Ketika Seokjin membawa berita tidak terduga tentang pendatang baru pagi itu, Jungkook mendadak ragu. Bukan maksudnya ia menolak, hanya saja, Jungkook merasa hal ini jarang terjadi. Setelah tiga tahun mereka memutuskan untuk hidup di atap yang sama, Seokjin tidak pernah mengungkit-ngungkit soal mencari roommate baru atau sejenisnya. Ia juga tidak merasa kewalahan dalam mengurus kebersihan dan membayar biaya penthouse. Ah, mungkin memang sedikit berantakan, tapi Jungkook tidak pernah keberatan soal itu. Lagi pula, Seokjin juga merasakan hal yang sama.

Namun, pikiran Seokjin tiba-tiba berubah. Laki-laki itu dengan mudah berkata akan lebih baik jika mereka merekrut anggota baru (yang tidak lain dan tidak bukan adalah roommate, tentu saja). Dengan alasan keadaan penthouse bisa lebih terasa hidup dan bersih.

Mendengarnya, Jungkook kesal bukan main. Pertama, karena Seokjin tidak pernah membicarakannya selama ini secara terang-terangan. Ia bahkan nyaris menolak ultimatum pria itu mentah-mentah jika Seokjin tidak mengizinkan dirinya untuk membuat peraturan secara penuh. Kedua, dipikir dirinya itu tidak bisa menjaga kebersihan? Well, kamarnya memang berantakan, tapi ruangan lainnya bisa dibilang agak bersih dan masih bisa dipakai dengan layak.

Dan ketiga, Jungkook belum siap.

Orang baru, teman baru, dan teritori hidupnya—yang mungkin—akan berubah menjadi baru ketika satu orang asing memasuki kehidupan mereka berdua sebagai seorang roommate. Jeon Jungkook hanya belum siap membuka hatinya kepada orang lain selain Seokjin yang selama ini membantunya.

Tetapi, Kim Seokjin tetaplah Seokjin. Terkadang Jungkook benci menghadapi kenyataan laki-laki itu lebih tua dibandingkan dirinya. Ia juga benci karena Seokjin selalu menganggapnya anak kecil, (demi Tuhan, angka sembilan belas sudah di depan matanya beberapa hari lagi), sedewasa dan sematang apapun Jungkook bersikap.

"Hyung … yakin?"

Tak salah Jungkook merasa ragu, karena ia mendapati fakta kecil bahwa format data baru yang diterima Seokjin dan saat ini dibacanya itu sedikit melenceng dari peraturan yang ada.

"Memangnya kenapa?"

"Dia itu AB."

Kim Taehyung, Jungkook mencatat dalam benak; membaca kembali sederet nama yang tertulis manis di atas kertas. Entah bagaimana wajahnya, tambahnya dalam hati. Dan entah mengapa pula Jungkook sedikit janggal mengenai hal ini. Dalam peraturan new roommate, tepatnya di nomor tiga, Jungkook menulis; jangan berkelakukan aneh. Jika kau bergolongan darah AB, maka kami akan mempertimbangkannya kembali. (Dengan kata lain, golongan darah AB bisa saja menjadi pengecualian dan bisa ditolak langsung). Karena Jungkook merasa tipe golongan darah ini selalu berkelakukan aneh.

"Tidak apa-apa, Jungkook. Mungkin dia bisa menjadi teman yang menyenangkan?"

"… aku ragu."

.

Nama : Kim Taehyung

Golongan darah : AB

Hal yang disukai : Singa

Motto hidup : senyum, senyum, senyum karena kau mengenal Kim Taehyung!

.

See?

.

.

.

"Scrapbook"

Disclaimer : intinya, tokoh di sini bukan punya saya kecuali ceritanya *wink*

Warning : always bottom!tae, fufufu. Dunia terlalu indah dengan seorang Taehyung yang diperebutkan, wakakak #apasih.

Proudly Present by Cakue-chan

.

.

[Page Two] "The Rules"

.

.

.

~oooOOOooo~

.

Orang asing tak bisa masuk begitu saja dalam sebuah lingkaran yang terpilin erat.

.

oooOOOooo~

.

.

.

'Tae, balas pesanku.'

'Tae… Kim Taehyung.'

'TAEHYUNG!' Read. 10.00 p.m

'Jangan di-read saja, bodoh!' Read 10.05 p.m

'HEI!' Read. 10.10 p.m

.

'Maaf, aku tidak mengenalmu. Pergi sana.'

Read. 10.30 p.m

.

.

.

"Mengambil lorong sebelah kanan, kau akan menemukan taman belakang. Dulu kami biasa merawat bunga mawar dan jenis lainnya di sana, tapi karena akhir-akhir ini kami disibukkan urusan masing-masing, taman belakang jadi jarang diurus,"

Seokjin terkekeh kikuk, menggaruk tengkuk ketika Taehyung memberinya kerlingan geli begitu mendengar penjelasan terlampau jujurnya. Apa yang dikatakannya memang benar, taman halaman belakang jarang terpantau karena Seokjin sibuk dengan urusan medisnya, dan Jungkook sering terlihat membenamkan diri pada tumpukan buku-buku.

"Aku bisa ikut merawatnya, kan?" tanya Taehyung polos, ada sedikit harapan yang terselip dalam nada suaranya. Astaga, Seokjin mendadak ragu pemuda di hadapannya ini berumur dua puluh satu tahun.

"Tentu, Taehyung," balas Seokjin, "Kau bebas melakukan apa saja,"

Taehyung mengangguk pelan. "Lalu, lorong kirinya?"

"Well, ada laboratorium kecil di sana,"

"Laboratorium?!"

Satu tangan dikibaskan. "Hanya tempat percobaan," dokter muda itu tertawa kecil, gemas juga dengan mata cokelat yang membola dan berbinar antuasias itu. "Aku biasa melakukan praktik kecil-kecilan di sana, bukan hal yang besar,"

"Tapi tetap saja itu laboratorium," Taehyung meringis, "jarang-jarang ada penthouse yang memiliki laboratorium, setahuku."

Bisa dikatakan, penthouse yang tiga tahun ditempatinya ini memanglah unik. Seokjin bahkan tidak akan ragu-ragu untuk membelinya dalam harga tinggi jika ia ditakdirkan menjadi orang kaya; uang berlimpah dan saham di mana-mana. Sejak pertama kali Seokjin dan Jungkook menempatinya, tempat itu memang kosong. Nyaris tidak ada perabotan satu pun. Namun, ketika ia meneliti lebih dalam bagaimana desain interior-nya, Seokjin tahu ia tidak memilih tempat yang salah.

Bangunan penthouse tersebut terdiri dari dua lantai. Bagian bawah menjadi lantai utama yang besar. Terdiri dari tiga kamar tidur yang kosong, satu dapur ditambah konter mini, ruang tengah yang luas, satu kamar mandi, dan ruangan terbuka yang dibatasi oleh sekat-sekat lemari dan dinding. Setelah itu, lantai dua untuk loteng, taman mini di atas atap, dan sebuah perpustakaan kecil. Seokjin masih menimbang-nimbang bagaimana mengatur loteng agar menjadi tempat yang nyaman, karena terus terang saja, ia kebingungan dengan setiap letak ruangannya. Ditambah lagi, laboratorium dan taman belakang bisa dikatakan terpisah dari bangunan utama dan lebih mendekati pavilium; tersekat oleh lorong yang terpisah menjadi dua jalan.

Untuk itu, Seokjin selalu berkata; welcome to paradise!

"Lalu ini dapur," Seokjin mengarahkan, "sekaligus ruang makan."

Meja makan dengan empat kursi yang kosong dan bungkusan plastik jjajangmyeon yang sudah habis.

"Er, aku bisa melihatnya,"

Seokjin terkekeh, lagi. "Sebagai penekanan. Dan asal kau tahu saja, bahan makanan di lemari pendingin jarang penuh. Aku dan Jungkook biasa memesan makanan di luar,"

"Kau pasti bercanda," sahut Taehyung, menatap Seokjin dengan sebelah alis terangkat heran.

"Sayangnya, tidak."

Kali ini kening mengerut. "Sama sekali tidak pernah?"

"Kalau pun ada, mungkin makanan cepat saji?" merasa ditatap lama-lama, Seokjin jadi jengah juga. "Serius, Taehyung. Kami berdua jarang sekali memasak."

"Jarang atau … tidak bisa?"

Ups. Pertanyaan telak.

"Keduanya, dasar banyak tanya."

Mereka berdua serentak menoleh.

Seokjin meringis dalam hati, di ambang pintu dapur, Jeon Jungkook berdiri statis. Pakaiannya tampak jauh lebih santai dengan kaus abu longgar dan celana bahan berwarna hitam, punggung bersandar pada daun pintu dan kedua lengan bersilang di depan dada. Pemuda jangkung itu baru saja mandi, sepertinya. Seokjin bisa melihat tetesan kecil di setiap ujung anak rambutnya yang tertata acak, juga handuk putih tersampir di sekeliling bahu. Dan memang namanya Jeon Jungkook, wajah datar juga cemberut tipis yang memoles parasnya. Ya Tuhan, Seokjin terkadang bingung dengan jalan pikiran anak-anak zaman sekarang. Atau Jungkook memang kekurangan hormon kebahagiaan?

"Ah, Jungkook," sapa Seokjin, menggerakan satu tangan sebagai isyarat untuk mendekat. "Kau mau ikut menjelaskan tentang penthouse ini?"

Jungkook mendengus samar. "Membuang waktu."

My, my… tipikal sekali.

Seokjin jadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka sebelum ini ketika Jungkook berteriak betapa bodoh dan idiotnya Kim Taehyung itu saat di depan pintu tadi. Sebetulnya itu sama sekali tidak sopan, astaga. Ke mana perginya pikiran Jungkook yang normal beberapa menit yang lalu? Dan mengapa mereka berdua memberikan tatapan saling membunuh seperti itu, sih?

"Cih, aku juga tidak sudi," Taehyung mencebik sebal. Tidak lupa melakukan gerakan seakan-akan ia muntah. "Bocah sepertimu lebih baik belajar yang baik."

Duh, Seokjin tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya pendatang baru ini belum bisa beradaptasi dengan tingkah laku Jungkook dalam waktu dekat. Atau mungkin Jungkook yang belum terlalu bisa menerima, karena—well, Seokjin mengenal remaja itu dengan baik. Menganggap Jeon Jungkook sebagai adik kecil bukanlah rahasia umum lagi.

"Kau, dengar baik-baik Kim Taehyung,"

O-oh, sepertinya keadaan mulai memburuk.

Seokjin mengaduh dalam hati, meski pada akhirnya enggan melarang ketika Jungkook beringsut dari tempat semula, berjalan dengan langkah lebar dan berhenti tepat di hadapan Taehyung, lalu melipat kedua lengan di depan dada secara defensif sembari menatap tajam pemuda yang lebih pendek darinya itu. Dasar, mentang-mentang tubuh menjulang seperti tiang, gayanya berubah jadi lebih mengintimidasi. Seokjin tidak ingat kapan Jungkook bisa lebih terlihat dominan seperti ini.

Satu lagi yang menjadi bahan keluhannya, Seokjin tidak tahu jika Kim Taehyung bisa membalas tatapan Jungkook seperti itu. Tak ada ketakutan dalam binar matanya. Sorotnya sama-sama menantang, kilatan antusias itu, dan keras kepala yang melintas dalam sepasang manik cokelat.

"Ada peraturan—entah itu tertulis atau tidak—yang seharusnya kau patuhi," lanjut Jungkook diplomatis, tidak menghilangkan nada otoriternya yang begitu kental. "Kau pasti sudah membaca delapan peraturan utama sebelum datang kemari. Dan salah satunya tertulis, jangan berkelakuan aneh—"

"Aku tidak aneh."

"—dan membuat masalah. Peraturan tambahan, jangan memotong pembicaraan orang,"

"HEI!"

"Juga jangan berteriak, jaga sopan—sudah kubilang dengarkan dulu," Seokjin nyaris terbahak ketika Taehyung menutup mulutnya kembali (yang detik sebelumnya terbuka untuk mengeluarkan kelimat protes) dan sepasang mata Jungkook yang memicing jeli. "Kuulangi, jaga sopan santunmu Kim Taehyung. Kau orang baru di sini."

Sebenarnya, dalam spekulasi seorang Kim Seokjin, Taehyung bisa saja menjadi seseorang yang penurut dan bersikap manis jika tidak ada faktor luar yang memengaruhinya. Contoh kecil, sikap Jungkook yang ditunjukkan. Taehyung bisa bersikap sopan ketika Seokjin melakukan hal yang sama kepadanya, tapi berubah menjadi keras kepala saat tingkah Jungkook tidak jauh berbeda. Untuk itu, mendadak Seokjin ragu, bertanya-tanya apa yang akan terjadi nanti jika Jungkook sulit menerima dan Taehyung enggan mengalah pada keadaan.

(Seokjin tak mengerti. Mengapa ia bisa dikelilingi dengan dua remaja labil yang keras kepala, sih?).

"Lalu, bagaimana dengan peraturan lainnya?"

"Hah, kau cari saja sendiri," Jungkook mencibir, "dibandingkan dengan yang tertulis, peraturan tidak tertulis dalam rumah ini jauh lebih banyak. Maka dari itu, sekali lagi kuperingatkan, catat dan camkan baik-baik, patuhi semua peraturannya kalau kau tidak ingin pergi dari sini."

Atau dengan kata lain, diusir secara atau tidak dengan baik.

"Peraturan tidak tertulis?" satu alis Taehyung terangkat."Maksudmu yang seperti apa?"

Di sisi lain, Seokjin tersentak pelan. Benaknya tanpa sadar menanyakan hal yang sama. Seingatnya, Jungkook tidak pernah membicarakan perihal peraturan tidak tertulis yang dimaksud untuk menerima pendatang baru itu di depannya. Jangankan membicarakan, berdiskusi pun tidak ada.

Jungkook mendengus kecil, menarik napas sepanjang mungkin, lalu mengembuskannya pelan. "Misalnya …"

Jeda sejenak, dan perasaan Seokjin mendadak tidak enak.

"… aku belum benar-benar mengakuimu, Kim Taehyung."

Ah.

Ia mengerti sekarang.


~oooOOOooo~


Memang siapa yang membutuhkan pengakuan?

Dasar bocah kurang ajar! Dipikir dirinya itu tuan muda yang bisa memerintah seenaknya? Taehyung juga mana mau diibaratkan sebagai kacung yang harus menuruti setiap perkataan anak kecil. Oke, Jeon Jungkook memang jauh dari frasa anak kecil, tapi—heck—di sini Kim Taehyung-lah yang mendapatkan kehormatan sebagai orang yang paling tu—maksudnya, lebih berumur di atas Jungkook. Universitas sudah menjadi jenjang pendidikannya, angka dua puluh dua nyaris ditapaki akhir Desember nanti, cara berpikir sudah berubah, dan sebentar lagi ia bisa mencicipi bagaimana rasanya soju ketika dingin mulai mampir melanda Seoul. Sedangkan Jeon Jungkook? Hah! Siswa teladan tapi sialan dan menyebalkan sudah pasti menjadi nama tengahnya. Taehyung sama sekali tidak ragu.

(Diam-diam Taehyung berdoa dalam hati, semoga saja hidupnya tidak akan terlalu sulit setelah ini).

Dua jam dihabiskan berkeliling penthouse, Taehyung menyerah pada rasa lelah dan Seokjin memintanya beristirahat. Walaupun sebelum itu, mereka bertiga menghabiskan waktu di ruang makan untuk mencicipi makan malam yang—amat sangat—hening.

Hening, karena Seokjin sibuk dengan ponsel di tangan dan sumpit di tangan lainnya. Hening, karena Jungkook menganggapnya patung dan lebih memilih fokus pada menu makanan yang tersaji di depan. (Omong-omong, bibimbab yang dibuatkan Seokjin sebagai masakan pesta kedatangannya benar-benar membuat Taehyung meleleh. Cita rasa yang mengecap lidah Taehyung tidak jauh berbeda dengan resep-resep yang ada di restoran terkenal, sungguh).

Malam itu pukul sebelas, tepat ketika Taehyung selesai membereskan beberapa barang di kamar barunya. Ruang yang tidak luas, tapi juga tidak terlalu sempit. Jendela dua kali satu meter tertempel di sisi barat, meja belajar klasik di sudut ruangan, almari cukup besar di sisi lain, dan tempat tidur single yang merapat pada dinding bewarna broken white. Tidak lupa juga, nakas kecil yang menemani di sampingnya.

Baju-baju sudah ditata rapi dalam almari, tumpukan buku disusun sistematis, seprai dan sarung bantal terpakai dengan baik, dan Taehyung sudah mengecek lampu kamar; listrik yang mengalir tidak ada masalah. Kira-kira, Taehyung nyaris menghabiskan waktu satu jam untuk membereskan kamar tidur sampai akhirnya ia kehausan dan memutuskan pergi ke dapur.

"Taehyung?"

Bahu menegang, tubuh berputar spontan, dan bola mata membesar.

"Oh—siapa—"

"Sssst!"

Taehyung refleks membekap mulut dengan kedua tangan saat perintah panik itu menembus gendang telinganya. Dalam kondisi menegangkan seperti ini (ruang tengah gelap kecuali lampu luar yang dinyalakan juga suasana senyap), otaknya akan lebih cepat bereaksi. Kalimat kecil seperti 'jangan berisik' atau 'ini sudah malam, jangan mengganggu orang yang sudah terlelap' dan bahkan ultimatum 'peraturan selanjutnya jangan membuat keributan di tengah malam' yang meluncur dari bibir Jeon Jungkook sampai bisa terpikirkan oleh Taehyung. Panik memang ada gunanya juga, ternyata.

"Kau belum tidur?"

Taehyung mengerjap, sekali, dua kali, ketika pupil matanya mulai terbiasa dengan sosok yang bertanya (tubuh tinggi dan piyama membalut), ia mendesah lega. "Seokjin-hyung," katanya pelan, nyaris menangis—malah. "Demi Tuhan, jangan pernah lakukan hal itu lagi, Hyung,"

Yang dikomentari mengangkat alis, lalu terkekeh geli. "Panggil aku Jin-hyung saja," ujar Seokjin lembut, "Dan maaf, aku tidak tahu kau bisa terkejut seperti itu. Omong-omong, apa yang kau lakukan di sini, Tae?"

"Haus," balasnya singkat, sedangkan kedua kaki berderap hati-hati menuju dapur. "Hyung sendiri?"

Seokjin menunjuk pintu kamar mandi di belakangnya, sebelum akhirnya bahu mengedik tak acuh. "Seperti biasa, panggilan alam." Setelah itu tertawa kecil menyadari kekonyolannya meski Taehyung sudah menghilang di balik sekat dinding dapur.

Tak butuh waktu lama sampai sunyi di antara mereka mendadak pecah karena denting beling yang membentur rak penyimpanan, suara tombol dispenser ditekan hingga air mengalir, dan gelas terisi penuh; meninggalkan batas satu sentimeter dari permukaan atas. Taehyung meminumnya dalam satu kali tegukan, menghayati mineral bening melewati jalur kerongkongannya. Tidak sadar ketika sepasang iris gelap itu, yang memakunya tepat di punggung, memerhatikan dengan seksama dan cemas yang menyelimuti.

"Taehyung,"

"Ya?" atensi berpindah seluruhnya kepada Seokjin. "Ada apa, Hyung?"

"Soal tadi, tidak perlu diambil hati, ya?"

Kening berkerut samar, tidak mengerti. "Soal yang mana?"

"Mengenai Jungkook."

Oh. Taehyung pikir, bocah jangkung itu memang pembuat masalah. Aneh, memang. Taehyung bukan tipe orang yang suka mempermasalahkan pandangan orang lain terhadap dirinya, namun ketika orang yang dimaksud adalah Jeon Jungkook, Taehyung membuat pengecualian kecil. Ia tidak suka jika yang melakukannya memiliki umur lebih muda darinya; terutama bocah sekolah menengah atas (hell, ia juga tidak tua, Ya Tuhan).

"Hyung tidak perlu khawatir, bocah itu memang menyebalkan. Tapi aku tidak pernah memikirkannya terlalu jauh,"

Seokjin mengulas senyum simpul, "Dia memang sulit menerima kehadiran orang baru," katanya lugas, seakan-akan ia sedang memperkenalkan putra kesayangan. "Jadi, untukmu, bertahanlah sedikit lagi, ya."

Taehyung menunduk kecil, tepat ketika satu tangan Seokjin terangkat dan mengacak puncak kepalanya dengan gemas. Seperti seorang kakak, batinnya tanpa sadar. Kapan terakhir kalinya Taehyung merasa hangat seperti ini? Entahlah, ia lupa. Atau mungkin menolak untuk menggali dasar ingatannya kembali.

… dan seperti rumah.

"Sekarang, cepat tidur. Kau pasti lelah."

"Jin-hyung,"

"Hm?"

"Hyung mengakuiku, kan?"

Tawa renyah terdengar, gerakan mengacak di puncak kepalanya berhenti sebelum akhirnya Seokjin menarik tangan. "Well … menurutmu?"

Taehyung mendengus pendek.

Dasar dua penghuni yang aneh.


~oooOOOooo~


"Ap—apa-apaan?"

Pagi itu, ketika Taehyung terbangun pada pukul tujuh pagi tepat dan ketika langkah pertama yang diambinya mengarah ke dapur dan membuka lemari kulkas, ia menemukan secarik kertas yang tertempel manis di bagian permukaan atas. Coretan Hangeul-nya ditulis rapi meski terburu-buru, terjepit di antara mainan magnet berbentuk bola bisbol. Pesangnnya singkat, tapi—baiklah, ini berlebihan—sedikit mematikan.

'Aku harus pergi pagi sekali. Sarapan tinggal dipanaskan. Bangunkan Jungkook di kamarnya.'

—Seokjin.

Ayolah, ini merupakan hari pertamanya di tempat baru dan ia harus memulainya dengan mencari masalah bersama Jeon Jungkook? Taehyung pikir ia salah mengambil jam bangun. Andaikan pagi bisa datang lebih siang sehingga Seokjin tidak perlu terburu-buru, atau Jungkook bisa membangunkan dirinya sendiri.

Omong-omong, percuma Taehyung mengeluh. Sampai bibirnya berbusa mengeluarkan rentetan kalimat maki atau kosakata kasar menusuk hati pun, Seokjin tidak akan mendengar. Lagi pula, ia sudah menyetujui permintaan pemuda yang lebih tua itu untuk membangunkan (secara halusnya jika tidak ingin disebut mengganggu) Jungkook, meski Taehyung sendiri tidak sadar ketika kedua kakinya mulai berjalan meninggalkan dapur. Seokjin bilang kamar bocah Jeon itu memiliki ruangan yang lebih luas dibandingkan dua kamar lainnya. Jungkook sendiri yang memilih dan Taehyung tak ragu bahwa bocah itu, selain menyebalkan dan seenaknya, juga bersifat manja. Cih, makin keki saja.

Pintu di hadapannya tertutup rapat. Sepasang alis Taehyung mengerut samar, manakala ketika deretan abjad yang terbentuk dalam dua poin utama tertulis rapi di atas bahan dasar karton berwarna hitam. Ditulis dengan tinta putih yang bersih. Terlihat mencolok; tegas dan menuntut.

Peraturan tertulis Jeon Jungkook yang harus dipatuhi—katanya.

… pertama, Jeon Jungkook tidak pernah salah.

Hah?

… kedua, jika Jeon Jungkook salah, kembali ke peraturan pertama.

Taehyung mencelos dalam beberapa detik.

Sinting.

Jeon Jungkook jelas bocah yang kurang waras. Atau mungkin tidak waras adalah nama tengahnya. Jeon tidak waras plus sinting Jungkook.

Semesta tak perlu mengambil waktu berharga lima detiknya Kim Taehyung sampai akhirnya pemuda itu memutuskan untuk memutar kenop pintu (yang untungnya tidak dikunci dari dalam, haha) dalam satu sentakan cepat namun hati-hati; meminimalisir suara gebrakan keras; hingga tapak kaki berpijak di atas marmer yang membeku.

Taehyung tertegun. Saraf penciumnya mengendus spontan ketika partikel gas menguar kuat; mint. Ia kira, bau tak sedap seperti keringat dan kaus kaki yang akan tercium pertama kali olehnya, tapi tidak, Jungkook sepertinya memiliki aroma khas yang sedikit dewasa. Terus terang saja, aroma mint yang diciumnya memberikan efek menenangkan dan segar di saat bersamaan.

Seperti yang pernah Seokjin katakan, kamar itu memang luas; satu tempat tidur besar, almari jati, meja belajar, rak buku, dan sofa kecil di sudut ruangan. Memang tidak seluas ruang tengah, tapi tetap saja luas dibandingkan kamarnya sendiri. Terlebih lagi, Taehyung juga belum melihat bagaimana isi dari kamar Seokjin. Mungkin penuh dengan cairan-cairan kental berbahan kimia? Atau potongan-potongan—sial, ia melantur lagi. Lupakan lupakan!

Lalu, di tengah ruangan beraroma mint yang membuat kepalanya pening itu, Taehyung mendapati Jungkook. Terbaring dengan posisi menelungkup dan tersembunyi di balik selimut tebal. Sisi wajahnya terbenam bantal berbahan angsa, dan Taehyung bisa melihat sepasang mata terpejam itu benar-benar terlelap dengan napas yang teratur.

Ya Tuhan, kenapa lagaknya bak seorang pangeran sekali? Taehyung membatin miris. Jika bukan karena permintaan Seokjin, ia mana sudi mendekati tempat tidur lebar dan besar itu. Taehyung mengendap hati-hati, berjaga-jaga agar tidak menimbulkan suara yang terlalu keras. Begitu kakinya sampai tepat di samping ranjang, sebelah lengan terjulur hati-hati.

"Oi," bisik Taehyung ragu. Sedikit—sedikit saja—menyingkap selimut hingga ia bisa melihat bahu lebar Jungkook mengintip. Astaga, bocah ini tidur tidak memakai busana. "Oi, cepat bangun, bodoh."

Guncangan dikeraskan. Pita suara tak lagi berbisik.

Taehyung bisa saja menendangnya langsung sampai terjatuh jika ia tidak ingat tempat.

Beberapa detik kemudian, dua kelopak terbuka gusar.

"Bangun, yaaaak! Jin-hyung bisa marah kalau—"

Hanya seperkian detik, dan Taehyung tak perlu memekik nyaring ketika selimut tersingkap cepat; secepat sebuah lengan kokoh menarik pinggangnya, secepat ia memejamkan mata, dan secepat tubuh dihempaskan tanpa ragu hingga punggung membentur empuknya ranjang. Tidak keras memang, tapi tetap saja menyalurkan sakit di sekitar lehernya.

Begitu Taehyung memaksa kedua matanya terbuka, ia sadar bahwa posisi saat ini adalah salah.

Pergelangan tangan ditahan erat dengan kuasa Jeon Jungkook tepat berada di atasnya. Helai rambut yang berjatuhan itu, belah bibir yang terkatup rapat, dan enam garis pendek setelah satu garis panjang di angka satu dalam hitungan sentimeter di antara hidung yang nyaris bersentuhan. Lantas, mata mereka bertemu. Terkejut dan datar. Polos dan sinis. Namun napas memburu gugup.

"Peraturan tidak tertulis pertama …"

Taehyung menelan ludah susah payah. Niat ingin berteriak di depan pemuda itu lenyap seketika. Ia tidak ingin berasumsi bahwa Jungkook mungkin masih saja bermimpi. Tapi, tidak. Ia tidak pernah menemukan manusia bermimpi sambil membicarakan sebuah peraturan. Kalau pun ada, itu adalah Jeon Jungkook.

"… jangan seenaknya masuk ke kamarku tanpa izin."

Dengusan kecil bercicit. "Jungkook, aku tidak—"

"Kedua …" cekalan di tangan kiri Taehyung terlepas. Jungkook mengulurkan tangan ke arah nakas samping tempat tidur, bergerak liar dua detik, dan berhenti pada gelas tinggi berwarna bening dengan mineral memenuhi setengahnya. Begitu dapat, ia membaliknya penuh di atas wajah Taehyung.

Taehyung membelalak, lalu refleks menutup mata begitu likuid bening tawar membasahi seluruh wajahnya. Dingin, dingin, dan basah—mengalir lancar pada kening, dua kerutan di sekitar mata dan pelipisnya, turun hingga menyetuh mandibula, nyaris tersedak juga tertelan di bagian bibir, dan perih yang tidak bisa ditahan begitu memasuki sela-sela kornea.

Taehyung tidak terima. Ia. Tidak. Mau. Diperlakukan. Seperti. Ini. Sialan!

Manik cokelat berpendar nyalang. Sangat berkebalikan dengan iris gelap yang masih menatapnya datar; sinis, dingin, tapi serius.

"… sekali kau masuk dan membuatku marah," ia mengulas seringai tipis, "jangan harap bisa keluar dengan selamat."


tbc


A/N : hai, selamat siang :)))

Jujur aja, saya gak yakin sama jalan dan akhir cerita di fanfic ini 8"D lol. (buat yang bingung, saya ambil umur Tae di sini 22, Seokjin 24, dan Jungkook 19).

Btw, saya lupa mau bilang, untuk fanfic "Verum" sebenernya saya bingung sama ending-nya, abis ada dua pilihan di sana. Yang satu bad ending, dan satunya lagi sad ending. Inget ya, bad ending sama sad ending itu berbeda. Bad ending bisa saja mengandung happy ending tapi dengan cara yang salah #halah. Jadi, karena takut pemahaman saya sama kalian beda(?), fanfic Verum maunya ending yang gimana? Bad atau Sad? 8""D /maafsayaemanglabilgimanadong. Dan apalah ini malah bawa-bawa fanfic lain 8""D/dibuang.

oh, terima kasih banyak buat : yoitedumb, TaeKai, Kidkiddo, Oh Deer Han, EVIL88 ALIEN95, Alestie, wahyufn1, 94shidae, ElflaCherry, Riska971, EunhyukJinyoung02, ichizenkaze, BbuingHeaven, Taetae, yeobaby, anoncikiciw, bangtandumb, hyesang-nim, Paperoheart, reiya zuanfu, ismisofifia, Guest, jenong, Aita Hwang, XiRuLin, lia, tum flr, deshintamirna, Helen, taehyungkece, iTAEVJIN, HaeMo, PurpleLittleCho, AprilKimVTae; buat review-reviewnya yaaa~~ dan makasih juga bagi yang sudah baca, fave, dan follownya 8"D sini sini, saya pelukin dulu kalian satu-satu~

Terima kasih udah membaca dan kotak review selalu terbuka kok~ salam hangat~

.

p.s : untuk kalian yang merasa dihutangin sama saya, maaf saya belum bisa post ya 8"D/dibegal.