Disclaimer : Masashi Kishimoto @ Naruto
Title : SasuSaku Story
Story by Komagata Haniko
Main Chara : Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, etc..
Rate : T
Genre : Romance, friendship, AU
Warning! : Ooc, Typo, Gaje
Happy Reading
Chapter 2 : Masakan Penuh Cinta
Sasuke menelan ludah dengan perasaan tidak enak ketika melihat gadis bersurai pink yang tak lain adalah kekasihnya Haruno Sakura sedang sibuk di dapurnya sambil bersenandung riang.
Gadis itu tampak sedang berkutat dengan segala perlengkapan memasaknya.
Mengiris daging ayam berbentuk dadu, kemudian dilanjutkan dengan bumbu-bumbu rempah lainnya. Dari gayanya sih terlihat kalau Sakura sangat menikmati kegiatan masak memasaknya. Sambil sesekali melirik ke arah Sasuke yang duduk di meja counter sambil menyesap secangkir ocha hangat.
Ini bukan kali pertama Sakura memasak untuk Sasuke, jadi pemuda Uchiha itu sudah mengetahui kemampuan Sakura di dapur bisa dikatakan 'buruk'.
Namun, sebagai seorang kekasih yang baik hati Sasuke pun rela menjadi juri dadakan untuk menilai dan mencicipi masakan Sakura.
Sejak kemarin Sakura terus merengek agar Sasuke bersedia makan siang di rumahnya, karena kebetulan di hari minggu ini Sakura hanya seorang diri di rumah, kedua orang tuanya sedang berlibur ke kampung halaman mereka. Sehingga tugas memasak diambil alih oleh Sakura.
Sakura beralasan tidak terbiasa makan siang sendirian, rasanya nafsu makannya akan menurun, namun menurut Sasuke itu hanya alasan Sakura semata agar Sasuke tidak tega menolak keinginan kekasih pinky nya tersebut.
Memang benar, Sakura sengaja sudah menyiapkan resep masakan terbaru yang di dapatnya dari sebuah majalah aneka makanan terbitan minggu lalu. Sakura selalu berkhayal kalau Sasuke akan memakan masakannya dengan lahap kemudian memujinya, sehingga Sasuke akan semakin mencintainya.
Sasuke mengernyit karena melihat Sakura senyam senyum sendiri sedangkan wajan yang digunakan oleh Sakura untuk menumis bumbu sudah mengeluarkan asap dan aroma gosong.
"Sakura! Perhatikan masakanmu, jangan melamun!" Kata Sasuke menyentak khayalan gadis 17 tahun itu.
"Kyaaaa~ Aduh.." Sakura buru-buru mengangkat wajan itu sehingga tidak sadar dirinya belum sempat memakai sarung tangan masak. "Awww... Panas.. panas.. aduh, Ittai~"
Dan Sasuke hanya bisa menepuk jidat melihat wajan berisi minyak panas dan bumbu yang gosong itu sudah melayang dan jatuh tepat di kaki gadis itu.
•
•
~000~
•
"Hikss.. Hiks.. Sasuke-kun~"
"Hn? Masih sakit?" Sasuke melirik Sakura yang tampak masih sesenggukan. Sakura mengangguk. Wajahnya merah karena tangis dan menahan sakit. Kaki kiri Sakura yang tadi terkena wajan panas sedang di rendam oleh Sasuke dengan baskom berisi air dingin. Sedangkan tangan Sakura yang juga melepuh sedang di olesi salep pereda nyeri oleh Sasuke.
"Sabar ya, mau ku antarkan ke dokter?" Sasuke mengusap air mata sakura dengan ibu jarinya. Pemuda itu tampak begitu sabar dalam merawat kekasihnya, mencoba untuk mengerti akan sikap manja dan cengeng Sakura.
"Iie. Aku sudah tidak apa-apa Sasuke-kun."
"Lalu kenapa masih menangis?"
Sakura menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Sasuke menatap Sakura lembut, kemudian mengelus helaian merah muda itu.
"Aku.. Aku gagal memasak untuk Sasuke-kun makan siang." Sakura terlihat begitu menyesal. Sedangkan Sasuke diam-diam menarik napas lega.
Pemuda itu tersenyum tipis kemudian mengecup dahi Sakura, gadis itu menatapnya dengan sendu.
"Kau masih bisa memasak lain kali, Sakura." Sasuke hanya berniat untuk menghibur kekasihnya, bukannya benar-benar berharap Sakura akan memasak untuknya lagi, setidaknya sampai Sakura benar-benar bisa membedakan mana garam dan mana lada bubuk.
Sasuke ingat terakhir kali dirinya harus mencicipi bolu kukus buatan Sakura, bukan manis gurih yang dirasakan oleh lidahnya melainkan rasa pedas menyengat akibat lada bubuk yang dikira garam oleh Sakura.
Wajah Sakura kembali cerah, senyum kecil tersungging di wajahnya.
"Hontou?"
"Hn." Sasuke mengangguk.
"Kalau begitu aku akan memasak lagi untuk Sasuke-kun minggu depan." Sakura tersenyum manis.
Sasuke seketika membeku di tempat. Menyesali ucapannya barusan.
•
•
~000~
•
•
"Konichiwa.." Sakura meletakan sepatunya di rak sepatu yang terpasang rapi di belakang pintu masuk.
Hari minggu sore ini Sakura mengunjungi Sasuke di kediamannya. Orang tua Sasuke sedang melakukan perjalanan bisnis ke Korea, sedangkan kakaknya Itachi masih sementara mengikuti Kuliah Kerja Lapangan di daerah Suna.
Sakura memutuskan untuk memasakan makan malam untuk Sasuke sebagai ganti makan siang yang gagal minggu lalu.
*
"Sasuke-kun, aku sudah menyiapkan resep istimewa untuk besok. Sudah kuputuskan aku akan memasak makan malam untukmu."
Sasuke seketika menegang. Ditatapnya horor wajah Sakura yang tampak begitu bersemangat dan tersenyum manis padanya.
"Ti-tidak.. Ehm, Sakura! Kau tidak usah repot. Sudah ada pembantu yang memasak di rumah 'kan." Kata Sasuke mencoba tetap stay cool. Sakura cemberut.
"Tidak mau!" Kata Sakurs keras kepala. "Pokoknya aku akan tetap datang dan memasak untuk Sasuke-kun."
"Saku-"
"Aku langsung ke dapur ya Sasuke-kun.."
Sakura mengabaikan Sasuke yang mencoba menarik perhatiannya.
"Eh.. Sakura, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?"
"Eh? Jalan-jalan?" Sakura menghentikan kegiatannya mengeluarkan segala bahan-bahan memasaknya.
"Ya," Sasuke mengangguk, wajah tampannya dihiasi senyum manis. Sekejap Sakura tampak tergoda dengan tawaran Sasuke, sangat jarang Sasuke mengajaknya kencan.
"Nanti kita makan malam di luar saja." Tambah Sasuke lagi.
Sakura menaikan kedua alisnya, mendengar kata 'makan malam' membuat keputusannya kembali beralih pada niatan awalnya berada di mansion mewah milik keluarga Uchiha malam ini.
"Iranai! Aku mau tetap disini dan memasak untukmu. Jalan-jalannya lain kali saja ya Sasuke-kun."
Sasuke menganga. Tidak menyangka Sakura akan menolak tawarannya.
Sasuke pasrah. Kali ini Sakura terlihat lebih serius saat memasak, dan tidak melamun seperti lalu lagi. Sasuke berusaha untuk berpikir positive, kalau kekasihnya ini sudah sering belajar dari pengalaman memasaknya selama ini, pasti masakannya akan mengalami kemajuan.
Bermodal keyakinan itu Sasuke lalu memutuskan untuk membiarkan Sakura fokus memasak, sedangkan dirinya memilih untuk mandi.
Hampir satu jam kemudian Sakura memanggil Sasuke dan mengatakan masakannya sudah siap.
Sasuke terlihat semakin tampan dengan piyama biru tuanya, rambut basahnya menempel di sisi pipinya, dan tubuh tegapnya jadi semakin terekspos di balik piyama yang sedikit terbuka bagian atasnya, membuat Sakura merona.
Sasuke menyusul Sakura ke ruang makan. Ada dua jenis makanan yang dimasak Sakura untuknya. Teriyaki saos tomat dan rebusan sayur. Sakura juga membuatkan segelas jus tomat kesukaan Sasuke.
Sasuke meyakinkan dirinya sendiri bahwa makanan yang dimasak dengan penuh cinta pasti akan terasa enak.
"Ini Sasuke-kun." Sakura menyendokan nasi ke mangkuk Sasuke.
"Arigatou." Sakura tersenyum manis sambil mengambilkan sepotong teriyaki dengan sumpitnya, meletakan di atas rebusan sayur di mangkuk Sasuke.
Sasuke sedikit tersanjung dengan perhatian Sakura, sedikit mengkhayal bahwa suatu hari nanti pemandangan seperti ini akan terjadi setiap hari di rumahnya.
Sakura menatap Sasuke lekat ketika pemuda itu meneguk jus tomatnya.
Sasuke menjilat sisi bibirnya. Tersenyum tipis membalas tatapan Sakura.
"Enak." Kata Sasuke jujur. Sakura tersenyum senang dengan wajah berseri. Sasuke menghela napas lega, jus yang dibuat Sakura rasanya enak, pastilah makanannya yang lain juga akan terasa nikmat.
Sasuke lalu dengan mantap menyendokan teriyakinya pada saos tomat kemudian menyantapnya.
Hap
Sasuke mulai mengunyah dengan tenang.
Sedetik kemudian raut wajah Sasuke berubah. Matanya melotot, dan ekspresinya sulit ditebak. Tatapan matanya seperti orang memelas, dan kunyahannya semakin pelan.
Sakura masih memperhatikan Sasuke dengan jantung berdebar.
Wajah Sasuke memerah membuat Sakura melongo.
"Nani Sasuke-kun? Bagaimana rasanya?" Sakura tampak penasaran.
Sasuke tersenyum, perlahan menelan makanannya lalu menenggak jusnya.
"Bagaimana kalau kau cicipi saja sendiri Sakura?" Sasuke masih tersenyum manis yang entah kenapa malah membuat Sakura menelan ludah gugup dengan perasaan tidak enak.
Sakura mengangguk. Kemudian tangannya mengambil sumpit lalu memilih sepotong teriyaki berukuran sedang, dicocol pada saos tomatnya yang berwarna merah segar kemudian melahap dan mengunyahnya perlahan.
Ekspresi Sakura tidak jauh berbeda dengan Sasuke barusan.
"Bagaimana rasanya, sayang?" Tanya Sasuke sarkastik terus memperhatikan wajah Sakura yang memerah.
"Hueekk!" Sakura memuntahkan makanannya.
•
•
~000~
•
•
Sasuke masih menahan tawanya. Sakura sedang melahap mie ramennya dengan semangat. Berkutat di dapur membuatnya sangat kelaparan, namun ternyata masakannya kali ini pun harus dikategorikan gagal.
Mengingat hal itu membuat Sakura ingin sekali berteriak kesal, sebagai gantinya gadis itu melampiaskannya pada semangkuk mie ramen Ichiraku.
"Suatu hari nanti aku akan memasak mie ramen yang jauuuuh lebih lezat dari pada ini, Sasuke-kun." Kata Sakura di sela-sela kegiatannya mengunyah.
Sasuke tersenyum lembut. Pemuda itu tahu jelas niat baik Sakura untuk menunjukan rasa cintanya pada dirinya. Namun sepertinya memasak bukanlah pilihan yang tepat.
Sasuke hanya mengelus puncak kepala Sakura dengan sayang. Sakura meliriknya.
"Kau tidak marah padaku Sasuke-kun?"
Sasuke mengerutkan keningnya. "Kenapa aku harus marah?"
"Karena lagi dan lagi aku gagal memasak untukmu." Sakura memanyunkan bibir mungilnya.
"Aku tidak marah. Kau tidak perlu memikirkannya lagi." Sakura mendesah lega.
"Yokatta ne."
"Ehm.. ngomong-ngomong aku ingin tahu berapa banyak garam dan cabai yang kau gunakan untuk memasak tadi?"
"Semuanya." Jawab Sakura cuek. Sasuke langsung melotot. "Karena niatnya aku ingin membuat masakan yang spesial. Jadi aku memakai semua bumbu yang ku dapatkan di dapurmu."
Sasuke menelan ludah. 'Rasanya memang sangat spesial.'
Sasuke hanya bisa mendesah ketika mengingat persediaan garam dan cabai yang teruntuk satu minggu itu ternyata telah di masukan semuanya ke dalam porsi kecil masakan Sakura tadi, pantas saja rasanya asin yang mendekati pahit dan pedas yang membuat telinganya seperti berdengung.
"Eh, Sasuke-kun, tiba-tiba aku dapat ide untuk memasakan mie ramen untukmu minggu depan. Bagaimana?"
Glek
Gerakan tangan Sasuke yang hendak menyuapkan sesendok mie langsung terhenti di depan wajahnya.
'Ku mohon, jangan lagi.!'
-End of chap 2-
A/N : Hehehehe.. *Author nyengir gaje* Aneh ya? Garing ya? Gomenasai klo tidak sesuai dgn keinginan readers.
RnR domo
