Enjoy!
Chapter 6
"Preparation"
Di sebuah ruang yang besar nan gelap. Ruangan itu memiliki dekorasi-dekorasi kelas tinggi yang sangat menawan, khas ruangan bangsawan zaman dahulu. Terdapat 4 buah kursi megah di tengahnya. Kuris-kursi itu berlapiskan emas bertabur permata. Pasti yang berhak menduduki kursi itu adalah seseorang dengan kedudukan tinggi.
Ruangan itu adalah tempat para Yondai Maou. Sebuah ruangan yang berada di kastil terbesar di Underworld.
4 kursi itu sudah diduduki oleh 4 iblis yang memegang jabatan Yondai Maou. Di hadapan mereka terlihat seorang iblis muda sedang membungkuk hormat. Dia adalah Naruto.
Untuk kedua kalinya Naruto menghadap Yondai Maou.
"Tidak biasanya Naruto-kun menghadap kami. Apa kau datang ada kaitannya dengan Fraksi Maou Lama?" tanya Falbium.
"Benar. Saya sudah mengetahui tempat persembunyian dan jumlah kekuatan tempur mereka." Naruto menjawab dengan tegas, sarat akan kehormatan.
"Jelaskan!" titah Sirzech sang Maou Lucifer. Wajahnya menunjukkan keseriusan.
"Fraksi Maou Lama diketuai oleh 2 orang iblis, mereka adalah Shalba Beelzebub dan Creuserey Asmodeus. Mereka memiliki bala tentara iblis berjumlah 2000 orang. Markas mereka berada di dunia manusia, Kastil Cachtice." Jelas Naruto.
Ajuka mengusap dagunya, menelaah informasi yang diberikan Naruto. Dia berpikir cara menyelesaikan permasalahan ini dengan kerugian seminimalis mungkin. Ajuka sebenarnya ragu Naruto beserta para budaknya dapat mengalahkan pasukan Fraksi Maou Lama. 2000 tentara iblis ditambah 2 iblis keturunan Maou sejati melawan Naruto dan para budaknya. Jika dipikirkan persentase kemenangan tidak lebih dari 40%. Belum lagi Fraksi Maou Lama dikabarkan bergabung dengan Chaos Brigade, Ajuka yakin mereka pasti meminta bantuan Ophis. Semisal meminta kekuatan. Itu akan jauh lebih buruk.
Naruto dan kelompoknya memang kuat, tapi pengalaman bertarung nyata masih di bawah Rias yang telah mereka kalahkan kemarin.
"Apa kau yakin akan menangani masalah ini sendirian?" tanya Ajuka, memastikan kesiapan Naruto.
"Saya sangat yakin! Ajuka-sama tenang saja. Saya telah mempersiapkan puluhan rencana untuk mengalahkan Fraksi Maou Lama. Persenjataan pun sudah saya siapkan sebanyak mungkin." Tegas Naruto.
Oke, yang tadi dikatakan Naruto beberapa ada yang bohong. Naruto tidak punya puluhan rencana untuk mengalahkan Fraksi Maou Lama, melainkan hanya beberapa. Naruto jelas mengetahui bahwa Ajuka mengkhawatirkannya tidak dapat mengalahkan Shalba dan Creuserey beserta bawahannya. Dia melihat dari raut wajah Ajuka. Naruto maklumi itu. Siapapun pasti berpikiran sama seperti Ajuka.
Tapi tenang saja. Naruto optimis akan mengalahkan musuh. Dia juga sekarang memiliki 2 peerage cadangan yang kekuatannya tidak bisa diremehkan. Serta kemampuan cahaya Naruto yang akan memberikan keunggulan karena unsur cahaya merupakan kelemahan iblis. Rencananya Naruto akan berlatih menggunakan kekuatan itu setelah tiba di rumah.
"Kalau begitu apa boleh buat. Naruto-kun juga tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Misi ini akan dilaksanakan sepenuhnya oleh Naruto-kun dan para budaknya. Perintah dari kami hanya lenyapkan pasukan musuh, bawa Shalba dan Creuserey kemari. Jika tidak memungkinkan maka lenyapkan mereka di tempat." Sirzech berucap.
Keputusan sudah dibuat, perintah sudah ditujukan. Naruto tersenyum tipis. Salah satu rencananya berjalan dengan sukses. Alasan Naruto tetep kukuh menangani masalah ini sendiri bukan hanya karena ingin melindungi Underworld dan tugas dari Ophis, melainkan ingin menguji coba senjata terbaru buatannya. Sebagai seorang Broker Underground Naruto akan mempromosikan beberapa senjata pembunuh massalnya. Dan objek uji coba itu tak lain adalah Fraksi Maou Lama.
Great! Naruto adalah orang yang mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari sebuah kejadian.
"Jadi … kapan Naruto-kun akan menyerang mereka?" tanya Serafall. Matanya menatap Naruto dengan cemas.
"2 hari dari sekarang, Serafall-sama."
Naruto sedang berjalan di koridor istana yang sepi. Sudah 2 menit berlalu sejak ia keluar dari ruangan para Maou. Suara langkah kaki menggema di sepanjang koridor sepi itu. Tidak banyak cahaya yang ada di sana. Sekilas Naruto melihat bayangan orang yang dikenalinya di ujung pertigaan koridor. Pemilik bayangan itu sepertinya berjenis wanita, terlihat dari rambut panjang yang diikat 2. Naruto mempercepat langkah kakinya, lalu menyapa orang yang terlihat sedang menunggunya.
"Serafall-sama?" kata Naruto.
"Yo Naruto-kun. Lama tak bertemu," sapa gugup Serafall sambil melambaikan tangan kanannya. Ada sedikit kegugupan saat bertemu dengan remaja pirang di depannya.
"Bukannya kita baru bertemu sekitar 2 menit yang lalu?" bingung Naruto, mengangkat sebelah alisnya.
"Ehehehe … benar juga. Sebenarnya aku sedang menunggumu."
"Untuk apa?"
"Ini," Serafall menyodorkan sebuah kotak yang berisi 5 buah botol air mata Phoenix. "Itu hadiah untukmu karena Naruto-kun akan menjalankan misi yang berbahaya. Semoga hadiah pemberianku dapat bermanfaat." Kata Serafall sambil tersenyum.
Naruto menerima pemberian atasannya. "Terima kasih Serafall-sama. Aku sangat terbantu karena memiliki sesuatu untuk menyembuhkan luka." Kata Naruto sambil membungkuk hormat gadis dengan tinggi tubuh lebih pendek darinya. Bagaimanapun Serafall adalah atasannya. Dia harus bersikap formal. Itulah yang diajari keluarganya sejak kecil. Selalu hormat pada seseorang yang berada di atasmu.
"Ya sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu, masih banyak kerjaan yang belum kuselesaikan. Sampai jumpa lagi Naruto-kun." Kata Serafall lalu menghilang dalam lingkaran sihir berwarna biru khas keluarga Sistri. Sebelumnya dia telah melambaikan tangan pada Naruto.
Naruto melanjutkan perjalanannya. Hadiah pemberian dari Serafall sudah aman di ruang penyimpanan. Hubungan Naruto dan Serafall terbilang cukup dekat. Naruto adalah teman baik Sona. Dia beberapa kali pernah berkunjung ke kediaman Sona dan bertemu dengan Serafall. Pernah sekali Naruto hendak memukuli Sona karena mainannya rusak dan langsung dihentikan oleh Serafall dengan cara membekukan seluruh tubuh Naruto. Itu adalah kali pertamanya ia merasakan serangan. Dan sejak saat itu hubungannya dengan Serafall semakin dekat, meskipun selalu adu mulut karena hal sepele.
"Sudah lama aku tak bertemu dia. Mungkin mengunjunginya akan membuatku sedikit terhibur. Jam segini pasti dia sedang berada di rumah kaca." Gumam Naruto sambil membayangkan wajah salah satu saudaranya.
Sebelum kembali ke dunia manusia, Naruto menyempatkan diri untuk bertemu adiknya, Magdaran Bael. Seorang iblis High-Class yang menjadi pewaris tunggal clan Bael. Naruto yakin saat ini dia sedang berada di rumah kacanya. Tanpa buang waktu Naruto langsung melakukan teleportasi.
"Yo, lama tak bertemu Magdaran." Sapa Naruto yang muncul tiba-tiba di belakang Magdaran.
Yang disapa sedikit kaget. "Eh?! Nii-sama, lama tak bertemu juga. Bagaimana kabarmu? Terakhir kudengar kau menang rating game melawan Rias ya. Selamat!" Magdaran yang sedang mengurus tanamannya terhenti sejenak karena kedatangan salah satu kakaknya.
"Ya. Terima kasih. Bagaimana denganmu?" tanya Naruto.
"Besok adalah debut pertamaku dalam rating game tahun ini."
"Hoo, bagus kalau begitu. Jangan sampai kalah oleh lawanmu. Besok aku akan melihatmu bertanding." Kata Naruto.
"Terima kasih. Aku sangat menunggu hal itu."
Naruto memandang ke sekitarnya. "Tempat yang bagus. Udaranya juga bersih. Apa kau merawat seluruh tanaman ini sendirian?"
"Ya. Merawat tanaman adalah hobiku. Sejauh ini aku telah banyak mengumpulkan berbagai jenis tanaman dari yang bersifat obat sampai yang bersifat racun. Apa Nii-sama ingin melihat koleksi tanamanku?" tawar Magdaran.
"Tidak terima kasih. Aku masih banyak urusan. Aku akan pergi sekarang. Jangan lupa, jika kau butuh bantuan langsung hubungi aku saja. Aku juga akan mencari beberapa tanaman langka di dunia manusia. Anggap saja sebagai hadiah jika kau menang rating game besok, oke?"
Magdaran menatap antusias kakaknya. "Aku pegang janjimu Nii-sama."
Naruto pergi mengunjungi dunia manusia setelah berpamitan dengan adiknya. Tujuannya ke dunia manusia untuk belajar mengendalikan kekuatan cahaya. Dan yang paling efektif menjadi guru adalah ras yang memiliki kekuatan cahaya. Beruntung di dalam peerage Naruto memiliki anak buah mantan malaikat jatuh. Dia sudah banyak belajar tentang pengendalian unsur cahaya. Tapi itu semua belum cukup. Naruto harus mencari seseorang yang memiliki pengendalian elemen cahaya di atas rata-rata, bahkan jika perlu seseorang yang sudah memasterinya. Dan Naruto tahu siapa itu.
"Sudah kuduga kau berada di sini, Azazel-san." Kata Naruto yang melihat seorang pria paruh baya memakai yukata putih sedang memancing di pinggiran sungai. Pria itu memiliki poni pirang.
"Hmm, tak kusangka akan didatangi oleh orang yang telah mengalahkan anak didikku kemarin di rating game. Ada apa anak muda? Tak biasanya kau menemuiku." Azazel mengulas senyum simpul sambil melihat Naruto di belakangnya. Tangannya masih tetap memegang pancingan.
Naruto berjalan mendekati Azazel lalu duduk di sampingnya. "Aku memiliki permintaan. Boleh 'kan?"
"Tergantung dari apa permintaan itu. Jika hal-hal biasa mungkin aku bisa melakukannya." Kata santai Azazel.
"Tenang saja. Permintaanku termasuk ke dalam hal biasa."
"Lalu? Kau ingin minta apa dariku?"
"Aku ingin kau mengajariku cara mengendalikan elemen cahaya."
Perkataan Naruto membuat tubuh Azazel sedikit menegang. Jantungnya memompa darah lebih cepat. Matanya sedikit melebar. Apa Azazel tak salah dengar? Mengajari iblis bagaimana menggunakan kekuatan cahaya? itu hal aneh yang pernah dia dengar seumur hidup.
"Aku tak tahu apa maksudmu,"
Naruto memandang wajah Azazel. "Aku tahu kau tak percaya bahwa aku memiliki kekuatan cahaya 'kan? Itu wajar. Tapi aku tak bohong. Aku benar-benar memiliki kekuatan cahaya." Kata Naruto serius.
Azazel balik memandang wajah Naruto, ia menatap dalam-dalam mata pemuda pirang di sampingnya. Tak ada keraguan dan tak ada kebohongan. Tapi Azazel masih kurang percaya dengan ucapan Naruto. "Buktikan!" titahnya.
Naruto mengangguk paham. Ia lalu merentangkan tangan kanannya. Seketika jari-jemari Naruto bercahaya. Itu adalah elemen cahayanya. Azazel menatap tangan Naruto yang bersinar dengan keringat dingin. Samar-samar dia merasakan aura seseorang yang sudah dikenalinya sejak lama.
Naruto menyudahi aksinya. Ia lalu menatap wajah Azazel lagi. "Bagaimana? Apa kau bercaya?"
"Normalnya mustahil iblis murni dapat menggunakan kekuatan cahaya. Tapi sepertinya teori itu telah terpatahkan olehmu. Dan aku ingin tahu dari mana kau mendapatkan kekuatan itu."
Naruto menatap langit sejenak. "Dari salah satu mantan anak buahmu, Kokabiel."
"Hoo, pantas aku samar-samar merasakan aura teman lamaku. Apa kau yang membunuh Kokabiel? Aku mendapat laporan bahwa dia lolos dari penjara kristalku." Tanya Azazel.
"Ya. Seperti itulah. Dia yang mulai duluan. Apa kau tidak keberatan? Atau kau akan balas dendam?"
Azazel tertawa renyah, "Hahaha … tentu saja tidak! aku tidak akan membalas dendam kematian penghiatan seperti Kokabiel. Yah meskipun dia dulunya adalah teman seperjuanganku."
"Begitu, lalu bagaimana? Apa kau bersedia mengajariku?"
"Tentu saja. Aku sangat tertarik mengajari iblis murni bagaimana cara mengendalikan kekuatan cahaya. Itu sangat membuatku penasaran dan semangat. Oh ya, aku juga penasaran bagaimana caranya kau dapat bertahan saat mengeluarkan elemen cahayamu. Bisa kau jelaskan, anak muda?" pinta Azazel.
Naruto mengangguk singkat. "Sederhana. Aku hanya mengoperasi beberapa bagian tubuhku seperti kulit, saraf, dan aliran energi yang teraliri oleh elemen cahaya. Butuh waktu cukup lama untuk membiasakan tubuhku yang baru." Jelas Naruto.
Azazel mengangguk paham. "Seperti kata orang lain yang menjulukimu Surgeon of Death, kau memang ahli bedah terhebat di dunia. Hal yang menurut orang lain mustahil kau bisa lakukan. Aku salut padamu." Puji Azazel. "Kapan kita akan mulai latihannya?"
"Sekarang."
Azazel sedikit kaget mendengar jawaban Naruto. "Hoo … rupanya semangatmu lebih besar daripada semangatku. Itu hal bagus anak muda. Ayo, kita ke dimensi buatanku. Aku akan mengajarimu di sana."
Azazel menciptakan lingkaran sihir. Keduanya hilang sedetik kemudian. Mereka kini berada di dimensi buatan Azazel. Dimensi ini cukup luas dengan pijakan berwarna putih namun langit-langitnya gelap seperti malam. Naruto memandang sekitarnya. Tidak ada apa-apa selain dataran yang luas.
"Ne Azazel-san, sepertinya kau harus meningkatkan kreatifitasmu. Kau tahu, dimensi buatanmu terlihat tidak indah."
"Terima kasih atas kritik dan sarannya. Baru pertama kali ini aku dikritik oleh iblis muda sepertimu, Naruto Bael. Yah tapi kau benar juga, sepertinya aku harus mendekorasi ulang dimensi buatanku." Kata Azazel, berjalan mendekati Naruto. "Aku akan menjelaskan teori dasar mengenai pengendalian cahaya,"
"Aku siap mendengarkan, Azazel-san."
Azazel mengusap janggutnya yang lumayan tebal. Dia menutup mata sambil berpikir kata-kata yang pas diucapkan agar Naruto cepat mengerti. Yah meskipun dia tahu penjelasan seperti apapun Naruto akan cepat mengerti. Azazel tahu bahwa anak pirang di depannya adalah iblis jenius. "Begini, cahaya mengalir dalam tubuhmu bagaikan air. Dia akan menempati ruang yang kosong bagaikan udara. Melaju cepat bagaikan petir. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah merasakan aliran energi cahaya dalam tubuhmu." Jelas Azazel. "Sekarang kau konsentrasi dan rasakan." Titahnya.
Naruto mengangguk, tapi raut wajahnya menunjukkan sedikit keraguan. Azazel yang menyadari itu segera bertanya, "Ada apa?"
"Tidak. Hanya saja, apakah latihan ini akan lama? Aku tidak punya banyak waktu."
"Tenang saja. Memang latihan ini akan memakan waktu lama tapi jika berada di dimensiku kau jangan khawatir karena 1 detik di dunia nyata sama dengan 1 menit di dimensiku." Azazel berkata sambil menepuk bahu kanan Naruto, murid dadakannya.
Naruto tersenyum tipis. "Baiklah! Sekarang aku bisa belajar tanpa menghiraukan waktu."
Naruto langsung duduk bersila, dia memejamkan mata. Posisinya saat ini sama seperti seseorang yang sedang bertapa. Mengosongkan pikiran, berjalan jauh ke dalam alam bawah sadar. 3 menit berkonsentrasi akhirnya Naruto mulai merasakan sesuatu. Di dalam dirinya terdapat sesuatu yang bersinar sedang mengalir. Dia tahu bahwa itu adalah elemen cahayanya. Sinar cahaya itu membuat tubuh Naruto hangat agak panas. Maklum dia adalah iblis. Meskipun tubuhnya sudah melakukan operasi tapi tetap saja hukum alam berlaku, yaitu racun mematikan bagi bangsa iblis adalah cahaya.
Azazel tersenyum tipis. Muridnya ini memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Jadi tak perlu usaha keras untuk mendidik Naruto. Azazel hanya perlu memberikan arahan, selanjutnya Naruto yang berimprovasi. Selama dia hidup dan menjadi guru belum pernah Azazel mengajari murid yang susah diajar. Sebut saja Vali, dia adalah anak didik Azazel yang cerdas. Issei sang Sekiryuutei, meskipun jika dijelaskan secara normal akan susah tapi khusus untuk Issei Azazel memiliki metode latihan yang paling efektif. Berkat itu Issei dapat berkembang sangat pesat.
15 menit kemudian, Naruto membuka mata. Dia sudah mengenali karakteristik cahaya yang berada dalam tubuhnya sekaligus alirannya. Naruto bangkit berdiri lalu menatap Azazel. "Aku sudah mengenali karakteristik cahaya dalam diriku. Lalu selanjutnya apa?" Naruto terlihat tak sabar.
"Hmm … perkembanganmu dapat dikatakan cepat. Normalnya orang biasa butuh beberapa hari untuk memahami kekuatan yang berada di dalam tubuh mereka. Tapi kau, hanya dalam kurun waktu 15 menit sudah dapat mengenali karakeristik kekuatan di dalam tubuhmu. Hebat." Puji Azazel sambil tersenyum bangga. Mempunyai murid yang pintar merupakan sebuah kepuasan tersendiri.
"Selanjutnya, coba kau alirkan kekuatan cahayamu ke ujung jari telunjuk." Perintah Azazel.
Naruto paham apa yang diperintahkan Gubernur Jenderal Malaikat Jatuh itu. "Baiklah." Naruto lalu mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya tepat ke wajah Azazel.
Ciuuut
Tangan kanan Naruto mulai bersinar kuning keemasan. Cahayanya membuat mata Azazel silau, dia sedikit menyipitkan mata. 'Dia memiliki unsur elemen cahaya yang bagus. Ini sedikit berbeda dari milik Kokabiel.' Batin Azazel menganalisa cahaya yang keluar dari jari Naruto.
Ctik!
Azazel menjentikan jari. Sesaat kemudian muncul batu berukuran besar di depan mereka. Jarak batu itu mungkin sekitar 15 meter dari tempat mereka berdiri.
"Pertama-tama, tingkatkan energi cahayamu lalu tahan di ujung jari. Aku akan memberi intruksi, setelah itu kau langsung melepaskan seluruh energi cahayamu yang berada di jari telunjuk ke batu itu." Kata Azazel sambil menunjuk batu yang tadi dia buat.
"Siap." Naruto mengikuti arahan dari Azazel. Dia sedikit demi sedikit menambah volume cahaya ke dalam jari telunjuknya. Ada perbedaan di jari Naruto. Cahaya yang terpancar semakin silau, warna kuningnya semakin pekat, dan suara yang ditimbulkan semakin nyaring.
Azazel yang sedari tadi memperhatikan jari Naruto langsung memberi intruksi untuk melepaskan seluruh kekuatan cahaya ke batu di depannya. Pelepasan yang terjadi adalah cahaya Naruto berbentuk seperti laser yang langsung menembus batu besar itu. Tak ada kerusakan di batu itu selain lubang tempat jalur cahaya tadi. Wajah Naruto berubah muram. Kekuatan cahayanya hanya dapat melubangi batu di depannya saja. Tak ada efek besar yang ditimbulkan.
"Sepertinya prinsip kerja cahayamu sama seperti laser. Menghancurkan sesuatu yang mengenainya. Jika tidak mengenai maka tak terjadi apa-apa. Hmm … prinsip kerja cahayamu sedikit berbeda dengan yang dimiliki oleh malaikat atau malaikat jatuh." Azazel berkomentar sambil terus menatap lubang yang dibuat oleh Naruto.
"Ya. Aku tahu. Cahayaku tak dapat meledakkan sesuatu. Berbeda dengan ras kalian yang dapat meledakkan sesuatu dengan mudah menggunakan cahaya. Sejujurnya, prinsip kerja cahaya kalian lebih bagus dari prinsip kerja cahayaku." Keluh Naruto.
"Jangan jadi murung seperti itu. Jika kau berlatih dengan keras maka suatu saat mungkin prinsip kerja cahayamu akan melebihi rasku dan malaikat." Hibur Azazel sambil menepuk bahu muridnya. "Latihan selanjutnya adalah membiasakanmu menggunakan kekuatan cahaya sekaligus aku ingin mengukur seberapa besar kau memiliki kapasitas penampung elemen cahaya."
"Baiklah. Dan mungkin kapasitasku akan sama seperti Kokabiel."
"Mungkin kau benar mengingat dari siapa kau memiliki elemen cahaya. Sekarang cepat laksanakan perintahku!" kata Azazel lalu membuat beberapa batu besar di sekelilingnya guna sebagai target serang Naruto.
Naruto mulai menembakkan laser-laser cahayanya. Pertama-tama dia selalu menembakkan cahaya lewat jari, lalu Naruto mencoba lewat kaki dan ternyata berhasil. Serangannya juga semakin besar. Terbukti dari berapa besar lubang yang ditimbulkan Naruto. Azazel hanya melihat murid didiknya dari jauh sambil terus mengamati perkembangan kekuatan cahaya Naruto. Azazel sendiri memiliki ketertarikan dengan prinsip kerja elemen cahaya Naruto. Baginya ini seperti meneliti Sacred Gear. Cahaya murid didiknya berwarna kuning keemasan, sebuah warna yang cukup langka. Azazel tak memiliki cahaya berwarna kuning seperti Naruto.
30 menit berlalu. Kerusakan demi kerusakan kian bertambah. Seluruh batu yang dibuat Azazel sudah berlubang bahkan ada yang hampir musnah. Naruto terlihat kelelahan. Bukan kelelahan karena kehabisan tenaga melainkan …,
Bruk!
"Naruto! kau tidak apa-apa?" kata Azazel panik melihat tubuh Naruto yang tiba-tiba ambruk. Dia secepatnya menuju tempat muridnya. Azazel memopong tubuh Naruto yang dibanjiri keringat, samar-samar dia melihat luka bakar di jari-jari dan kaki Naruto.
"Aku tidak apa-apa … hanya saja … panas," kata Naruto lalu menghela nafas untuk menenangkan tubuhnya.
"Panas? Begitu. Tubuhmu sudah mencapai batas untuk menahan efek samping dari penggunaan elemen cahaya bagi ras iblis 'kan?" Azazel ingin meyakinkan asumsinya dengan menanyai langsung pada Naruto.
Naruto mengangguk pelan. "Ya. Meskipun aku telah melakukan operasi untuk membuat tubuhku tahan terhadap cahaya tapi tetap saja, lama kelamaan tubuhku mulai merasakan efeknya. Sepertinya aku harus melakukan beberapa operasi lagi." Jawab Naruto sambil menyeka keringat yang mengalir melewati pipinya. Tubuhnya lemas gara-gara tak kuat menahan rasa panas yang sangat menyiksa. Naruto sebenarnya telah merasakan panas sejak 5 menit lalu. Tapi dia tak peduli dan terus melanjutkan latihan. Akhirnya beginilah yang didapat Naruto sekarang.
"Kau harus istirahat dulu, bagaimana dengan kapasitas cahayamu?" Saran dan tanya Azazel sambil menyandarkan tubuh Naruto di salah satu batu besar yang belum hancur sepenuhnya.
"Sampai saat ini energi cahayaku telah berkurang setengahnya."
'Sepertinya kapasitas cahaya Naruto sama seperti Kokabiel.' Batin Azazel menganalisis. "Aku akan membawakan beberapa makanan dan minuman. Jadi tunggulah sebentar."
"Bukannya kau bisa membuat makanan dan minuman dengan mudah di dimensi buatanmu sendiri? Kenapa harus repot-repot membeli di dunia nyata?" heran Naruto.
"Makanan dan minuman di sini tidak lebih dari sekedar kebohongan belaka. Makanan di sini hanya membuatmu berpikir kenyang. Kenyatannya perutmu tidak terisi apa-apa. Terlebih saat kau keluar dari sini rasa kenyangmu akan sirna sepenuhnya. Jadi lebih baik memakan makanan yang nyata." Jelas Azazel lalu menghilang menuju dunia nyata untuk membeli beberapa makanan.
Naruto mengambil nafas beberapa kali. Dia menerawang langit gelap di atasnya. "Aku tak tahu Azazel-san bisa sebaik itu pada muridnya. Apakah dia tipe orang yang menyayangi murid? Sepertinya begitu. Ah tapi biarlah … selama aku mendapat apa yang kuinginkan itu sudah lebih dari cukup." Gumam Naruto yang diakhiri dengan seringai kecil.
"Aku harus bisa menguasai kekuatan cahayaku sebelum penyerangan dimulai. Inilah persiapanku."
Persiapan adalah hal yang ditekankan pada seluruh budaknya selama kurang lebih 2 hari ke depan agar dapat menggempur Fraksi Maou Lama dengan sukses. Naruto menyuruh semuanya mempersiapkan diri. Budak-budak intinya kini sedang berlatih mengasah kemampuan masing-masing. Contohnya Kamakuri yang sedang mengasah kemampuan benangnya, dia ingin benangnya menjadi lebih kuat dan tajam.
Sementara itu dengan Madara dan Yukiatsu. Mereka sedang berada di ruangan laboratorium untuk membuat dan memproduksi senjata pembunuh masal. Senjata yang dibuat Naruto dan yang lainnya adalah senjata baru. Rencananya mereka akan menggunakan Fraksi Maou Lama sebagai kelinci percobaan. Wow aksi yang nekat untuk sebuah tim yang menangtang sebuah fraksi. Mereka dengan enteng menganggap Fraksi Maou Lama sebagai kelinci percobaan. Tapi jika melihat kekuatan masing-masing personal, maka tim Naruto bisa disetarakan dengan sebuah fraksi yang tergolong cukup kuat.
Masing-masing anggota tim Naruto dapat disetarakan dengan 100 orang. Itu minimal, jumlah yang paling rendah. Naruto memiliki anggota-anggota kuat seperti Madara, Yukiatsu, Kamakuri, dan Walburga. Jika diratakan kekuatan tempur mereka setara dengan 1000 orang. Khusus untuk Madara, kekuatan tempur maksimalnya setara dengan 10000 pasukan iblis kelas rendah.
Untuk Naruto? mungkin kekuatan tempur maksimalnya setengah dari kekuatan Madara, yaitu setara dengan 5000 iblis kelas rendah. Itu masih kemungkinan, jika saja Naruto telah menguasai elemen cahaya dan Haki jenis ketiganya maka tidak mustahil Naruto akan melampaui Madara bahkan para Yondai Maou.
Tim Naruto bagaikan sebuah fraksi yang seluruh rasnya digabungkan menjadi tinggal 8 orang. Dan 8 orang itu memiliki kekuatan setara lebih dari 1000 orang. Hebat? Jelas! Tim Naruto adalah salah satu kandidat yang berpotensi menguasai dunia, itu pun jika mereka menginginkannya.
To Be Continued
AN: Beberapa chapter kemarin ada reviewer yang menanyai tentang botol yang akan dikasih Serafall, dan sudah terjawab di chapter ini. Sudah hilang 'kan rasa penasarannya?
Maaf telat tapi saya harus mengucapkannya, selamat hari raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.
1 bulan tak update, bulan puasa saya manfaatkan untuk menyicil fic-fic lainnya.
Mulai sekarang saya akan buka polling untuk pair Naruto. Tapi ingat, sekali lagi mohon di INGAT! Fic ini bukan bergenre romance. Jangan harap ada kisah-kisah kasmaran, paling mentok hanya adegan ciuman saja. Pair hanya ada di pengujung cerita. Siapakah yang akan mendampingi Naruto kelak? Silahkan kalian pilih masing-masing daftar wanita yang memiliki hubungan dekat dengan Naruto (saudara tak termasuk, contoh; Rias) di bawah ini;
-Serafall Leviathan
-Sona Sistri
-Walburga
-Valerie Tepes
-Raynare
-Ophis
Polling akan terus dibuka sampai penutup di chapter terakhir. Raihan suara terbanyak maka itulah yang akan menjadi pair Naruto.
Balasan review yang anonim:
The Dark King Rises: Apakah di sini ada karakter lainnya dari anime Naruto selain Naruto dan Madara? Ada. Lihat saja nanti.
THE RASTAVARA: Madara itu iblis atau apa Thor? Ya pasti iblis lah kan Madara sudah jadi budak Naruto. Sebelum jadi budaknya Naruto juga Madara asli iblis murni.
Aokiji159: Apa kekuatan Naruto dan Kizaru sama Thor dan kemampuan kenjutsu Naruto setara apa Thor? Untuk kekuatan cahaya Naruto, beberapa teknik saya akan samakan dengan milik Kizaru a.k.a Borsalino. Tapi tentunya ada beberapa perbedaan. Bagaimanapun, kekuatan cahaya Naruto bukan berasal dari buah iblis. Untuk kenjutsu? Naruto setara dengan siapa? Masih belum pasti. Yang pasti kenjutsu Naruto jauh di atas kenjutsu Kiba Yuuto.
Untuk review yang jawab letak markas Fraksi Maou Lama berada di kastil Cachtice, SELAMAT! Kalian menjawab dengan benar. Itu terbukti bahwa kalian ahlinya pelajaran IPS!
Dan 1 lagi, ini PENTING BAGI KALIAN YANG MENUNGGU FIC HYAKUJU NO NARUTO! fic itu akan di-update besok atau tidak lusa atau paling lambat 3 hari setelah chapter ini publish karena beberapa chapter fic Hyakuju no Naruto sudah rampung. Bwehehehe ….
Selamat menantikan update fanfiction Hyakuju no Naruto. Sekarang yang lebih penting adalah review chapter ini dulu dan isi polling-nya!
Terima kasih!
© Indra Kusuma
