Join me
Genre : School life, Horror
Cast : Byun Baekhyun
Disclaimer : This story is mine
Rate : T
Warning : OOC, Typo(s), dan lainnya.
Summary : "Aku harus terus memainkannya."
.
.
.
.
.
Sebuah biola berwarna hitam dengan ukiran sayap cantik di belakangnya.
Baekhyun mencari tempat yang kiranya nyaman untuk dia duduk. Ia ingin mencoba menggeseknya.
Tangannya terulur memposisikan biola itu. Ia mulai memejamkan mata dan bersiap untuk menempelkan bow di deretan dawai biola tersebut.
'sret'
'tess tess'
"Aish!"
Baekhyun menghentikan permainannya ketika ujung jari tengahnya berdarah. Tergores dawai biola.
Ia menyesapnya perlahan.
Senyumnya kembali menyembang. Hanya sebuah luka kecil, tak akan berpengaruh banyak kan?
Baekhyun kembali menggeseknya.
Dua nada, lalu ia berhenti.
Merdu. Sangat merdu.
Belum pernah ia mendengar seseorang memainkan biola semerdu ini. Dan dia sendiri yang melakukannya.
Bukankah ini ajaib?
.
.
.
.
.
"YA! Bangunlah! Sedang apa kau disni?"
Baekhyun mengerjapkan matanya ketika merasakan seseorang mengguncangkan tubuhnya.
"Bangunlah."
"A-ah, maaf."
Baekhyun segera terduduk. Ia melihat sekelilingnya yang sangat asing baginya.
"Maaf, saya dimana sekarang?"
"Gudang sekolah. Apa yang kau lakukan disini?"
Seketika ia teringat sesuatu.
"Apa kau tak pulang semalam? Ini masih pukul 5 pagi."
Baekhyun melongo hebat. Ia bergegas berdiri lalu membungkuk meminta maaf kepada penjaga sekolah tadi. Tak lupa ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari gudang olahraga tersebut. Dengan biola hitam dan bow di tangan kanannya.
.
.
.
.
.
"Hebat sekali!"
Riuh tepuk tangan menggema di ruangan tersebut. Mengukirkan sebuah senyuman bangga di bibir Baekhyun.
Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Byun Baekhyun. Mendapatkan sebuah pengakuan dari orang lain.
Ia bisa bermain biola!
.
.
.
.
.
"Darimana kau belajar?"
"Kau tak mungkin menguasainya dalam waktu satu malam."
"Aku tau, dia menyembunyikan kemampuannya selama ini."
"Tapi untuk apa?"
"Molla."
.
.
.
.
.
Lebih dari lima kompetisi telah Baekhyun ikuti dan hasilnya ia selalu memenangkannya. Membawa piala dan medali untuk sekolah. Sebuah kebanggaan memang??
Semua ini berkat biolanya.
Setiap malam ia berlatih yang semakin bertambah jamnya setiap malamnya.
Namun entah mengapa, tubuhnya semakin hari semakin lemah. Wajahnya memucat setiap harinya. Bahkan dia sempat pingsan di kelas musik beberapa hari lalu.
"Sayang, kau baik-baik saja? Tak perlu berangkat ke sekolah jika badanmu kurang sehat. Kita bisa periksakan dirimu sekarang juga."
"Tidak mommy, guru Kim ingin melihat penampilanku hari ini."
"Tapi wajahmu pucat sayang."
"Tak apa mommy."
.
.
.
.
.
Kembali riuh tepuk tangan terdengar. Baekhyun turun dari atas panggung dengan perasaan bangga.
Sungguh, saat-saat seperti ini yang ia inginkan sejak dulu.
"Byun Baekhyun! Kerja bagus!"
Seorang temannya dari kelas drama menghampirinya dan mengajak Baekhyun melakukan salam sebagai ucapan selamat. Sungguh sebuah kebanggaan melihat sahabatmu tengah melakukan bakatnya diatas panggung dan mendapatkan pengakuan dari orang banyak, kan?
"Terimakasih, tapi aku harus pulang. Aku merasa kurang sehat hari ini."
"Ah, benar. Wajahmu sangat pucat. Mau kuantar?"
"Tak perlu. Aku membawa mobilku."
.
.
.
.
.
Malam itu, pukul 12 malam. Entah mengapa Baekhyun masih terjaga. Biasanya jika ia merasa sangat lelah, ia akan langsung tertidur. Tapi ada apa dengan hari ini?
Baekhyun kembali mencoba memejamkan matanya. Masih berusaha untuk meraih alam mimpi.
'Tap tap'
Keningnya menyerngit ketika merasakan dingin menyapa telinga kanannya.
Matanya terbuka perlahan. Seketika ia menegang.
"K-kau?"
Seorang anak kecil laki-laki yang ia temui sekitar lima bulan lalu di sekolah.
Benar, ia masih mengingat wajah itu.
Namun kenapa ini berbeda? Tak seperti saat terakhir yang ia lihat.
Tak ada senyum disana. Anak itu terlihat seperti... Marah.
"Apa yang kau lakukan disini? Siapa kau? Apa maumu?"
Anak itu masih terdiam. Ia hanya berbalik dan berjalan menuju biola hitam yang selama lima bulan ini menemaninya.
Hilang.
Anak itu seketika menghilang bagaikan ditelan angin.
Apa maksudnya?
'Tak'
'ssrreettt ssrreettt'
Biola itu terjatuh dari nakas. Terseret perlahan mendekat kearah Baekhyun.
Entah mendapatkan keberanian darimana, Baekhyun mengambil biola tersebut.
"Aku belum berlatih malam ini. Aku harus terus berlatih agar tetap bisa bermain biola dengan sempurna." Gumamnya.
Tangannya kembali terulur memposisikan biola itu dengan tangan kanannya yang sudah bersiap untuk menggesek.
Bermain.
Terus bermain biola hingga ia merasa dirinya sempurna.
Menit demi menit...
Jam demi jam...
Baekhyun sudah tak tau lagi sekarang pukul berapa.
Tubuhnya semakin lemah dan pucat. Namun ia bersikeras untuk menyelesaikan lagu yang entah kesekian kalinya.
Hingga pada nada terakhir, tangannya sudah tak dapat menopang alat musik itu lagi.
Ia terbaring. Terkulai lemas. Baekhyun merasa seketika tubuhnya mendingin.
'Ada apa denganku?' Batinnya berseru.
Matanya menatap biola itu sedih. Seketika ia tersadar.
Ada rembesan darah mengalir dari pori ujung jarinya.
Terus menetes.
Mengalir melewati dawai.
Kemudian meresap pada badan biola tersebut.
Lalu ia menyadaari sesuatu.
Namun itu adalah hal yang terlambat.
.
.
.
.
.
Seoul April 1999
Seorang laki-laki bernama Byun Baekhyun ditemukan tewas tanpa sebab yang jelas dikamarnya.
.
.
.
.
.
"Hyung, apa itu?"
"Biola. Aku dapat di tempat pembuangan sampah tadi pagi."
"Sepertinya sudah rusak."
"Masih bagus, hanya saja catnya sudah mengelupas."
"Ahh, apa bisa dijual?"
"Aku tak akan menjualnya. Aku ingin memilikinya. Kita bisa mendapatkan uang dengan biola ini."
"Uang? Apa kau akan membuat sebuah pertunjukan, hyung?"
"Sepertinya. Siapa tau aku bisa diundang di sebuah kafe mahal dan mendapat banyak uang."
"Ahh hyung kau hebat."
"Tentu saja. Jadi kau tak perlu bekerja paruh waktu lagi setelah sekolah untuk mendapatkan uang."
.
.
.
.
.
END
By Shin Chami (Ang)
Gantung kan?? Gantung aku bersama abang Kai
