ME, YOU, AND OUR DULLNESS

Pairing: Min Yoongi x Park Jimin (MinYoon) Slight!: Namjin, Vkook, J-hope alone

Cast: BTS (Main Cast), Seventeen, EXO (Other Cast)

Rated: T/M (buat jaga-jaga)

Warning: BL, Typo, OOC (?)

~chapter 8~

Jimin menatap kedua sejoli yang tengah menonton film sambil berpelukan erat. Jeon Jungkook dan Kim Taehyung, keduanya telah mengumumkan hubungan mereka. awalnya Jimin tidak percaya saat Hoseok mengatakan kalau mereka berpacaran. Namun begitu keduanya telah mengumumkan pada member yang lain, Jimin tidak meragukannya. Anehnya, Jimin tidak merasa sedih atau frustasi seperti layaknya orang yang sedang patah hati. dia tidak merasakan apapun. Sebenarnya apa yang salah denganku? Bukankah aku menyukai Jungkook? pikinya heran. Jimin menghela napas. Biasanya Yoongi akan menyemangatinya disaat-saat seperti ini. sudah hampir dua bulan Yoongi mendiamkannya. Sejujurnya lebih baik melihat Yoongi marah daripada namja itu mengabaikannya seperti ini. Jimin ingin meminta maaf pada namja manis itu, namun situasi ini membuatnya memilih diam seperti seorang pengecut. Sejak kejadian itu Jimin tidak pernah melihat binar dimata indah Yoongi. kini tatapannya terlihat redup dan kosong. Sungguh, Jimin merindukan Yoongi yang dulu. Jimin merindukan senyumannya yang indah itu. Jimin merindukan Yoongi yang selalu semangat padanya. suasana disekitarnya juga berubah. hampir semua member menjauhinya—kecuali Namjoon dan Hoseok yang masih bersikap seperti biasanya. Jimin merasa seperti orang asing dalam kelompoknya sendiri. tetapi diantara semua hal yang terjadi, saat Yoongi membencinya adalah hal yang paling menyakitkan. apa hukuman untuk orang brengsek sepertiku, Yoongi hyung? batinnya. Aku memang pantas dihukum.


Bang Si Hyuk melipat tangannya—kebiasaannya saat tengah berpikir keras. Sungguh dia tidak menyangka akan ucapan namja manis yang sudah dikenalnya sejak sejak namja itu masih berusia tujuh belas tahun. Awalnya sang direktur Bighit Entertaiment itu hanya ingin menanyakan alasan Yoongi yang akhir-akhir ini tidak bersemangat, bahkan kesehatannya menurun hingga dia harus dirawat di rumah sakit. Bang Si Hyuk mengenal Yoongi, setiap lirik yang diciptakan olehnya itu menunjukkan betapa sentimentalnya namja itu. hidupnya yang keras membuatnya kuat meskipun dia terlihat rapuh. Sang 'Direktur' menghela napas panjang. "apa kau serius dengan ucapanmu, Min Yoongi?" sungguh dia berharap Yoongi akan mengubah keputusannya, meskipun dia yakin sekali kalau Yoongi tidak akan melakukannya. Namja keras kepala ini sudah membuat keputusan—dan tidak ada yang bisa mencegahnya.

"ya, Sajangnim." Jawabnya tegas.

"bagaimana dengan BTS? Apa kau tega meninggalkan teman-temanmu dan ARMY?"

Yoongi menarik napas panjang, tentu ini semua adalah keputusan yang berat baginya. "BTS akan lebih baik tanpaku, Sajangnim. Aku yakin ARMY akan mendukung keputusanku, meskipun mereka akan kecewa pada awalnya."

"lalu bagaimana dengan cita-citamu, Yoongi? bagaimana dengan pengorbananmu selama ini untuk menjadi musisi yang diakui? Apa kau akan berhenti ditengah jalan seperti ini?"

Yoongi tersenyum getir. Yoongi benar-benar merasa seperti orang bodoh sekarang. Dia sudah mengorbankan segalanya untuk menjadi seorang musisi, dan kini dia memutuskan berhenti hanya demi Park Jimin—namja yang telah menghancurkan cintanya. Yoongi menatap bosnya dan membulatkan tekadnya. Dia sudah hancur. Apa yang harus disesalkannya? Yoongi sudah menyesal. Namja itu mengangguk, meskipun tangannya bergetar. "saya... saya tidak akan... mengubah keputusanku, Sajangnim." Jawabnya.

Bang Si Hyuk menghela napas dengan berat. Dia sudah pasrah dengan keputusan Yoongi, musisi didikannya yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.

"maafkan aku, Sajangnim. Saya sudah mengecewakanmu dengan keputusanku yang egois ini."

"sebenarnya kenapa kau membuat keputusan gila seperti ini?"

Yoongi terdiam. Mana mungkin dia mengatakan alasan dibalik keputusannya untuk membatalkan kontrak hanya karena tidak ingin melihat Park Jimin? tapi sungguh, namja itu telah menghancurkan kehidupannya, mengacaukan pikirannya dan membuatnya gila. "aku tidak bisa mengatakannya."

Sang 'Direktur' memutuskan tidak bertanya lagi.

Yoongi menyerahkan sebuah map merisi kontraknya yang pernah ditanda tangani olehnya dulu. "aku akan mengembalikan uang sejumlah dengan kontrak awal perjanjian."

"tidak perlu. Kau hanya perlu membayar separuhnya saja."

Yoongi terkejut dengan ucapan bosnya. "ta-tapi..."

"anggap saja itu adalah hasil jerih payahmu selama ini."

Yoongi menggeleng, "tapi itu uang yang banyak sekali, Sajangnim. Aku tidak melakukan apapun selama ini, aku hanya merepotkan kalian semua."

"kau melakukan banyak hal, Min Yoongi. kau adalah genius yang berbakat. Kau menciptakan banyak lagu yang indah. Aku selalu terpukau dengan lirik lagu yang kau ciptakan. Tanpa kau BTS tidak akan menjadi seperti sekarang."

Namja manis itu tersenyum, kali ini senyum tulus. Dia merasa sangat terharu dengan ucapan sang 'Direktur'.

"kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. sayang sekali kau memutuskan hal ini. tapi apapun jalan yang kau pilih, aku akan terus mendukung keputusanmu. Kuharap kau tidak

akan menyesali keputusanmu."

Yoongi sudah tidak membendung air matanya. baginya Bang Si Hyuk bukan hanya seorang Direktur agensi yang menaunginya selama ini, namun dia juga sosok yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. "terima kasih, Sajangnim. Saya benar-benar bersyukur pernah mengenal orang hebat seperti anda. Sungguh, saya akan selalu menganggap Bighit sebagai keluarga. Sekali lagi terima kasih atas semuanya, Sajangnim."

"aku hanya minta satu hal."

Perkataan Bang Si Hyuk membuat Yoongi terdiam—mendengarkan satu-satunya permintaan Bang Si Hyuk padanya.

"teruslah bermusik. Jangan pernah menginggalkan musik. Musik adalah kehidupanmu. Jangan lupakan identitas dirimu sebagai seseorang yang mecintai musik dan hidup demi musik."

Yoongi mengangguk. "baiklah, Sajangnim. Saya akan terus bermusik seperti permintaan anda."

Bang Si Hyuk menepuk punggung Yoongi. "jangan anggap permintaanku sebagai beban, Yoongi."

Yoongi menggeleng cepat. "tidak, anda benar Sajangnim. Tidak seharusnya saya meninggalkan identitas saya. Saya benar-benar bodoh sempat berpikir untuk meninggalkan musik yang selama ini telah membesarkan saya."

"aku akan segera mengurus pembatalan kontrakmu."

"hm... saya mohon anda merahasiakan hal ini dari member lain."

Bang Si Hyuk menatap Yoongi tajam, "apa kau tidak akan mengatakan pada member yang lain? bagaimanapun mereka berhak tahu."

"saya akan mengatakannya dengan cara saya sendiri."


Hari masih pagi, namun Namjoon harus membangunkan semua member dan berkumpul di ruang tamu Dorm. Jungkook mengacak rambutnya dengan kesal—merasa kesal karena terganggu tidurnya. "kenapa kita harus sekarang, sih?" protesnya begitu Namjoon telah membangunkannya.

"molla, Sejin hyung bilang akan memberitahukan pengumuman penting untuk kita." Jawabnya. "dan mandilah, katanya Bang Sajangnim juga akan kesini."

"apa?!" seru Hoseok dan Jungkook heboh. Ini pertama kalinya CEO Bighit Entertaiment itu mengunjungi Dorm mereka. begitu mendengar ucapan Namjoon, Seokjin segera merapikan seluruh Dorm dengan cekatan.

"apa Sajangnim mau menagjak kita liburan?" tukas Taehyung penuh harap.

"yaak! Jangan bermimpi, alien." Hoseok menjitak kepala namja itu dengan keras.

"aww...! Appo...!"

"bisakah kalian diam? Ini masih pagi!" seru sang Leader yang kesal karena tingkah laku Dongsaeng-nya itu.

Setelah mereka bersiap-siap, mereka segera berkumpul di ruang tamu seperti diinstruksikanoleh manager mereka.

"mana Yoongi?" tanya Seokjin. Sejak tadi dia tidak melihat melihat namja pucat itu.

Hoseok mengangkat bahu. "entahlah. Mungkin dia menginap di Studio lagi." Jawabnya.

Jimin yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka hanya terdiam. Rupanya kau masih menghindariku, hyung... batinnya sedih. Semua member segera terdiam begitu pintu Dorm terbuka dan dua orang yang mereka tunggu akhirnya datang.

"selamat pagi, Sajangnim." Sapa mereka serempak seraya membungkukkan badan dengan hormat pada Bos mereka.

Bang Si Hyuk dan Sejin segera duduk di sofa. "jadi, aku ingin mengumumkan sesuatu pada kalian semua."

"ne?" Ujar Namjoon tidak sabar.

Direktur itu menghela napas berat. Jujur, dia tidak siap memberitahukan hal ini kepada keenam pemuda dihadapannya ini. "Min Yoongi memutuskan untuk membatalkan kontrak dan mengundurkan diri."

"APA?!" Seru semuanya, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.

Namjoon menggeleng cepat, "tidak mungkin... ini tidak mungkin..." ujarnya entah pada siapa. "sajangnim pasti bercanda, kan?"

Sejin menghela napas panjang. Manager berkacamata itu menyodorkan selembar surat di meja. "ini adalah surat pembatalan kontrak Yoongi yang sudah ditanda tangani olehnya."

Namjoon segera merebut surat itu dan membacanya.

"aku serius. Yoongi memang memutuskan untuk keluar dari BTS." Ucap 'sang CEO' menegaskan.

Suasana mendadak hening, lalu mulai terdengar isakan memenuhi seluruh ruangan. Seokjin tidak bisa menahan air mata yang mengalir dipipinya. bahkan Taehyung telah menangis dipelukan Jungkook. sang golden maknae mencoba menenangkan kekasihnya. Sementara itu Hoseok memukul tembok dengan keras—melampiaskan kesedihannya karena telah kehilangan seorang sahabat. Jimin masih terdiam. Dia masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Jimin tidak menyangka Yoongi benar-benar membencinya hingga namja itu memilih untuk meninggalkan mereka dan membuang cita-citanya begitu saja.

"kenapa anda tidak memberitahukannya lebih awal?!" geram Namjoon tidak terima.

"ini adalah permintaan Yoongi sendiri." jawab Bang Si Hyuk dengan tenang—tidak terpengaruh dengan kemarahan 'sang Rapper'. Pria paruh baya itu beranjak meninggalkan Dorm mereka. "Kim Namjoon."

Namjoon menoleh.

"tolong jaga anggotamu yang lain." ujarnya sebelum meninggalkan ruangan.

"yoongi hyung..." gumam Jimin lirih. Tatapannya kosong, nyaris sama dengan tatapan Yoongi sebelumnya. Tiba-tiba saja namja itu berlari menuju kamar Yoongi.

"PARK JIMIN...!" Seru namjoon.

Semua member segera menyusul namja Busan itu—bermaksud mencegahnya berbuat gila.

Jimin membuka pintu lemari Yoongi dengan kasar. Tidak ada satu pun barang yang tersisa dilemari itu kecuali sepucuk surat. Jimin segera mengambil surat itu dan membacanya.

From: Min Yoongi

Aku tahu keputusanku ini sangat egois. Tapi aku tidak sanggup lagi untuk tetap bersikap sewajarnya. Aku lelah berpura-pura tersenyum disaat perasaanku menunjukkan hal sebaliknya. Aku ingin pergi. Aku tidak bisa terjebak dalam kebohongan ini lagi. Aku tidak sanggup menahannya lagi. Aku tidak dapat kembali seperti semula. Meskipun aku berusaha untuk menutupinya, luka itu akan semakin tampak. Aku harap kalian tidak mengambil pilihan sepertiku. Terima kasih atas semuanya. Kalian adalah sahabatku yang terbaik.

"yoongi hyung..." ucap Jimin lirih. Namja itu tak sanggup menahan air matanya. yoongi benar-benar meninggalkannya.

Seokjin merebut surat itu dan membacanya dengan tangan gemetar. Namja cantik itu bahkan tidak sanggup untuk berdiri. Namjoon mendudukkan kekasihnya di ranjang Yoongi yang kosong.

"kau tidak apa-apa, Jin Seok?" tukas Namjoon, khawatir dengan kondisi kekasihnya.

BUAGG! Tiba-tiba saja seokjin bangkit dan memukul wajah Jimin dengan keras.

"HYUNG...!" Seru Hoseok dan Taehyung, tidak percaya bahwa hyung-nya yang lembut itu memukul dongsaengnya sendiri.

Namjoon segera mencegah kekasihnya untuk berbuat lebih jauh dengan memeluk seokjin dengan erat. "tenanglah... Jin Seok."

Seokjin menarik kasar kerah baju Jimin yang tersungkur, tidak peduli namja itu kesakitan karena pukulannya tadi. "KAU BENAR-BENAR BRENGSEK! INI SEMUA SALAHMU! KAU YANG MENYEBABKAN YOONGI PERGI!"

"Hyung... sudah hentikan..." Taehyung mencoba meredam amarah sang member tertua itu.

"sebenarnya apa yang terjadi?" kata Hoseok yang memang tidak tahu.

Seojin menatap tajam pada Jimin, "kau! Apa yang terjadi pada Yoongi, hah?! apa yang kau lakukan padanya?!"

Jimin menghela napas berat. "aku... hari itu... saat pesta perayaan Comeback kita, aku mabuk dan kami... melakukannya."

"kau memperkosanya?!" seru Taehyung tidak percaya.

"aku tidak melakukannya... maksudku aku tidak tahu... aku bilang padanya kalau itu adalah kesalahan." Jimin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Sesaat semuanya hening.

"kau benar-benar brengsek Park Jimin! apa yang telah kau lakukan pada Yoongi?!" ucap Seokjin, kecewa dengan perbuatan dongsaeng-nya. "selama ini Yoongi mencintaimu. Dia bahkan memilih untuk merelakan perasaannya sendiri karena kau mencintai Jungkook. berkali-kali Yoongi tersakiti karena dirimu, dan lihat apa yang kau lakukan padanya?"

Jimin tersentak dengan semua pernyataan yang Seokjin lontarkan. Yoongi hyung mencintaiku? Batinnya tidak percaya. Astaga... apa yang sudah aku lakukan padamu, hyung...?

Seokjin menyeringai sinis. "sekarang kau benar-benar menghancurkannya, Jimin. kau telah menghancurkan kehidupan orang yang mencintaimu dengan tulus." Sambungnya.

"yoongi hyung..." gumam Jimin dengan lirih. Namja tampan itu terduduk di lantai. "apa yang telah kulakukan?" sesalnya.

Namjoon menepuk bahu namja Busan itu, mencoba menenangkan. "ini semua sudah terjadi. sekarang yang terpenting kita harus mencari dimana keberadaan Yoongi."

Hoseok bergumam, "hmm... kurasa Kim Mingyu tahu dimana keberadaannya. Bukankah dia sahabat terdekat Yoongi hyung?"


Yoongi menatap sungai Han dalam waktu yang lama. Lampu warna-warni yang menghiasi jembatan menambah keindahan , sedikit menghiburnya. Yoongi mengambil ponselnya, lalu menekan nomor Mingyu.

"yeoboseo?" ujar suara diseberang sana.

"aku menyerah Mingyu. aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini lagi."

"yoongi hyung? apa maksudmu?"

"aku memutuskan untuk pergi."

Sejenak Mingyu terdiam, mencerna maksud ucapan Yoongi. "hyung keluar dari BTS?!" serunya spontan. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"aku tidak sanggup melihatnya lagi, rasanya terlalu menyakitkan Mingyu."

"sekarang kau dimana? Aku akan kesana."

"aku tidak akan memberitahumu."

"kau tidak berpikir untuk benar-benar meninggalkan mereka kan hyung? kau... kau tidak akan meninggalkanku, kan?" Mingyu terdengar khawatir. Entah kenapa firasatnya Yoongi

"aku memang akan pergi."

Mingyu terdiam. Itu artinya Yoongi juga akan meninggalkananya. "kenapa kau mengambil keputusan ini? kau tidak harus melakukan hal ini, hyung."

Yoongi tersenyum getir, "dari awal aku tahu aku tidak akan pernah bahagia."

Terdengar dengusan rendah dari seberang sana, nampaknya Mingyu sudah menerima keputusan Yoongi. "geurae, kau tahu kan aku selalu mendukung apapun keputusanmu? Kuharap ini memang keputusan yang terbaik untukmu." Jawabnya. "jadi... kau akan pergi kemana, hyung?"

Yoongi menghela napas panjang, "mianhae, aku tidak bisa memberitahumu. Tapi aku janji akan selalu menghubungimu. Setelah aku mengetahui keberadaanku, Berjanjilah kau akan merahasiakan hal ini. kalau tidak akau tidak akan pernah menghubungimu lagi"

"aku berjanji. aku pasti akan merindukanmu."

"baiklah. Sampaikan salamku untuk Wonwoo."

"hyung."

"hmm?"

"mungkin seharusnya aku mengatakannya lebih awal. Aku sangat menyayangimu, hyung. aku bersyukur kau menjadi bagian dari hidupku. Kau adalah sahabatku yang terbaik. Kalau bukan karena dirimu, mungkin hubunganku dan Wonwoo tidak akan mengalami kemajuan. Gomawo."

Yoongi mengangguk. "aku juga menyayangimu, Mingyu. Kau selalu mengerti diriku dengan baik. Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Aku sangat beruntung karena takdir telah meperrtemukan aku dengan orang sebaik dirimu. Jaga dirimu, Kim Mingyu."

"ne, kau juga hyung."

Yoongi memutus panggilan. namja Daegu itu kembali menatap keindahan sungai Han. Perlahan air mata menetes dari matanya.


Mingyu membuka pintu Dorm Seventeen. Kemarin mereka telah menyelesaikan Konser mereka, sehingga hari ini mereka mendapatkan jatah libur selama tiga hari. Banyak member yang memilih untuk pulang ke kampung halaman mereka. yang tersisa hanya Jun dan Minghao yang memang merupakan member cina, Seungcheol yang masih ada urusan sebagai Leader, lalu Mingyu dan Wonwoo. Mingyu tersenyum begitu melihat kekasihnya tengah tertawa sambil menonton acara TV. Mingyu sangat menyukai tawa Wonwoo yang memang jarang diperlihatkan kepada orang lain. Mingyu memeluk tubuh Wonwoo dari belakang, membuat namja manis itu terkejut.

"hyung..." bisik Mingyu. Namja itu manyadarkan dagunya di bahu Wonwoo.

"kau bawa pesananku, Mingyu?" tanya Wonwoo. Seblumnya dia memang menitip ice cream pada Mingyu.

Mingyu menunjukkan plastik kecil ditangannya. "rasa Vanilla. seperti pesananmu, sayang." Mingyu menatap seisi Dorm, "dimana yang lain?"

"seungcheol hyung sedang di Studio, Jun dan Minghao pergi berkeliling kota."

TEET! TEET!

Terdengar suara bel, Wonwoo segera beranjak dari sofa dan melepaskan pelukan Mingyu. Namja manis itu segera membuka pintu Dorm. Wonwoo tersentak begitu melihat siapa yang berdiri didepan pintu mereka. Rap monster sunbaenim, V sunbaenim dan Jimin sunbaenim... batin namja kelahiran Chungsam itu."ehmm," Wonwoo tidak tahu harus berkata apa.

"apa seungcheol hyung sudah datang?" Mingyu berjalan menghampiri sang kekasih.

Mingyu juga terkejut begitu melihat siapa yang ada diambang pintu. "Kenapa kalian ada disini?" serunya spontan.

Wonwoo memberikan isyarat agar ketiga namja itu masuk. Ketiga member BTS itu duduk di sofa. Wonwoo masih menggeleng, tidak menyangka boyband dari Bighit Entertaiment ini ada di Dorm mereka dan duduk di sofa mereka!

"langsung saja, kami ingin menanyakan keberadaan Yoongi hyung sekarang." Ujar Jimin. namja Busan itu menatap Mingyu dengan tegas. "kau adalah sahabat dekatnya, bukan? Beritahu keberadaan dirinya sekarang."

Mingyu berdecih kesal, "cih, kau pikir aku mau memberitahumu Setelah kau mencapakkannya begitu saja?!" sindirnya secara terang-terangan. Sungguh, Mingyu ingin memukul namja dihadapannya

"Mingyu-ah, aku mohon beritahu keberadaan Yoongi hyung. kami tidak tahu harus bagaimana lagi." ucap Taehyung dengan nada memelas, membuat Mingyu sedikit menurunkan amarahnya.

Wonwoo menuntun kekasihnya untuk duduk berhadapan dengan member BTS. Mingyu mengacak rambutnya kasar. Wajahnya terlihat begitu kesal dan marah. Matanya menatap tajam pada namja dihadapannya. "kau benar-benar brengsek, Park Jimin." tukasnya.

Jimin mengangguk. Dia memang brengsek.

"dia mencintaimu dengan tulus. Dia bahkan tetap bertahan meskipun kau mencintai orang lain dan berkali-kali kau menyakitinya. Sekarang kau benar-benar telah menghancurkannya. Seharusnya Yoongi hyung membencimu atas apa yang kau lakukan padanya, tapi dia bilang dia masih mencintaimu! Sungguh bodoh bukan?!"

"karena itu, aku mohon beritahu keberadaannya. Aku ingin memperbaiki semuanya."

Mingyu menghela napas seraya mengusap wajah tampannya. Disampingya, wonwoo mencoba menenangkan kekasihnya dengan mengusap bahunya. Mingyu terkekeh sinis meratapi kebodohan Jimin. "sekarang kau baru menyesal, huh? Setelah dia pergi? kau pikir semuanya akan kemabli semudah membalik telapak tangan?!"

Jimin menunduk pasrah, "ya. Aku sangat menyesal. Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku ingin mencoba memperbaikinya meski itu tidak mungkin."

Sesaat Mingyu merasakan ketulusan dari namja dihadapannya ini, membuatnya sedikit merasa iba. "kau terlambat, Park Jimin. Yoongi hyung sudah pergi. dia bahkan tidak mengatakan keberadaannya padaku. Dia hanya mengucapkan selamat tinggal padaku dan wonwoo." Jelasnya dengan tenang.

Jimin tersentak dengan pernyataan Mingyu. "ka-kau bohong, kan?"

"dia mengatakan yang sebenarnya." Sahut Wonwoo, memberikan penjelasan. "semalam Yoongi hyung menghubungi Mingyu. Dia bilang dia akan pergi—sepertinya dia akan meninggalkan Korea." Wonwoo melirik Mingyu, meminta persetujuan kekasihnya untuk mengungkapkan semuanya. Mingyu mengangguk samar. Wonwoo melanjutkan, "yoongi hyung mengatakan kalau dia akan terus menghubungi kami, tapi dia meminta Mingyu agar berjanji untuk merahasiakan hal ini."

"dan maaf, aku tidak bisa membantu kalian karena jika aku memberitahukan hal ini pada kalian, dia tidak akan menghubungiku lagi." tambah Mingyu.

"aku mohon, beritahukan keberadaan Yoongi hyung."

"aku tidak bisa! Meskipun kau memohon beribu kali pun padaku, aku tidak akan mengatakannya...! Aku tidak mau kehilangan dia, Park Jimin...! Bukankah itu kesalahanmu sendiri sehingga dia pergi?! Berhentilah memohon padaku dan carilah yoongi hyung sendiri!" amarah Mingyu kembali tersulut.

Dengan kasar Mingyu menarik lengan Jimin dan menyeretnya , Taehyung dan Namjoon mengikuti langkah kedua namja itu hingga berada diluar Dorm mereka. Mingyu berbalik masuk, meninggalkan kekasihnya yang tengah kebingungan. Wonwoo menatap ketiga member BTS itu dengan tatapan menyesal. "su-sunbae... tolong maafkan perlakuan Mingyu. Sebenarnya dia sangat baik, hanya saja keadaan ini sangat sulit bagi kami. Sejujurnya aku sendiri juga tidak mau jika Yoongi hyung membenci kami. Dia sudah seperti saudara bagiku dan Mingyu, Dia berperan besar dalam hubungan kami."

"apa maksudmu, Wonwoo?" seru Namjoon tidak mengerti. Bukankah selama ini Yoongi berpacaran dengan Mingyu? Pikirnya.

Pipi Wonwoo merona, "jadi... sebenarnya Yoongi hyung membantu Mingyu untuk menyatakan perasaannya padaku. Kalau bukan karena Yoongi hyung, mungkin aku dan Mingyu tidak menjadi sepasang kekasih." Jelasnya malu-malu.

"tunggu, jadi Mingyu tidak berpacaran dengan Yoongi hyung?" sela Taehyung.

"ahh... kalian pasti salah paham. Mingyu itu kekasihku."

Ketiga member BTS itu mengangguk paham. Ahh... ternyata selama ini aku salah sangka... batin Taehyung.

"kami juga salah karena sudah memaksa Mingyu. Kami tidak tahu kalau keadaannya seperti ini..." ujar Namjoon.

"tidak apa-apa, Sunbaenim. sekali lagi maafkan Mingyu, ya?"

Namjoon mengangguk, "baiklah. Kami pamit. Terima kasih karena sudah mengizinkan kami masuk tadi." ketiga namja itu berbalik, siap untuk pergi.

"Jimin sunbaenim," ucap wonwoo.

Jimin berbalik menatap namja cantik itu. "ne?"

"aku yakin suatu saat Yoongi hyung akan memaafkanmu."

Jimin tersenyum getir, "gomawo, wonwoo-ah. Tapi kali ini dia tidak akan memaafkanku. Tidak ada kesempatan kedua bagi namja brengsek sepertiku."

Wonwoo sudah hampir mengatakan sesuatu lagi, namun Jimin sudah beranjak pergi.

~end of chapter 8~

Kemarin banyak Reader yang nanya, kenapa kok Jungkook jadi Seme dan Taehyung jadi Uke? Trus ada juga yang nanya kenapa kok di Summary tulisannya Vkook, bukan Kookv, Padahal Jungkook yan jadi Seme?disini Author mau jelasin. Yang pertama, menurut Author Jungkook yang sekarang lebih pantes jadi Seme dibandingkan Taehyung. coba kalian perhatikan, Jungkook jauh lebih manly loh daripada Taetae (toh sekarang dia udah legal). lihat wajahnya yang searang, udah nggak terlihat polos kayak awal debut. Sekarang dia terlihat jauh lebih sexy dan dewasa. Selain itu, perhatikan bodynya Kookie, lebih berotot dan manly dibanding bodynya Taetae. dimata Author juga Jungkook bersikap jauh lebih dewasa dibanding Taehyung, makanya Author jadiin dia Author ngebash yang suka Taehyung jadi Seme, tapi menurut Author pribadi, Jungkook lebih cocok jadi Seme. Yang kedua, kenapa kok di summary ditulis Vkook, bukan KookV? Alasannya karena author suka aja. Menurut author (lagi), KookV itu agak aneh disebutin nggak sih? Lebih enakan Vkook. Mianhae klo Author udah bikin banyak yang salah sangka. Jadi yah... sekali lagi mianhae. Semoga chapter ini nggak mengecewakan. Jangan lupa tulis komen dan saran yah... author butuh rujukan. (btw ada yang liat Wings Tour in Jakarta? Kalau ada semoga kita berjumpa disana, hehe...)