"Scrapbook"
Disclaimer : intinya, tokoh di sini bukan punya saya kecuali ceritanya *wink*
Proudly Present by Cakue-chan
.
.
[Page Three] "Home"
.
.
."Ancaman klise."
Sepasang alis Jungkook saling bertaut, gelas kosong di satu tangannya nyaris terlepas dan membentur lantai tetapi lekas ia amankan di atas meja nakas. Taehyung menekuk lutut, telak mengenai perut Jungkook sampai ringisan lolos dan beringsut mundur, sedikit ruam-ruam merah timbul di pergelangan tangannya akibat cekalan Jungkook tetapi Taehyung tak mempermasalahkan. Jungkook berdecak sebal, menegakkan tubuh, kemudian turun dari atas ranjang. Sudut matanya menjeling tajam.
"Apa?" tantang Taehyung, "kaget kenapa aku tidak bereaksi seperti perawan yang mau diperkosa?"
Astaga.
"Cara bicaramu buruk sekali, Taehyung,"
"Yah, lihat siapa yang menumpahkan air seperti ini," sunggut Taehyung, menyugar poninya yang basah. Butirannya jatuh dari ujung rambut, berhasil membasahi separuh kaus longgar dari bagian leher ke bawah. Soal bantal atau selimut atau sprei yang basah sih Taehyung tidak peduli, ia juga tidak akan menawarkan diri sebagai binatu dadakan.
"Peraturan ketiga—"
"Berisik," potong Taehyung, lantas melompat dari tempat tidur. Keseimbangannya limbung dan ia hampir terpeleset jika Jungkook tidak menahan sikunya dengan gesit. Oh. "Trims. Kau bisa baik juga ternyata."
"Kalau ada apa-apa, Jin-hyung bakal cerewet." Karena tepat setelah pertolongan kecilnya, ia menepis lengan Taehyung tanpa tedeng aling-aling. "Dasar pengganggu."
"Pengganggu? Begitu maksudmu?"
Jungkook mengangkat alis.
"Bukan salahku sih kenapa kertas pengumuman soal roommate itu dibaca olehku. Aku juga butuh tempat tinggal dan di sini tempatnya. Aku ikut bayar sewa, tidak akan membuat masalah, Jin-hyung menerimaku, mungkin, jadi sesering apa pun kau mengeluh, aku tidak akan keluar dari sini."
"Belum apa-apa sudah sombong," decakan sinis, "aneh sekali orang sepertimu bisa lolos persyaratan rumah ini,"
"Ah, aku memang orang beruntung, kok," Jungkook jelas tahu pernyataan Taehyung mengandung nada sindiran, dan ia semakin tidak suka. Taehyung tertawa kecil, mengibaskan tangan di depan wajahnya, lalu meraih gelas kosong di atas nakas. "Ayo keluar," katanya sembari menggerakan kepala, "Jin-hyung sudah buatkan sarapan, nanti aku panaskan,"
Jeda sejenak untuk mengamati diri sendiri. Ia basah, Taehyung begitu basah.
"Setelah aku ganti."
Alih-alih menjawab, hening canggung yang Taehyung dapatkan. Sedangkan Yang Mulia Jeon di hadapannya itu dengan lugas berderap ke arah lemari pakaian. Ranjang yang berantakan dibiarkan begitu saja dan ketika Taehyung bertanya mau diapakan soal kekacauan itu, Jungkook menjawab kalau itu cuma air mineral. Yang tinggal menanti hitungan menit dan mengering dengan sendirinya.
"Kau keluar duluan sana,"
"Aku sudah mau keluar,"
"Bahaya juga kalau ternyata kau ini cabul dan sukanya melihat orang telanjang,"
"Maumu apa sih!" Bantal terdekat diraihnya lalu Taehyung lempar sekuat mungkin. Telak mengenai punggung Jungkook meski rasa sakit yang dihasilkan tak lebih dari lemparan amatir. Ia lantas berbalik, siap- siap meraih kenop pintu. "Yang ada harusnya aku lebih waspada,"
"Kau benar,"
Taehyung berhenti. "Apanya?"
"Lebih waspada terhadapku, Taehyung." Sorot matanya menajam ketika Jungkook menoleh, sedetik saja dan tepat mengenai mata Taehyung. "Ingat itu baik-baik."
~oooOOOooo~
Angka di arloji mengirimkan sinyal kecil bahwa jam makan siang sudah lewat sepuluh menit dari masa istirahatnya. Seokjin menghela napas lega, ia baru saja mengecek beberapa pasien tanggung jawabnya dan bersyukur tidak ada sesuatu yang gawat terjadi. Rekan dokternya, Min Yoongi, sempat mengajaknya pergi ke kafeteria tetapi Seokjin menolak halus. Pria itu ingat membawa kotak bekal dari rumah yang ia buat sendiri bersama sarapan Jungkook dan Taehyung tadi pagi.
Lagipula, Seokjin lebih suka mengurung diri di kantor pribadi dibanding berkumpul di kafetaria. Bukannya ia tipikal manusia introvert, atau tinggi hati, atau juga terlalu pemilih soal kehidupan sosialnya; Seokjin hanya berpikir terkadang ada masa ia perlu waktu seorang diri. Berpikir, merenung, bahkan hal-hal kecil seperti apakah ia mengenal dirinya sendiri dengan baik sebelum teritori sekelilingnya melakukan hal yang sama. Ia tahu menjadi seorang dokter dituntut untuk berinteraksi dengan berbagai macam orang, pasien, bahkan rekan-rekan kerjanya. Tetapi tak ada salahnya ia menghabiskan satu detik melupakan di mana dirinya berpijak. Bukan sesuatu yang salah, tapi hal yang lumrah.
Kotak bekal sudah Seokjin keluarkan sedari tadi, isinya tak lebih dari sayuran dan beberapa irisan daging yang kebetulan bertengger di kulkas rumahnya. Ini bagian terpenting, karena kotak bekal selalu mengingatkan Seokjin tentang rumah dan ia menyukainya.
Namun sebelum capitan sumpit melahap butiran nasi, ponselnya berdering nyaring. Nyaris tidak ingin Seokjin angkat jika nama Kim Taehyung tidak memenuhi layar. Ia menggeser ikon telepon berwarna hijau, menekan tombol loudspeaker, dan menunggu untuk panggilan yang tersambung.
"Jin-hyung?"
"Ne? Ada apa Taehyung?"
"Itu, uhm, kau akan pulang malam ini, kan?"
Gerakan sumpitnya berhenti. "Entahlah," Seokjin mengernyit, "kenapa memang?"
"Ah, tidak. Nanti malam aku akan masak, jadi mau pastikan dulu kau akan pulang atau tidak. Kau tahu, aku tidak ingin makan berdua dengan Jungkook, astaga, seperti kuburan saja."
Seokjin tertawa renyah. "Dia tidak banyak bicara, eh?"
"Jangan tanya, deh,"
Dia memang seperti itu, batin Seokjin kembali pada masa tiga tahun silam. Seorang bocah remaja, berdiri pada masa labilnya namun isi otaknya penuh dengan segala realita yang sulit. Butuh waktu sekiranya enam bulan sampai Jungkook menjadi orang pertama yang akan membuka percakapan. Sampai pemuda itu benar-benar menerimanya.
"Aku usahakan pulang," lanjut Seokjin, bayangan tentang meja makan dan aroma bumbu melompat-lompat dalam kepalanya. "Masak apa malam ini?"
"Mungkin jajangmyeon,"
"Um, begini Taehyung. Jajangmyeon itu sejenis mi dan—"
"Bercanda." Tawa kecil mengalun di ujung sana. "Aku tahu kau akan menolak jadi aku buatkan bibimbap nanti, dan tumis daging."
"Terdengar menjajikan,"
"Oh, tentu saja. Aku koki yang hebat,"
Kelakar kecilnya itu berhasil menarik tawa yang sama dari Seokjin. "Oke, sebisa mungkin aku akan pulang cepat. Jangan lupa pastikan juga Jungkook untuk tidak akan pulang malam. Itu kalau kau memang berniat memasak untuknya,"
"Hyung bercanda, sudi sekali aku masak untuknya," kekehan samar, "ups, jangan anggap serius. Malam ini aku akan masak untuk tiga orang, tenang saja."
"Awas kalau sampai rumah kebakaran,"
"Astaga."
~oooOOOooo~
Sender : Penghuni tidak diundang
Jungkook, jangan pulang malam. Aku akan masak.
.
Semula Jungkook pikir ia salah menamai kontak Seokjin dengan nama yang seharusnya ia berikan untuk Taehyung. Semula ia pikir sore hari sepulang sekolah akan berjalan seperti umumnya; klub yang ia ikuti kebetulan libur, Sehun dan yang lainnya mengajak karaoke dan menghabiskan tiga jam berturut-turut, menghabiskan malam di apartemen kawannya itu dan muncul di rumah sebelum pukul dua belas malam. Tetapi manusia itu hanya bisa berencana, katanya.
Dan ketika ia sadar bahwa si pengirim pesan benar-benar Kim Taehyung, rencananya sedikit buyar meskipun tak ada kata plan B dan isitilah lainnya untuk rencana hari ini yang Jungkook pikirkan.
"Kenapa, Jungkook?" Oh Sehun muncul di sampingnya, membuka loker sepatu sembari melirik layar ponsel Jungkook. "Kau tidak bisa hari ini?"
Jungkook mendengus, mematikan ponsel kemudian ia jejalkan ke dalam saku celana. "Tidak, ini hanya dari operator telepon."
"Oh,"
"Ayo cepat, siapa yang tadi bilang mau booking selama lima jam, eh?"
Yah, terserahlah. Jungkook juga tidak bisa menjamin kalau penghuni baru rumahnya itu bisa memasak dengan baik.
~oooOOOooo~
Nyatanya, Seokjin melanggar janji. Walaupun apa yang ia katakan siang tadi tidak disebut juga dengan janji, pria itu merasa bersalah. Pasien di bangsal nomor dua ratus satu mengalami masa kritis, dokter yang seharusnya menangani sibuk di ruang operasi dan Seokjin menggantikan. Ia berpikir pukul delapan malam adalah waktu yang tepat untuk pulang tetapi pikirannya meleset jauh.
Selesai memarkir mobil di garasi, Seokjin membuka pintu dengan terburu-buru. Bunyi pip nyaring berdengung ketika ia menekan tombol kunci mobil sebelum akhirnya ia berlari menyongsong jalan setapak menuju pintu utama. Ia menguyak tasnya dengan sedikit panik, mencari nada kerincing sebagai pertanda kunci rumah ditemukan. Menyebalkan sekali, kalau sudah seperti ini. Benda yang mudah dicari pun mendadak lenyap.
"Jin-hyung,"
Seokjin tersentak, dua detik kepala mendongak, keningnya lekas berkerut dalam. "Jungkook? Ya Tuhan, kau membuatku kaget—tunggu, kau baru pulang?"
Sebelah alis Jungkook terangkat, sejenak melirik arloji. "Ini baru jam sebelas, Hyung. Sudah biasa."
"Tidak, bukan itu. Taehyung akan masak makan malam, bukan?"
Sebelah alis Jungkook terangkat. "Oh, aku kira itu cuma wacana,"
"Demi Tuhan, otakmu itu bagaimana, sih?" Kunci berhasil ditemukan, Jungkook mengambil alih dari tangan Seokjin dan berjalan lebih dulu ke arah pintu. "Dari mana saja kau ini,"
"Seperti biasa." Pintu berhasil dibuka, Jungkook masuk dan Seokjin mengekor di belakang. Ia membiarkan pria itu yang menutup sambil menguncinya kembali. "Aku sudah lebih dulu ada janji, jadi yah, begitulah."
"Tetap saja harusnya kau usahakan pulang cepat,"
"Lakukan yang sama sebelum protes, Hyung,"
"Ranah kita berbeda, Jungkook," sahut Seokjin, sedikit ketus. Berderap ke arah saklar lampu untuk dinyalakan. Ia meletakkan tas di atas sofa tidak jauh dari ransel Jungkook. Spot favorit mereka kalau sudah terlalu lelah. "Taehyung?" Panggil pria itu pelan.
"Dia sudah tidur, biarkan saja,"
Seokjin menghela napas berat. "Benar juga. Harusnya aku jangan menjajikan—"
Ucapan dokter muda itu terputus cepat, atensi keduanya beralih spontan ketika suara klek ringan terdengar, dilanjut dengan derit halus, dan kepala Taehyung muncul setelahnya.
"Aku kira siapa," katanya lugas, selugas bagaimana roommate baru mereka keluar sambil menutup pintu kamar. Bajunya sudah berganti piyama, tetapi dua kantung mata dan mimik wajahnya sama sekali tidak terlihat mengantuk atau laiknya orang yang baru saja bangun tidur. "Malam sekali, pulangnya,"
"Ah, maaf, Taehyung." Seokjin menggaruk tengkuk, tangannya bergerak kikuk ketika ia melepas mantel dan menyampirkan di hanger khusus. "Ada pasien yang mendadak kritis dan jam jadi sibuk sekali."
"Tidak apa-apa, aku paham," Taehyung mengangguk berulang kali, sebelum kemudian lirikan matanya jatuh pada Jungkook. Ada jeda yang sempat mampir, Jungkook terlihat tidak acuh dan Taehyung seakan mengerti bahwa tak ada hal lain yang perlu dikatakannya saat ini. "Makanannya sudah dingin, aku panaskan dulu,"
Ia tidak sadar ketika Jungkook dan Seokjin saling bertatap satu sama lain.
"Kau tidak berpikir kalau aku sudah kenyang?" tanya Jungkook, nadanya lebih mengandung heran dibandingkan sarkastik.
"Untuk apa?" Taehyung balik bertanya. "Kalau memang kenyang, kau akan langsung ke kamar, bukan? Tidak menunggu seperti ini,"
"Aku tidak menunggu,"
"Sesukamu sajalah," tanggap Taehyung, sosoknya dengan cepat lenyap di balik sekat dapur. "Kalian makan saja dulu, nanti mandinya."
Seokjin memberinya isyarat dengan gerakan kepala dan Jungkook menurut.
"Taehyung,"
"Hm?"
"Semua ini, kau... yang masak?" Bohong adanya kalau Seokjin tidak terkejut, termasuk Jungkook, barangkali. Mendapati bagaimana meja makan penuh dengan mangkuk bibimbap yang tertutup plastik khusus makanan, irisan tumis daging untuk mereka bertiga, dan teko yang terisi dengan penuh.
"Aku kan sudah bilang hari akan masak," Taehyung menjawab ringan, berderap ke arah meja makan dan menumpuk mangkuk bibimbap dengan satu tangan. Ia menaruhnya tidak jauh dari konter dapur dan mulai menyalakan microwave. Seokjin menarik salah satu kursi sedangkan Jungkook menempati tempat di hadapannya.
"Lalu, kau?"
"Apanya?"
"Sudah makan?"
Bahu Taehyung berkedik. "Makan sendiri itu tidak enak," ujarnya kalem, lagi-lagi luput melihat ketika dua orang penghuni di rumahnya saling tatap. "Aku juga tidak terlalu lapar, tadi. Dan sekarang baru sadar kalau perutku kosong."
"Kenapa?"
Taehyung menoleh, Seokjin melakukan hal yang sama, tidak menyangka Jungkook akan bersuara dengan nada yang dalam.
"Kau terlalu merepotkan dirimu sendiri." Tapi Jungkook sama sekali tidak menatap matanya. "Kau bisa saja menduga kalau aku, atau mungkin Jin-hyung, berpikir masakan luar lebih enak daripada masakanmu."
"Jungkook," tegur Seokjin.
"Aku memang menduga, kok," Taehyung berbalik, membuka tutup microwave dan menaruh satu mangkuk di dalamnya. Punggungnya tampak kecil, tetapi Jungkook dan Seokjin tidak lepas menjatuhkan pandangan ke arahnya. "Tapi orang selalu bilang masakan rumah selalu bisa memberikan kesan tersendiri. Well, tidak memaksa kalian percaya dengan argumen itu. Tapi menurutku itu tidak terdengar salah,"
Mau tidak mau, Seokjin terkekeh. "Kesan tersendiri,"
Taehyung menggumamkan hu-um dengan cara yang unik.
Jungkook mengerling penasaran. "Seperti apa?"
"Masakan rumah selalu terasa lebih hangat. Atau suasana yang diberikan. Atau mungkin obrolan ringan seperti ini, yah, tidak jauh dari itu. Entahlah kalian merasakannya bagaimana, sori, aku terlalu melankolis."
Taehyung terlalu sibuk dengan suhu microwave, terlalu sibuk dengan mangkuk yang dipanaskan, dan terlalu sibuk bersenandung kecil sambil menikmati hening yang tiba-tiba menyusup.
Ia terlalu sibuk sampai tidak menyadari Seokjin, untuk segala kesadaran yang pria itu punya, juga Jungkook dan seluruh hal yang berkecamuk dalam benaknya, kembali bersitatap untuk ketiga kalinya dalam hari ini. Sesuatu melintas dari cara bagaimana mereka bertukar pikiran dan Taehyung tidak perlu untuk tahu. Belum saatnya.
"Rasanya sudah lama sekali, ya, Jungkook," gumam Seokjin getir, "tidak merasakan rumah seperti ini."
Tidak ada jawaban, tetapi kepalan tangan Jungkook di atas meja cukup menjelaskan.
"Ya? Kenapa, Hyung?"
Seokjin menoleh lalu tersenyum tipis. "Tidak ada, Taehyung. Aroma masakanmu menggoda sekali."
tbc
a/n : hai :"))) saya gak yakin masih ada yang inget sama ff ini, huehuehue. tapi biar bagaimana pun, saya berusaha untuk tetap apdet. Terima kasih yang sudah menyempatkan review di chapter sebelumnya, masih membaca, bahkan sampai bertanya :")) salam hangat dari cakue /o/
