From The Darkest Side (AkaKuro vers)

Remake Novel "From The Darkest Side"

By: SANTHY AGATHA

Disclaimer: Tadatoshi fujimaka

Author: Lusarahan (panggil ajah akaine-cchi :v)

Cast: Akashi Seijuro, Akashi Saijuro, Kuroko Tetsuya dll.

Pairing: Akakuro

Genre: Romance, Thriller, Mistery

Rated: M

Length: Chapter

Warning: OOC, Typos and miss typos, gaje, alur terlalu bertele-tele,

.

.

.

.

.

Meskipun sudah berjanji pada Seijuro untuk menahan diri, dia tetap saja mendatangi Tetsuya di kamarnya.

Seijuro bisa marah, nanti. Tapi dia tidak peduli. Bagaimana mungkin dia tahan berdiam diri begitu saja saat pria yang sudah ditunggu-tunggunya sekian lama sekarang ada di rumah yang sama dengannya ?

Dia berdiri di sudut ranjang, mengamati tetsuya yang tertidur pulas seperti bayi.

Sejenak kemarahan menyelimuti hatinya,

Sampai kapan dia hanya bisa melihat tetsuya di saat pria itu sedang tertidur?

seijuro harus cepat. Mereka sudah sepakat tentang tetsuya, padahal jarang sekali mereka berdua sepakat. Dia dan seijuro bertolak-belakang dalam segala hal.

seijuro cenderung baik hati dan menggunakan cara-cara pintar untuk meraih tujuannya, sedangkan dia selalu menggunakan cara-cara licik – licik, bukan pintar – untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dan seperti yang seijuro katakan tadi, dia sangat kejam.

Tapi tetsuya adalah pemuda yang sudah menyentuh perasaannya. Mungkin pemuda itu sudah melupakannya, bahkan mungkin pemuda itu tidak menyadarinya, tapi kejadian dua belas tahun lalu itu tidak akan pernah dilupakannya. Pertemuan pertamanya dengan tetsuya sekaligus hari di mana dia memutuskan akan memiliki tetsuya.

seijuro harus memaklumi ketidak sabarannya, dia sudah menunggu selama dua belas tahun. Menunggu dan menunggu sampai tetsuya siap menjadi miliknya. Dan sekarang pemuda itu ada di depan matanya.

Dia mendekat, tangannya menyentuh pipi tetsuya dengan lembut. tetsuya bergeming, masih pulas, tidak menyadari ada sosok yang mengamatinya lekat di tepi ranjangnya.

"Kau milikku Tetsuya, jangan lupakan itu."

Tetsuya bermimpi. Dia berada di sebuah taman hiburan yang sangat ramai. Penuh dengan pedagang dan para orangtua yang menggandeng anak-anak mereka. Suara musik dari berbagai stan permainan dan suara-suara manusia terdengar bercampur menjadi satu, riuh rendah di telinganya.

"tet-chan, jangan ke situ." suara baa-channya terdengar memperingatkan.

Tetsuya mengernyit. Baa-channya masih hidup? Dia menolehkan kepalanya dan mendapati baa-channya berdiri di belakangnya, baa-channya benar-benar masih hidup. Hidup dan tampak lebih muda.

Dengan bingung Tetsuya mengamati sekeliling, dan menyadari kalau bukan dia yang dipanggil baa-channya. Di sana berdiri seorang anak, mungkin delapan tahun, kurus, dan agak canggung. Itu adalah dirinya yang masih berumur delapan tahun!

"Jangan bermain terlalu jauh tet-chan, baa-chan tidak mau kamu tersesat, di sini sangat ramai." baa-channya menggandeng tangan Tetsuya kecil. Lalu membawanya ke sebuah kursi kosong yang terletak di pinggir taman.

"Duduk di sini dulu, baa-chan akan membelikanmu es krim," kata baa-channya sambil menunjuk stan es krim dengan antrian pembeli yang panjang, yang terletak kurang dari seratus meter dari tempat mereka, "Jangan kemana-mana dan jangan berbicara dengan orang asing. Kalau ada apa-apa teriak saja, baa-chan pasti akan mendengarnya."

Tetsuya kecil mengangguk, tapi matanya memandang sekeliling dengan penuh semangat.

Tetsuya tetap mengamati dari kejauhan, kenangan ini masih terpatri samar-samar di benaknya, kenangan saat pertama kali dia di ajak ke taman hiburan.

Tiba-tiba Tetsuya kecil melangkah turun dari kursi, dan mulai berjalan menjauh.

Tetsuya langsung panik,

Hey… Kembalilah, kau bisa tersesat!

Dengan gugup Tetsuya menoleh ke arah sang baa-chan yang sedang antri di stan es krim, dia ingin berteriak tapi entah kenapa suaranya tidak keluar. Setelah beberapa kali usaha yang sia-sia, akhirnya Tetsuya memutuskan untuk mengikuti Tetsuya kecil.

Tetsuya kecil terus berjalan sambil mengamati sekelilingnya dengan penuh rasa tertarik, tidak menyadari bahwa dia makin tersesat menembus keramaian. Dengan susah payah tetsuya berusaha mengikuti sampai kemudian mereka berdua sampai di pinggiran taman, berlokasi di bagian belakang stan yang sepi.

Tetsuya pucat pasi ketika sadar, pemandangan yang ada di depan mereka sungguh mengejutkan, di sana ada sosok lelaki dengan pakaian rapi, sedikit acak-acakan karena baru saja berkelahi. Rambutnya yang sedikit lebih panjang daripada seharusnya menutupi sisi wajahnya, lelaki itu berdarah di bahunya, darahnya merembes menembus kemeja putihnya. Tangan lelaki itu memegang pisau yang penuh darah…. Dan di depannya… di depannya tergeletak sesosok lelaki lain besar dan berpakaian kusam, dengan perut terluka parah oleh tusukan pisau, sosok itu tidak bergerak. Mati.

Lelaki tampan itu menoleh dan melihat Tetsuya kecil sedang terpaku menatapnya. Seperti neneknya tadi, lelaki itu sepertinya juga tidak menyadari kehadiran Tetsuya, dan entah bagaimana Tetsuya seolah-olah terpaku, hanya bisa melihat, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Well, halo nak", sapa lelaki itu sambil tersenyum mempesona, "Apakah kau tersesat?" tanpa peduli lelaki itu melipat pisau penuh darah di tangannya dan memasukkannya ke saku.

Tetsuya kecil mengerutkan keningnya, "Aku belcama obaa-chan tadi. Apakah kau membunuhnya ?" tanyanya dengan suara yang masih terdengar cadel dan kekanak-kanakan.

Lelaki itu melirik mayat di kakinya, lalu mengangkat bahunya tak peduli, "Dia pantas mati, dia tadi berusaha merampokku dengan pisau ini, jadi aku membunuhnya dengan pisaunya sendiri. Manusia seperti itu tidak pantas hidup."

Tetsuya kecil menatap lelaki itu tanpa takut, "Kau tidak lapor polici?" tanyanya polos.

Lelaki itu langsung tertawa, "Polisi? Apa yang bisa dilakukan polisi di sini? Aku sudah cukup beruntung tidak ada yang melihat kejadian ini, sampai kau datang." ekspresinya berubah kejam. Lalu lelaki itu mendekati Tetsuya kecil.

Lari ! Ayo lari !

Tetsuya berusaha berteriak, memperingatkan Tetsuya kecil, tetapi suaranya tidak bisa keluar, kakinya seolah-olah terpaku.

Lelaki itu lalu berjongkok di depan Tetsuya kecil, "Aku minta maaf kau berada di tempat yang salah nak, tapi sepertinya aku harus menyingkirkanmu juga."

Tetsuya kecil sama sekali tidak memperhatikan ucapan laki-laki itu tatapannya terarah pada darah di bahunya,

"Kau terluka." gumam Tetsuya kecil.

"Apa?" lelaki itu mengerutkan keningnya, lalu melirik ke bahunya yang penuh darah, "Oh… Ini hanya luka kecil, akan kututup dengan jaket." sambungnya sambil melirik jaket cokelatnya yang tergeletak di tanah.

Tanpa diduga, Tetsuya kecil mengeluarkan plester luka yang selalu dibawa-bawanya dari sakunya,

"Bica diobati dengan ini? Baa-chan celalu menutup lukaku yang beldalah dengan ini."

Lelaki itu tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak, "Tentu saja bisa, terima kasih," sambil masih tersenyum dia mengambil plester luka itu dari tangan tetsuya dan memasukkannya ke saku, "Siapa namamu nak?"

"Tetcuya" jawab Sharin polos.

Dengan pelan lelaki itu berdiri, mengambil jaketnya dari tanah dan memakainya, lalu mengulurkan tangannya kepada Tetsuya kecil,

"Tetsuya…. dan kau bilang sedang bersama baa-chanmu tadi? Sungguh suatu kebetulan karena aku kemari untuk melihatmu," Lelaki itu mengamati Tetsuya dengan teliti, tampak puas dengan apa yang ditemukannya, "…hmm…sepertinya kau tersesat, ayo, aku akan mengantarkanmu ke bagian informasi supaya baa-chanmu bisa menemukanmu."

Tetsuya menarik napas lega karena lelaki itu sepertinya sudah mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan Tetsuya kecil seperti yang dikatakannya tadi.

Tangan Tetsuya kecil menerima uluran lelaki itu, dan mereka bergandengan menuju ke area yang lebih ramai. Buru buru Tetsuya mengikuti mereka berdua.

Mereka sampai ke bagian informasi dan lelaki itu menyerahkan Sharin kecil ke petugas yang berjaga di sana, sebelum pergi dia berjongkok lagi di depan Tetsuya kecil,

"Kau tidak akan mengatakan apapun yang kau lihat tadi kepada orang lain kan?" tanyanya sambil tersenyum.

Tetsuya kecil menganggukkan kepalanya.

Lelaki itu memajukan kelingkingnya.

"Janji?"

Tetsuya kecil tersenyum, senyum polos anak-anak dan menautkan kelingkingnya di jari lelaki itu,

"Janji."

Dengan senyumnya yang sedikit berbahaya, lelaki itu berdiri dan melambaikan tangan.

"Kalau begitu selamat tinggal aku janji kita akan bertemu lagi, dan saat kita bertemu, kau akan menjadi milikku, jangan lupakan itu." gumamnya sambil melangkah menjauh meninggalkan Tetsuya kecil.

Tiba-tiba lelaki itu berhenti dan memutar tubuhnya, berhadapan langsung dengan Tetsuya.

Tetsuya langsung pucat pasi, lelaki tampan itu menatap langsung ke arahnya! Apakah dia menyadari kehadirannya? Bukankah di mimpi ini dia tak terlihat? Karena semua orang sepertinya tak menyadari dia ada…

Tatapan mata Tetsuya menelusuri lelaki itu. Kali ini wajah lelaki itu benar-benar jelas. Dan sebuah kesadaran menyentaknya, rambut merah bagaikan darah itu…. Warna mata yang sama dengan surainya itu… Semuanya tampak lebih muda, tetapi Tetsuya mengenalinya.

"Seijuro?" gumamnya ragu.

Lelaki itu tersenyum, senyum puas yang sedikit keji, senyum yang tidak mungkin ditampilkan Seijuro yang begitu dingin.

"Bukan sayang, panggil aku Saijuro."

Tetsuya tersentak dan membuka matanya. Keringat dingin mengalir di dahinya, dan dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejenak kehilangan orientasi karena dia tidak mengenali kamar ini.

Tapi lalu dia sadar, ini di kamar tamu rumah Seijuro, calon ayah tirinya.

Dengan gugup Tetsuya mengusap keringat di dahinya, mimpi itu…. Mimpi itu terasa begitu nyata sekaligus aneh, tapi Tetsuya tidak tahu apakah itu kenangan masa kecilnya atau cuma mimpi….

Tetsuya duduk di tepi ranjang lalu menuang air ke gelas dari teko yang terletak di meja samping ranjang. Setelah meminum seteguk air dia memejamkan mata. Perasaannya tidak enak. Seperti ada yang terus menerus mengawasinya di kegelapan, menunggu sesuatu terjadi. Tetapi sesuatu apa?

Dengan putus asa Tetsuya mengeryit, mengingat mimpi anehnya tadi. Benar-benar mimpi yang aneh. Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling dan yakin bahwa dia sendirian di kamar ini, Tetsuya membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.

Itu pasti cuma mimpi yang aneh karena dia tidak terbiasa tidur di kamar yang bukan kamarnya cuma mimpi.

Tapi kata-kata itu tetap terngiang-ngiang di benaknya,

"Kau milikkuTetsuya, jangan lupakan itu…."

Tetsuya terbangun di dini hari yang temaram, masih fajar dan sinar matahari sudah mulai menembus jendela-jendela yang ditutup oleh gorden putih yang indah.

Hey…. Kamar ini indah sekali…

Tetsuya baru menyadarinya sekarang, kemarin ia terlalu lelah sehingga tidak sempat melihat ke sekeliling.

Kamar ini bernuansa biru langit, semua ornamen dari karpet bulu yang tebal, gorden dan tempat tidur semuanya bernuansa baby blue. Bahkan dinding-dinding dan kusen jendela serta atapnya semuanya berwarna baby blue.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, "Masuk." jawab Tetsuya sambil mengernyitkan kening, siapa gerangan yang mengetuk pintu sepagi ini? Ternyata yang masuk adalah seorang pelayan, masih muda seumur dengannya dan kelihatan agak gugup,

"Tetsuya-san, saya diperintahkan untuk melayani anda."

Tetsuya mengernyit. Melayaninya? Seumur-umur dia tidak pernah dilayani oleh siapapun, apalagi oleh pelayan. Konsep ini terasa sangat baru baginya,

"Tidak usah. Saya bisa melakukan semuanya sendiri." Tetsuya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari-cari tasnya. Untung saja dia membawa pakaian ganti. Furihata sudah mengingatkannya akan kemungkinan mereka menginap di akhir pekan ini.

Tapi di mana tasnya itu?

Pelayan wanita itu seolah-olah tidak peduli dengan perkataanTetsuya, dia melangkah menuju lemari pakaian indah yang juga berwarna Baby blue,

"Saya akan menyiapkan perlengkapan mandi anda, dan ini… Semua pakaian anda sudah disiapkan disini." dia lalu membuka lemari itu,

Tetsuya ternganga.

Di dalam lemari itu terdapat banyak pakaian, mungkin puluhan dan semuanya digantung dengan rapi di balik plastik pembungkus yang masih baru. Tidak mungkin kan pakaian itu untuknya? Pelayan itu pasti salah.

"Ti… tidak mungkin pakaian-pakaian ini untukku. Kamu pasti salah," Tetsuya berusaha mengatasi rasa gugupnya, "Mungkin… mungkin ini untuk ibuku?"

Dengan tegas pelayan itu menggeleng,"Saya mendapat instruksi langsung oleh kepala pelayan. Mari, saya akan menyiapkan air dan peralatan mandi anda."

Tetsuya sebenarnya ingin membantah. Tidak mungkin kan seijuro menyiapkan pakaian baru sebegitu banyak untuknya? Dia kan hanya akan tinggal di sini selama akhir pekan, apakah Seijuro tetap berpendapat Tetsuya akan tinggal bersama mereka setelah pernikahannya dengan Furihata? Tapi, meskipun Seijuro berpendapat begitu, lelaki itu kan tetap saja tidak perlu menyiapkan baju sebanyak itu?

Pelayan itu pasti salah, Tetsuya memutuskan. Semua baju itu pasti untuk Furihata. Tetsuya mengernyit ketika membayangkan kemarahan Furihata atas kesalahan ini. Ibunya itu sangat posesif. Egois dan posesif, dan Furihata pasti tidak akan suka kalau Tetsuya memakai salah satu baju yang disiapkan untuknya.

"Aku… Aku ingin memakai bajuku sendiri, kau tahu tidak dimana tas pakaianku yang berwarna cokelat? Sepertinya kemarin aku meletakkannya di atas meja."

Pelayan itu menggeleng, "Tidak ada tas disini." jawabnya datar lalu meninggalkan Tetsuya untuk masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuknya.

Tetsuya termangu, matanya masih mencari-cari dan dia masih belum putus asa mencari sampai pelayan itu muncul lagi dari kamar mandi, "Mari Tetsuya-san, airnya sudah siap. saya akan merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian anda."

Mau tak mau, meski dengan dahi berkerut Tetsuya melangkah masuk ke kamar mandi. Dia tidak terbiasa dilayani, dan tidak suka di layani. Seperti jaman feodal saja, gerutunya dalam hati. Tapi apapun keberatan yang ada di dalam hatinya itu langsung hilang melihat keindahan kamar mandi di depannya. Kamar mandi itu dipenuhi kaca, di dinding dan di atap, dengan bingkai-bingkai putih di sekelilingnya, kaca itu beruap karena air panas dari bathtub yang penuh busa dan menguarkan aroma wangi campuran mawar dengan susu.

Tiba-tiba saja mandi terasa sangat menggoda bagi Tetsuya.

Pelan-pelan dia mencelupkan tangannya ke air hangat dalam bathtub itu, hangatnya pas. Pelayan tadi benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Tetsuya lalu berendam dan memejamkan matanya. Rasanya nikmat sekali, seperti otot-ototnya yang kaku dilemaskan dengan pelan-pelan. Rasanya sangat nyaman hingga Tetsuya hampir tertidur. Perasaannya damai hingga makin lama Tetsuya makin tenggelam ke dalam alam mimpi.

"Jangan tertidur disini. Dari yang kudengar, banyak orang mati tenggelam karena tertidur di bathtub."

Suara itu begitu mengejutkan Tetsuya dari tidur-tidur ayamnya. Dia terlonjak kaget dan begitu menyadari siapa yang berdiri sambil bersandar santai di kusen pintu penghubung kamar mandi, wajahnya langsung merah padam.

Secepat kilat Tetsuya menenggelamkan tubuhnya sampai ke leher, menyembunyikannya di balik busa.

Seijuro, yang bersandar di pintu tampak tidak terpengaruh dengan rasa maluTetsuya. Lelaki itu malah menyeringai dalam senyuman sedikit mengejek.

"Aku bertanya-tanya kenapa kau tidak segera keluar dan sarapan, pelayan itu bilang kau sedang mandi dan dia tidak berani mengganggumu."

Rona merah di wajah Tetsuya mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, dia malu sekali! Tapi kenapa lelaki ini seolah-olah tidak peduli? Tidak sopan bukan masuk ke kamar mandi di mana ada seseorang sedang mandi yah walaupun sesama lelaki?

Tapi sepertinya Seijuro tidak peduli dengan etika ataupun kesopanan, mata tajam Seijuro menelusuri wajah dan leher Tetsuya yang merona. Ada api memancar di sana, dan ekpresinya berubah, sedikit liar tapi menakutkan. Bukan seperti ekspresi yang akan muncul di wajah lelaki sedingin Seijuro, pikir Tetsuya tiba-tiba. Ini terasa sangat aneh karena ketika menatap mata Seijuro, ada sedikit perbedaan dimatanya, heterokrom? Sejak kapan seijuro mempunyai mata yang berbeda warna itu? Bukankah kemarin kedua matanya berwarna merah? Atau kemarin dia memakai soft lens di sebelah matanya untuk menutupinya?

"Aku sudah menyelamatkan nyawamu tadi, kalau terlambat kau mungkin sudah mati tenggelam di kamar mandi, tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasih?" Suara itu setengah berbisik, diucapkan dengan nada malas, tapi bulu kuduk Tetsuya langsung berdiri. Dia menatap Seijuro dan menyadari lelaki itu masih berdiri di sana, menunggu.

"Te…. Terima kasih." gumamnya pelan entah kenapa meskipun tidak yakin kenapa harus berterimakasih dia merasa terdorong untuk melakukannya. Lelaki ini begitu mengintimidasi dan sepertinya kalau keinginannya tidak dituruti dia akan melakukan sesuatu yang tak terduga.

Senyum yang muncul pelan-pelan di bibir lelaki itu malah membuat Tetsuya sedikit takut dan gelisah. Hey… Apakah ini orang yang sama dengan calon ayah tirinya yang berkenalan dengannya kemarin? Kenapa auranya begitu berbeda?

"Bagus," gumam Seijuro lambat-lambat, lalu melangkah mundur, "Cepat selesaikan mandimu, aku menunggu di ruang makan, Oh ya, bajumu sudah kusiapkan di ranjang, kupilihkan sendiri dari lemari."

Seijuro menyiapkan bajunya? Tetsuya mengernyit dan bertanya-tanya. Jadi memang pakaian-pakaian itu disiapkan untuknya? Tapi kenapa? Lagipula kenapa Seijuro menyiapkan bajunya?

Dia menoleh untuk bertanya, tapi sosok Seijuro sudah lenyap. Dengan gugup Tetsuya menyelesaikan mandinya dan melangkah keluar dari kamar mandi. Pelayan wanita itu masih di sana, tapi tampak lebih pucat.

"Kau tidak apa-apa?" Tetsuya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Pelayan itu mengangguk sedikit gemetar, "Tuan Seijuro memarahi keteledoran saya karena tidak memeriksa anda di kamar mandi. Tuan Seijuro sangat menakutkan kalau marah." suara pelayan wanita itu berbisik ketakutan.

Sekali lagi Tetsuya mengernyit. Menakutkan kalau marah? Dalam majalah-majalah bisnis dan gosip mengenai Seijuro yang dibacanya karena ingin tahu, calon ayah tirinya itu dikenal sangat pandai mengendalikan emosi, malah ada yang menyebutnya tak punya emosi. Apakah selama ini Seijuro menyembunyikan sifat aslinya?

"Baju anda sudah disiapkan, tetsuya-san"

Tetsuya menoleh ke ranjang, tempat bajunya dihamparkan dan sekali lagi terperangah.

Indah sekali.

Itulah yang terpikir pertama kali olehnya ketika melihat pakaian itu. Sweater rajutan dengan motif anak anjing di bagian depan, sederhana tetapi sangat indah. Warnanya biru muda, dan bahannya dari sutra yang sangat halus, berdesir setiap kali kain itu digerakkan.

Masih termangu, Tetsuya membiarkan pelayan itu membantunya mengenakan pakaiannya. Lalu membiarkan lagi dirinya dibimbing untuk duduk di depan meja rias. Seperti sudah biasa melakukannya, pelayan itu langsung menyisir rambut Tetsuya. Sementara Tetsuya menatap bayangan dirinya di cermin.

Betapa sebuah Pakaian bisa mengubah penampilan seseorang! Yang terpantul di sana bukanlah Tetsuya yang kuno dan berpenampilan seperti kutu buku. Bayangan yang muncul di cermin di depannya itu adalah bayangan pemuda yang manis, dengan pipi kemerahan dan surai yang menutupi dahinya,

"Rambut anda indah sekali." gumam pelayan itu sambil terus menyisir.

Tetsuya tergeragap. Menyadari bahwa dari tadi dia melamun sambil menatap bayangannya sendiri, "Oh iya, aku harus mengikat rambutku." Seperti kebiasaannya setelah mandi tetsuya selalu mengikat rambut bagian depannya seperti apple hair. matanya mencari-cari, akhirnya menyadari bahwa ikat rambutnya sama raibnya dengan tas pakaiannya.

"Anda tidak boleh mengikat rambut lagi, begitu perintah Tuan Seijuro kepada saya tadi."

Hah?

Kali ini Tetsuya tidak bisa menahan gumaman kagetnya, dari mana dia tau aku selalu mengikat rambutku sehabis mandi?. Tetapi pelayan wanita itu tidak bereaksi apa-apa, setelah selesai membereskan semuanya, dia berpamitan dan melangkah keluar dari kamar. Meninggalkan Tetsuya sendirian di kamar ini. Sejenak Tetsuya termangu, lalu teringat pesan Seijuro tadi. Sarapan…. Tadi Seijuro bilang begitu kan? Mungkin Seijuro dan ibunya sudah menunggu di sana.

Dengan bergegas, Tetsuya melangkah ke ruang makan.

.

.

.

.

.

.

TBC~

Yosh! Akaine balik lgi bawa chap 2, ada yang nungguin gak yah? Huhu gak ada? Gakpapa deuh kuh terimah :'v ato ada yang nungguin? Uhhh makacih deh klo ada yg nungguin :-* (tebar kiss) oh yah ngomong2 malem kok update :v anggap aja akaine kelebihan stamina malam ini :v yaudahlah segitu aja

Arigatou buat semunya yang udah menyempatkan diri membaca,mereview/?,memfavoritkan,memfollow jga 😊