Enjoy it!


Chapter 7

"The Destroyer"


Keesokan harinya, Naruto melihat pertandingan rating game adiknya. Cukup mengesankan untuk pemain baru seperti Magdaran. Dia pasti dilatih dengan keras oleh ayahnya. Jalan pertandingan cukup menarik karena masing-masing kubu saling berebut keadaan, maksudnya mereka saling mengambil alih kondisi di area pertandingan agar dapat menjalankan pertandingan sesuai kemauan masing-masing. Seperti halnya permainan sepak bola, siapa yang menguasai keadaan maka dia yang menjalankan pertandingan.

40 menit berlalu, kedua kubu terlihat mulai kelelahan. Para pemain satu demi satu berguguran. Naruto terus mengamati jalan pertandingan. Dia sekarang sedang membayangkan menjadi Magdaran yang sedang bertarung. Kenapa Naruto melakukan itu? karena ini sebagai latihan untuk meningkatkan keakuratan strategi. Kebiasaan Naruto adalah setiap kali ada pertandingan, dia selalu membayangkan menjadi salah satu kubu dan memikirkan rencana untuk menyerang di otaknya. Ini berguna untuk mengembangkan kemampuan strateginya.

1 jam telah berlalu dan Magdaran terlihat mulai menguasai keadaan. Dia semakin menyudutkan kubu lawan dan akhirnya dapat menang di waktu 1 jam 30 menit. Waktu yang cukup singkat dibandingkan dengan Naruto.

Naruto menghampiri adiknya di ruang istirahat. Beberapa budak Magdaran ada yang berada di rumah sakit karena mengalami luka serius.

"Selamat atas kemenangan pertamamu," kata Naruto menghampiri adiknya yang sedang duduk di pojok ruangan.

"Nii-sama! kukira kau tidak akan datang ke sini," Magdaran terlihat kaget sekaligus senang. Dia menghampiri Naruto.

"Mana mungkin. Aku 'kan sudah bilang kemarin akan melihat pertandinganmu."

"Be-benar juga, hehehe … itu berarti Nii-sama akan menepati janji 'kan? Nii-sama harus membawakanku tanaman langka dari dunia manusia."

"Tentu saja. Aku akan membawakanmu tanaman langka, kau hanya harus fokus pada rating game saja." Kata Naruto yang tentu saja tak akan lupa dengan perkataannya kemarin. "Kalau begitu aku pamit dulu, masih banyak pekerjaan di dunia manusia. Sampai jumpa Magdaran." Pamit Naruto yang langsung menghilang.

"Sampai jumpa Nii-sama."


Naruto muncul di ruang tengah rumahnya. Tak ada siapapun. Mungkin yang lainnya sedang sibuk menyiapkan persenjataan untuk besok. Naruto juga harus segera berlatih kembali sebelum matahari terbenam. Karena malam harinya Naruto gunakan untuk menyusun strategi jitu bersama yang lainnya. Sekarang dia tinggal harus mencari Azazel dan berlatih dengannya.

"Azazel-san pasti sedang memancing di tempat kemarin," gumam Naruto yang tak lama kemudian menghilang menuju tempat Azazel berada.

"Yo, Naruto. Bagaimana dengan pertandingan adikmu?" sapa dan tanya Azazel yang melihat Naruto muncul di sampingnya.

"Berjalan dengan baik. Magdaran memenangkan pertandingan dan sepertinya penguasaan Power of Destruction-nya meningkat." Jawab Naruto, duduk lalu mengambil pancingan yang tersedia.

"Hoh … sepertinya kau mulai menyukai olahraga memancing," ucap Azazel sambil mengusap janggutnya.

"Memang memancing termasuk olahraga?"

"Tentu saja. Olahraga untuk melatih kesabaran." Jawab Azazel mantap.

"Terserahlah. Yang penting, kapan kita mulai latihannya? Aku sudah tidak punya banyak waktu." Tanya Naruto serius pada Azazel. Seketika kail dari pancingan Naruto bergerak tanda ada yang memakan umpannya. Dengan sedikit tenaga Naruto menarik pancingannya. "Wow, aku langsung mendapatkan ikan berukuran besar."

Azazel yang melihat Naruto mendapatkan ikan dengan mudah bahkan ukurannya besar sedikit kesal dan tentu saja iri. Dirinya saja yang sudah menekuni olahraga memancing selama 15 tahun tidak sebegitu cepatnya mendapatkan ikan. Azazel perlu waktu 1 jam untuk mengumpulkan 3 ekor ikan. Sungguh rekor yang buruk. "Entah kenapa, tapi aku merasa iri padamu Naruto."

"Iri pada kekuatanku?"

"Bukan! Iri karena kau bisa dengan mudah mendapatkan ikan." Kata Azazel cukup kesal.

"Oh. Kalau itu biasa saja. Mungkin hanya kebetulan." Balas Naruto cuek. Hal seperti memancing ikan tak dapat ia banggakan karena memancing hanya membuang-buang waktu. Naruto tak perlu berbangga diri karena memancing, itu hanya akan menghabiskan tenaganya saja.

"Kembali ke awal, kau belum menjawab pertanyaanku," Naruto menatap Azazel dengan serius.

"Hah … baiklah. Ayo sekarang kita mulai latihannya. Dan aku tidak mengerti kenapa kau seperti terburu-buru begitu. Yang kuketahui jadwal pertandingan rating game-mu masih lama." Heran Azazel. Dia membereskan alat pancingannya dan disimpan di lingkaran sihir penyimpanan.

"Anak muda sepertiku punya segudang alasan kenapa latihannya harus buru-buru."

Jawaban dari Naruto tak membuat Azazel puas. Namun dia mengiyakan saja karena memang benar, anak muda zaman sekarang sulit dimengerti jalan pikirannya. Naruto memang punya alasan kenapa latihannya buru-buru, Azazel meyakini bahwa alasannya tidak jauh dari remaja yang beranjak dewasa masa kini. Alasan yang 'klise'. Itulah pemikiran Azazel, tapi apakah dia benar? Naruto memiliki alasan klise? Sepertinya Azazel salah dan termakan omongan Naruto. menghancurkan 1 fraksi bukan alasan klise bagi remaja yang beranjak dewasa seperti Naruto. Singkatnya Naruto berbohong pada Azazel dan Azazel percaya pada omongan Naruto.

Di lokasi lain, tepatnya di gereja tua yang menjadi saksi bisu insiden pelepasan sacred gear Asia Argeto, terlihat 2 orang sedang berhadapan. Perempuan dan laki-laki. Mereka dulunya adalah dalang dari insiden Asia Argeto, Raynare dan Dohnaasek. Mantan malaikat jatuh yang dulunya diselamatkan oleh Naruto.

"Hm, membangkitkan kenangan masa lalu ya …," gumam Dohnaseek sambil menerawang ruangan bawah tanah gereja.

"Benar, kenangan yang ingin sekali kulupakan." Timpal Raynare.

"Heh, apa karena kau dipermalukan oleh gadis Gremory itu?" tanya Dohnaseek yang sedikit mengejek rekannya.

"Jangan bicara seperti itu! dulu memang dia lebih kuat daripada aku, tapi sekarang aku akan membuktikan bahwa akulah yang terkuat!"

"Hmm … buktikan pada siapa?"

"Tentu saja pada bocah Gremory itu dan …,"

"Dan?"

'Dan pada Naruto-sama.' Jawab Raynare, sayangnya hanya terucap dalam hati. Dia hanya menyuruh mantan anak buahnya untuk tidak bersuara lagi.

"Nah sekarang kita akan latihan apa?" tanya Dohnaseek sambil membenarkan topinya yang sedikit miring ke kanan. Sejak kemarin, dia dan Raynare telah latihan bersama untuk mempersiapkan penyerangan pada 1 fraksi besok. Bukan apa-apa, masing-masing butuh teman tanding untuk meningkatkan skill mereka.

"Ayo kita latih tanding dengan menggunakan kekuatan cahaya saja." Jawab Raynare.

"Baiklah, aku tak keberatan."

Mereka berdua mengepakkan sayap masing-masing, bersiap untuk menyerang satu sama lain. Tak ada raut wajah yang mereka tunjukkan selain keseriusan. Ya, keseriusan adalah dasar pertama dari sebuah pertarungan. Jika tak memiliki keseriusan maka mustahil untuk menang dalam pertandingan. Itulah pembelajaran yang Raynare dan Dohnaseek dapat dari Naruto. Sekarang mereka sadar kenapa dulu mereka dapat dikalahkan oleh Rias dan anak buahnya. Kesombongan yang dimiliki oleh Raynare dan Dohnaseek menjadikan mereka tak memiliki keseriusan. Dalam pertarungan mereka akan memandang remeh lawan dan hanya bermain-main, itulah yang menyebabkan mereka kalah.

Keduanya membuat 1 tombak cahaya. Merah dan biru. Kedua warna itu yang kini menerangi ruangan minim cahaya ini. Dengan bentuk tombak yang berbeda keduanya melesatkan serangan masing-masing, tanpa ada keraguan.

Drak

Tombak merah milik Raynare dan biru milik Dohnaseek bertabrakan. Saling mendorong satu sama lain. Ingin membuktikan siapa yang lebih kuat. Beberapa kilatan tercipta akibat gesekan kedua serangan itu. Dan akhirnya, kedua tombak cahaya itu saling meledak. Tak ada yang menang, tak ada yang kalah.

"Nampaknya kemampuan cahayamu telah berkembang pesat, Dohnaseek." Puji Raynare, namun dengan pandangan sinis.

Dohnaseek mengartikan ucapan mantan bossnya sebagai ejekan jika melihat raut wajah Raynare. "Dan kau tidak ada perkembangan sedikit pun,"

"Jangan sombong hanya karena dapat menahan tombak cahayaku. Kau tahu, tadi aku hanya bermain-main saja."

"Begitukah, tapi yang aku lihat kau mengerahkan seluruh tenagamu tadi." Balas Dohnaseek tak mau kalah.

Raynare hanya tersenyum tipis menanggapi omongan Dohnaseek. "Kita sudah terlalu banyak mengobrol, sebaiknya kita lanjutkan saja pertarungannya."

"Baiklah."

Keduanya pun memulai pertarungan kembali untuk membuktikan kekuatan cahaya siapa yang lebih kuat.

Sementara itu dengan Madara dan Yukiatsu yang berada di ruang laboratorium, mereka terlihat sedang mempersiapkan senjata pemusnah untuk diuji cobakan nanti. Keduanya memang hanya berfokus pada pembuatan senjata saja. Soal latihan? Jelas Madara tak perlu melakukannya. Yukiatsu pun sudah hampir menguasai kekuatannya. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Apa kau yakin senjata pemusnah ini akan bekerja sebagaimana mestinya?" tanya Yukiatsu pada Madara.

"Hn. Tentu saja, jangan meremehkanku kalau soal membuat senjata pemusnah. Dulu aku sering ditugaskan menjadi pemimpin kelompok pemusnah saat Great War berlangsung. Aku sudah mempelajari banyak metode tentang cara pembunuhan masal. Terlebih zaman sekarang teknologi semakin canggih, itu semakin memudahkanku untuk membuat senjata yang sempurna."

"Begitu, itu artinya kau sudah membunuh ratusan orang 'kan?"

"Bukan, tapi ribuan atau mungkin puluhan ribu. Entahlah aku tak bisa menghitungnya." Jawab cuek Madara yang masih fokus pada senjata pembunuh masal di tangannya. "Kau sendiri bagaimana?"

"Aku pernah membunuh seseorang yang sangat kubenci,"

"Bagaimana perasaanmu saat pertama kali membunuh?"

"Yang pertama kali kurasakan adalah senang karena bisa melenyapkan orang yang sangat kubenci. Tapi beberapa saat kemudian perasaan bersalah muncul dan mengganggu pikiranku selama beberapa hari." Jawab Yukiatsu.

"Hn. Itu normal untuk ukuran mantan manusia sepertimu."

Keduanya kembali terdiam, fokus pada masing-masing pekerjaan. Total ada 5 buah senjata pemusnah yang sudah dirakit Madara. Yukiatsu hanya membantu saja.

Laboratorium yang dibuat Naruto belum secanggih laboratorium yang ada di organisasi besar. Naruto masih perlu membeli beberapa barang untuk melengkapi kebutuhan di ruang ini. Itu sebabnya dia perlu uang yang banyak karena barang-barang yang dibutuhkan Naruto harganya sangat mahal. Jika mau, Naruto bisa dengan mudah meminta uang pada orang tuanya. Tapi dia tidak mau, harga dirinya akan turun. Naruto sudah besar, mana mungkin dia meminta uang pada orang tuanya seperti anak kecil.

"Jadi … kau dulunya adalah pemimpin clan Uchiha? Salah satu clan yang berpengaruh di Underworld pada zamannya."

"Ya. Aku mantan pemimpin clan Uchiha menggantikan Ayahku yang waktu itu gugur di medan perang."

"Lantas kenapa kau mau menerima tawaran Naruto-sama untuk menjadi budaknya? Jujur, aku bingung dengan jalan pikiranmu. Dengan kekuatanmu kau bisa dengan mudah menguasai dunia." Bingung Yukiatsu.

"Hn, mungkin kau benar. Tapi aku tak tertarik untuk menguasai dunia seperti si maniak Rivezim. Aku yang dulu dan yang sekarang berbeda, kenyataannya aku sudah mati dan dibangkitkan lagi. Kau ingin tahu apa keinginanku? Sederhana, aku hanya ingin mencari kesenangan saja. Merakit senjata pemusnah, menghancurkan fraksi, itulah kesenanganku."

"Meskipun menjadi budak yang disuruh-suruh?"

"Hn. Selama itu berhubungan dengan kesenanganku tak apa." Seperti biasa, Madara membalas perkataan Yukiatsu dengan datar.

"Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu." Frustasi Yukiatsu yang kembali mengerjakan pekerjaannya. Tak mau lagi bertanya pada Madara, itu hanya akan membuat kepalanya pusing.

Jauh di hutan barat Kuoh, Valerie dan Walburga terlihat sedang latihan bersama. Mereka melakukan sparring habis-habisan karena sekarang adalah latihan terakhir untuk menjalankan misi penghancuran 1 fraksi. Mereka berdua terlihat serius dengan Valerie yang sudah memasuki mode True Phoenix-nya yang seluruh tubuhnya telah menjadi burung Phoenix raksasa. Walburga pun sama, kedua tangan dan wajahnya mengeluarkan lava panas. Sangat panas hingga menggosongkan pohon-pohon di sekitarnya karena hawa panas dari Walburga.

"Buah iblismu sangat merepotkan," kata Walburga. Dia sudah berulang kali melancarkan serangan namun Valerie dapat menyembuhkan dirinya dengan cepat.

"Dan Walburga-san juga sulit diserang." Kata Valerie, terbang tinggi di udara sana.

Dilihat dari kondisi saat ini. Keduanya belum ada yang menguasai jalannya pertandingan. Pertama, Walburga yang terus melancarkan serangan lava panasnya namun Valerie dapat menyembuhkan diri dengan cepat. Kedua, Valerie yang terus melancarkan serangan fisik namun tak menimbulkan dampak apapun karena buah iblis Walburga adalah tipe logia yang tak bisa disentuh.

Sungguh pertarungan yang hebat! Keduanya memiliki kemampuan untuk bertahan dari luka dengan kelebihan masing-masing. Kondisi saat ini masih sebanding. Tinggal menunggu siapa yang lebih dulu kehabisan tenaga, dialah yang kalah.

'Sekali lagi.' Batin Walburga dan Valerie bersamaan.

Mereka melancarkan serangan masing-masing, dengan taktik masing-masing pula. Cahaya kuning kemerahan berpedar saat tinju lava Walburga bertabrakan dengan tendangan Valerie.

Semua sedang mempersiapkan diri untuk hari esok, kecuali satu orang, Kamakuri. Dia sedang berada di Underworld, tepatnya di wilayah kekuasaan clan Cracker. Seperti biasa, Kamakuri melihat pemandangan orang-orang saling bertarung di atas ring. Ingin membuktikan siapa yang lebih kuat karena 'kuat' dijadikan patokan dasar seberapa besar harga diri yang dimiliki. Semakin kuat seseorang maka harga dirinya semakin tinggi. Pemilihan pemimpin clan pun dipilih dengan cara turnamen. Benar-benar clan pecinta pertarungan!

"Yo Kamakuri, lama tak bertemu," sapa seseorang yang menghampiri Kamakuri.

"Ternyata kau," balas Kamakuri datar, terkesan malas.

"Berhentilah berekspresi seperti itu! kau membuatku jijik! Ngomong-ngomong pertandinganmu di rating game kemarin cukup bagus. Kenapa kau tidak mengeluarkan kekuatan aslimu? Aku yakin kau dapat mengatasi tim Rias-sama seorang diri."

"Kau benar. Tapi aku tak tertarik."

"Berhentilah menampilkan ekspresi seperti itu! kau membuatku semakin jijik saja!"

"Bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang?" tanya Kamakuri menghiraukan perkataan temannya.

"Membosankan … Underworld saat ini sedang damai. Tak ada konflik, otomatis tak ada pertarungan. Aku bahkan bisa tidur saat berjaga di perbatasan."

Kamakuri tersenyum tipis, 'Sebenarnya ada konflik yang sedang memuncak. Andai saja Naruto tidak mengambil misi untuk menghancurkan fraksi Maou Lama mungkin 1 minggu ke depan kau akan merasakan kesenangan dari pertarungan. Ngahaha … aku lebih beruntung darimu yang bisa merasakan lebih banyak kenikmatan bertarung.' Batin Kamakuri, sedikit mengasihani temannya.

"Kalau begitu selamat menikmari hari-hari bosanmu." Kata Kamakuri yang berjalan meninggalkan teman masa kecilnya.

Waktu berlalu dengan cepat. Sekarang sudah malam hari di dunia manusia, yang berarti rapat strategi sebentar lagi akan dilakukan oleh Naruto beserta seluruh budaknya. Mereka berkumpul di ruang laboratorium. Naruto menjelaskan rencana dengan sangat detail. Setelah rapat strategi selesai, mereka semua bergegas istirahat untuk hari esok.


Keesokan harinya di kastil Cachtice, Naruto beserta seluruh budaknya sudah berada tidak jauh dari lokasi target, di antara pohon-pohon yang menjuang tinggi, mereka semua berkumpul. Kastil Cachtice dulunya dijadikan tempat wisata sejarah oleh pemerintah setempat, namun beberapa puluh tahun yang lalu kastil ini ditutup karena alasan yang tidak jelas. Dan Naruto mengetahui bahwa dalang dari semuanya adalah Shalba dan Creuserey.

"Semua sudah siap?" tanya Naruto. Yang lainnya hanya mengangguk.

"Baiklah. Raynare, segera siapkan kamera sesuai arah mata angin, hubungkan koneksi pada seluruh pelanggan kita!" perintah pertama Naruto.

"Baiklah Naruto-sama!"

"Madara, buat menghalang dengan radius 10 km. Setelah itu Kamakuri akan melapisinya dengan teknik sangkar burung. Sisanya lanjutkan sesuai rencana."

"Hn."

"Sesuai dengan perintahmu."

Naruto memindahkan dirinya, Madara dan Kamakuri ke atas kastil Cachtice yang dijadikan sebagai pusat pertempuran. Mereka berdua segera menyiapkan teknik masing-masing.

Uchiha Kaenjin

Tori Kago

Madara membuat sebuah kekkai yang sangat tebal berwarna merah dengan radius 10 km. Penghalang itu jika disentuh akan membakar tubuh. Tak ada yang bisa lepas dari kurungan Madara. Sementara dengan Kamakuri, dia membuat sebuah kubah dari benang-benangnya yang membentuk sangkar burung. Teknik milik Kamakuri kekuatannya hampir sama seperti kekkai buatan Madara. Sebuah kombinasi yang cukup apik untuk orang seperti mereka berdua.

"Para serdaru mulai keluar menuju arah kita. Sepertinya mereka cepat tanggap mengetahui kehadiran kita." Kata Naruto yang melihat ratusan tentara iblis terbang menuju arah mereka. "Rencana selanjutnya," Naruto menjentikkan jari sebagai pertanda sesuatu.

Tak lama kemudian, muncul puluhan meteor lava dari balik pepohonan lebat tempat Walburga berada. Puluhan meteor lava itu meluncur ke atas, sesaat kemudian jatuh menuju ratusan iblis yang terbang di udara.

"HINDARI METEOR ITU!

"BUAT SIHIR PERTAHANAN!"

"Argghh!"

"Tak berhasil! Meteor itu terlalu kuat!"

Suara ricuh Naruto dengar dari kerumunan iblis yang sedang dihujani meteor Walburga. Hampir semua pasukan mereka mati kecuali beberapa orang. Sepertinya yang berhasil selamat memiliki kekuatan di atas rata-rata.

"Rencana pertama cukup sukses," kata Madara sambil membusungkan dadanya. Kesombongannya sebagai Uchiha mulai ia perlihatkan.

"Seperti yang diprediksi, para serdadu mulai bermunculan keluar dari kastil di berbagai arah. Mereka sepertinya menyadari bukan hanya kita saja yang ada di sini." Kata Kamakuri.

"Itu berarti rencana akan berjalan mulus. Kita mempunyai 5 buah senjata pemusnah masal. Yukiatsu sudah berada di titik utara, Raynare di selatan, Valerie di timur, dan Dohnaseek di barat. Masing-masing dari mereka sudah memegang 1 senjata pemusnah masal. Sisanya dipegang oleh aku." Kata Naruto dengan seringai tipis.

Walburga yang kemungkinan posisinya sudah diketahui langsung bergerak sesuai rencana. Tujuannya menyusup ke dalam kastil untuk mengambil sesuatu. Tapi dia tidak bergerak lurus, melainkan memutar agar musuh tak cepat menemukan posisinya.

"Akhirnya pemimpin mereka muncul juga, Shalba Beelzebub dan Creuserey Asmodeus."

Shalba, seorang iblis keturunan sejati Maou Beelzebub yang memiliki rambut panjang berwarna coklat terbang cepat bersama Creuserey, laki-laki yang memiliki rambut hitam panjang serta telinga lancip. Mereka berdua terbang menuju tempat Naruto, Kamakuri, dan Madara berada.

"Bocah, berani-beraninya kau menyerang ke wilayah kami." Geram Shalba yang tidak lama kemudian terkejut melihat kehadiran Madara. "K-kau?! Tidak mungkin! Seharusnya kau sudah mati. Kenapa kau bisa ada di sini, Madara Uchiha?" tanya Shalba yang terkejut, begitu pun dengan Creuserey.

"Hn. Memberi tahu orang sepertimu yang sebentar lagi mati hanya akan sia-sia." Balas datar Madara sambil memandang remeh Shalba dan Creuserey.

"Kenapa kalian bisa mengetahui tempat persembunyian kami?" tanya Creuserey.

"Apa kalian bodoh? Tentu saja kami tidak akan menjawab pertanyaan itu." Jawab Kamakuri.

"Satu hal yang harus kalian ketahui. Kami di sini dengan tujuan untuk membantai fraksi Maou Lama atas perintah Maou Sirzech Lucifer dan permintaan Ophis." Kata Naruto yang membuat 2 orang di depannya terkejut bukan main.

"Lucifer? Ophis? Ada apa sebenarnya ini?"

Shalba dan Creuserey jelas sangat kebingungan. Yang membuat mereka bingung adalah apa hubungan Sirzech Lucifer dan Ophis. Jika dilihat satu-satu, mereka paham maksud perkataan Naruto. Sirzech Lucifer kemungkinan besar mengetahui rencana mereka yang ingin mengkudeta rating game dan memutuskan untuk menyerang fraksi Maou Lama lebih dulu. Sedangkan Ophis, mereka paham cepat atau lambat naga perlambang ketidakbatasan itu akan melakukan penyerangan karena Shalba dan Creuserey berkhianat setelah mendapatkan kekuatan dari Ophis.

Yang mereka bingungkan, apa hubungan Sirzech dan Ophis?

"Kau tak perlu mengetahui yang sebenarnya. Karena kau, tidak … tapi kalian semua akan mati di sini." Kata dingin Madara lalu mengeluarkan killing intens-nya. Cukup untuk membuat orang yang disekitarnya berkeringat dingin, termasuk Naruto.

Madara menutup mata lalu membukanya perlahan. Sepasang sharingan bersinar seketika. Kekuatan sejati dari seorang Uchiha, kutukan mata. Madara merentangkan tangan kanannya ke depan, membuat lingkaran sihir yang berwarna merah dan di tengahnya terdapat lambang kipas angin, lambang clan Uchiha. Dari lingkaran sihir itu, muncul sebuah kipas berukuran besar. Itu adalah senjata utama Madara.

Shalba dan Creuserey hanya menatap aksi Madara dengan datar. Tak ada sedikitpun rasa takut akan kehadiran seorang Madara Uchiha. Mereka memiliki kepercayaan diri tinggi setelah mendapatkan kekuatan dari Ophis, mungkin.

"Semua prajurit! Serang mereka bertiga!" perintah Shalba.

Semua prajurit iblis yang totalnya lebih dari ribuan menyiapkan serangan masing-masing, dari segala arah. Atas, bawah, kanan, kiri semuanya telah terisi oleh para prajurit Maou Lama. Naruto, Kamakuri, dan Madara tak memiliki ruang untuk kabur atau menghidar.

"Ini menarik! Bagaimana kita akan selamat dari serangan ribuan prajurit iblis sekaligus? Bahkan iblis kelas atas pun tak akan sanggup bertahan dari serangan berskala besar ini." Kata Kamakuri yang telah menyeringai sepenuhnya, tanda bahwa ia sedang senang karena mendapatkan sensasi seperti ini.

"Hmm …," Naruto mencoba berpikir dengan raut wajah yang dibuat kebingungan. Seakan-akan bahaya yang sedang dihadapinya hanyalah main-main. Sebenarnya Naruto memiliki beberapa rencana untuk menghindar.

Cahaya-cahaya silau mulai muncul, tanda serangan sudah di ujung jari. Tinggal tunggu perintah selanjutnya dan … BAAM!

Para budak Naruto terlebih yang bergender perempuan mengkhawatikrkan majikannya. Tapi saat ini mereka tak bisa melakukan apapun karena tak ada perintah dari Naruto.

"Serang!"

Laser-laser demonic power yang tak terhitung jumlahnya mulai menghujani mereka bertiga.

"Madara," perintah Naruto.

Madara menghela nafas pelan, "Baiklah."

Duar! Duar! Duar!

Entah sudah berapa banyak ledakan yang terjadi di tempat Naruto dan budaknya. Yang pasti, siapapun yang melihat itu akan mengira bahwa Naruto, Kamakuri, dan Madara tidak akan mungkin selamat. Mungkin jika ada sedikit keberuntungan maka mereka hanya akan mengalami luka berat.

5 menit kemudian, hujan laser selesai. Kepula asap putih menghalangi pemandangan tempat Naruto dan yang lainnya berada. Shalba dan Creuserey menyeringai sadis. Mereka yakin musuh sudah lenyap dari muka bumi tapi …,

"APA?!"

"Ti-tidak mungkin!"

Ya. Shalba dan Creuserey terkejut, sangat terkejut melihat ketiga musuhnya masih dalam keadaan baik-baik saja di dalam sebuah makhluk astral berwarna biru transparan.

"Cih, untuk serdadu lemah seperti mereka lumayan juga bisa membuat armor susanoo tahap pertamaku hampir hancur." Kesal Madara yang sudah mengaktifkan Eternal Mangekyou Sharingan.

"Serangan dari seluruh prajurit tak mampu untuk membunuh mereka bahkan memberikan luka. Kita tak boleh meremehkan mereka, Shalba." Kata Creuserey serius.

"Ya. Aku setuju denganmu."

Madara menghilangkan susanoonya. Matanya kembali menjadi sharingan biasa. Kedua tangannya dilipatkan di depan dada. Gaya khas Madara.

"Shalba, aku akan maju duluan," kata Creuserey yang maju beberapa meter ke depan, seakan menantang 3 musuhnya secara langsung. Sungguh dia memang iblis yang memiliki keberanian tinggi, atau bodoh karena tak memikirkan resiko yang akan di dapat?

"Mungkin kalian belum mengenalku lebih dalam kecuali orang berambut hitam di sana," kata Creuserey sambil menunjuk Madara. "Perkenalkan, namaku Creuserey Asmodeus. Keturunan sejati dari Maou Asmodeus dan satu-satunya orang yang berhak menyandang gelas Maou. Tidak seperti pemimpin kalian para Maou palsu." Katanya angkuh.

"Untuk ukuran keturunan Maou sejati dia cukup banyak omong juga," kata Kamakuri mengejek Creuserey.

Creuserey memandang daerah sekitar, "Pertama, kekkai yang dibuat dengan benang. Kedua, teknik teleportasi tanpa lingkaran sihir, dan terakhir hujan meteor lava. Sepertinya aku tahu siapa kalian sebenarnya. Kalian adalah tim yang berjuluk Akuma no Mi 'kan? Dengan diketuai oleh Naruto Bael sang pemegang julukan Surgeon of Death. Apa aku salah?" Tanya Creuserey.

Shalba yang berada di belakang memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mencari keberadaan musuh yang lain. Dia sangat yakin ada beberapa musuh yang sedang bersembunyi. Namun Shalba tak dapat mendeteksi keberadaan mereka.

"Hmm … aku cukup tersanjung orang besar sepertimu mengetahui identitas kami." Jawab Naruto kalem.

"Kalau itu benar maka …," Creuserey menggantungkan kalimatnya. Dia menutup mata lalu membukanya perlahan sambil melihat ke arah selatan. Tangannya mulai dia rentangkan, memperlihatkan telapak tangan yang berbentuk seperti kaki hewan. Hal itu membuat Naruto dan yang lainnya merasakan firasat buruk.

Pad Ho

Blam!

Sebuah meriam udara kasat mata yang berbentuk kaki hewan keluar dari telapak tangan Creuserey dan melesat menuju tempat Raynare bersembunyi.

Duar!

"Arghh!"

"Raynare!" teriak Naruto. 'Sial! bagaimana dia mengetahui posisi Raynare dengan cepat?!' batin Naruto yang menatap tempat Raynare. "Jangan-jangan?!"

"Benar. Aku sama dengan kalian, pengguna buah iblis. Nikyu Nikyu no Mi." Kata Creuserey dengan seringai kejinya.

"Semua prajurit yang ada di selatan! Serang lokasi musuh berada dengan kekuatan penuh!" perintah Shalba.

"INI BURUK! Kamakuri, segera pergi ke tempat Raynare dan lindungi dia!" kata Naruto panik.

"Baik-"

"Hoo … tidak secepat itu,"

Sebuah suara dingin terdengar dari atas kepala Kamakuri. Dia menatap ke atas dan melihat Shalba yang sebagian tubuhnya sudah berubah menjadi es. Shalba merentangkan tangan kanannya yang telah berubah menjadi es menuju atas kepala Kamakuri dan memegangnya.

Ice Age

"Sial!" umpat Kamakuri sebelum seluruh tubuhnya diselimuti es dingin dan jatuh ke bawah.

Tapi tak lama kemudian Kamakuri dapat menghancurkan es yang menyelimutinya. Tubuhnya belum bisa dia gerakkan dengan leluasa karena masih kaku. Jika terus begini nyawa Raynare bisa terancam. Kamakuri hanya dapat tergeletak di lantai dengan ekspresi kesalnya.

"Sekarang giliranku memperkenalkan diri 'kan? Namaku Shalba Beelzebub, keturunan sejati dari Maou Beelzebub sekaligus pengguna buah iblis Hie Hie no Mi. Logia tipe." Kata Shalba dengan nada sombongnya.

Kali ini Naruto benar-benar dibuat terkejut. Dia sama sekali tidak memprediksi akan hal seperti ini. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Apa yang harus Naruto lakukan sekarang? Prioritas utamanya adalah menyelamatkan Raynare. Tapi itu tidak mudah melihat 2 musuhnya memiliki kekuatan yang tak diduga. 2 budaknya telah dijatuhkan hanya dengan 1 kali serangan.

"Sial! apa yang harus aku lakukan?" gumam Naruto dengan tubuh bergetar.

To Be Continued


AN: Terkejut dengan Shalba dan Creuserey yang memiliki kemampuan buah iblis? Ngahah … pertarungan akan menjadi lebih menarik di chapter depan. Keep reading!

Saya akan mengumumkan hasil polling di chapter 6;

-Serafall Leviathan: 12

-Sona Sistri: 8

-Valerie Tepes: 2

-Raynare: 5

-Walburga: 4

-Ophis: 4

Note: Yang milih lebih dari satu saya tidak akan hitung, misalkan mini harem. Di sini Naruto pair-nya single. Tetap terus voting karena masih ada kesempatan. Raihan suara di atas masih belum pasti siapa yang akan menjadi pair Naruto.

Balasan review anonim:

Otsutsuki renal afra: Apa di sini Naruto mempunyai Kurama di dalam tubuhnya? Tidak.

The Dark King Rises: Kalau boleh tahu anda tinggalnya di daerah mana Thor? Bandung. Dan kekuatan Madara sama seperti di dunia shinobi atau memiliki kekuatan baru? Sama seperti di dunia shinobi.

Aokiji159: Bukannya yang paling memasteri elemen cahaya adalah Michael, kenapa bukan dia? Memang benar Michael yang paling memasteri, tapi Azazel juga tidak kalah dengan Michael. Lalu bagaimana dengan mitologi-mitologi lain? Tak akan diterangkan secara keseluruhan. Hanya bagian-bagian penting untuk kepentingan alur cerita saja.

Uchihatsurumi: Naruto sama peerage-nya akan pakai strategi apa untuk menyerbu markas fraksi Maou Lama? Sudah mulai terlihat di atas. Tunggu saja kelanjutannya.

Segitu saja dulu yang bisa saya jelaskan. Untuk update selanjutnya adalah fanfiction Ikemen.

Terima kasih banyak dan jangan lupa review sebanyak-banyaknya!


© Indra Kusuma