ME, YOU, AND OUR DULLNESS

Pairing: Min Yoongi x Park Jimin (MinYoon) Slight!: Namjin, Vkook, J-hope alone

Cast: BTS (Main Cast), Seventeen, EXO, IKON, NCT, MONSTA X, GOT7 (Other Cast)

Rated: M

Warning: BL, Typo, OOC (?)

Mulai dari sini bakalan banyak tokoh yang bermunculan. Author ambil tokohnya dari beberapa boyband dan pair yang author suka. Semoga ceritanya semakin menarik. Ditunggu review, kritik dan sarannya ya :D

~chapter 10~

~New York~

Jimin menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Namja tampan itu tampak lelah setelah perjalanan Seoul-New york yang memakan waktu selama beberapa jam. hari sudah malam di New York, sedangkan esok Jimin harus mulai mempersiapkan konser solonya. Sejujurnya, ini pertama kalinya Jimin mengadakan konser sendiri tanpa anggota BTS yang lain. rasanya sangat aneh. Jimin menatap ponselnya yang berdering, menandakan seseorang tengah menelponnya.

"yeoboseo?" ucapnya entah pada siapapun yang menelpon. Dia bahkan terlalu lelah utuk sekedar mengeck nama sang penelpon.

"ya, Jimin. apa kau sudah sampai di New York?"rupanya sang Leader BTS yang menelpon.

"ne, hyung. aku baru saja tiba. Ada apa?"

"ah, aku hanya mau memberitahu saja. Karena ini adalah kota yang terakhir kau kunjungi untuk konser solo terakhirmu dan kau punya waktu senggang selama sisa bulan ini, Sejin hyung memberikanmu waktu dua minggu setelah konser untuk menikmati liburan disana."

"jjinja?" ujarnya. "tapi kenapa?"

"apa maksudmu dengan kenapa? Tentu saja karena kami masih memiliki jadwal lain sedangkan kau sudah tidak ada jadwal. Kau hanya akan mati bosan kalau segera kembali ke Korea. lagipula kau tidak pernah mengambil waktu cuti selama ini. Sejin hyung menyuruhmu untuk istirahat dan menenangkan dirimu. Katanya akhir-akhir ini kau terlalu sibuk sampai melupakan waktu istirahatmu."

"tapi hyung—"

"aishh... aku tidak terima bantahan. Nikmati waktu liburanmu dan bersenang-senanglah."

Jimin mendengus kesal karena Namjoon seenaknya memutuskan telepon.

Jimin menatap keadaan kota New York dari balik jendela kamarnya. New York, ya... mungkin tidak buruk juga...pikirnya. Kalau diingat-ingat memang dia tidak pernah mengambil jatah cuti selama tiga tahun terakhir ini. Mungkin dengan liburan ini dia bisa menenangkan dirinya. Jimin menghela napas panjang. Dalam hati namja tampan memutuskan untuk menikmati kota New York setelah konser selesai.


Jemari mungil Yoongi menekan tuts piano, menciptakan melodi yang indah disetiap sentuhannya. Namja berkulit pucat itu memainkan lagu yang sedih, membuat beberapa remaja yang menontonnya turut terhanyut dalam suasana. Begitu nada terakhir dimainkan, terdengar tepuk tangan yang heboh dari sekumpulan remaja yang menonton permainannya.

"wuahh... saem keren sekali...!" puji seorang remaja berwajah manis berambut Dark brown.

"bravo! saem, you're awesome!" sahut Johnny, murid Yoongi yang lainnya.

"gomawo." Gumam Yoongi seraya tersenyum tulus pada muridnya. Yoongi memang mengajar piano di sebuah tempat les musik. Kelas Yoongi adalah kelas yang cukup banyak peminatnya. Kebanyakan murid Yoongi adalah anak-anak berdarah Korea yang tinggal di New York. Hal ini tentu memudahkan Yoongi karena dia tidak harus menggunakan bahasa Inggris untuk mengajar mereka. "kalian semua juga bisa membuat lagu." Kata Yoongi.

"jjinja? Tapi aku belum sehebat saem." Ujarnya ragu. "apakah aku bisa menciptakan lagu seindah itu?"

Yoongi mengangguk cepat. "tentu saja bisa, asalkan kau berlatih dengan giat."

"okay. but we really need your help, saem."ucap Johnny. Johnny berdarah Korea, namun Namja bertubuh tinggi itu lahir dan dibesarkan di Amerika sejak kecil. Remaja berusia delapan belas tahun itu memahami bahasa Korea, namun tidak bisa berbicara dengan bahasa asalnya itu. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan Taeyong yang masih belum lancar berbahasa Inggris. Taeyong baru pindah ke New York setahun yang lalu. Sesaat Taeyong mengingatkan Yoongi pada dirinya sendiri saat pertama kali tinggal di New York.

"of course, Johnny." Jawab Yoongi.

"saem, boleh aku bertanya sesuatu?" kali ini seorang namja tampan mengacungkan tangannya.

Yoongi menoleh pada muridnya itu, "apa yang ingin kau tanyakan, Jaehyun?" dibandingkan muridnya yang lain, Jaehyun adalah yang bersikap paling tenang dan dewasa. terkadang Yoongi merasakan tatapan yang mengintimidasi dari Jaehyun, terutama ketika namja bermarga 'Jung' itu menatap Taeyong.

Remaja berwajah tampan itu berdehem sejenak, "kenapa saem menciptakan lagu yang sedih seperti itu?"

Yoongi terdiam, tidak menyangka salah satu muridnya akan menanyakan hal itu. "musisi membuat lagu sesuai dengan apa yang telah dialami, Jaehyun." Jawabnya dengan nada serius.

Jaehyun mencoba memahami maksud dari ucapan Yoongi barusan, "jadi... saem membuat lagu itu ketika saem merasa sedih?"

Yoongi mengangguk, "tidak semua musisi bisa menciptakan lagu sedih. Seseorang harus mengalami kesedihan itu sendiri sebelum menciptakan lagu seperti ini. pengalaman itulah yang akan menginspirasi untuk menciptakan lagu." Jelasnya.

Mendadak kelas hening begitu mendengar penjelasan Yoongi. para murid bisa melihat kesedihan di wajah guru mereka itu.

"saem..." Jaemin tidak tahu harus berbicara apa. Remaja yang merupakan Maknae dikelas itu melirik Jeno yang duduk disampingnya dengan tatapan bingung, sedangkan yang dilirik hanya bersikap cuek seakan tidak mau tahu.

"baiklah, kelas berakhir. kalian boleh pulang." Yoongi memutuskan untuk mengakhiri kelas lebih cepat.

"ah, ne..." sahut Taeyong.

Para murid segera mengemasi barang mereka dan meninggalkan kelas. Yoongi menatap heran pada Jaemin yang masih berada dikelas. "Jaemin-ah, kau tidak pulang?" tanyanya.

Jaemin menggeleng, "aku ingin berkonsultasi dengan saem. Bolehkah?"

Yoongi mengangguk mengiyakan. "kau ingin berkonsultasi tentang apa? Ahh... rasanya aku masih belum terbiasa mendengar sebutan saem dari kalian. Entah kenapa aku merasa tua dengan sebutan itu." keluhnya.

"geurae," tukas Jaemin. "sebenarnya aku akan berpartisipasi dalam festival yang akan diadakan disekolah dua minggu lagi. aku ingin bermain piano, tapi aku belum memutuskan mau memainkan lagu apa. Apa saem mau membantuku?"

"tentu saja, Jaemin-ah." seru Yoongi. "jadi, kau ingin menyanyikan lagu apa?"

"entahlah. Aku masih belum punya gambaran."

Yoongi mengangguk kecil, "geurae... kalau begitu aku akan membantumu memilih lagu apa yang akan kau nyanyikan nanti." Mendadak Yoongi mempunyai ide. "ceritakan tentang dirimu padaku."

Jaehyun menatap Yoongi, tidak mengerti maksud namja manis itu. "kenapa aku harus melakukannya, Saem?" ungkapnya polos.

Yoongi tersenyum, "sebagai seorang musisi, kau harus memainkan lagu sesuai keadaan dirimu."

Jaemin terlihat ragu, "tapi saem... kurasa tidak ada yang menarik dari hidupku selama ini..."

"kau bisa menyanyikan lagu cinta sambil bermain piano. Kau punya suara yang merdu, Jaemin-ah." Usul Yoongi. Namja berambut hitam itu tersenyum iseng, "lagipula, Jeno satu sekolah denganmu kan? kau bisa menyanyikan lagu cinta untuknya."

"a-apa?!" Jaemin tersentak begitu mendengar usulan Yoongi. "da-darimana saem tahu kalau aku menyukai Jeno?" ucapnya tergagap, kebiasaan Jaemin ketika gugup. Pipi namja imut itu memerah karena malu.

Yoongi tertawa lepas seraya mengacak rambut namja manis itu dengan lembut. "aigoo... kau sangat manis, Jaemin-ah. Kau pikir aku tidak tahu selama ini kau selalu menatap Jeno dengan tatapan kagum?"

Jaemin menunduk murung. "tapi Jeno tidak menyukaiku, saem. Dia selalu mengabaikanku dengan sikap dinginnya itu." Jaemin mem-pout bibirnya dengan kesal. "Jeno mengatakan padaku kalau dia menyukai Renjun. Dia hanya menganggapku sebagai teman biasa." Jelasnya sedih.

"aku mengerti perasaanmu, Jaemin-ah."

Jaemin menggeleng. "saem tidak mengerti."

Yoongi menghela napas berat, "dengar, aku pernah mengalami hal yang sama denganmu."

Jaemin tersentak begitu mendengar penuturan yoongi. "jinjja?"

"ne." Yoongi mencubit pipi Jaemin. "kau masih terlalu awal untuk menyerah."

"tapi... aku tidak ada apa-apanya dibanding dengan Renjun. Renjun itu sangat manis, sedangkan aku biasa-biasa saja. Jeno tidak akan mungkin melirikku." Tukasnya.

"kau juga manis, Jaemin-ah. kalau kau berusaha keras, kau pasti bisa membuat Jeno tertarik padamu. Lagipula, kurasa Renjun tidak tertarik dengan Jeno." Ujar Yoongi menyemangati muridnya itu.

"baiklah saem. jadi... aku harus menyanyikan lagu apa?"

Yoongi tersenyum, "serahkan padaku. Aku akan memilihkan lagu yang tepat untukmu."

"jinjja? Yoongi saem, daebak!" seru Jaemin senang. Remaja itu bahkan memeluk Yoongi karena terlalu bahagia.

"aigoo... kau sudah lima belas tahun tapi kelakuanmu seperti anak balita. Berhenti memelukku! memangnya aku Jeno?!"

Jaemin melepaskan pelukannya sambil tersenyum malu karena sudah bertingkah kekanak-kanakan. "sorry, saem..."

"berjuanglah, Jaemin-ah." agar kau tidak mengalami hal menyakitkan sepertiku, tambahnya dalam hati.


Yoo Kihyun mengerucutkan bibir cherry-nya dengan imut. Sesekali namja imut itu memandangi sahabatnya yang tengah membaca buku dan mengabaikannya. Sejak tadi Kihyun melampiaskan kemarahannya karena kekasihnya yang tidak peka kepada Yoongi, namun Yoongi hanya menanggapinya dengan gumaman singkat. Namja berkulit pucat itu bahkan sama sekali tidak melirik dirinya dan terus membaca. Kihyun menggebrak meja dengan keras. "yaa, Min Yoongi! sejak tadi kau tidak mendengarkan ceritaku, hah?!" serunya kesal.

Akhirnya Yoongi mengalihkan tatapannya pada Kihyun dan menutup novel yang tengah dibacanya. "aku mendengarkanmu, kihyunnie." Jawabnya santai, seakan sudah biasa dengan sifat Kihyun yang cerewet itu.

"kau sama menyebalkannya dengan Hyunwoo. Selalu mengabaikanku seperti ini~"

"kalau aku mengabaikanmu, sudah kutinggal kau sejak tadi." sahut Yoongi.

Sekilas, kedua namja itu memang memiliki banyak kesamaan. Sama-sama bertubuh pendek, berwajah imut, Tsundere dan keras kepala. Bedanya, Kihyun agak lebih cerewet dibanding Yoongi dan lebih ekspresif. Keduanya segera akrab satu sama lain sejak pertemuan pertama mereka saat Yoongi resmi diterima sebagai pelayan di cafe yang sama dengan Kihyun yang sudah lebih dulu bekerja disana. Terkadang, Kihyun mengajaknya jalan-jalan di hari libur, seperti saat ini. keduanya memutuskan untuk menghabiskan waktu di cafe setelah lelah berjalan-jalan di central park.

"nanti malam kau mau mengikuti cypher lagi?" tanya Kihyun, memutuskan mengubah obrolan.

Yoongi menggeleng, "tidak. Hanya performance biasa. Hanbin juga akan tampil dan Junhoe pasti juga ikut. Kenapa? Kau mau menonton?"

"tentu saja. Lagipula banyak rapper tampan disana, kan?" serunya semangat.

Yoongi menghela napas panjang. "sayang sekali orang sebaik Hyunwoo memiliki pacar seperti dirimu."

"yaak~! Maksudmu aku tidak cocok dengan Hyunwoo?!"

"bukan begitu... ah, sudahlah. Aku malas berdebat denganmu."

Kihyun meminum blueberry soda yang tadi dipesannya dengan kesal. Mengobrol dengan 'manusia es' seperti Yoongi selalu menguras tenaganya. Tiba-tiba Kihyun teringat sesuatu, "ngomong-ngomong, kudengar ada konser idol Korea yang akan diadakan New York." Tukasnya, merubah pembicaraan.

Yoongi mengerutkan dahinya, "bukankah memang banyak yang seperti itu?"

Kihyun mencondongkan tubuh mungilnya mendekat pada Yoongi, "kudengar kali ini konser solo Park Jimin, mantan kekasihmu itu." ujarnya setengah berbisik.

Yoongi segera mendorong tubuh Kihyun, membuat namja berambut Dark Brown itu kembali duduk di kursinya. "lalu kenapa kalau dia mengadakan konser di New York? Bukan urusanku."

Yoongi mencoba bersikap tenang seperti sebelumnya, namun Kihyun dapat melihat kesedihan di kedua mata indah sahabatnya itu. "yaa, kau masih mencintainya kan?"

"mungkin, tapi aku lebih membencinya." Jawab Yoongi cepat.

Kihyun sama sekali tidak puas dengan jawaban sahabatnya itu. Kihyun kembali teringat pertama kali bertemu dengan Yoongi. Awalnya Kihyun sangat kaget begitu melihat mantan member BTS berada dihadapannya dan melamar kerja di cafe yang sama dengannya. Meskipun sudah tinggal lama di New York, bagaimanapu Kihyun tetap orang Korea dan tentunya masih mengikuti informasi apapun yang terjadi di tanah kelahirannya itu. masih terekam dibenaknya betapa dinginnya Yoongi saat itu. Meskipun terlihat kuat, namun Kihyun selalu merasa Yoongi sangat rapuh. Begitu mereka menjadi sahabat akrab, Yoongi menceritakan semuanya tentang masa lalunya, Park Jimin, dan kesedihannya yang selama ini selalu menghantuinya. Yoongi menangis begitu selesai menceritakan semuanya, membuat Kihyun memeluknya dan mereka menangis bersama.

Kihyun menghela napas panjang. Dia tahu topik pembicaraan ini sangat sensitif bagi Yoongi, tapi Kihyun mengorek semuanya. Dia ingin sahabatnya itu menjadi lebih terbuka dengannya, meskipun caranya sangat egois."bagaimana kalau kau bertemu dengannya?"

Yoongi memutar bola matanya, menunjukkan kalau dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini, namun diluar dugaan namja itu malah menjawabnya, "itu tidak akan terjadi."

"bisa saja kan kalau dia sudah tahu keberadaanmu dan tengah mencarimu sekarang?"

"di New York yang sebesar ini? yang benar saja." jawab Yoongi sinis. "itu tidak akan terjadi kecuali kalau Mingyu, Wonwoo atau keluargaku yang membocorkannya. Lagipula, tidak ada alasan baginya untuk mencariku."

"tapi itu sudah tiga tahun yang lalu, Yoongi. apa kau tidak akan memaafkannya?"

"setelah apa yang telah dia lakukan padaku?! Tentu saja tidak!"

Kihyun menyodorkan Cherry mint ice tea yang tadi dipesannya, "minumlah. Tenangkan pikiranmu."

Yoongi mengangguk, meminum minuman yang disodorkan Kihyun sambil meredakan emosinya. Kihyun menggenggam tangan Yoongi dengan lembut, "dengarkan aku. Kau tidak bisa terlarut dalam kesedihanmu terus-menerus, Yoongi. aku tahu kalau kau apa yang Jimin lakukan padamu itu memang sangat menyakitkan, tapi bagaimanapun kau harus memaafkannya."

"itu tidak mudah." Sahut Yoongi ragu.

"aku tahu. Tapi kau harus melakukannya agar kau bisa melupakan rasa sakit yang kau alami."

"aku akan mencobanya, tapi kurasa itu tidak akan berhasil."

Kihyun tersenyum, "lalu, bagaimana dengan Mark hyung? "

Yoongi mengerjabkan matanya, "Mark hyung? bos kita? Memang kenapa?"

"siapa lagi Mark yang kau kenal kalau bukan dia, Min Yoongi?" serunya kesal. "berhentilah berpura-pura, kemarin aku melihat kalian berdua."

Yoongi terkejut. "jangan-jangan kau—"

"ya. Aku melihat saat dia mengatakan cinta padamu dan memberikan bunga." Sahut Kihyun namja itu tersenyum lebar, puas melihat ekspresi Yoongi yang tengah kebingungan. "jadi, bagaimana?"

Yoongi menghela napas panjang, "aku bilang padanya kalau akau akan memikirkannya."

"jjinja? Ahh... Mark hyung pasti merasa kecewa... dia sangat baik."

Yoongi mengangguk setuju. "ya, dia memang sangat baik. Tapi entahlah... kurasa aku belum siap menjalin hubungan dengan orang lain."

"berilah dia kesempatan."

Yoongi mengangguk, "akan kucoba." Kalau aku bisa.


Jimin memutuskan untuk berjalan-jalan begitu konsernya berakhir, seperti yang disarankan oleh Namjoon. Jimin bersyukur tidak ada yang mengenalinya, meskipun beberapa gadis sempat terang-terangan menggodanya. Namja itu bisa melepas maskernya dengan lega. Setidaknya hari ini cerah, membuatnya sedikit bersemangat. Jimin memutuskan untuk duduk sejenak di bangku yang ada disekitar Brooklyn Bridge Park. Kebanyakan turis yang berkunjung ke New York lebih senang berbelanja di Manhattan, mengunjungi Liberty Island dan China town, namun Jimin lebih memilih bersantai di taman sambil melihat jembatan Brooklyn yang indah. Banyak orang yang menikmati hari waktu libur mereka di taman ini. seorang ayah sedang asyik bermain bola dengan anak laki-lakinya, seorang gadis berambut brunette sedang berjalan-jalan bersama anjingnya dan beberapa pasangan sedang asyik bermesraan. Jimin tersenyum merasakan suasana penuh cinta disekitarnya, membuatnya merasa nyaman.

'kau tahu? Kalau suatu saat aku mengunjungi New York, tempat yang pertama kali akan kudatangi adalah Brooklyn Bridge Park'. Jimin tersentak begitu teringat kalau Yoongi sangat menyukai tempat ini. namja tampan itu mencoba mengingat-ingat lagi memori tentang Yoongi saat itu.

~flashback, BTS Predebut~

"kenapa kau ingin sekali kesana, hyung?" tanya namja tampan dengan aksen Busan yang khas. Namja itu menyandarkan tubuhnya pada tembok yang ada dibelakangnya. Bulir-bulir keringat terus menetes diwajahnya, napasnya terasa berat karena baru saja berlatih.

"itu adalah tempat yang pas untuk menghilangkan penat. aku bisa menciptakan beribu-ribu lagu di taman itu. Akan ada banyak hal yang akan memberikanku inspirasi disana. pemandangan yang indah... suasana yang hangat dan banyak orang bergembira. Kau pasti juga akan menyukainya."

Jimin terkekeh kecil, mengabaikan ucapan Yoongi. Yoongi, namja manis berkulit pucat itu hanya mendengus menanggapi senyum Jimin yang seakan mengejeknya. "kenapa? Kau menertawakan harapanku?" tukasnya tidak terima.

Jimin menggeleng, "ya. Aku tidak menyangka kalau kau punya keinginan yang nyaris mustahil seperti itu."

"apanya yang mustahil dari keinginanku, hah?"

Namja berambut hitam itu menghela napas sejenak, "kita berasal dari agensi kecil, hyung. aku bahkan meragukan kalau kita akan sukses bersaing dengan grup dari agensi-agensi lain yang jauh lebih besar dari agensi kita. Dengan keadaan kita seperti ini, apa kita bisa sukses? Apa kita bisa memenuhi impian kita menjadi grup ternama seperti Bigbang Sunbaenim? apakah kau bisa mengunjungi New York dengan keadaan kita yang seperti ini?"

Yoongi menatap Jimin dengan tatapannya yang tajam, "aku yakin suatu saat kita akan sukses, Jimin-ah. kita hanya perlu menunggunya dengan sabar." Yoongi menepuk bahu Jimin, memberikan semangat.

~flashback end~

Jimin mengacak rambutnya dengan kasar begitu ingatan tentang Yoongi kembali berputar dalam memorinya. Perlahan air mata mulai membasahi pipinya. Namja tampan itu tertawa getir, menertawakan kebodohannya selama ini. bagaiman mungkin dia begitu bodohnya telah menyakiti Yoongi yang selalu mendukungnya dan ada berada disisinya saat itu. kenapa aku menghancurkan perasaanmu dengan cara sekejam itu hyung? kenapa aku melakukan kesalahan sebesar itu padamu? Sesalnya. Dimana kau sekarang, Yoongi hyung? bagaimana kabarmu sekarang? Aku merindukanmu... aku sangat merindukanmu, hyung. Jimin mengacak surai Silver grey-nya dengan kasar, lalu mulai menenangkan dirinya. "lebih baik aku kembali berkeliling kota." Putusnya.

Jimin memutuskan untuk berjalan kaki kali ini. Lagipula masih terlalu cepat untuk kembali ke hotel meskipun hari mulai senja. Jimin memperhatikan jalanan yang ramai dengan pejalan kaki sepertinya. Nampaknya orang-orang juga tengah menikmati keindahan kota saat senja. Disepanjang jalan terlihat restoran ataupun cafe yang ramai pengunjung. Tentunya para wisatawan tertarik untuk menikmati makan malam dengan pemandangan Brooklyn Bridge. Jimin melewati sebuah cafe yang cukup jauh dari pusat keramaian. Namja itu menatap sekilas suasana cafe dari dinding kaca. Suasana cafe itu nyaman dan tidak terlalu ramai—mungkin karena letaknya jauh dari pusat kota. Ketika sedang memutuskan untuk masuk atau tidak, Matanya tidak sengaja melihat sesosok namja bertubuh mungil yang tengah mengobrol dengan dua namja lainnya. Jimin mengerjabkan matanya beberapa kali, memastikan ini bukanlah khayalannya semata. Jimin terbiasa melihat namja itu dalam halusinasinya. Ya, biasanya. namun kali ini Jimin yakin sosok yang tengah dilihatnya itu bukanlah halusinasi. Sosok itu nyata. Min yoongi tengah berada dihadapannya.


Minhyuk tersenyum lebar, sesekali menyanyikan lagu favoritnya dengan riang. Namja berambut Light Blonde itu mengantarkan pesanan kepada pelanggan dengan semangat. "your order, Sir." Ucapnya seraya meletakkan pesanan kepada sepasang kekasih yang sepertinya sedang berkencan.

Junhoe terlihat heran, "ada apa dengan Minhyuk hyung? akhir-akhir ini dia bertingkah aneh." Tanyanya kepada Kihyun yang sedang mengepel lantai. Kihyun mengangkat bahu. "bukannya dari dulu dia memang aneh? Mungkin dia baru menang undian lotere." Jawabnya asal. "Junhoe-ya, tolong gantikan tugasku. Aku mau istirahat sebentar."

Junhoe mengangguk tanpa banyak komentar dan segera mengambil alih pekerjaan Kihyun yang belum selesai. Kihyun berjalan mendekati Yoongi yang tengah membersihkan meja. Perlahan namja berwajah imut itu memeluk Yoongi dari belakang dan menyandarkan wajahnya pada bahu sahabatnya itu. Yoongi yang sudah terbiasa dengan skinship yang dilakukan Kihyun hanya membiarkan sahabatnya itu melakukan sesukanya dan tetap menyelesaikan tugasnya.

"Yoongie~" rengek Kihyun dengan nada kekanakan.

"berhentilah bertingkah memalukan seperti itu, Kihyunnie." Tukas Yoongi yang sudah selesai membersihkan meja.

"lihatlah Mark hyung... sejak tadi di memperhatikanmu."

Yoongi mengikuti arah pandang Kihyun. Benar apa yang dikatakan sahabatnya itu, seorang namja bersurai Ash Brown tengah menatap mereka—lebih tepatnya menatap kearahnya. Yoongi menghela napas panjang, dia merasa risih dengan tatapan itu. Mark tersenyum padanya, namja bertubuh tinggi itu berjalan kearah mereka. "apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya.

"tidak ada masalah hyung. kami hanya mengobrol saja." sahut Kihyun.

"bukankah seharusnya pekerjaan kalian selesai? Sudah waktunya ganti Shift. Wonho dan yang lainnya juga sudah datang. Lebih baik kalian bersiap pulang."

"ah benar juga. Sepertinya aku terlalu semangat bekerja sampai lupa waktu." Seru Kihyun dengan nada dibuat-buat.

Yoongi melirik sebal kearah sahabatnya itu. Kihyun selalu bertingkah berlebihan.

"Yoongi." Ucap Mark.

"ne?"

Mark terlihat gugup. "hm... apa kau mau kuantar pulang?"

Yoongi terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. dia tidak ingin merepotkan bosnya itu, tapi disisi lain dia juga tidak enak menolak tawaran Mark. "ehm... tidak perlu hyung. aku tidak mau merepotkanmu."

"gwaechana, lagipula apartemenmu searah dengan rumahku."

Yoongi mengangguk pasrah. "geurae."

Mark tersenyum lebar begitu mendengar jawaban Yoongi. namja berdarah China itu terlihat sangat senang.

"Yoongi hyung?"

Yoongi menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya. Yoongi terkejut begitu melihat sosok yang telah menghancurkannya. Sosok yang telah membuatnya patah hati sejak tiga tahun yang lalu. "Park Jimin." tidak, tidak mungkin! Batinnya tidak percaya.

~chapter 10 end~

Author minta maaf karena udah sebulan ini nggak update. Author lagi buntu ide buat ngelanjutin fanfic ini. kadang idenya ada, tapi nanti tengah jalan author malah ngerubah lagi ceritanya. Maaf banget ya kalau lama (hehe...). tapi tenang aja, author bertekad bakalan ngelanjutin fanfic ini sampai tamat bagaimanapun caranya, meskipun updatenya lama. Bagi yang baca fanfic ini author mohon banget kasih review buat motivasi menulis (dan biar author nggak males update :D).