Update kilat! Special untuk chapter ini word lebih dari 6k! Enjoy it!


Chapter 4

"Battle Naruto vs Rias Part 1"


Di ruang VIP tempat para Yondai Maou menonton jalannya pertandingan rating game terlihat mereka sudah duduk di kursi masing-masing. Layar lebar terpangpang jelas di depan mereka.

"Bagaimana menurutmu dengan pertandingan ini, Sirzech?" tanya Ajuka.

"Entahlah. Yang pasti kekuatan Rias dan para budaknya masih jauh di bawah kekuatan Naruto-kun. Aku tak dapat memprediksi siapa pemenangnya. Menang atau kalah akan ditentukan oleh rencana siapa yang paling matang." Jawab Sirzech.

Falbium mengangguk membenarkan perkataan rekannya. Jika dipikirkan lagi, dalam segi kekuatan jelas tim Naruto jauh lebih unggul dan sudah berpengalaman dalam rating game. Namun kekuatan tim Rias juga sudah meningkat cukup pesat dan telah berpengalaman dalam pertarungan nyata seperti bertarung melawan Jenderal Malaikat Jatuh Kokabiel dan Dewa Jahat Loki dari mitologi Norse.

Siapa yang memiliki rencana paling matang maka dialah pemenangnya.

"Tapi aku cukup kaget Rias-chan melakukan serangan kejutan seperti itu," kata Serafall setelah melihat markas Naruto dihancurkan dengan sangat mudah oleh laser merah tadi.

"Sepertinya adikmu sudah memiliki rencana yang matang, kan?"

"Bisa jadi seperti itu. 1 minggu terakhir ini dia selalu melamun seperti memikirkan sesuatu. Ini akan semakin menarik."


Di dimensi buatan tempat diselenggarakannya pertandingan pembuka rating game terlihat lintasan bekas laser tadi yang membentang dari ujung kanan ke ujung kiri. Sepanjang lintasan itu tak ada apapun selain kawah yang cukup dalam. Di sekitar lintasan itu pohon-pohon rusak dan tumbang.

"Yosh! Langkah pertama sukses! Mereka pasti sangat terkejut. Semoga saja ada yang gugur meski hanya 1 orang." Teriak seorang lelaki berseragam Kuoh Akademi yang memiliki rambut jabrik berwarna coklat. Di lengan kirinya terdapat sarung tangan naga yang tengahnya bersinar hijau. Dia adalah Hyodou Issei sang Sekiryuutei sekaligus pion dari Rias Gremory.

"Jangan senang dulu Ise. Lihat di depan sana!" kata Rias sambil menunjuk kepulan debu yang cukup tebal.

Issei melihat ke depan, memincingkan matanya agar dapat melihat lebih jelas. Samar-samar, Issei melihat siluet 6 tubuh yang melayang di atas udara. Tak salah lagi, mereka semua adalah musuhnya. Dan jumlahnya masih lengkap membuktikan bahwa serangan kejutan Issei tadi tak berdampak apapun.

"Cih! Ini akan jadi lebih sulit." Gerutunya dengan wajah kesal.

Normalnya Rias dan kawan-kawannya tak akan dapat melihat keberadaan musuh dari jarak 50 km di arena yang terdapat pepohonan lebat seperti ini. Tapi akibat teknik Issei yang bernama Dragon Shot mengakibatkan pepohonan lenyap di sekitar lintasan teknik itu membuat jalur pandang Rias dan yang lainnya terbuka. Meskipun jaraknya terbilang cukup jauh, namun bagi mereka yang notabennya iblis dapat melihat dengan jelas yang ada di depan sana karena panca indera iblis jauh lebih bagus daripada manusia.

"Yuuto, Xenovia! Kalian jalankan rencana yang sudah dibuat!" perintah sang King.

Yuuto Kiba dan Xenovia mengangguk. Mereka lalu bergerak cepat ke samping kanan dan kiri. Yuuto melesat ke arah kanan sedangkan Xenovia ke arah kiri. Mereka tidak terbang, namun berlari sangat cepat.

"Ise tingkatkan kekuatanmu seperti biasa. Jika sudah penuh maka cepat transferkan dengan teknik baru yang sudah kau pelajari."

"Ha'i Buchou!" jawab Issei mantap.

"Koneko dan Akeno. Kalian serang mereka dari arah depan! Sisanya Gesper dan Asia akan ikut denganku."

"Siap."

"Ha'i."

"Dan terakhir, Ise akan melaju ke depan dan melakukan promosi."

Akeno dan Koneko terbang menggunakan sayap iblis dan melaju cepat ke daerah musuh disusul Issei di belakang. Akeno dan Koneko juga mengambil peran sebagai pertahanan Issei agar dia bisa berpromosi tanpa ada hambatan.

Yang ada di sana tinggal Rias, Gesper, dan Asia.

"Ayo kalian berdua, ikuti aku." Ajak Rias yang diberi anggukan mantap dari kedua budaknya.

Beralih ke sisi tim Naruto. Terlihat mereka belum melakukan pergerakan apapun. Mereka hanya melayang di udara menggunakan sepasang sayap masing-masing.

"Ternyata sudah dimulai ya…," gumam Raynare, tersenyum tipis.

"Mereka melakukan pergerakan dengan cepat. Lihat di depan! Queen, Rook, dan Pawn Rias-ojousama mendatangi kita secara terang-terangan." Kata Walburga sambil menunjuk musuh yang ada di depannya.

"Tak salah lagi. Rias menginginkan pionnya untuk berpromosi. Itu hal yang mudah dibaca." Kata Naruto.

"Lalu? Bagaimana?" tanya Dohnaseek.

"Jelaslah. Lakukan sesuai rencana." Jawab Naruto datar namun sarat akan ketegasan.

Mereka semua mengangguk. Walburga dan Valerie melesat ke depan. Raynare dan Dohnaseek terbang ke arah samping kanan dan kiri. Sedangkan Kamakuri turun ke bawah dan berdiri tepat di depan markas mereka yang telah hancur lebur.

Naruto memutuskan untuk mundur ke belakang. Memasuki hutan yang tidak terkena dampak teknik Isse.

Sudah sekitar 30 km perjalanan yang ditempuh oleh Issei, Akeno, dan Koneko. Mereka semakin bisa melihat dengan jelas para musuh di depan.

Koneko yang terbang paling depan merasakan sesuatu mendekat ke arah mereka. "Ada yang mendekat! Jika dirasakan dari aura kekuatannya musuh berjumlah 2 orang."

"Baiklah. Aku dan Koneko akan menghadang mereka. Ise-kun jangan berhenti. Kamu harus melakukan promosi secepat mungkin!" Perintah Akeno.

"Baiklah Akeno-senpai."

Akeno mengangguk sambil tersenyum. Ia mempercepat laju terbangnya untuk menyamakan posisinya dengan Koneko. Musuh semakin terlihat mendekat.

Walburga dan Valerie menyiapkan tinju masing-masing. Setelah jarak antara mereka dengan Akeno dan Koneko dekat, keduanya langsung melayangkan tinju kekuatan penuh masing-masing. Walburga yang menyerang Akeno sedangkan Valerie menyerang Koneko.

Buahk! Buakh!

Akibat tinju itu, laju Koneko dan Akeno terhenti. Issei tak membantu temannya, ia melaju tanpa henti ke depan. Inilah rencana yang sudah disusun oleh ketuanya dengan matang. Issei harus berpromosi apapun yang terjadi. Ia adalah kartu AS kelompok tim Gremory.

"Kalahkan mereka berdua Akeno-senpai, Koneko-chan!" teriak Issei menyemangati kawan-kawannya.

Akeno dan Koneko tersenyum, lalu berkata bersama, "Ya. Serahkan yang di sini padaku!"

Issei tersenyum semangat melihat teman-temannya optimis dan tak ada keraguan di hati mereka. Ia terus melaju dengan cepat. Tujuannya tak lain adalah markas musuh. Wajah Issei yang semula tersenyum kini berubah drastis menjadi serius karena di hadapannya kini sudah berdiri seseorang yang dapat membuat tubuhnya gemetar ketakutan, Kamakuri Cracker.

"Sial! Sepertinya aku sudah ditakdirkan untuk melawannya, aku tak boleh lengah sedikit pun!" gumam Issei yang menyiapkan tinju sarung tangan naganya.

[Boost]

Beralih ke pertarungan antara Walburga dan Valerie melawan Akeno dan Koneko. Mereka berdua masih menahan serangan musuh. Koneko yang menahan tinju Valerie dengan mudahnya dan Akeno yang menyilangkan kedua tangannya untuk menahan tinju Walburga. Mereka saat ini sedang beradu kekuatan.

"Tinjumu tak akan bisa mengenaiku." Kata Koneko dengan nada datar seperti biasanya. Ia meremehkan Valerie.

"Begitukah? Maaf saja. Tinju ini bukan untuk menyerangmu, melainkan menahan tubuhmu." Balas Valeri dengan seringai tipis.

Jemari tangan Valeri yang lain bergerak-gerak. Sedetik kemudian Koneko kaget karena tubuhnya tak bisa digerakkan. Seperti ada sesuatu yang melilit tubuhnya membuat tangan yang tadi dipakai untuk menahan tinju Valerie sedikit demi sedikit terlepas.

"Cih. Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Koneko kesal.

"Tenang saja. Aku hanya akan membawamu ke tempat yang lain."

Benar saja. Valerie menyeret tubuh lawannya ke tempat yang jauh. Berniat melawan Koneko sendirian. Kejadian itu pun dialami oleh Akeno. Ia diseret oleh Walburga ke arah kebalikan dari arah yang dituju Valerie.

Saat sudah dirasa daerah yang dituju tak ada siapa pun Valerie dan Walburga menghantam tubuh lawannya ke bawah dengan keras mengakibatkan kawah kecil tercipta.

"Main-mainnya akan segera dimulai."


Issei melayangkan tinju pada Kamakuri dengan cepat namun dapat dihindari dengan mudah. Tidak berhenti sampai disitu, tangan kiri Kamakuri telah terangkat ke atas dengan benang-benang tajam yang muncul di jari-jarinya. Bersiap menyerang balik.

Goshikito

Syut!

Creck!

"Gh!"

Issei berhasil menahan serangan lawannya menggunakan tangan kiri yang terlapisi sarung naga. Tubuhnya terdorong ke belakang dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Terlihat sarung tangan naga Issei memiliki 5 luka gores dibagian depannya. Tanda bahwa benang Kamakuri memang benar-benar tajam.

"Sial! Sarung tangan Ddraig sampai tergores begini," Issei mendecih kesal.

"Nfufufuf… sarung tangan nagamu itu cukup kuat. Biasanya aku dapat memotong besi dengan mudah." Komen Kamakuri.

"Cih! Jangan berkata sombong! Aku akan mengalahkanmu dan melakukan promosi!" teriak Issei lantang.

"Ngahaha, silahkan saja jika bisa!"

[Boost]

Entah untuk yang keberapa kalinya kekuatan Issei digandakan dalam kurun waktu 10 detik. Issei berlari menyerang lawannya. Di sisi lain Kamakuri bersiap melancarkan serangan. Jari telunjuk kanannya telah teracung.

Tamaito

Dor dor dor!

Kamakuri menembakkan 3 peluru benang yang melesat cepat pada Issei.

Duar duar duar!

Issei berhasil menghindari seluruh peluru benang yang ditembakkan lawannya. Terlihat beberapa kawah kecil yang cukup dalam tercipta dampak dari serangan Kamakuri. Issei melihat semua itu dengan tatapan ngeri.

'Ada apa dengan kekuatan benangnya itu?' Batinnya bertanya-tanya.

"Refleksmu cukup bagus untuk ukuran seorang remaja yang baru-baru ini ikut campur dalam urusan dunia supranatural. Yah, mungkin itu hasil pertarungan nyatamu dengan beberapa nama besar." Puji Kamakuri sambil menyeringai.

"Heh, aku tak akan senang dipuji oleh orang sepertimu!"

Mendengar perkataan itu, muncul urat di kening Kamakuri. Dia marah. "Apa katamu? Kau bocah yang tak tau diri!"

Issei berlari cepat menuju Kamakuri. Tangan kiri yang dilapisi aura hijau siap untuk dihantamkan ke wajah lawannya. Setelah cukup dekat, dengan cepat Issei meninju.

"Rasakan ini!"

Tinjuan Issei berhasil dihindari oleh Kamakuri dengan mudah dengan cara bergerak cepat ke samping kiri. Kini gilirannya untuk menyerang balik. Kamakuri telah bersiap, tangan kanannya terkepal erat lalu dengan sekuat tenaga Kamakuri melayangkan tinju pada kepala Issei.

Tinjuan itu berhasil dihindari Issei dengan menunduk. Ia melihat celah yang mungkin dapat melukai lawannya. Ya, Issei berniat meninju dagu Kamakuri yang kekar itu. Dengan cepat tangan kanannya melesat ke atas.

Kamakuri tidak diam saja. Ia mengetahui niatan Issei yang mengincar dagu bawahnya. Kamakuri menghindari serangan itu dengan menggerakkan sedikit kepalanya ke belakang. Tak lama kemudian, Kamakuri menyeringai tipis karena memiliki celah yang besar untuk menyerang lawannya tanpa bisa dihindari.

Akibat dari tinjuan Issei yang hanya mengenai udara kosong, otomatis lengan kanannya bebas dan berada tepat di hadapan lawannya. Kamakuri dengan cepat mencengkram tangan Issei. Cengkramannya sangat kuat sampai Issei menggeram kesakitan.

"Gh!"

"Ada apa, bocah? Berniat melepaskan diri?" Ejek Kamakuri yang senang melihat wajah kesakitan dari lawannya.

"Gh! Sial! cepat lepaskan aku!" ronta Issei sambil melayangkan tinju menggunakan tangan lainnya. Namun yang dilihat Issei serangannya ditahan. Kini kedua lengannya berada dalam cengkraman Kamakuri.

"Nfufufu, dengan posisi seperti ini kau tak akan bisa menghindari serangan apapun."

"Sial!"

Kamakuri melayangkan tendangan kiri yang terlihat 5 benang panjang menempel di ujung kakinya.

Athlete

Duahk!

Tendangan Kamakuri itu telak mengenai perut lawannya. Issei memuntahkan darah segar yang cukup banyak. Kamakuri melepaskan cengkramannya membuat tubuh Issei terseret beberapa meter ke belakang.

Issei meronta sambil memegang perutnya yang mengeluarkan darah. Meskipun lukanya tak parah, tapi rasa sakit yang dideritanya cukup besar. Seperti ditusuk oleh ribuan jarum kecil bertubi-tubi. Sakitnya tak mau hilang.

"Cough! Sial! aku harus memikirkan cara untuk dapat melakukan promosi secepat mungkin." Gumamnya disela-sela rontaan kesakitan.

Issei kini ibaratnya seorang pion yang tinggal 1 langkah lagi menuju barisan paling belakang musuh. Jika dibayangkan dalam catur, posisi Issei kini berada di posisi tempat start para bidak pion musuh.


Sementara itu dengan Raynare. Terlihat dia sedang berhadapan dengan salah satu Knight dari tim Rias berkelamin perempuan yang memiliki rambut berwarna biru pendek serta terdapat rambut warna hijau di tengah poninya. Knight itu bernama Xenovia Quarta.

Baru beberapa menit yang lalu Raynare menemukan musuhnya sedang bergerak cepat namun dengan langkah hati-hati. Alhasil keduanya mau tak mau harus bertarung.

Xenovia yang sedang menggenggam erat pedang besar berwarna birunya yang bernama Durandal terlihat terengah-engah. Keringat mengucur cukup deras di pelipisnya.

"Hosh… hosh… hosh… sial! kemampuan yang dia miliki sangat merepotkan." Kesal Xenovia.

Raynare yang terbang menatap lawannya dengan pandangan angkuh. "Kau tak akan bisa mengalahkanku," sombongnya membuat Xenovia semakin geram.

"Apa kau bilang?! Cih! Kesabaranku sudah habis. Aku akan mengalahkanmu sekarang juga!" teriak Xenovia lantang.

"Hm. Sudah kubilang, kau tak akan bisa mengalahkanku. Itu karena… aku cantik."

Deg!

Entah apa yang terjadi pada Xenovia. Pandangan yang tadinya benci kini terpaku seperti sedang melihat makhluk terindah di bumi. Pipinya bersemu merah dan tubuhnya bergetar, sulit digerakkan. Namun detik berikutnya dia tersadar lalu menutup mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha untuk keluar dari pengaruh menakutkan Raynare.

'Sial aku terjebak lagi! Konsentrasi Xenovia! Kau harus tahan terhadap pesonanya!' batin Xenovia.

Raynare yang melihat musuhnya sedang bergejolak batin tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengeluarkan love berwarna merah mudah dari mulutnya dan ditembakkan. Total ada 5 tembakan yang dilakukan Raynare.

Pistol Kiss

Dor dor dor!

Xenovia sadar dari alam batinnya. Ia melihat 5 buah peluru love meluncur cepat ke arahnya. Itu serangan yang amat berbahaya! Xenovia menghindari serangan itu dengan mundur ke belakang. Untuk saat ini Xenovia selamat.

"Hm. Bagaimana dengan ini?"

Raynare kini mengeluarkan love berukuran besar dari mulutnya. Ia lalu menarik bagian tengah love itu. Posisinya saat ini seperti hendak memanah.

Slave Arrow

Syut!

Muncul puluhan panah love yang mengarah langsung ke Xenovia dari berbagai arah. Xenovia mengeraskan rahangnya. Ia saat ini sulit untuk menghindar karena jangkauan serang Raynare yang cukup luas.

"Cih! Serangan seperti itu tak ada apa-apanya!" teriak Xenovia sambil menghunuskan Durandal ke udara kosong.

Akibat gerakan mengayun pedang Xenovia, terciptalah serangan kejut yang mementalkan seluruh panah love Raynare. Tidak sampai disitu, serangan kejut udara yang berbentuk lapisan udara tipis dan tajam itu melaju cepat menuju Raynare. Namun ia menghindari itu dengan mudah.

Raynare turun ke permukaan tanah. Mensejajarkan dirinya dengan lawannya. Xenovia yang melihat itu langsung menyerang Raynare menggunakan jurus jarak jauh.

Xenovia kembali menghunuskan pedangnya. Kali ini ke permukaan tanah, menciptakan gelombang tajam yang mengarah sangat cepat ke Raynare.

Tak ada niatan untuk menghindar atau bertahan, Raynare malah menciptakan 2 buah tombak cahaya berwarna merah lalu mengadukannya dengan serangan Xenovia.

Duarr!

Akibat kedua jurus yang saling bertabrakan itu menciptakan kepulan debu yang cukup tebal. Pandangan mereka jadi terhalangi dan tak bisa melihat masing-masing lawannya.

'Dimana dia?' batin Xenovia sambil memutar pandangannya, mencari dimana keberadaan lawannya.

Tanpa diduga, 2 buah tombak cahaya melesat cepat menuju kaki Xenovia dari arah belakang. Xenovia yang tak menyadari serangan itu terpaska merasakan kesakitan yang amat sakit di kedua kakinya. Ia tertunduk di tanah, tak bisa berdiri tegak karena kedua kakinya yang serasa lumpuh. Ya, tombak cahaya itu mengarah tepat ke lutut Xenovia.

"Dengan ini berakhirlah!" teriak lantang Raynare yang terbang di atas Xenovia. Ia lalu melesat ke bawah dan menendang Xenovia dengan sangat keras.

Parfume Femur

Duakh!

Akibat tendangan keras yang dilapisi kekuatan buah iblis itu perlahan-lahan tubuh Xenovia menjadi batu.

Tubuh Xenovia ditransfer ke luar arena pertandingan saat setelah tubuhnya menjadi batu sempurna.

"Knight Xenovia Quarta dari tim Rias Gremory telah gugur."

Suara pengumuman dari sang wasit dalam pertandingan kali ini.

"Hm. Ternyara rating game hanya permainan kecil," komen Raynare lalu menciptakan sihir komunikasi. "Naruto-sama, rencana berjalan lancar."


Disaat yang bersamaan. Dohnaseek terlihat sedang menghadang Yuuto Kiba.

Dohnaseek menciptakan barrier berwarna hijau transparan yang mengelilingi tubuhnya sebagai pertahanan. Sementara itu dengan Kiba, ia terlihat kelelahan karena usahanya selama ini tidak membuahkan hasil.

Kiba terus berusaha untuk menghancurkan barrier lawannya sekuat tenaga. Namun mau sampai berapa kalipun mencoba hasilnya tetap sama. Gagal! Sudah tak terhitung lagi berapa ratus kali kiba menyayatkan pedangnya berharap agar penghalang itu hancur. Namun sampai sekarang tak berhasil. Bahkan sedikit goresan pun tak ada."

"Sial! penghalang itu benar-benar merepotkan." Gerutu sang pria cantik berambut pirang itu.

Menyerang dari depan, belakang, kanan, dan kiri tak ada hasil. Dari atas pun sama, tak ada celah untuk menyerang atau masuk ke dalam barrier itu.

"Atau…"

Kiba menyipitkan mata. Melihat sebuah celah yang tak dilindungi oleh barrier hijau merepotkan itu. Secercah harapan muncul. Kiba tersenyum optimis.

Kiba lalu menancabkan pedangnya ke tanah.

Sword Birth

Muncul lambang clan Gremory cukup besar di bawah kaki Dohnaseek. Ia memiliki firasat buruk tentang ini. Tanpa buang waktu Dohnaseek lalu terbang ke atas untuk menghindari serangan lawannya. Benar saja. Muncul puluhan pedang dari bawah tanah. Untuk saja Dohnaseek berhasil menghindar di waktu yang tepat. Barrier-nya kini ia hilangkan lalu menciptakan Light Spear berwarna biru. Dohnaseek melempar tombak cahaya itu.

Kiba dengan mudah menghindar. Ia menghilang entah kemana. Gerakannya sangat cepat sehingga sulit untuk diikuti oleh Dohnaseek. Secara tiba-tiba Kiba muncul di belakang lawannya. Dohnaseek menyadari itu, dengan cepat ia membuat barrier.

Trank!

Sebuah hunusan pedang dapat ditahan dengan mudah. Kiba terlihat masih berusaha untuk menekan pedangnya berharap agar barrier itu hancur. Dohnaseek yang melihat kesempatan menyerang tersenyum tipis.

Barrier Block

Dohnaseek mengurung Kiba menggunakan barrier-nya yang ia buat menjadi bentuk bulat. Kiba tak sempat menghindar karena Dohnaseek mengubah bentuk barrier-nya dengan cepat. Kini Kiba terkurung dalam penghalang hijau transparan dan tak bisa kemana-mana.

Teknik ini adalah kebalikan dari teknik-teknik yang lainnya. Jika teknik biasa berfungsi untuk bertahan dari serangan dengan pengguna yang dikelilingi oleh barrier, teknik ini jutru kebalikannya. Teknik ini bertujuan untuk mengurung lawan hingga tak dapat bebas.

"Sial! keluarkan aku dari sini!" teriak Kiba sambil menyayat-nyayat barrier yang mengurungnya. Namun tak membuahkan hasil.

Dohnaseek tersenyum lebar. "Baiklah kalau itu maumu."

Dohnaseek membuat barrier yang mengurung Kiba mengecil, membuat pergerakan Kiba semakin terbatas. Barrier itu perlahan-lahan mengecil sampai Kiba menjerit kesakitan karena saking sempitnya penghalang itu. Tulangnya serasa remuk semua.

Dohnaseek tak menghentikan aksinya. Ia terus saja melakukan pengecilan sampai akhirnya Kiba ditransfer ke luar arena pertandingan karena sudah tidak mungkin melanjutkan pertarungan lagi.

Dohnaseek menghilangkan barrier-nya.

"Knight Yuuto Kiba dari tim Rias Gremory telah gugur."

Suara yang menggema itu mengakibatkan 1 tim terkejut. Disaat yang bersamaan tim lainnya tersenyum senang.


Koneko terkejut mendengar 2 temannya telah gugur. Ini menjadi semakin sulit. Keadaannya di sini juga kurang baik. Luka-luka lebam terlihat di wajahnya dan luka sayatan di kedua lengannya. Hal yang sama pun terjadi pada diri Valerie. Mungkin bukan sama, tapi lebih parah. Di sekujur tubuh Valerie banyak luka lebam. Nafasnya terengal-engal.

"Memang sulit menghadapi musuh pengguna Senjutsu. Apalagi bidak Rook yang memiliki pertahanan gila." Komen Valerie sambil menyeringai. Seringaian itu tak pernah lepas sejak pertama kali melayangkan tinjunya pada Koneko.

"Kau berbeda dari yang sebelumnya." Kata Koneko. 'Ini tak masuk akal. Kekuatan yang dimilikinya benar-benar berbeda dari yang aku lihat di video pertandingannya dulu. Ada apa ini?' Batinnya kebingungan.

Pusing memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, Koneko memutuskan untuk menyerang Valerie dengan bola yang berenergi senjutsu di dalamnya. Bola berwarna biru yang dilemparkan Koneko berjumlah 3 buah. Koneko saat ini dalam mode senjutsunya. Bisa dilihat dari sepasang kuping kucing yang tumbuh di kepalanya dan ekor di punggungnya.

Syut syut syut!

Bola-bola biru itu melesat cepat. Valerie yang tak mau kalah, ia juga bersiap melancarkan serangannya. Telunjuk kanannya ia acungkan ke depan.

Tamaito

Dor dor dor!

3 buah peluru benang melesat cepat hendak diadu dengan bola-bola biru Koneko.

Duar!

Ledakan cukup besar terjadi. Kepulan debu tercipta mengeliling Valerie dan Koneko. Jarak pandangan Valerie mengurang. Ia tak bisa melihat musuhnya.

'Sial aku tak dapat melihat dengan jelas. Kalau begini terus aku akan menjadi target empuknya.' Batin Valerie lalu terbang ke atas dengan sepasang sayap iblisnya.

Hal yang tak diduga terjadi. Koneko sudah bersiap di atas Valerie dengan tinju berlapis senjutsu miliknya. Jika kena maka dapat dipastikan akan kalah. Perpaduan antara energi senjutsu dengan kekuatan tinju seorang bidak benteng pastilah sangat menakutkan.

Koneko melesat cepat ke Valerie yang berada tepat di bawahnya. Valerie yang menyadari itu tak berniat menghindar. Dia mengarahkan tangan kanannya ke depan.

Fulbright

Valerie menciptakan 5 benang yang dilesatkan ke atas. Benang itu tak mengarah pada Koneko. Namun saat sampai di atas, benang itu kembali ke bawah dengan sangat cepat. Jangkauan serang benangnya pun semakin lebar membuat kaki dan tangan Koneko terkena. Beruntung karena serangan Valerie tak sampai terkena bagian vital. Berterimakasih lah pada insting senjutsu Koneko.

Valerie yang melihat serangannya gagal menggeram. Sudah terlambat baginya untuk menghindar.

"Dengan ini berakhirlah!"

Duakh!

Sekuat tenaga Koneko meninju wajah Valerie, membuatnya terpental ke bawah dengan sangat keras. Kawah cukup dalam tercipta, membuktikan seberapa besar kekuatan yang dimiliki Koneko.

Koneko menonaktifkan mode senjutsunya. Ia turun ke bawah untuk melihat kondisi lawannya. Kepulan debu cukup tebal sehingga memaksa Koneko untuk sedikit bersabar. 1 menit kemudian kepulan debu mulai tipis. Samar-samar Koneko dapat melihat siluet seseorang yang tubuhnya seperti sudah putus-putus. Sampai akhirnya Koneko terbelalak kaget melihat kondisi lawannya tadi.

"Apa ini?"


Tap tap tap…

Disuatu tempat arena petandingan, terlihat Rias bersama dengan Asia sedang berjalan mengendap-endap. Seperti tidak mau ada seorang pun mengetahui keberadannya. Langkahnya cepat namun tak bersuara.

"Sebentar lagi kita akan sampai," bisik Rias pada Asia yang berada di belakangnya.

Asia hanya mengangguk mengerti. "Tapi, apakah rencana kita akan berhasil? Kiba-san dan Xenovia-san sudah gugur." Khawatir Asia.

"Rencana kita memang sudah gagal dan tak akan berhasil jika dilanjutkan. Namun aku sudah memiliki rencana cadangan, tenang saja Asia. Aku pasti akan memenangkan rating game pertamaku ini." jawab Rias dengan sungguh-sungguh membuat Asia tersenyum.

Keduanya terus bergerak cepat tanpa suara. Sampai mereka berdua harus terhenti akibat mendengar suara seseroang. Suara yang sudah tak asing lagi bagi Rias.

"Hebat, kau berhasil masuk ke daerahku,"

"Tunjukkan dirimu! Aku tahu itu kau Naruto!" teriak Rias sambil mengedarkan pandangan. Mencari keberadaan lawannya.

"Lihat kemana kau? Aku ada di sini."

Rias kaget lalu melihat ke atas. Benar dugaan dirinya. Naruto akan muncul menghadangnya. Ia kini sedang duduk di atas salah satu dahan pohon dengan pose santai, seakan tak sedang dalam medan pertarungan. Hal itu membuat Rias kesal.

"Naruto! Aku tak akan kalah olehmu!" kata Rias optimis.

"Benarkah? Aku ragu akan hal itu." kata Naruto sambil melompat turun dari pohon dan menghadap Rias. Jarak mereka kini sekitar 10 meter. "Dengar baik-baik Rias, sejak awal dimulainya pertandingan ini, kau sudah kalah." Lanjutnya sambil menunjuk diri Rias.

"Apa maksudmu? Jangan berbicara seenaknya!" emosi Rias terpancing.

"Tidak. Aku tak asal bicara. Ini adalah kenyataan Rias,"

"Jangan senang dulu karena kau telah mengalahkan 2 bidakku. Jumlah bidak yang gugur tak berbengaruh. Jika aku dapat mengalahkanmu maka otomatis aku akan menang walaupun seluruh bidakmu masih ada."

"Bukan itu maksudku. Aku tak peduli seberapa banyak bidak yang telah dikalahkan oleh peerage-ku. Aku hanya mengatakan, sejak dimulainya pertandingan ini kau sudah kalah. Lebih tepatnya sejak pionmu memberi serangan kejutan."

Rias tak paham dengan ucapan sepupunya. Ah ia juga tak mau mempedulikan itu. Bisa saja ini hanyalah trik Naruto untuk memancing emosinya. Ya, Rias yakin dengan hal itu.

"Asia, bersembunyilah dibalik pohon itu." Kata Rias sambil menunjukkan pohon yang ia maksud. Pohon itu berada di belakang mereka.

"Ha'i Buchou."

Asia bersembunyi dibalik pohon yang dimaksud ketuanya. Rias yang telah melihat Asia bersembunyi lantas memulai serangan pertamanya. Ia membuat Power of Destruction lumayan banyak lalu ditembakkan pada Naruto.

"Terima ini!"

Naruto yang melihat gumpalan energi padat berwarna hitam merah itu tak diam saja. Naruto menghindar dengan cara melompat ke atas. Serangan yang Rias tembakkan hanya mengenai pepohonan di belakang Naruto, mengakibatkan pohon-pohon itu lenyap tak tersisa. Seperti namanya, kekuatan untuk menghancurkan!

Rias yang melihat Naruto kaget. Bukan, bukan kaget karena berhasil menghindari serangannya, Rias kaget karena Naruto dapat melayang di udara tanpa mengeluarkan sayap. Ini aneh! Seharusnya yang dapat terbang tanpa menggunakan sayap hanyalah iblis kelas Super Devil dan Ultimate Devil. Naruto yang notabennya hanya iblis kelas High Devil tak mungkin dapat melakukan itu. Butuh latihan konsentrasi yang keras.

Naruto yang paham akan kekagetan Rias tersenyum. "Ini bukan seperti yang kau pikirkan, yah meskipun teknik aslinya harus menggunakan awan. Tapi dalam kasus ini aku menggunakan pohon."

Penjelasan dari Naruto membuat Rias semakin bingung. Ah ia sama sekali tak paham. Memikirkannya terus hanya membuat kepalanya pusing. Lebih baik Rias segera mengalahkan Naruto dan memenangkan pertandingan ini.

Rias merentangkan kedua tangannya ke depan, muncul 2 lingkaran sihir berwarna merah yang menembakkan laser Power of Destruction.

"Hn. Serangan langsung seperti itu tak akan pernah mengenaiku." Remeh Naruto sambil menghindari serangan lawannya.

Rias kembali kesal karena Naruto berhasil selamat. Tiba-tiba ia kaget melihat Naruto yang menghilang dengan cepat.

'Kemana perginya?'

Sring!

Rias membulatkan mata menyadari Naruto muncul di belakangnya. Refleks Rias menengok ke belakang dan benar saja, ia melihat Naruto yang tengah menyeringai sambil melayangkan tangan kanan yang di jari-jarinya terdapat benang berbeda warna. Ini gawat! Posisinya sangat dekat sehingga mustahil untuk membuat pertahanan maupun menghindar.

Goshikito

Crash!


Sudah 1 jam lebih pertandingan ini berjalan. Pertandingan yang cukup lama terbukti dengan Akeno dan Walburga yang terlihat sedang berhadapan dengan nafas memburu. Keduanya kelelahan. Pakaiannya pun compang-camping. Terdapat beberapa luka sayat pada diri Akeno dan luka bakar pada Walburga seperti sudah tersambar petir.

"Kekuatanmu sangat berbeda. Kau seperti memiliki kekuatan yang sama seperti rekanmu." Kata Akeno.

Walburga tak membalas ucapan lawannya. Dia diam saja membuat Akeno sedikit geram dan memutuskan untuk menyerang kembali. Akeno adalah tipe petarung jarak jauh dengan menggunakan sihir. Ada beberapa elemen yang ia kuasai, seperti sihir petir dan es.

Akeno membuat lingkaran sihir, dari situ muncul badai es yang membuat kawasan pertarungannya menjadi dingin. Pohon-pohon yang berada di sekitar mereka terlihat mulai membeku. Hal itu terjadi juga pada tubuh Walburga. Lama kelamaan tubuhnya tak dapat digerakkan.

"Jika begini terus aku akan kalah." Gumam Walburga lalu secepat mungkin melesat menuju posisi lawannya dengan benang yang keluar dari jari-jari tangannya.

Namun Walburga terlambat. Tubuhnya sudah beku. Tak dapat digerakkan. Akeno selamat dari serangan cepat Walburga. Di hadapannya kini terlihat tangan yang hendak menyerang dirinya. Sedikit saja terlambat maka Akeno akan kalah.

"Hosh… hosh… hosh… tinggal serangan penutup." Gumam Akeno lalu mengambil jarak.

Tangan kanannya direntangkan ke atas. Seketika muncul lingkaran sihir bersar berwarna kuning. Petir kuning berukuran besar muncul dari sana.

"Berbunyilah dengan keras,"

Lightning

Petir kuning berukuran besar itu meluncur ke atas. Beberapa saat kemudian petir itu melesat lagi ke bawah dengan kecepatan 2 kali lipat menuju tubuh Walburga yang membeku.

Duar!

Suara ledakan terdengar cukup keras. Tercipta kawah yang dalam akibat serangan Akeno yang menghabiskan sisa energinya. Siapa pun yang terkena serangan seperti itu maka dapat dipastikan tubuhnya akan hancur lebur. Hal itu dibenarkan oleh Akeno yang melihat tubuh Walburga hancur lebur. Namun ada sesuatu yang memaksa matanya membulat kaget.

"Terbuat dari apa… tubuhnya itu?"


"Sial! kalau begini terus aku akan kalah!" gerutu Issei melihat lawannya berdiri dengan beberapa luka dibagian perut.

Issei berhasil melayangkan beberapa serangan membuat tubuh Kamakuri sedikit babak belur. Berbeda jauh dengan Issei yang mendapatkan luka diseluruh bagian tubuhnya. Bermacam-macam strategi telah Issei lakukan untuk mengalahkan Kamakuri. Namun hasil yang ia dapat hanya sedikit. Berbeda jauh dengan yang ia harapkan. Sosok yang kini dilawan oleh Issei adalah sosok yang penuh dengan pengalaman bertarung. Maklum saja kalau Issei kesulitan mengalahkan Kamakuri. Pengalaman bertarung mereka berbeda level. Menyadarkan mereka bahwa kekuatan besar saja tak cukup untuk menang dalam sebuah pertarungan.

Issei kembali memutar otaknya. Memikirkan cara untuk mengalahkan Kamakuri hanya sia-sia. Ia harus mencari strategi yang tepat untuk mengecoh Kamakuri. Lama berfikir membuat Issei tak fokus sampai dirinya tak sadar bahwa Kamakuri sudah berada di hadapannya sekarang sambil melayangkan tinju.

Buakh!

Issei terseret beberapa meter. Mulutnya mengeluarkan darah. "Gh! Dia tak memberiku kesempatan sedikit pun."

"Aku memiliki rencana yang cukup bagus, partner." Kata Ddraig yang merupakan naga merah perwujudan asli dari sacred gear Issei.

'Apa rencanamu itu?' Tanya Issei di alam bawah sadarnya.

Ddraig lalu mengatakan dengan rinci rencananya. Setelah mendengar seluruh rencana Ddraig Issei tersenyum. Mungkin rencana dari partner-nya harus dicoba meskipun belum pasti akan berhasil.

Issei bangkit berdiri lalu menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya menggunakan tangan. Ia lalu membentangkan sepasang sayapnya dan terbang menuju atas musuhnya. Kamakuri yang melihat Issei berada tepat di atasnya hanya menyeringai tipis.

"Sekarang apalagi rencanamu, bocah? Jika kau hanya menyerang langsung itu akan sia-sia saja."

"Ya aku juga tahu itu," balas Issei lalu merentangkan tangan kirinya.

Issei membuat bola sihir yang padat akan energi berwarna merah. Setelah itu ia tembakkan pada Kamakuri. Teknik Issei yang ini sudah tak asing lagi.

Dragon Shot

"Seberapa besarnya kekuatanmu itu… tak akan berpengaruh!"

Kamakuri berhasil menghindari tembakan Issei. Jurus Issei yang dengan mudahnya menghancurkan markas mereka hanya mengenai tanah kosong. Dragon Shot Issei menciptakan kawah yang sangat dalam. Kepulan debu tebal pun menyelimuti Kamakuri membuat pandangannya terbatas.

"Yosh! Ini kesempatan!" kata Issei lalu melesat cepat menuju markas musuhnya untuk melakukan promosi. Issei bergerak sangat cepat karena tahu kalau Kamakuri akan segera menyadari rencananya.

Kamakuri yang pandangannya terhalang pun menyadari rencana Issei. Ia sangat kesal karena dapat dikecoh dengan mudah oleh seorang bocah. Dengan cepat Kamakuri juga pergi menuju markasnya yang terletak tak jauh dari tempat pertarungannya.

Hal yang dilihat Kamakuri adalah Issei yang berdiri tegak di atas puing-puing markasnya. Pergerakkan Kamakuri berhenti. Urat-urat muncul di keningnya tanda ia sedang sangat marah.

"BOCAH KURANG AJAR!"

"Dengan begini… promosi Queen!" teriak Issei lantang.

Kini dirinya menjadi sekuat Queen. Tak mau membuang waktu Issei lalu mengeluarkan teknik lainnya.

Welsh Dragon Balance Breaker

Seluruh tubuh Issei kini diselimuti armor naga berwarna merah. Dipunggungnya juga terdapat sepasang sayap putih dan ekor naga yang panjang. Mungkin dengan mode ini Issei dapat mengalahkan Kamakuri.

"Bersiaplah kau! Aku akan memenggal kepalamu dengan tinjuku ini!" teriak Issei yang tangan kanannya diselimuti oleh aura berwarna hijau pekat. Ia melesat cepat menuju Kamakuri.

"Bocah sialan! Kau pikir dapat memenggal kepalaku semudah itu, hah!" kata Kamakuri yang melesat dengan 5 benang tajam berada di tangan kanannya.

Jarak mereka sudah dekat. Kamakuri menyerang Issei duluan namun dapat dihindarinya dengan mudah. Issei melayangkan tinju keras pada Kamakuri yang tak bisa menghindari. Kamakuri terkena tinju Issei dengan telak tepat di wajahnya.

Buakh!

Tinjuan Issei membuat tubuh Kamakuri terseret sangat jauh ke belakang. Menabrak beberapa pohon sampai akhirnya ia berhenti dengan tubuh tergeletak tak berdaya.

Issei yang berada di sebrang sana sangat yakin tinju full power-nya itu dapat membuat Kamakuri kalah. Namun waktu berjalan tidak ada pengumuman kekalahan Kamakuri yang terdengar. Ini aneh. Apakah serangannya belum cukup untuk mengalahkan Kamakuri? Dengan penasaran Issei mencoba mendekati Kamakuri yang 2 km berada di depannya.


Sudah hampir 2 jam berlalu. Rias yang menghadapi Naruto terlihat kewalahan. Rias mengalami kerugian karena harus bertarung dengan petarung jarak dekat seperti Naruto. berbeda dengan Rias yang petarung tipe jarak jauh dengan mengandalkan kekuatan Power of Destruction. Tubuhnya penuh luka sayatan dimana-mana namun sedang disembuhkan oleh Asia dari jarak jauh. Asia sudah bisa menguasai teknik penyembuhan jarak jauh sehingga tidak perlu mendekatkan dirinya untuk penyembuhan. Berbanding terbalik dengan Naruto yang tak mengalami luka sedikit pun. Sekarang mereka sedang berhadapan sambil melayang di udara.

"Aku telah lama mengamati bagaimana jurusmu bekerja. Tapi baru kali ini aku melihat kau menggunakan jurus yang sama seperti Kamakuri." Kata Rias sambil memegang lengan kirinya yang mengeluarkan banyak darah. Pakaiannya robek-robek.

"Nfufufu, kan sudah kubilang sejak awal kau sudah kalah. Aku hanya bermain-main denganmu saja." Kata Naruto menyeringai sadis.

"Bermain-main katamu? Jangan bercanda! seluruh temanku berjuang mati-matian agar dapat menang. Dan kau… kau hanya menganggap ini sebuah permainan?" Marah Rias. "Dengar! Aku tak akan mempedulikan semua perkataanmu. Aku akan mengalahkanmu sekarang lalu keluar sebagai pemenangnya!"

"Itu juga kalau… kau bisa mengalahkanku!" teriak Naruto lalu melesat cepat menuju lawannya.

Rias tak melakukan apa-apa. Ia hanya diam saja menunggu Naruto datang. Jarak Naruto sudah dekat, Naruto lalu melayangkan tinju pada lawannya. Rias yang melihat itu hanya tersenyum tipis.

'Sekarang Gasper!'

Deg!

Tubuh Naruto seketika terhenti. Tepat saat tinjunya hampir mengenai Rias 2 cm lagi. Momen inilah yang ditunggu Rias selama ini. Menghentikan pergerakan Naruto dengan bantuan Gasper saat hendak menyerangnya. Rias sekarang dapat melakukan apapun pada Naruto yang telah dihentikan waktunya oleh Gasper di suatu tempat.

Gasper dulunya adalah vampir setengah manusia yang memiliki sacred gear Forbidden Balor View. Kekuatan sacred gear itu dapat menghentikan waktu. Sekarang Gasper menjadi bagian dari peerage Rias.

"Kerja bagus Gasper. Sekarang aku akan mengalahkan Naruto." Kata Rias yang ngacungkan jari telunjuknya tepat di kening Naruto. Aura hijau penyembuhan yang menyelimuti luka-lukanya menghilang entah kenapa. Mungkin Asia kelelahan.

Rias membuat lingkaran sihir kecil di depan jari telunjuknya. Seketika keluar laser berwarna hitam kemerahan yang langsung menembus kening Naruto. Disaat yang sama juga Gasper menonaktifkan kekuatannya membuat tubuh Naruto terpental ke belakang dan jatuh ke bawah.

Rias tersenyum senang. Usaha dan rencananya membuahkan hasil. Tapi ada yang aneh, seharusnya penguman pemenang sudah terdengar. Rias yang merasa janggal langsung turun ke bawah dan melihat kondisi Naruto.

Rias membulatkan mata kaget akan apa yang ia lihat. Tubuh Naruto yang ia kalahkan berubah menjadi gumpalan benang warna-warni.

"I-ini!"

Sama halnya dengan yang dilihat Koneko. Valerie yang telah dikalahkannya berubah menjadi tumpukan benang. Akeno pun mengalami hal yang sama. Ia melihat potongan tubuh Walburga berubah menjadi benang.

Di tempat lain, Issei menatap tak percaya apa yang ia lihat. Tubuh Kamakuri tanpa kepala tergeletak di tanah. Namun itu tak membuatnya menjadi kaget seperti sekarang. Yang membuat Issei kaget adalah benang-benang keluar dari leher tubuh Kamakuri itu.

"Sebenarnya dia itu siapa?" Tanya Issei entah pada siapa. Baru kali ini Issei mengalami kejadian tak terduga seperti ini.

Deg!

Issei merasakan seseorang muncul di belakangnya. Entah kenapa tubuhnya bergetar sendiri dan sulit digerakkan. Issei merasakan aura yang sama persis ketika pertama kali bertemu dengan Kamakuri.

"Apakah aku harus mengajarimu, bagaimana caranya memenggal? Seharusnya kau melakukan begini."

Suara itu! tak salah lagi. Itu adalah suara Kamakuri. Suara itu berbeda dari Kamakuri yang dilawannya tadi. Issei merasakan suatu yang mengerikan dari suara tersebut. Dengan susah payah Issei menengok ke belakang. Matanya membulat saat sebuah tendangan cepat berlapis benang tipis mengincar lehernya.

Syut!

Drakh!

Disaat-saat terakhir Issei dapat menghindari serangan kejutan itu dengan cara menundukkan kepala. Terlihat pohon-pohon yang ada di sekitarnya terbelah menjadi 2. Issei melompat ke depan untuk menjaga jarak.

"Kau! Cih! Ternyata yang selama ini aku lawan adalah palsu?" tanya Issei kesal.

"Nfufufu, aku cukup kerepotan mengendalikan 4 bunshin sekaligus."


Rias yang masih menatap tak percaya dibuat terkejut karena mendengar suara Naruto dari atas.

"Kan sudah kubilang. Dari awal kau sudah kalah."

"Naruto! cepat lepaskan Asia!" teriak Rias.

Ya. Asia telah ditangkap oleh Naruto. Naruto memanfaatkan kesibukan Rias yang melawan tiruan benang Kamakuri yang mirip seperti dirinya untuk mengincar Asia. Strateginya berjalan lancar. Kini Rias tak punya orang untuk menyembuhkan lukanya lagi.

"Jadi selama ini yang kulawan hanyalah tiruan?" tanya Akeno pada sosok yang muncul dibalik pohon tidak jauh di depannya.

"Ya itu benar. Semua ini hanyalah permaian." Jawab Walburga datar dengan tangan yang sudah berubah menjadi magma panas. Kali ini yang keluar adalah yang asli.

Kejadian yang sama terjadi pada Koneko. Ia sekarang berhadapan dengan Valerie asli yang kedua tangannya sudah berbubah menjadi sayap api berwarna biru. Kondisi Koneko terbilang cukup parah. Selain luka-luka yang belum sembuh ia juga kehabisan tenaga. Mustahil untuk menang dari Valerie yang masih segar.

Kembali ke Naruto dan Rias.

Asia yang tadi meronta-ronta di cengkraman Naruto sudah gugur saat sebelumnya Naruto membuat pingsan Asia. Parahnya lagi hal itu diperlihatkan secara langsung pada Rias membuat emosinya makin memuncak.

Naruto menepuk-nepukkan pedangnya ke bahunya. "Main-mainnya sudah selesai. Kini giliran untuk mengakhiri permainan."

Naruto perlahan-lahan pencabut pedang dari sarungnya. Pandangannya menajam membuktikan bahwa saat ini ia sedang serius.

"Saat aku sudah memegang pedang… maka sudah dipastikan… kau akan kalah."


Seseorang yang duduk di singgasana agung di sebuah ruang yang megah mematikan layar hologram di depannya yang tadi menampilkan pertarungan Naruto melawan Rias. Ruangan itu gelap. Hanya sedikit cahaya yang bisa masuk ke dalam ruangan besar itu.

"Sudah kuduga hasilnya akan seperti ini." Katanya sambil menyeringai tipis.

Cahaya kecil itu menampilkan sesosok pria bertubuh kekar. Memiliki rambut berwarna hitam dan mata violet. Dia adalah iblis yang telah hidup ribuan tahun. Pernah ikut serta dalam Great War.

Pria itu merupakan iblis yang ditakuti oleh seluruh kaum supranatural. Dia adalah Super Devil yang bahkan mampu menandingi ke 4 Maou. Jabatannya juga berada 1 tingkat dibawah Yondai Maou membuat beberapa orang menganggapnya sebagai Maou bayangan.

Untuk sedikit menjelaskannya, sebagai seorang iblis yang hidup ribuan tahun ia pernah dikalahkan 5 kali oleh musuhnya. Telah 10 kali ditangkap oleh musuh kaum iblis. Dia adalah iblis yang menantang Fraksi Malaikat Jatuh seorang diri. Menjalani berbagai penyiksaan dan hukuman mati oleh musuhnya. Namun semua hal itu tak membuatnya terbunuh.

Prestasi terbesarnya adalah berani menantang Great Red seorang diri, bahkan dapat membuat luka di tubuh Great Red meskipun akhirnya dia kalah.

Pria itu juga dulunya rival Madara Uchiha.

Pria itu bernama…

To Be Continued


AN: Yuhuu! Ketemu lagi dengan saya. Bagaimana? Puas dengan pertarungannya? Apakah ada yang bisa menebak jalan pertarungannya akan seperti ini? Kalau bisa berarti kalian memiliki pikiran yang sama dengan saya. Pertarungan di atas berbeda dengan pertarungan lain yang pernah kalian baca 'kan? Penuh dengan strategi dan kejutan.

Untuk tokoh misterius di atas... Sebagai bocoran, dia karakter asli dari High School DxD.

Penasaran dengan lanjutannya? Silahkan review sebanyak mungkin untuk mempercepat update.

Review yang pakai akun sudah dibalas lewat PM, tentunya yang hanya merupakan pertanyaan dan butuh tanggapan. Balasan review yang ditulis di akhir chapter adalah yang anonim.

THE RASTAVARA: Naruto kuat makan buah iblis berapa thor? Mungkin 2 saja sudah cukup. Atau mau nambah lagi?

UchihaMJ: Apa Madara jadi budak Naruto? Lihat saja ke depannya. Di fic ini apa Naruto over power thor? Itu tergantung pendapat masing-masing saja.

Deni d: Keren fic-nya thor, Naruto tidak jahat 'kan? Hmm… tergantung pendapat masing-masing saja.

DAMARWULAN: Apa Naruto juga akan merencanakan pemberontakan? Hmm… misteri-misteri.

Aokiji159: Siapa pair Naruto dan apa nanti ada Ragnarok? Untuk pasangan masih belum ditentukan ada atau tidaknya. Soal Ragnarok masih menjadi misteri.

Terimakasih juga yang sudah sempat-sempatnya memberikan saran. Saya sangat hargai itu dan akan dipertimbangkan ulang.

Sekali lagi… review yang banyak ya!


© Indra Kusuma