ME, YOU, AND OUR DULLNESS
Pairing: Min Yoongi x Park Jimin (MinYoon) Slight!: Namjin, Vkook, J-hope alone
Cast: BTS (Main Cast), Seventeen (Other Cast)
Rated: T/M (buat jaga-jaga)
Warning: BL, Typo, OOC (?)
Ahh... sejujurnya chapter ini cukup melelahkan. Author harus berkali-kali mengganti adegan dan scenario yang sejak awal sudah author buat karena rasanya ada beberapa bagian yang kurang. Di chapter ini pun author masih merasa banyak kekurangan yang bahkan author sendiri gak tahu kurangnya dimana (blank author~). tolong review setelah membaca. Author sangat membutuhkan kritik dan saran dari kalian semua, yeorobeun... hwaiting!
~chapter 4~
Sejak pertengkaran itu Jimin benar-benar mengacuhkan Yoongi. Namja itu tidak lagi berbicara pada Yoongi, bahkan sekedar menyapa pun tidak. Keduanya hanya berinteraksi ketika mereka berada di hadapan publik. Mereka akan bertingkah begitu akrab dan memberikan fanservice pada para penggemar, namun setelah acara berakhir keduanya saling diam satu sama lain bagaikan orang asing.
"ini benar-benar melelahkan." Ujar Yoongi pada Mingyu. Dongsaeng-nya itu mengajaknya ke restoran bulgogi yang cukup terkenal. Yoongi mengambil sepotong daging dengan sumpit, membungkusnya dengan selada lalu memakannya. Yoongi telah menceritakan semua pertengkarannya dengan Jimin pada Mingyu. "aku merasa tidak enak pada ARMY dan member lain karena pertengakaran kita."
Mingyu berpikir sejenak, "bukankah itu aneh?"ujarnya sambil mengunyah daging dimulutnya.
"maksudmu?"
"setelah mendengar ceritamu itu, kurasa Jimin hyung menyukaimu."
Yoongi membelalakkan matanya, "dia? Yang benar saja! aku malah merasa dia sangat membenciku sekarang."
"kalau dia membencimu, kenapa dia tidak suka kau berteman denganku? Bukankah itu artinya dia cemburu?"
Yoongi memikirkan kesimpulan Mingyu dengan seksama. Jimin menyukaiku? Benarkah? Sejujurnya Yoongi sedikit berharap itu benar. Aniya, tidak mungkin. Jimin menyukai Jungkook, tidak mungkin dia menyukaiku. "jangan mengada-ngada. Dia hanya tidak suka ada skandal didalam BTS."
"tapi hyung—"
"aissh... sudahlah, aku tidak mau membicarakan ini lagi." Sahut Yoongi, memotong ucapan Mingyu. "kau sendiri, bagaimana hubunganmu dengan Wonwoo?"
Namja berkulit Tan itu tidak segera menjawab. Ekspresi wajahnya berubah menjadi muram. "kemarin Junhui menyatakan cintanya pada Wonwoo hyung."
Yoongi mendelik, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mingyu. "jjinjaeyo? Lalu?"
"lalu apanya, hyung?" tanya Mingyu tidak mengerti.
"aissh... tentu saja jawaban Wonwoo, ppabo!" seru Yoongi tidak sabar seraya melempar sumpit yang tepat mengenai dahi Mingyu.
"yaa~! Tidak perlu melemparku dengan sumpit, hyung!" protes sang Dongsaeng tidak terima.
"kau membuatku kesal, Imma."
Mingyu membuka sekaleng coke yang ada dihadapannya dan meminumnya hingga separuh. Rasa membakar dilidahnya sama sekali tidak membantu mengurangi kegelisahannya."dia bilang akan memikirkannya." Jawabnya kemudian.
"apa? jadi, dia belum memberi jawaban?" sahut Yoongi menyimpulkan yang langsung direspon oleh Mingyu dengan anggukan.
"bukankah itu bagus? Itu berarti kau masih punya kesempatan untuk mendapatkannya."
"bagaimana kalau dia menerimanya? Aku tidak ingin menyerah, tapi aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, hyung..."
Baru kali ini Yoongi melihat Mingyu sekalut ini. namja tampan itu terlihat begitu depresi. kemana semua kepercayaan diri yang selalu terpancar dari seorang Kim Mingyu? Kini namja itu terlihat begitu suram. Melihat Mingyu yang frustasi seperti ini terasa seperti bercermin, mengingatkan Yoongi pada dirinya sendiri dan kisah cintanya yang menyedihkan. yoongi menggenggam tangan Mingyu, seakan memberikan kekuatan. "dengarkan aku."
Mingyu menatap mata Yoongi. keduanya saling berpandangan satu sama lain, mencoba membaca pikiran masing-masing.
"kau masih punya kesempatan, Kim Mingyu. Hubunganmu dengan Wonwoo jauh lebih baik daripada aku. Kau harus menyatakan perasaanmu padanya. kau harus mengatakannya sebelum dia memberi jawaban pada Jun."
Mingyu mengangguk mengerti, "tapi bukankah itu akan membuatnya bingung? Aku tidak ingin membebaninya dengan pernyataan cintaku. Aku akan mengatakannya setelah dia memberikan jawabannya pada Jun."
Yoongi menggeleng cepat, "dasar ppabo! Kalau wonwoo menerima Junhui kau tidak akan mendapatkan kesempatan." Jelasnya.
"ah... benar juga. Kau benar-benar jenius, hyung!" mingyu segera berlari mendekati Yoongi dan langsung memeluknya.
"yaa! Jangan memelukku seperti ini, Imma! Lepaskan aku!" seru Yoongi. namja itu memukul Mingyu dengan tangannya.
"mianhae, hyung. aku hanya terlalu senang karena kau memberiku dukungan. Aku benar-benar terharu." Katanya. Mingyu sudah melepaskan pelukannya dan kembali duduk ditempatnya semula.
Yoongi sengaja memberikan tatapan galak pada namja yang ada dihadapannya ini. untung mereka memesan tempat pribadi, jadi tidak ada yang melihat kejadian memalukan itu. "aishh... aku menyesal sudah membelikanmu support. suasana hatimu berubah cepat sekali, bocah." Sindirnya.
"kau tahu aku memang begitu, hyung. tidak jauh beda denganmu, hanya saja aku lebih tampan darimu." Balas Mingyu. Melihat suga hyung marah sangat menyenangkan.
"APA?! Dasar bocah! awas kau!"
"hahaha... berhentilah mengancamku seperti itu, hyung. kau malah terlihat seperti kucing kecil yang ingin melawan anjing. gyeopta."
"kenapa ada orang yang menyebalkan seperti dirimu, sih? Bisa-bisa aku mati muda kalau terus—"
Mingyu menyuapkan sepotong daging pada mulut Yoongi, "berhentilah menggerutu seperti itu dan makanlah."
Mau tidak mau yoongi mengunyah daging yang sudah terlanjur masuk mulutnya itu. namja itu kembali tenang dan melanjutkan makannya yang tertunda.
"hyung." nada suara Mingyu terdengar serius. "aku tidak mengerti. Kenapa kau memilih untuk menyerah?"
Yoongi tidak mengatakan apapun, membiarkan Mingyu melanjutkan ucapannya, "kau mengatakan padaku untuk terus berjuang. Kenapa kau sendiri tidak memperjuangkan cintamu?"
Yoongi menghela napas panjang, "kau sendiri tahu situasinya, Mingyu-ah."
"tapi hyung masih punya kesempatan! Mereka berdua kan belum berpacaran. Jungkook juga belum tentu menyukai Jimin hyung. seharusnya kau juga berjuang sepertiku—"
"aku hanya bersikap realistis, kim mingyu!" potong Yoongi, ucapannya nyaris terdengar seperti bentakan. "aku tahu jimin tidak akan menyukaiku—tidak akan pernah. Jika aku mengatakan perasaanku, hubunganku dengan dia akan hancur selamanya."
"you are such a coward, hyung." tukas Mingyu dengan nada dingin, tidak peduli jika ucapannya dapat menyakiti perasaan Yoongi yang rapuh. Namja dihadapannya ini benar-benar keras kepala!
Yoongi tersenyum getir. "kau benar,Mingyu-ah.aku memang pengecut."
Jawaban Yoongi membuat Mingyu frustasi. Kenapa kau keras kepala sekali, hyung! kau benar-benar bodoh! Rutuknya dalam hati. "geurae, aku harap kau tidak akan menyesal karena kebodohanmu sendiri, Min Yoongi."
"aku hanya berharap rasa sakitku tidak akan bertambah, Mingyu-ah."
888
Yoongi mencium aroma sedap yang tiba-tiba memenuhi studio kecilnya yang sengaja diberi nama 'Genius Lab' oleh pemiliknya. Yoongi menatap seokjin yang tengah berdiri didepan pintu studionya. Tangannya penuh dengan dua kantong plastik besar. Yoongi menebak hyung-nya itu sedang membawakan baju dan makanan, seperti yang selalu dilakukannya ketika yoongi memutuskan untuk menginap berhari-hari di studio. Seokjin segera menaruh barang-barang yoongi dia atas meja kosong dan menatanya. "aku memasakkanmu kimchi jjigae dan kimbab. Aku juga membelikanmu snack. Tidak ada lagi kopi untukmu, sebagai gantinya aku membelikanmu susu." Kata seokjin panjang lebar seperti seorang eomma.
"hyung, perutku bisa meledak kalau kau memberikan makanan sebanyak ini." Protesnya.
"makanlah yang banyak. Akhir-akhir ini kau semakin kurus karena kau jarang makan. Kau sering sakit, jadi perhatikan kesehatanmu."
Yoongi mempout bibirnya, namun toh akhirnya dia makan juga. Yoongi mulai memasukkan sepotong kimbab ke mulutnya, lalu mengunyahnya. Masakan seokjin memang selalu terasa enak. "rasanya enak sekali, hyung. beruntung sekali si monster idiot itu mempunyai pacar sebaik kau."
Seokjin memukul bahu yoongi dengan keras. "yaa~! Jangan menyebut namjoon seperti itu."
Yoongi terkekeh puas. "arraseo. Tidak perlu memukulku seperti itu."
Mendadak ekspresi seokjin berubah. Pemuda itu teringat akan tujuannya menemui yoongi sekarang. "yoongi... sampai kapan kau dan jimin akan terus begini?"
Yoongi terkejut dengan pertanyaan seokjin yang tiba-tiba. sudah berminggu-minggu sejak pertengkaran mereka berdua. Jujur, dia sendiri tidak tahu sampai kapan pertengkaran ini akan berakhir. "aku tidak tahu, hyung." jawabnya. "aku bahkan tidak tahu kenapa dia marah padaku."
"akhir-akhir ini kau selalu menginap studio, kau jarang pulang ke dorm. Kalaupun pulang kau hanya mengambil barangmu dan pergi begitu saja. suasana saat latian juga terasa aneh. "
Yoongi tidak mengatakan apapun. Seokjin mendengus sejenak lalu melanjutkan, "Namjoon sangat tertekan, kau tahu. Bebannya sebagai leader sangat berat, kuharap kalian tidak semakin membuatnya merasa terbebani. Bicaralah dengan Jimin. Cari tahu kenapa dia marah dan selesaikan masalah kalian berdua. "
"aku tidak mau."
"yaa~! Min yoongi! berhentilah bersikap egois!"
Bentakan Seokjin sukses menyulut amarah Yoongi, "jadi aku yang salah? Dia yang memulai pertengkaran ini, hyung! kenapa aku yang harus disalahkan?!" yoongi meluapkan semua kemarahannya. Dia tidak tahan lagi.
seokjin sedikit terkejut begitu melihat reaksi Yoongi, namun namja cantik itu malah menatapnya iba. "baiklah, aku tidak akan ikut campur urusan kalian lagi. Percuma aku mengingatkan orang keras kepala sepertimu. Tapi kuharap, kau segera kembali ke Dorm. aku tidak mau Namjoon stress karena keegoisan kalian berdua."
Yoongi mengangguk lemah. Dia bersyukur Seokjin tidak berbalik memarahinya. Yoongi sadar dia terlalu bersikap kekanak-kanakan jika dibandingkan seokjin yang bersikap begitu dewasa. "baiklah, aku akan kembali ke Dorm. mianhae, aku tadi membentakmu, hyung. Sungguh tidak bermaksud begitu."
Seokjin tersenyum, menandakan dia sudah memaafkan Yoongi. "ya. Aku tahu kau sedang tertekan. Berhentilah bersedih seperti ini dan lupakan semuanya, okay?"
"gomawo, hyung. kau benar-benar baik. Kau benar-benar peduli pada kami semua... aku..." Yoongi meneteskan air matanya. dia sangat terharu dengan perlakuan Seokjin padanya.
Seokjin membelalakan matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namja yang selalu terlihat cuek dan kuat, kini menampakkan sosoknya yang begitu rapuh dan lemah. Seokjin segera memeluk sosok itu, menunjukkan empatinya pada Yoongi. "astaga yoongi~! kenapa kau menangis, eoh?" Dia mengelus punggung Yoongi dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Uljima..." ujarnya menenangkan.
Yoongi tidak menghentikan isakannya. Pelukan seokjin terasa begitu hangat dan menenangkan. Seokjin membiarkan Yoongi meluapkan kesedihannya, berharap hal itu akna mengurangi beban sang 'rapper'. Tanpa disadari seseorang tengah menatap mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Jimin menatap kedua namja yang tengah berpelukan itu dengan tajam. Melihat adegan itu membuatnya merasa bersalah, terutama terhadap Yoongi. Jimin tidak suka melihat mata yang indah itu terus meneteskan air mata, terlebih karena ulahnya. Sejak kapan Min Yoongi yang selalu terlihat kuat dan ceria menjadi rapuh seperti ini? ada rasa sakit di dalam hatinya karena dia tidak ada disisi Yoongi. dia bahkan terlalu egois untuk sekedar meminta maaf. Jimin sangat menyesali perbuatannya sekarang. Sebenarnya Jimin tidak mengerti kenapa dia marah hanya karena masalah ini. Dia bukanlah orang yang mudah marah, meskipun rasa egoisnya terlampau tinggi. Dia selalu bersikap dewasa dan optimis pada apapun yang dilakukannya. Hanya saja saat itu dia tidak bisa mengontrol emosinya begitu melihat Yoongi mengabaikannya dan terus memainkan ponselnya. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Batinnya bertanya-tanya. Perasaan ini begitu asing baginya. Dia bahkan tidak pernah bersikap seaneh ini pada Jungkook. apa aku menyukai Yoongi-hyung? Jimin mengeryitkan dahinya. Ah,tidak mungkin. Satu-satunya orang yang kusukai hanya Jungkookie! Ya, hanya dia! Jimin segera menepis jauh-jauh pikirannya tadi. namja tampan itu memutuskan untuk pergi, sebelum rasa bersalah itu mengakar lebih dalam.
888
Meskipun Yoongi sudah kembali di Dorm, keadaan diantara mereka belum juga membaik, malah terlihat semakin memburuk. Member yang lain juga merasa tertekan dengan ketengangan diantara mereka berdua, namun mereka tidak tahu harus berbuat apa. Setiap Jimin dan Yoongi berpapasan, keduanya terus mengabaikan satu sama lain, menebalkan jarak diantara mereka berdua. Hoseok melempar remote TV yang tadi dipegangnya dengan kasar. Namja yang biasanya terlihat begitu ceria itu kini terlihat begitu stress. "aisshh...! lama-lama aku bisa gila karena mereka berdua!" serunya kesal.
"yaa~! Kau pikir hanya kau yang frustasi! Aku sebagai leader lebih tertekan karena masalah ini!" sahut Namjoon tidak mau kalah. Sebelum-sebelumnya tidak ada 'perang dingin' yang terjadi diantara member BTS. Namja dengan stage name Rap Monster itu merasa gagal sebagai leader karena tidak bisa mendamaikan kedua belah pihak. IQ-nya yang mencapai 148 itu benar-benar tidak berguna sekarang.
"hei, tidakkah kalian merasa kalau sebenarnya Jimin menyukai Yoongi hyung?"
Kedua namja yang tengah frustasi itu menatap Taehyung secara bersamaan. "yang benar saja. Mana mungkin Jimin menyukai Yoongi hyung. kau kan tahu kalau dia selalu mendekati Jungkook sejak dulu!" sahut Namjoon, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh namja pemilik. '4D Charisma' itu.
"ya. Kurasa dia hanya tidak Yoongi hyung berkencan karena takut dengan skandal yang akan menurunkan pamor kita." Sahut Hoseok membenarkan.
Mereka berdua sangat tidak peka, pikir Taehyung menyimpulkan. Meskipun begitu, namja yang dijuluki alien itu hanya mengangguk seakan menyetujui pendapat kedua sahabatnya. Aku benar-benar berharap masalah ini segera berakhir secepatnya.
888
"hyung. apa kau yakin mau bertemu denganku hari ini?"
Namja bersurai Light Blonde itu tertegun karena ucapan yang terdengar diseberang sana. Rasanya aneh mendengar Mingyu menanyakan hal itu, mengingat mereka berdua sering bertemu.
"tentu saja, kau kan yang mengajakku. kenapa kau menanyakan hal itu?"
"aku hanya tidak mau kau dimarahi oleh managermu karena selalu pergi denganku."
"oh, tenang saja. lagipula hal ini tidak mengganggu jadwalku. Seharusnya kau lebih memperhatikan dirimu. Kau Idol Rookie seharusnya lebih berhati-hati agar tidak terkena skandal. Lagipula seharusnya kau lebih sibuk dariku, kan?"
"tenang saja, hyung. aku sudah bilang pada manager dan hyung kalau aku berteman denganmu."
"benarkah? Lalu bagaimana tanggapan mereka?" sahut Yoongi tidak sabar. Yoongi tidak menyangka Mingyu menceritakan pertemanan mereka pada orang lain.
"mereka tidak mempermasalahkannya. hyung malah ingin agar aku mengenalkannya padamu. Dia bilang di juga ingin belajar rap darimu."
"kenapa kau memanggil leader-mu dengan name stage-nya, huh? Aneh sekali." Komentar Yoongi.
"entahlah. Kami semua memanggilnya seperti itu. apa aku perlu menjemputmu?"
"tidak usah. Aku akan berangkat sendiri." sahut Yoongi cepat. Dia tidak mau merepotkan Mingyu.
"baiklah, aku akan menunggu di sungai Han, ne? Jaljayo, hyung."
"hm." Yoongi menanggapi singkat dan segera memutuskan panggilan. Namja itu segera bangkit dari tidurnya dan bersiap-siap.
Yoongi membuka lemari pakaiannya. Dia memandangi lekat-lekat sweater hitam yang tergantung rapi. Itu adalah Sweater yang dihadiahkan oleh Jimin saat ulang tahunnya. Yoongi menggelengkan kepalanya berulang kali, mencoba menyadarkan diri dari lamunan yang menyesakkan itu. Yoongi memutuskan untuk mengenakan pakaian lain dan pilihannya jatuh pada sweater polos berwarna biru tua yang sekiranya tidak akan menarik perhatian. Yoongi mengambil tas ranselnya dan sekali lagi bercermin, memastikan penampilannya lalu pergi menuju pintu luar Dorm. yoongi melewati Jimin yang sejak tadi tengah menatapnya dengan tajam. Yoongi mengambil sneakers hitam di rak sepatu yang ada disampingnya.
"mau kemana kau?"
Tanpa menoleh pun yoongi sudah tahu siapa yang bertanya. Suara yang terdengar begitu dingin dan mengintimidasi itu berhasil membuat Yoongi jantung Yoongi berdegup kencang.
Yoongi hanya terdiam dan kembali memakai sepatunya, kembali mengabaikan namja bermarga 'Park' itu.
"jawab aku, Min Yoongi!" ucap Jimin dengan penuh penekanan.
Bentakan Jimin yang terdengar begitu keras membuat member lainnya segera meninggalkan aktivitas mereka untuk melihat apa yang terjadi. suasana menjadi begitu tegang sehingga mereka mengurungkan niat untuk melerai Jimin dan Yoongi. Yoongi berbalik menatap Jimin dengan tajam. Dia tidak peduli jika member lainnya melihat pertengkaran mereka. "bukan urusanmu!" tukasnya lantang meskipun tangannya gemetar sekarang. Sungguh dia benar-benar takut melihat tatapan Jimin yang begitu tajam. Tatapan Jimin seakan sanggup mengulitinya perlahan. Yoongi berusaha menutupi ketakutannya dengan ekspresi marahnya.
Jimin berdecih sinis, "cih, kau hanya ingin bersenang-senang dengan pacar barumu itu!" tuduhnya kasar.
"SUDAH KUBILANG ITU BUKAN URUSANMU!" sahut Yoongi tidak terima.
"KAU SUDAH MENJADI JALANG MURAHAN DILUAR SANA, HAH?! KAU BENAR-BENAR MURAHAN MIN YOONGI! KAU BENAR-BENAR MURAHAN...!"
PLAKK! Yoongi menampar pipi Jimin dengan keras. tindakan Yoongi membuatnya tersadar. Jimin mengira Yoongi akan kembali melanjutkan perdebatan mereka, namun yang dilihatnya malah air mata yang menetes dari sudut mata Yoongi. jimin tersentak kaget. Dia tidak menyangka Yoongi akan menangis dihadapannya. oh tidak, lebih baik melihat yoongi marahdan memakinya habis-habisan daripada melihanya menangis.
"sebegitu rendahkah aku dimatamu, Jimin?" ucapnya dengan lemah. Nada suaranya bahkan terdengar nyaris seperti isakan sekarang.
Jimin merasa begitu keterlaluan. Entah kenapa melihat Yoongi menangis karena dirinya terasa begitu menusuk dan menyesakkan. "yoongi hyung..." jimin bermaksud membasuh air mata yang mengalir dipipi yoongi, namun namja manis itu segera menampik tangannya dengan keras.
Yoongi menyeka air matanya sendiri. tanpa mengatakan apapun dia segera membuka pintu dan berlari keluar. Dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari Park Jimin.
888
BRUKK! Taehyung melayangkan tinjunya tepat mengenai wajah Jimin. Namja berkulit Tan itu menarik kerah baju Jimin dengan erat, lalu sekali lagi melayangkan tinjunya ditempat yang sama. "KAU BENAR-BENAR BRENGSEK PARK JIMIN!" makinya kesal. Pemilik name stage 'V' itu tidak bisa mengontrol amarahnya lagi. "bisa-bisanya kau mengatakan hal sekasar itu pada Yoongi hyung, hah?!" Namja yang biasanya terlihat konyol dan selalu ceria itu terlihat begitu marah sekarang. Matanya yang tajam terlihat seperti elang, begitu menusuk dan berbahaya. Hoseok dan Jungkook mencengkram tangannya erat, mencegahnya untuk memukul Jimin untuk ketiga kalinya.
Jimin sama sekali tidak membalas perlakuan Taehyung padanya. Dia pantas menerimanya. Dia telah menyakiti perasaan Yoongi dengan kata-katanya yang tajam. Jimin tidak tahu sejak kapan sikap kasarnya ini muncul dan menggerogoti dirinya. jimin merasa begitu menyesal. Aku benar-benar bodoh! Rutuknya dalam hati.
"ADA APA DENGANMU, HAH?!" bentak sang leader. dia benar-benar murka sekarang. Seokjin berusaha menenangkan kemarahan kekasihnya itu dengan memeluknya erat. Jimin hanya terdiam saat dihakimi oleh sahabat-sahabatnya. Nampaknya Namjoon juga bernapsu untuk menghajarnya sekarang.
"mianhae, hyung. A-Aku benar-benar tidak sadar—"
"simpan ucapan maafmu itu pada Yoongi, Jimin. Dia yang paling merasa tersakiti karena ucapanmu yang kejam itu." ujar Seokjin.
Jimin mengangguk, "aku akan mencari Yoongi hyung dan meminta maaf." Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, Jimin segera pergi mencari Yoongi. namja itu berlari disekitar kompleks Dorm-nya, tidak peduli berpuluh-puluh pasang mata di jalan tengah menatapnya heran. Jimin berhenti begitu dia tidak sanggup berlari lagi. Hyung, dimana kau sekarang? pikirnya cemas. Jimin teringat kalau dia bisa mengecek keberadaan Yoongi melalui ponselnya. Jimin ingat dia pernah diam-diam menginstal aplikasi GPS di ponsel Yoongi yang langsung terhubung ke ponselnya. Jimin yakin namja itu membawa ponselnya karena Yoongi membawa tas ransel saat dia pergi tadi. jimin segera melacak keberadaan Yoongi. dia tersenyum lega begitu telah menemui lokasinya.
888
Mingyu benar-benar terkejut begitu melihat Yoongi yang berjalan lunglai kearahnya dengan mata yang sembab. Tanpa mengatakan apapun sunbae -nya itu duduk disampingnya. Mereka berdua tengah berada ditepi sungai Han yang tidak begitu ramai.
"mingyu-ah..." suara Yoongi terdengar serak dan lemah.
Mingyu segera menarik Yoongi ke dalam pelukannya. "gwaechana, hyung? apa yang terjadi padamu, huh?" Namja tampan itu menepuk pelan punggung Yoongi. yoongi merasa sedikit tenang. Mingyu memperlakukannya persis seperti Seokjin saat dia menangis tempo hari. Perlahan Yoongi mulai merasa tenang. Dalam hati dia bersyukur masih ada orang sebaik Mingyu dan Seokjin yang peduli padanya.
"katakan, apa yang terjadi padamu hyung? kau membuatku khawatir." Ucap Mingyu seraya membelai rambut Yoongi dengan lembut.
"Jimin... dia membenciku, Mingyu-ah... dia benar-benar membenciku..." jawab Yoongi diiringi dengan isakan yang kembali terdengar.
Mingyu bersyukur dengan posisi mereka yang tidak terlalu terekspos oleh publik sehingga dia dan Yoongi tidak perlu menyembunyikan identitasnya. Mingyu mengusap air mata yang mengalir di pipi Yoongi. "bagaimana bisa kau berpikiran begitu?"
"t-tadi... kami bertengkar dan... dia mengatakan kalau aku seorang yang jalang dan murahan..." tangisan Yoongi terdengar semakin keras. Dia masih mengingat semua kejadian yang sangat menyakitkan itu dengan jelas. Setiap ucapan Jimin tadi terus terngiang di otaknya berulang kali.
KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN, PARK JIMIN...! Mingyu merutuk nama orang yang menyebabkan Yoongi menangis. Mingyu bersumpah akan membuat namja bermarga Park itu merasa menyesal karena telah menyakiti perasaan Sunbae tersayangnya ini. mingyu masih memaki Jimin dalam hati. "hyung, kalau kau memintaku untuk menghajarnya, aku tidak akan segan-segan melakukannya untukmu."
"kau sudah menamparnya tadi."
"heol, daebak!" Mingyu menanggapinya dengan berlebihan. "setidaknya dia juga merasakan sakit dipipinya.
Yoongi tertawa begitu melihat reaksi Mingyu. Setiap bersamanya, Yoongi selalu merasa lebih baik.
"jangan bersedih lagi, hyung. kau sangat berarti untukku, hyung. kita memang dipertemukan dengan takdir yang aneh, tapi aku tahu tuhan punya maksud tertentu untuk mempertemukan kita berdua."
Yoongi menatap lekat-lekat namja yang kini tengah memeluknya itu dengan seksama, mencari maksud tersembunyi di setiap kalimat yang diucapkan olehnya. "maksudmu?"
Mingyu terlihat tidak yakin, "aku akan menceritakannya padamu lain kali." Putusnya.
"tidak. Ceritakan padaku sekarang. ini pasti tentang Wonwoo kan? karena itu kau buru-buru menelponku dan mengajakku bertemu?" tebaknya. Seringnya menghabiskan waktu dengan Mingyu membuat Yoongi sedikit bisa membaca pikiran dongsaeng-nya itu.
Mingyu mengangkat bahunya pasrah. Dia tidak akan bisa menghadapi Yoongi yang keras kepala. "baiklah... jadi sebenarnya kemarin aku mengikuti saranmu. Aku menyatakan perasaanku pada Wonwoo hyung."
"lalu, bagaimana jawabanya?" mendadak Yoongi merasa begitu tegang.
"dia menerimaku."
"APA?!" Yoongi berharap dia tidak salah dengar.
Mingyu sudah tidak bisa menahan senyumnya. "dia menerimaku, hyung. dia menerimaku." Katanya antusias. "dia bilang dia sudah menyukaiku sejak dulu dan dia menungguku pernyataan cintaku sejak lama."
Yoongi membelalakkan matanya. dia tidak menyangka sarannya bisa memperlancar hubungan sahabatnya ini dengan orang yang disukainya. "ASTAGA KIM MINGYU...!" serunya heboh. "astaga... aku benar-benar tidak menyangka kau berhasil mendapatkan Wonwoo. Jadi saranku berhasil? Astaga... aku masih tidak percaya..."
Mingyu terkekeh begitu melihat reaksi Yoongi. "hyung, kenapa kau seheboh itu?"
"aku tidak menyangka kau benar-benar akan melakukannya."
"ya. Itu karena aku bukan pengecut sepertimu hyung."
Yoongi mempout bibirnya dengan sengaja. "berhentilah menghinaku, bocah!"
Mingyu tertawa puas dan mencubit pipi Yoongi yang bulat. Sangat menggemaskan.
"kau berhasil mengubah sesuatu dalam kehidupanmu, Mingyu-ah. Selamat~! Aku turut senang kau berhasil mendapatkan orang yang cintai." Ucap Yoongi dengan tulus.
Mingyu kembali menarik Yoongi kedalam pelukannya. "gomawo, hyung. kau selalu mendukungku dan memberiku semangat, bahkan disaat kau sendiri sedang menderita. Aku sudah menganggapmu layaknya saudaraku sendiri. aku sangat senang kau selalu mendengarkan keluh kesahku selama ini. jujur saja, aku senang ada seseorang yang mengerti diriku sepertimu. Aku tidak tahu bagaimana jadinya nasib percintaanku kalau tidak ada kau. Kau benar-benar seperti peri cinta yangsengaja dikirimkan tuhan untukku, hyung."
Yoongi sangat terharu mendengar perkataan Mingyu. Ini pertama kalinya sejak dia dilahirkan, Yoongi merasa begitu dihargai. Yoongi kembali menangis, namun kali ini yang keluar dari matanya adala air mata bahagia. Mingyu melepaskan pelukannya, "ah, kau menangis lagi."
"ini air mata bahagia, ppabo!" protes Yoongi.
"hyung, kau orang yang baik. Kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu sendiri. kuharap kau akan menemui kebahagiaanmu seperti aku, hyung. semoga kau akan menemui kebahagiaan di setiap jalan yang kau ambil."
Yoongi tersenyum, "gomawo. Kau benar-benar membuatku merasa berharga, Mingyu-ah." Balasnya. "ngomong-ngomong, kalau ada paparazzi yang mengikuti kita dan menyebarkan foto kita saat berpelukan seperti tadi, kira-kira apa yang akan Wonwoo katakan?"
"tenang saja, hyung. aku sudah menceritakan semua tentangmu pada Wonwoo. Dan kau tahu? Dia bilang, dia sangat berterima kasih padamu karena telah menyadarkanku! Dia bilang aku benar-benar bodoh karena tidak menyadari kalau dia juga menyukaiku. Benar-benar kejam, kan?"
"Dia benar. kau memang bodoh! Lagipula, mana mungkin Wonwoo tidak segera memberikan pada Jun kalau dia tidak ragu dengan perasaannya sendiri?" mendadak Yoongi jadi teringat sesuatu, "oh ya. Bagaimana dengan Jun?"
"wonwoo sudah menolaknya. Aku lega Junhui tidak memaksakan keinginannya. kupikir selama ini aku sudah salah paham padanya..."
Yoongi benar-benar terkesima, "kau semakin dewasa, Mingyu-ah... aku jadi merasa bangga padamu."
Mingyu hanya menanggapi ucapan Yoongi dengan senyuman manisnya. "wonwoo hyung juga ingin menemuimu. Kapan-kapan akan kuperkenalkan kau padanya secara langsung. Dia sangat ingin belajar rap darimu."
Yoongi menjitak kepala Mingu dengan tangannya. "Yaa~! Kau benar-benar harus membayarku mahal, Kim Mingyu!"
888
Jimin menatap kedua namja yang tengah tertawa lepas itu dengan kesal. Jimin berhasil menemukan keberadaan Yoongi sejak tadi, namun niatnya untuk meminta maaf ia urungkan begitu melihat seseorang tengah memeluk Yoongi dengan erat. Jimin mengenal namja bertubuh tinggi itu. Kim Mingyu, salah satu member boyband Rookie Seventeen yang sedang naik daun. Kini jimin menatap kedua namja yang tengah mengobrol akrab itu dari jauh, memperhatikan setiap gerakan dari keduanya. Yoongi tidak lagi menangis, namja manis itu malah terlihat antusias dan sesekali memamerkan senyumnya yang manis. Yoongi menyandarkan kepalanya di bahu Mingyu, membuat Jimin terbakar karena melihat keakraban diantara mereka berdua. Yoongi hyung memiliki kekasih yang lebih muda... ucapan Hoseok kembali terngiang di otaknya. Jimin menggeretakkan giginya, ternyata dia pacar Yoongi hyung? dia bahkan lebih muda dariku! protesnya iri. Jimin tidak suka melihat senyuman Yoongi yang ditujukan kepada namja itu. dia tidak suka melihat Mingyu menyentuh Yoongi-nya. Ingin saja Jimin menarik tangan Yoongi dan menyeretnya pulang sekarang juga. Memangnya dia pikir, dia siapa? Berhenti menyentuh yoongi sialan! Jimin mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan amarah yang berkobar di dalam dirinya. dia ingin memukul wajah tampan Mingyu yang terlihat begitu memuakkan dimatanya—dia sangat ingin melakukannya. Tidak. kau hanya akan memperburuk keadaan, Park Jimin! Ucap Jimin pada dirinya sendiri. dia tidak mau menyakiti Yoongi lagi. Jimin berbalik, memutuskan untuk kembali. Dia tau ada yang salah pada dirinya, tapi dia tidak tahu penyebabnya. dia merasakan kekosongan dalam dirinya. Dia memegang dadanya perlahan, terasa begitu hampa dan menyesakkan. Apa yang terjadi padaku?
~chapter 4 end~
1) Imma: brengsek/ punk
2) Uljima: berhentilah
3) Jaljayo: bye
