ME, YOU, AND OUR DULLNESS

Pairing: Min Yoongi x Park Jimin (MinYoon) Slight!: Namjin, Vkook, J-hope alone

Cast: BTS (Main Cast), Seventeen, EXO (Other Cast)

Rated: T/M (buat jaga-jaga)

Warning: BL, Typo, OOC (?)

~chapter 7~

Yoongi memuka matanya. Perlahan cahaya menyusup dari sela-sela matanya. pipinya memerah begitu melihat Jimin yang terlelap disampingnya dan tengah memeluknya erat. Yoongi tersenyum senang meskipun seluruh tubuhnya terasa sakit. Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi semalam. Rasanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Yoongi berusaha melepaskan tangan Jimin yang yang tengah memeluk pinggangnya erat. Dia menyerah saat jimin semakin mengetatkan pelukannya. Yoongi menatap wajah Jimin yang sempurna. tanpa sadar tangannya membelai wajah tampan itu dengan lembut. Jimin membuka matanya, membut Yoongi segera menyingkirkan tangannya.

"hyung..." suara Jimin terdengar berat dan sexy.

Yoongi segera menjauhkan tubuhnya dari Jimin. "ka-kau sudah bangun?" dalam hati namja itu merutuk ucapannya yang terdengar bodoh.

Jimin menyandarkan tubuhnya pada ranjang. Namja bersurai hitam itu mengacak rambutnya dengan kasar, seraya mengumpulkan kesadarannya. kepalanya terasa pening karena efek alkohol. Mata tajamnya terbelalak begitu mengingat apa yang terjadi semalam. Jimin mengguncang bahu kurus Yoongi dengan keras. "katakan, apa yang sudah kulakukan padamu, hyung?!" Serunya.

Yoongi tersentak mendengar ucapan Jimin. dia tidak menyangka Jimin akan seterkejut ini. apa dia lupa? Pikirnya bingung. "ke-kemarin... kita—" dia tidak tahu harus berkata apa.

Tanpa perlu mendengar penjelasan Yoongi, Jimin sudah tahu apa yang terjadi. kissmark yang memenuhi leher Yoongi, tubuh mereka berdua yang telanjang, bahkan cairan sperma yang mengering masih tersisa di sela-sela pantat Yoongi. "Fuck...!"rutuknya kesal. Jimin mengusap wajahnya dengan kasar. Seharusnya dia tidak mabuk semalam. Seharusnya ini tidak pernah terjadi. "kenapa kau membiarkanku melakukannya, hyung?!" bentaknya kasar.

Yoongi terdiam. Dia tidak menyangka Jimin akan semurka ini. bukankah kemarin dia yang memaksanya? "kenapa kau marah, Jimin-ah?" yoongi tidak mengerti. Dia benar-benar tidak mengerti.

"apa aku memperkosamu?" tanyanya dengan nada serius.

Yoongi menggeleng. Jimin memang memaksanya, namun dengan mudahnya Yoongi terjatuh dalam pesona 'sang dominan'.

"ini semua adalah kesalahan."

Ucapan Jimin terasa begitu menusuk. Kesalahan?ini semua adalah kesalahan? Pikirnya tidak mengerti.

"seharusnya ini tidak terjadi. aku mencintai Jungkook, hyung. aku mencintainya."

Yoongi benar-benar merasa jatuh sekarang. Dia merasa begitu bodoh telah menganggap kalau Jimin juga mencintainya. Yoongi tersenyum getir. Kau benar-benar bodoh, Min Yoongi!

"kukira... kau sudah membuka hatimu untukku..." ucapnya lirih, nyaris tidak terdengar. Yoongi menundukkan wajahnya. Hatinya hancur berkeping-keping.

Jimin tidak tahu harus mengatakan apa. Sejenak dia merasakan nyeri didadanya saat melihat air mata yang mengalir dipipi Yoongi. Jimin hanya terdiam ketika yoongi sudah mengenakan bajunya dengan tergesa-gesa. "hyung, aku—" ujarnya begitu Yoongi sudah berada di ambang pintu.

Yoongi menoleh. Tubuhnya bergetar. Tangannya menghapus air mata yang masih mengalir.

"ini bukan salahmu, Jimin." aku yang terlalu bodoh karena menganggap kau mulai mencintaiku.batinnya sebelum benar-benar meninggalkan Jimin dengan hati yang hancur.


Taehyung mengamati suasana di studio yang tampak begitu tegang, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Namja 'alien' itu menatap miris pada yoongi yang tengah bersandar pada tembok sambil memeluk kakinya. Sejak tadi Yoongi tidak mengucapkan apapun pada memerlainnya. Akhir-akhir ini namja manis itu hampir tidak pernah kembali ke Dorm. Yoongi lebih memilihuntuk menginap di studio atau tidur di ruang staff. Taehyung benar-benar khawatir. Semakin lama tubuh Yoongi semakin terlihat kurus. Kulitnya semakin pucat, nyaris seperti mayat hidup. Matanya yang dulu berbinar kini terlihat begitu redup. Taehyung tahu kalau Yoongi sering melewatkan waktu makannya dan sering melamun seakan banyak beban berat dipikirannya. Bahkan Jin sudah menyerah untuk memaksanya makan. Taehyung mengalihkan tatapannya kepada Jimin dengan tajam. Entah kenapa dia merasa semua ini ada hubungannya dengan namja bersurai hitam itu. Taehyung menghela napas panjang, mencoba menahan dirinya untuk tidak ikut campur. Bagaimanapun itu adalah urusan mereka berdua.

Taehyung tersadar dari lamunannya begitu seseorang menepuk bahunya. Dia terlalu fokus sehingga tidak menyadari seseorang telah duduk disampingnya.

"aku tahu apa yang kau pikirkan, hyung." tukas sang 'Golden Maknae'.

"hanya orang bodoh yang tidak menyadarinya, Kookie." Desisnya kesal.

Keduanya terdiam sejenak, terlarut dalam pikiran masing-masing.

"kemarin saat perayaan comeback kita, Jimin hyung mengatakan kalau dia menyukaiku."

Ucapan Jungkook membuatnya terkejut, bahkan tidak sanggup berkata-kata. "lalu?" sahutnya setelah terpaku selama beberapa saat.

"aku menolaknya."

Taehyung mengerjapkan matanya, lalu berdecak kesal. "cih, si bodoh itu. kapan dia akan menyadari perasaannya? Dasar tidak peka." Taehyung mempout-kan bibirnya, yang terlihat begitu menggemaskan di mata Jungkook. jungkook tersenyum getir. Kau juga tidak peka, hyung. kau tidak menyadari perasaanku.

"kenapa kau menolak Jimin, Kookie?"

Jungkook terkekeh, tidak menduga namja berkulit Tan itu akan menanyakan hal ini padanya. "mana mungkin aku berpacaran dengan sesama Seme, kan?" guraunya.

"kau Seme? Yang benar saja! kau?!" seru Taehyung tidak percaya. Dia mengamati Jungkook dengan seksama. Dengan bodohnya namja itu merutuki dirinya sendiri karena tdak menyadari perubahan sang Maknae. Selama ini dia menganggap Jungkook adik kecilnya yang manis dan innocent dan akan selamanya begitu. Sekarang namja dihadapannya ini terlihat begitu manly. Tubuhnya begitu kekar dan wajahnya yang tampan kini terlihat sangat jantan. Taehyung yakin dibalik T-shirt putih yang dikenakan Jungkook ada perut yang sixpack seperti yang selalu Jimin pamerkan diatas panggung. Tinggi namja yang dua tahun lebih muda itu kini telah melampauinya. Sejak kapan dia berubah?

"tidak perlu terkejut begitu, hyung." tukas Jungkook. ternyata Taehyung benar-benar tidak menyadarinya.

Taehyung menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya saat sedang berpikir. Namja itu menghela napasnya. "lebih baik kita membujuk Yoongi-hyung untuk makan. Aku benar-benar khawatir dengannya."

Jungkook tersenyum setuju, lalu menarik tangan taehyung—membantunya untuk berdiri. "ayo hyung."

Kedua namja itu mendekati Yoongi yang tengah melamun.

"yoongi hyung, ayo kita makan...!" ajak Taehyung dengan semangat.

Yoongi hanya melirik kedua namja itu dengan tatapan kosong. "aku tidak lapar, Taehyung-ah."

"ayolah, hyung. Kau kan sering mentraktirku sekarang biarkan aku mentraktirmu." Ujar Jungkook.

"sudah kubilang aku tidak lapar. Kalian pergilah sendiri." Yoongi segera mengemasi barangnya agar dapat menghindari kedua dongsaeng-nya itu. baru saja akan berdiri, mendadak Yoongi merasakan sakit yang teramat sangat pada kepalanya. Pandangannya kabur. Kesadarannya mulai menghilang. Tubuh ringkih itu jatuh menghantam lantai studio.

"YOONGI HYUNG!"


Yoongi membuka matanya perlahan. Sejenak pandangannya buram. Begitu terfokus, namja itu tersadar sedang berada ditempat asing dan bukan dikamarnya sendiri. aroma steril tercium tajam. Yang ada hanyalah ruangan serba putih. Yoongi yakin dia sedang berada di rumah sakit sekarang.

"hyung, gwaechana?" tanpa melirik pun Yoongi tahu itu suara Taehyung. yoongi bergerak, bermaksud menyandarkan tubuhnya pada ranjang.

"hati-hati, hyung. aigoo~" Taehyung membantu namja manis itu.

Yoongi memegangi pelipisnya. Kepalanya masih pusing. "ada apa denganku?"

"kau pingsan di Studio. Kata dokter kau kekurangan nutrisi karena sering melewatkan makan." Jelas Seokjin.

Yoongi melihat sekelilingnya. Tidak ada Jimin. tentu saja dia tidak ada. "mana yang lainnya?"

"Namjoon sedang mengurus administrasi dengan Sejin-hyung. Hoseok sedang membeli makanan. Jimin dan Jungkook sudah pulang."

"hari ini Jin hyung dan aku yang akan menjagamu." Tambah 'sang alien' dengan nada ceria.

Yoongi mengangguk lemah—nyaris tidak ada tenaga. Lagi-lagi aku merepotkan yang lain... Pikirnya.

"katakan padaku, apa kau ada masalah?" tukas Seokjin tanpa basa-basi.

"tidak ada."

Bohong. Seokjin tahu namja dihadapannya itu sedang berbohong. Hanya saja yang membuatnya kesal, kenapa Yoongi tidak mau menceritakan masalahnya?

"ayolah, hyung. kau bisa cerita pada kami." Taehyung berusaha membujuk hyung-nya yang sama-sama berasal dari Daegu itu.

"aku bilang aku tidak apa-apa, Taehyung-ah!"

Taehyung dan Seokjin hanya bisa menghela napas panjang. Tidak ada yang bisa mengalahkan Yoongi. namja itu benar-benar keras kepala.

KRIETT~ Hoseok memuka pintu sambil menenteng dua plastik besar ditangannya yang berisi bermacam-macam makanan. "Ah, Yoongi hyung sudah sadar?" ujarnya seraya menaruh plastik besar itu di meja. "aku membawakanmu makanan, hyung." serunya. Hoseok segera membuka kotak makan yang dibawanya. "kata dokter kau boleh makan-makanan dari luar, Jadi aku membelikanmu Jeonbokjuk1." Jelasnya panjang lebar.

Seokjin menuangkan air kegelas. "baiklah. Sebaiknya kau makan dulu, lalu minum obat." Katanya.

Yoongi tidak menjawab. Pemuda itu melahap sesendok makanan yang disuapka oleh Taehyung.

"enak, hyung?"

Yoongi mengangguk. Harus diakui makanan itu memang lezat. Yoongi tidak bisa mengingat rasa makanan lain. kapan terakhir kali aku makan? Batinnya mengingat-ingat.

"baiklah. Aku balik ke dorm dulu. Cepat sembuh, Hyung!" Hoseok melambaikan tangan sebelum keluar dari ruangan.


Jimin menatap namja berambut Light Blonde yang tengah terlelap di ranjang rumah sakit dari balik jendela. Ini sudah hari kedua Yoongi berada di rumah sakit, namun belum pernah sekalipun Jimin menjenguknya. Bukannya Jimin tidak khawatir, hanya saja Jimin tidak sanggup menemuinya. Jimin mengacak rambutnya dengan kasar. Namja tampan itu benar-benar frustasi sekarang. Rasa bersalah terus menghantuinya. Kau bodoh, Park Jimin!

"kau disini rupanya."

Jimin menoleh, dilihatnya Taehyung yang tengah melipat kedua tangannya sambil bersandar pada dinding.

Taehyung melirik pada jendela disamping Jimin, "kukira kau tidak peduli pada Yoongi hyung."

Namja berambut hitam tersentak, "apa maksudmu?!"

Taehyung terkekeh, "kau." namja itu sengaja menunjuknya. "pengecut."

Jimin tersulut dengan ucapan Taehyung. dia menarik kerah baju Taehyung dengan kasar dan medorong tubuhnya ke dinding. "ATAS DASAR APA KAU MENYEBUTKU PENGECUT, HAH?!"

"kau memang pengecut! Kau bahkan tidak bisa mengahadapi masalahmu dengan Yoongi hyung. kau terus menghindarinya!" Jelasnya.

Jimin menggeram kesal. "Kau. Tidak. Tahu. Apapun." Tegasnya.

Taehyung mendorong tubuh Jimin dengan kasar—melepaskan cengkraman tangan Jimin di bajunya. "YA, KAU BENAR! AKU TIDAK TAHU APA-APA...! MESKIPUN BEGITU AKU TIDAK BUTA, PARK JIMIN! AKU TAHU KAU PENYEBAB SEMUA INI!" Taehyung sudah berada diambang batasnya. Sungguh dia ingin memukul namja dihadapannya ini dengan keras hingga dia sadar akan perbuatannya.

"yakkk... Kim Taehyung! Park Jimin! apa yang kalian kalian lakukan, hah?! Hentikan!" Namjoon dan Seokjin yang baru saja mengurus administrasi segera melerai kedua Dongsaeng-nya yang bertengkar.

"Cih!" Desis Taehyung kesal.

"APA KALIAN SUDAH GILA, HAH?!" Bentak sang 'Leader'.

"Namjoon, tenanglah." Seokjin berusaha meredakan amarah kekasihnya. "dan kalian berdua, kalau kalian ingin bertengkar, kembalilah ke Dorm! Ini rumah sakit, bagaimana kalau publik melihat hal ini, hah?! Bagaimanapun kalian adalah publik figur!"

"katakan itu pada si brengsek ini."

"KAU—"

"annyeonghaseyo."

Jimin menghentikan ucapannya begitu seorang namja tinggi berdiri dihadapan mereka. Jimin menatap namja berkulit Tan itu dengan tajam. Kenapa dia ada disini?! batinnya kesal.

"ah... Kim Mingyu? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Seokjin dengan ramah.

"aku ingin menjenguk Yoongi hyung, Sunbae. Kudengar dia sedang sakit." Jawabnya. Mingyu tersenyum lebar, memamerkan gigi taringnya yang menggoda, membuat seokjin terkesima dengan senyumnya yang mempesona.

"ehem!" Namjoon sengaja berdehem, mengisyaratkan agar kekasihnya tidak bersikap terlalu berlebihan pada Dongsaeng-nya itu.

Seokjin mencubit lengan Namjoon dan tersenyum puas karena berhasil membuat kekasihnya cemburu.

"dia sedang tidur, tidak bisa diganggu!" jawab Jimin ketus.

Mingyu menatap Jimin dengan tajam, membuat Jimin merasa kalau namja yang dua tahun lebih muda itu tengah menantangnya. Sungguh Jimin ingin menghajar namja dihadapannya itu, paling tidak membuat wajah tampannya lebam.

Seokjin menyikut perut Jimin, "apa-apaan kau, Jim? Dia sudah datang kesini. Kau masuklah ke ruangan itu, Mingyu-ah! Yoongi sudah bangun, dia sedang menonton TV sekarang. Dan panggil aku hyung. rasanya aneh mendengarmu memanggil kami Sunbae. Kau juga boleh berbicara banmal pada kami."

"baiklah hyung. Gomawo." Mingyu tersenyum lagi sebelum memasuki ruangan Yoongi.

"hyung, kau sudah gila, eoh?! Kenapa aku membiarkan orang asing itu menemui Yoongi hyung?!" protes Jimin.

"astaga, dia bukan orang asing. Dia itu sahabat Yoongi. apa salahnya kalau Mingyu menjenguknya?"

"ya, kenapa kau marah Park Jimin?" sahut Taehyung, sengaja memancing sahabatnya itu.

Seokjin tidak henti-hentinya menatap Mingyu dari jendela. Namja tampan itu tengah mengobrol dengan Yoongi. "hah~ dia benar-benar tampan..." ujarnya mengagumi ketampanan member Seventeen itu.

"Jin Seok! Kau bahkan tidak pernah memujiku tampan dan sekarang dengan mudahnya kau mengatakan namja itu tampan, hah?! dia bahkan lebih muda lima tahun darimu!" Protes Namjoon yang cemburu.

"tapi memang kenyataannya kau tidak tampan, Namjoon. Aku sendiri heran kenapa aku bisa suka padamu." Jawab Seokjin jujur.

"yaak~! Jin Seok!"

Jimin tidak memperdulikan kedua pasangan yang tengah berdebat itu. tatapannya terfokus pada kedua namja didalam sana yang tengah berpelukan. Yoongi tersenyum dalam pelukan Mingyu. Jimin menatap mereka dengan muram. Kau bahkan tersenyum karena kehadirannya, hyung. sedangkan setiap kali aku ada dihadapanmu, kau selalu terlihat sedih. Apa aku tidak bisa melihat senyumanmu yang kau tujukan untukku lagi, hyung?

Taehyung mengikuti arah pandang Jimin, lalu tersenyum sinis. Sekarang kau merasa menyesal kan, Park Jimin?cepatlah sadar sebelum semuanya terlambat.


Mingyu menatap prihatin pada namja yang ada dihadapannya ini. Yoongi terlihat smakin pucat dan kurus. Kalau saja dia tidak bergerak, Mingyu pasti mengira kalau hyung nya itu sudah mati. begitu melihatnya, Yoongi langsung memeluknya. Mingyu merasa itu pertanda buruk. Pasti terjadi sesuatu padanya. "bagaimana keadaanmu, hyung? astaga, kau kurus sekali!"

Yoongi hanya mengangguk lemah.

"tadi aku melihat Park Jimin didepan."

Yoongi terlihat terkejut. "dia disini?"

Mingyu mengerutkan dahinya, "kau tidak tahu?"

"dia tidak pernah menjengukku." Tukasnya.

"heol... sebenarnya apa yang terjadi padamu, hyung?"

Tangan kurusnya bergetar, membuat Mingyu semakin khawatir. "kami... kami melakukannya, Mingyu."

Melakukannya? Perlu beberapa detik bagi Mingyu untuk memahami maksudnya. Mingyu terkejut, sangat tidak percaya apa yang didengarnya. "ma-maksudnya kalian benar-benar melakukannya, hyung?!" ujarnya tidak percaya.

"saat itu dia mabuk dan... dan kami..."

"dia memperkosamu?!" serunya semakin heboh.

Yoongi menggeleng. "aku kira dia juga mencintaiku, Mingyu. Aku kira dia juga menginginkanku. Tapi setelah itu dia bilang dia masih mencintai Jungkook dan mengatakan ini semua adalah kesalahan."

Sungguh, Mingyu ingin menghajar namja brengsek itu. Bajingan, apa yang sudah kau perbuat pada Yoongi hyung, hah?! rutuknya dalam hati.

"aku benar-benar merasa bodoh, Mingyu-ah. Seharusnya aku tahu kalau dia tidak mungkin mencintaiku. Dengan bodohnya aku menganggap dia sudah melupakan Jungkook dan mulai membuka hatinya untukku." Namja manis itu mulai menangis. Air mata terus mengalir dari mata indahnya.

Mingyu kembali memeluk Yoongi, membiarkan namja itu menangis sepuasnya. Mingyu membelai rambut Light Blonde itu dengan lembut—mencoba menenangkan Yoongi.

"aku tidak sanggup lagi..." Yoongi kembali berbicara, "kurasa... kurasa aku memang harus menyerah."

Mingyu ingin menanyakan maksud ucapan Yoongi, namun rupanya namja manis itu sudah terlelap dalam pelukannya. Mingyu membenarkan posisi tidur Yoongi di ranjang. Sepertinya dia lelah karena menangis tadi,batinnya. Mingyu membelai pipi Yoongi dengan lembut. Kau tidak pantas merasakan hal ini, hyung... aku akan terus mendukungmu.


Taehyung menatap prihatin pada namja berkulit pucat yang tengah terdiam diatas sofa. Yoongi sudah keluar dari rumah sakit sejak beberapa minggu yang lalu, namun keadaannya masih sama seperti sebelumnya—bahkan jauh lebih parah. Beberapa kali dia pingsan, menolak makan dan menyendiri. Beberapa kali Yoongi berteriak dalam tidurnya, seakan-akan mengalami mimpi buruk yang mengerikan. Taehyung berjalan memasuki kamar Jungkook—kamar yang dia tempati sejak bertengkar dengan Jimin sejak beberapa hari yang lalu.

"ini benar-benar mengerikan." gumam Jungkook yang memang berada dikamarnya.

Taehyung mengacak rambutnya dengan frustasi. "ahh...! aku tidak tahu harus bagaimana lagi...!"

Jungkook menatap tajam namja yang dicintainya itu. dia sudah tidak sanggup menahannya lagi. Jungkook menarik tangan Taehyung, membuat namja pemilik 4D Charisma itu mendekat padanya.

"Ju-jungkook...?" mendadak Taehyung merasa gugup. Kenapa dia menatapku seperti itu? batinnya bertanya-tanya.

"hyung." bisik Jungkook tepat ditelinganya, membuat Taehyung semakin terkejut. "kau tahukenapa aku menolak Jimin hyung?"

Taehyung menelan ludahnya. Namja itu mendorong tubuh Sang maknae agar menjauh darinya, namun Jungkook sudah merangkul pinggang Taehyung, membuat namja itu tidak bisa kabur. "yaa~! Lepaskan aku, Kookie..." Protesnya.

Jungkook tidak memperdulikan "aku menolaknya karena aku menyukaimu, hyung."

Taehyung menunjuk dirinya sendiri. "A-AKU?" Tukasnya tidak percaya. Sejenak mereka berdua terdiam. "sejak kapan?"

Jungkook meghela napas panjang, "entahlah. Aku tidak mengingatnya. Terlalu lama sampai aku tidak mengingatnya, hyung."

"lalu kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"

"aku takut kau akan menolakku." Jawabnya jujur. "tapi aku bisa gila kalau tidak mengatakannya padamu." Jungkook menggenggam erat tangan Taehyung, menyelipkan jari-jarinya diantara jari namja yang dicintainya itu. "aku ingin mendengar jawabanmu sekarang." Tegasnya.

Taehyung menggigit bibirnya. Dia benar-benar bingung sekarang. Tidak pernah terpikir olehnya kalau maknae yang lebih muda dua tahun darinya itu menyukainya sejak lama. "kalau aku menolakmu... apa yang akan kau lakukan?" tanyanya dengan nada yang polos.

"aku tidak akan mengejarmu lagi. Aku akan meninggalkanmu."

Taehyung terkejut dengan jawaban 'sang maknae'. "kenapa? Apa kau juga ingin menghentikan persahabatan kita?" ujarnya sedih. Matanya berkaca-kaca.

"kalau kau menolakku, aku tidak akan sanggup melihatmu, hyung. meskipun aku memaksakan untuk membali seperti semula, semuanya tidak akan sama. Aku sudah memilih untuk menyatakan perasaanku, itu artinya aku harus siap dengan penolakanmu. Aku tidak bisa kembali lagi ke tempat yang sama, Hyung. aku harus pergi." Jelasnya.

"Jangan pergi! Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku...!" Seru Taehyung spontan. Namja itu terlihat panik.

Jungkook tercengang dengan apa yang didengarnya. "jadi... kau menerimaku, hyung? apa kau juga menyukaiku?"

"aku... aku tidak tahu." Jawabnya ragu. "tapi aku tidak mau kau pergi. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau tidak ada disisiku. Aku membutuhkanmu, Kookie. aku mau menjadi kekasihmu asal kau meninggalkanku sendiri."

Jungkook menggeram dengan suara rendah, "aku tidak mau kau menerimaku karena terpaksa, hyung."

Taehyung kembali menggigit bibirnya, "tapi ini semua terlalu tiba-tiba. Aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri."

Keduanya terdiam, saling terlarut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Jungkook mendorong tubuh yang lebih kecil dari miliknya itu hingga terjerembab di ranjang. Namja itu mengurung tubuh yang berada dibawahnya dengan tubuhnya sendiri. taehyung tidak melawan. Keduanya saling menatap satu sama lain. Jungkook mengangkat dagu taehyung. "izinkan aku membuktikannya, hyung." ucapnya dengan tegas.

Taehyung mengangguk, "lakukan apapun yang kau mau."

Tanpa ragu Jungkook langsung melumat bibir ranum itu dengan lembut. Taehyung masih terdiam, membiarkan 'sang dominan' melakukan bagiannya. Otaknya terlalu lambat untuk bereaksi. Ini pertama kalinya seseorang menciumnya, tentu saja dia tidak berpengalaman dalam hal ini. ketika lidah Jungkook memasuki mulutnya, barulah Taehyung membalas ciuman itu. lidahnya saling bertautan dengan lidah Jungkook. cairan saliva terus mengalir dari bibirnya. Jungkook menghentikan kecupan mereka begitu Taehyung nyaris kehabisan napas. Namja itu melepas sweater dan celana yang dikenakan Taehyung tubuh namja itu polos, lalu melepas pakaiannya sendiri. taehyung menutup wajahnya dengan kedua tangannya begitu melihat tubuh telanjang Jungkook. Dia tidak menyangka Jungkook mempunyai tubuh berotot yang seksi. Sejak kapan dia jadi sekeren ini? batinnya menerka-nerka.

"jangan tutup matamu, hyung. lihat aku."

"uh~ tapi ini memalukan Kookie..."

Jungkook tersenyum mendengar jawaban Taehyung yang polos. Kau sangat manis, hyung... manis dan polos.

"kau tidak perlu malu, hyung... lepaskan tanganmu, sayang." Jungkook mengecup pipi Taehyung, lalu beralih pada perpotongan lehernya.

"eughhh~" desahan Taehyung semakin menggairahkan.

Jungkook terus menciptakan tanda kepemilikan di leher indah itu. taehyung benar-benar merasakan sensasi aneh yang belum pernah dirasakan olehnya. "enggmm... ahhh...! Kookie~ " taehyung tidak sanggup menahan desahannya.

"kau sangat indah, hyung. you're my angel." Jungkook terus mengagumi keidahan malaikat yang ada dibawahnya saat ini.

"nyaah~" Taehyung kembali mendesah begitu Jungkook menggigit nipple-nya dengan lembut. Jungkook mencubit nipple kiri Taehyung, membuat benda bewarna pink itu semakin menegang. Aroma Aquatic yang menguar dari tubuh Jungkook semakin membuat Taehyung bergairah. Setelah puas bermain dengan kedua nipple Taehyung, Jungkook menyentuh penis Taehyung yang sudah tegak dan terus mengeluarkan precum. Jungkook mengocoknya dengan cepat, membuat tubuh kurus Taehyung melengkung.

"ANGGHNNN~! Kookk... nggh... annhhh...!" taehyung meremas surai Dark Brown Jungkook. dengan jemarinya.

Jungkook tersenyum puas begitu melihat reaksi namja kelahiran Daegu itu. tanpa ragu namja itu langsung memasukkan penis Taehyung ke mulutnya dan mulai menjilat dan mengulumnya secara bergantian .

"Jung...ahhh! hnnghh.~" taehyung semakin menggila.

Sang 'Golden Maknae' terus menggoda penis taehyung, sesekali menggigit ujungnya dengan lembut dan menjilat lubang kecil dipuncak Junior Taehyung dengan lidahnya.

"kook... henti-ahhh...! ber...henti...AHHH!" Taehyung berusaha mendoong tubuh yang lebih muda. "AHHNNN~! Se-sesuatuhh... akan keluar~!" desahnya.

Jungkook tahu Taehyung akan mencapai puncaknya. Namja itu mempercepat gerakan mulutnya.

"AHHH! Kook...HNNGHH... AHHNN... ANNGHH...!" Taehyung menyemburkan spermanya dimulut Jungkook yang menelannya tanpa sisa. Napas namja itu tak beraturan... rasa nikmat itu menguras tenaganya.

Jungkook mengusap s isa cairan Taehyung yang menetes dibibirnya dengan tangannya. "kau benar-benar manis, hyung..." gumamnya dengan suara berat.

Bahkan hanya mendengar suara Jungkook saja memuat gairah Taehyung bangkit dalam sekejap. Jungkook menghapus peluh di dahi namja yang dicintainya itu. "lebih baik kita berhenti disini saja hyung." ujarnya.

Taehyung mengerjapkan matanya tidak mengerti. "kenapa?" tanyanya sedikit kecewa.

"aku tidak mau melakukannya kalau kau belum memutuskan."

"aku menerimamu, Kookie." jawabnya.

Jungkook mercengang, nyaris tidak percaya. "ka-kau yakin, hyung?" ucapnya memastikan.

Taehyung mengangguk mantap, "aku yakin kau akan membahagiakanku dan tidak akan mengecewakanku." Taehyung manis itu memeluk namja dihadapannya itu dengan erat.

"Jadi kumohon... jangan berhenti mengejarku, Kookie. teruslah bersamaku."

Jungkook tersenyum senang. Namja itu kembali mengecup perpotongan leher eksotis itu. "kau tidak akan menyesal, hyung." bisiknya tepat ditelinga Taehyung.

Jungkook memasukkan ketiga jarinya ke mulutnya sendiri, melumuri jari-jari panjang itu dengan saliva-nya. Jungkook melebarkan kedua kaki submissive-nya.

"eunghhh~" Taehyung kembali mengerang nikmat begitu Jungkook meraba lubang berkerutnya dengan jari tangannya. "Kookie~ ANGHHH...!" Jeritnya saat Jungkook memasukkan dua jari sekaligus kedalam lubangnya. "uhh... Appo... hiks..." Taehyung mulai menangis. Jungkook mulai mengaduk lubang sempit itu dengan jarinya yang panjang.

"anhh! nnnhhh... nyaah~"tanpa sadar Taehyung juga menggerakkan tubuhnya, membuat jari Jungkook semakin tertanan didalam lubangnya. "AHHH...!"

Jungkook kembali memasukkan satu jari lagi, membuat tubuh yang lebih tua tersentak. Lubangnya terasa begitu penuh dan Juniornya kembali ereksi dan mulai meneteskan precum.

Begitu dirasa cukup, Jungkook mengeluarkan jarinya dari lubang Taehyung, lalu ganti memposisikan penis besarnya yang tegak tepat didepan lubang itu. "Siapkan dirimu, ini akan sakit."

Taehyung mengangguk lemah tanpa begitu memperdulikan peringatan Jungkook. tubuhnya perlu dipuaskan sekarang. "ANGGHHH! Appo...!" Taehyung kemali menjerit saat merasakan lubangnya dimasuki oleh penis Jungkook yang besar. Rasanya sangat penuh dan sesak. Luang Virgin-nya dipaksa membuka lebar.

"ssshhh... sempit sekali..." Gumam 'sang maknae' saat rektum Taehyung mengetat. Terpaksa namja itu mendorong penisnya hingga masuk seluruhnya.

"AHHH~!" Seru Taehyung spontan karena gerakan Jungkook yang tiba-tiba. Rasa sakit dan nikmat bercampur jadi satu saat penis Jungkook berhasil menekan prostatnya.

Jungkook mulai menyodok lubang sempit itu dengan gerakan cepat. Tangannya memompa penis Taehyungdengan cekatan.

"Aakhh! Ahhhn-oohhhh...!" taehyung mendesah frustasi pasrah merasaka kenikmatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Air matanya terus menetes disetiap sodokannya karena rasa nikmat tak terkira.

"you're so tight, hyung..." ucapan Jungkook terdengar begitu sexy. Jungkook terus menghujam lubang itu.

"Kookie... disituhh... ahh... aku mau keluarhhh...!"

"hnn... aku juga hyung...hnnn! lubangmu meremas milikku..." racaunya saat lubang Taehyung semakin mengetat.

Taehyung meremas rambut Jungkook dengan kasar. Jungkook semakin mempercepat gerakannya saat Taehyung sudah hampir mencapai batasnya.

"ANGHHH...! Kookie~NNGHHH...!" Taehyung menyemburkan spermanya hingga mengotori tubuhnya dan tangan Jungkook.

"fuck,hyung...!" seru 'sang dominan' saat menyemprotkan cairan spermanya yang banyak didalam tubuh Taehyung.

Cairan sperma mengalir di paha dalam Taehyung saat Jungkook mengeluarkan miliknya dari lubangnya. Kedua namja itu saling berpelukan erat, seakan tidak mau dipisahkan.

"saranghae, hyung." bisik Jungkook sebelum mengecup dahi Taehyung dengan lembut.

"nado saranghae, Kookie~" jawab Taehyung lemah sebelum namja itu terlarut dalam tidurnya.

~chapter 7 end~

Jeonbokjuk: bubur abalone

Huwaa~! Apa-apaan ini? seharusnya ini menegangkan kok malah muncul adegan NC-nya VKOOK? (entahlah... author sendiri juga tidak tahu). Sungguh berubah dari rencana awal. Awalnya author pengennya langsung lanjutin ceritanya MINYOON, tapi author ngerasa ada yang kurang. Sepertinya hubungan VKOOK harus diselesaikan terleih dahulu, baru author bisa bikin adegan-adegan selanjutnya. Mianhae ya bagi yang udah menunggu momennya MINYOON karena mereka munculnya dikit banget. Habis mau gimana lagi? Mereka kan lagi perang dingin... masa' author bikin adegan romantis? Makanya adegan romantisnya author alihkan ke VKOOK. Moga kalian suka dehh~ (jangan lupa tinggalkan jejak, ya).