ME, YOU, AND OUR DULLNESS

Pairing: Min Yoongi x Park Jimin (MinYoon) Slight!: Namjin, Vkook, J-hope alone

Cast: BTS (Main Cast), Seventeen, EXO, IKON (Other Cast)

Rated: T/M (buat jaga-jaga)

Warning: BL, Typo, OOC (?)

Sebelumnya, author minta maaf banget karena udah lama nggak update. Author terlalu antusias dengan Wings Tour Trilogy Concert in Jakarta kemarin. Karena kemarin author ngurus tiket dan akomodasinya sendiri, author jadi nggak sempet ngelanjutin fanfic. Setelah konsernya kelar, baru deh author ngelanjutin chapter 9 ini. semoga kalian suka ya... jangan lupa reviewnya... btw ada yg juga nonton konser BTS? Kalau ada share pengalaman kalian ya... mungkin kita ketemu waktu konser. Untuk reader yang lagi ujian, fighting!

~chapter 9~

~New York, 3 years later~

Yoongi berjalan dengan lunglai. Sesekali namja berkulit pucat itu menghela napas berat. Hari ini banyak pelanggan di café, membuatnya agak lelah. yoongi membuka pintu apartemennya dengan kasar. Dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Sejak meninggalkan Korea tiga tahun lalu, Yoongi memutuskan untuk tinggal di New York—tempat yang paling ingin dikunjunginya, dan menetap disana. Dengan menggunakan hasil kerja kerasnya selama menjadi idol, Yoongi bisa membeli sebuah flat kecil di pusat kota dan mengikuti kursus bahasa inggris. Namja manis itu bekerja sebagai guru les piano disiang hari, dan menjadi pelayan café di sore hari. Terkadang beberapa hari dalam satu minggu dia mengikuti Cypher illegal di komunitas Rapper Underground yangdiadakan dimalam hari. Kini namja itu dikenal dengan nama panggung Agust D. Sesekali Yoongi menerima permintaan beberapa agensi di Korea untuk membuat lagu untuk menambah uang. Yoongi bersyukur dia masih bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk orangtuanya. Awalnya kedua orangtuanya tidak setuju dengan keputusannya untuk meninggalkan korea, namun setelah menjelaskannya dengan susah payah, akhirnya orangtuanya menyetujuinya. Seseorang mengetuk pintu apartemennya. Dengan malas Yoongi beranjak membuka pintunya.

"hyung," ucap seorang namja bertubuh tinggi dan berwajah tampan.

"ah... Junhoe-ah, ada apa?"

Junhoe adalah tetangganya yang juga sekaligus bekerja di café yang sama dengannya. "Hanbin hyung sedang sedang sakit dan dia belum makan seharian. aku ingin membuatkannya bubur, tapi kau tahu kan aku tidak bisa memasak..." namja bertubuh tinggi dan terkesan maskulin itu mengusap tengkuknya.

Yoongi mengangguk pelan, "Geurae, jadi kau memintaku untuk membuatkan Hanbin bubur, kan?" tukasnya, menangkap maksud namja yang seumuran dengan Mingyu itu. terkadang Junhoe mengingatkannya pada Mingyu. Yoongi jadi merindukan sahabatnya itu.

"ne hyung, kau tidak keberatan kan?"

"tidak, lagipula membuat bubur cukup mudah. Kau tunggu saja di apartemenmu, nanti kalau sudah jadi akan aku antarkan ke sana sekaligus menjenguk Hanbin."

Junhoe tersenyum kecil, "gomawo, hyung. aku kembali dulu."

"ya, jaga kekasihmu itu."

"tunggu, nanti malam hyung mau mengikuti Cypher lagi?"

Yoongi menggeleng, "tidak nanti aku hanya performance seperti biasa. Kenapa?"

"ani. Sayang sekali aku tidak bisa melihat penampilan Yoongi hyung."

Yoongi menatap Junhoe dengan wajah cemberut yang malah terlihat lucu, "geurae, aku juga tidak ingin kau mengacaukan penampilanku seperti kemarin!"

Junhoe mencubit pipi namja yang lebih tua itu dengan gemas. "aigoo~ kau sangat manis hyung."

Inilah yang yoongi benci dari sikap Junhoe. Namja itu terlalu sering menggodanya. Padahal namja itu lima tahun lebih muda dari Yoongi—nyaris seusia dengan Mingyu, namun Junhoe tidak pernah bersikap sopan padanya. "lepaskan tanganmu, Goo Junhoe." Ujarnya dengan nada datar.

Junhoe melepaskan cubitannya, "Geurae, aku pergi hyung. Hanbin hyung pasti menungguku."

"pergilah. Kau menyebalkan."

Yoongi menutup pintu dengan keras sesaat setelah Junhoe pergi, tidak memperdulikan suara tawa Junhoe yang terdengar dibalik pintu. namja itu segera beranjak menuju dapur yang memang menjadi satu dengan ruang tamu. Yoongi memutuskan untuk membuat bubur telur. Sejak hidup sendiri, mau tidak mau Yoongi mengurus semua kebutuhannya sendiri, seperti memasak, mencuci dan sebagainya. melihat Junhoe dan Hanbin terkadang mengingatkannya pada Jimin. bagaimana kabar dia sekarang? Pikirnya tiba-tiba. Yoongi menggeleng keras, menyadari apa yang dilamunkannya. "berhentilah memikirkan namja yang telah mencampakkanmu, Min Yoongi!" sergahnya pada dirinya sendiri.

~Seoul, at the same time~

Hoseok menekan bahu namja bersurai Silver Grey yang duduk didepannya dengan kasar, "yaa, Park Jimin! kau mau mabuk, hah?!"

Jimin terkekeh kecil, tidak memperdulikan ucapan Hoseok. "ayolah, hyung... aku masih bisa minum lagi." Ujarnya, lalu kembali meneguk segelas Shots. "lagipula, tujuan kita ke club untuk bersenang-senang kan?" lanjutnya. "enjoy the party, hyung."

Beberapa yeoja mulai mengelilinginya. Hoseok menggeram kesal. Seharusnya ini menjadi perayaan Anniversary BTS yang ke tujuh tahun, namun sikap Jimin ini membuatnya muak. Haishh... kemana Namjoon dan yang lainnya? Batinnya kesal karena sejak tadi member lainnya juga tidak terlihat setelah acara penyambutan. Hoseok tersentak begitu Jimin mencium bibir salah satu yeoja yang ada dalam pelukannya dengan liar. Hoseok mengacak rambutnya dengan kasar. "ah, aku tidak tahu lagi!" serunya. Namja bermarga 'Jung' itu sudah muak dengan kelakuan Dongsaeng-nya. "aisshh... aku bisa gila!" namja Gwangju itu memilih untuk pergi.

"Jimin... ayo berdansa~!" rengek seorang yeoja dengan make-up tebal.

Tanpa banyak bicara Jimin menarik para yeoja itu dan turun ke lantai dansa, menikmati alunan musik yang diputar.

Setelah Yoongi pergi, BTS sempat mengalami masa yang sulit, Khususnya bagi Park Jimin. namja tampan itu terus mengurung diri di kamar Yoongi selama beberapa minggu. Member lainnya nyaris putus asa mengajaknya berbicara. Setelah hampir tiga minggu, Jimin akhirnya memutuskan untuk melakukan kegiatan seperti biasa. Namun namja itu berubah. jimin tidak lagi tersenyum lebar, tidak lagi berbicara seperti biasa dan matanya yang indah dan bersinar itu kini meredup. Hampir setiap hari Taehyung dan Hoseok yang sekamar dengannya mendengar teriakan Jimin saat dia tertidur—Teriakan yang terdengar pilu dan hampa. Sejujurnya, ini lebih parah dibandingkan dengan apa yang Yoongi lakukan dulu. Setelah melewati tahun pertama, Jimin kembali bersikap biasa. Namja itu kembali tertawa dan berbicara seperti sedia kala. Tentu saja member lainnya gembira dengan hal ini. awalnya mereka menganggap Jimin sudah menerima kepergian Yoongi. namun disaat itulah Jimin mulai melampiaskan emosinya dengan mempermainkan yeoja dan bermabuk-mabukan di club. Jimin bahkan dijuluki sebagai idol dengan banyak skandal.

Daftar artis, model, maupun anggota girlband pernah berkencan dengannya semakin bertambah, dan jika Jimin merasa bosan dengan mereka, dia akan langsung meninggalkan yeoja-yeoja cantik itu.

"jiminnh..." seulgi, yeoja cantik yang merupakan seorang anggota girlband ternama itu mendesah keras begitu Jimin meraba paha dalamnya. Yeoja cantik itu semakin terbuai dengan sentuhan lihai sang cassanova. Seperti rumor yang beredar, Jimin memang sangat berpengalaman. Sejak awal seulgi sudah tertarik dengan Jimin dan sudah sejak lama berusaha menarik perhatian namja tampan itu. Seulgi semakin tidak sabar merasakan penis Jimin memasuki dirinya.

"kau sudah tidak tahan, ne?"

Seulgi tidak menjawab. Yeoja itu malah semakin mengeraskan suara desahannya, tidak peduli disekelilingnya penuh dengan orang. "hahh...ji-jimnhh~"

Jimin mendekatkan bibirnya tepat ditelinga kanan Seulgi. "come to my room tonight." Bisiknya dengan suara berat yang seksi. Namja itu langsung menarik tangan seulgi keluar dari kerumunan manusia yang menari dan menuju ke kamar yang sudah disewanya. Jimin langsung menutup pintu dengan kasar begitu memasuki kamarnya dan mendorong yeoja itu ke ranjang. Seulgi menyunggingkan bibir seksinya, bermaksud menggoda sang cassanova

"eat me, Jimin." godanya sambil menggoyangkan pinggulnya, seakan tidak sabar untuk segera digagahi.

Jimin terkekeh sinis lalu menampar pantat Seulgi dengan keras. "as your wish, slutty."


Seulgi terbangun begitu mendengar suara pintu yang tergeser. yeoja itu menatap namja yang semalam menidurinya sedang mengenakan kemeja hitam.

"kau sudah mau pergi?" ujar Seulgi.

Jimin berbalik menatap yeoja itu. "rupanya kau sudah bangun." Tanggapnya singkat.

"kenapa pergi sekarang? Aku mau mengajakmu sarapan."

Jimin mendekatkan wajahnya tepat dihadapan seulgi seraya menyunggingkan senyumnya. Biasanya Jimin memamerkan senyum Angelic-nya, namun entah kenapa senyuman Jimin kali ini terkesan begitu dingin. "aku sudah bermimpi terlalu tinggi, Kang Seulgi." Jawabnya dengan nada tenang. Jimin mengambil jam Rolex-nya yang tergeletak di meja dan memakainya.

Seulgi tidak mengerti, "a-apa maksudmu?"

Namja Busan menatap seulgi dengan tatapan yang mengintimidasi. "kalau kau menganggap kita memiliki hubungan setelah melakukan sex, kau salah besar. Kau pasti sudah mendengar rumor tentangku, kan? seharusnya kau mengerti bagaimana cara 'bermainku'. I just do one night stand, no more." Jelasnya.

Seulgi menggeleng, tersentak begitu mendengar ucapan Jimin. yeoja itu nyaris tidak percaya. "ka-kau bohong kan? tapi semalam... kukira kita..."

Jimin kembali terkekeh, "jadi kau menganggap kalau aku tertarik padamu setelah sex semalam? Hahaha... lucu sekali."

Seulgi mulai terisak.

"kau pikir aku tertarik dengan yeoja murahan sepertimu? Cih, yang benar saja." Jimin menyampirkan jas hitam dibahunya. "tidak ada yang bisa menaklukanku, Kang Seulgi. Tidak ada satupun, termasuk dirimu." Tidak ada. kecuali Min Yoongi,tambahnya dalam hati. Jimin berjalan meninggalkan Seulgi yang masih terpaku, mengabaikan tangisan yeoja itu dan pergi.

Namja tampan itu tersenyum getir, "aku memang brengsek." Gumamnya, entah pada siapa.


Yoongi terbangun begitu mendengar Ringtone ponselnya yang berdering. Namja yang kini berambut hitam itu mengacak rambutnya kesal karena tidurnya terganggu. Yoongi terduduk di ranjangnya dengan mata yang masih tertutup. "yeoboseo?" ucapnya dengan nada berat.

"yoongi hyung!" sapa suara familiar diseberang sana.

Yoongi menggeram kesal. "apa kau sudah gila? Ini masih jam tujuh pagi dan kau sudah mengganggu tidurku!" protesnya. "bukankah sudah kubilang jangan mengangguku dihari libur? Kau benar-benar menyebalkan!"

Terdengar suara tawa dari seberang sana. "ayolah hyung... kau mau tidur sampai kapan? Aku hanya punya waktu luang sekarang. Oh iya, Wonwoo hyung titip salam. Dia bilang terima kasih karena kau sudah membantunya membuat lagu."

"kau sudah tiga tahun menjadi kekasih Wonwoo dan masih memanggilnya hyung? kau benar-benar aneh, Kim Mingyu." Komentarnya.

"wonwoo hyung tidak pernah mempermasalahkannya." Jawab Mingyu. "bagaimana kabarmu, hyung?"

"tidak ada yang seru. Sama saja seperti terakhir kali kau menelponku."

"terima kasih karena sudah membantu kami membuat lagu, hyung. aku baru saja mentrasfer bayarannya ke rekeningmu. Aku dan wonwoo hyung sangat suka dengan lagunya. Kau benar-benar yang terbaik!" Pujinya tulus.

"kau sudah mengirimnya? Baguslah. Akhir-akhir ini banyak sekali pengeluaran." Tukasnya jujur.

"kau seharusnya mengatakan padaku kalau kau membutuhkan uang. Kau bisa meminta bantuanku, hyung. kau tidak perlu menanggung kesusahan sendiri."

Yoongi menghela napas panjang. Sudah beberapa kali Mingyu mengatakan hal yang sama. "aku tidak mau merepotkanmu dan Wonwoo. Lagipula aku masih bisa bekerja. Aku tidak perlu bantuanmu."

"tapi hyung—"

"sudahlah. Aku tidak mau berdebat denganmu." sahutnya. Berdebat dengan Mingyu hanya akan membuang-buang waktunya.

"geurae. hyung... apa kau tidak berencana kembali ke Korea?"

Yoongi tersentak dengan pertanyaan Mingyu. Selama ini Mingyu tidak pernah menanyakan hal ini. "a-aku tidak tahu." Jawabnya ragu. Sejujurnya dia tidak pernah memikirkan hal itu. "kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?"

"sebenarnya aku dan Wonwoo hyung akan mengadakan pertunangan empat bulan lagi. aku ingin hyung menghadiri pesta pertunanganku. Dan sejujurnya aku merindukanmu, hyung."

Yoongi terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. "entahlah, Mingyu-ah. kurasa... aku masih tidak sanggup untuk kembali."

"tapi itu sudah tiga tahun yang lalu, hyung."

Yoongi masih belum bisa melupakannya. melupakan rasa sakit yang disebabkan oleh Park Jimin tiga tahun lalu. Yoongi menggeleng, "aku... aku tidak bisa. Aku masih belum melupakannya, Mingyu. Kembali ke korea hanya akan membuatku mengingat hal menyakitkan itu."

Mingyu kembali menghela napas panjang. "aku mengerti. aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak mau, hyung. yah... aku hanya ingin memberitahu hal itu."

"mianhae."

"baiklah. Aku masih ada urusan. Jaga dirimu, Yoongi hyung."

"ya. Kau juga, Mingyu-ah."

Telepon terputus. Yoongi beranjak dari ranjangnya. Entah kenapa ucapan Mingyu masih terbayang-bayang di otaknya. Bayangan wajah Park Jimin kembali "ahh... aku bisa gila." Gumamnya, entah pada siapa.


Jimin menatap kelima member BTS lainnya dengan tatapan bosan. Sesekali namja sexy itu memainkan ponselnya, membalas chat dari beberapa yeoja yang mengajaknya berkencan.

"berhentilah memainkan ponselmu, Jimin. sebentar lagi Sejin hyung datang." Ucap Namjoon.

Jimin mengangguk dan melemparkan ponselnya di sofa. Namja tampan itu menatap Jungkook yang tengah memeluk Taehyung dipangkuannya. Sesekali namja yang lebih muda itu membelai rambut 'sang kekasih' dengan lembut. Hoseok yang sebelumnya berdiri sekarang duduk disampingnya begitu Sejin memasuki ruangan.

"Sejin hyung!" sapa Hoseok dengan semangat.

"ah... kalian sudah berkumpul semua? Baiklah." Namja berkacamata itu berdehem sejenak, "Aku sudah mengatur jadwal untuk kalian dalam beberapa waktu kedepan. Karena kalian sudah melakukan comeback, aku membuat schedule personal setiap member." Sejin menatap kertas ditangannya—mengecek jadwal BTS kedepannya. "seperti yang kalian tahu Taehyung sibuk syuting drama terbaru. Lalu... Hoseok mendapatkan tawaran sebagai MC dibeberapa acara. Apa kau mau melakukannya?" Sejin ganti menatap Hoseok.

"yosh! Tentu saja hyung!" jawabnya dengan semangat yang berlebihan.

"geurae... Jungkook juga sudah melakukan kontrak duet dengan G Dragon dan akan berlangsung hingga bulan depan. Namjoon dan Seokjin—"

"hyung, aku dan Jinseok sudah memutuskan untuk hiatus sementara." Sahut Namjoon tiba-tiba.

"wae?!" seru Taehyung dan Hoseok, terkejut dengan ucapan leader mereka.

Namjoon berdehem kecil lalu melanjutkan, "jadi... sebenarnya kami berencana untuk menikah."

"APA?!" pekik seluruh member yang lain, bahkan Jimin nyaris tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

Pipi seokjin memerah. Namja manis itu tersenyum malu.

"ka-kapan kalian memutuskannya?"

"cukup lama." Jawab Namjoon tenang. "sebenarnya aku ingin segera menikah dengan Jinseok setelah pertunangan, namun karena kita sibuk dengan Comeback dan kami harus menundanya. Jadi... karena sekarang kita memiliki waktu luang, kurasa ini waktu yang tepat."

"wah... selamat hyung!" seru member lainnya. Mereka turut senang mendengar berita

bahagia itu.

"aku berharap yoongi hyung mendengar berita bahagia ini..." gumam Taehyung kelepasan. Hoseok yang mendengar ucapan Taehyung menyikut namja itu agar sadar apa yang telah diucapnya. Taehyung tersentak, teringat dia tidak boleh membahas tentang Yoongi, apalagi dihadapan Jimin.

Jimin hanya terdiam, tidak merespon ucapan Taehyung barusan. Namja itu memasang wajah datar seakan tidak terjadi apa-apa. "jadi... apa jadwalku?"

Sejin berdehem gugup. Sikap Jimin yang tenang membuatnya merasa sedikit terintimidasi. "ehmm... kau sudah mengadakan tour dibeberapa kota, dan sekarang kau akan mengadakan konser solo di tempat terakhir, New York."

New York, ya... ujar Jimin dalam hati. "ne." Jawabnya datar. "kalau sudah tidak ada yang dibicarakan, aku pergi dulu." Lanjutnya. Jimin melangkahkan kakinya meninggalkan keenam orang yang masih menatapnya.

Hoseok tersadar begitu Jimin sudah tidak terlihat. "astaga... dia sangat mengerikan. aku tidak tahu dongsaeng-ku memiliki aura yang mengerikan seperti itu." ucapnya entah pada siapa.

"bahkan aku sendiri terkadang merasa sedikit tertekan karenanya." Tukas Namjoon.

Seokjin terkekeh kecil begitu mendengar pengakuan kekasihnya. "jadi kau takut dengannya, eoh?" ejeknya sengaja.

"bukan itu maksudku. Hanya saja melihatnya seperti itu juga membuatku merasa sedih."

Taehyung mengangguk dengan wajah muram. "aku berharap Yoongi hyung segear kembali dan menyelesaikan semuanya. Aku tahu Jimin memang salah, tapi tiga tahun ini sudah cukup untuk menghukumnya. Aku tidak tega melihatnya terus-terusan bersedih seperti itu."

"aku tidak suka melihatnya berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa dan mempermainkan para yeoja. Aku lebih senang kalau dia menangis dan membagi kesedihannya dengan kita." Ujar Hoseok.

"sayang sekali kita masih tidak tahu kabar Yoongi hingga saat ini." sahut Seokjin sedih.

Namjoon mengangguk sedih. "dia seperti menghilang tanpa jejak. kita sudah mencarinya selama tiga tahun terakhir, namun tidak ada petunjuk sama sekali tentang keberadaan Yoongi."

Seokjin menyandarkan kepalanya dibahu sang kekasih. "yah... kita hanya bisa berharap semoga Jimin segera menemukan kebahagiannya." Tukasnya pasrah.

~end of chaper 9~