Yuri On Ice
Mitsuro Kubo
Notes : Saya ngeship kapal Cherik (ini ga penting). Akhirnya Un Selesai. Yaah terima kasih telah menunggu ;w;. Ada percakapan Yuuri sama Oc (Nino) kalau Yuuri Cuma Italic doang kalau Nino pake '' sama italic.
Hari ini adalah hari yang tidak biasa bagi Yuuri. Tiba-tiba saja ia dihampiri oleh seorang figur publik, Mira. Perempuan anggun itu datang menghampirinya dengan dua buah buku tebal—yang mungkin novel didekapan. Yuuri tak bisa menahan matanya untuk tidak menatap wajahnya yang cantik.
"Kau, Katsuki Yuuri bukan?"
"Ah— Ya. Itu aku. Apa yang bisa kubantu?" Jawab Yuuri ragu. Baru kali ini ia dihampiri oleh seorang wanita yang menjadi pujaan para laki-laki disini.
"Mau kah kau berdiskusi denganku?"
Tentu saja Yuuri tidak bisa menolak ajakan perempuan itu. Ia mengangguk lalu membimbingnya kekantin. Semua orang yang ada disana menatap mereka kaget lalu membicarakan mereka.
"Hiraukan saja" kata perempuan itu. "Kau tidak perlu mendengar mereka" ia duduk dimeja untuk empat orang berhadapan dengan Yuuri.
"Ah umm..." Yuuri mengganguk setuju lalu tertunduk. Dirinya masih merasa ragu untuk terus menatap Mira.
"Kudengar dari Victor kau memiliki buku Rozetta yang belum rilis itu. Bagaimana kau mendapatkannya?"
"Temanku.. Yang memberikannya. Kalau kau mau membacanya, aku masih membawanya."
Senyuman lebar terlihat dibibir merahnya saat Yuuri menyodorkan buku bewarna ungu itu. Perempuan itu langsung mengambilnya dan membuka buku itu.
"Kau menyukai karya Alex Moskov?" tanyanya dengan mata yang masih terfokus pada buku.
"Tidak begitu. Aku lebih menyukai karya Nuts."
"Nuts ya— seperti Victor ya. Hmm kau sudah membaca buku ini?"
"Sudah"
"Bagaimana menurutmu?"
"Terlalu klise. Terlalu banyak adegan tidak penting tapi justru adegan yang tidak penting itu membuat pembaca semakin penasaran. Maklum, itu cerita romansa bukan? Ending nya tidak begitu buruk..."
" ...Butaone "
Hatinya berhenti berdetak sepersekian detik ketika perempuan itu menyebutkan nama itu. Nama itu seharusnya merahasiakan jati dirinya tapi bagaimana perempuan itu bisa tahu? Yuuri memandangnya dengan wajah kaget. Perempuan itu hanya tersenyum.
"Tidak-tidak. Aku tidak akan memberitahu pekerjaan rahasiamu. Tenang saja." ia menjorok kedepan sehingga bisa mendekatkan wajahnya ke Yuuri. "Lagipula aku adalah fansmu." bisiknya sebelum kembali ketempat duduknya. Orang-orang disekitarnya menatap mereka dengan terkejut. Beberapa dari mereka mengambil foto lalu menyebarkannya. Yuuri menelan ludahnya.
"Karena itu. Jika kau sudah mereview buku baru lainnya, aku pinjam ya."
Yuuri yang masih tidak paham dengan situasi tadi mengangguk saja tanpa memikirkan ucapan Mira. Entah apa yang terjadi jika Victor mengetahui ini semua? Ah sudahlah dia juga menganggap wanita ini sebagai pelampiasan—batinya.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, perempuan itu pergi meninggalkannya. Dan semenjak hari itu, hari-hari Yuuri berubah drastis. Esoknya Mira datang lagi kepadanya untuk membahas buku. Sebenarnya Yuuri tidak keberatan sama sekali tapi ia risih diperhatikan terus oleh orang-orang yang masih belum bisa menerima kenyataan (Yuuri pun juga sama, masih belum bisa menerima kenyataan). Bertanya-tanya pada dirinya, bagaimana Mira bisa tahu Butaone itu adalah dirinya? Apa Victor dari memang sudah tahu dari awal lalu membocorkannya ke Mira? Yuuri tidak berani mengambil kesimpulan sendiri tanpa bukti. Seharusnya ia bertanya tapi ego terlalu tinggi membuatnya enggan bertanya.
Mereka berdua selalu menghabiskan waktu di kantin terkadang di Cafe. Dan hal ini menjadi perbincangan publik karena keakraban mereka membuat banyak orang salah paham. Yuuri dikira menikung Mira yang seharusnya adalah pacar Victor dan lebih menggemaskannya lagi Victor seolah tidak peduli kalau Mira ditikung oleh Yuuri. Hal itu tentunya membuat orang- teman-temannya geram.
Yuuri menyadari hal itu dan sudah memperingatkan Mira. Tapi perempuan itu masih saja keras kepala.
"Yuuri hiraukan mereka. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi"
"Tapi mereka kira aku sudah menikungmu dari Victor!"
"Yuuri. Percayalah padaku."
Perempuan selalu benar— kata mereka. Tapi kebenaran mereka itu akan menuntun Yuuri kesebuah malapetaka. Ia berdoa dalam hati supaya malapetaka itu tidak menghampirinya. Namun Tuhan tidak mengabulkan doanya. Musuh besarnya muncul dengan wajah gusar. Ia berdiri di hadapan mereka lalu memandangi Yuuri dan Mira. Tidak berbicara sepatah kata melainkan langsung duduk disamping Mira. Yuuri berkeringat.
"Kau telat Victor." sapa Mira. Victor mendengus kesal.
"Mira bisakah kau berhenti bersama dengan babi ini? Kau tahu MEREKA selalu mengatakan hal yang sama dan selalu menghinaku dengan hal yang sama."
"Oh Victor yang malang." Mira tertawa dan Victor menghela nafas panjang. Yuuri hanya mengamati percakapan mereka berdua. Sesekali ia merasa geli jika teringat pengakuan Victor yang langsung dibandingkan dengan kenyataan dilapangan. Ia menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gelinya sekaligus cengirannya yang belum terlihat. Kedatangan tamu yang tidak diundang ini membuat Yuuri gugup. Bagaimana tidak? Sedari tadi Victor memandanginya dengan sinis. Seolah menyuruhnya untuk enyah dari sana sekarang juga. Keberadaan Mira menjadi kekuatan dan juga alasan bagi Yuuri untuk tidak meninggalkan tempat itu secepatnya. (Karena Mira meminta untuk Yuuri untuk tidak meninggalkannya)
Aura ketegangan yang berasal dari meja mereka bertiga menarik perhatian pengunjung lain. Terutama bagi mereka yang berasal dari kampus yang sama. Percakapan diantara mereka bertiga terlihat begitu intens padahal nyatanya mereka bertiga hanya membahas buku dan juga mengutarakan unek-uneknya. Tidak ada percakapan yang dipenuhi amarah ataupun teriakan umpatan. Begitu damai dan diluar ekspetasi mereka- para penikmat rumor. Hal itu karena Yuuri sama sekali tidak pernah menyela percakapan Mira dan Victor. Ia hanya memandangi mereka lalu mengalihkan perhatiannya dengan mengaduk-aduk minuman yang ia pesan. Sesekali ia melihat pemandangan diluar jendela. Jika Mira atau Victor mulai mengeluarkan nada tinggi, ia melirik mereka dan memandanginya sekaligus mendengarkan semua percakapan mereka. Kali ini mereka berdua membahas buku Rozetta yang Yuuri pinjamkan kepada Mira.
"Hei Babi, apa kau menemukan wanita itu?" pertanyaan Victor yang tiba-tiba melenceng dari tema percakapan menyadarkannya dari lamunan.
"Be-belum.." balas Yuuri.
"Kenapa kau tidak bisa menemukannya?! Ya ampun... Hah, aku ingin sekali bertemu dengannya" Keluhnya.
"Siapa? Q ?" sela Mira.
"Siapa lagi coba." Victor menaruh kepalanya diatas meja. "Kuharap dia mau menunjukkan dirinya." Menghela nafas lalu mengangkat kepalanya lagi. "Aku terlalu ambisius... Seharusnya aku tidak menulis kata-kata itu."
"Kau menulis apa?"
"Your Future Husband"
Mira tertawa terbahak hingga terbatuk. Ia melirik Victor lalu tertawa geli lagi. "Ya Tuhan, Victor kau bodoh sekali! Seharusnya kau menulisnya dengan sesuatu yang manis, bukan kode keras seperti itu" Mira tertawa lagi. Yuuri juga sebenarnya ingin ikut tertawa tapi ia menahannya. Hal itu membuat ia teringat lagi dengan semua rutukkan yang ia keluarkan pada malam itu. Dan ia tersenyum tipis melihat bagaimana Mira meledek Victor.
"Kau bahkan belum tahu siapa wanita itu Bagaimana rupanya dan lain-lain tapi kau sudah mengodenya, Victor. Kau benar-benar jenius."
"Ya aku memang jenius." Victor mendengus.
"Apa yang dia balas?"
" 'Kau terlalu cepat ambil keputusan, ya' kurasa dia kesal"
"Kau harus minta maaf kepadanya. Aku juga jika dikirimi surat yang isinya seperti itu aku enggan membalasnya lagi. Menjijikkan. Apalagi dari orang yang sama sekali belum kukenal."
Victor mengangguk mengerti. Dan Yuuri sudah bisa membayangkan isi surat balasan dari Victor.
Saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, mereka pulang kerumah masing-masing. Percakapan yang begitu absurd dan juga menarik membuat mereka betah berlama-lama didalam cafe meskipun Yuuri sebenarnya merasa tidak nyaman jika berada di sekitar jangkauan Victor. Meskipun begitu, hari ini ia merasa bersyukur karena bisa melihat sedikit sisi lain dari Victor yang sama sekali belum ia ketahui. Walaupun kearoganannya masih belum hilang. Karena mereka sedang melakukan gencatan senjata maka selama masa itu, Yuuri untuk sementara mencoba untuk tidak benci dengan pemuda bernama Victor.
Atau mungkin rasa bencinya perlahan menghilang sekarang.
Surat balasan yang selalu ia terima hampir setiap minggunya perlahan membuka hatinya sedikit demi sedikit. Dan jika ini terus berlanjut mungkin hal ini akan membuat Yuuri jatuh cinta kepada musuh besarnya sendiri. Dan jika hal itu terjadi maka surat yang ia kirim ke Victor tidak lebih seperti senjata makan tuan. Efek positifnya adalah Victor mulai jarang menyiksa Yuuri karena takut imagenya rusak dimata perempuan itu meskipun hingga saat ini Yuuri masih terus saja dipalak. Entah untuk apa uang yang Victor palak itu tapi menurut rumor katanya Victor suka sekali membeli alkohol atau wine maupun minuman keras lainnya.
Dan jika hal itu benar lebih baik aku meminta orang tuaku mengirimkan 1 box alkohol batinnya.
XXX
kabar bahagia untuk mu Yuuri!
Ada apa Nino?
Nuts mengirim buku barunya untukmu dan kau disuruh mereviewnya.
Kau mencoba membunuhku Nino?! Nuts yang itu kan?!
Iya. Author favorit kita. Terus kudengar juga Pichit juga akan kembali dari kampung halaman.
Ya Tuhan! Ini seperti mimpi! Aku tidak sabar menantikannya!
Nino tolong kau ambil surat Victor. Seperti nya aku tidak bisa mengambilnya sendiri lagi
Ada apa memangnya
...semua orang-orang sedang mencurigaiku. Jadi aku tidak bisa bergerak seleluasa dulu. Jadi tolong.
Selama itu permintaan sang Putri, hamba tidak akan menolak.
Dasar. Aku ini bukan putri
*stiker*
Kapan Pichit akan datang?
Nanti kukabari.
XXX
"Terima kasih atas uangnya, Yuuri."
Victor meninggalkannya didalam salah satu bilik kamar mandi. Yuuri meninju salah satu dinding bilik dengan kencang setelah Victor keluar dari kamar mandi. Untunglah tidak ada orang disini sehingga tidak ada yang memarahinya.
Mood bagusnya hilang dalam sekejap dan sekarang rasanya ia ingin sekali mengurung dirinya didalam kamar kecil. Pesan dari Nino sama sekali tidak membuat moodnya baikkan. Menghela nafas panjang sebelum akhirnya meninggalkan tempat teramannya. Kaki nya melangkah menuju kantin dimana Nino tengah menunggunya. Sangat mudah menemukan sosok laki-laki itu karena gaya berpakaiannya yang sangat kekinian. Ia sudah menunggu dimeja yang berada di pojok ruangan.
"Maaf lama. Aku baru saja ditagih pajak oleh reternir."
"...Saat waktunya tiba kau akan membalasnya."
"Apa kau membawa paketnya?"
Ia mengeluarkan box yang dibalut karton cokelat beserta dengan dua amplop putih diatasnya. Yuuri mengerjapkan mata.
"Kenapa ada dua?"
"Yang satu dari Nuts langsung. Yuuri coba kau buka suratnya!"
Yuuri menyobeknya dengan perlahan, mengambil kertas didalamnya lalu membacanya. Setelah selesai membaca ia berikan kertas itu kepada Nino. Isi surat itu tidak lebih dari harapan dan juga rasa terima kasih kepada penulis. Ia tidak menyangka akan mendapatkan hal itu dari orang yang ia kagumi dan rasanya ia seperti orang yang baru saja jatuh dari langit ketujuh. Rasa sakit bercampur kesal hilang dalam hitungan menit bersamaan dengan meluapnya rasa kesenangan berlebih.
"Selamat, Butaone."
"Nino, stop"
"Oke oke. Bagaimana kalau kita pulang kerumah mu dan merayakan semua ini?"
"Pilihan bagus."
Dengan mengendarai motor milik Nino, mereka langsung melesat menuju rumah Yuuri. Dan begitu sampai mereka tiada henti membicarakan buku baru Nuts bahkan Nino tidak cukup sabaran menunggu. Ia ingin secepat mungkin meminjam buku yang Yuuri belum baca. Karena telpon mendadak dari tempat kerjanya, Nino pamit pulang lebih awal dan meninggalkan Yuuri yang sedang membaca buku. Ia biarkan surat dari Victor tergeletak di mejanya. Rasa penasarannya sekarang ini ia curahkan pada buku baru milik Nuts. Bahkan ia mengabaikan surat dari Victor.
Dan Yuuri memutuskannya untuk tidak membaca dan membalas balik surat Victor. Ia terlalu sibuk dengan bacaan barunya. Ketika saat berada didalam kelas, ia tersenyum senang melihat Victor yang tidak menemukan apa yang ingin ia inginkan. Mengeluh lalu berbicara pada teman disebelahnya. Dan Yuuri merasakan adanya kemenangan kecil. Tidak hanya itu, ia mendengar Victor mengeluh kepada teman satu gengnya. Ia terus mengamati tingkah laku Victor selama seminggu. Dan semuanya dipenuhi oleh keluhan dan juga rasa bersalah.
Untungnya buku yang ia baca dari kemarin sudah selesai sehingga ia bisa membaca surat Victor begitu sampai rumah.
Hari ini ia menemani Mira seperti biasanya. Dan entah kenapa hal ini sudah menjadi rutinitas barunya tanpa ia sadari. Ia diam diam mengambil keuntungan dari rutinitas barunya- mencari hal-hal tentang Victor yang sama sekali ia tidak ketahui dari surat. Dan Mira dengan polosnya mengatakan semuanya. Tapi ia sempat bertanya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"...Dia musuhku. Karena itu aku harus mengetahui dirinya lagi."
Mira membentuk 'o' dimulutnya. Sepertinya perempuan itu memang tahu hubungan apa yang sedang terjadi dengan Victor dan Yuuri. Kemudian Mira tersenyum.
"Baiklah akan kuceritakan semua yang kutahu."
Setelah mendapatkan info yang ia anggap penting, baru ia pulang kerumah. Ia menyobek amplop Victor lalu mengambil kertas didalamnya.
Dearest Q
Aku minta maaf atas suratku kemarin. Sungguh minta maaf karena secara tak langsung telah menyinggungmu. Aku menulis hal itu karena aku gemas dan ingin sekali bertemu denganmu secepatnya.
Sekali lagi maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Dan maaf jika surat yang kau terima sedikit lecak karena anjing kesayangkanku, Makachin tidak sengaja melakukannya. Kau tahu dia dari ras poodle, kuyakin kau menyukai anjing ras ini. Kau bisa melihatnya di foto yang sengaja kukirimkan bersama dengan surat ini. Lucu bukan? Kuyakin dia pasti akan senang bertemu denganmu.
Yuuri merogoh isi amplop dan menemukan foto yang dimaksud. Matanya melebar melihat gambar seekor anjing bernama Makachin. ...Dia mirip sekali dengan Victor- anjing lamaku yang mati itu-! Batinnya. Ia buru-buru menaruh foto itu diatas meja karena tidak ingin mengenang sahabat karibnya itu.
Hideyoshi nampak tidak begitu buruk. Aku menyukainya. Terima kasih telah menyarankanku buku ini. Akan kuberitahu dirimu jika aku sudah selesai membacanya.
Jika kau enggan membalas suratku, tidak masalah. Karena semua ini salahku. Tapi aku akan sangat berterima kasih sekali jika kau membalas suratku. Aku menantikan jawabanmu.
Yours
Victor.N
"Dia menyesal." komentar Yuuri. "Tapi kenapa anjing miliknya harus sama persis dengan milikku? Walaupun anjingnya berukuran besar tapi—"
Yuuri menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Victor, aku merindukanmu... Maafkan aku karena aku tidak ada disampingmu saat itu. Maafkan aku..."
Tanpa disadari air mata mengalir deras.
