ME, YOU, AND OUR DULLNESS

Pairing: Min Yoongi x Park Jimin (MinYoon) Slight!: Namjin, Vkook, J-hope alone

Cast: BTS (Main Cast), Seventeen (Other Cast)

Rated: T/M (buat jaga-jaga)

Warning: BL, Typo, OOC (?)

Buar readers yang follow maupun review atau sekedar silent reader, author ucapkan terima kasih banget. Waktu aku baca review, aku lihat banyak yang penasaran dengan hubungan antara Yoongi dan Mingyu. Author mau tegaskan sekali lagi kalau tokoh utama cerita ini minyoon. Mungkin banyak yang salah paham karena peran Jimin di chapter 1 sedikit banget dan masih belum jelas (author menyadari hal itu~). Author minta maaf kalo di awal-awal Jimin jarang muncul. Author janji di chapter-chapter berikutnya Jimin, BTS member lain, maupun other cast lain (yang masih dirahasiakan) bakalan sering muncul. maafkan typo yang bertebaran~

~Chapter 2~

Sejak awal memang ada yang berbeda dari seorang Min Yoongi. Pertama kali bertemu dengan namja berkulit pucat itu, Jimin merasa namja itu selalu menghindarinya. Bahkan ketika pandangan mereka bertemu secara tidak sengaja, yoongi segera memutuskan kontak mata itu dan menjauh darinya. Awalnya Jimin kira yoongi juga bersikap seperti itu pada orang lain. Namun setelah lama mengamati interaksinya dengan member lain, jimin menyadari bahwa yoongi hanya bersikap seperti ini padanya. Yoongi hyung membenciku, pikirnya saat itu. baru kali ini seseorang menghindarinya secara terang-terangan, mengingat selama hidupnya jimin selalu mendapat perhatian dari orang-orang disekelilingnya. Tentu saja seorang Park Jimin tidak menyerah begitu saja, membiarkan keadaan aneh ini berlarut terus menerus. Namja tampan itu terus berusaha mendekati yoongi, paling tidak hingga yoongi bisa menganggapnya sebagai teman. Setelah beberapa tahun hidup bersama, keduanya menjadi lumayan akrab. meskipun Jimin tetap merasa ada dinding diantara mereka, namun setidaknya yoongi sudah mulai berbicara dengannya, meskipun itu hanya seperlunya saja.

Jimin menatap yoongi yang tengah duduk di bangku taman. Namja berkulit pucat itu tersenyum lebar begitu menatap seekor anak anjing yang melintas didepan mereka. Jimin juga tersenyum begitu mengingat perkataan yoongi kalau namja itu tidak suka anjing. Bagaimana mungkin seorang yang tidak menyukai anjing terlihat senang begitu melihat anjing? Pikirnya. Jimin segera menghampiri yoongi. tangannya penuh dengan plastik besar berisi snack dan minuman ringan untuk member lainnya. Jimin memutuskan menemani yoongi membeli snack untuk member lainnya. "hyung, aku sudah selesai." Katanya.

Yoongi menggeser posisi duduknya, memberikan tempat duduk untuk jimin. Jimin duduk disampingnya. Menyadari jarak yang dekat diantara mereka, membuat yoongi merasa berdebar-debar.

"kalau dipikir-pikir, aku jarang menghabiskan waktu denganmu." ujar Jimin, memecah keheningan diantara mereka.

"ya. Kita tidak begitu dekat. Aku saja heran para fans sering memasangkan aku denganmu. seharusnya mereka memasangkanmu dengan Jungkook."

"aku tidak keberatan kalau mereka memasangkan aku denganmu, hyung. lagipula kita harus memberikan fanservice untuk para ARMY. Mereka pasti akan senang."

Yoongi tertawa kecil, meskipun perasaannya tengah hancur sekarang. Jadi selama ini dia mendekatiku hanya untuk memberikan fanservice? Kurasa aku memang tidak punya harapan... Tidak semua hal yang diinginkan dapat terjadi, yoongi tahu itu. lagipula sejak awal dia tahu perasaannya tidak akan terbalaskan. Yoongi menepuk bahu Jimin, mengingatkan kalau waktu istirahat mereka hampir habis. "lebih baik kita segera kembali. Aku tidak mau mendapat hukuman dari leader gila itu lagi." Membayangkan dirinya kembali dipaksa melakukan Aegyo membuatnya merasa jijik.

Jimin tertawa lepas. "ah, aku ingin melihat yoongi-hyung melakukan Aegyo lagi. Kau terlihat sangat manis saat melakukan Aegyo."

Mendadak pipi yoongi memerah. Ppabo, Kenapa aku begitu merasa senang hanya karena dia memanggilku manis? Aku pasti sudah gila. "yaa~! Aku itu tampan, bukannya manis!" protesnya, yang malah terdengar semakin imut.

"Buktinya Bang si hyuk-nim memberimu nama Suga. itu artinya semua menganggap kau sangat manis, hyung." jimin mengacak rambut Mint Blue yoongi, menikmati kehalusan yang terasa ditangannya.

Suga menghela napas panjang, "seharusnya aku menolak nama panggilan itu sejak awal." Ungkapnya pasrah.


BTS telah menyelesaikan rekaman untuk comeback mereka. Begitu keluar dari studio, Jimin langsung berjalan disamping jungkook. Namja tampan itu merangkul bahu sang 'golden maknae', mengikis jarak diantara mereka. Keduanya beradu pandang satu sama lain. Jungkook tersenyum, namja berwajah tampan itu mengacak-acak rambut hitam jimin dan tertawa senang. Yoongi memicingkan matanya melihat adegan yang mirip dengan adegan film romantis itu. namja itu bahkan rela menukar boneka Kumamon favoritnya agar tidak melihat adegan yang membuat hatinya panas itu. lagi-lagi yoongi hanya bisa pasrah. Dia sama sekali tidak punya hak untuk melarang Jimin mendekati Jungkook.

"berhenti menatap mereka dengan tatapan cemburu, Min yoongi."

Yoongi mendelik kaget begitu melihat Seokjin tengah berdiri disampingnya, terlebih namja yang menjadi kekasih dari namjoon sejak setahun yang lalu itu telah mengamatinya sejak tadi.

"aku tidak menatap mereka dengan cemburu, hyung." tukasnya berbohong.

Seokjin menyeringai puas, "memangnya siapa yang kau maksud? Aku tidak menyebutkan nama siapapun."

Yoongi mengacak rambutnya kesal. Kim Seokjin sudah menangkap basah dirinya. Sekarang dia tidak bisa mengelak lagi dari hyung-nya itu.

"berhentilah berpura-pura. Aku tahu kau menyukainya sejak dulu."

Seokjin memang peka dengan keadaan sekitarnya dibandingkan kebanyakan orang, dan fakta itu membuat yoongi merasa lalai. Yoongi menganggap sikapnya terhadap Jimin selama ini terlihat natural. bagaimana mungkin dia tahu kalau aku menyukai Jimin? "k-kau menyadarinya?" yoongi tidak bisa menutupi rasa terkejutnya sekarang.

"ya."

"sejak kapan?"

"aigoo~ apakah itu penting?"

Yoongi berdecih kesal. "kau tidak menceritakannya pada siapapun, kan? bahkan pada namjoon?" selidiknya. Yoongi tidak bisa tenang kalau rahasianya terbongkar.

Seokjin menggeleng. "tenang saja, aku tidak menceritakannya pada siapapun."

Yoongi menghela napas lega. Untunglah seokjin tidak menceritakannya pada siapapun. Bisa gawat kalau rahasianya diketahui oleh orang semacam Hoseok atau Taehyung, dijamin rahasianya akan tersebar ke seluruh staff Bighit Entertaiment.

"apa kau tidak ingin mengatakannya pada Jimin?"

"yang benar saja, hyung. Jimin menyukai Jungkook. Mana mungkin aku menyatakan perasaanku."

"apa kau yakin Jimin menyukai Jungkook?" entah kenapa nada suara Seokjin terdengar ragu.

"tentu saja, hyung. Jimin sendiri yang mengatakannya padaku."

Seokjin menepuk pundak Yoongi, "sebaiknya kau mempertegas hubunganmu dengan Jimin, Yoongi. kau harus memutuskan, apakah kau akan terus memperjuangkan perasaanmu atau kau akan menyerah dan mencari yang lain. Aku mengatakan ini karena bagaimanapun juga kita satu grup. Aku tidak mau kau tersakiti dengan perasaanmu sendiri." Ucap Seokjin sebelum langkahnya semakin menjauh.


Yoongi termenung di meja makan. Beberapa hari ini ucapan seokjin tempo hari masih terngiang dipikirannya. Yoongi tidak pernah berpikir tentang hal itu sebelumnya, bagaimana nasib percintaannya dan hubungannya dengan Jimin. Sejak awal yoongi berpikir hubungan seperti ini juga tidak apa-apa. Dia terlalu menikmati rasa sukanya secara sepihak terhadap namja bermarga Park itu. tapi ucapan seokjin tadi seakan menyadarkan dirinya. Apa aku masih akan mengharapkannya, setelah aku tahu harapan itu tidak pernah ada? Apakah aku akan terus-menerus memendam rasa sakit ini sendirian?apa aku harus menyerah sekarang? Pikiran-pikiran itu berkecamuk di otaknya. Akhir-akhir ini Jimin selalu berada didekat Jungkook. Menggoda namja yang dua tahun lebih muda darinya itu. bersikap protektif pada siapapun yang mendekati sang Maknae. Yoongi semakin gila karena Jimin terus menceritakan tentang hubungannya dengan Jungkook padanya, mengingat Jimin hanya mengatakannya pada Yoongi. Lebih baik kau membunuhku sekalian, Park Jimin! Pekiknya dalam hati. Min yoongi meringkuk lemas, merebahkan kepalanya di meja makan. Hari ini member lainnya sedang melakukan pemotretan. sejak tadi malamYoongi terserang demam—mungkin karena frustasi akan nasib percintaannya, membuat namja manis itu terpaksa tidak mengikuti aktivitas dengan member lainnya. Tadi sebelum berangkat Seokjin membuatkannya bubur untuk sarapan, namun Yoongi hanya menghabiskan separuh dari bubur itu. Bukan karena rasa masakan Seokjin tidak enak, hanya saja napsu makannya sudah menghilang entah kemana.

Namja itu menatap ponselnya dengan agak terkejut begitu melihat nama Mingyu tertera di layar ponselnya. Memang setelah bertemu dengan member Seventeen itu, Yoongi dan Mingyu sempat bertukar email dan nomor telepon. Beberapa kali mereka saling mengirim pesan, namun akhir-akhir ini mereka tengah disibukkan dengan kegiatan masing-masing, sehingga tidak sempat menghubungi satu sama segera membaca pesan dari Mingyu.

Mingyu:

Hyung, bagaimana kabarmu? Mianhae akhir-akhir ini tidak menghubungimu. Jadwalku sedang padat.

Yoongi terseyum kecil begitu membaca pesan dari dongsaeng-nya itu. yoongi segera mengetik pesan balasan.

Yoongi:

Tidak baik. Aku sedang sakit sekarang.

Baru saja yoongi mengirim pesan itu, sudah ada balasan dari Mingyu.

Mingyu:

Astaga hyung. kau pasti terlalu frustasi sampai sakit seperti itu. sebenarnya apa yng kau pikirkan?kau bisa menceritakannya padaku. Sekarang kebetulan aku ada waktu luang. Apa kau tidak keberatan kalau aku menjengukmu?

Menjenguk? Apa Kim Mingyu sudah gila? Pikirnya kacau. Sebenarnya Yoongi senang-senang saja kalau Mingyu menjenguknya. Hanya saja agensi mereka tidak mengizinkan para member BTS untuk membawa orang lain ke Dorm.

Yoongi:

Ppabo! Mana mungkin aku membiarkanmu ke Dorm! Apa di Dorm-mu tidak ada aturan yang melarang membawa orang asing ke Dorm?

Mingyu:

ah... benar juga. Aku lupa, hyung. bagaimana kalau aku menjemputmu di depan Dorm-mu dan mengantarmu ke dokter? Setelah itu kita mencari makan siang. Lagipula kita belum pernah bertemu lagi sejak di café itu, kan?

Yoongi benar-benar terkejut dengan apa yang dibacanya. Darimana dia tahu kalau aku belum pergi ke dokter? Mendadak Min yoongi berpikir kalau teman barunya ini adalah seorang peramal yang salah profesi dan malah menjadi seorang Idol.

Yoongi:

darimana kau tahu kalau aku belum pergi ke dokter?

Mingyu:

hyung, kau sangat mudah ditebak. Jadi biarkan dongsaeng-mu yang baik hati ini mengantarmu ke dokter, ne?

Mudah ditebak katanya? Yoongi tertegun dengan penjelasan Mingyu. Selama ini, yoongi tidak pernah menemui orang yang benar-benar mengerti dirinya. bahkan Orangtuanya dan member BTS sendiri tidak pernah benar-benar sependapat dengannya. Yoongi mengira tidak ada yang bisa mengerti dirinya—tidak akan pernah ada. Namun semua perkiraannya meleset begitu dia mengenal Kim Mingyu. Namun entah kenapa sedikit banyak Yoongi tahu kenapa Mingyu mengerti dirinya. mereka berdua sama-sama terjebak dengan cinta sepihak, sama-sama patah hati dan sama-sama berjuang mempertahankan cintanya. Kita berdua sama-sama lemah, karena itulah kita saling membutuhkan satu sama lainnya utuk saling menguatkan.


Namja berambut Mint Blue itu menghentakkan kaki kanannya beberapa kali, menandakan dia sedang bosan. Yoongi terus mengeratkan sweater tebal yang dikenakannya. Dinginnya cuaca menandakan peralihan musim sedang terjadi. yoongi benar-benar membenci tubuhnya yang lemah dan sangat peka terhadap segala perubahan, bahkan perubahan lingkungan. Yoongi menatap jam tangannya. Dongsaeng brengsek! Dia membiarkanku menunggu diluar selama ini padahal aku sedang sakit?! yoongi bersumpah akan membunuh Mingyu kalau mereka sudah bertemu nanti.

"Suga hyung!"

Yoongi menatap kesal pada namja yang memanggilnya. Mingyu hanya tersenyum manis, memamerkan gigi taringnya yang sexy. yoongi memperhatikan penampilan Mingyu dengan seksama. namja bertubuh tinggi itu mengenakan kemeja berwarna hitam yang pas, memamerkan abs-nya yang terlihat jelas dibalik kemeja yang dikenakannya, semakin menambah kesan maskulin pada diri dongsaeng-nya itu. Yoongi jadi berpikir sungguh beruntung seorang Jeon Wonwoo bisa disukai namja yang sempurna seperti Kim Mingyu. tidak hanya tampan dan mempesona, namun dongsaeng-nya ini memiliki kepribadian yang baik. yoongi tidak mengerti kenapa Wonwoo tidak terpikat oleh pesona Mingyu, padahal mereka sudah dekat sejak dulu. kalau saja Yoongi tidak terlanjur menyukai Jimin, Yoongi akan mempertimbangkan Mingyu sebagai kekasihnya. "yaa~! Kau benar-benar brengsek. Tega sekali kau membuat orang sakit sepertiku menunggu selama satu jam, hah?!" yoongi mengumpat kesal.

Mingyu meringis, "Mianhae, hyung. tadi aku menyewa mobil ini dulu." Mingyu mengarahkan tatapannya pada mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.

"kau bisa menyetir?"

Mingyu tidak percaya dengan pertanyaan Yoongi yang jawabannya bahkan sudah jelas. "astaga... tentu saja hyung. siapa lagi yang membawa mobil itu kesini kalau bukan aku? cepatlah masuk. Aku tidak mau kau semakin sakit karena kedinginan." Mingyu membukakan pintu untuk yoongi, dan namja yang sedang sakit itu segera memasuki mobil sewaan itu.

Mingyu segera mengemudikan mobilnya. Yoongi sedikit merasa lega begitu mingyu menyalakan penghangat. Akhirnya ia tidak merasa kedinginan lagi. Tangan pucatnya memutar playlist yang ada di mobil, memilih lagu apa yang ingin didengarnya. Sesaat kemudian alunan beat dari rapper favoritnya memenuhi seisi mobil.

"jadi, kau akan membawaku ke dokter mana?"

"salah satu kenalanku. Dia sudah biasa menangani kalangan selebriti, jadi kau tidak perlu khawatir."

"ah, seandainya saja Jimin sedikit memperhatikanku seperti kau."

"berhenti berandai-andai, hyung. pantas saja kau jadi sakit seperti ini."

Yoongi sama sekali tidak menyangka kepribadian Mingyu sangat bertolak belakang dengan kesan pertama yoongi padanya. Awalnya yoongi mengira namja disampingnya ini adalah seseorang yang dingin, manly dan pemaksa. Namun ternyata sosok Kim Mingyu adalah namja yang cerewet dan menyebalkan.

"kenapa tertawa, hyung? ada yang lucu?" tanya Mingyu tidak mengerti.

Yoongi mencoba meredakan tawanya dan menjawab pertanyaan Mingyu, "aku hanya merasa kalau penampilanmu dan kepribadianmu sama sekali tidak cocok. Awalnya kukira kau dongsaeng yang sombong, ternyata kau sangat cerewet, seperti eomma."

Mingyu ikut tertawa. Dia sudah terbiasa dengan respon orang-orang begitu mengetahui kepribadian aslinya. "ya, aku sering mendengar hal itu. hyung sendiri juga berbeda dengan kesan pertamaku. Aku sering mendengar kalau hyung adalah orang yang kasar dan bermulut pedas, tapi kau ternyata sangat imut hyung."

"APA KAU BILANG?! Kau ingin mati eoh?!" ancam yoongi. namja itu menarik rambut mingyu.

"hyung, lepaskan! Aku sedang menyetir! Hyung!" nnampaknya Kim Mingyu tidak akan bisa menyetir dengan tenang.


Setelah mengantar Yoongi ke dokter, mingyu mengajak Yoongi makan siang di sebuah restoran yang khusus menyediakan Korean cuisine. Mingyu memesan Private room, tentunya agar mendapat menghindar dari para fans dan Netizen. Yoongi tengah membolak-balik daftar menu, sementara seorang pelayan menunggu pesanan mereka.

"kau ingin pesan apa, hyung?"

Yoongi menunjuk bulgogi set yang ada didaftar menu.

"bulgogi? tidak, tidak. hyung tidak boleh makan itu. hyung masih sakit, tidak boleh makan makanan berat dulu."

Yoongi mem-pout bibir mungilnya. Aigoo~ dia malah terlihat seperti bocah kecil yang sedang ngambek. Gyeopta~batin Mingyu. "berhentilah bertingkah seperti itu. hyung malah kelihatan seperti anak kecil, tahu? Aku akan memesankan bibimbap untukmu."

Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan itu segera pergi.

"bagaimana kisah cintamu dengan Wonwoo? Apa ada kemajuan?"

Mingyu menggeleng kesal, "tidak ada. Malahan aku merasa akhir-akhir ini dia selalu menghindariku tanpa alasan yang jelas. Dia selalu menempel pada Jun."

"member dari China itu?" tebak Yoongi. memang beberapa kali Mingyu sempat membahas tentang Junhui, member Seventeen yang sekaligus menjadi saingan cintanya.

"aku tidak tahu. Memang apa salahku sehingga dia menhindariku?"

"yah, mungkin dia membencimu." Tanggap Yoongi dengan kejamnya.

"hyung... kau jahat sekali!" protes namja yang lebih muda itu.

Yoongi hanya tertawa kejam. Mingyu kembali menceritakan kisah cintanya. Sesekali yoongi menanggapi ceritanya. Mingyu masih melanjutkan ceritanya, bahkan saat pesanan mereka sudah datang. Yoongi mendengrakan cerita Mingyu sambil menikmati makanannya.

"jadi, apa yang menjadi pikiranmu akhir-akhir ini, hyung?" Mingyu ganti bertanya setelah menyelesaikan ceritanya.
yoongi menghela napas panjang, "kau tahu apa yang aku pikirkan." Tukasnya.

"ceritakan saja, hyung."

Yoongi mulai menceritakan semuanya pada Mingyu. Baik tentang Jimin, Jungkook, ataupun perasaannya. Tak ada satupun yang dilewatkan oleh Yoongi. namja manis itu yakin Mingyu bisa menyimpan rahasia. "aku tidak tahu harus bagaimana sekarang." Ujarnya seraya menyuap makanan ke mulutnya.

"apa hyung yakin mau menyerah?"

Yoongi terdiam. Dia masih belum menemukan jawabannya. "entahlah. Aku tidak tahu."

Wajah tampan Mingyu terlihat serius, "selama mereka berdua belum resmi, hyung masih punya kesempatan, kan? lagipula bukankah itu sulit? kalian selalu bertemu setiap hari dan tinggal bersama. Kau tidak akan mungkin begitu saja melupakan perasaanmu padanya."

"lalu apa yang harus kulakukan? Memaksa Jimin menyukaiku? Menjauhkannya dari Jungkook?" yoongi terdiam sejenak, mencoba menjernihkan emosinya. "sejujurnya aku lelah. aku ingin berhenti berharap dan melupakannya. Setiap kali aku melihat mereka berdua bersama, aku merasa tersakiti sendiri. aku sangat lelah, Mingyu-ah."

Mingyu mengerti perasaan Yoongi. hubungan Yoongi dengan Jimin jauh lebih rumit dibandingkan dengan dirinya dan Wonwoo. dibalik sifatnya yang kasar dan terlihat arogan, yoongi menyembunyikan sisi rapuh dan semua kesedihannya. Mingyu ingin melindungi sosok itu. "aku akan mendukung apapun keputusan yang hyung ambil. Tapi kuharap hyung tidak menyesal nantinya."

Aku juga berharap ini adalah solusi yang terbaik, ujar Yoongi pada dirinya sendiri.

~chapter 2 end~

Keterangan:

1.) Gyeopta: manis/ imut

Thank's to: jung yeon jae, syubchim, yoongiena, squishy carrot, jimyoungi8895, lionbun dan mini yoongit'D yang telah berbaik hati memberikan review pada fanfic ini. author memang sangat membutuhkan dukungan dari kalian semua (?). bagi silent reader maupun yang follow, author juga sangat berterima kasih. author janji akan update secepatnya. selamat tahun baru yeorobeun~ semoga di tahun 2017 kita semua mendapatkan kebahagiaann. dadah~