[Love Letter Chapter 2]

Jeon Wonwoo (SVT) | Song Jia (OC)

Seventeen's members

AU | School Life | Hurt-Comfort | Drama | [T+]


Notes

All Seventeen' members are in the same age and separated in three units/teams per class.


Disclaimer

17 belongs to Pledis Entertainment. And there will be some added cast(s).


There will be nothing seem as usual when we fall into someone and make a decision about to love them right away.

And, the usual things are gonna be different when we already realize how it feels sooner or later.


.

2ndㅡ'Nonsensical'

.


Wonwoo kini menggeret motornya menuju parkiran setelah di gerbang depan bertemu sekaligus menyapa beberapa temannya, seperti Seungcheol―yang juga tiba di sekolah lebih awal pagi ini. Langkah yang dipercepat mengantarnya lebih dulu dari pada si ketua kelas―Choi Seungcheol―hingga tiba di kelas tas segera diletakkan ke atas meja. Spontanitas kesehariannya, bila sudah tiba di kelas akan langsung mengeluarkan beberapa tumpuk buku dan meletakkan mereka ke dalam laci meja. Dia juga tak lupa dengan pensil, pena, penghapus, juga beberapa alat tulis lain yang senantiasa bersamanya bila pelajaran sedang berlangsung, hal ini tak pernah menjadi hal yang akan ditinggalnya di rumah. Wonwoo adalah tipe lelaki teliti―yang jika satu barang penting miliknya tertinggal, kendaraan roda dua itu akan memutar balik menuju rumahnya.

"Oy, Wonwoo!" Seperti biasa, yang terpanggil sudah hapal betul suara yang menyapa dirinya. Semacam rutinitas, membuatnya harus selalu berurusan dengan orang yang menyerukan namanya itu. Sembari menyelesaikan urusan kesehariannya, melihat Kim Mingyu berdiri di depan pintu membawakan setumpuk novel―yang dipinjam dari lemarinya yang sempat dibuat berantakan oleh Mingyu―tak membuat Wonwoo lekas menghampiri lelaki berkulit gelap itu. "Aku salin lagi ya?"

Wonwoo lekas menaikkan sebelah alis, menunggu hingga kalimat Mingyu diteruskan hingga utuh. Walau sebenarnya Wonwoo sudah hapal dengan ucapan semacam itu, sudah jelas artinya kalau sang teman hendak meminjam buku tugas, kemudian disalin sama persis dengan apa yang ia tulis.

Lelaki Jeon itu mendengus, raut wajah menunjukkan rasa bosannya lantaran sang teman belum juga kapok dengan hukuman Guru Nam selepas dia menyontek pekerjaan rumah milik Seungcheol beberapa hari lalu. "Tampaknya ada yang ingin menambah hukuman ya."

Setelah duduk di kursinya sendiri yang berada tepat di depan meja milik Wonwoo, sesegera mungkin dia merogoh gusar dan menghancurkan segenap tumpukan buku di dalam tasnya, demi mengeluarkan sebuah buku yang dibutuhkan. Tak menggubris sindiran Wonwoo, Mingyu terus menggerakkan tangannya di atas kertas ketika selangkah lagi hampir selesai dengan tugas matematika yang sengaja ia tunda ―selagi masih memiliki Wonwoo, lelaki pintar andalan tugas-tugas akademisnya adalah penyelamat utama bagi Kim Mingyu.

"Nih bung!" Seruan tanda terimakasih atas pinjaman tugas sekaligus merasa diselamatkan karena Wonwoo sudah berbaik hati―lagi―padanya, Mingyu membisikkan sesuatu; bahwasannya hari ini akan mentraktir Wonwoo untuk makan siang di kantin.

"Tidak bisa," Wonwoo membantah cepat sebelum Mingyu selesai mengatakan semua ucapannya. Sorot mata terlihat jelas, Wonwoo sedang tidak niat untuk pergi ke kantin saat makan siang nanti. Sebelah tangannya menyikut pada tas bekal yang jelas-jelas sudah berada di atas meja sejak ia tiba di kelas, mungkin hanya mata Mingyu yang salah sehingga tak dapat menotis benda kotak berisi lauk itu.

"Dasar," desisnya, lupa kalau Wonwoo suka membawa bekal. "Bekalmu serahkan pada orang lain saja. Ayolah Won, kita sudah lama sekali tidak makan di kantin. Apa perlu kuajak Hansol dan Seungcheol?"

"Bodoh, kalau begitu, sama saja aku tidak menghargai masakan ibuku."

Mingyu berdecak sebal berkat tolakan Wonwoo yang membuatnya jadi berpikir dua kali akan makan di kantin atau tidak. Semua itu tergantung dengan ketiga teman sekelas lainnya, yang biasanya makan bersama. "Kau aneh, bung."

Meski dikatai aneh, Wonwoo jusru terlihat tak acuh, pandangannya menyorot lurus ke arah buku kimia yang sekarang tengah iabaca selagi mengisi waktu senggang di pagi hari. Di mana kelas masih terbilang sepi oleh para siswa. Namun, yang menjadi pertanyaan Wonwoo kali ini adalah; apa alasan Mingyu datang lebih pagi dari hari biasanya? Yang mana pada dasarnya lelaki itu terbiasa datang lebih telat lima atau sepuluh menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Di akhir spekulasi, Wonwoo hanya bisa menggeleng pelan. "Hansol-ah, Mingyu mencarimu."

Menyambar cepat ketika temannya yang lain baru saja tiba di kelas kendati Mingyu tidak pernah berkata kalau dia mencari Choi Hansol, Wonwoo lekas menyegerakan memanggil lelaki blasteran itu sebelum Mingyu sempat melemparkan protesnya. Tepat, sesuai perkiraan Wonwoo saat Hansol menghampiri mereka berdua, wajah Mingyu seakan mengatakan 'aku tak pernah memanggilnya' terpampang kontras. Hansol lekas bertanya, "Ada apa Gyu? Butuh sesuatu?"

"Eh, dia bohong. Cepat sana, kembali ke kursimu." Kedua tangan Mingyu dengan cekatan meraih pundak Hansol, menggiring lelaki yang baru saja tiba di kelas itu hingga dia sampai di kursi miliknya, dan menyuruh Hansol segera duduk tanpa banyak pertanyaan. Setelah selesai berurusan dengan Hansol, Mingyu menoleh kembali pada Wonwoo. "Dasar tidak seru. Kalau begitu, besok aku main ke rumahmu ya? Tidak ada penolakan lagi, Won."

"Terserah kau saja."

Telah diduga sejak pagi ini, Wonwoo yang sudah dibujuk untuk ikut makan ke kantin bersama-sama, kali ini benar-benar menolak ajakan Mingyu. Seungcheol pun sedang tidak bisa menemani Mingyu dan Hansol untuk menghabiskan waktu, atau sekadar mengobrolkan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka seperti yang sudah sering dilakukan. Lantaran sibuk harus menemui wali kelas, Guru Park.

"Maaf Gyu, besok-besok saja. Tugasku masih banyak." Seungcheol berlalu keluar kelas, membawa setumpuk buku tugas matematika―tepat ketika Guru Nam meminta Seungcheol untuk sesegera mungkin menyerahkan tugas matematika terakhir yang ia beri sekitar seminggu yang lalu. Sekalian menyerahkan tugas, sekalian Seungcheol menemui Guru Park di kantornya.

Mingyu akhirnya menyerah ketika sadar sudah dua orang teman menolak ajakan darinya, hingga berpikir, sesibuk itu kah mereka sampai tak bisa menemani makan saja? Toh, keseharian mereka di sekolah, adalah yang salah satunya makan siang bersama di kantin bukan? "Payah, ayo Hansol, kita saja yang ke kantin."

"Kau tidak mau menitip sesuatu, Wonwoo-ya?" Hansol menimpali dengan sebuah pertanyaan, menawarkan sesuatu. Yang kemudian segera mendapat respon cepat kala itu Wonwoo menggeleng bersamaan dengan pertanyaan yang diajukan. "Tidak? Ya sudah, baiklah. Kami duluan."

Wonwoo mengangguk setelah Hansol berpamitan dengannya. Lelaki itu diseret Mingyu keluar kelas, si pria kulit gelap dengan tingkah seenaknya meminta Hansol untuk menggantikan kehadiran dirinya dan Seungcheol agar menemani dia makan di kantin. Tak lama seusai punggung kedua temannya tak lagi terlihat dari edaran mata, Wonwoo kini bisa dengan leluasa menghabiskan waktu istirahat dengan memakan bekal sendirian di kelas. Tanpa gangguan atau ocehan khas Mingyu yang selalu berhasil membuat telinganya panas.

Namun, dugaan makan siang sendiri dengan tenang, lantas tak terlaksana sebagaimana harapan Wonwoo―dimulai sejak pagi ini berangkat dari rumah hingga sampai di sekolah. Air mukanya berubah menjadi sedikit kesal, lantaran gadis yang sudah seminggu terakhir tak pernah bercakapan dengannya, kini masih saja menidurkan kepala di atas kedua tangan yang terlipat pada permukaan meja. Seketika ingatan tentang obrolan singkat terakhir mereka, berhasil membuyarkan fokus seorang Jeon Wonwoo pada kotak bekalnya yang belum disentuh sedikitpun.

"Dasar. Nanti kalau jam makan siang berakhir, baru mengeluh kelaparan. Ck," protes Wonwoo mengumpat. Melihat di sekitarnya tidak ada orang selain dia dan Song Jia, kemudian sebuah ide terlintas di otak cerdasnya―kali ini dia benar-benar tidak tega kalau gadis itu harus kelaparan seperti waktu itu. Lantas tangannya meraih kotak bekalnya dan meletakkan benda berisi lauk pauk itu ke atas meja milik Jia. Wonwoo sama sekali tak keberatan apakah dia menyesali tawaran traktiran makanan dari Mingyu, ataukah harus menahan lapar sepanjang pelajaran terakhir, hingga akhirnya para murid harus pulang ketika bel dibunyikan. Wonwoo menelan ludahnya dalam kesunyian ruang kelas, hanya bunyi derit kipas angin yang beradu dengan udara yang menemaninya hingga jam istirahat makan siang berakhir.

Ketika kedua netranya selesai mengobservasi ke seluruh penjuru ruang kelas, hingga sampai ke tahap akhir―menyimpulkan sendiri bahwa benar-benar hanya ada dia bersama gadis itu di dalam―Wonwoo dengan spontan menghela napas saat melihat Song Jia mendadak menengadah, membalas tatapan darinya.

Gadis itu menguap ketika si lelaki tampak sehabis memperhatikan dirinya tertidur. Bersamaan dengan netra miliknya, kedua netra milik Wonwoo tampak sedang mengekori ke arah mana pun Jia bergerak. Hingga sampai saat ini, meski gadis itu masih mantab berada di posisinya duduk bersandar di kursi, lelaki Jeon itu tetap terdiam walau dari segi tatapan dia selalu memantau.

"Jeon Wonwoo-ya," sahutnya, guna memeriksa apa yang tengah dilakukan lelaki itu sampai dia tak berkedip kala Jia masih ikut memperhatikannya. Jia yang dilanda rasa penasaran, kemudian bergeser sampai dia bisa berdiri tegak di hadapan lelaki itu, si manusia es katanya. "Yaa, kau kenapa sih?"

"Tidak ada," tandas Wonwoo singkat, kedua mata dialihkan pada sudut meja miliknya, sekalian kembali pada kesehariannya yang sempat tersita―membaca buku―lantaran sibuk memperhatikan Jia yang beberapa menit lalu terlelap.

"Memangnya, aku kenapa?" Pertanyaan Wonwoo kali ini menggema di dalam kepala Jia, seolah menyuruhnya untuk berpikir keras sehingga tak ada celah untuk mengelak. Dia sudah diberi skakmat. Lagi pula setelah dipikir-pikir, untuk apa juga dia menanyakan kata 'kenapa' pada Jeon Wonwoo? Pasal dia sudah merasa diperhatikan sepanjang tidur, itu sama sekali bukan urusannya 'kan? Toh, kesimpulannya, Jeon Wonwoo memiliki hak untuk memperhatikan seseorang, meski secara diam-diam.

Jia menyerah, "entahlah. Itu tidak penting sekarang."

"Lalu, mengapa bertanya? Kau tidak ada kerjaan lain ya, selain tidur di kelas? Baca buku atau apalah," kali ini Wonwoo yang mengoceh, tengkuk ditundukkan seraya membiarkan Song Jia agar segera berlalu dari hadapannya. Jeon Wonwoo sungguh mengidam-idamkan sebuah ketenangan di kelas, hanya itu kok.

"Apa kau melihat―"

"Tidak."

Gadis itu mengencangkan rahangya, kekesalan mulai dirasakan sepanjang obrolan tak mengasyikkan antara dia dan lelaki dingin itu, tak sedikit pun ada percakapan yang berujung baik atau pun panjang, semuanya berakhir mengenaskan dan se-simple itu. "―memangnya kau tahu apa yang akan kutanya?"

"Tentu saja," respon Wonwoo sangat cepat, terlalu cepat malah untuk segera dibantah. "Kau pasti mencari Kim Nara, 'kan?"

"Iya, kau benar sih," Yang diberi jawaban menghela napas lalu menghirup kembali oksigen yang sudah ia buang sebagai karbondioksida, sebelum benar-benar pergi dari hadapan yang memberi jawaban. Namun beberapa sekon sebelum melenggang pergi, ada sesuatu yang terlihat mengganjal tertangkap basah kedua mata milik Song Jia. Seraya menunjuk tepat ke arah mejanya, kepala ditolehkan ke arah Jeon Wonwoo, sebuah sudut bibir dinaikkan dan mulai membuka mulut guna mengawali sebuah kalimat. "Jangan bilang kau lagi yang meletakkan bekal itu―"

Wonwoo berdiri, sebelah tangan disegerakan meraih tangan Jia yang masih menunjuk lurus―yang menghalangi jalan gang di barisan tempat duduknya―sama sekali tak membuang-buang waktunya. "Memang benar, aku yang meletaknya." Kemudian lelaki itu berjalan mendahului Jia. Terlalu berlebihan menurutnya harus meladeni gadis itu di sepanjang jam istirahat makan siangnya yang berharga, jelas saja dia ingin segera terbebas dari konversasi tak berujung mereka.

Atau, menyusul kedua temannya yang sekarang sedang bersenda gurau sambil menyantap makan siang di kantin? Oh tentu tidak. Wonwoo justru berjalan cepat ke arah koridor di sebelah kiri, di mana perpustakaan ditempatkan.

.

.

"Mingyu―"

"Ada apa, ketua kelas?" Bagaikan kilat dalam hujan deras yang menyambar, Mingyu tak memberi celah bagi Seungcheol untuk segera menghabiskan kalimatnya. Dia berbalik menemui wajah Choi Hansol yang duduk di sebelah kanannya, memberi kode pada lelaki blasteran itu tentang rencana yang sudah tersusun ketika mereka menghabiskan waktu berdua di kantin siang tadi.

"―hari ini aku ingin mengajak kalian main ke rumah. Sekalian membuat tugas baru," tandas Seungcheol menimpali, dia tampak mengusulkan sesuatu sebelum bel pulang dibunyikan rentang waktu dua menit lagi. Menatap tas yang kosong, menyegerakan Seungcheol agar cepat-cepat berkemas dan bersiap untuk pulang. "Kalian ada waktu?"

Alih-alih menjawab ajakan si ketua kelas, Mingyu membuat tanda dengan kedua tangan yang disilangkan di depan dada. "Maaf bung, aku dan Hansol ada acara sendiri. Harusnya, akulah yang mengajakmu, dan si kutu buku―"

"Aku mendengarmu."

"―Jeon Wonwoo yang sedang datang bulan," Mingyu mengembel-embeli kalimat tak menyenangkan seusai kalimatnya yang sempat dipotong oleh Jeon Wonwoo, teman yang sekarang masih saja berkutat dengan sebuah buku kimia di atas meja―tentu saja dengan pandangan tak dialihkan dari benda berisi kertas tebal itu barang sedetikpun.

Seketika itu pula, bel pulang benar-benar berbunyi. Seisi kelas kembali menjadi riuh lantaran bel pulang memang dikenal sebagai suara yang melegenda di seluruh generasi anak sekolahan―tipikal murid-murid yang masih beranggapan kalau pergi ke sekolah itu hanyalah tempat menemukan teman baru, menghabiskan waktu dengan mengobrol sepanjang pelajaran berlangsung, berbagi makan siang atau sekadar bersenda gurau bersama dalam ruang toilet, atau bahkan, hanya untuk menumpang tidur.

Seusai menertibkan seisi kelas dan dilanjutkan dengan ucapan salam kepada guru, ketua kelas Choi itu langsung mengingatkan kepada teman-teman di kelasnya; bahwa yang sudah mendapatkan jadwal piket sesuai hari ini harus melaksanakan tugas yang sebagaimana mestinya―sungguh ketua kelas idaman.

"Wonwoo, kau ikut aku 'kan?" Pertanyaan Seungcheol tiba-tiba menepis jauh-jauh rencana yang sudah susah payah ia susun sepanjang perjalanan mereka bereempat ke parkiran motor―kebetulan, dia dan Seungcheol berjalan lebih lamban dan tertinggal di belakang dua teman yang lain.

Sial, aku jadi lupa.

Wonwoo mengutuk ingatannya yang mendadak bekerja dengan buruk. Yang mana biasanya mengingat adalah hal sepele bagi si lelaki, kini harus hilang tanpa jejak. Lantaran pertanyaan yang dilempar Seungcheol kepadanya mengakibatkan semua menjadi buyar. "Tidak bisa, aku harus ke perpustakaan kota sore ini. Besok saja bagaimana? Kita ajak Mingyu dan Hansol juga, hm?"

Seungcheol tak dapat berkata lagi, balasan ia terhadap sanggahan khas Wonwoo hanya berupa senyuman lebarnya, merepresentasikan bagaimana dia menghargai jawaban temannya itu. "Baiklah, jangan lupa besok."

"Oke, nanti aku beritahu bocah dua itu. Sampai besok, Seungcheol-ah!"

Sekarang sudah sore dan ini adalah saat di mana Jeon Wonwoo melakukan rencananya yang pertama. Sudah dipikirkan dari jauh-jauh hari, bahwa dia akan membaca buku lain untuk mengisi kekosongan senja. Berbekal kartu langganan membaca, Wonwoo tak lupa membawa tas dan mengisi benda kosong itu dengan sebuah buku tulis―memungkinkan dia agar siap sedia jika ada referensi bagus yang akan didapat.

Sambil berjinjit menelusuri koridor tempat di mana dia akan mendapatkan banyak novel terdahulu, netranya kemudian terpaku pada sebuah buku berdebu dengan cover berwarna soft pink, pas dengan warna bunga sakura yang bersemi di Bulan Maret, yang menghiasi jalanan. Wonwoo tersenyum mengingat bunga yang kerap ia kutip bila angin membawa bunga itu jatuh sampai ke pakaian yang ia kenakan―selama di perjalanan menuju perpustakaan kota―di setiap kesempatan bila dia datang berkunjung ke tempat sunyi ini.

"Oh, kau rupanya." Seseorang mengintip dari balik rak buku sebelah, menyapa Wonwoo yang baru saja membebaskan novel berwarna soft pink itu dari rumahnya yang usang. Seusai melihat siapa yang menyapanya di perpustakaan sore ini, Wonwoo hanya membalas senyum gadis itu dengan sedikit tarikan ke atas sebelah sudut bibirnya, tak bermaksud untuk mengabaikan sapaan itu secara total.

Ini hanya kebetulan, 'kan? Benak Wonwoo mencoba untuk menetralisir bentuk ketidaksengajaan yang terjadi.

"Wonwoo-ya, kau suka kemari? Kenapa tidak bilang?" tanya gadis itu, seraya buru-buru menghampiri Wonwoo yang hendak mengambil tempat duduk. Di kursi kayu panjang di sudut ruangan, dekat dengan jendela. Spot itu adalah tempat favorit Wonwoo ketika dia datang untuk membaca, mencatat beberapa ilmu baru yang didapat, atau sekadar menambah pengetahuan. Di situ lah tempat dia bersandar dengan buku yang diletakkan pada satu tangan, sambil menghadap ke sisi kanan dan disiram cahaya matahari senja.

"Yaa Jeon Wonwoo, apa kau mendengarku? Ah, serius sekali membacanya, apa judulnya?"

"Ssh, ini perpustakaan." Wonwoo membantah cepat, caranya mendiamkan gadis itu malah berakhir dengan sebuah kalimat yang mengindikasikan suatu protes.

"Santai saja, aku 'kan hanya tanya judul buku yang kau baca―"

Jia-ya, apa kau mengikutiku? Tadinya, lelaki Jeon itu ingin sekali bertanya seperti itu, namun disayangkan sekali, lantaran gadis itu tidak mungkin mengikutinya sampai ke sini. Mungkin mereka hanya kebetulan bertemu sore hari ini, dan itu semua terjadi begitu naturalnya, tidak ada yang merencanakan apapun tentang ketidaksengajaan ini. Semuanya terjadi secara alami.

Benar-benar secara alami.

"―kalau besok sore kau ada waktu, mau ikut aku ke galeri tidak? Kita bisa melihat banyak lukisan karya anak muda di sana."

Wonwoo tak langsung menjawab tawaran―bagus―itu. Yang ada dipikirannya sekarang adalah membaca novel itu hingga tamat, lalu beralih pada buku-buku lain yang sudah menunggunya di rak berdebu itu, dan terakhir tinggal pulang ke rumah.

Tapi, tampaknya Jia lah yang menjadi objek hidup di dalam benaknya. Menolak ajakan teman barunya bukanlah suatu yang buruk. Dan menyetujui tawaran itu juga bukan hal yang buruk pula. Apa salahnya jika mengiyakan ajakan itu, menempatkan diri sebaik mungkin agar tidak begitu kaku dengan kenalan baru, dan beradaptasi dengan sederet kegiatan baru. Mungkin akan menyenangkan, pikirnya.

"Ah tapi aku sudah ada janji," jawabnya ringan. Wonwoo ternyata masih bingung dengan dua tawaran bagus yang terasa ganjal jika salah satunya dilupakan, dan malah menerima yang baru. Apalagi dia ingat akan janjinya sepulang sekolah sebelum berpisah dengan Seungcheol di gerbang―tentang janji akan main ke rumah si ketua kelas Choi dan mengerjakan tugas baru bersama ketiga temannya. "Jadi, mungkin lain kali saja."

"Oh begitu ya," tanggap Jia lalu mengangkat kedua sudut bibirnya. Sebelah tangan digerakkan untuk menyisipkan sebuah bookmark, sebagai tanda kalau dia sudah membaca sampai ke bagian yang ditandai. Berbeda dengan Wonwoo yang dengan sigap―entah sejak kapan―sudah mengeluarkan buku tulis yang hampir habis―yang hanya menyisakan tiga lembar kertas kosong di dalam. Jangan lupakan sebuah pena bertinta kelam yang juga hampir habis isinya. Tangannya dengan mahir menggoreskan sederet kata yang kemudian dirangkai menjadi satu kalimat utuh, dan tak lupa dengan wajahnya yang terlihat begitu fokus terhadap apa yang sedang ia tulis.

Jeon Wonwoo benar-benar tipikal lelaki pecinta sastra.

.

.

Pagi ini adalah hari yang kesekian setelah murid kelas duabelas memasuki tahun terakhir mereka sebagai siswa/i SMA. Segala macam ujian, kegiatan keseharian sebagai murid tahun senior, hingga nanti bila sudah waktunya, mereka akan berperang mempertaruhkan segala kegiatan berbentuk refreshing. Demi membuktikan bahwa semua pelajaran yang ditempuh selama kurang lebih tiga tahun terakhir akan menghasilkan buah yang baik, yang mana buahnya akan dipetik ketika sudah waktunya.

Itu adalah salah satu list dalam buku rencana Wonwoo, agar dia kedepannya menjadi orang berguna dan membanggakan bagi ayah-ibunya, tak terkecuali dengan ketiga teman terdekat―yang mereka simpulkan, sebagai sahabat selamanya.

Seperti biasa, Wonwoo selalu mengawali pagi sebelum pergi ke sekolah dengan sarapan bersama di meja makan―jika kedua orang tuanya belum berangkat―namun tidak begitu menggubris obrolan 'hangat' anggota keluarganya, dia sering kali―bahkan selalu―mengabaikan obrolan yang dia anggap dapat membuatnya lupa waktu, dan akhirnya telat masuk sekolah. Lalu sebagian kecil hal tak mengenakkan lainnya adalah berbagai hukuman yang akan ditanggung begitu sang wali kelas mengetahui kalau dia telat datang. Tentu saja, Wonwoo tidak menginginkan hal semacam itu terjadi.

"Wonwoo, apa kau mau tambah susu―"

"Aniyeo eomma. Sudah jam enam lebih empatpuluh lima menit, aku duluan."

"―baiklah, hati-hati di jalan!"

Setibanya di kelas…

"Ini dia yang ditunggu." Mingyu menarik lengan kiri Wonwoo hingga lelaki yang baru saja tiba di kelas itu segera mendudukkan diri di kursinya. Menyaksikan si pria bertaring ganda Kim Mingyu sudah mempersiapkan segala macam peralatan untuk menyalin jawaban. Bahkan dengan santainya meletakkan buku dan pena di atas meja yang bukan miliknya―meja itu milik Wonwoo.

"Wonwoo-ya, keluarkan buku Bahasa Inggrismu," pinta Mingyu segera, tak segan-segan memaksa si pemilik buku yang akan ditiru, tak henti pula mengguncang bahu milik lelaki Jeon berkali-kali. "Ajarkan aku bagian C, yang itu sulit―"

"Itu mudah sekali, Gyu."

Mingyu berdecak keras, tangannya masih berjuang menggoyahkan iman suci seorang Jeon Wonwoo hingga ia berhasil meluluhkan hati lelaki dingin itu. "―ya, ya, terserah kau saja. Bagiku tugas yang itu tetap sulit."

Wonwoo menghela napas tak ikhlas, tangan kanannya merogoh buku yang dicari dan langsung diletakkan ke atas meja, lengkap dengan buku lainnya. Wonwoo memang seperti itu jika masalah pelajaran, tak peduli yang meminta jawabannya itu teman atau bukan, tak peduli seberapapun mudahnya cara dia memecahkan soal, atau yang tersulit sekalipun. Wonwoo tak akan membaginya secara percuma.

Tapi kalau pelajaran yang berhubungan dengan Kim Mingyu, Wonwoo lebih memilih untuk menyerah.

Disinggahi rasa senang yang berlebihan, Mingyu menyambar buku itu sambil memekik kata 'terimakasih' berulang kali, berhasil membuat telinga Wonwoo menjadi panas dan tak tahan. Seolah bosan dengan suara nyanyian si lelaki bertaring, Wonwoo memalingkan wajahnya ke arah jendela sambil berkata, "Mingyu-ya, kerjakan saja. Jangan ditambah dengan suara jelekmu itu, mengganggu tahu."

Disela-sela menyalin jawaban, Mingyu berdecak sambil mengoceh pada temannya itu, "sembarangan kau. Masih mending aku, memangnya seberapa bagus sih suaramu? Heol."

"Omong-omong, sore ini kita bertiga main ke rumah Seungcheol ya."

Mingyu berdeham setelah telinganya menangkap kalimat Wonwoo yang menggema di kepalanya, memenuhi sebagian otak yang tak dapat dialihkan ke mana pun. Dia sedang serius mengerjakan salinan tugas yang harus dikumpulkan beberapa menit lagi, dan Wonwoo mengumumkan sesuatu yang belum sempat Mingyu turuti kemarin. "Baiklah bung," ucap Mingyu menyetujui, pandangan dialihkan kembali ke atas kertas, "tapi apa jaminannya?"

"Jaminan apa maksudmu?"

"Aduh, sudah berapa tahun kau mengenalku?"

"Sudah cukup lama―tepatnya bertahun-tahun."

"Itu tahu. Tapi kenapa kau tidak tahu apa jaminan yang kumaksud? Jangan-jangan kau amnesia?"

"Jangan konyol, Gyu. Kalau aku amnesia, mana mungkin aku berbicara denganmu."

Mingyu meledak dalam gelak tawa begitu mendengar balasan dari Wonwoo pasal ungkapan tak masuk akalnya. Yah, Mingyu hapal betul dengan gelagat Wonwoo yang tidak begitu larut dalam candaan tak masuk akal, atau omong kosong yang tak ada ujungnya, apalagi responnya malah berakhir ketus seperti tadi. "Lupakan saja. Sekarang, coba kau ajari aku caranya merangkai kalimat yang ini." Telunjuk kiri Mingyu mengarah pada soal nomor empat yang tidak dia pahami, selama obrolan berlangsung sambil menunggu dua teman yang lain datang, Mingyu mencoba untuk kembali menetralkan suasana hati Wonwoo, sahabatnya yang sedingin es dan sekaku patung.

"Oy, Mingyu-ya, Jeon Wonwoo―" Hansol yang baru saja masuk kelas sgera bergabung dengan dua lelaki, "―eh, aku tidak pernah tahu ada tugas Bahasa Inggris," tukas Hansol selagi perhatiannya masih teralih pada buku tugas milik Wonwoo yang sedang disalin oleh Mingyu. Saat netranya menangkap sebuah kursi kosong di sebelah kiri Wonwoo, tanpa ragu lagi Hansol sesegera mungkin meraih kursi itu, mendekatkannya tepat di sebelah Mingyu dan duduk di sana. "Di mana Seungcheol?" tanya Hansol tentang keberadaan si ketua kelas―yang memang belum kelihatan di pagi hari ini.

Seketika Wonwoo menghentikan penjelasannya terhadap soal tugas kepada Mingyu, kedua matanya disorot ke arah Hansol dengan kepala yang menengadah. "Sepertinya belum datang," jawabnya.

Goresan pena di atas buku milik Mingyu pun ikut terhenti, segala atensi ketiga lelaki itu seperti mengarah pada hal yang sama dan maksud yang sama, tentang di mana Seungcheol yang biasanya datang lebih pagi dibanding mereka bertiga.

Sekali lagi, Hansol bergumam soal Seungcheol, si ketua kelas yang belum juga datang. Padahal, jam dinding di atas papan tulis kelas sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit, itu berarti lima menit sebelum kelas pertama dimulai, bel masuk akan segera dibunyikan.

"Apa tidak seharusnya kita cari saja? Siapa tahu motornya mogok, atau dia memang belum bangun tidur―"

"Aih, Seungcheol bukan tipe ketua kelas semacam itu. Berhentilah berspekulasi yang tidak-tidak, Gyu."

"Tapi Won, Mingyu ada benarnya juga," timpal Hansol memberi respon. Setidaknya yang diutarakan Mingyu tadi bisa saja terjadi. Meski rumah Seungcheol tidak begitu jauh dari sekolah, namun hal-hal seperti yang disebut oleh Mingyu bisa saja benar-benar dialaminya. Bukan maksud untuk berpikiran negatif dan selalu menuruti prasangka buruk yang terlintas di kepala, tapi untuk menghindari hal semacam itu bukan dengan cara tak memikirkan efek lain, ketimbang terlalu berharap dengan hal yang positif, namun yang terjadi nyatanya tak se-positif apa yang dipikirkan. Justru berujung serba salah 'kan?

Sial, aku jadi kepikiran. Tukas benak Wonwoo.

"Kalau begitu, sebaiknya kita lewati dulu pelajaran pertama. Bagaimana?"

Wonwoo terdiam ketika Mingyu mengemukakan usulnya, yang berbanding terbalik dengan ekspektasi Wonwoo. Lelaki Jeon itu menghela napasnya, suara deru napas itu menarik atensi Mingyu dan berakhir dengan sebuah pertanyaan dari lelaki Kim, "ada apa Won? Kau tak mau ikut?"

"Ah aniyeo. Tentu saja aku ikut."

"Ya sudah, kalau begitu, tunggu apa lagi?"

Di lain kejadian, Song Jia tampak terburu-buru bersama seorang namja, mereka berlari di sepanjang koridor menuju ruang guru, mengakibatkan ransel yang disandang ikut terayun ke kanan dan kiri sebab mereka berlari amat kencang, tak mempedulikan lagi betapa berantakannya mereka pagi ini.

"Selamat pagi, Park Sonsaengnim!"

Mendengar namanya diserukan, wali kelas yang baru saja ingin keluar kantor dan hendak melangkah menuju kelasnya, kini mengurungkan niat dan kembali duduk. "Ada apa, Song Jia?"

"Maaf, aku terlambat. Aku kemari ingin memberitahu Anda, kalau―"

"Tunggu dulu, kau kemari dengan siapa?"

"―eung? Ah, aku bersama..,"

"Selamat pagi Park Sonsaengnim, maaf kami berdua telat. Ada sedikit kendala di jalan."

Usai menoleh ke arah lelaki yang berseragam persis dengan Song Jia, dan mengenal dekat lelaki itu, kedua manik hitam milik Guru Park membesarkan pupilnya ketika melihat laki-laki itu membungkuk dan memberinya salam. "Choi Seungcheol? Coba ceritakan kronologi bagaimana kalian bisa telat."

Seungcheol menjelaskan kejadian kenapa dia dan Jia bisa datang terlambat, dari mulai dia mengendarai motor lalu secara tak sengaja berpapasan dengan Jia dengan sebuah sepeda yang dituntun sepanjang jalan dari halte bus dekat perumahannya menuju sekolah. Melihat salah satu siswi di kelasnya sedang kesulitan, lantas membuat Seungcheol berhenti dan―

"Ban sepeda milik Jia kurang angin, jadi, aku menawarkan untuk mengantarnya sampai ke tempat pompa ban, lalu meneruskan perjalanan bersama ke sekolah."

Guru Park mengiyakan setelah Seungcheol menyelesaikan kronologi mereka berdua. Beliau lalu memberi keringanan sebab alasan mengapa mereka terlambat sudah terbayarkan dengan penjelasan kronologi yang jelas, juga bersifat 'baik'. Dan yang baik-baik, tentu saja disukai para guru.

"Baiklah, kalian boleh kembali ke kelas."

Senyum merekah tergambar jelas di wajah Song Jia, disusul dengan ajakan untuk melakukan high-five dari Seungcheol yang kemudian disambut gembira oleh gadis itu. Keduanya membungkuk sopan sebagai balasan kepada Guru Park lantaran sudah diringankan dari hukuman―yang biasanya akan ditanggung oleh si pelanggar aturan. Namun kali ini mereka selamat, berterimakasihlah pada kebaikan Seungcheol yang berakibat baik pula di akhir kejadian.

Kembali kepada tiga lelaki yang baru saja selesai berunding pasal menjemput Seungcheol dan ke tempat mana yang akan dijadikan list pencarian, akhirnya Mingyu dan kawan-kawan berjalan menuju parkiran motor, di mana pacar-pacar kesayangan mereka berteduh dari terik matahari dan rintik hujan. Sembari menstarter motor bersama, Mingyu memastikan kembali apakah gerbang depan sudah dikunci atau belum. Karena dia tidak mau dikecewakan lantaran sudah susah payah membuat alasan agar bisa keluar dari sekolah demi temannya, malah tidak jadi hanya karena gerbang terkunci.

"Hei, tunggu sebentar," tukas Wonwoo, menggeser tubuh Mingyu yang menutupi sebuah motor yang terparkir tepat di belakang lelaki Kim itu, persis seperti motor yang selama ini sudah ia kenal. Tak ingin berlama-lama dan membuang waktu lebih banyak, Wonwoo yang kala itu sedang mengucap rasa syukur dalam hati―sekaligus menghela napas tanda dia lega―menyegerakan untuk menunjuk motor tadi dengan telunjuk kanan yang diacungkan. "Lihat? Motor itu milik teman kita." Ucapan Wonwoo yang secepat kilat dilontarkan itu memaksa Mingyu dan Hansol agar turut memaku netra mereka tepat pada plat motor yang dimaksud. Alih-alih menjawab pernyataan, kedua lelaki itu kembali mengangat kepala mereka usai rasa puas berhasil menggantikan perasaan aneh yang sebelumnya sempat melintas di kepala. "Syukurlah, sekarang ayo kembali ke kelas."

Mingyu berdecak lagi, kali ini disusul dengan gelakan ringan dari Hansol lantaran mereka sudah lega sehabis penemuan Wonwoo soal motor Seungcheol. "Wonwoo, kau kerasukan, man."

"Ya, aku kerasukan roh gilamu, Kim Mingyu," sahut Wonwoo yang beringsut menapakkan kakinya berputar balik, guna kembali ke dalam kelas. Kepala ditundukkan selama berjalan melihat pada arloji di tangan kiri yang terus berjalan, seiring dengan jarum pendek yang merepresentasikan jam pelajaran pertama sudah dimulai sepuluh menit lebih awal―sekali lagi dia adalah lelaki tipe penjaga kualitas disiplin. "Selagi masih ada waktu, percepat langkah kalian. Mungkin, Seungcheol sudah ada di dalam kelas."

.

.

Jam makan siang sudah tiba, keempat lelaki yang sempat melewati beberapa momen kebersamaan mereka makan di kantin sepertinya akan terbayarkan dengan makan bersama yang dilakukan siang hari ini. Sama seperti kemarin, Kim Mingyu pencetus utamanya. Seraya menunggu di baris antrean, Hansol jadi teringat pasal motor Seungcheol yang terparkir di tempat parkir, padahal tadinya mereka bertiga hendak menjemput sang ketua kelas, usai merundingkan hal tersebut. "Seungcheol-ah."

"Ada apa?" Sahutan cepat dari Seungcheol diambil alih oleh Kim Mingyu yang kemudian mengambil sesi tanya-jawab milik Choi Hansol, menyikut dada Seungcheol hingga berujung dengan suara rintihan. "Hei kau, mana ceritamu tentang keterlambatan 'sang ketua kelas', hm? Awas saja kalau kau lupa." Ucapan Mingyu ditimpali dengan kalimat ketus dari Jeon Wonwoo yang menunggu di balik punggungnya, "dasar kau. Biar saja Seungcheol yang tentukan waktunya, kapan dia akan bercerita."

Hansol yang menahan pertanyaan di dalam benaknya, kini tak dapat tertahan lagi. Kedua maniknya seakan meraup segala perhatian milik Seungcheol sedikit demi sedikit, mengundang si pemilik gelar 'ketua kelas' itu balas menatapnya. "Nanti akan kuceritakan, sekarang kita makan dulu. Aku sudah kelaparan, nih."

"Ck, alasan." Balas Mingyu, mengedikkan bahu secara spontan saat Seungcheol memberitahu keadaan perutnya, jangan abaikan kalimat penundaan itu, Mingyu benar-benar penasaran akan cerita keterlambatan seorang Choi Seungcheol. Kentara aneh sekali, belum sekalipun Seungcheol membuat sejarah terlambat datang ke sekolah di hari-hari pertama mereka menjadi senior tingkat tiga, benar-benar baru kali ini. Sudahlah, nanti juga dia beritahu, ungkap Mingyu mencoba meyakinkan diri sejenak sebelum akhirnya beberapa tebakan lain hinggap dan malah memaksa tumbuh lebih liar lagi. "Aku tunggu di sana, seperti biasa." Setelah terbebas dan berhasil keluar dari kerumunan para siswa lain yang mengantre di barisan, Mingyu yang lebih dulu mendapat kudapan kesukaannya lekas menyegerakan diri mengambil tempat, bahkan tak sempat lagi untuk membuat lelucon atau hal yang tak masuk akal di tengah keramaian. Mingyu juga sewaktu-waktu punya kedewasaan.

Ditinggal oleh Kim Mingyu yang kini menanti mereka bertiga, dan diselang lelucon yang terjadi di antara mereka seraya menunggu antrean yang paling depan terselesaikan dengan cepat, Seungcheol lantas terkejut ketika dari balik punggungnya. Telapak tangan seseorang―yang dirasa adalah tangan gadis―mendadak membuatnya sedikit melompat. Lalu, dia membalas senyum gadis itu dengan cepat, seramah senyum sang lawan jenis. "Oh, Jia-ya, ternyata kau."

"Eh, bukankah kau gadis pindahan dari kelas sebelah itu?" Hansol menambahkan. Dia merapikan surai kecokelatannya yang sedikit menggantung di sekitar area wajah, menyunggingkan senyum selebar-lebarnya, dan dengan spontan tangan kanan diulurkan untuk menjabat tangan Song Jia. "Choi Hansol."

"Song Jia."

Merasa dirinya terabaikan, Wonwoo memandang gadis itu sekilas, betapa dia mengingat wajah ceria dari si gadis lalu beralih ke pandangan lain, mencoba untuk menutupi rasa penasaran yang ternyata tidak hanya menyerang diri Hansol. Padahal jika sambil dipikirkan, Wonwoo merasa aneh dengan tingkah laku teman-temannya. Yang bodoh itu siapa sih? Kenapa mereka memperkenalkan diri sekali lagi? Toh, di hari pertama sudah dilakukan.

"Kau sudah kenal dia?" Pertanyaan Hansol kepada Jia dengan jempol kanan yang mengarah ke Wonwoo, terdengar sedikit tak mengenakkan. Bagi Wonwoo, dirinyalah yang patut bertanya seperti itu, berkat pertemuan yang tanpa sengaja terjadi kala itu mereka dipertemukan dalam gedung perpustakaan kota secara alamiah, membuat sebelah sudut bibir Wonwoo terangkat. "Dia Jeon Wonwoo." Hansol menjelaskan, sebelah tangan direntangkan di atas pundak Wonwoo, membisikkan sesuatu yang mengharuskan lelaki Jeon itu untuk tersenyum selebar mungkin. Agar tidak terlalu kaku, begitu pikir Hansol.

"Jia-ya, apa kau mau bergabung dengan kami?" tanya Hansol cepat, dia menunjuk ke arah Mingyu yang sedang duduk lalu menyadari kalau Hansol menunjuknya, maka ia pun tersenyum―tentu saja karena ada seorang gadis yang ikut melihatnya. "Itu teman sekelas kita juga, namanya―"

Song Jia menyikut Hansol sambil tergelak pelan, "Kim Mingyu 'kan? Haha, aku sudah tahu dia. Yang sering kali meminjam buku tugas milik Jeon Wonwoo."

Tepat ketika Jia mengetahui gelagat Mingyu yang tepat sasaran dengan menambahkan nama 'Jeon Wonwoo' di akhir kalimat, seketika itu yang namanya disebut melebarkan pupilnya. Kendati Wonwoo tak menggubris hal semacam itu, namun sepersekian detik setelahnya kalimat jawaban dari Jia menggema dengan brutal di dalam kepala. Memaksanya untuk kembali mengingat tentang ajakan gadis itu kemarin sore.

Namun, sekilas saja melihat wajah Jia yang masih lengkap dengan senyum mengembang, membuat Wonwoo lupa akan kebiasannya yang selalu diam atau menganggap hal-hal lain sebagai hal yang tak begitu penting. Dia kini mengabaikan makanan yang hendak diambilnya, maka salahkan senyuman Jia yang membuat dia lupa bahwa dia tak suka kue beras pedas―yang kini sudah terlanjur mengisi kekosongan dalam piringnya.

"Aku sudah selesai," kata Wonwoo cepat, alih-alih mengabaikan si gadis ketimbang dua teman lainnya, lelaki Jeon itu justru tak dapat menghilangkan gambaran wajah Jia yang sejak kemarin sore masih berproyeksi jelas dalam kepalanya. Begitupula dengan bagaimana cara gadis itu menyusul untuk duduk dengannya saat membaca buku di perpustakaan. Bagaimana cara gadis itu menemukan keberanian untuk mengajaknya ke sebuah galeri di seberang jalan peepustakaan; yang jelas Wonwoo menjadi tak fokus pada satu hal. Dan satu hal lainnya adalah gadis Song itu.

Bahkan ketika mereka kini sedang makan berlima, tawa dan canda terhadap lelucon dari Mingyu menjadi tak masalah bagi Wonwoo―yang menyukai ketenangan―tidak untuk hari ini ketika Song Jia yang mudah bergaul itu mendapatkan tempat khusus di pikiran seorang Jeon Wonwoo. Tak peduli seberapa berisik mereka di kantin yang ramai akan orang lain, tak membuat Wonwoo berubah pikiran apakah dia akan mendiamkan teman-temannya agar segera sadar diri kalau tidak hanya ada mereka di sana, ataukah tetap lupa diri karena dapat dengan leluasa tertawa bersama? Yang jelas, Wonwoo sedang menikmati masa-masa dia bisa larut dalam lelucon sederhana itu. Hinga saat…

"Hei kau Jeon Wonwoo," sahut Mingyu ketika dia masih dalam keadaan meledak dalam gelak tawa, sebelah tangan diistirahatkan di sepanjang punggung milik Wonwoo seraya sebelah tangan lainnya menunjuk ke arah piring milik lelaki itu. Lagi-lagi Mingyu dengan susah payah menahan tawanya yang geli, sampai sakit perut, katanya. "Sejak kapan kau makan kue beras pedas, huh?"

Oh tidak, Wonwoo melupakannya. Wonwoo tak menyadarinya. Wonwoo sama sekali tidak menggubrisnya. Dan Wonwoo; benar-benar keluar dari zona amannya.

"Wah benar juga!" Sahut Seungcheol ketika netranya menemukan tiga buah kue beras pedas yang menemani beberapa potong kimbab di atas piring Wonwoo, masih utuh dan belum tersentuh.

Lelaki Jeon itu mendiamkan diri sejenak sembari menatap kosong pada piring miliknya. Otak dipaksa bekerja keras untuk mengingat apa saja yang menjadi kesukaannya dan apa saja yang tidak. Dilansir dari ucapan Mingyu yang membuatnya berterimakasih dalam hati, lantas dia tak akan memakan kue beras pedas itu. "Aku tidak ingat siapa yang meletakkan makanan ini."

Mingyu terbengong sejenak kemudian meledak dalam tawa yang teramat geli, dia menepuk keras punggung Jeon Wonwoo lantaran tak menyangka, temannya yang dikenal sebagai murid pintar di kelas itu menjadi orang yang berkelakuan seperti murid 'bodoh' karena tampangnya yang tak meyakinkan. "Bicara apa kau? Omong kosong, haha!"

"Man, kau sepertinya benar-benar amnesia." Hansol melanjutkan.

Tak mau kalah, Seungcheol pun mengeluarkan pendapat pribadi bahkan terdengar tak jauh beda dengan apa yang sudah dikatakan dua teman sebelumnya; omong kosong, amnesia, dan yang terakhir, tak masuk akal. Sebab siapa lagi yang memasukkan makanan itu ke dalam piringnya kalau bukan dia sendiri?

Duh, Jeon Wonwoo menjadi orang yang bodoh untuk pertama kalinya.

Kendati dikatai seperti itu, kedua netra hitam pekat milik Jeon Wonwoo teralihkan pada gadis yang hanya diam tersenyum lantaran mungkin dia tak mengetahui apa yang sedang dibicarakan keempat lelaki yang duduk bersamanya. Pikiran si lelaki Jeon pun ikut teralihkan terhadap apa yang sudah membawanya keluar dari zona amannya; yang biasa sama sekali tak pernah memesan makanan semacam kue beras pedas, namun kini dengan bodohnya, dia tak tahu kalau sambil memikirkan orang lain akan berakibat gerakan refleks yang memiliki efek lain. Seperti yang sedang dia rasakan saat ini, sambil memikirkan gadis itu rupanya bisa membuatnya larut hingga refleks mengambil kue beras pedas lantaran tak bisa berpikir jernih lagi.

Hingga dia sadar bahwa siang hari ini, dirinya baru saja menjadi orang yang 'tak masuk akal'.

The nonsensical guy, Jeon Wonwoo.

.

.

To Be Continued

Halo readers! Jumpa lagi di chaptered fanfic perdanaku; Love Letter Chapter 2! Kali ini, aku mau minta maaf sekali lagi /tabur bunga/ karena mungkin gaya bahasaku yang kurang berkenan di hati pembaca sekalian. Ditambah lagi, proses ngedit atau nyunting FF ini mulai dari bahasanya, sampe ke alur-alurnya butuh waktu banyak lantaran aku lagi sibuk banget mempersiapkan ini-itu dan segala macam keperluan untuk lamaran pekerjaan dan persiapan Akademi InshaaAllah /curhat ih/

Mohon maaf juga ya karena kesibukan yang melanda /hadeh/ chapter kedua ini jadi kependekan dan mungkin lumayan berantakan. Karena sekali lagi, aku adalah penulis amatiran yang tiada henti belajar untuk kepuasan para pembacaku. Jadi, jika berkenan, please RnR before leaving this site if you don't mind^-^

#Sena (gyumint)