Yuri On Ice

Mitsuro Kubo

.

Apa yang menanti didepan sana?


"Baiklah kawanku, bisa kau jelaskan kenapa kau melakukan hal itu kepada Yuuri? Meskipun dia mirip dengan orang itu bukan berarti dia melakukan hal yang sama seperti dirinya." Mira memijat keningnya yang tidak pusing. Sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Victor ceritakan kepadanya. Victor diam tidak berani menjawab pertanyaanya. Sudah terlalu lelah dan menyesali perbuatannya.

"...Maafkan aku. Seharusnya aku tidak melakukannya. Aku hanya takut ditinggalkan oleh kalian seperti dulu. Dan sekarang, Q sudah meninggalkanku. Perempuan yang ingin sekali kutemui namun sebuah surat perpisahaan datang bersamaan dengan kejadian itu."

Mira menghela nafas. "Victor, kau harus meminta maaf kepada Yuuri bukan kepadaku. Masih baik dia tidak melaporkanmu kepolisi atau keluarganya. Lalu Q itu siapa?"

"Dia— Aku juga tidak tahu siapa dia namun yang jelas dia adalah orang pertama yang membuatku tertarik. Oh Mira aku ingin bertemu dengannya... meminta saran kepadannya."

Mira terdiam untuk waktu yang agak lama karena dirinya tidak mengetahui siapa itu Q. Victor sama sekali belum menceritakan apapun soal perempuan itu. Ia tidak tahu harus memberi saran apa kepada Victor tapi untuk sekarang ini ia meminta Victor untuk memaafkan dirinya sendiri karena perbuatannya.

"Ayo kita pulang Victor. Apa kau ingin menginap disini?"

Victor menggeleng dan tersenyum tipis. "Kau duluan saja, ada seseorang yang harus kutemui disini."

"Oh baiklah. Jaga dirimu Victor" Mira meninggalkannya sendiri diruang tunggu bangsal. Victor menghela nafas panjang dan berdoa semoga orang itu datang kemari hari ini sehingga ia tidak perlu harus datang setiap harinya menunggu diruang tunggu. Meskipun hari sudah malam tapi orang itu tidak kunjung datang. Victor menyerah kepada waktu dan akhirnya pulang kerumah. Mau tak mau ia harus datang keesokan harinya lagi. Tapi sebelum itu ia harus bersekolah terlebih dahulu sebelum mendatangi rumah sakit. Ia duduk ditempat yang sama sembari menunggu wujud laki-laki itu hingga akhirnya penantiannya hari ini tidaklah sia-sia.

Laki-laki yang ia cari-cari itu keluar dari bangsal. Dan langsung saja Victor bangun dan menghampirinya meskipun ia takut ditolak oleh dirinya.

"Kenapa kau datang kemari Victor? Bukannya kau sudah puas dengan apa yang telah kau perbuat kepada Yuuri?" ucapnya. Victor menarik nafas.

"Aku kesini bukan karena Yuuri melainkan karena Q. Kau adalah satu-satunya orang yang dekat dengannya—"

"Tapi maafkan aku yang mulia. Aku tidak bisa dengan semudah itu membocorkan rahasia miliknya. Soalnya aku sudah berjanji kepadanya untuk tidak membocorkan hal ini. Bagaimana kalau kita membahas hal ini di kafetaria saja. Aku ingin makan sandwich"

Victor menuruti ajakan pria itu. Dirinya sedikit merasa lega karena tidak dicampakkan begitu saja.

Mereka duduk disudut ruangan dikafetaria. Segelas kopi hangat didepan hadapan Victor. Mereka berdua sama sekali tidak memulai percakapan. Pria itu asyik dengan makanan miliknya sedangkan Victor tenggelam dalam lamunannya. Pria itu baru berbicara sehabis menghabiskan makanannya.

"Maaf membuatmu menunggu yang mulia. Apa yang bisa kubantu?"

"Berhenti memanggilku yang mulia. Lalu dimana Q sekarang? Apa yang terjadi dengannya?!"

Pria itu diam menatap Victor dengan kesal. "Kenapa kau ingin bertemu dengannya?"

"Karena ada yang harus kusampaikan sebelum semuanya terlambat dan juga aku ingin bertemu dengan—"

"kuyakin dia tidak ingin bertemu denganmu Victor" Balasnya ketus. "Q tidak akan mau menemui dirimu."

"Kenapa kau bisa seyakin itu?" Tanya Victor dan pria itu tersenyum.

"Karena aku adalah teman dekatnya. Bahkan aku tahu apa yang sedang dihadapinya saat ini. Kuyakin kau pasti penasaran sekali bukan, Victor?"

"Je-Jelaskan kepadaku!"

Pria itu menggeleng "Sayangnya kutak bisa menjelaskannya kepadamu. Dia menyuruhku untuk tutup mulut jika kau berhasil menemukanku. Maafkan aku, janji adalah janji. Tapi yang jelas jika dia sudah pergi ketempat yang jauh maka semua kebenaraan yang kau kejar itu akan terungkap."

"...Apa yang terjadi dengan Q?!"

"Maaf aku harus pergi. Semoga kau bisa memecahkan kasus ini Victor karena waktumu tidaklah banyak."

Pria itu meninggalkan Victor begitu saja. Ia mengepalkan tangannya kesal dan ingin sekali memukul meja namun ia harus menahan diri.

Esoknya ia mencoba menghubungkan semua benang merah dari perkataan Pria itu dengan surat milik Q. Dan juga menghubungkannya dengat ucapan Yuuri meskipun ia enggan mengakuinya. Membaca satu persatu surat milik Q untuk mencari kejanggalannya. Ia ingin bertemu lagi dengan pria itu tapi Victor yakin pasti dirinya akan dicampakkan. Pria itu terlalu loyal kepada Q sehingga ia susah untuk diajak kerja sama. Ia tidak tahu siapa lagi orang yang dekat dengan Q selain pria itu.

Tiba-tiba Mira muncul dibenakknya. Meskipun dia tidak memiliki hubungan dengan Q tapi ia punya sedikit informasi tentang Yuuri. Victor mencoba menghubungi Mira.

"Ada apa Victor?" Suaranya terdengar dari seberang. Merasa jengkel karena ditelpon ditengah-tengah kegiatan.

"Ini soal Yuuri. Apa saja yang kau ketahui soal Yuuri?"

"Yuuri?" kenapa tiba-tiba saja—"

"Cepat beritahu aku Mira"

"Baik-baik. Apa yang ingin kau ketahui tentangnya?"

"semuanya!"

"Dia seorang penyuka buku sepertiku. Buku favoritnya ada karya buatan Nuts, seperti dirimu. Kau tahu Butaone? Dia adalah orangnya. Karena ini rahasia tolong jangan diumbar. Sudah itu saja."

"Tidak ada lagi?"

"Kalau tak salah... dia sempat menanyai dirimu. Aku lupa dia bertanya soal apa. Memangnya ada apa?"

...

"Tidak ada apa-apa, terima kasih."

Percakapan ia akhiri. Dirinya memandang surat-surat itu dengan rasa tidak percaya. Orang yang selama ini ia anggap adalah seorang perempuan adalah seorang laki-laki yang selama ini ia bully. Pantas saja jika Q mengetahui bagaimana keadaan Yuuri begitu persis sekali meskipun ia sudah coba kurang-kurangi dalam suratnya. Dan pantas saja ia mengetahui gerak-gerik Victor. Sedari awal Q adalah hantu. Ia sering mengawasi dirinya dan tidak pernah terlihat oleh orang-orang karena dia sendiri adalah Yuuri Katsuki, seorang laki-laki aneh yang tak pernah dianggap ada.

Victor diam seribu bahasa. Kesadarannya larut dalam pemikiran dan imajinasi. Dirinya masih belum bisa menerima kenyataan. Rasanya ingin sekali memulai dari save point yang pada hari mereka sedang melakukan genjatan senjata. Matanya melirik secarik kertas surat terakhir yang dikirim olehnya.

Tidak menyesali pilihanmu— ya... Aku benar-benar seorang yang buruk ya, Yuuri...

XXX

Setelah berminggu-minggu tinggal dirumah sakit akhirnya hari ini Yuuri pulang. Meskipun sudah dinyatakan sembuh tapi untuk berjalan ia masih perlu dibantu dengan tongkat sehingga ia tidak bisa membawa benda berat untuk sementara. Namun untungnya Pichit datang untuk membantu membawa pakaiannya. Dan mulai esok pula ia akan kembali kuliah seperti biasa.

Isi rumah nya tidak banyak berubah hanya saja di penuhi oleh debu yang tidak mungkin bisa ia bersihkan saat ini.

Hujan turun ketika Pichit pergi meninggalkannya sendiri didalam rumah. Suara hujan yang khas dan juga aroma debu yang khas membuatnya tenang. Angin yang bertiup tidaklah begitu kencang sehingga ia bisa membuka pintu kaca yang menghubungkan balkon.

Yuuri tidak ingin mengingat-ingat masalahnya dengan Victor. Dia ingin menghindarinya dan melupakannya. Hatinya menjadi terasa berat jika teringat kejadian itu. Rasanya malas sekali untuk bertemu dengan orang itu secara langsung. Melihatnya saja sudah malas sekali rasanya apalagi jika harus bertatapan secara langsung.

Semua nya sudah tersampaikan dengan jelas kepadanya. Dan juga cepat atau lambat dia akan menyadari identitas lainku itu. Tapi kurasa dia sudah berhasil mengetahuinya karena kecerobohanku. Lalu jika saat itu tiba maka aku harus berhadapan dengannya lagi. Aku tidak ingin berhadapan dengannya. Kuingin cepat pergi dari sini. Dan lagi pula sebentar lagi aku akan di D.O karena tidak sanggup membayar. Lalu aku pulang kekampung halaman dengan rasa malu.

Apa perlu aku membebaskan diriku dari belenggu kesengsaraan ini sebelum hari itu tiba? Rasa sakit, kesedihan, kebahagian, rasa bersalah, tanggung jawab akan lenyap dan menghilang dalam hitungan detik saja.

Ia berdoa dalam hati semoga dirinya tidak bertemu dengan Victor saat kuliah nanti namun takdir berkata lain.

Esoknya ia berpapasan dengan Victor dan satu gengnya. Matanya saling bertatapan sehingga membuat Yuuri berdebar karena takut. Tidak hanya itu saat berada dikantin ia merasa kalau dirinya sedang diawasi dari jauh oleh laki-laki itu. Bahkandikelas pun ia harus merasakan intimidasi olehnya. Walaupun meja mereka beda beberapa baris entah kenapa ia merasa terintimidasi.
Pelajaran dimulai begitu profesor datang. Tapi sebelum itu ia membuat beberapa kelompok dengan masing-masing anggota terdiri dari dua orang.

"James dengan sam"

Nama yang ia sebut satu persatu itu seperti panggilan kematian baginya. Namun jika dewi keberuntungan berada dipihaknya maka ia tidak perlu khawatir dengan keadaan sekarang ini.

"Nina dengan Will. Victor dengan Yuuri."

Ya Tuhan cobaan apa lagi ini?!

XXX

Ketika yang lainnya sudah mulai bergerak hanya Victor dan Yuuri yang masih diam tidak mengerjakan tugas didepan mereka. Yuuri ingin mengerjakannya namun ia tidak punya ilmu untuk menjawabnya sedangkan Victor sendiri diam membaca soal— menghiraukan dirinya yang masih tidak jelas dengan lembar soal ditangan. Tapi ia tidak yakin Victor benar-benar mengerjakannya.
Situasi saat ini benar-benar awkward. Yuuri juga sudah mencoba mengajukan diri untuk mengganti pasangan namun profesor menolak dan berkata : "Katsuki Yuuri kau sudah ketinggalan banyak materi maka dari itu aku pasangkan kau dengan ahlinya. Kuharap kau mau mengerti karena ini demi kebaikanmu.". Perkataannya jadi bumerang baginya. Dan kini entah bagaimana caranya untuk keluar dari keadaan yang menyedihkan ini. Pada akhirnya Yuuri menyerah dan membiarkan Victor mengerjakannya sendiri. Lagipula ia tidak terlihat ingin membantunya mempelajari materi yang tertinggal.

Begitu lembar soal berhasil dijawab semua maka penderitaan nya selesai namun ia salah. Profesor malah memberikan tugas lagi. Dan harus dikumpul semester depan. Yang berarti Yuuri harus bersama dengan Victor sekitar dua bulan lebih.

Tenang Yuuri kau masih bisa melarikan diri. Masih ada Do didepan sana— batinnya meyakinkan diri. Akhirnya kelas dibubarkan. Yuuri beranjak bangun dan meninggalkan Victor yang duduk disebelahnya karena tugas kelompok barusan.
Masa bodo dengan tugas kelompok Yuuri sudah tidak mempedulikannya. Ia bisa mengerjakannya sendiri meskipun sama sekali tidak paham dengan materinya. Ia masih bisa bertanya kepada yang lain jika Victor tidak mau mengajarinya.

Ia langsung pulang kerumah. Menolak ajakan Mira untuk berkumpul dikafe. Ia sudah tidak punya uang lebih lagi karena itu ia harus menghematnya. Ia juga tidak bisa memesan taksi atau menaiki bis umum lagi. Makanya ia memilih untuk pulang dengan berjalan kaki.

"Yuuri" Ia menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya. "A-Apa kau mau belajar ditempatku? Ji-Jika kau mau—"

Sebuah kejadian langka. Victor mengajaknya untuk belajar padahal dari tadi ia diam saja dan mencampakan Yuuri seperti orang asing. Dirinya binggung apa harus menerima tawarannya atau bersikukuh dengan egonya. Dua-duanya sama-sama memiliki keuntungan tapi ia ragu. Seluruh perbuatan laki-laki itu masih belum bisa ia maafkan makanya ia tidak mau dengannya tapi disatu sisi ia harus mengejar ketertinggalan.
Tidak ada pilihan lagi.

"Ah... um.." balasnya ragu. Wajah ketakutan yang ia pasang berubah menjadi rasa lega begitu ajakannya diterima begitu saja.
Jika seandainya Yuuri memiliki banyak teman disini pastinya ia akan menolak tawaran Victor mentah-mentah.
Untuk kali ini saja ia menerima tawarannya.

Rumahnya ternyata sangat jauh dari dugaan Yuuri. Letaknya ditengah kota dan ingin sekali ia menangis karena semakin jauh jarak rumahnya. Padahal rencananya Yuuri ingin pulang dengan berjalan kaki tapi jika tahu seperti ini dia akan berpikir dua kali. Isi rumahnya hampir dipenuhi oleh minuman keras dan juga kaleng bir. Bahkan ia menyadari kondom bekas pakai ditempat sampah. Perasaannya tidak enak. Ia harus cepat-cepat pergi dari sini.

"Maaf tempatku berantakan. Aku belum sempat.. membersihkannya." Komentar Victor. Ia mengangkat beberapa kaleng botol yang ada diatas meja kopi. "Yuuri silahkan duduk. Aku mau kebelakang dulu."

Banyak perabotan berada ditempat tidak semestinya. Rumahnya tidak begitu rapih dan juga ia sedari tadi mencium bau tidak sedap. Gatal sekali rasanya ingin membuka jendela supaya udara segar masuk menggantikan bau tidak sedap. Untunglah Victor yang tanpa perlu diberitahu membukakan jendela. Percakapan mereka kali ini akan sangat awkward dan Yuuri tahu betul soal itu jadi ia memilih diam dan berbicara seperlunya. Victor datang dengan dua gelas ditangan. Pakaiannya berubah menjadi kaos bewarna hitam yang tidak begitu ketat. Ia memakai kacamata bingkai kotak kali ini. Mengambil tempat disebelah Yuuri lalu membuka laptop dan mengambil catatan yang diperlukan untuk mengajari Yuuri.

"...Siapkan bukumu."

Yuuri mengeluarkan binder serta pulpen. Walaupun kini ia sedang belajar tapi benaknya sedang berpikir cara keluar dari sini.
Mereka melakukan tutor hingga pukul 9 malam. Dan hingga tiba dimana saat Yuuri harus pulang. Entah bagaimana cara Yuuri pamit pulang tanpa perlu merepotkan Victor.
Ditengah ruangan yang redup ini mereka diam memikirkan langkah. Tidak ada yang mau memulai lebih awal. Menunggu diantara mereka yang bergerak lebih dulu baru menyusul dari belakang.
Victor berdehem. "Jadi... apa kau ingin pulang? aku akan mengantarmu."

"Tidak perlu repot, aku akan pulang sendiri. Terima kasih atas segalanya." Yuuri bangkit dari sofa. Kakinya masih terasa ngilu jika digerakkan sedikit saja. Tetapi ia mencoba menikmati sensasi sakit itu dan berjalan menuju pintu keluar dengan barang-barangnya.
Dengan sigap Victor mengikutinya dibelakang. Memakai jaket dan siap mengatar Yuuri kembali kerumah. Victor terus-terusan meminta Yuuri untuk mengantarnya pulang. Awalnya ia menolak namun lama kelamaan akhirnya ia menerima karena kesal mendengar suara meminta nya.

Radio berputar didalam mobil untuk menghidupkan suasana diantara mereka. Lampu merah diperempatan jalan menghentikan mobil Victor. Suasana pun terasa awkward.

Aku ingin keluar dari sini sekarang juga!— Batin Yuuri. Raut poker face nya menutupi keinginan tersebut. Ia berani bertaruh kalau wajahnya seperti orang-orang yang sedang cuek sehingga susah untuk didekati. Victor juga belum menunjukkan respon yang ia inginkan : apakah dia tau identitas lainnya atau tidak.

"Hei Yuuri, Kau adalah orang yang selama ini paling kucari itu ya?" ujarnya. Hatinya langsung berdetak kencang mendengar perkataan itu.

"...Apa maksudmu?"

"Kau... adalah Q. Orang yang sering mengirimiku surat itu kan?"

Yuuri menoleh keluar jendela. "Kenapa kau bisa beranggapan seperti itu?"

"Karena kau sendiri yang mengetahui kondisimu lebih detail dari pada orang lain. Dan juga surat terakhirnya sama persis dengan perkataan mu dulu dirumah sakit. Temanmu itu juga secara tersirat merujuk kepadamu."

Yuuri diam beberapa saat hingga mobil kembali berjalan melewati persimpangan. Dia sudah tau rupanya. Ia tidak akan pernah menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. Padahal ia beranggapan kalau Victor secara frontal memergokinya lalu dirinya akan marah dan mengaitkan semua yang terjadi dengan perlakuan yang Victor sering lakukan kepadannya.
Ini seperti anti-klimaks.

"...Kini kau menyesali semuanya karena kau telah menemukan identitasku sesungguhnya? Maafkan aku, aku bukanlah wanita seperti yang kau bayangkan"

Victor diam dan berfokus pada pemandangan didepannya. Begitu sampai apartement miliknya Yuuri turun perlahan-lahan dari mobil. Ia menapakkan kaki kirinya lalu bertumpu pada tongkat sebelum berjalan masuk kamarnya.
Tiba-tiba saja Victor memojokkan dirinya dengan mobil. Laki-laki itu memeluk erat Yuuri. Badannya bergetar hebat.

"Maafkan aku."


Dan setelah itu update akan sangat lama. :)