'Kita selesai.' Read. 00.00 a.m
.
.
.
"Scrapbook"
Disclaimer : intinya, tokoh di sini bukan punya saya kecuali ceritanya *wink*
Warning : always bottom!tae, fufufu. Dunia terlalu indah dengan seorang Taehyung yang diperebutkan, wakakak #apasih.
Proudly Present by Cakue-chan
.
.
[Page One] "The Penthouse"
.
.
.
~oooOOOooo~
.
Rule one :
Pertama, Jeon Jungkook tidak pernah salah.
.
~oooOOOooo~
.
.
.
"Kau seperti zombie."
"Oh, benarkah?"
"Ralat, kau seperti makhluk kanibal gila yang disebut crank, Taehyung-ah,"
"Oh, benarkah? Padahal aku bisa menjadi Newt. Atau Thomas, mungkin?"
"Kuganti lagi, kau gila. KAU. BENAR-BENAR. GILA."
"Oh … benarkah?"
"Arrgh!"
Park Jimin tidak suka ini.
Dari sekian rutinitas monoton yang setiap kali dilakukannya (bangun, sarapan, berangkat kuliah, mendengarkan dosen, pulang, tugas, lalu tidur lagi) yang bagi Jimin membosankan, mendapati seorang Kim Taehyung dengan mood seperti orang mati jauh lebih buruk dibandingkan yang lainnya. Itu menjengkelkan, sungguh. Dan Jimin mengutuk seseorang bernama Kim Namjoon dengan segala janji manisnya yang pernah dikatakan untuk seorang Kim Taehyung.
Kini, janji itu berubah menjadi dusta yang akan sulit dilupakan.
"Lupakan si brengsek Kim Namjoon itu, Taehyung," sahut Jimin akhirnya, lama-lama ia jadi gemas sendiri dengan tingkah pemuda berambut cokelat tua yang duduk di depannya itu. Jika saja keadaan kafetaria kampus tidak seramai—well, tidak ramai-ramai juga, sih—ini, Jimin sudah memastikan akan menggebrak meja cukup keras agar alam sadar seorang Kim Taehyung pulih dengan cepat.
Jimin mengenal siapa itu Kim Namjoon. Termasuk bagaimana tabiat asli di belakangnya selama pemuda tinggi itu menjalin hubungan bersama Taehyung. Untuk itu, ketika Taehyung berkata bahwa ia akan berpisah dengan seorang Kim Namjoon (dalam artian suatu hubungan yang terkait dengan hati), Jimin tidak perlu repot-repot memberikan bantahan.
"Aku sudah melupakannya sejak kemarin, Jimin," balas Taehyung ketus, meski lesu sempat terselip dalam nada suaranya. "Dan aku tidak menyesal sudah memutuskannya kemarin malam, sungguh." Ia menggeleng beberapa kali, "tidak. Sepertinya aku sudah mulai melupakannya sejak aku jarang pulang ke apartemen."
Dalam dua minggu terakhir ini, Park Jimin dengan senang hati membagi ruangan apartemennya yang bisa dibilang luas itu ditempati bersama Kim Taehyung. Bukan tanpa alasan mengapa Taehyung memutuskan untuk minggat dari apartemennya sendiri—ralat, apartemen yang ditempatinya bersama Kim Namjoon, kekasihnya—dan menetap di sana sampai akhirnya Taehyung memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru. Tidak lama, karena satu minggu setelah Jimin menemani Taehyung dengan ekstra sabar (jujur saja, Taehyung terkadang bisa sangat bodoh dalam memilih), mereka berhasil menemukan tempat yang cocok. Jimin memang belum melihat tempatnya, namun Taehyung bilang calon tempat tinggal barunya itu bagus dan yang pasti, biaya sewanya juga murah.
Jimin menghela napas lelah. "Aku tidak ingin mendengarnya lagi," ia bergumam, "omong-omong, apa mantanmu itu tahu kau akan pindah?"
"Ha ha ha," Taehyung tertawa aneh, aneh sekali. "Itu sama saja mencari mati."
Sepasang alis Jimin mengerut. "Kau tidak memberitahunya?"
"Untuk apa?" pemuda itu membalas tak acuh, lalu menyesap pelan secangkir macchiato yang sempat dilupakannya pelan. "Orang itu pasti tidak akan membiarkanku pindah."
"Maksudmu, dia tidak ingin putus?"
Bahu Taehyung mengendik. "Terserah apa katanya, aku tidak peduli," masih jelas dalam ingatannya ketika ia menggunakan kata 'kau'sebagai pengganti 'Namjoon-hyung' yang sering kali Taehyung ucapkan untuk memanggil kekasih—bukan, mantan kekasihnya—itu ketika mereka bertengkar dalam percakapan Line semalam hingga akhirnya kalimat sakral berupa putus tertulis. Taehyung bahkan bisa mengingat bagaimana jemari-jemarinya mengetik dengan begitu cepat dan terburu-buru. Tidak sopan, memang. Tapi seperti sifat dasarnya yang keras kepala, Taehyung tidak peduli; sama sekali tidak peduli.
"Lalu, bagaimana jika dia mencarimu?"
"Aku akan sembunyi."
"Jika dia bertanya padaku?"
Mata Taehyung memicing. "Katakan yang sebenarnya, kau mati, Park Jimin."
Jimin menggeleng frustasi. "Sepertinya aku tidak perlu berbohong," katanya sambil meringis. "Karena orang yang baru saja kita bicarakan sedang berjalan kemari, tidak jauh dari tempatmu, Taehyung."
Taehyung spontan terbatuk, meletakkan cangkir cukup keras hingga cairan semu pahit itu keluar dan mengotori permukaan meja, setelah itu bangkit berdiri dengan terburu-buru.
"Bloody shit."
~oooOOOooo~
Yang Jeon Jungkook ingat, hari ini akan ada pendatang baru.
Seokjin sudah mengirimnya pesan singkat (sebelum pria itu datang menjemputnya di sekolah untuk pulang bersama) tentang siapa yang akan menjadi penghuni baru di sebuah penthouse yang selama ini mereka berdua tempati, dan kapan sang pendatang akan tiba. Dalam pesan singkat yang ditulis Seokjin, penghuni baru itu akan datang tepat pukul lima sore. Dan Jungkook mendapati jarum jam yang melingkar manis di pergalangan tangan kirinya mengarah pada angka empat.
Satu jam menanti, dan Jungkook benci menunggu dalam setiap detiknya.
Terus terang saja, ide Seokjin untuk menerima orang baru dalam teritori kehidupan mereka berdua sama sekali tidak bisa Jungkook terima. Awalnya ia membantah, jelas. Jungkook tidak suka menerima orang asing dalam hidupnya. Ia sudah berjanji untuk tidak mempercayai siapa-siapa lagi kecuali Kim Seokjin. Pria dua puluh dua tahun dengan profesi sebagai dokter itu sudah dianggapnya sebagai kakak. Bukan hanya sekadar kakak, tapi bagian dari keluarga.
Lalu, ketika ultimatum yang diberikan Seokjin kepadanya mulai terucap, Jungkook tahu membuat kesepakatan bersama pria itu adalah jalan terakhir. Jungkook tidak suka pertengkaran, untuk itu ia tidak menolak meski relung hatinya menerima dengan berat hati. Seokjin mungkin bisa menerima seorang pendatang baru, dengan alasan mengisi kekosongan satu kamar dalam penthouse mereka yang belum terpakai. Namun bagi Jeon Jungkook, menerima keadaan baru akan menjadi hal yang tersulit dalam hidupnya.
"Kau tunggu di sini sebentar, Jungkook," Seokjin melepas sabuk pengaman dengan tergesa, mengambil ransel yang terletak di kursi belakang mobil, lalu membuka pintu di sampingnya. "Aku hanya akan menemui dosen anatomiku di kampus, tidak akan lama, tenang saja," ia memberikan cengiran lebar sebentar, setelah itu melesat keluar. "Kalau kau bosan," katanya sebelum menutup pintu, "kau bisa pergi ke kafetaria yang berada di sana. Jangan lupa membawa kunci mobilnya karena aku tidak akan mengunci pintu. Nah, aku pergi dulu."
Jungkook tidak menyahut sampai akhirnya suara pintu ditutup terdengar nyaring dan suasana dalam mobil berubah hening. Pemuda itu lagi-lagi menghela napas, Jungkook bahkan tidak tahu dari mana datangnya kebiasaan baru yang satu itu. Entah mengapa, hari Senin dengan segala berita baru yang didapatnya akhir-akhir ini membuatnya frustasi. Terlebih untuk jam lima sore nanti.
Ia baru saja akan mengambil earphone di dalam ransel sekolah ketika kaca depan jendela mobil menarik perhatiannya. Jungkook mengernyit pelan, manakala ketika matanya menangkap satu gelagat aneh dari seorang pemuda yang berlari tak tentu arah mendekati mobil Seokjin yang terparkir.
Jungkook mendapati seseorang berambut cokelat tua, yang terlihat begitu jatuh begitu setiap helainya ikut bergoyang ketika ia berlari. Penampilannya tampak kasual, namun fashionable di saat bersamaan. Sweater biru muda yang dipadu mantel cokelat berwarna biji kopi, celana jeans hitam, bonnie hat yang menutupi separuh kepala, dan sepasang converse putih yang membalut kedua kakinya hangat. Jungkook tidak mengerti, ia seperti orang tidak punya kerjaan untuk satu menit ke depan hanya dengan memandang pemuda dengan ekspresi panik yang berlari linglung semakin dekat ke arah—
Tunggu, tunggu, apa ini? Mengapa pemuda itu tiba-tiba saja berhenti di pintu belakang mobil Seokjin dan membuka—
"Mian!"
Dua detik, Jungkook mematung. Yang detik sebelumnya terdengar pintu terbuka cepat, seseorang melemparkan diri ke dalam, dan pintu kembali dibanting begitu saja. Itu mobil Kim Seokjin, dasar sialan.
Jungkook mengerjap, lalu, "siapa kau?"
"Sebentar saja, sungguh!" bukannya menjawab, si orang aneh—Jungkook memanggilnya seperti itu—malah berseru panik sambil menyembunyikan diri di balik kursi penumpang depan. Apa-apaan?
Tiga detik setelah Jungkook paham pada situasi yang tengah terjadi, keberaniannya mendadak muncul dengan cepat. "Kau!" sentaknya, "Dasar orang aneh! Cepat pergi dari sini! Apa yang kau lakukan, hah!?"
Orang aneh itu menegakkan tubuh. "Hanya sebentar saja, bocah!" balasnya tak kalah sengit, lalu kembali menunduk dengan kedua lengan menutupi seluruh kepala. "Sudah, jangan pedulikan aku! Kembali saja pada kegiatanmu tadi."
Jungkook membuang napas kasar. Tangannya seakan-akan bergerak refeks dan menarik pergelangan tangan kanan si orang aneh hingga sang pemilik tangan tersentak, lalu kembali menegakkan tubuh. Terlalu kurus, astaga. Jungkook bahkan bisa merasakan bagaimana tekstur tulang dalamnya di antara kelima jemarinya yang menggenggam.
"Keluar," Jungkook berkata; dingin, datar, sinis. Binar kedua matanya berubah tajam. Ia hanya tidak ingin terlibat dalam masalah jika pemuda di depannya itu adalah seorang buronan kejaran polisi. Atau mungkin yang lebih parahnya, seorang psikopat. "Keluar atau kupanggil polisi."
"Aku hanya sebentar," nada suara pemuda aneh itu berubah, lebih ke arah memohon dan putus asa. "Percayalah, apapun yang kau pikirkan saat ini, itu tidak benar. Aku bukan orang jahat, sungguh. Aku hanya—shit, dia datang. Menunduk!"
Demi guru fisika di sekolahnya yang terkanal killer, Jungkook ingin sekali melempar orang aneh di depannya ini dengan satu kali tendangan keras tepat di tulang kering. Biar saja pemuda itu mati dengan tubuh kurusnya, yang jelas Jungkook hanya ingin keluar dari situasi bodoh ini. Dan demi seorang dokter seperti Kim Seokjin, ke mana perginya pria itu?
"Kau…" Jungkook menggeram, berusaha menarik kembali kepalanya yang dipaksa untuk ikut menunduk, "cepat ke—"
"Baiklah, baiklah!" potongnya cepat. "Aku akan keluar sekarang juga asal kau membantuku sebentar," mata kucingnya berbinar dengan caranya sendiri—entahlah, Jungkook tidak bisa menebak sorot sepasang manik mahoni di hadapannya itu. Takut? Terkejut? Apapun itu, terserah. "Kau hanya perlu memberitahuku apa kau melihat seorang pria tinggi, rambut berantakan, dengan mata kecil dan bibir tipis ketika tersenyum."
Ya Tuhan. Jungkook mana bisa menemukan orang yang dimaksud hanya dengan melihat cara tersenyumnya. Dia pikir dirinya itu seorang mikro ekspresi? Jangan gila. Ia tidak ingin membuang waktu dengan sia-sia untuk hal konyol seperti itu.
"Tidak ada." Bohong memang, sepertinya. Ia bahkan tidak perlu repot-repot untuk mencari sang subjek yang dimaksud dengan cara mengamati setiap orang yang lewat satu per satu. Jungkook hanya ingin orang aneh itu pergi secepat mungkin, titik. "Sekarang, keluar."
"Kau yakin?"
Jungkook mengerang keras. "Sangat yakin dan keluar sekarang juga sebelum aku memanggil polisi! Cepat!"
Orang aneh itu melepas topi bonnie-nya kesal, melemparnya cepat hingga mengenai wajah Jungkook dengan telak, lalu membuka pintu dalam sekali sentakan. "Tidak perlu berteriak juga, bocah! Sekolah saja yang benar sana!"
Fucking—asdfghjkl! Jungkook benci hari Senin!
"Awas kau!"
~oooOOOooo~
"Kau yakin akan tinggal di penthouse seperti ini, Taehyung-ah?"
Taehyung menarik kopor berukuran cukup besar dari bagasi mobil dengan susah payah, membenarkan tali ransel yang merosot dari bahu kirinya, lalu mendongak mengikuti ke mana perginya tatapan Jimin. Sepasang alisnya saling bertaut sejenak, sebelum akhirnya ia tersenyum lebar sambil terkekeh.
"Well, kenapa tidak? Uangku tidak sebanyak itu untuk tinggal di apartemen sendirian, bodoh."
"Aku tidak mengkhawatirkan uangmu, bodoh!" Jimin mendengus sebal, sebelah tangannya tidak bisa diam untuk tidak menepuk belakang kepala Taehyung hingga terdengar suara mengaduh kecil. "Tapi lihat bangunannya baik-baik. Memangnya kau ini sedang syuting film horor?"
Jimin tidak berusaha untuk bergurau, namun Taehyung menanggapinya dengan suara tawa renyah. "Ini tidak lebih horor daripada bertemu dengan Kim Namjoon."
Bangunan itu tidak kecil, tapi tidak juga besar. Hal yang membuat Taehyung begitu tertarik menjadi salah satu penghuninya karena desain luarnya yang terlihat klasik. Memang tidak mencerminkan sebuah penthouse yang biasa dibangun dengan gaya victorian, namun kesan artistik dan tradisionalnya yang begitu kental perpaduan antara Eropa dan Asia, menjadi poin pertama dalam penilaian Taehyung. Penthouse itu tua, berumur dari dinding abu tuanya yang mulai terkikis, namun kokoh. Terawat dengan baik.
Seperti yang dikatakan Jimin, mungkin bangunan itu terlihat agak horor. Hanya saja, Taehyung lebih memilih defenisi horor tersendiri seperti bertemu dengan seorang Kim Namjoon secara tiba-tiba sampai ia harus bersembunyi di dalam mobil orang asing. Omong-omong soal mobil, mood-nya sempat memburuk saat pertengkaran kecilnya dengan seorang bocah tidak tahu sopan santun. Ah, atau mungkin dirinya sendiri yang tidak sopan? Aiish, lupakan saja. Lagi pula itu sudah lewat. Sebenarnya Taehyung berniat mengucapkan terima kasih, hanya niat. Jika bocah tinggi tadi tidak membuatnya kesal setengah mati.
"Okay, terima kasih karena sudah mengantarku, Park." Ujar Taehyung kemudian. "Maaf merepotkanmu sampai sekarang," ia meringis sejenak, "dan mungkin aku akan merepotkanmu terus."
Jimin mendengus geli. "Seperti bukan Kim Taehyung saja." Ditepuknya bahu Taehyung sekilas, dan perlahan-lahan melangkah mundur sebagai bentuk undur diri. "Maaf tidak bisa mengantarmu sampai ke dalam, waktuku padat sekali hari ini. Jika ada apa-apa, kau bisa meneleponku. Jangan lupa untuk memakai pakaian tebal saat keluar, Tae. Suhu rendah tidak baik untuk tubuhmu,"
Bola mata Taehyung berotasi malas. "Tipikal Ibuku sekali."
"Aku serius, Kim."
"Apapun katamu, Park." Lagi, senyum lebar itu kembali terbit sebelum akhirnya ia menarik kopor, berjalan dengan agak susah payah, lalu menghilang di balik gerbang tua sebuah bangunan yang sesaat lagi menjadi rumah barunya.
~oooOOOooo~
Mungkin Kim Taehyung terlalu naif. Berpikiran sempit, dengan kata lain.
Ia pikir, melepaskan diri dari kekangan seorang Kim Namjoon akan dengan mudah memberinya kebebasan secara penuh. Sedari dulu, Taehyung selalu bermimpi untuk tinggal seorang diri di sebuah apartemen. Bertahan hidup dengan caranya sendiri, mencukupi segalanya dengan serba mandiri, dan Taehyung tidak perlu mencemaskan diri karena merepotkan orang lain. Park Jimin mungkin tidak masuk dalam daftar, karena ekstitensi pemuda itu sudah menjadi bagian dari keluarganya. Maka Taehyung tak perlu merasa canggung ketika ia akhirnya mendapat penawaran yang cukup menjajikan untuk tinggal di sebuah penthouseyang akan dihuni oleh tiga orang berbeda, dengan bayaran masing-masing pula.
Namun, terkadang harapan bisa tidak sejalan dengan realita sebenarnya.
Ketika pintu di depannya terbuka, pria ramah berjas putih itu menjadi objek pertama yang dilihat Taehyung. Ekspresi pada gurat wajahnya seolah berkata, welcome to paradise penghuni baru!
"Perkenalkan, namaku Kim Tae—"
"AH!"
Hening sejenak. Jeda dalam waktu lima detik.
Dan Taehyung mengenal betul satu sosok tinggi tidak asing lagi di matanya.
"KAU KAN SI BODOH, IDIOT, DAN ORANG LINGLUNG YANG TADI?!"
Taehyung pikir, dunia ini memanglah terlalu sempit.
~oooOOOooo~
.
Kedua, jika Jeon Jungkook bersalah, kembali ke peraturan pertama.
.
~oooOOOooo~
tbc
A/N : Hai :) ceritanya saya stress karena besok tes kanji/lupakan.
Dan, oh waw, saya gak nyangka responnya bagus banget :"D/pengennangis. Saya cinta sama kalian, hiksss. Sini sini, kasih pelukan dulu 8""D
Terima kasih banget buat : DozhilaChika (noooo, yang boleh Tae sama saya aja :"""/gaak), thiefhani fha (udah lanjut say :') tenang, akhir-akhir ini fanfic tae uke udah banyak kok), anaknyaKimJaejoong (aaaaa, makasih :') udah lanjut yaa~), TaeKai (Noovvvvvv, jangan teriak nanti suaranya abis X'D/heh. Udah lanjut dear~), anoncikiciw (SAYA PENGEN KABUR, GIMANA DONG? :"""D wkwkw, lupakan rule no 1, udah update ya^^), BbuingHeaven (udah update say X''D Deal juga udah ya. Wkwkw, karena pertama kali, bikin teaser asik juga ternyata, hihi), reiya zuanfu (eaaaaaa, dipilih dipilih buat couple-nya X'D wkwkwk. Dan yap! Di cerita saya Tae selalu uke kok *evil laugh*), Arinkyu21 (saya selalu semangat~~*wink* udah lanjut ya dear XD), deshintamirna (atau jangan-jangan malah NamV?/HEH. Wkwkwk), Guest (Cinta segitiga masih dipertanyakan, wakakakaak. Udah lanjut ya say :3), ameliariska330 (udah lanjut yaa dear :3), wahyu fn1 (/ikutan goyang dumang/ udah di-post ya say~ THREESOME ASTAGAA! Sebenernya saya pengen sih/HEH), EVIL88 ALIEN 95 (ADUH HUTANG SAYA MAKIN BANYAK :"DD/apaan. Okee~ fighting~), Jirinkey (yeaaaaaah~~ udah update ya deaar~ /ikutan alay, wkwkw/), SeseFujoshi Tabestry Syndrom (haloooo ihhhh, saya kangen kamu/dibuang. TERUS GIMANA ATUH SAYA MALAH KEPIKIRAN THREESOME :")) dan plis itu NAGIH-nya terlalu jelas dan saya tau utang saya menumpuk /boboan/ dan rulesmu tidak saya terimaaaaa, wkwkwkw), vnaekoya (udah lanjuut yaa dear~ hihihi, nanti juga terungkap alesan Tae seiring berjalannya waktu #eaaa), Guest007 (/kabuuur/ udah lanjut kook say~~ X3), Riyoung17 (aaaw, saya jadi ngapung gini X''D/heh. Selamat menunggu lagi, kekeke), ibu (udah lanjut, Ma :'3), 94shidae (saya dipanggil apa aja pasti nengok kok X3 aaaa, makasih udah sukaa~ dan udah lanjut ya dear :3), tae's (hghghghg, saya juga demen tae didominasi, wakakakak), EunhyukJinyoung02 (wkwkwk, tapi sekarang udah masuk cerita. Udah lanjut broo~~), yoitedumb (tae bakal pilih saya daaaa, huahahaha *ikutan nari gaje*), Diana032 (ini udah dipanjangin kok :3), Aita Hwang (asdfghjkl! Saya mah partai tae yang diperebutkan/naaaak), Taetae (udah lanjut saaaaay :333), Guest2 (Yeeeeeeeeyyy~), Oh Deer Han (udah lanjuut dear. Dan kayaknya ini bakalan multichapter :""D). Makasih buat reviewnyaaa ya gaiiisss X''D /pelukin satu-satu/ tanpa kalian da saya mah apa atuh, cuma sebutir cokocips :'D
Terima kasih juga buat yang udah fave dan follownya~ kalian semua jjang! (Btw, rambut rapmon warnanya apa siih? :")))
Kotak review selalu terbuka kok~
