ME, YOU, AND OUR DULLNESS
Pairing: Min Yoongi x Park Jimin (MinYoon) Slight!: Namjin, Vkook, J-hope alone
Cast: BTS (Main Cast), Seventeen (Other Cast)
Rated: T/M (buat jaga-jaga)
Warning: BL, Typo, OOC (?)
Akhirnya author berhasil melanjutkan chapter ini dengan selamat sampai tujuan (?) sampai sekarang setelah melihat review author jadi berpikir kalau ternyata Yoongi x Mingyu bagus juga ya kalau dijadiin pair. Ah... author jadi dilema antara Jimin x Yoongi x Mingyu x Wonwoo (author tidak berpendirian). Silahkan dibaca, moga kalian suka. JANGAN LUPA REVIEW YA! Author butuh masukan kalian~
~chapter 3~
Akhir-akhir ini Jimin merasa ada yang berubah dari Yoongi. sejak tadi namja manis itu terus memainkan ponselnya, hal yang sangat jarang dilihat oleh Park Jimin. Sesekali Yoongi tersenyum, bahkan terkadang tertawa sendiri. bukannya Jimin tidak suka melihat Yoongi tertawa. Hanya saja hal ini terlalu aneh baginya, mengingat Yoongi jarang memamerkan senyum dan tawanya itu. Mendadak dia jadi mempertanyakan kewarasan hyung-nya itu. Dia telah mengamati perubahan Yoongi yang terjadi selama beberapa minggu ini dan itu semua membuatnya frustasi karena tidak menemukan jawabannya. ada apa dengan Yoongi hyung? pertanyaan itu terus berkecamuk di otaknya. Sebelum-sebelumnya, Yoongi tidak pernah peduli dengan ponsel. Yoongi terlalu menutup diri pada semua orang, sehingga dia hanya menggunakan ponsel seperlunya saja, misalnya untuk menghubungi member yang lain, manager mereka, atau orangtuanya. Hoseok yang sejak tadi duduk disamping Jimin, turut mengikuti arah pandang Jimin. Namja berwajah lonjong itu mendadak mengerti pikiran sahabatnya itu. "kau memikirkan Yoongi hyung?"
Jimin mengangguk. Matanya masih menatap namja berambut Mint blue itu.
Hoseok melanjutkan, "akhir-akhir ini dia berubah ya? Aku juga heran, Sebelumnya aku jarang melihatnya memainkan ponsel sesering sekarang."
Sepertinya bukan hanya aku yang menyadari perubahan Yoongi hyung, pikir Jimin.
"apa dia punya kekasih?"
Jimin ganti menatap Hoseok dengan tajam, membuat namja dengan stage name J-hope itu merasa bingung. Kenapa dia menatapku seperti itu? apa aku salah biraca? menakutkan sekali~ batinnya. "waeyo? Kenapa kau melotot begitu padaku? Hentikan tatapan membunuhmu itu!" seru Hoseok.
"kekasih? Yang benar saja, hyung!" seru Jimin. Entah kenapa nada suaranya meninggi, membuatnya terdengar kesal.
"mungkin saja, kan? meskipun galak begitu, kudengar Yoongi hyung cukup populer dikalangan pria. bahkan beberapa dari selebriti maupun kalangan Idol pernah mengajaknya berkencan, tapi Yoongi hyung menolaknya. Mungkin kali ini ada salah satu dari mereka yang berhasil menarik perhatiannya." Jelas Hoseok panjang lebar.
"darimana kau tahu?"
"beberapa kali Yoongi hyung menceritakannya padaku."
kenapa aku tidak tahu? Kenapa dia tidak pernah menceritakannya padaku? Jimin tidak menyukai fakta kalau Hoseok lebih tahu tentang Yoongi dibandingkan dirinya. tentu saja, Hoseok memang lebih dekat dengan Yoongi daripada dirinya. akan tetapi setelah mendengar itu Jimin merasa Yoongi masih belum terbuka padanya. selama ini aku selalu menceritakan tentang Jungkook padanya. tapi kenapa dia tidak pernah menceritakan hal seperti ini padaku? dia bahkan menceritkannya pada Hoseok yang bahkan tidak bisa menyimpan rahasia. apa dia benar-benar menganggapku sebagai temannya? ujarnya dalam hati. "apa kau tahu siapa kekasihnya?"
"aniya. tapi siapapun itu, dia pasti namja yang hebat karena berhasil mendapatkan Yoongi hyung."
"tentu saja dia hebat. kalau tidak mana mungkin dia tahan dengan kegalakan Yoongi hyung yang seperti singa kalau sedang marah." Sahut Taehyung yang entah datang dari mana. namja berkulit Tan itu duduk disamping kanan Jimin.
"memangnya menurutmu siapa kekasihnya?"
Taehyung berpikir sejenak, "bukankah Zhoumi hyung dari Super Junior? Bukankah mereka dekat?"
"Zhoumi hyung memang pernah mengajaknya berkencan. Tapi Yoongi hyung langsung menolaknya." Jelas Hoseok.
"lalu siapa? Yeoja?"
"Mana mungkin. Bukannya Yoongi hyung gay?"
"bukannya sekali lihat juga langsung tahu. Dia kan tipe Uke Tsundere yang imut tapi galak."
"ah, benar juga. Sepertinya kekasihnya adalah namja yang sudah berpengalaman."
"maksudmu playboy? Tidak mungkin Yoongi hyung menyukai tipe casanova seperti itu!"
"maksudku Yoongi hyung suka namja yang dewasa dan tenang."
"kurasa Yoongi Hyung suka namja yang lebih muda. Melihat hyung yang galak seperti itu, sepertinya dia sangat liar di ranjang. Yang bisa mengimbanginya pasti namja yang lebih muda dan bergairah."
"jadi maksudmu Yoongi hyung sudah pernah tidur dengan namja itu?"
Jimin tidak tahan lagi mendengar obrolan kedua sahabatnya itu. Jimin menatap keduanya dengan tatapan membunuh, seakan mengisyaratkan kedua sahabatnya itu untuk menghentikan perdebatan mereka. Hoseok dan Taehyung segera menghentikan perdebatan mereka dan menelan ludah dengan keras. Entah apa yang akan terjadi kalau mereka masih melanjutkan pembicaraan mereka. Astaga...Ternyata Jimin yang sedang kesal jauh seribu kali lebih mengerikan dibandingkan Yoongi hyung yang marah. lebih baik mulai sekarang aku tidak mencari masalah dengannya, pikir keduanya serempak.
888
Yoongi segera menatap layar ponselnya begitu menerima pesan dari Mingyu. Namja bermarga Kim itu mengirimkan foto Wonwoo yang sedang dipeluk dengan namja berhidung mancung yang Yoongi yakini sebagai Junhui. Keduanya terlihat sangat dekat. Yoongi melirik tulisan yang ada dibawah foto itu.
Mingyu:
Wen Junhui sengaja membuatku cemburu dengan menyuruhku mengambil fotonya dengan Wonwoo hyung. aku ingin sekali mematahkan hidungnya!
Yoongi tertawa sekeras-kerasnya, tidak peduli dengan Seokjin yang sejak tadi menatapnya dengan heran.
Yoongi:
Aku akan melaporkanmu ke polisi kalau kau berbuat kriminal. kau lebih beruntung daripada aku. Hampir setiap hari aku melihat Jimin yang terus merayu Jungkook. Menyebalkan.
Mingyu:
Ya, kau benar hyung. Aku sangat bersyukur setidaknya Wonwoo tidak pernah mengatakan padaku siapa namja yang disukainya. Mungkin aku akan gila kalau tahu dia tidak menyukaiku dan malah menyukai orang lain.
Yoongi:
Bersyukurlah kau tidak menjadi gila sepertiku, Kim Mingyu.
Seokjin yang sejak tadi penasaran, memutuskan untuk bertanya, "kau sedang chatting dengan siapa?" sebenarnya dia sudah mengamati Yoongi selama beberapa hari terakhir. aneh sekali melihat teman sekamarnya itu terus memainkan ponsel.
Yoongi menghentikan aktivitasnya. "memangnya kenapa?" yoongi tidak menyangka seokjin akan menanyakan hal ini. biasanya namja dengan bahu lebar itu tidak pernah menanyakan sesuatu kecuali saat dia sangat penasaran.
"akhir-akhir ini kuperhatikan kau terus memainkan ponselmu. Apa kau sudah memutuskan untuk melupakan Jimin dan mencari yang lain?"
Yoongi mendengus kesal. "aku memang memutuskan untuk menyerah."
Seokjin terkejut, tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. "jadi kau benar-benar menyerah?"
"tidak perlu terkejut begitu. Bukankah kau yang menyuruhku untuk memutuskan pilihan?"
"tapi aku tidak menyangka kau akan memutuskannya secepat ini." sahut seokjin. "lalu sekarang kau chatting dengan siapa?"
"temanku."
Seokjin berdecak kesal, tidak puas dengan jawaban Yoongi. "apa aku mengenalnya?"
Seokjin hyung benar-benar keras kepala! Yoongi terdiam sejenak, memutuskan untuk mengatakannya pada Seokjin atau tidak. "geurae, aku akan mengatakannya kalau hyung janji mau menjaga rahasia."
"kau tahu aku tidak akan mengatakannya pada siapapun, bahkan pada Namjoon sekalipun."
Yoongi mengangguk. "baiklah. Aku percaya."
"jadi siapa orang itu?" Seokjin kembali mengulang pertanyaannya.
"Kim Mingyu."
"Kim Mingyu?" Seokjin mencari pemilik nama itu di otaknya. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu...
"member Seventeen." Ujar Yoongi menambahkan.
Mata Seokjin terbelalak begitu mengetahui siapa Kim Mingyu yang dimaksud oleh Yoongi. "Omo! Maksudmu Kim Mingyu yang itu? yang seumuran dengan Jungkook?! dia bahkan lima tahun lebih muda darimu! Aku tidak menyangka kalau ucapan si alien itu benar..."
"memangnya apa yang dia katakan?" kini Yoongi yang malah ganti bertanya.
"Taehyung bilang kalau kau menyukai namja yang lebih muda. Kukira ucapannya waktu itu hanya bercanda. Tapi aku tidak menyangka kalau kau dan Mingyu berhubungan—"
"Tunggu dulu! Jadi maksudmu aku berpacaran dengan Mingyu?! Yang benar saja, hyung!"
Seokjin melongo, "lho, jadi... kau tidak berpacaran dengannya?"
"bukankah aku sudah bilang kalau dia temanku. Lagipula darimana alien brengsek itu bisa mendapat rumor murahan seperti itu?!" protesnya kesal. "lihat saja besok, akan kubunuh kau, Kim Taehyung!"
Seokjin terkekeh, "tapi itu tidak sepenuhnya salah kan? Jimin juga lebih muda dua tahun darimu."
"yaa~! Namjoon juga lebih muda darimu!" tukas Yoongi.
"aishh..." seokjin mengacak rambutnya karena kalah berdebat dengan Yoongi.
Yoongi tertawa puas melihat hyung-nya itu kalah. Sejak dulu Yoongi memang rajanya berdebat—semua tahu itu. Seokjin duduk di dan Seokjin memang berbagi kamar, mungkin itulah yang membuat Seokjin member BTS yang paling akrab dengannya.
"kemana Namjoon? Bukannya tadi dia bilang ingin tidur disini?" tanya Yoongi. Terkadang sesekali leader BTS itu menginap di kamar mereka. kalau sudah begitu biasanya Yoongi memilih tidur di Studio. Mana mungkin dia bisa tidur kalau mendengar desahan kedua namja itu saat bercinta? Hell no!
begitu mendengar pertanyaan Yoongi, Seokjin malah terlihat lesu. "Bang si hyuk-nim memanggilnya. Sepertinya dia akan pulang malam. Ah, padahal aku sudah lama tidak melakukan itu dengannya..."
Yoongi mendengus keras. Sudah lama katanya? Padahal mereka baru 'melakukannya' minggu lalu! Batinnya kesal.
Seokjin memutuskan mengalihkan pembicaraan. "ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau berteman dengan Mingyu?"
"takdir. Kami memiliki banyak kesamaan dan cocok satu sama lain. Ya... hanya begitu saja." yoongi tidak ingin menjelaskannya secara detail.
"apa kau menyukainya? Apa dia juga menyukaimu?" desak Seokjin.
"aish... sudah kubilang hubungan kita tidak seperti itu. lagipula dia sudah menyukai orang lain." Tegasnya.
Seokjin tersenyum. "mianhae. Aku hanya senang akhirnya kau punya teman diluar. Terkadang aku khawatir dengan sifatmu yang tertutup itu. aku jarang melihatmu tertawa seperti tadi. sering-seringlah tertawa seperti itu."
Yoongi terdiam sejenak. Sejujurnya dia memang merasa sedikit lega setelah mengenal Mingyu. "gomawo, hyung."
Seokjin tersenyum senang. Baru kali ini Yoongi mengucapkan terima kasih padanya. Sepertinya Mingyu memberikan perubahan yang baik padanya, pikir Seokjin. Seokjin ingin sahabatnya ini merasa bahagia. "lalu... bagaimana hubunganmu dengan Jimin? apa kau yakin akan menyerah begitu saja?"
Yoongi mengangguk samar. "ya. Aku memutuskan untuk menyerah."
Seokjin menepuk bahu Yoongi. "sejujurnya, menurutku lebih baik kau mengatakan perasaanmu pada Jimin. Tapi kalau kau mau memutuskan untuk menyerah, aku tidak akan melarangmu. kau sudah dewasa. kau sudah bisa memilih mana keputusan yanga kan kau ambil. Aku harap keputusan ini adalah jalan yang terbaik untukmu."
Mengatakannya pada Jimin? Mana mungkin dia melakukannya. Yoongi menyadari situasinya. Dia tidak ingin hubungan persahabatannya dengan Jimin retak hanya karena dia mengatakan perasaannya. Yoongi mengabaikan masalahnya sejenak. Dia sudah sampai pada batasnya. Aku benar-benar bodoh, membiarkan perasaanku jatuh terlalu dalam pada namja yang jelas-jelas tidak menyukaiku. Sampai kapan aku akan terus merasakan rasa sakit ini?
888
Entah kenapa Park Jimin tidak menyukai gagasan Hoseok mengenai kekasih Yoongi. selama ini, Yoongi tidak pernah tertarik dengan percintaan. Begitu Jimin mendengar Ucapan Hoseok kemarin entah kenapa dia merasa kesal. Dia tidak suka mendengar fakta kalau banyak namja yang memperebutkan Yoongi diluar sana. Dia tidak terima. Menurutnya tidak ada namja yang pantas bersanding dengan hyung manisnya itu. Tidak ada yang pantas. kini pandangan Jimin terpusat sepenuhnya pada Yoongi. namja yang kini berambut Light Blonde itu tengah tersenyum lebar, terkesan begitu cantik layaknya peri kecil. matanya yang sipit kini terlihat begitu berbinar. wajahnya terlihat semakin manis saat tersenyum seperti itu. Jimin selalu suka melihat senyum Yoongi yang memang jarang ditunjukkan itu. benar-benar seperti malaikat... bisiknya dalam hati. kenapa aku tidak menyadari dari dulu kalau Yoongi hyung sangat 'indah?' pantas saja banyak namja yang ingin mengajaknya berkencan. jimin menyadari kebodohannya.
"hyung?"
jimin tersadar dari lamunannya. Sejak tadi dia terfokus dengan Yoongi hingga tidak menyadari seseorang duduk disampingnya.
"a-ada apa, Jungkook-ah?" Jawabnya kikuk.
Jungkook terheran dengan ucapan Jimin. biasanya namja itu selalu memanggilnya dengan sebutan 'kookie'. "kenapa kau tidak memanggilku seperti biasanya?"
Jimin terdiam. Dia sendiri tidak tahu kenapa memanggil Jungkook dengan panggilan kesayangannya pada sang Maknae itu. Jimin hanya mengatakannya secara spontan. Kenapa aku tidak memanggilnya seperti biasa?
"apa hyung sudah mendengar tentang rumor itu?"
Jimin tidak mengerti arah pembicaraan Jungkook, "apa?"
Jungkook mendekatkan wajahnya lalu berbisik, "tentang Yoongi hyung yang sudah punya pacar. Aku mendengarnya dari Hoseok hyung."
Jimin mengangguk. "ya. Aku sudah tahu. Lalu?"
"apa benar dia berpacaran dengan namja yang lebih muda?"
Jimin terlihat gusar, "kenapa kau bertanya padaku?!" bentaknya.
Jungkook terkaget. Selama ini Jimin tidak pernah sekalipun membentaknya. Ada apa dengannya? "aku kan hanya bertanya. Kenapa marah begitu sih?"
Jimin tersadar ucapannya tadi terlau kasar. "mianhae, kookie. aku tidak bermaksud membentakmu tadi."
"tidak apa-apa, aku tahu hyung tidak bermaksud membentakku. Mungkin hyung terlalu lelah. lebih baik kau istirahat." usulnya.
Jimin mengacak rambut hitamnya. Kau benar-benar bodoh, Park Jimin! Bisa-bisanya kau membentak orang yang kau sukai. Aish, aku pasti sudah gila! Makinya pada dirinya sendiri. dia kembali menatap Jungkook dengan seksama. Dialah malaikat yang sesungguhnya, park Jimin! Jimin meyakinkan dirinya sendiri.
888
Sementara itu Yoongi melihat Jimin dan Jungkook tengah berduaan. Lagi, pikirnya. Kini namja tampan itu tengah bersandar pada bahu sang maknae. Yoongi memalingkan pandangannya, dia tidak mau melihat adegan itu lama-lama. Namja itu memilih kembali melihat ponselnya. Terdengar nada dering dari ponselnya. Yoongi tersenyum, rupanya Mingyu menelponnya. "yeoboseyo?"
"yoongi hyung, bogosipeo."
"yaa~! Kenapa kau selalu menelpon pada saat aku sedang sedih, eoh? Apa kau seorang peramal? Kurasa kau harus keluar dari Seventeen dan membuka jasa ramalan."
Terdengar suara tawa di seberang sana, "ahh... mungkin aku akan mempertimbangkan itu kalau aku sudah tua, hyung. kenapa kau sedih?"
"aku melihat Jimin sedang berduaan dengan Jungkook sekarang. Itu membuatku kesal. Rasanya aku ingin mencongkel kedua mataku agar tidak melihat mereka bermesraan." Yoongi mengecilkan suaranya, memastikan agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya, apalagi sejak tadi dia merasa Jimin sedang mengamatinya.
"wah... kurasa kau semakin gila, hyung. perlu kubawa kau ke Psikolog?"
"yaa~! Jangan mengejekku, ppabo!" protesnya. Begitu menyadari suaranya terlampau keras, Yoongi menatap sekitarnya. Jimin, Jungkook dan Taehyung menatapnya. Ah, untung saja hanya ada mereka bertiga disini... "ngomong-ngomong, kenapa kau menelponku?"
"aku hanya ingin bertemu denganmu minggu ini, seperti biasa? Aku tidak punya banyak teman selain dari grup. Lagipula aku juga bosan berada di Dorm terus."
"astaga, kau terdengar menyedihkan. Geurae, aku bisa. Kita bertemu di café kemarin?"
"boleh saja. aku juga ingin kau mengajariku rap dengan trap style. Bagaimana?"
"oke, asal kau harus membayarku setelah itu."
Mingyu kembali tertawa, "baiklah, aku akan mentraktirmu makan siang." Tawarnya. "Sampai ketemu minggu depan."
"ya." Yoongi memutuskan panggilannya.
"siapa yang menelpon?"
Yoongi tidak sadar Jimin tengah berdiri dibelakangnya. Yoongi terdiam, mengamati ekpresi Jimin yang terlihat kesal. Kenapa dia terlihat marah?
"aku tanya lagi, siapa yang menelpon?" Jimin menekankan setiap kalimat yang diucapkannya, membuat Yoongi merasa terintimidasi.
"temanku." Jawab Yoongi singkat, tidak bermaksud menjelaskan lebih jauh.
Jimin menyeringai kejam, "benarkah? Setahuku selama ini kau tidak punya teman diluar BTS." Sindirnya.
Mendengar ucapan Jimin yang terdengar sinis itu membuat Yoongi tersulut amarahnya, "lalu kenapa? Apa aku tidak boleh punya teman selain kalian?"
"kenapa kau tidak pernah menceritakan padaku tentang temanmu itu, hah?!"
"karena aku tidak ingin menceritakannya padamu!" balas Yoongi kasar.
Taehyung dan Jungkook hanya menatap Jimin dan Yoongi yang sedang bertengkar, tidak tahu harus berbuat apa. mereka ingin melerai, namun tidak ingin ikut campur dalam pertengkaran mereka.
Yoongi kembali melanjutkan, "lagipula, kenapa aku harus menceritakannya padamu?"
Namjoon dan Jin yang baru saja memasuki Practice Room terkejut mendengar pertengkaran kedua member BTS ini.
"ada apa ini?" tanya sang 'leader'.
"mereka bertengkar." Bisik Taehyung pada Namjoon sambil menunjuk kedua namja yang menjadi penyebab keributan.
"ada apa dengan kalian?" kini ganti Seokjin yang bertanya.
Keduanya hanya diam sehingga Jungkook terpaksa menjelaskan penyebab pertengkaran mereka pada Namjoon dan Seokjin. Setelah mendengar penjelasan Jungkook, Namjoon hanya menghela napas. "YAA, PARK JIMIN! Bukankah bagus kalau Yoongi-hyung punya teman? Itu artinya dia tidak menjadi penyendiri seumur hidupnya. Lagipula dia terlihat lebih bersemangat dari biasanya. itu adalah perubahan yang positif."
"cih, aku yakin dia berkencan diluar sana. Ini membahayakan grup kita, hyung. bagaimana kalau publik tahu tentang hubungan mereka?"
"jadi maksudmu aku dan Namjoon juga membahayakan grup karena kita berkencan?" sahut Seokjin yang entah kenapa juga merasa tersindir begitu mendengar alasan Jimin.
"bukan begitu maksudku, hyung..."
"Hubunganku dan Namjoon juga diketahui publik dan mereka tidak mempermasalahkannya. Lagipula kalaupun Yoongi-hyung punya pacar atau tidak, itu bukan urusan kita. Lagipula dia sudah cukup dewasa untuk menjalani hubungan. berhentilah bertingkah seperti anak kecil. kau tidak berhak mencampuri urusan pribadi orang lain." Seokjin melanjutkan ucapannya.
Jimin semakin marah. Kenapa jadi aku yang disalahkan?! Brengsek! Rutuknya dalam hati. jimin keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan keras sehingga menimbulkan suara nyaring. Kelima member BTS yang terdiam.
"baru kali ini aku melihat Jimin semarah itu." taehyung memecahkan keheningan diantara mereka.
"aku juga." Sahut Jungkook mengiyakan.
Seokjin menatap namja berambut Light Blonde yang nampaknya masih kaget dengan kejadian barusan. "gwaechana?"
Yoongi mengangguk lemah. Tentu saja dia tidak baik-baik saja.
~chapter 3 end~
Keterangan:
Yeoboseyo?: Halo
Bogosipeo: aku merindukanmu
Gwaechana?: tidak apa-apa?
