya maka itulah adalah sebuah bencana baginya. Dan seperti dugaannya. Kebanyakan fans "nakal"nya mengirimkan surat hingga bertumpuk-tumpuk. Bahkan dirinya hari ini harus menerima setumpuk surat yang ada diatas meja dan juga didalam lokernya. Dengan kesal ia ambil semua itu dan memasukkannya kedalam tas begitu saja. Ia tidak peduli surat itu lecek, sobek atau rusak.

"Ini semua ulahmu" gerutunya. "Jika kau tidak memulainya maka aku tidak akan mendapatkan surat sebanyak ini!"

"Maaf Victor. Lagipula aku tidak tahan dengan sisi nerd-mu itu." jawabnya sambil mendekatkan mulutnya ketelinga Victor. "Kau bisa membuangnya nanti dirumah kan?" bisiknya. Ia takut ucapannya terdengar dan membuat orang-orang itu tersinggung.

"Aku baru saja memikirkan hal yang sama denganmu." Ia membuka binder yang barusan ia keluarkan dari tas. Tangannya memegang pulpen dan ia siap kapan saja menulis. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"

"Mengenai festival besok..."

Victor menulis semua ide yang temannya utarakan. Terkadang ia mengangguk mengerti dengan apa yang dimaksud temannya. Walaupun ia menunjukkan wajah antusiasnya tapi sebenarnya dibalik ekspresi itu tersimpan sebuah rasa malas dan kebosanan. Ya, ia bisa dibilang muak dengan semua pekerjaannya. Toh lagi pula dia dipilih orang karena kharisma dan wajah tampannya.

Sebenarnya ia enggan tapi mereka bersikukuh ingin mengangkat Victor menjadi salah satu bagian dari panitia. Ini bukan masalah uang melainkan waktu yang harus terbuang sia-sia untuk festival yang tidak ingin ia urus. Padahal diluar sana masih banyak orang lebih berkompeten dari pada dia dan juga masih banyak orang yang mau menjadi salah satu panitia selain dirinya.

Tak butuh waktu lama untuk mengakhiri perbincangan kali ini. Setelah selesai mereka keluar ruang kelas dan segera menuju kekantin untuk makan siang.

"Victor!" Mendengar namanya dipanggil ia menoleh dan menemukan dosennya- orang yang memanggilnya berdiri tidak jauh dari pintu kelas. Tangannya membuat isyarat untuk menghampirinya.

"Ada apa pak?"

"Kurasa ini milikmu." ia mengambil amplop yang terlipat dari saku bajunya dan menyodorkannya ke Victor. Victor langsung mengambilnya dan membaca bagian depan surat.

For Russian Ice Prince.

"Kukira itu buatku karena amplop itu kutemukan terselip buku absen. Tapi setelah kulihat namanya aku tahu ini milik siapa. Kamu adalah satu-satu nya orang yang imagenya sesuai dengan tulisan itu jadi... Akan kukembalikan kepadamu. Kuharap kau membacanya dan tidak membuangnya. Kalau begitu bapak permisi dulu."

Setelah dosennya pergi kearah yang berlawanan kini giliran mereka yang pergi menuju kantin. Tak lupa amplop yang Victor dapatkan tadi dimasukkan kedalam saku celana. Ia sudah tidak sabar ingin membacanya dirumah nanti namun ia harus menahan rasa penasarannya.

Tak butuh lama untuk sampai dikanti dan ternyata disana sudah menunggu teman-teman satu geng yang lain. Mereka menghampirinya. Victor duduk disebelah temanya yang bernama Mila.

Kantin semakin riuh dengan suara mereka. Tapi Victor tidak terhitung. Ia memilih diam dan memperhatikan mereka. Meskipun Mila menyapanya dan berharap ia larut dalam perbincangan namun sia-sia Victor masih tidak mau. Yang ia inginkan hanyalah pulang kerumah lalu tidur dikasur. Membaca beberapa judul buku atau bermain beberapa game baru. Tapi keinginan itu harus ia tunda dulu untuk sekarang ini karena ia masih harus berhadapan dengan orang-orang dihadapannya. Ia ingin sekali pulang lebih dulu namun merasa tidak enakkan dengan yang lain.

Handphonenya tiba-tiba bergetar. Ia merogoh kantong celana dan mengeluarkan handphonenya. Itu adalah sebuah pemberitahuan pesan singkat. Pesan singkat dari seorang yang tidak bisa dibilang ia sukai. Hubungannya dengan wanita itu hanyalah pelampiasaan saja. Ia sama sekali tidak memiliki rasa suka dengannya. Hubungan mereka sama sekali tidak bergerak sedikit pun meskipun mereka sudah sering bertukar pesan, sering berkencan dan melakukan hal yang lain.

Mereka hingga saat ini saling berhubungan karena mereka berdua sama-sama diuntungkan. Victor dan dia dapat menghindari godaan dan kejaraan para fansnya— itulah kelebihannya.

Dan berkat pesan singkat itu, Victor bisa kabur dari teman-temannya.

"Dari pacarmu ya?" celetuk Albert.

"Um. Kalau begitu aku duluan."

"Semoga beruntung Victor"

Victor dengan mobil sedan miliknya menuju ke cafe yang ia tuju. Tidak butuh lama untuk sampai sana karena tempatnya memang strategis. Tempat itu begitu luas dan asri dengan cat dinding merah di padukan dengan warna hitam di beberapa sisinya sehingga terkesan bersemangat. Hari ini tempat itu sangat ramai. Banyak sekali orang yang nongkrong bersama atau ada yang sebagian menghabiskan waktunya sendiri dengan membaca buku atau gadgetnya.

Walaupun tempat itu terbilang nyaman untuk membaca buku tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan rumah.

"Victor!" Panggil salah seorang wanita. "Aku menunggumu. Ayo sekarang kita masuk."

Hah... Keluar dari kandang macan masuk kelubang buaya.

XXX

Nama perempuan itu Mira. Seorang public figure. Terkenal karena kecantikan dan predikatnya sebagai seorang puteri sekaligus terkenal karena ia berasal dari keluarga kaya raya. Kebanyakan orang menganggap kalau Victor ada orang yang beruntung namun mereka salah.

Mereka duduk dilantai 2. Memesan beberapa makanan dan minuman. Sembari menunggu pesanan datang mereka berdua berbincang satu sama lain. Perbincangan mereka terkadang membahas buku, kejadian yang terjadi tadi dan gossip yang beredar namum kebanyakan mereka berbincang mengenai buku favorit masing-masing. Ya, Mila adalah pecinta buku. Makanya Victor bersyukur mengenal dirinya. Karena ia adalah satu-satunya perempuan yang mengerti jika diajak membahas buku.

"Sukeroku membuat buku baru! Aku baru saja melihat sampel covernya!" ia menunjukkan gambar dari handphonenya. "Tak kusangka dia membuat buku baru lagi!"

"Sukeroku ya... Hmmm aku saja belum selesai membaca seri bukunya yang pertama dan sekarang ada yang kedua..."

"Apa perlu kuberi spoiler?" tanyanya sambil terkekeh kecil.

"Tidak. Terima kasih. Lagi pula tinggal beberapa lembar lagi. Akhir-akhir ini aku membaca ulang Platonic Love. Nanti jika aku berada dirumah akan kubaca seri pertamanya Sukeroku."

Victor menghela nafas panjang. Wajahnya menunjukkan ke-engganan. Mira menyadarinya tapi ia pura-pura tidak tahu-supaya ia bisa memastikannya.

Kemudian makanan datang. Victor langsung menghabiskan pesananya secepat mungkin. Lalu setelah makan ia memperhatikan Mira yang sedang makan dengan anggunnya.

"Kau sepertinya tidak betah ya, Victor. Apa ada sesuatu yang mengganggu mu?"

"..Ya... Ada sesuatu yang mengangguku. Karena itu—"

"Ya baiklah kau boleh pulang seperti biasa. Tenang saja aku tidak akan menahanmu."

"Terima kasih Mira."

Victor pamit dan memberika uang kepada Mila untuk membayar pesanannya.

Ia langsung pulang menuju rumahnya yang ada di tengah kota. Karena macet, ia membutuhkan waktu satu jam untuk sampai rumah. Ia masuk rumah dengan tidak begitu sabaran. Sepatu yang ia gunakan ia geletakkan disembarang tempat dan begiu pula tasnya. Ia langsung mengeluarkan amplop putih dari kantung celana dan membukanya dengan kasar. Lalu ia duduk diatas kasur untuk membacanya.

Dear Russian Prince

Victor menahan rasa gelinya ketika membaca pembukaan. Oh kenapa kau tidak begitu konsisten sekali.

Jika kamu pikir aku menulis ini karena ulah temanmu itu, maka kau harus menghela nafas lega. Karena sebenarnya aku tidak berminat mengatas namakan surat yang kau baca ini adalah sebagai surat cinta. Aku menulis surat ini atas dasar opiniku tentangmu dan juga sebelum temanmu mulai bercanda. Bagaimana aku tahu candaan temanmu? Oh tentu banyak sekali orang yang berbicara mengenai dirimu karena menurut mereka permintaan maafmu itu seperti sebuah sindiran bagi mereka yang menyukaimu Tenang mereka tidak akan memarahimu toh kau punya kawan dibelakang jadi jika ada apa-apa kau bisa memanggil mereka.

Victor membacanya perlahan-lahan. Takut ia salah mengartikan kata-kata yang ada. Satu hal yang ia sadari setelah membaca surat ini adalah : surat ini terkesan seperti surat cinta yang isinya tersirat. Dari semua itu yang menarik perhatiannya adalah penulis itu berhasil menguak sebagian dirinya yang tertutup oleh topeng. Dia selalu mengawasi Victor- mengobservasi dirinya.

Victor Nikiforov adalah orang yang terkenal jadi wajar jika banyak orang yang menyatakan cinta kepadanya. Namun Victor sering sekali bergonta-ganti pasangan tidak kurang dari sehari sehingga banyak yang mengatakan kalau dirinya gay. Tapi terlepas dari itu semua ia tidak mau mengatakan privasinya tersebut. Karena kemisteriusannya itu hingga saat ini ia masih dikejar oleh para perempuan.

Yang penulis itu tuliskan hampir benar— atau memang semuanya benar. Dan jika hal sekecil ini saja ia tahu apalagi hal besar yang ia sembunyikan dibalik topengnya. Dan sekarang dia benar-benar seperti sebuah ancaman bagi kehidupan Victor Nikiforov dan Victor harus menghentikannya.

Apa dia adalah salah satu dari puluhan perempuan yang kusakiti?

Ia mengambil kertas dan menuliskan surat balasan. Begitu selesai ia tersadar.

Bagaimana aku menyampaikan surat ini?

XXX

Yuuri duduk dikantin. Ia sedang membaca buku berjudul : When The Sea Torturing Us. Matanya fokus pada tinta hitam diatas kertas. Sesekali ia tertawa setelah membaca beberapa bagian yang tertulis disana. Walau dia asyik sendiri membaca- hingga serasa masuk dunianya sendiri namun Yuuri tidaklah lengah.

"Victor kenapa kau was-was begitu?"

Begitu mendengar nama itu, Yuuri langsung mencari mereka. Mereka duduk tidak jauh dari Yuuri sehingga Yuuri bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.

"Hah...susah dijelaskan."

"Jangan-jangan karena surat itu?"

Yuuri tidak langsung senang mendengar dugaan Albert. Bisa saja surat yang dimaksud itu adalah surat milik orang lain selain dirinya

"Ya. Surat yang diberi oleh dosen kemarin. Haah... Aku tidak tahu harus memberikannya kepada siapa. Toh dia cuma menulis Q."

Ia ingin sekali membalas keluhan Victor tapi jika dia membalasnya maka identitasnya sebagai Q akan diketahui oleh Victor. Karena itu ia lebih baik diam dan mengikuti gerak-gerik pemuda itu.

"Kenapa kau tidak taruh dimeja dosen dikelas? Waktu itu dia menaruhnya disana juga kan?"

"Ah kau benar juga."

Cerobohnya diriku. Seharusnya waktu itu aku memberitahunya untuk menaruhnya dikolong meja miliknya.

Mereka berdua beranjak dari sana. Tak berselang lama Yuuri mengikuti dari belakang. Victor masuk kekelas dan segera menaruh amplop itu. Sembari menunggu Victor keluar dari kelas Yuuri berpura-pura memojokkan dirinya sembari membaca buku. Pandangannya tidak lepas dari Albert yang sedang berdiri didepan kelas. Victor keluar dan mereka langsung saja pergi entah kemana. Setelah dirasa jauh Yuuri masuk kedalam kelas. Ia menuju meja dosen dan menemukan amplop putih dengan nama Q disana. Ia ambil dan masukkan kedalam tas sebelum akhirnya pulang kerumah.

Entah kenapa perjalanannya terasa begitu lama. Hatinya berdebar-debar tak karuan tak sabar ingin membaca surat dari Victor. Begitu sampai rumah ia menaruh sepatunya begitu saja dan langsung duduk menyila diatas lantai. Ia buka surat itu perlahan-lahan.

Q

Akan kuluruskan semua karena kau yang memulainya.

Kau bukanlah milikku atau "mungkin" belum menjadi milikku. Aku cukup senang mengetahui kau dengan rendah hati mengakui dirimu sebagai "milikku,— Pangeran Es Dari Rusia.

Yuuri menahan rasa geli yang keluar begitu membaca surat itu. Salahku. Seharusnya aku tidak menggunakan kata-kata itu. Batinnya.

Aku tidak akan menerima jika penulis lain yang menuliskannya disurat mereka "yours" terkecuali dirimu seorang. Karena kau membuatku terkesan. Kau berhasil mencuri hatiku dengan opinimu yang berhasil menebak sebagian diriku yang tertutup oleh topeng. Dengan kata lain kau adalah penghalangku—Atau mungkin juga tidak. Karena aku masih belum mengenalmu maka akan kuanggap dirimu sebagai gangguan.

Setiap harinya kau selalu mengawasiku dan kau tidak mau mengakui dirimu sebagai seorang stalker? Menyedihkan sekali.

Yuuri mendengus "Jika aku mengakuinya maka aku akan mati."

Semua yang kau tuliskan itu benar namun tidak semuanya. Jika kau bisa menulis semua itu berarti kau tahu alasanku selalu mengakhiri hubungan dengan mereka bukan? Aku yakin kau mengetahuinya. Dan maafkan aku tapi hidupku tidak seindah imajinasimu. Aku sadar kalau aku bukanlah orang yang sempurna seperti yang kau bayangkan selama ini. Aku sama seperti dirimu—Hanya manusia biasa.

Dan hal ini membuatku merasa bersalah.

Begitu membacanya. Yuuri meremas kertasnya.

Dirimu bagaikan seorang penyihir yang mencoba masuk menjadi salah satu bagian dari anggota kerajaan dengan cara kotor. Tapi tak masalah selama itu bisa membuatmu tutup mulut maka aku akan dengan senang hati menerimamu dan mengangkatmu sebagai penasehatku.

Mata Yuuri melebar setelah membacanya. Dia.. Dia...! Ia tidak bisa berhenti tersenyum membaca kata "penasehatku." Dia memberiku kode!

Dan Satu hal lagi. Terima kasih telah menyarankanku sebuah bacaan baru. Setelah melihat sinopsis bukunya aku malah tambah penasaran. Kebetulan juga genre dan tema yang diangkat sesuai dengan kesukaanku mungkin akan kubaca nanti.

Q kau adalah orang pertama yang berhasil melelehkan es dihati ini. Karena itu akan kukejar kau hingga keujung dunia.

Dan jangan lupa taruh balasanmu dalam meja kolongku.

Milikmu

Victor. N.

Yuuri tidak bisa menghentikan senyuman yang dibentuk bibirnya. Langkah pertama yang ia lakukan berhasil. Kini tinggal menuntunnya lalu menjatuhkan dirinya.

Kuharap surat ini adalah senjata terkuat milikku.