Yuri On Ice

Mitsuro Kubo

Notes : Terima kasih reviewnya. Kaget juga banyak yang kasih review positif. O)-( ini terakhir sebelum hiatus. Abis tgl 13 april saya balik lagi kok ;) terima kasih atas dukungannya.


Dearest Q

Kau selalu saja memberikanku sebuah kejutan yang tidak terduga. Bahkan disurat sebelumnya, kau berhasil membuatku berdebar-debar.

Api yang kau gunakan untuk melelehkan hati ini seperti nya sudah semakin membesar. Bahkan mengalahkan api dari perempuan itu. Sepertinya aku tidak bisa berpaling dari dirimu lagi.

Tentu jika waktunya tiba akan kubuat kau jadi milikku. Tidak perlu khawatir aku akan menerima cintamu jika kau menembakku. Makanya kau tidak perlu menyembunyikan perasaanmu. Pasti suatu saat nanti aku akan menemukanmu lalu menyelamatkanmu dari kegelapan.

Akan kulakukan segala cara untuk menangkapmu karena kau adalah orang pertama yang membuatku tertarik. Jangankhawatir, dia sama sekali bukan penghalangmu. Dia tidak lebih hanyalah sebuah pelampiasan saja. Tapi jika dibilang sebagai pelampiasan, rasanya tidak sopan sekali bukan?

Hubunganku dengan dia adalah sebuah rahasia. Kami tidak saling berpacaran. Kami berdua hanyalah dua kutu-buku yang saling bertukar pendapat dan pandangan tentang buku maupun author yang kami segani. Kami berdua sama-sama berlindung dari kejaran fans fanatik. Karena alasan itu kami membuat rumor : kami berpacaran. Tapi nyatanya kami tidaklah seperti itu.

Tapi jika kau sudah berani mengirimkanku sebuah surat berarti kau sudah termasuk dalam kategori fans yang fanatik bukan? Selama itu kau, aku tidak keberatan.

Yah aku terlalu ceroboh membocorkan rahasia ini. Karena itu kumohon tolong jaga rahasia ini. Karena kau adalah bagian dari anggota kerajaanku.

Sepertinya aku tidak menghentikan kebiasaanku untuk menggodamu. Karena membayangkan wajahmu merona membuatku terpicu untuk terus menulis kata-kata manisku.

Satu hal lagi. Buku rekomendasimu begitu bagus! Aku sangat menyukainya! Kuharap kau bisa merekomendasikan buku yang lainnya. Aku menantikannya.

Kuharap kita bisa bertemu muka secara langsung, calon permaisuriku. Karena surat ini tidak dapat membendung rasa keterarikanku kepadamu.

Your future husband

Victor. N

Dia sama sekali tidak malu menulis ini! Jerit Yuuri dalam hati. Ia menutup wajahnya yang memanas. "Apa dia sudah tidak waras? Sial kenapa balasan suratnya begitu, Ah— dia memaksaku untuk keluar dari zona nyaman. Baguslah jika dia menganggapku sebagai wanita. Haha..."

Yuuri merebahkan dirinya diatas kasur. Membenamkan wajahnya dalam bantal.

Jika aku seorang wanita mungkin aku akan terus histeris membaca surat manis ini. Oh Yuuri ingat tujuanmu. Kau ingin menjatuhkan dia! Jangan sampai kau terlena. Tetap waspada- Ya Tuhan tapi tetap saja isi surat itu benar-benar.

"Memalukan! Rasanya aku ingin sekali menyobeknya. Aku tidak tahan!. Suami masa depan?! Hah, dia pede sekali!" Malam itu Yuuri menghabiskan waktunya merutuki surat Victor. Seharusnya ia tidak tergoda begitu saja tapi tulisan Future husband itu benar-benar menggangu pikirannya. Yuuri tahu itu adalah hal yang bagus karena menguntungkan dipihak Yuuri itu sendiri namun tulisan itu juga membuatnya geli disaat bersamaan. Dan ia tidak tahu harus bagaimana mengatasi hal ini.

Yuuri bertahanlah sedikit lagi. Kemenangan ada didepan mata! Batinnya.

Walaupun kata-kata motivasi terus menerus ia ucapkan didalam hati tapi hal itu tetap tidak membantunya. Jika kertas yang ia gunakan untuk membalas surat Victor bisa menulis sendiri, maka Yuuri tidak perlu harus gundah seperti ini. Mau tak mau, ia harus mengirimnya surat balasan. Ia menarik nafas panjang sebelum mulai menulis.

Begitu banyak hal yang ingin ia utarakan dalam berbagai macam kata. Saking banyaknya ia entah sudah berapa kali mengganti lembaran kertas yang baru karena dianggap tidak begitu menyampaikan perasaannya. Menulis lalu meremas kertas menjadi bola dan melemparnya kearah tong sampah. Ia melakukan hal itu berulang kali hingga jam menunjukkan pukul dua belas malam. Jika seandainya surat Victor tidak berisi kepedeannya dalam menghadapi orang yang tidak ia kenal itu, mungkin Yuuri bisa membalasnya dengan mudahnya. Sekarang ia menyesal karena tidak memikirkan kemungkinan seperti ini. Pada akhirnya ia berhasil menulis surat itu walaupun dia sendiri tidak yakin.

Esoknya ia pergi kekampus lebih awal supaya ia bisa menaruh pesan itu dikolong meja Victor. Untunglah masih belum begitu banyak orang yang datang sehingga memudahkan Yuuri. Setelah menaruh surat ia langsung bergegas keperpustakaan. Disana ia tidak membaca buku yang disediakan melainkan membaca novel yang ia bawa. Disaat seperti inilah, perpus terasa bagaikan surga meskipun ia harus terganggu dengan hawa kehadiran penjaga perpus.

Kali ini ia akan mereview buku baru karya Alex Moskov. Buku itu ia dapatkan secara cuma-cuma sebelum waktu perilisan. Ya karena pekerjaannya sebagai tukang review buku maka wajar jika ia mendapatkannya lebih pertama. Sebentar lagi ia akan selesai membaca buku yang bercerita tentang pencarian jati diri dan juga pengejaran cinta yang tak terbalaskan. Ia selalu menghabiskan waktunya ketika dirumah dengan membaca buku maka tak heran jika buku yang ia baca sudah hampir selesai.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Yuuri menoleh menuju sumber suara yang tak asing itu. Victor muncul dari belakang dengan memakai kacamata berbingkai bulat. Sebuah hal yang sangat jarang untuk Yuuri lihat. Begitu melihat sosok itu bergerak menghampirinya, Yuuri teringat dengan tulisan Victor disurat. Suaranya tercekak menahan teriakannya yang ingin ia keluarkan. Victor mengambil tempat disampingnya dan langsung mengambil buku yang Yuuri pegang.

"Rozetta, Alex Moskov- hei babi dari mana kau mendapatkan buku ini?" Ia membolak-balik buku bewarna ungu itu. Lalu membaca sinopsis dibelakang buku sebelum membaca isinya. "Ini belum rilis kan? Bagaimana kau mendapatkannya?"

Yuuri mencoba menenangkan dirinya yang merasa geli. "Apa untungnya aku memberitahu hal ini kepada musuh besarku. Kalau aku memberitahumu berarti sama saja aku cari mati." balas Yuuri sambil menatap sinis Victor. Tapi Victor tidak bergeming dengan balasan Yuuri. Ia sibuk membaca kata yang tertulis dikertas.

"Jadi.. Apa ini artinya gencatan senjata?" Tanya Yuuri dengan suara pelan.

"Karena moodku sedang baik maka hari ini aku tidak akan menagihmu dan menghajarmu. Dan mulai dari sekarang kau hanya perlu memberiku uang setengah dari yang biasanya. Berbahagialah." Balasnya tanpa memandang Yuuri.

"...Bila aku tidak memberikanmu uang tutup mulut?"

"Maka rahasiamu akan kusebar. Aku masih mengingat jelas bagaimana seorang Katsuki Yuuri tanpa adanya rasa malu mengambil celana dalam Hana saat perkemahan dulu."

"Hah... Tapi kau sudah mempermalukanku saat pesta halloween kemarin. Apa itu belum cukup?"

"Suatu kepuasan tersendiri ketika melihatmu tersiksa dan menderita." Balasnya sambil tersenyum licik "Begitu rapuh dan mudahnya dihancurkan."

"Jadi karena itu, kau mempermalukanku saat pesta halloween?!"

"Bisa jadi. Dirimu benar-benar seperti jalang waktu itu. Aku benar-benar menikmatinya."

Yuuri mencoba menahan emosinya dengan menenangkan dirinya sendiri. Ia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya. Perkataan Victor sungguh menyakitkan. Ingin rasanya ia meninju orang didepannya tapi ia menahan hasratnya untuk menghajarnya. Jika seandainya bisa, ia ingin sekali menghajarnya hingga babak belur.

Yuuri tidak ingin mengingat kejadian itu. Itu terlalu pilu untuk diingat.

"Tolong kembalikan bukuku. Aku ingin pergi dari sini." pinta Yuuri yang di balas dengan dengusan oleh Victor.

"Aku ingin membacanya." wajahnya kesal.

"Kau ingin meminjam bukuku setelah semua perkataan yang menyakitkan itu? Jangan bercanda."

Mengakui kekalahannya, Victor mengembalikan buku itu ke Yuuri meskipun merasa berat hati. Disaat itu juga Yuuri merasakan kemenangan pertamanya. Karena baru kali ini Victor tidak melawan perkataannya dengan kekerasan. Secepatnya Yuuri beranjak setelah mendapatkan bukunya kembali.

"Yuuri. Jika kau melihat sesosok perempuan yang tidak kau kenal masuk kelas. Tolong beritahu aku. Terutama jika dia menghampiri mejaku" katanya. Yuuri menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Victor.

"Memang nya ada apa?" Tanya Yuuri dengan polos.

"Bukan urusanmu. Hanya beritahu aku. Itu saja."

"...Kuanggap ini adalah gecatan senjata." balasnya untuk terakhir kali sebelum pergi meninggalkan perpustakaan. Yuuri langsung lari secepat yang ia bisa menuju tempat teraman baginya—kamar mandi. Ia mengunci dirinya disalah satu bilik lalu duduk diatas kloset. Senyum sumringah terlihat begitu jelas diwajahnya. Hati nya berdegub dengan kencang mengalahkan rasa sakit hati yang dibuat oleh Victor.

Dia termakan oleh tipuanku. Ahahahaha kerja bagus Yuuri. Tinggal waktu yang tepat untuk mengeksekusinya.

XXX

"Yuuri punya buku Rozetta yang belum dirilis itu?! Victor pertemukanku dengan dia!" Mira meminta dengan mengebu-ngebu. Victor hanya menatapnya heran.

"Sebegitunya.. Kau mau membacanya?"

"Ya! Karena itu adalah buku yang sangat kutunggu-tunggu. Melihat review Butaone aku jadi ingin segera membacanya."

"Butaone?"

"Victor, Butaone itu adalah orang yang terkenal karena review bukunya benar-benar akurat. Dia sudah mereview berbagai macam buku, termasuk karya Alex Moskov itu—oh begitu..."

"Ada apa?"

Mira menggeleng. "Bukan apa-apa." ucapnya sambil tersenyum penuh misteri. Victor tidak berminat mencari tahu apa yang tengah disembunyikan Mira karena ia tidak begitu tertarik.

Cafe ramai dipenuhi orang seperti biasanya. Hanya saja hari ini entah kenapa terasa berbeda bagi Victor. Ia merasakan sesuatu yang baru tapi ia tidak bisa menjelaskannya secara lisan. Tujuannya bertemu dengan Mira hari ini bukannya membahas buku dan lainnya. Melainkan untuk meminta saran untuk membuat perempuan itu—Q mau menunjukkan dirinya.

Namun hasil perbincangannya selama dua jam lebih itu sangatlah sia-sia. Victor merasa saran Mira tidak begitu mempan tapi cukup menambah wawasan Victor walau hanya sedikit. Kini ia berada dirumah tepat nya berada didalam kamar. Ia duduk dipinggir kasur sembari membuka surat. Ia buka kertas itu.

Dear Russian Prince.

Oh pangeran. Kenapa kau masih saja menjahiliku dengan kata-kata manismu itu? Dan kusarankan jangan pernah membayangkan orang yang belum pernah kau jumpai atau kau akan menyesal karena terlalu berekspetasi terlalu tinggi.j

Entah apa yang harus kutulis diselembar kertas ini. Balasanmu kemarin benar-benar mengejutkanku. Apalagi yang tentang suami masa depan itu. Seperti nya kau terlalu cepat mengambil kesimpulan ya.

Kuyakin kau tidak akan mengindahkan kata-kataku. Jadi terserah kau saja. Aku tidak akan menghentikanmu. Kau tega sekali dengan perempuan itu. Padahal dia baik sekali. Entah apa yang akan ia lakukan kepadamu jika mengetahui kata-katamu itu. Apa kau merasa hampa jika bersama perempuan itu? Padahal setiap kalinya kulihat kau bersama dia kau nampak senang.

Aku tidak tahu harus membalas suratmu seperti apa. Jadi akan kusalahkan dirimu karena tidak mengindahkan peringatanku.

Oh rupanya kau sudah membaca buku itu. Baguslah. Selanjutnya aku ingin kau membaca Hideyoshi. Kenapa aku menyarankan buku itu? Karena menurutku kau menyukai sejarah dan tidak begitu menyukai romansa.

Ini peringatan. Jika kau membalasku seperti kemarin, aku akan berhenti mengirimu surat. Karena aku tidak bisa membalas suratmu jika isinya begitu manis, aku tidak sanggup menuliskan balasannya. Seperti yang kau baca ini. Isinya tidak begitu memuat isi hatiku.

Aku ingin sekali bertemu denganmu secara langsung, pangeranku tapi kurasa waktunya belum tiba. Tunggu aku hingga hari itu datang.

Yours

Q

"...Ya Ampun. Seperti nya aku terlalu tergesa-gesa." Komentarnya. Victor tertawa kecil. "Aku harus lebih berhati-hati"