Yuri On Ice
Mitsuro Kubo
Notes : Maaf kalo pendek. Sial saya kebanyakan Plot jadi binggung mau lanjutin :') dan sepertinya kuharus hiatus lagi.
Yuuri memutuskan untuk tidak pergi kuliah. Masa bodoh dengan absensi. Badannya sekarang penuh bonyok. Untuk bangun saja rasanya seperti neraka baginya apalagi untuk berangkat kuliah?. Ia berterima kasih kepada Victor yang telah menghajarnya habis-habisan kemarin karena Yuuri tidak membawa uang yang diminta Victor. Ia tidak sudi uang hasil kerja keras orangtua nya diberikan secara cuma-cuma ke Victor dan gengnya. Makanya ia tidak mau menelpon mereka sesuai perintah Victor. Tapi inilah hutang yang harus ia bayar demi kebaikan kedua orang tuanya—Yaitu luka yang mungkin akan sembuh tiga minggu kemudian.
Yuuri mengambil handphonenya yang berbunyi barusan.
"Katsuki Yuuri disini."
"Yuuri kenapa suaramu serak seperti itu?"
Ia menghela nafas "Kau tahulah kenapa aku bisa seperti ini. Kalau kau mau datang kesini tolong belikan aku obat-"
"Tidak akan kubawa kau kerumah sakit."
Seperti biasanya. bisa diandalkan. "Mohon bantuannya, Nino."
Telpon singkat itu selesai. Yuuri memejamkan matanya lagi sembari menunggu temannya— Nino datang. Walaupun ia sama sekali tidak punya kenalan dekat dikampusnya tapi ia merasa lega punya satu orang yang dekat dengannya. Rasanya tidak sia-sia ia masuk dalam komunitas pecinta buku. Dan dari sanalah ia berkenalan dengan Nino. Namun dia lupa bagaimana dirinya bertemu dengan Nino. Yuuri memejamkan matanya dan mencoba mengingat-ingat kembali.
Sebuah siang yang sibuk didalam Cafe Read and Eat. Yuuri berdiri didepan pintu masuk Cafe karena terpesona dengan furniture dan interior yang saling melengkapi satu sama lain. Kakinya langsung melangkah masuk kedalam Cafe tapi ia tidak segera mencari tempat duduk melainkan masuk kedalam perpustakaan terlebih dahulu. Hari itu ia berniat untuk meminjam novel karya Nuts. Begitu melihat banyaknya lemari yang berjajar ditambah dengan ribuan orang yang sibuk mencari buku, Yuuri menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka akan seramai ini.
Untungnya setiap lemari diberi label untuk masing-masing jenis buku sehingga memudahkan dirinya untuk mencari Novel. Tapi jika bukunya nyasar ke bagian rak yang lain maka itu sudah beda cerita. Setidaknya ada harapan untuk menemukan satu buku diantara ribuan; buku yang ada. Yuuri langsung pergi ke pojok perpustakan-karena bagian novel ada disana. Ia mulai menelusuri setiap rak yang bertuliskan Novel.
"Ketemu!" bisiknya lalu ia mulai mengambil buku itu. Tapi tak hanya dia, ada tangan lain yang juga ikut memegang buku itu. Reflek mereka berdua menoleh satu sama lain.
"Ah!" katanya "Silahkan, kau yang lebih dulu."
"Tidak. Lebih baik kau dulu" balas Yuuriuu dusta. "Kukira cuma aku saja yang akan membaca buku ini"
"Akupun demikian. Nuts selalu membuat cerita diluar akal sehat. Dan kudengar buku yang ingin kita berdua pinjam adalah karya terbaiknya." jawabnya.
"Jadi... Siapa yang ingin meminjamnya duluan?" Tanya Yuuri kembali ketopik awal.
Dan percakapan mereka menjadi awkward. Mereka berdua masih bersikukuh dengan egonya masing-masing. Tapi pada akhirnya pria itu yang meminjamnya lebih dahulu.
"Aku yang akan meninjamnya lebih dahulu. Namaku Nino." Ia megulurkan tangannya.
"Yuuri" ia membalas uluran tanganya.
"Bagaimana kalau kita cari tempat duduk dulu"
Dan setelah itu mereka mengobrol membahas Nuts.
Kenangan itu berputar dengan cepatnya hingga Yuuri tak sadar kalau Nino sudah datang. Kini ia duduk disebelah kirinya.
"Lama sekali." bisik Yuuri dan Nino tersenyum.
"Aku membawakanmu paket seperti yang kau minta kemarin. Sekarang ayo kita pergi kerumah sakit."
XXX
Moodnya sedang tidak baik. Ia sedari tadi menggerutu dan merutuk siapa saja yang membuatnya kesal.
"Oh tidak, Victor dalam Mood yang buruk." ledek Mila. "Siapa saja tolong berikan dia air dingin"
"Mila jangan bercanda sekarang." Balasnya dingin.
Tidak ada yang tahu apa yang membuat Victor badmood sekarang ini. Tapi Albert sepertinya tahu apa yang membuat Victor badmood tapi lebih baik ia diam dari pada membuat boss nya marah.
"Aku pulang saja." Katanya dan langsung meninggalkan mereka dikantin. Ia menuju ketempat parkir dan pulang dengan mobilnya. Meskipun lagu radio yang ia dengar begitu catchy tapi hal itu sama sekali tidak menaikkan mood Victor. Begitu sampai rumah hal yang pertama ia lakukan adalah duduk disofa. Menyalakan tv dan Ps4 lalu bermain game. Berharap game dapat membuat moodnya lebih baik—atau mungkin menjadi lebih buruk.
Setelah lebih dari dua jam ia bermain dengan penuh amarah dan umpatan, sisa waktu dihari ini ia habiskan dengan membaca buku yang disarankan oleh Q. Buku itu benar-benar sesuai dengan genre favoritnya. Saking sukanya, ia ngebut membaca buku tebal itu. Dan sebentar lagi buku itu akan selesai ia baca. Dalam waktu tiga jam buku itu selesai ia baca. Sehabis itu barulah ia membaca surat balasan dari Q.
Dear Russian Prince
Jujur, aku akan merasa tersanjung sekali jika aku berhasil menjadi milikmu seorang. Tapi bukan milikmu dalam arti posesif, melainkan menjadi salah satu bagian dari keanggotaan keluarga kerajaan yang akrab dengan dirimu. Tapi jujur saja aku cukup kaget membaca suratmu sebelumnya. Setiap kali aku memikirkannya, hatiku tidak bisa berhenti berdebar-debar.
Victor tersenyum tipis- yang berubah menjadi seringai. Kenapa dia selalu berhasil membuat surat ini terasa begitu menarik? Aku tidak habis pikir membayangkannya dirinya berdebar-debar karena ku.
Dan sangat disayangkan kau tidak akan bisa menemukanku apalagi mengejarku. Aku ini seorang stalker. Aku bersembunyi dalam kegelapan dan tidak ada siapa pun yang dapat menemukanku. Meskipun dirimu memintaku sekalipun, aku tidak akan pernah menunjukkan diriku.
Aku bukanlah orang yang seharusnya kau kejar.
Dia adalah orang yang harusnya kau kejar. Dia yang selalu berada disampingmu. Dia yang selalu membuatmu merasa nyaman. Perempuan itu pantas untuk mengisi kekosongan hatimu- melelehkan es dihatimu. Bisa diumpamakan aku ini hanyalah api kecil yang baru melelehkan sebagian kecil es. Dan dia baru akan melelehkan lebih banyak es dihatimu.
Maaf jika aku seperti memaksamu untuk mencintai dia tapi kurasa itu adalah hal yang terbaik. Karena aku bukanlah orang yang pantas untuk kau miliki seutuhnya.
Seperti yang kau tahu aku menulis surat ini bukan karena cinta dalam arti ingin memiliki melainkan karena rasa sayang. Karena itu jangan pernah anggap aku seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Satu hal lagi. Jika suratmu masih ada terus dikolong meja. Tolong dibiarkan saja disitu. Aku akan mengambilnya saat keadaan sudah membaik.
Aku menantikan jawabanmu. Dan jangan goda diriku dengan kata-kata manismu.
Oh tentu saja aku tidak akan menyebarkan rahasia yang ingin kau tutupi itu. Percayalah.
Yours
Q
Victor tersenyum "Q, kau nakal sekali." Surat yang ia baca itu terasa seperti tantangan dari pada sebuah saran. Dan Victor yang merasa tertantang tidak bisa menyembunyikan senyum ambisiusnya. Membayangkan dirinya menemukan pengirim misterius itu lalu menembaknya dengan kata-kata yang membuat para fansnya menjerit- Ya Victor sedang jatuh cinta kepada pengirim misterius yang mengusiknya selama dua minggu terakhir.
Dan dia ingin sekali bertemu dengan perempuan itu yang seolah-olah tidak menyukai dirinya. Ia berani bertaruh kalau sebenarnya Q itu benar-benar menyukai dirinya hanya saja ia terlalu malu untuk berterus terang. Mungkin terlalu takut cintanya ditolak oleh Victor.
Tanpa ia sadari, moodnya kembali membaik setelah membaca surat dari Q. Buru-buru ia masuk kedalam kamar lalu menulis surat balasan untuk Q. Ia tidak sabar dengan apa yang akan perempuan itu balas disurat selanjutnya. Ia sangat menyukai reaksi gadis itu. Hingga saat ini Victor masih belum bisa berhenti menyeringai jika mengingat kata berdebar-debar.
XXX
Sesuai saran dokter, Yuuri berdiam diri didalam rumah. Sudah tiga hari terakhir ini Yuuri dirumah untuk beristirahat. Dan karena hal itu ia harus rela tertinggal materi baru. Ia sedang duduk bersila didepan meja kecil yang penuh dengan tumpukkan buku dan kertas. Dan diatas meja tersebut juga ada laptop yang menyala.
Selama liburan, Yuuri selalu menghabiskan waktunya dengan membuka forum. Dan disana ia selalu mengreview buku yang baru saja ia baca. Lagi pula ia juga dibayar makanya ia selalu melakukan hal ini. Walaupun bayarannya tidak tinggi setidaknya itu sudah cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
"Yuuri aku datang membawa surat untukmu."
"Ah Nino. Terima kasih banyak. Tunggu bagaimana kau mengambilnya?" Nino tersenyum geli.
"Aku minta tolong temanku. Untungnya mereka tidak melihat dia."
"Maaf merepotkanmu." Balasnya tanpa mempedulikan bagaimana prosesnya. Lalu pandangannya beralih menuju monitor. Yuuri mengetik kembali hasil reviewnya. Nino yang paham dengan pekerjaan Yuuri duduk dibelakangnya dan membuka-buka buku yang berserakkan.
"Untuk apa kau membaca semua kamus ini?"
"Untuk merangkai kata review ini."
Nino mengangguk mengerti. Pada saat jam delapan malam, Nino pamit pulang. Dan Yuuri sekarang dirumah sendiri. Ia menghela nafas panjang. Lelah. Ingin sekali ia merebahkan diri diatas kasur tapi sebelum itu ia membaca surat balasan dari Victor.
Kira-kira dia menjawab apa ya.
