ME, YOU, AND OUR DULLNESS
Pairing: Min Yoongi x Park Jimin (MinYoon/YoonMin) Jimin: SEME Suga: UKE. Slight!: Namjin, Vkook, J-hope alone
Cast: BTS (Main Cast), Seventeen (Other Cast yang lain menyusul)
Rated: T/M (buat jaga-jaga)
Warning: BL, Typo, OOC (?)
disclaimer: semua member BTS milik BIGHIT, Bang PD, dan ortu masing-masing
~Chapter 1~
Suasana dorm dimalam hari terasa begitu sepi. Yoongi menghempaskan tubuhnya ke sofa. Namja berkulit pucat itu terlihat lelah. Garis hitam dibawah matanya menandakan bahwa yoongi itu kurang tidur. Yoongi melirik malas pada jam yang tertera di dinding. Rupanya sudah jam tiga pagi. Yoongi selalu lupa waktu jika menyangkut tentang musik. Akhir-akhir ini dia selalu begadang di studio musik hingga larut malam hingga mengabaikan waktu istirahatnya yang memang sedikit karena padatnya kegiatan BTS. Yoongi bukannya tidak merasa lelah. Dia lelah. Bagaimanapun dia juga manusia. Hanya saja namja itu merasa perlu bertanggung jawab atas pekerjaannya. Dia tidak ingin mengecewakan Bang Si Hyuk-nim yang telah mempercayakan urusan penciptaan lagu padanya. Dia juga tidak ingin mengecewakan para fans yang terus memberikan dukungan padanya. Karena itu, dia harus bekerja keras, semampu yang ia bisa.
Samar-sama Yoongi mendengar derap langkah kaki yang berasal dari tangga. Dia yakin, pasti salah satu temannya ada yang terbangun sekarang. Yoongi tidak merubah posisinya. Namja itu terlalu lelah bahkan untuk menggerakkan tubuhnya. Dia hanya menerka-nerka dalam siapa member BTS yang masih terjaga sekarang.
"hyung?"
Tanpa melihatnya pun yoongi langsung dapat mengenali pemilik suara merdu itu. "Park Jimin?" sahutnya lirih. Suaranya terdengar begitu lemah.
"kau baru datang?" tanya namja yang lebih muda dua tahun darinya itu.
"ya."
Jimin duduk disamping yoongi. "kau terlalu banyak begadang, hyung. Kau juga lupa makan dan istirahat. kau harusnya lebih memikirkan kesehatanmu. Apalagi kau paling gampang sakit." Tukasnya khawatir.
"kau tidak perlu khawatir. Aku sudah terbiasa." Jawab yoongi, mencoba meyakinkan namja bermarga Park itu.
Jimin membelai rambut yoongi dengan lembut, membuat namja berwajah manis itu merasa nyaman.
"hyung," nadanya terdengar serius. "aku ingin mengatakan sesuatu."
Yoongi merasa heran. Baru kali ini jimin bersikap serius terhadapnya. Sebelumnya jimin tidak pernah mengatakan hal-hal yang penting terhadapnya. Biasanya namja berumur 21 tahun ini hanya akan menceritakan hal penting pada Hoseok atau Taehyung yang memang dekat dengannya. Lalu kenapa tiba-tiba jimin ingin berbicara padanya?
"aku..." jimin menggantung kalimatnya sejenak. "aku menyukai Jungkook, hyung."
DEG! Yoongi berharap dia salah dengar. Berharap ini semua hanya mimpi dan esok dia akan melupakannya. Kalau saja dia bisa memilih, dia lebih memilih petir menyambarnya daripada mendengar pengakuan jimin. Rasanya begitu menyakitkan mendengar ucapan jimin barusan, seperti ada pisau yang menusuk jantungnya.
Yoongi yang sejak tadi terdiam membuat Jimin tidak sabar akan respon darinya. "hyung, bagaimana menurutmu?"
Yoongi tersadar dari lamunannya. "entahlah. Kenapa kau menceritakan hal itu padaku? Kau tahu aku bukan orang yang tepat untuk kau ajak berdiskusi masalah cinta. Apalagi aku tidak berpengalaman." Yoongi terkekeh, mencoba menutupi patah hatinya.
Jimin menghela napas panjang. "kurasa hanya kau orang yang bisa kupercaya hyung. Aku bisa gila kalau terus menyimpan rahasia ini sendiri. Aku hanya perlu seseorang yang mendengarkanku."
Yang benar saja, batin yoongi. "kenapa kau tidak menceritakannya pada Hoseok? Bukankah dia lebih dekat denganmu daripada aku? Lagipula kau tidak pernah menceritakan hal penting padaku."
Jimin menghela napas panjang. "memang selama ini aku jarang mengobrol denganmu, hyung. Tapi itu bukan berarti kau tidak penting untukku. Aku selalu ingin berbagi cerita padamu, tapi kurasa kau selalu menjaga jarak dariku." Ungkapnya jujur. Jimin merasa lega akhirnya bisa mengatakan ini pada yoongi.
Yoongi tidak bisa mengelak. Dia memang ingin menghindari Park Jimin. Dia tidak ingin terjerat oleh pesona namja tampan itu. selama ini dia hanya membatasi hubungan dengan jimin hanya lah sebatas rekan kerja dan teman satu rumah.
"aku ingin lebih dekat denganmu, hyung." Kata jimin. "alasan mengapa aku mengatakan hal ini padamu karena aku yakin kau bisa menyimpan rahasia. Lagipula kalau aku mengatakan pada hoseok, bisa-bisa rahasiaku tersebar kemana-mana."
Ah, benar juga. Jung hoseok pasti akan membocorkan hal itu. Namja berwajah jenaka itu tidak bisa menyimpan rahasia lama-lama. Si biang gosip itu pasti akan menyebarkannya dengan cepat.
"kau sangat baik hyung." Ucap jimin. "kau adalah sahabat terbaikku." Namja itu kembali membelai rambut yoongi dengan lembut seraya tersenyum lembut padanya.
Sahabat, ya? Yoongi tertawa getir dalam hati. Seharusnya dia senang karena Jimin menganggapnya sebagai sahabat terbaik. Namun entah kenapa Yoongi malah merasakan sebaliknya. Dia benar-benar membenci fakta kalau Jimin hanya menganggapnya sebagai sahabat. Biarlah, tidak ingin berpikir jauh-jauh sekarang. Namja berwajah manis itu perlahan memejamkan matanya. Dia ingin menghilangkan rasa sakit dihatinya segera. Setidaknya dia ingin melupakan park jimin sejenak, meskipun hanya dalam tidurnya.
Yoongi memang menyukai jimin, bahkan sejak mereka pertama kali mereka bertemu. Saat Bang Si Hyuk-nim memperkenalkan Park Jimin sebagai anggota baru BTS, yoongi tidak bisa menolak pesona pemilik bagel charisma itu. Pertahanan namja berhati dingin itu runtuh seketika begitu Jimin masuk ke hidupnya. Yoongi menyukai semua yang ada pada diri jimin. Wajahnya yang tampan bagai iblis penggoda, senyumnya yang menawan, bahkan sifatnya yang ceria namun terkadang ambisius terkesan begitu sexy dimata yoongi. Yoongi tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Hanya Jimin yang dapat membuatnya berdebar-debar. Hanya Park Jimin yang dapat membuat pipinya memerah setiap kali namja itu ada didekatnya. yoongi terlalu malu untuk mengakui perasaannya. Sebisa mungkin dia berusaha menghindar dari Jimin. Yoongi sengaja membuat jarak diantara mereka berdua, membuat hubungan mereka hanya sekedar teman biasa. Mungkin terdengar kejam, tapi sungguh itu satu-satunya cara agar yoongi tidak jatuh lebih dalam.
Dia tahu, sejak awal jimin menyukai Jungkook. Tatapan tajam Jimin selalu melembut ketika menatap namja itu. Sifatnya yang jahil dan konyol akan berubah 180 derajat jika menyangkut tentang golden maknae itu. saat Jimin mengatakan kalau dia menyukai Jungkook, yoongi tidak terlalu terkejut. dia selalu mengamati jimin, bagaimana mungkin dia tidak tahu akan hal itu? meskipun begitu, saat Jimin mengatakan hal itu langsung padanya, Yoongi merasakan patah hati yang begitu menyakitkan. Seandainya Jimin menyukainya dan bukannya malah menyukai Jungkook. Yoongi menggeleng pelan. Tidak ada gunanya berandai-andai sekarang. Yoongi memang harus mengenyahkan perasaannya pada jimin secepatnya. Sebelum semuanya terlambat. Sebelum perasaan ini mengakar dan tak bisa dihilangkan.
Yoongi menatap mobil yang berlalu lalang di jalanan Gangnam yang ramai dengan tatapan kosong. Namja itu tengah meratapi kisah cintanya yang menyedihkan. Namja dengan warna rambut Mint blue yang mencolok itu sesekali menyesap soda yang ada ditangannya, menikmati rasa menyengat yang membekas dilidahnya. Mendadak dia merindukan masa-masa saat dia belum bergabung di Bighit sebagai trainee. Masa-masa SMA dimana dia tidak mengenal apa itu cinta. Masa-masa dia belum mengenal si brengsek Park Jimin yang berhasil merebut hatinya. Ah, Yoongi merindukan kehidupannya yang tenang seperti dulu. Seandainya saja aku bisa kembali ke masa lalu, ucapnya dalam hati. sebenarnya ini adalah jadwal latihan BTS, namun Yoongi memilih kabur dari latihan. Pengakuan Jimin kemarin membuat mood-nya turun seketika. Dia yakin, pasti sekarang Seokjin panik dan Namjoon sedang mencarinya sambil menggerutu kesal. Yoongi menerka-nerka makian apa saja yang dilontarkan sang leader untuknya. Yoongi masih terlarut dalam lamunannya, hingga tidak sadar seseorang berdiri disampingnya.
"hyung."
Yoongi menoleh pada sumber suara. "Jimin?!" yoongi menatap jimin, nyaris tidak percaya namja itu ada dihadapannya. Darimana dia tahu tempat persembunyianku saat bolos? Pikirnya. Seingatku aku tidak pernah memberitahu siapapun...
"aku mencarimu sejak tadi. Kau pasti berencana untuk membolos latihan lagi, kan?" kata Jimin. "aku tidak akan membiarkanmu membolos kali ini." Jimin menarik tangan yoongi, membuat namja yang jauh lebih lemah darinya itu terpaksa mengikuti langkahnya.
"Jimin-ah... lepaskan. Aku tidak akan kabur, tapi lepaskan dulu tanganku."
Jimin menatap yoongi dengan tajam, membuat yoongi memilih mengunci mulutnya kembali dan membiarkan jimin menariknya hingga ke practice room BTS. Yoongi mengutuk dirinya sendiri karena jantungnya yang terus berdebar kencan hanya karena jimin menggandengnya. Ppabo! Rutuknya dalam hati. begitu mereka berdua kembali, yoongi langsung mendapatkan tatapan membunuh dari Namjoon. Sepertinya sang leader berubah menjadi monster yang sesungguhnya sekarang dan siap memakannya.
"MIN YOONGI! BERANI-BERANINYA KAU KABUR SAAT LATIHAN, HAH?!"
Yoongi menoleh malas pada sang leader. Toh ini bukan pertama kalinya dia membolos latihan. Pasti setelah ini Namjoon akan memberinya hukuman. Apa kali ini? membersihkan toilet dorm lagi? Pikirnya, menebak-nebak hukuman apa yang akan diberikan Namjoon padanya.
"baiklah, sebagai hukumannya... kau harus melakukan Aegyo didepan kami semua."
Yoongi melongo, terkejut dengan hukuman baru dari Namjoon. Sungguh, yoongi lebih memilih menyapu seluruh dorm daripada melakukan Aegyo. "aku tidak mau!" tolak Yoongi.
"atau kau mau aku melapor ke PD-nim kalau kau bolos latihan?" namja jenius itu mengangkat alisnya dan tersenyum sadis.
Yoongi menghela napas. Sepertinya sang leader tidak memberinya pilihan. Mau tidak mau dia harus melakukan hukuman ini. "arraseo... aku akan melakukannya." Tukasnya mantap.
Plok! Plok! Plok! Hoseok dan Jungkook bertepuk tangan. Nampaknya kedua dongsaeng-nya ini sangat antusias melihat hyung-nya yang terkenal sadis ini akan melakukan Aegyo. demi tuhan, yoongi akan melakukan Aegyo!
Awas saja kalian berdua... ancam Yoongi dalam hati. namja berkulit pucat itu terdiam sejenak, memikirkan Aegyo apa yang akan ditunjukkan kepada member lainnya."Oppa, oppa... yoongi takut~" ucap Yoongi dengan ekspresi yang sengaja dibuat seimut mungkin.
"HUAHAHAHAHA...!" terdengar ledakan tawa yang memenuhi seluruh ruang latihan. Taehyung melongo tidak percaya dengan ekspresi blank andalannya, Hoseok tertawa hingga terguling-guling dilantai. Bahkan Jimin tidak bisa menahan tawanya. Namja berwajah tampan itu menutup mulutnya, berusaha meredam suara tawanya. Yoongi menggembungkan pipinya, tapi segera tergantikan oleh tawa. Entah kenapa dia juga menganggap Aegyo-nya sendiri terdengar konyol dan memalukan. Yoongi merasa senang bisa membuat jimin tertawa. Yoongi berharap waktu terhenti sekarang.
.
Yoongi menatap pantulan dirinya dalam cermin. Kulitnya terlihat semakin pucat sejak BTS membersiapkan comeback mereka. Sejak dulu yoongi tidak pernah menyukai penampilan fisiknya. Tubuhnya yang kecil, ditambah dengan wajahnya yang manis membuatnya terlihat seperti anak SMP. Kulitnya yang putih dan pahanya yang ramping sering membuat iri para yeoja. Benar-benar jauh dari kesan ssangnamja. Si jenius musik itu hanya bisa pasrah, mengingat tidak ada yang bisa dilakukan untuk penampilan fisiknya. namja bertubuh kecil itu segera keluar dari toilet setelah mencuci tangannya. Baru saja keluar dari toilet, yoongi sudah mendapatkan pemandangan tidak enak di ruang tamu. Park jimin sedang membelai rambut Dark brown milik Jungkook yang sedang tertidur dipangkuannya. Namja berwajah tampan itu tersenyum seraya menatap Jungkook dengan lembut, tatapan yang jarang ditujukan pada siapapun sebelumnya.
Yoongi menghela napas panjang, mencoba menekan rasa sakit dihatinya. Sebisa mungkin Yoongi mengabaikan mereka berdua dan beranjak pergi. Nampaknya studio merupakan tempat yang pas untuk pelariannya malam ini. mungkin yoongi akan menginap disana semalaman sambil menciptakan berpuluh-puluh lagu patah hati.
.
Yoongi menatap hujan melalui jendela café yang terletak tepat disamping kanannya. Mata coklatnya terlihat murung menatapi setiap tetesan air hujan yang tak kunpark reda. Sebenarnya dia ingin menikmati hari liburnya—yang memang hanya datang dua minggu sekali—dengan menonton konser underground rapper yang akan diadakan di songpa-gu. Yoongi bahkan sudah menyiapkan penyamaran ekstra agar identitasnya sebagai Idol tidak diketahui. Baru setengah jalan menuju halte, tiba-tiba hujan turun membuatnya terpaksa memasuki café terdekat dan terjebak selama hampir satu jam disana. Sebenarnya bisa saja dia menaiki taksi, namun mendadak mood-nya menghilang begitu hujan turun dengan derasnya. Yoongi benci sesuatu yang basah. Tubuhnya yang lemah sangat rentan akan cuaca yang dingin. Apalagi sekarang tubuhnya sudah basah kuyup, membuatnya menggigil kedinginan. Pasti besok aku akan demam lagi... batinnya pasrah. Begitu seorang pelayan menghampirinya, yoongi memesan secangkir Americano dan Cheese cake kesukaannya. Sang pelayan segera membawakan pesanannya dengan cepat. Yoongi merasa beruntung café itu tidak begitu ramai sehingga dia bisa leluasa membuka maskernya.
Namja berwajah imut itu menyesap kopinya sambil sesekali memainkan ponsel ditangannya. Terdengar suara derit pintu, menandakan seseorang baru saja memasuki café. sekilas yoongi hanya melihat sesosok namja bertubuh tegap yang mengenakan T-shirt lengan panjang berwarna hitam yang berdiri di depan pintu café.Yoongi tidak begitu peduli sampai orang itu berjalan melewati mejanya. Tidak sengaja namja itu menyenggol dompet yoongi hingga terjatuh dari meja. Namja itu segera memungut dompetnya.
"mianhae." Ujarnya namja itu seraya menyerahkan dompetnya yang terjatuh.
Yoongi mengangguk seraya merasa beruntung pemuda itu tidak menyenggol kopinya. Begitu dia menatap wajah namja itu, yoongi merasa familiar dengan sosok didepannya. Yoongi tidak mengenalnya, hanya saja dia merasa namja itu tidak asing baginya. Nampaknya namja dihadapannya itu juga merasakan hal yang sama.
"suga sunbaenim?" ucap namja itu, mengucapkan nama panggung yoongi dengan ragu.
Yoongi terkejut. "kau... Kim mingyu... seventeen...?" sahut yoongi seraya mengingat nama dongsaeng-nya di dunia Idol.
Mingyu memamerkan senyumnya yang memikat. Sesaat senyumnya yang memikat mengingatkannya pada senyuman Park Jimin. "aku tidak menyangka bisa bertemu sunbae disini."
Yoongi berdecak kesal, "kau bisa memanggilku hyung. aku lebih tua darimu."
Yoongi menatap mingyu, pertama kali mengamati dongsaeng-nya ini dengan seksama. Tubuhnya yang tinggi, wajahnya yang tampan, kulit tan-nya, ditambah senyumnya yang menggoda membuat yoongi yakin seratus persen bahwa mingyu merupakan Visual di grupnya. Benar-benar membuat iri saja, pikirnya. "apa kau akan terus berdiri disitu? Duduklah."
Mingyu segera duduk tepat dihadapannya. "terima kasih hyung." ucapnya tulus. "apa hyung sering kesini?"
Yoongi menggeleng. "aniya. ini baru pertama kalinya aku ke café ini. kau?"
"sebenarnya aku ingin pergi ke konser rapper underground di songpa-gu. Tapi aku malah terjebak disini."
Namja berwajah imut itu terkejut mendengar penuturan dongsaeng-nya, "heol... aku juga mau kesana tadi. tapi mood-ku sudah hilang sekarang. Jadi kau rapper juga?"
Mingyu mengangguk. Namja berambut hitam itu memanggil pelayan dan segera memesan pesanan yang sama dengan yoongi.
Mingyu tidak menyangka sunbae-nya yang selama ini terkenal dengan image-nya yang cool dan SWAG ternyata memiliki karakter yang sangat berbeda. Yoongi yang berada dihadapannya ini malah terkesan cute, berbeda dengan ekspektasinya selama ini.
"berapa usiamu?"
"19 tahun."
"ah... kau 97 liner rupanya, sama seperti jungkookie..." tukas yoongi seraya mengingat sang maknae BTS itu.
"suga hyung tidak ada schedule hari ini? bukankah BTS sangat sibuk sekali?"
"ah, kami selalu mendapat libur dua minggu sekali. Kau sendiri tidak ada acara?"
"kami juga mendapat jatah liburan setiap seminggu sekali."
"enaknya. Aku berharap bisa mendapatkan banyak waktu istirahat sepertimu, tapi grupku sedang mempersiapkan comeback, membuatku sering begadang di studio." Keluhnya. Entah kenapa yoongi merasa nyaman mengobrol dengan mingyu.
"hyung, kau mirip sekali dengan woozi hyung."
Yoongi mengingat-ingat siapa yang dimaksud oleh mingyu. Yang terbayang olehnya adalah seorang namja berkulit pucat, berbadan kecil yang terlihat sangat mirip dengannya. "ah... banyak yang bilang begitu."
"Mungkin kalian berdua adalah saudara kembar yang terpisah jauh?" canda mingyu.
Yoongi tertawa kecil. Mendadak namja itu teringat sesuatu. "yaa~! Aku baru saja mengenalmu dan kau seenaknya berbicara tidak formal padaku." Protesnya kesal.
Mingyu terkekeh kecil. "hyung, kau bahkan terlihat seperti anak SMP yang imut. Rasanya susah berbicara formal padamu."
"APA?! Mentang-mentang kau tinggi dan kau seenaknya berbicara seperti itu padaku?!" yoongi mengamati penampilan mingyu sekali lagi. Uh, dia benar-benar iri dengan dongsaeng-nya yang terlihat begitu manly meskipun masih berusia 19 tahun. Sedangkan dirinya malah terlihat seperti remaja ingusan, padahal umurnya jauh lebih merasa sangat terkutuk dengan penampilan fisiknya yang terkesan manis, membuat seluruh kharismanya sebagai seorang pria terabaikan.
"wah, kau terlihat semakin imut kalau kau marah, hyung." goda namja yang duduk dihadapannya ini. rupanya dibalik senyumnya yang menawan, mingyu punya sisi devil juga.
"geurae, aku tidak mau berdebat denganmu. rupanya sifatmu tidak beda jauh dengan jungkook. 97-liner memang aneh. Kalian sama-sama menyebalkan." Yoongi berpikir untuk menghentikan pertikaian.
Mingyu tertawa keras, tidak peduli bahwa yang dihadapannya ini adalah sunbae-nya. Menggoda hyung satu ini memang sangat menyenangkan. reaksinya terlihat imut sekali, katanya dalam hati.
Begitu pesanannya datang, mingyu segera meminum kopinya sambil mengamati suasana café. "hyung kesini sendiri? Tidak menunggu seseorang?"
"seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu. Pasti kau sedang menunggu pacarmu kan? sayang sekali hujan, kau jadi batal berkencan dengan yeojachingu-mu." Sindirnya dengan sengaja.
"aku tidak punya pacar." Sahut mingyu.
Yoongi terbelalak tidak percaya. "yang benar saja!"
"Aku tidak tertarik dengan yeoja."
Namja berkulit pucat itu menangkap makna tersembunyi dari ucapan mingyu. "kau gay?"
Benar-benar orang yang to the point, batin mingyu. Tapi mingyu lebih menyukai reaksi Yoongi yang jujur. Dia sangat benci dengan orang yang berpura-pura. Entah kenapa, Mingyu tidak keberatan mengakui orientasi seksualnya pada sunbae-nya ini. meskipun baru mengenalnya, mingyu yakin yoongi orang yang dapat dipercaya dan tidak akan menyebarkannya rahasia kecilnya itu.
Yoongi menghela napas panjang. Sebenarnya dia tidak terlalu terkejut dengan pengakuan mingyu. Dia sendiri juga menyukai Park Jimin yang merupakan seorang namja. Lagipula hal semacam itu tidak mengherankan di era modern seperti sekarang. Hanya saja, baru kali ini yoongi membahas hal yang begitu pribadi dengan orang lain, terlebih lagi dengan orang yang baru dikenalnya.
"tidak perlu terkejut begitu hyung. Tenang saja, lagipula aku sudah punya orang yang aku sukai, jadi aku tidak akan menerkammu meskipun kau imut sekali."
"aku tidak terkejut. lagipula aku juga sama sepertimu. Hanya saja aku tidak menyangka kau mengatakannya padaku."
Mingyu terkekeh dengan pengakuan yoongi. Dia yakin yoongi adalah tipe Uke yang tsundere. Manis sekali. "jjinja? Apa hyung sudah punya pacar?"
Yang ditanya hanya menggeleng, "aniya."
Seakan tidak puas dengan jawaban Yoongi, mingyu memutuskan untuk bertanya lagi. "kalau orang yang disukai?"
Yoongi terdiam. Tangan mungilnya memainkan cangkir kopi yang ada didepannya. Dari reaksi yoongi, mingyu sudah bisa menebak bahwa yoongi sedang menyukai seseorang.
"ya. Aku sedang menyukai seseorang sekarang."
"bagaimana hubunganmu dengan namja itu hyung?"
Yoongi menggeleng kecil. "tidak begitu baik kurasa. Aku tertarik padanya sejak awal aku bertemu dengannya. Tapi dia hanya menganggapku sahabatnya, tidak lebih. Apalagi sekarang dia sedang menyukai orang lain."
Mingyu mendengarkan cerita yoongi dengan seksama. Ia bisa merasakan betapa sakitnya mengetahui jika seseorang yang kau sukai menyukai orang lain. "aku juga merasakan hal yang sama hyung." sahut mingyu. Sorot matanya terlihat begitu tajam. "orang yang kusukai selalu berdekatan dengan namja lain. Bahkan akhir-akhir ini dia mulai menghindariku, padahal sebelumnya kami sangat dekat."
yoongi benar-benar tidak menyangka nasib mereka berdua begitu mirip. yoongi menertawakan takdirnya. apa yang tuhan rencanakan hingga dia mempertemukanku dengan Kim Mingyu? pikirnya. yoongi menyesap kopinya yang tinggal separuh. Rasa pahit memenuhi mulutnya. Namja itu tersenyum getir. "rasanya konyol ya, tetap mencintai seseorang meskipun orang itu tidak mencintai kita."
"ya. Kurasa tidak ada orang yang lebih bodoh dibanding kita berdua sekarang." Tanggap mingyu setuju.
"kalau aku boleh tahu siapa orang yang kau sukai?"
Mingyu tidak langsung menjawab pertanyaan yoongi. "hmm... aku akan mengatakannya kalau hyung juga mengatakan padaku siapa orang yang hyung suka."
"a-aku?" yoongi menunjuk dirinya sendiri. Otaknya mempertimbangkan apakah ia akan mengatakannya pada dongsaeng-nya ini. setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, yoongi memutuskan untuk mengatakannya kepada mingyu. Lagipula mereka sudah saling berbagi rahasia sejauh ini. apa salahnya menambah satu rahasia lagi? "orang yang kusukai adalah rekan se-grupku, Park jimin."
Tentu saja mingyu mengenal nama itu. "jamkkanman, jangan-jangan Park jimin yang itu hyung?" mingyu langsung teringat sosok namja berwajah tampan yang sering memamerkan perut six pack-nya di beberapa acara live yang pernah ditontonnya.
Yoongi mendesis kesal. "memangnya ada berapa Park jimin di BTS, hah?!" dia menjitak kepala dongsaeng-nya dengan keras. "sekarang katakan padaku. Siapa orang yang kau sukai?"
"dia juga rekan se-grupku. Wonwoo hyung."
Yoongi mengerutkan dahinya, mengingat wajah wonwoo. Sepertinya dia tidak begitu mengingat yang mana wonwoo, mengingat banyaknya member seventeen.
Melihat reaksi yoongi yang terlihat kebingungan, mingyu segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto dirinya bersama seorang namja berwajah manis. "dia orang yang kusukai, hyung."
Yoongi memandangai foto itu. "seleramu bagus sekali, hoobae. Dia sangat manis." Komentarnya tulus. "kita benar-benar mirip ya? Kita sama-sama rapper, sama sama terjebak disini, dan sama-sama bertepuk sebelah tangan."
"mungkin takdir sengaja mempertemukan kita untuk saling berbagi hyung."
"maksudmu?" tanyanya balik.
Mingyu menatap yoongi dengan matanya yang tajam. "maksudku... aku harap kita bisa berteman denganmu."
Yoongi melongo. "kau mau berteman denganku?"
"kenapa tidak. Menurutku hyung orang yang menyenangkan. Apa aku tidak boleh berteman denganmu?"
"bukan begitu. Hanya saja... aku tidak menyangka ada orang yang mau berteman denganku. Selama ini aku tidak punya teman selain anggota BTS sendiri."
"aku merasa nyaman denganmu. menurutku itu sudah cukup untuk membuatku menjadi temanmu." Tegas Mingyu.
Yoongi mengangguk mantap. Tak ada sorot keraguan dimatanya. "kurasa... sekarang kita berteman." jawabnya ragu.
kedua namja itu terus melanjutkan obrolan mereka hingga yongi memutuskan untuk pulang. begitu mereka keluar dari café, kedua namja itu saling menatap satu sama lain, bagaikan melihat pantulan diri di cermin. keduanya merasa sedikit bebannya hilang begitu menemukan orang yang bernasib sama dengannya. baik yoongi maupun mingyu yakin, mereka telah terikat dengan takdir yang gila. entah bagaimana takdir itu akan berjalan nantinya, keduanya harus mempersiapkan diri.
~chapter 1 end~
sudah lama hiatus dari dunia fanfic... harapan author semoga yang baca puas deh. jangan lupa review ya...
