Yuri On Ice

Mitsuro Kubo

Maaf update lama. Ku kekurangan referensi dan kebanyakan liburan. Maaf chap 6 nya Cuma re-chap saja :'( btw yang review soal buku kemarin. Itu judul bukunya ngasal kok wkwkwk :'D. Dan satu hal lagi. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan. Btw alur timeline nya kacau o)-(


Musim gugur telah tiba. Kini terhitung tinggal beberapa bulan lagi sebelum natal tiba— Sebelum libur menghentikannya. Yuuri ingin sekali mengakhiri surat-menyurat ini secepat mungkin namun pergerakkan Victor yang semakin lama diluar perkiraannya membuat ia sedikit kesusahan.

Pria itu memang tidak pernah mengganggunya lagi tapi entah kenapa semakin lama jika terus dipikirkan semakin membuat dirinya menyesali apa yang telah ia perbuat. Ditambah lagi hubungan dirinya dengan Mira yang membuat orang-orang semakin penasaran. Meskipun Mira sudah memberi tahu pernyataannya tapi tetap saja hal itu masih belum cukup untuk menenangkan Yuuri. Hampir setiap seminggu sekali mereka janjian bertemu dicafe, seperti layaknya kencan. Setelah itu ia pulang dengan rasa lelah dipunggung dan rasa tidak nyaman.

"Oi Yuuri"

Seseorang memanggil namanya. Ia menoleh kearah gang gelap dimana sumber suara berasal dari sana. Victor muncul perlahan dari kegelapan dan langsung menarik Yuuri kedalam. Ia menghimpit Yuuri di dinding sehingga dia tidak bisa lari kemana-mana. Wajahnya saling berdekatan. Iris biru miliknya terlihat menyala didalam kegelapan.

"Kenapa kau selalu bersama dengan Mira?" Suaranya yang dingin membuat Yuuri gugup.

"...Di-Dia yang memintaku—"

"Omong kosong! Sekarang kuperintahkan kau untuk menjauhinya! Kedekatanmu dengan dia membuatku risih saja."

Entah apa yang membuat risih Victor tapi Yuuri berani bertaruh kalau hal itu karena banyak orang yang menanyakan hubungan Mira dan Victor dan juga banyak sekali fans miliknya mulai mengejar-ngejarnya. Entah dia memang sengaja menjaga status lajangnya atau hal lainnya.

"A-Aku sudah berusaha untuk tidak mendekati dirinya tapi dia sendiri—"

"Apa kau tidak bisa menolaknya babi? Gunakan mulutmu itu untuk menolaknya! Jangan kau diam saja seperti seorang jalang yang digiring oleh siapa saja!"

Nafas Yuuri tertahan untuk sepersekian detik sebelum akhirnya mejawab. " maafkan aku. Aku akan menolaknya lain waktu."

Puas mendengar jawaban Yuuri, Victor melepaskannya dan medengus sebelum pergi meninggalkannya. "Jangan pernah kau ulangi lagi atau kau tahu akibatnya."

"Perintah dari raja yang angkuh seperti dirimu tentunya harus aku turuti atau aku akan mati." Kata Yuuri sambil tersenyum licik. Tentunya hal ini menyulut amarah Victor. Tanpa perlu ia duga ia harus merasakan bogem mentah keras dipipinya. Victor terus menghajarnya hingga ia puas. Lebam dan darah terlihat disekitar wajahnya. Kacamata yang ia kenakan entah jatuh dimana. Yuuri dari kejauhan mempehatikan kepergian Victor begitu saja. Perlahan penglihatannya menggelap. kesadarannya menghilang, kegelapan menyambutnya.

XXX

"Jadi kau mau protes karena aku mendekati Yuuri akhir-akhir ini? yang benar saja Victor... kita sama sekali tidak memiliki hubungan yang terikat. Kita tidak lebih saling bergantung sama lain"

"...Aku risih melihatmu selalu bersamanya—"

"ooh.. jadi seorang Victor Nikiforov cemburu melihat crushnya bersama dengan seorang wanita" Mira tersenyum geli. Victor menatapnya dengan tidak suka.
"Aku tidak suka dengan dirinya"

"Tapi tadi kau—"

"Terserah kau sajalah tapi yang jelas aku tidak suka melihatnya bersama denganmu. Banyak orang bertanya-tanya tentang hubungan kita. Sumpah, aku risih mendengar pertanyaan mereka"

Mira yang masa bodo mengacuhkan perkataan Victor dan pergi begitu saja saat melihat Yuuri sedang berjalan-jalan dikantin. Victor memandang dari kejauhan. Yuuri mencoba menolak Mira lalu pergi secepat yang ia bisa— meninggalkannya dibelakang. Perempuan itu kembali ketempat semula lalu menatap Victor kesal.

"Kenapa kau harus berkelahi dengannya? Sebegitu bencinya dirimu dengannya?"

Ia mengangguk. Mira menghela nafas dan pergi meninggalkannya "Sungguh? Kau sangat kekanak-kanakan sekali Victor. Suatu hari nanti kau akan menyesali semua ini"

Tidak ada gunanya— Batinnya. Jika dia tidak mirip dengan mantanku dulu— mungkin aku tidak akan melakukan hal ini. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin sekali membunuhnya dan terus maju melangkah kedepan.

"Apa besok aku akan mulai mengeksekusi nya?"

Perasaan dendam dan benci meluap dihati membutakan matanya. Tapi rasa cinta dari surat yang dikirim oleh Q terasa seperti penyegar dalam hati. Meskipun ia tidak tahu siapa perempuan itu tapi ia yakin suatu saat nanti pasti bisa bertemu dengannya. Sebenarnya hari ini ia ingin membicarakan soal surat Q dengan Mira namun kejadian tadi membuatnya malas bercerita.
Selama ini keberadaanya tidak lebih sekedar hantu yang ia kejar-kejar. Namun pada hari itu ia menemukan sebuah petunjuk. Seorang laki-laki mengambil surat ditempat biasanya ia mnaruh balasan untuk Q. Bisa saja dia adalah Q itu sendiri atau bisa saja Q menyuruhnya untuk mengambilkan surat itu. sampai detik ini ia masih bersikukuh kalau Q adalah seorang perempuan dan laki-laki itu tidak lebih dari 'budak' miliknya. itu

XXX

Surat terakhir miliknya sudah berada dalam genggaman. Kini tinggal ia memberikan kepada Victor. Meskipun keraguan masih menyelimuti hati tapi hal ini harus ia lakukan apapun konsekuensinya. Untuk terakhir kalinya ia meminta Nino menyampaikan surat terakhir miliknya. Yuuri bisa saja memberikannya kepada Victor tapi mengingat kejadian beberapa hari lalu membuatnya enggan melakukannya sendiri.

Ia merasa kalau Victor sedang merencanakan sesuatu sehingga ia tidak bisa bergerak sebebas mungkin. Bahkan untuk mendekati Mira sekarang ini rasanya tidak mungkin. Victor pasti akan menghalanginya. Entah bagaimana caranya. Tapi Mira pasti akan mendekatinya meskipun Victor sudah melarangnya dan Yuuri menghindarinya. Mengurung diri dalam kamar mungkin adalah salah satu jalan keluar tapi jika dia menghindarinya maka sama saja ia tidak punya kesempatan untuk menghadapinya.

Kamar mandi tempat persembunyian favoritnya sudah tidak begitu berguna lagi. Berarti jalan satu-satunya adalah langsung pulang kerumah.

"Yuuri." Suara itu memanggilnya dari kejauhan. Tidak begitu kencang tapi cukup untuk meraih Yuuri sedang sendiri didalam perpustakaan yang sepi ini. Victor berdiri tidak jauh darinya. Tidak membawa tas atau apa. Dia sendirian, tidak bersama dengan geng anehnya. Tatapan dinginnya membuat Yuuri merinding.

"Apa yang bisa kubantu Victor?" Tanya Yuuri mencoba untuk tenang

"Tolong—"

Dan pada hari itu, kehidupan Yuuri berubah.

XXX

Dear Russian King, Victor Nikiforov.

Dalam suratku kali ini aku tidak akan memanggilmu sebagai pangeran, melainkan seorang raja agung yang kukagumi dan kuidamkan sejak lama.

Akan kukatakan terus terang dalam surat ini. Kuharap kau tidak tersinggung semenjak aku dianggap sebagai salah satu penasehatmu.

Dari dulu aku selalu beranggapan kalau dibalik sifat angkuhmu itu tersembunyi sedikit kebaikan meskipun kau tidak pernah tunjukan kesiapapun. Dan hanya orang terdekatmu saja yang bisa merasakan kebaikan milikmu ini. Dan tentunya semua orang yang menyukai dirimu mengharapkan hal itu. Tapi apa yang telah kau perbuat dengan anak itu benar-benar kejam rajaku. Apa yang membuatmu membenci dirinya? pahdal dia tidak pernah berbuat buruk kepadamu.

Kau tahu siapa dia itu.

Jika dia benar-benar mengganggumu, berterus teranglah meskipun kita terbatasi oleh rasa tidak enak dengan sesama. Kuyakin dia pasti akan menerimanya karena dia tidak lebih sekedar 'budak'

Aku tahu kau membenci nya tapi dia juga punya kehidupan seperti dirimu.
Jika dia mati, mungkin kau akan senang tapi keluarganya pasti akan terpukul. Dan aku yakin kau pasti mengharapkan kematiannya.

Dan hubungannya dengan Mira itu hanya sebatas teman. Jangan khawatir dia tidak akan menggantikan posisimu. Mira juga masih menyukaimu.

Maafkan aku, untuk kali ini aku berpihak kepadanya.

Dan didalam surat ini juga aku akan menyampaikan sesuatu. Sebenarnya aku enggan melakukannya tapi keadaanku yang terus memburuk membuatku harus melakukan hal ini.
Aku menyatakan mengundurkan diri dari bagian anggota kerajaanmu. Senang rasanya bisa menjadi salah satu bagian anggota kerajaan. Dan juga bisa bertukar surat sengan orang yang kukagumi walaupun tidak begitu lama.

Dirimu terlihat seperti malaikat jika sedang tersenyum. Kuharap kedepannya nanti aku masih bisa melihat senyuman itu meskipun dari jarak yang cukup jauh.

Surat ini adalah surat terakhir yang kukirimkan jadi kau tidak perlu repot-repot membalasnya lagi. Temanku yang sering kau lihat itu tidak akan mengirimimu surat dan sebaliknya. Dan dengan berakhirnya surat ini maka kita tidak akan saling terhubung lagi.

Terima kasih telah bersedia membalas suratku dari sekian banyak orang yang mengirim surat untukmu. Aku benar-benar tersanjung dan merasa sangat senang sekali. Aku akan mengenangnya.

Victor, kau tidak perlu mengejarku lagi karena aku akan pergi jauh— Jauh sekali sehingga kau tidak bisa mengejarku. Tapi bila seandainya kau berhasil mengejarku kuharapkau tidak menyesali pilihanmu.

Sampai disini surat dariku. Maaf bila ada kata yang menyinggung. Terima kasih banyak telah menemaniku. Kuharap suatu saat nanti kita bertemu.

Sampai jumpa, orang yang kusayang

Q.

P.S : Aku mengembalikan foto anjing milikmu. Aku tak pantas memilikinya.

Setelah membacanya, Victor hanya diam. Perasaannya bercampur aduk. Entah ia harus sedih atau kesal sekarang. Melipat kertas yang ia pegang kebentuk semula dan memasukkannya kembali keamplop.
Ia masih belum percaya kalau Q mengakhiri semuanya dengan mudahnya. Padahal masih banyak hal yang ia tanyai. Padahal ia masih ingin mencoba mendekatinya dan merubah status hubungannya menjadi sedikit lebih intim.

"...Seandainya kutahu siapa dirimu. Pasti aku sudah menghampirimu. Dan seandainya jika kau berterus terang kepadaku soal masalahmu mungkin— mungkin aku bisa membantumu."

Mood miliknya hari ini benar-benar hancur. Setelah menghajar Yuuri diperpustakaan hingga patah tulang hingga surat perpisahan oleh Q. Ingin sekali rasanya mengurung diri seharian dikamar dan tidak pernah keluar lagi untuk selama-lamanya. Menyesal adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini.

"Padahal masih banyak yang ingin kusampaikan... Jika aku masih punya kesempatan—"

XXX

"Dan begitulah kenapa aku bisa berada dirumah sakit untuk kedua kalinya. Maafkan aku karena telah membuat kalian khawatir kawan. Dan juga maafkan aku Nino karena selalu merepotkan dirimu. Tapi berkat dirimu juga rencanaku berhasil."

Yuuri terbaring diatas kasur. Dirinya sedang tersenyum kearah Pichit dan Nino. Yang berada disebelah kanannya. "Tenang saja mungkin dalam kurun waktu tiga hingga seminggu aku sudah bisa pulang. Patah tulangnya tidak begitu parah-parah sekali kok." Jelas Yuuri untuk memberi keyakinan kepada mereka berdua. Setelah mendapatkan keyakinan barulah Yuuri ditinggal sendiri dirumah sakit. Tak berselang lama kepergian mereka, Mira datang. Tidak sendiri melainkan bersama Victor. Terasa canggung namun kehadiran Mira menutupinya.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya

"Baik-baik saja. Terima kasih banyak karena telah mau menjengukku."

"Tidak apa-apa lagi pula aku ingin mengembalikan buku—"

"Ambil saja. Aku sudah berhenti mengreview buku lagi. Sebentar lagi aku akan pergi dan aku tidak bisa membawa semua bukuku jadi setelah kusembuh nanti akan kuberikan beberapa judul buku."

Mira menyadari apa yang dikatakan Yuuri tersentak. "Pergi kemana?"

"Kemana saja selama itu membuatku melupakan semua masalah ini."

"Yuuri jangan bercanda... kau bisa menghadapinya!" Yuuri menggeleng pelan dan tersenyum tipis.

"Maafkan aku..."

Victor diam membisu mendengar percakapan mereka. Entah Yuuri bermaksud menyinggungnya dengan berlindung dibelakang Mira atau memang kebetulan tapi yang jelas perkataannya membuat Victor teringat dengan Q. Dadanya terasa sesak. Ia menyadari sesuatu yang janggal dari ucapan Yuuri. Seperti didalam surat milik Q.

Jangan-jangan—

Ia masih ragu untuk mengakuinya. Tapi untuk membuktikan asumsinya ia harus bertanya kepada laki-laki sipembawa surat itu.

Besok aku aku akan menemuinya.