Disclaimer@Naruto by Masashi Kishimoto
Title : SasuSaku Story by Komagata Haniko
Chara : U.SasukeXH.Sakura
Genre : Romance. AU
Rate : T
Warning! Typo, Ooc
Happy Reading
Chapter 3 : Surat Cinta Untuk Sakura
*
Ino berjalan dengan langkah anggunnya menuju loker, setibanya disana gadis ponytail itu menemukan sahabat merah mudanya sedang tersenyum-senyum sambil membawa secarik kertas.
Ino mengerutkan keningnya bingung, apalagi melihat semburat merah yang menghiasi pipi sahabatnya itu.
"Nee.. Sakura-chan? Apa yang kau lakukan?" Ino menepuk pundak Sakura sembari melirik kertas yang masih di baca oleh gadis pink itu. Sakura tersenyum sumringah pada Ino.
"Ino-chan~ Coba kau baca ini!" Sakura menyerahkan sepucuk surat yang tadi dibacanya kepada Ino. "Tak kusangka Sasuke-kun bisa seromantis ini." Wajah Sakura semakin bersemu merah.
Ino langsung membaca tulisan tangan bertinta merah muda itu, tiap huruf dan kata yang tertulis di kertas brcorak bunga mawar itu begitu rapi dan menguarkan aroma harum.
Mata Ino seketika membulat seusai membaca surat tersebut. Tak dipungkiri olehnya, bahwa kata-kata yang tertulis di kertas itu membuat Ino tersipu, sepertinya wanita manapun yang membacanya pastilah akan merona dan merasa terbang ke bulan. Ya, walaupun terkesan sedikit berlebihan juga.
Hanya saja Ino agak sangsi kalau kata-kata segombal itu berasal dari seorang Uchiha Sasuke.
"Umm harus ku akui surat ini cukup romantis Sakura-chan. Tapi, entah kenapa aku ragu kalau ini ditulis oleh Sasuke."
"Ha?" Sakura menautkan alisnya. "Tentu saja ini dari Sasuke-kun, Ino-chan. Dia 'kan kekasihku."
"Tapi bukan berarti kalau surat ini-"
"Ah.. Sudahlah, aku mau ke kelas dan menemui Sasuke-kun. Aku tidak sabar untuk memberinya pelukan seperti yang dia tulis disini." Sakura menggoyangkan surat yang sudah dilipatnya itu, setelah tersenyum manis pada Ino, gadis pecinta ice cream itupun berlari riang ke kelasnya, meninggalkan Ino yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
*
"Sasuke-kun~" Sakura langsung memeluk manja lengan kekar kekasihnya, membuat teman-teman sekelasnya-terutama kaum hawa-menatapnya iri.
"Hn?" Sasuke menepuk puncak kepala gadisnya dengan lembut.
"Hoiii~ Masih pagi ini. Jangan mesra-mesraan dulu. Malam minggunya masih besok lho.." Sindir Naruto yang duduk di kursi sebelah Sasuke. Sakura cuma menjulurkan lidahnya pada teman pirangnya itu, sedangkan Sasuke tampak tidak begitu peduli.
"Eh apa itu ditanganmu Sakura-chan?" Mata saphire blue milik Naruto menangkap secarik kertas berwarna pink pucat di tangan Sakura. Sakura langsung tersenyum manis sambil melirik Sasuke penuh cinta, membuat pemuda Uchiha itu menaikan sebelah alisnya bingung.
"Ini surat cinta dari Sasuke-kun." Jawab Sakura riang sambil menyenderkan kepalanya di pundak Sasuke.
Ucapan Sakura sukses membuat penghuni kelas termasuk Ino yang baru saja memasuki kelas langsung menatap ke arah Sasuke. Naruto menganga lebar menunjukan raut wajah bodohnya, sementara Sasuke tampak shock dan membeku di tempat.
Sakura langsung menggigit bibir bawahnya begitu menyadari reaksi kekasihnya yang sepertinya malu karena ketahuan menulis surat itu.
"Gomen ne Sasuke-kun. Harusnya aku tidak bilang siapa-siapa ya?" Sakura menatap tidak enak pada Sasuke yang masih tetap diam.
"Coba ku lihat!" Setelah bangun dari keterkejutannya Naruto langsung merebut surat yang kata Sakura ditulis oleh Sasuke itu, kemudian membacanya dengan suara yang cukup keras dan bisa di dengarkan oleh seantero kelas.
*
Dear.. Sakura-Hime
Sakura, apa kau sedang mengerutkan keningmu ketika menemukan surat yang ku tulis ini tergeletak di lokermu?
Apa kau penasaran kenapa tiba-tiba aku mengirimimu secarik kertas berisi kata-kata yang akan menggambarkan isi hatiku kepadamu?
Ya, Sakura-Hime..
Bacalah setiap huruf yang ku tulis dengan penuh kasih ini..
Bacalah untaian kalimat yang belum bisa ku ungkapkan secara langsung padamu..
Aku selalu memperhatikanmu, menjagamu lewat doa yang selalu ku ucap tiap waktu..
Sakura-Hime, tahukah kau.. Bahwa hari-hari kelamku seperti tak ada makna sebelum akhirnya kau muncul dalam hidupku.
Senyummu menjadi penyemangat di tiap hariku.
Tatapan hangatmu menjadi pelipur lara hatiku.
Sakura-Hime, aku berharap kau selalu tersenyum manis seperti saat ini. Ku harap tatapan emeraldmu selalu bersinar tanpa air mata.
Meski dari jauh, aku ingin memastikan bahwa kau bahagia.
Sakura-Hime, aku selalu merindukanmu..
Mengharapkanmu..
dan menanti pelukanmu..
Sakura-Hime, mungkin saat ini aku belum bisa membuatmu bahagia, namun yang pasti.. Aku akan selalu berusaha untuk tidak membuatmu menangis. Akan ku jaga senyuman dan tawamu itu, kekasihku.
Sakura-Hime.. Aku selalu mencintaimu.
Hening.
Beberapa detik setelah Naruto selesai membaca surat itu seisi kelas langsung terdiam, beberapa langsung melirik ke arah sang Uchiha yang entah kenapa terlihat lebih dingin dari biasanya. Sakura melirik kekasihnya yang juga menyadari aura dingin sang Uchiha.
"Sasuke-kun kau kena-"
"Huahahahahahahaa..." Tawa Naruto menggelegar, sukses membangunkan Shikamaru yang tadinya tertidur di sudut kelas. Sakura melirik Naruto kesal.
"Apa-apaan sih kau ini Naruto?" Sembur Sakura galak. Naruto masih tertawa geli.
"Huaahaa lucu sekali Sakura-chan.. Hahaha.. Kau tahu, aku berani bertaruh demi mie ramen kesukaanku. Teme tidak mungkin menulis sesuatu yang norak seperti ini. Hahahahaha.."
Sakura sudah bersiap akan menjitak Naruto kalau saja Hinata tidak memegangi tangannya.
"Sa-Sakura-Chan.. Jangan pukul Naruto-Kkun.." Gadis manis bersurai indigo itu mengedipkan matanya polos, membuat Sakura tidak tega untuk membentaknya. Sakura pun mengurungkan niatnya untuk menjitak pemuda pirang itu, yang masih saja tertawa geli.
"Hhhh.. Sudah ku bilang 'kan tadi padamu, Sakura-chan." Ujar Ino yang sudah berdiri di sampingnya.
Mulut mungil Sakura mengerucut. "Apa-apaan sih kalian ini? Sudah jelas ini yang menulis Sasuke-"
"Bukan aku."
"-kun.. eh, apa maksudmu Sasuke-kun?"
"Bukan aku yang menulisnya." dingin.
Glek..
Naruto menelan ludahnya, kemudian selagi sempat segera bangun dari kursinya dan bergeser ke samping Hinata. Aura the devil Sasuke baru saja muncul ke permukaan. Bahkan Neji yang selalu tenang pun bergidik ngeri melihat perubahan air muka Sasuke.
Mata onyxnya berkilat tajam, dan wajah datarnya tampak bak pangeran kutub selatan.
Sakura sendiri juga ikut menjadi gugup dengan perubahan reaksi kekasihnya yang tadinya tenang kemudian berangsur-angsur menjadi tegang dan kini malah masuk ke level dingin menyeramkan.
"Sasu-"
Graaabbb..
Sasuke merebut helaian kertas malang itu kemudian meremasnya sampai hampir hancur. Sasuke berjalan ke arah pintu kelas kemudian melempar sampah yang tadi di remasnya tersebut tepat ke arah tong sampah yang terletak di depan kelas.
Seluruh penghuni kelas XI IPA1 hanya bisa menahan napas dan membeku di tempat. Sungguh kejadian langka melihat seorang Uchiha Sasuke marah.
"Mati aku.." Bisik Sakura
*
Sakura melirik kursi Sasuke yang kosong. Semenjak insiden surat tadi pagi, Sasuke menghilang dan belum kembali bahkan saat bel masuk berbunyi.
Ada rasa bersalah menyusup di hati gadis pinky itu, jika saja tadi dirinya mau mendengarkan ucapan Ino mungkin dia tidak akan menunjukan surat itu pada Sasuke, dan Sasuke tidak akan marah seperti sekarang.
"Huhhh..." Untuk kesekian kalinya Sakura menghela napas dan sama sekali tidak berniat memperhatikan pelajaran biologi dari Kakkashi-sensei.
Kriiiiinngggg...
Sakura langsung melonjak ketika bell istirahat berbunyi. Gadis itu bahkan tidak peduli kalau senseinya belum meninggalkan kelas. Sakura langsung saja berjalan melewatinya.
"Ehm.. Haruno-San!" Panggilan Hatake Kakkashi membuat Sakura terpaksa menghentikan langkahnya. Sakura cemberut ke arah pria bersurai perak itu.
"Tsk.. Apa lagi Kakkashi-Nii?" Rengut Sakura yang tidak sadar telah memanggil nama sepupunya. Kakkashi menaikan sebelah alisnya atas sikap tidak sopan Sakura barusan.
"Aku senseimu saat ini, kalau kau lupa." Kakkashi bersedekap. Sakura menganga memutar bola matanya.
Pemandangan itu sontak membuat teman-teman Sakura memperhatikan mereka.
Beberapa kaum hawa pun mencibir dalam hati.
'Kenapa selalu si Haruno itu yang dikelilingi oleh pria-pria tampan?'
'Tsk.. Pakai jimat apa sih si pinky itu? Sudah begitu beruntung bisa jadi kekasih Sasuke-Kun, bisa dekat dengan Rei-San, Kakkashi-Sensei juga selalu peduli padanya. Dan sekarang ada lagi penggemar rahasianya. Huh.'
'Dasar.. dia itu sengaja sekali cari perhatian.'
Sakura memaksakan dirinya tersenyum manis lalu berojigi membuat Kakkashi menahan senyumnya.
"Gomen ne Hatake-Sensei. Aku sedang terburu-buru saat ini. Jaa ne."
Dan saat Sakura sudah bersiap untuk berlari, tangan besar milik Kakkashi langsung memegang kepala merah mudanya membuat Sakura lagi menghentikan langkahnya.
"Nani-"
"Dia ada di atap gedung perpustakaan. Sepertinya hatinya baru saja tertusuk es eh?"
Mata Sakura membulat. Tanpa mengucapkan apapun lagi, Sakura langsung mengecup pipi kiri kakak sepupunya itu sehingga Kakkashi melepaskan tangannya dari helaian merah muda itu. Sakura kemudian berlari keluar kelas, namun baru beberapa langkah gadis itu kembali berbalik dan berteriak ke arah senseinya itu.
"Arigatou Kakkashi-Nii.. I love you. Muuaaaccchhh.." Kemudian Sakura kembali meninggalkan Kakkashi bersama dengan tatapan horor dan wajah melongo teman-temannya kecuali Ino, Naruto, Shikamaru, Neji, Kiba, dan Gaara pastinya yang memang sudah mengetahui hubungan antara Sakura dan Kakkashi.
Kakkashi hanya bisa mengelus dada dengan sikap Sakura. Ketika pria itu hendak mengambil tas nya di atas meja guru, tatapannya bertemu dengan puluhan pasang mata murid-muridnya yang nampak membutuhkan kejelasan atas tragedi ciuman di pipi dan ungkapan 'I Love You' dari Sakura tadi.
Kakkashi menghela napas, kemudian melempar senyum memohon maaf.
"Haruno itu adik sepupuku."
*
*
Iris emerald itu melebar saat menemukan sosok raven yang sejak tadi di carinya itu tampak sedang berbaring dengan sebelah lengannya menjadi bantal di sebuah kursi kayu panjang di dekat pembatas gedung.
"Sasuke-Kun!" Panggilan Sakura membuat Sasuke membuka kelopak matanya, menunjukan sepasang obsidian yang berkilat dingin.
Kini Sakura memahami maksud ucapan Kakkashi tadi tentang 'hati yang tertusuk es'.
Sasuke tidak berniat bangun, pemuda itu malah kembali menutup matanya saat kekasihnya berjalan mendekat lalu duduk di lantai samping kursi tempatnya berbaring.
"Sasuke-Kun! Kenapa kau tadi tidak masuk kelas?" Sakura bertanya dengan suara pelan di dekat telinga Sasuke.
"Aku lelah." Jawab Sasuke datar.
"Umm.. tapi jam ke lima dan enam kau akan masuk 'kan? Tujuh menit lagi bell masuk lho."
"Hn."
Sakura menggigit bibir bawahnya. Kalau reaksi Sasuke sudah secuek ini akan sulit untuk membujuknya.
"Sasuke-Kun.." Sakura memberanikan diri menyentuh helaian raven milik kekasihnya itu, kemudian mengusapnya lembut. "Kau tidak keberatan 'kan kalau aku menyentuhmu seperti ini?"
Sasuke tidak menjawab. Sakura memanyunkan bibirnya. "Baiklah kalau begitu-" Sakura baru saja akan menarik tangannya kembali namun Sasuke langsung menahannya. "Aku tidak keberatan." Kata Sasuke cepat sambil menatap Sakura.
Gadis itu tersenyum lembut kemudian kembali mengelus rambut kekasihnya, mata emeraldnya saling menatap dengan obsidian milik Sasuke. Emosi kecemburuan masih terpancar dari tatapan pemuda itu, tapi Sakura juga menyadari bahwa tatapan itu melembut.
"Daisuki, Sasuke-Kun."
Cup
Entah dapat keberanian dari mana Sakura refleks mengecup bibir tipis Sasuke. Benar-benar refleks dan dilakukan dengan cepat. Tak urung kedua sejoli itu merona.
Sasuke baru saja berniat akan menarik tengkuk Sakura dan memberinya ciuman balasan, ketika kedua matanya menangkap sosok seorang pemuda mengintip dari sela pintu yang terbuka.
Mata beriris cokelat itu terbelalak saat menyadari kalau Sasuke melihatnya.
Pemuda itu langsung berlari, namun gerakan Sasuke lebih cepat dan berhasil menangkap ujung almamater yang dikenakan pemuda itu.
Sasuke mendorong tubuh pemuda itu sehingga menubruk tembok di belakangnya.
"Sasuke-Kun!" Sakura yang awalnya sudah sangat terkejut dengan gerakan cepat Sasuke, kini dibuat semakin shock dengan munculnya sosok pemuda yang cukup dikenalnya. Yang membuat Sakura semakin panik adalah ketika menyadari tangan Sasuke mencengkeram kerah pamuda itu.
"Apa yang kau lakukan Sasuke-Kun?!" Sakura langsung menarik tangan Sasuke agar melepaskan kerah baju pemuda itu.
"Rie-Kun. Kau tidak apa-apa?" Sakura mengenali pemuda itu adalah seorang temannya dari ekskul drama.
Pemuda bersurai cokelat itu hanya mengangguk lemah.
"Aku sudah tahu tentangmu Suzzaki Rie. Kelas XI IPS 2, anggota ekskul Drama dan juga kenalan kekasihku Haruno Sakura. Kau 'kan yang menulis surat-surat itu untuk Sakura dalam beberapa hari ini?"
Sakura langsung menatap Sasuke dengan mata melebar dan mulut sedikit terbuka.
Rie sendiri hanya bisa menundukan wajahnya menghindari tatapan tajam Sasuke.
"Matte! Kau pasti salah paham 'kan Sasuke-kun? Bagaimana mungkin kau bisa menuduh Rie-kun yang menulis surat itu? Dan lagi, surat itu hanya ada satu, tadi itu yang pertama kali." Kata Sakura
Sasuke hanya diam, onyx nya menuntut pemuda di hadapannya itu untuk menjelaskan.
"Gomen Sakura-chan." Lirih Rie. "Ya, aku lah yang menulis dan mengirim surat-surat itu untukmu. Aku tidak bermaksud untuk menakutimu, aku hanya.. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengutarakan perasaanku padamu. Aku.. Aku mencintaimu Haruno Sakura."
Sakura ternganga, menatap tidak percaya pada sosok Rie yang selama ini memang terkenal sebagai pemuda yang baik hati dan ramah. Wajahnya memang tidak setampan Sasuke, tetapi sikap hangatnya mampu membuat banyak gadis menginginkannya.
"Rie-Kun.." Sakura bahkan tidak tahu harus berkata apa.
"Gomen Uchiha-San, aku tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian. Aku akui bahwa diriku memang sering mengikuti kalian, itu hanya untuk memastikan kalau Sakura selalu tersenyum bersamamu. Aku.." Rie menunduk malu. "..Aku juga sadar diri kalau aku tidak pantas bersama Sakura-chan."
"Rie-kun.." Sakura menepuk pundak pemuda itu, keduanya saling bertatapan. "Arigatou."
Kata itu sudah cukup untuk menjawab perasaan Rie selama ini. 'Arigatou' berarti perasaannya berhasil tersampaikan, tetapi tatapan sayu gadis itu juga sudah menjelaskan bahwa Sakura tidak bisa membalas perasaannya. Dan yang bisa dilakukan Rie saat ini hanyalah tersenyum lemah, menerimanya dan menangis dalam hati.
*
*
Sakura dan Sasuke berjalan beriringan menuju kelas, tangan mungil Sakura tak mau meninggalkan lengan kekar kekasihnya, memeluknya posesif.
"Sasuke-kun, apa kau sudah tidak marah?"
"Hn."
Sakura tersenyum kecil. Dirinya masih mengingat insiden di atap kemarin. Dan tadi ketika Sakura membuka lokernya dia kembali menemukan sepucuk surat. Kali ini menggunakan kertas putih polos dan tinta warna hitam.
Dear.. Sakura-chan..
Terimakasih karena sudah bersedia menerima ungkapan cintaku.
Aku memang sedih karena perasaanku tidak terbalas,
Tapi paling tidak aku sudah diberi kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padamu secara langsung.
Dan.. Pemuda Uchiha itu, aku kini merasa lega karena aku tahu dia benar-benar mencintaimu.
Maafkan kalau aku membuatmu bingung dengan surat-suratku, Sakura-chan..
Aku hanya tidak bisa menahan perasaanku ketika itu.
Sakura-Chan.. Berbahagialah.. Tersenyumlah selalu untuk orang-orang disekitarmu.
-Suzzaki Rie-
Surat itu dibacanya bersama Sasuke yang kebetulan datang bersamaan dengannya. Masih ada satu hal yang mengganjal di benak Sakura. Sejak kemarin Sasuke dan Rie selalu menyebut 'surat-surat' yang berarti jamak dan lebih dari satu, sementara itu dirinya yakin bahwa kemarin itu adalah surat pertama yang diterimanya.
"Sasuke-kun, apa sih maksudnya saat kemarin kau menyebut kalau Rie menulis surat-surat selama beberapa hari ini? Bukankah kemarin itu yang pertama dan ini yang terakhir?" Kata Sakura dengan wajah bingung sambil menunjukan surat kedua dari Rie.
Sasuke hanya tersenyum simpul, tanpa menjawab.
Sakura mengikuti Sasuke ke mejanya. Pemuda itu lalu mengeluarkan sebuah kantung plastik berwarna hitam yang ternyata di dalamnya terdapat surat-surat dari Rie. Jumlah surat itu ada 10 lembar. Berarti Rie sudah mengiriminya surat lebih dari seminggu ini.
"Kenapa bisa ada padamu?" Sakura mengerutkan keningnya sambil mengambil salah satunya kemudian membacanya. Isinya tak jauh berbeda dengan apa yang tertulis di suratnya kemarin.
"Awalnya aku menemukannya di laci mejamu saat aku mendapat jadwal piket. keesokan harinya saat aku datang lebih awal dan memeriksa laci mejamu aku pun menemukan hal yang sama."
"Haaa?" Sakura melongo. "Lalu kenapa kau menyembunyikannya?"
"Aku tidak suka." Jawab Sasuke singkat sambil memalingkan wajahnya yang sudah dihiasi semburat berwarna merah muda.
"Sejak itu kau jadi mencari tahu siapa yang mengirimiku surat-surat ini?"
Sasuke mengangguk.
"Sebenarnya tidak begitu sulit. Aku langsung tahu kalau yang menulisnya adalah anggota club drama, dari cara penulisannya. Lalu aku juga selalu mendapati Suzzaki itu menatapmu dengan rakus." Kata Sasuke sarkastik.
Sakura hanya tersenyum malu.
"Sepertinya kau sangat menginginkan surat-surat itu eh? Kau boleh mengambil dan membaca semuanya."
Sakura hanya bisa menghela napas oleh sikap sarkastisme kekasihnya itu. Sakura menatap Sasuke lembut sembari memasukan kembali surat-surat itu ke dalam plastik kemudian menyimpan dalam tasnya.
"Akan ku baca." Kata Sakura membuat Sasuke meliriknya tajam. "Bagaimanapun Rie-kun sudah berjuang untuk menulisnya. Kalau hanya membacanya saja tidak apa 'kan Sasuke-kun."
Sasuke tetap bungkam. "Aku menerima suratnya, tapi tidak cintanya. Hanya kau Sasuke-Kun." Sakura dengan cepat mengecup pipi Sasuke. Sasuke menatap lekat gadis di hadapannya itu.
Baru saja bibir Sasuke akan mendarat di bibir Sakura ketika sosok Gaara dan Naruto tiba-tiba muncul dari ambang pintu.
"Sabar dong Teme nanti malam saja dilanjutkan. 'Kan pas malam minggu." Ujar pemuda pirang jabrik itu dengan cengiran jahilnya.
"Hahahaa padahal satu foto yang kemarin sudah cukup. Tapi kalau kalian mau aku megambil foto kalian lagi dengan gaya yang berbeda, aku tidak keberatan kok." Sambung Gaara dengan kerlingan menggodanya.
Sasuke dan Sakura menarik nafas panjang sebelum akhirnya kedua sejoli itu bangkit dan berjalan mendekati kedua makhluk usil itu.
Sasuke dan Sakura sudah cukup frustasi karena adegan ciuman mereka kemarin terpaksa ditunda, dan kali ini dua orang menyebalkan ini juga membuat mereka kembali batal berciuman.
Glekk
Glekk
Naruto dan Gaara menatap ngeri pada Sasuke dan Sakura mode devil yang kini berjalan mendekati mereka sambil menyinsingkan lengan baju mereka.
"Sabar katamu Dobe?!"
"Kau bilang gaya yang berbeda eh Panda?!"
"AMPUNI KAMIIII~"
Duaakkk..
Duaaakkk..
" ~ Aaaaaaakkkkkhhhhh"
Dan kelas pun dimulai oleh Naruto dan Gaara dengan wajah cemberut dan jidat benjol.
-End of Chap 3-
A/N : Yaahh.. Sekian dan terimakasih. Lho??
Seriusan lho hehe.. Terimakasih utk para readers yang nyempatin baca dan juga review, semoga gak bosen yaa ;) kalau bosen dan gak mau baca lagi Hani nangis lho.. *Mewek dipelukan Sasuke* #plaakkk! Ohh.. abaikan!
Eh, chap ini ada karakter OC yaa Suzzaki Rie, soalnya gak tau mau pake karakter mana, berasa kurang ngefeel aja, jadi ku ciptakanlah karakter Suzzaki Rie ini. :D
Review
@1MoreLight : Hahaha Gaara memang selalu menggemaskan menurutku, dan inilah yang kusuka dari fanfiction, karena bisa menciptakan karakater Ooc dalam diri chara favorit kita. Thanks for RnR
@matarinegan : Benarkah? Yokatta ne.. Semoga chapter ini juga suka ya Thanks for RnR
@Honeymoon Hamada : Terimakasih ya untuk sarannya nih udah mulai pakai judul kok. kemarin emg niatnya mau diisi judul tiap chapternya cuma Hani punya kelemahan dalam hal memilih judul yang cocok :( btw, thanks for RnR
