#Chapter 9#
.
"Baek, ayo kita lihat papan pengumuman" ajak Kyungsoo sambil menarik tangan Baekhyun.
"Yakk, memangnya ada apa ?" tanya Baekhyun dengan sedikit protes karena tidak terima tangannya ditarik begitu saja.
"Ah sudahlah, ikut saja."
.
.
"Festival olahraga. Ya ampun aku sampai lupa, event ini kan diadakan tiap tahun. Tahun ini aku ikut team mana ?" kata Baekhyun.
"Aku merah, Baek kau apa ? Aku tidak menemukan namamu di team merah. Jangan-jangan kita tidak satu team."
"Iya aku tidak menemukan namaku di team merah, aku di team mana ya?"
"Oh ini, aku menemukan namamu. Kau di team kuning. Ada siapa saja di teammu" ucap Kyungsoo sambil membaca deretan nama-nama di team biru.
"Haa, kau satu team dengan Sehun dan juga... Luhan. Waaah kau beruntung dan sial Baek." lanjut Kyungsoo.
"Benarkah ?" Baekhyun mencoba memastikan dan ... "Kau benar."
"Nanti kau harus berhati-hati dengan Luhan. Bisa saja dia ingin menjatuhkanmu walaupun kau satu team dengannya."
"Eiyy, sejak kapan kau suka berpikiran negative, eoh ?."
"Hehehe, kan hanya berhati-hati saja, tapi mudah-mudahan tidak. Ya sudah ayo kita kembali ke kelas."
.
.
.
.
Malam hari...
Baekhyun dan Sehun sedang makan malam berdua, ya hanya berdua karena orangtua Sehun belum pulang. Mereka sudah memberitahu anaknya bahwa mereka pergi berlibur untuk beberapa hari. Pada awalnya Sehun sudah menolak karena ia merasa pasti ibunya sengaja merencanakan ini agar dirinya berduaan dengan Baekhyun. Tapi ibunya tetap tidak peduli dengan penolakan anaknya.
Suasana makan malam terasa hening. Tak ada perbincangan, hanya terdengar suara sendok yang angkuh beradu dengan mangkuk dan piring. Benar-benar makan malam yang kaku bagi Baekhyun, karena biasanya walaupun ia hanya makan malam berdua dengan ibunya, perbincangan masih menyelingi kegiatan makannya. Baekhyun pun berupaya memecahkan keheningan.
"Sehun~ah apa kau sudah melihat pengumuman festival olahraga ?"
"Sudah" jawaban singkat dari Sehun.
"Kita satu team ya, senangnya bisa satu team denganmu" ucap Baekhyun dengan berbinar-binar. Tidak ada tanggapan, Baekhyun memperhatikan Sehun yang sedang memakan makanannya dengan tenang, sepertinya dia tidak ada niat untuk mengobrol dengannya. Tidak ingin menyerah, Baekhyun mencoba membuka obrolan lain.
"Sehun~ah bagaimana makanan buatanku, apa rasanya enak ?"
"Seperti biasanya" jawaban singkat lagi dari Sehun.
'Seperti biasanya itu apa, dia kan tidak pernah mengungkapkan rasa makanan buatanku' batin Baekhyun kesal.
"Besok kau ingin makan apa ? Biar ku masakkan lagi ya" tanya Baekhyun.
"Tidak perlu."
"T-tapi..."
"Aku sudah selesai" potong Sehun, dan membawa piringnya ke dapur untuk dicuci. Baekhyun segera menyusulnya.
"Aaah, jangan. Biar aku saja yang mencucinya, aku kan wanita disini jadi pekerjaan seperti ini biar ak..."
"Baiklah, terima kasih" potong Sehun lagi dan meninggalkan Baekhyun. Baekhyun benar-benar kesal dan ingin berteriak, tapi dia menahannya.
"Dasar pria dingin menyebalkan, dia selalu seperti itu padaku" kemudian Baekhyun berpikir "tapi jika dengan Luhan, dia tidak seperti itu. Ommo jangan-jangan dia memang benar menyukai Luhan. Haaa eottokhae" Baekhyun khawatir.
.
.
.
.
Festival olahraga tiba, semua siswa-siswi sudah berkumpul di lapangan. Semua peserta (team merah, kuning, hijau dan biru) terlihat semangat dalam melakukan pemanasan. Beberapa menit kemudian, MC mulai membuka acara. Semua peserta dan supporter bersorak bahkan ada yang memberikan tepuk tangan.
Pertandingan pertama adalah lari dengan kaki dikaitkan satu sama lainnya. Setiap team mengikutsertakan sepuluh orang dari anggotanya. Para peserta sudah siap di garis start. Setelah mendengar aba-aba mereka memulainya. Baru beberapa langkah team biru sudah jatuh karena kurang kompak, kemudian disusul team merah yang terjatuh. Tersisa team hijau dan kuning, tapi sayangnya hampir sampai garis finish, team kuning terjatuh. Sehingga pertandingan ini dimenangkan oleh team hijau.
Pertandingan kedua lari estafet, anggotanya terdiri dari dual laki-laki dan dua wanita. Dari team kuning, Sehun dan Baekhyun mengambil bagian dalam pertandingan ini.
"Bagaimana ini, aku sangat gugup" gumam Baekhyun pada diri sendiri.
"Aku tidak suka kekalahan, jadi jangan sampai kau menggagalkannya" peringatan Sehun pada Baekhyun.
"Aku tahu, jangan khawatir" kata Baekhyun dengan nada jengkel.
Semua team sudah siap di garis start.
Baekhyun menjadi pelari ketiga sedangkan Sehun pelari akhir yang membawa tongkat sampai garis finish.
Pertandingan dimulai, semua peserta sudah berlari dan memberikan tongkat pada pelari kedua, kemudian giliran pelari ketiga yang menerima tongkat, Baekhyun hampir tertinggal oleh pemain lainnya.
'Bagaimana ini, aku tidak boleh tertinggal, kalau tidak aku akan mengecewakan Sehun. Aku pasti bisa' batin Baekhyun sambil berlari cepat. Tidak disangka ternyata Baekhyun bisa mendahului pemain lainnya dan segera memberikan tongkatnya kepada Sehun. Sehun menerimanya kemudian berlari cepat dan sampai finish. Sehingga pertandingan ini dimenangkan oleh team kuning.
"Yeaaaayy" teriak Baekhyun dan berlari ke Sehun untuk berhigh five, tapi ternyata didahului oleh Luhan, dan Sehun meresponnya kemudian menatap Baekhyun tanpa memperdulikannya. Merasa tangannya tidak disambut, ia pun bertepuk tangan untuk menahan malu lalu mempoutkan bibirnya kesal.
"Baek, whoaaaa,,,,, kau sangat hebat, aku tadi sangat terkejut melihatmu bisa berlari secepat itu" ucap Kyungsoo.
"Iya, aku juga tidak menyangka" jawab Baekhyun.
"Kau memang pelari yang cepat" puji seorang laki-laki yang baru datang sambil merangkul Baekhyun.
"Chanyeol ?"
"Selamat ya" ucap Chanyeol sambil tersenyum.
"Terima kasih, team kalian juga hebat" kata Baekhyun.
Dari jauh Luhan dan Sehun menatap sinis kearah mereka.
.
.
"Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol" Baekhyun sedang menyerukan nama Chanyeol untuk menyemangatinya.
"Chanyeol, fightiiiing !"
Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang.
"Yakk, lepaskan aku." Baekhyun masih kesal dengan Sehun karena tadi sudah mengabaikannya.
"Memangnya kau dari team mana, hah ? Kau sudah salah mendukung" bentak Sehun.
"Memangnya kenapa ? Aku kan hanya memberikan dukungan untuk temanku,"
"Kau harus tetap disini dan dukung teammu sendiri"
"Iya, baiklah aku mengerti" Baekhyun pun duduk dengan kesal dan malas.
.
.
Terik matahari sudah semakin menyengat, Baekhyun sendiri sudah mulai kelelahan dan juga kepanasan. Lalu Ia mengambil payung untuk melindungi kulitnya dari terik matahari.
"Payungi aku !" perintah seseorang yang tiba-tiba duduk disampingnya.
"Mwo ?" Baekhyun menoleh dengan kesal, dan alangkah terkejutnya saat menyadari laki-laki disampingnya adalah Sehun.
"Ck," Sehun berdecak karena tidak segera mendapatkan respon. Ia pun mengaitkan tangannya dengan Baekhyun agar dirinya terpayungi. Baekhyun terkejut dan menjadi gugup. Posisi ini sangat dekat bahkan tidak ada jarak diantara mereka. Sehun menatap kedepan dengan santai.
Beberapa menit kemudian, Baekhyun menyandarkan kepalanya dibahu Sehun. Sehun menoleh dan mendapati Baekhyun tidur dibahunya. Ia tersenyum tipis bahkan hampir tidak terlihat.
"Sehunie~ kau tidak terpayungi dengan benar, Kau denganku saja" ucap Luhan yang baru datang sambil menawarkan payungnya.
'Deg'
Baekhyun mendengarnya karena sebenarnya ia belum tertidur, mungkin hanya mengantuk. Dan sedikit mencari kesempatan, haha. Ia pun jadi merasa cemas karena takut Sehun akan menerima tawaran Luhan lalu menyingkirkannya.
"Sepertinya tidak perlu Lu" jawab Sehun. Mendengar itu hati Baekhyun menjadi lega.
"Memang kenapa ?"
"Dia sedang tidur dibahuku."
"Kau kan bisa membangunkannya" bukan Luhan namanya jika ia mudah menyerah. Baekhyun pun menggerutu dalam hati mendengar usaha Luhan yang ingin menyingkirkannya.
"Dia sudah tidur dengan nyenyak."
"Oh, ya kau benar" jawab Luhan mencoba untuk terlihat tenang tapi diam-diam menatap menatap Baekhyun dengan sinis. Sedangkan yang ditatap tetap berpura-pura tidur dan mencoba untuk tidak tersenyum padahal ia merasakan senang yang amat luar biasa.
.
.
Pertandingan telah usai, kini giliran panitia mengumumkan pemenangnya.
"Pemenang festival tahun ini dimenangkan oleh... Team Kuning."
"Yeayyyyyy" sorak team kuning. Mereka pun saling memeluk satu sama lain. Dan menerima medali kemenangannya.
.
.
.
Malam hari,,, di kamar Baekhyun.
Baekhyun tiada hentinya menatap medalinya sambil tiduran. Ia jadi teringat moment saat ia sedang dengan Sehun. Moment dimana ia satu payung dengan Sehun dan juga saat Sehun tidak menyingkirkannya meskipun Luhan yang memintanya. Moment itu sangat sederhana tapi itu memberikan efek yang luar biasa pada Baekhyun. Bahkan sampai membuat gadis itu tersenyum sendirian.
"Apa kau sudah gila ?" seseorang mengintrupsi lamunannya. Baekhyun tersadar dan menoleh terkejut saat melihat Sehun berdiri di pintu kamarnya.
"Eoh, Ommo" Baekhyun segera bangun dari tidurnya dan membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"S-sejak kapan kau ada disitu, dan lagi kenapa kau tidak mengetuk pintu".
"Sejak kau tersenyum seperti orang gila. Dan aku juga sudah mengetuk pintu".
"B-benarkah, aishh" Baekhyun sangat malu, karena kepergok orang yang sedang dilamunkannya.
"Tapi ada apa kau kemari ?"
"Sudah waktunya makan malam, tadi eomma mengingatkanku".
"Eomma ? Bukankah eommamu sedang diluar ?"
"Ya, tapi dia mengirimkan pesan padaku".
Bekhyun tersenyum haru.
"Ahjuma memang yang terbaik" gumamnya.
.
.
"Makan malamnya sudah siap, apa kau membelinya diluar ?" Baekhyun sedikit bingung melihat makanan yang sudah tersaji dimeja.
"Kau pikir aku tidak bisa memasak ?"
"Hah, jadi kau bisa memasak ? Whoaaa daebak." Baekhyun makin jatuh cinta dengan Sehun. Sedang Sehun, seperti biasa tidak menanggapi pujian Baekhyun.
"Kau memang suami idaman. Sayang sekali aku tidak melihatmu saat sedang memasak tadi."
"Sudah selesai bicaranya, cepat makanlah."
"I-iya" jawab Baekhyun sambil mempoutkan bibirnya.
"Satu hal yang jelek dari dirinya, sikap dinginnya yang sangat menyebalkan" gumam Baekhyun pelan.
"Kau mengatakan sesuatu ?"
"A-apa ? Aaah tidak, makanan buatanmu sangat enak"
"Tentu saja" jawab Sehun dengan bangga.
"Apa kau belajar dari ibumu ?"
"Aku ini tidak bodoh sepertimu, segala sesuatu harus diajari."
"Sombong sekali dia" gerutu Baekhyun pelan.
"Kau mengatakan sesuatu ?"
"Tidak~"
'Pendengarannya memang sangat tajam' batin Baekhyun.
.
.
Makan malam sudah selesai, Sehun dan Baekhyun membereskan piring kotornya dan menaruhnya di tempat cucian piring.
"Biar aku saja" cegah Baekhyun saat melihat Sehun yang akan mencucinya.
"Baguslah" Sehun meninggalkan Baekhyun.
'Lagi-lagi respon seperti itu, tapi tidak tahu kenapa aku tetap menyukainya' batin Baekhyun, kemudian tersenyum. Ia pun melanjutkan kegiatan mencuci piringnya.
Tak jauh dari situ Sehun menoleh dan tersenyum tipis.
.
.
"Hahahhaha" tawa Baekhyun karena komik yang dibacanya. Saat ini gadis itu sedang bermalas-malasan sambil membaca komik di kamarnya. Hari ini hari libur, karena tidak ada kegiatan, Baekhyun mengisi waktunya yang membosankan itu dengan membaca komik.
'Ceklek' bunyi pintu kamar yang terbuka. Kemudian Baekhyun menoleh ke sumber suara itu. Dilihatnya Sehun yang keluar dari kamarnya. Baekhyun pun memperhatikan Sehun dari dalam kamarnya karena pintu kamarnya sedikit terbuka.
"Rapi sekali, mau pergi kemana dia".
Merasa penasaran, Ia pun mengejar Sehun. Baru saja akan memanggil, Sehun sudah membalikkan badannya.
"Aku akan pergi keluar, jadi kau jaga rumah ini. Tapi jika kau ingin pergi jangan lupa untuk mengunci pintu rumah" kata Sehun, kemudian ia pergi.
"Ck, aku bahkan belum bicara sedikit pun tapi dia sudah pergi begitu saja, dasar seenaknya saja dia".
.
.
Sudah setengah harian Sehun dan Luhan berjalan-jalan. Saat ini mereka sedang berdua didalam mobil.
"Sehunie ini masih terlalu sore untuk pulang, bagaimana kalau aku main ke rumahmu ? Sudah lama sekali aku tidak kerumahmu" kata Luhan.
"Mwo ?" Sehun terkejut.
"Aku ingin main ke rumahmu" Luhan mengulanginya karena mengira Sehun tidak mendengar ucapannya.
"A-aa i-itu orang tuaku sedang tidak ada di rumah, lain kali saja bagaimana ?"
"Aku hanya ingin main ke rumahmu, tidak untuk menginap" goda Luhan.
Sehun terdiam, Ia sedang memikirkan bagaimana Ia harus menjawabnya. Lama tidak mendapatkan jawaban, Luhan pun berkata lagi
"Baiklah, kalau tidak..."
"Baiklah, ayo kita kerumahku" sergap Sehun segera sebelum Luhan merajuk.
"Jeongmal ? Gomawo" Luhan tersenyum girang.
.
.
"Jadi sekarang kau tinggal disini ? Aku pikir kau masih tinggal di rumahmu yang dulu"
"Iya, Aku pindah kemari saat aku lulus SMP."
Luhan menganggukan kepalanya.
"Tatanan rumah ini sangat bagus, ini pasti selera ahjuma. Sehunie bolehkah aku melihat kamarmu ?"
"I-itu.."
"Ayolah, aku ingin melihat bagaimana kamar Sehunie yang sekarang" bujuk Luhan. Merasa tidak enak, Sehun pun mengiyakannya. Sehun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
'Sepertinya dia sedang pergi' pikir Sehun.
"Ada apa ?" tanya Luhan.
"Tidak ada apa-apa."
"Tapi.."
Tiba-tiba ponsel Luhan bergetar, ia pun segera mengangkat panggilan teleponnya. Setelah itu,
"Sehunie sepertinya aku harus pulang" kata Luhan murung.
"Benarkah ?"
"Iya, padahal aku baru main sebentar".
"Kau kan bisa main kesini lagi nanti".
"Hmmm, baiklah aku pulang dulu".
"Kalau begitu aku akan mengantarmu"
"Tidak perlu aku akan pulang sendiri, terima kasih sudah memperbolehkanku main kesini."
Saat Luhan akan keluar tiba-tiba pintu terbuka seperti ada seseorang yang akan masuk. Luhan pun terkejut melihat orang itu, begitupun respon orang itu sama terkejutnya saat menyadari Luhan di rumah Sehun.
"Kau ?"
.
.
TBC
