AN: Maaf kelamaan nunggunya.
Chapter 5
"Battle Naruto vs Rias Part 2"
Akeno menatap Walburga kesal. Ia marah karena selama ini pertarungannya hanyalah sebuah permainan. Rencana yang selama ini disusun oleh ketuanya gagal total. Akeno sangat tahu bahwa ia akan kalah. Terlebih staminanya yang sudah terkuras habis.
"Ayo kita akhiri ini." Kata Walburga sambil menyiapkan tinju magma panasnya.
'Cih, tidak ada cara lain selain mengerahkan semuanya.' Batin Akeno.
Akeno lalu membuat lingkaran sihir besar di depannya. Dari lingkaran sihir itu keluar petir dengan jumlah yang sangat banyak melesat menuju Walburga.
Sedangkan Walburga, ia mengeluarkan magma panas dalam jumlah yang sama seperti petir Akeno.
Duarr!
Kedua elemen saling bertabrakan, menciptakan suara gemuruh yang cukup besar. Kawasan di sekitarnya hancur, pohon-pohon gosong oleh cipratan magma panas. Keadaan bagus mulai terlihat dari pihak Walburga. Magmanya dapat mendorong petir lawannya. Akeno kelihatan kesusahan dan tak dapat bertahan lebih lama lagi. Alhasil, petir Akeno kalah dan magma panas itu langsung menyelimuti tubuh Akeno.
"Arghh!"
"Queen Akeno Himejima dari tim Rias Gremory telah gugur."
Suara mengintrupsi, membuat beberapa orang di arena pertandingan terbelalak kaget.
Disaat yang bersamaan, Koneko hendak menyerang Valerie dengan sisa kekuatannya. Ia mengerahkan seluruh energi yang tersisa dalam kepalan tinjunya. Koneko mempertaruhkan semuanya pada serangan terakhir ini.
Valerie yang melihat lawannya bergerak dengan cepat menuju dirinya tak tinggal diam. Ia pun melesat maju dengan kedua tangan yang sudah berubah menjadi sayap api.
Keduanya saling mendekat dengan cepat. Koneko segera menyarangkan tinjunya. Begitu pun dengan Valerie yang menyiapkan tendangan full power kaki kanannya.
Jarak diantara mereka semakin dekat. Keduanya melayangkan serangan masing-masing. Naas bagi Koneko yang tinjunya dapat dihindari oleh Valerie sekaligus terkena tendangannya.
Buakh!
"Ohok!"
Tendangan Valerie tepat bersarang di perut Koneko yang menyebabkannya muntah darah. Tubuh Koneko terpental sangat jauh ke belakang, merobohkan beberapa pohon sampai berhenti dengan keadaan pingsan. Tubuhnya mulai menjadi berkas-berkas cahaya yang artinya ia sedang ditransfer ke luar arena pertandingan.
"Rook Toujou Koneko dari tim Rias Gremory telah gugur."
Lagi, suara pengumuman kembali terdengar yang membuat beberapa orang semakin depresi.
Di sebuah tempat yang gelap karena tertutupi rimbunnya pepohonan, terlihat 2 orang yang sedang menghadap seorang lelaki berwajah seperti perempuan. Lelaki itu terlihat ketakutan. Matanya hampir mengeluarkan air hendak menangis. Tubuhnya bergetar.
"Buchou, tolong aku…," rintihnya.
"Rajamu tak akan datang untuk menolongmu. Naruto-sama pasti dapat mengatasinya." Kata seorang lelaki yang berpakaian seperti detektif. Dia adalah Dohnaseek.
"Yang dikatakan pria ini benar. Terlebih lagi, kami telah menjalankannya sesuai rencana. Beruntung ada Kamakuri yang memiliki kemampuan benang." Timpal 1 orang lagi. Ia bergender perempuan dengan surai hitam panjangnya yang terlihat menawan. Dia adalah Raynare.
Dan yang menjadi lelaki ketakuan itu adalah Gasper Vladi.
"Ba-bagaimana kalian bisa menemukanku?" Tanya Gasper ketakutan.
"Normalnya memang sulit mencari keberadaan vampir sepertimu yang dapat memecahkan diri. Kami memang sempat kesulitan mencari keberadanmu karena kemampuanmu yang dapat berubah menjadi beratus-ratus kelelawar. Itu menyebabkan hawa keberadaanmu tak menentu. Terdapat di berbagai tempat. Tapi berkat benang-benang Kamakuri yang sudah ada di seluruh arena pertandingan membuat kami menyadari pergerakanmu. Tanpa sadar kau telah menggoyangkan beberapa benang. Hal itu disadari Kamakuri sebagai pergerakan tim Rias." Jawab Dohnaseek.
Itulah kenyataannya. Rencana Naruto tersusun dengan rapih dan sangat matang. Terlebih beberapa kekuatan yang mendukung kesempurnaan rencana Naruto.
Sejak awal Naruto memprediksi Rias akan merencanakan pergerakan terang-terangan dan sembunyi-sembunyi disaat yang bersamaan. Jadinya Naruto meminta Kamakuri untuk menyebarkan benangnya ke seluruh penjuru arena pertandingan untuk berjaga-jaga jika saja ada yang bergerak secara sembunyi-sembunyi.
Ternyata prediksi Naruto benar. Itu semakin membuatnya memiliki rencana yang matang.
"Sekarang, bagaimana aku berbuat sesuatu kepadanya ya?" tanya Raynare entah pada siapa dengan seringai tipisnya membuat Gasper semakin merinding ketakutan.
"Jelas. Kita harus mengalahkan bocah merepotkan ini."
"Benar juga. Sebaiknya kita cepat. Waktu juga sudah hampir habis."
Raynare dan Dohnaasek membuat tombak cahaya di masing-masing tangannya. Dengan cepat tombak cahaya itu dilemparkan ke Gasper yang membuat perutnya berlubang. Tubuhnya perlahan bercahaya, Gasper sudah dipastikan kalah dalam pertandingan ini.
"Nah sekarang tinggal penyelesaian. Aku penasaran apa yang akan dilakukan oleh adik Maou Lucifer itu. Khu khu khu…."
Rias tertunduk lemas di tanah yang beberapa bagiannya berlubang karena sebuah serangan. Ia tak menyangka beberapa pelayannya langsung gugur dalam kurun waktu yang singkat. Perasaannya kini bercampur aduk. Rias yang tadinya optimis kini mulai pesimis. Rias hanya memiliki 1 anggota yang belum gugur. Yaitu sang Sekiryuutei Hyodou Issei.
Rias akui memang Issei yang paling kuat diantara semua pelayannya. Namun kekuatan Issei termasuk dirinya belum seimbang melawan tim Naruto yang masih complete. Rias bahkan berpikiran bahwa Issei tak mungkin menang dari lawannya sekarang, yaitu Kamakuri.
"Ada apa Rias? Kau terlihat pucat." Tanya Naruto datar.
"Cih. Tanpa dijawab pun kau sudah tahu 'kan jawabannya,"
Naruto tersenyum kecil. "Yah memang benar. Kau pasti pucat karena satu per satu anggotamu gugur. Sedangkan anggotaku tak ada yang gugur sama sekali. Nah sekarang apa yang akan kaulakukan? Aku yakin kau sudah tidak punya banyak tenaga lagi untuk melawanku."
Rias terdiam. Perlahan tubuhnya bangkit berdiri dan menatap tajam Naruto. "Yang kulakukan? Tentu saja mengalahkanmu!"
Di arena pertempuran lainnya, terlihat Issei yang terbang menghindari serangan beruntun tanpa henti Kamakuri. Issei tak berkutit ketika pertama kali berhedapan dengan Kamakuri yang asli. Kekuatannya jauh di atas kekuatan Kamakuri palsu. Benangnya pun terasa makin kuat dan tajam. Terbukti beberapa goresan yang ada di armor naga Issei.
[Boost]
Entah sudah yang keberapa kalinya Issei menggandakan kekuatan. Terhitung semenjak awal pertandingan sampai akhir-akhir pertandingan ini Issei sudah menggandakan kekuatannya sebanyak 200 kali lebih. Entah sudah berapa banyak kekuatan yang ia simpan dan hanya menggunakannya sedikit aja. Issei pasti memiliki rencana.
"Partner, kurasa kekuatan yang kau simpan sudah cukup. Kita bisa memulai transfernya." Kata Ddraig dalam pikiran Issei.
'Begitu ya? Terimakasih Ddraig. Tapi sebelum itu aku harus mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.'
"Kalau itu aku punya rencana. Simpel saja, yang harus kaulakukan hanya membuatnya tak bisa melihatmu sebentar dan pergi sejauh mungkin."
'Kalau itu mudah saja. Tapi aku tak yakin dia akan tertipu dengan rencana yang sama.'
"Memang. Tapi ini adalah satu-satunya rencana yang bisa kaulakukan. Cepat lakukan saja. Waktu pertandingan ini hampir habis."
'Baiklah Ddraig!'
Issei berhenti terbang. Ia melihat serangan Demonic Power yang dilesatkan Kamakuri. Issei merentangkan kedua tangannya ke depan. Seketika tercipta 2 buah bola energi berwarna merah. Issei lalu meninju kedua bola energi itu.
Double Dragon Shot
Syut! Syut!
Kedua Dragon Shot itu menghantam 2 laser Demonic Power yang dilontarkan Kamakuri.
Langit menghitam sesaat ketika kedua sihir itu saling bertabrakan. Terlihat laser Kamakuri kalah yang mengakibatkan serangan Issei melesat menuju tempat Kamakuri.
Duar!
'Ini saatnya.' Batin Issei lalu terbang secepat mungkin menjauh dari Kamakuri.
"Dasar bocah itu. Rupanya dia mau main petak umpet ya…," gumam Kamakuri dengan seringai kejinya.
Dalam kepulan debu yang tebal, Kamakuri memunculkan sayapnya yang membuat kepulan debu itu menyingkir dari sekitarnya. Ia lalu terbang ke atas.
"Sekarang, di mana kau berada? Sekiryuutei. Kau tak akan bisa bersembunyi di mana pun. Nfufufu."
Issei mendarat perlahan. Ia lalu bersembunyi di balik pohon besar. Issei duduk dan berkonsentrasi untuk mengirimkan kekuatannya pada Rias dalam jarak jauh. Teknik ini Issei pelajari diam-diam sebelum pertandingan hari ini. Sebagai rencana terakhir yang disusun oleh sang ketua.
Perlahan-lahan armor Issei mengeluarkan aura hijau.
Long Gift
Itulah nama teknik baru yang dimiliki Issei. Teknik ini setingkat lebih tinggi dari teknik Gift biasa yang mengharuskan penggunanya menyentuh seseorang yang akan dikirimkan kekuatan. Teknik ini sedikit berbeda. Issei hanya harus bersentuhan dengan orang yang akan dikirimkan kekuatan. Selanjutnya ia hanya perlu mengirimkan kekuatan sesuka hati dan kapan pun yang Issei mau. Alasan kenapa Issei harus bersentuhan dulu itu sebagai syarat yang harus dipenuhi. Seperti surat yang harus memiliki perangko untuk dapat dikirimkan ke orang yang dimaksud.
Teknik ini memakan waktu cukup lama. Maklum karena Issei mengirimkan kekuatan yang besar pada Rias. Sudah 2 menit berlalu. Issei hanya perlu 1 menit lagi untuk mengirimkan seluruh kekuatan yang telah ia gandakan selama ini.
"Ketemu. Rupanya kau bersembunyi di sini ya?"
Suara itu… tak salah lagi. Itu Kamakuri!
Issei menatap tubuh jangkung Kamakuri dengan keringat dingin. Tubuhnya bergetar ketakutan. Ia tak mungkin membatalkan proses transfernya sekarang.
"Ba-bagaimana kau mengetahui aku ada di sini? A-aku yakin sudah menyembunyikan hawa keberadanku sampai titik terendah."
"Nfufufufu. Aku juga cukup terkejut kau bisa menghilangkan hawa keberadaanmu," Kata Kamakuri sambil menggerakkan jari-jarinya. "Tapi ada cara lain untuk menemukan mangsa yang tak berasa sekalipun. Bocah, kau masih naïf soal dunia pertarungan." Lanjut Kamakuri sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.
"Selamat tinggal bocah, dan jangan lupa sediakan banyak tisu untuk ketuamu yang akan kalah. Kau tak mau 'kan air matanya menetes ke mana-mana?"
"Cih. Rias Buchou tak akan menangis meskipun dia kalah!" teriak Issei. "Rias Buchou adalah seorang wanita yang kuat dan tegar!"
"Nfufufu, yah terserahmu saja."
Fulbright
Crash!
Kamakuri menusuk tubuh Issei dengan 5 benang tajam terlapisi Demonic Power. Benang itu sangat tajam sampai-sampai armor crimson Issei tertembus. Issei memuntahkan darah dari balik helmnya. Tubuhnya mulai lemas, dia menyadari Kamakuri menyerang organ vitalnya. Salah satu ginjalnya terkena tusukan benang tajam Kamakuri.
Issei gugur dalam pertandingan ini. Yang tersisa hanya Rias seorang.
Naruto melihat Rias dengan wajah mengeras. Entah bagaimana kejadiannya, Rias yang semula sudah kelelahan kini energinya melonjak tajam. Sangat tajam.
'Ada apa dengan kekuatannya? Ini mustahil. Kekuatannya meningkat bahkan melebihiku.' Batin Naruto.
Kondisi Rias berbalik. Dia yang semula penuh luka kini kembali segar. Rambut merahnya melambai-lambai, tubuhnya diselimuti oleh aura berwarna hijau terang. Rias tersenyum sambil melihat Naruto. Sekarang dia optimis bisa mengalahkan sepupunya. Rias juga merasakan energi yang memasuki tubuhnya setingkat dengan energi seorang Maou.
"Naruto, dengan kekuatan sebesar ini aku akan mengalahkanmu!" teriaknya lantang.
Rias lalu mengangkat kedua tangannya, lingkaran sihir khas keluarga Gremory tercipta. Rias membuat 2 lingkaran sihir super besar. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit Power of Destruction berkumpul, menyatu menjadi bola berukuran 20 kali lipat dari ukuran tubuh manusia normal. Tidak hanya 1, tapi Rias menciptakan 2. Dia bertaruh semuanya pada serangan terakhirnya ini.
Naruto menatap 2 bola Power of Destruction itu, sorot matanya tajam. 'Jika aku terkena serangan Rias akan sangat berbahaya. Sepertinya dia berniat membunuhku bukan memenangkan pertandingan ini.' Batin Naruto lalu menyiapkan pedangnya. 'Aku akan menebas serangan Rias dengan kekuatan penuh.'
"Terimalah ini, Naruto!" teriak Rias sambil melesatkan serangannya.
2 bola Power of Destruction itu melaju cukup cepat menuju targetnya. Naruto masih diam, dia mengacungkan pedangnya ke depan. Tangan Naruto perlahan menjadi hitam, lalu merembet ke pedangnya. Dia telah membungkus pedangnya dengan Busoshoku no Haki. Naruto kemudian menebas serangan Rias dengan kekuatan penuh.
Syut
Tampaknya yang dilakukan Naruto berhasil. Dia sukses membelah 2 bola Power of Destruction menjadi 2 bagian. Alhasil serangan Rias hanya melewati Naruto dan meledak saat menyentuh tanah.
Rias yang menatap ke depan kaget. Bukan kaget karena serangannya berhasil dipatahkan, tapi dia melihat gelombang tebasan kasat mata menuju dirinya. Rias terbelalak kaget, dia tahu teknik kenjutsu Naruto yang ini. Dengan cepat Rias menundukkan tubuhnya, dia bisa merasakan gelombang tebasan kasat mata itu lewat di atasnya. Tak lama kemudian terdengar suara dari arah belakang. Rias menatap ngeri melihat gunung di belakangnya terbelah. Seketika tubuhnya dingin, sulit digerakkan.
Soru
Sring
Naruto muncul di hadapan Rias yang sedang menatap ke belakang. Dia menyeringai tipis. "Apakah kau tak tahu, bahwa memalingkan pandangan dari lawan sama saja dengan bunuh diri?" tanya Naruto dingin.
Deg
Jantung Rias berpacu dengan cepat. Dengan perlahan dia melihat ke depan. Tubuhnya sulit digerakkan sehingga tak mampu untuk sekedar menjauh. Naruto yang melihat muka pucat Rias memperlebar seringainya.
"Dengan ini berakhirlah."
Tangan kiri Naruto melesat cepat menuju dada Rias sebelah kiri. Tak salah lagi, Naruto mengincar jantung sepupunya.
Mes
Deg
Rias tak percaya apa yang dilihatnya. Jantung. Sebuah jantung yang terbungkus oleh sesuatu digenggam oleh Naruto. Tubuh Rias lemas. Dia sudah tak punya tenaga lagi. Nafasnya memburu.
"Maaf Rias, aku yang menang." Kata Naruto lalu meremas kuat jantung yang berada digenggamannya.
Hal terakhir yang terjadi pada pertandingan rating game adalah teriakan Rias yang memilukan, seakan dia sedang disiksa dengan cara ditusuk oleh ribuan pedang tajam dan panas.
Di ruang VIP tempat para Maou melihat jalannya rating game, mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu.
"Ternyata Rias masih belum cukup untuk mengalahkan Naruto-kun. Aku sudah menduganya," kata Sirzech sambil mengehela nafas. Cukup kecewa atas kekalahan Rias.
"Strategi Rias-chan cukup bagus, terlebih rencana terakhirnya sebagai kartu AS dimana Issei-kun mentransferkan kekuatannya dari jarak jauh. Aku tak pernah melihat Sekiryuutei melakukan itu sebelumnya." Kata Serafall.
"Ya. Bahkan aku juga tak tahu Issei-kun dapat melakukan itu. Yang aku tahu hanya dia bisa mentransferkan energinya dengan cara bersentuhan." Timpal Sirzech.
"Sepertinya Sekiryuutei jaman sekarang tidak terduga ya… aku penasaran apa lagi kejutan yang akan diberikan olehnya dipertandingan berikutnya." Ajuka tersenyum tipis.
Sang Maou Asmodeus hanya melihat ke tiga rekannya. Tak berbicara. Tubuhnya paling besar dan tinggi diantara ketiga rekannya. Falbium lalu menatap layar yang ada di depannya. Dia melihat Naruto dan para budaknya yang sedang ditransfer ke luar arena. Ketika semuanya sudah ditransfer, layar menjadi hitam tanda pertandingan sudah selesai.
Rias perlahan membuka matanya. Buram. Itulah yang dirasakannya pertama kali setelah sadar dari pingsan. Rias melihat langit-langit yang bernuansa putih. Samar-samar dia juga mencium bau obat-obatan. Mungkinkah dirinya berada di rumah sakit? Bisa jadi. Rias melirik ke samping, melihat seorang pemuda yang dikenalnya sedang berdiri memunggunginya.
"N-Naruto…" gumamnya lemah.
Pemuda yang dipanggil Naruto oleh Rias tadi menoleh. Dia berjalan selangkah mendekati Rias.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Naruto.
"Ya. Aku merasa baikkan," jawab Rias sambil berusaha untuk tersenyum. Tubuhnya masih lemas. "Sepertinya aku masih perlu berlatih lagi agar bisa mengalahkanmu."
"Hmm, begitulah."
"Jadi, ada apa kau ke sini? jarang sekali menjenguk lawan yang sudah kalah olehmu." Tanya Rias.
"Aku ke sini bukan menjenguk lawan, tapi menjenguk sepupuku," Jawab Naruto. 'Dan merasa bersalah karena aku sudah terlalu berlebihan.' Lanjut Naruto dalam hatinya.
"Begitu. Terima kasih."
"Sama-sama. Budakmu yang lain sudah ditangani oleh pihak medis di ruang sebelah. Jadi, jangan khawatir."
Rias mengangguk. Kepalanya tertunduk. Tangannya terkepal. Di dalam hatinya Rias masih belum menerima kekalahannya. Ini terlalu sakit. Kalah saat pertandingan pertama itu sangat memalukan. Terlebih dia adalah keluarga Maou Lucifer. Mungkinkah kakaknya malu dengan dirinya?
"Jangan terlalu dipikirkan," kata Naruto tiba-tiba, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan sepupunya. "Yang harus kaulakukan adalah berlatih dan berlatih. Masih banyak kesempatan untuk memenangkan turnamen rating game ini. Mulai sekarang kau harus melihat musuh yang ada di depan, dan kalahkan."
Rias menatap Naruto dengan mata membulat. Tak percaya akan apa yang baru saja dikatakannya. "Kenapa kau mengatakan semua itu? Padahal aku ini musuhmu 'kan?"
Naruto menghela nafas. "Rias… aku ini sepupumu. Kata musuh hanya berlaku saat di arena pertandingan." Kata Naruto sambil duduk di tepi ranjang Rias.
Rias terdiam. Benar apa yang dikatakan Naruto. Bagaimanapun mereka adalah sepupu. Tak ada yang bisa menyangkal semua itu. Rias bangkit lalu memeluk Naruto dengan erat.
"Maaf,"
"Tidak apa-apa," Naruto mengelus lembut surai merah crimson milik sepupunya. "Sekarang pulihkan dirimu dan fokus pada pertandingan selanjutnya. Aku akan menunggumu di final nanti."
"Baiklah. Kali ini aku bersumpah akan mengalahkanmu di final." Kata Rias tersenyum optimis. Ia membaringkan tubuhnya lagi.
Tidak lama kemudian pintu terbuka. Seseorang masuk. Naruto dan Rias tahu siapa orang yang baru saja masuk untuk menjenguk.
"Sairaorg."
"Nii-sama."
"Yo. Pertandingan kalian tadi sungguh hebat."
Disebuah ruangan yang gelap. Ruangan itu seperti laboratorium. Terdapat banyak sekali tabung-tabung berisi cairan kimia di dalamnya. Ada sebuah tabung yang berukuran sangat besar. Terbesar di antara semuanya. Tabung itu bertuliskan PNP, entah apa kepanjangannya.
Seorang lelaki berambut hitam panjang memakai armor perang khas jaman dulu terlihat sedang duduk menatap seorang bertopeng domba yang sedang menunduk ke arahnya. Matanya berwarna merah darah dan bersinar dikegelapan.
"Jadi…," katanya datar.
"Fraksi Maou Lama memiliki 2000 tentara yang diketuai langsung oleh 2 iblis keturunan Maou sejati. Mereka adalah Shalba Beelzebub-sama dan Creuserey Asmodeus-sama."
"Begitu,"
"Ya."
"Hmm. Berapa lama aku telah mati ya…, tak kusangka 2 bocah itu kini sudah dewasa dan memimpin sebuah fraksi. Pasukan yang dimiliki oleh mereka berjumlah 2000. Jika aku membunuhmu maka pasukannya akan menjadi 1999 'kan?"
"Benar."
"Lalu bolehkah aku membunuhmu?"
"Apapun akan hamba lakukan untuk Madara-sama."
Madara, pria yang memiliki mata menakutkan itu menyeringai dan tertawa pelan. Yukiatsu yang berdiri di belakangnya menatap mengeri. Dia tak pernah melihat orang yang memiliki kekuatan untuk menaklukan segalanya. Madara yang sekarang menjadi rekannya sudah memanipulasi salah satu tentara Fraksi Maou Lama untuk mencari informasi. Yukiatsu tahu sumber kekuatan dan teknik Madara ada pada matanya. Dia bersumpah tak akan pernah menatap mata merah rekannya secara langsung.
"Nfufu…, kalau begitu aku ingin kau ambil benda yang berada di tabung sebelah kirimu!" perintah Madara.
Pria bertopeng itu mengangguk lalu mengambil benda yang dimaksud Madara. Sebuah benda berbentuk bola kecil, berwarna hitam legam.
"Makanlah!"
Dengan gerakan otomatis pria itu memakan bola hitam yang digenggamnya.
Yukiatsu yang melihat itu berbicara, "Bukankah itu bola gas untuk pembunuhan masal?"
"Terus?"
"Apa yang akan kaulakukan padanya?"
"Lihat saja."
Tidak lama kemudian, pria bertopeng itu menggeliat. Meraba-raba perutnya. Dia berteriak dengan keras. Madara dengan mata sharingannya dapat melihat organ dalam pria itu meleleh. Terus meleleh sampai kulit. Dan akhirnya pria itu mati dengan seluruh tubuh yang meleleh. Debu hitam yang seharusnya berterbangan seperti halnya iblis yang telah mati tak ada.
"Bola itu menyimpan gas yang dapat melelehkan apapun, bukan? Dan gas itu dibungkus oleh besi berbentuk bola hitam. Lambung milik bangsa iblis umumnya memiliki cairan asam yang sangat kuat. Lebih kuat dari siapapun. Tidak mustahil besi dapat dilelehkan. Jadi, jika besi yang membungkus gas itu hancur maka otomastis gas akan menyebar ke seluruh area yang memiliki ruang. Sama seperti prinsip udara. Tapi gas itu tidak hanya memenuhi ruang yang kosong, melainkan melelehkan ruang yang padat seperti organ-organ dalam pada tubuhnya." Jelas Madara.
"Begitu. Aku mengerti."
Lingkaran besar muncul di depan Madara dan Yukiatsu. Naruto dan semua budaknya sudah pulang ke rumah.
"Bagaimana dengan pertandingannya?" Tanya Yukiatsu basa-basi. Sebenarnya dia sudah tahu bahwa tuannya menjadi pemenang.
"Pertanyaanmu tak berbobot, anak baru." Ejek Kamakuri lalu duduk di sofa kosong.
"Kita menang." Jawab Walburga.
"Oh, kalau begitu selamat."
Semua duduk di sofa kecuali Yukiatsu yang diam berdiri dan Raynare yang sedang menyiapkan minuman untuk semua rekannya.
"Bagaimana dengan tugas yang kuberikan padamu, Madara?" tanya Naruto.
"Berjalan lancar. Aku sudah mengetahui banyak informasi."
"Jelaskan!"
"Musuh memiliki 2000 pasukan yang diketuai oleh bocah Shalba dan Creuserey. Aku sudah membunuh satu pasukannya. Mereka akan menyerbu saat pertandingan antara Rias melawan Diodora."
"2000? Apa kita bisa memusnahkan mereka semua?" tanya Dohnaseek yang terlihat ragu. Selama hidupnya dia belum pernah berhadapan dengan pasukan sebanyak itu.
"Nfufufu… apa kau takut detektif?" ejek Kamakuri.
Dohnaseek mendecih dan memalingkan wajahnya.
"2000 itu jumlah yang sedikit. Terlebih mereka hanyalah iblis lemah. Yang perlu kita waspadai hanya Shalba dan Creuserey. Bagaimanapun mereka adalah keturunan sejati Maou. Mereka tak boleh diremehkan." Kata Naruto.
"Valerie, kapan pertandingan antara Rias dan Diodora?" tanya Naruto.
"Minggu depan. Kita akan bertanding melawan Riser Phoenix sehari setelahnya." Jawab Valerie.
"Begitu. Jika mereka menyerbu saat pertandingan Rias melawan Diodora maka besar kemungkinan mereka telah menyabotase rating game. Aku yakin ada pihak dalam yang bekerja sama dengan Fraksi Maou Lama."
Mereka semua mengangguk tanda setuju.
"Baiklah. Kita akan menyerbu Fraksi Maou Lama 3 hari lagi. Madara, di mana markas mereka?"
"Di dunia manusia. Tepatnya di kastil yang menyimpan sejarah kelam. Kastil yang menjadi saksi bisu kasus seorang Ratu yang membunuh banyak sekali wanita untuk diambil darahnya sebagai bahan untuk awet muda. Kastil itu bernama…,"
To Be Continued
AN: Berhubung belum ada pemberitahun remedial untuk saya dan adanya waktu luang yang banyak jadinya saya mem-publish chapter 5 sekarang. Terima kasih yang telah mendoakan ujian saya agar bejalan lancar.
Adakah yang bisa menjawab nama kastil yang dimaksud Madara?
Balasan review untuk anonym;
DAMARWULAN: Type your review here. Apa Naruto ada kaitannya dengan iblis misterius itu? Ada.
The Dark King Rises: Ficnya bagus thor dan cantumkan tanggal updatnya dong… lebih baik tidak. Dan itu juga kurang penting, menurut saya.
Aokiji159: Type your review here. Apa Naruto tidak bisa menambah buah 1 thor? Segini saja sudah cukup. Dan apa semua kekuatan peerage Naruto awakening? Masih rahasia. 1 lagi bukannya klonning Kamakuri bisa dibedakan dengan yang asli? Apakah anda hanya melihat pertarungan Law, Luffy vs Doflamingo babak keduanya? (Babak terakhir pertarungan di atas istana). Jika anda melihat pertarungan sebelumnya maka anda bisa lihat klon Doflamingo yang mirip sekali dengan aslinya (waktu Cyros memenggal kepala klon Doflamingo). Kenapa klon Kamakuri bisa meniru selain dirinya? Saya berkreasi sendiri saja.
Bangkelaut: itu satan? Entahlah.
THE RASTAVARA: Maou nanya thor, kenapa Raynare dan Dohnaseek bisa menggunakan tombak cahaya? padahal unsur cahaya 'kan kelemahan iblis. Bukan cahaya saja kelemahan iblis. Tapi sesuatu yang berhubungan dengan benda suci. Seperti air suci, pedang suci, dan masih banyak lagi. Kenapa mereka bisa menggunakan tombak cahaya? Karena awalnya mereka adalah Malaikat Jatuh. Sedikit banyaknya persis seperti Akeno yang memiliki kekuatan cahaya dan bisa dipakai ke dalam petirnya.
Ananda: Siapa rival Madara? Coba tebak. Bukan tokoh dari Naruto ya.
Aokiji160: Type your review here. Apa insiden Cao Cao dan Yasaka dan Dewa Sakra apa ceritanya sudah terlewat? Anggap saja sudah karena fic ini tidak akan membahas konflik itu.
Terima kasih karena sudah membaca. Jangan lupa review yang banyak ya!
© Indra Kusuma
