[Love Letter Chapter 3]

Jeon Wonwoo (SVT) | Song Jia (OC)

Seventeen's members

AU | School Life | Hurt-Comfort | Drama | [T+]


Notes

All Seventeen' members are in the same age and separated in three units/teams per class.


Disclaimer

17 belongs to Pledis Entertainment. And there will be some added cast(s).


There will be nothing seem as usual when we fall into someone and make a decision about to love them right away.

And, the usual things are gonna be different when we already realize how it feels sooner or later.


.

3rdㅡ'Iridescent'

.


Wonwoo ingat pada janji akan mampir ke rumah Seungcheol sambil mengerjakan segenap tugas baru bersama ketiga sahabat. Lelaki Jeon yang kini sedang melipat kacamatanya, pun berpikir. Sudahkah dia bersyukur atas hari ini? Hari ini adalah hari di mana Tuhan telah memberinya izin untuk kembali merasakan hal yang menyenangkan, hal yang menggembirakan, hal yang…juga sedikit menegangkan.

Bagaimana jika peristiwa siang hari ini adalah hari di mana dia akan menambah satu orang lagi untuk bertempat tinggal di dalam benaknya? Bagaimana jika siang hari ini, adalah hari di mana dia menemukan seseorang lagi yang akan mengisi hari-harinya? Bagaimana…jika siang hari yang menyenangkan hingga berhasil membuatnya terlihat bodoh, adalah hari yang takkan tersingkirkan begitu saja dari pikirannya?

Bagaimana dan bagaimana.

Wonwoo mendengus ketika kepalanya digelengkan sembari mengikat tali sepatu. Ia bersiap untuk pergi ke rumah Seungcheol sore ini. Dengan sengaja meninggalkan makan malam yang ditinggalkan ibunya di atas meja makan. Dengan sengaja melewatkan momen akan makan malam bersama sang ayah. Karena, Wonwoo merasa sedang tidak memiliki kewajibannya untuk menyantap kudapan malam bersama ayahnya. Dia hanya ingin merasakan kegembiraan dari ketiga sahabat konyolnya, hanya bersama mereka.

Bukan dengan selain ketiga lelaki itu.

Selama bermotor, lelaki Jeon berjaket kulit hitam itu tengah berkeliling di beberapa toko terdekat yang ada di sekitar perumahannya. Kedua netra tajamnya menyorot ke arah sebuah kedai es krim di seberang Mini Market, tempat di mana dia pernah diselamatkan dari gonggongan anjing. Entah siapa orang itu, ingatan yang mendadak berputar di dalam kepalanya membuat dia tersenyum sesaat.

Ketika itu, dia adalah bocah laki-laki yang masih polos meski usianya sudah memasuki usia remaja pada umumnya. Ketika pulang sekolah sendirian tanpa ada yang menjemputnya, Wonwoo si bocah berumur duabelas, tengah ketakutan pasal mendengar gonggongan anjing yang terdengar dari dalam kedai es krim. Dia sedang berdiri menghentikan langkahnya sebelum sampai ke rumah. Dahulu, menurutnya tak ada hal yang paling menyeramkan selain gonggongan anjing. Ditambah lagi, jika dia harus berhadapan langsung dengan anjing yang akan menggonggong kepadanya. Ah, Jeon Wonwoo benar-benar takut saat itu.

Tak lama setelah si anjing kecil jenis Siberian Husky berbulu hitam-putih―yang masih dililit rantai―menampakkan diri di depan Wonwoo remaja, maka ia yang takut akan gonggongan itu pun terjatuh di tempatnya berdiri. Dia menahan tangis di balik hoodie cokelat yang ia pakai. Dengan tubuh bergemetaran, wajah dan hidung memerah, juga kedua mata yang ditutup begitu rapatnya, Wonwoo remaja tengah memeluk lututnya sambil menahan isak tangis. Tak ada seorang pun yang menolongnya. Baik pemilik Mini Market, ataupun pemilik kedai es krim―yang sekarang sudah lama tak beroperasi sejak kelulusan SMP. Tidak ada, hingga akhirnya seorang bocah perempuan keluar dari kedai es krim dengan sebuah masker putih menutupi setengah bagian bawah wajahnya. Lengkap dengan apron biru pastel, bocah perempuan itu lekas mengambil alih rantai milik sang anjing.

"Cukup, Fiona. Jangan ganggu dia."

Untuk pertama kali, suara milik bocah perempuan itu menggema dengan jelas di dalam telinga si bocah laki-laki.

Ketika itu, Wonwoo remaja merasa terselamatkan dari gonggongan anjing beserta segala bentuk ketakutan yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Wonwoo yang sudah lama menahan tangis, ketika diselamatkan dari si anak anjing, lekas melepas isak tangisnya. Dia juga masih memeluk lutut ketika anjing itu sudah enyah dari hadapannya. Membiarkan si bocah perempuan menatap dan menunggunya hingga selesai menangis.

Dan Wonwoo, benar-benar merasa lega saat itu.

Pada masa-masa SMP setelah kelas tujuh diselamatkan dari anjing, yang ia ingat dari si bocah perempuan penyelamatnya, adalah gambar pada apron atau celemek yang ia kenakan. Gambar yang menunjukkan kalau dia mungkin sangat menyukai tokoh itu. Gambar yang menunjukkan seorang peri mungil dengan rambut kuning keemasan khas dengan gaun sederhana yang terbuat dari daun hijau.

Beberapa kali ketika pulang sekolah sendirian, Wonwoo remaja yang sudah duduk di kelas delapan pernah menyempatkan diri untuk mengunjungi atau sekadar berlalu di depan kedai es krim itu. Sempat mendengar gonggongan anjing pula. Namun, dia akan merasa aman ketika suara anjing itu masih terdengar dari dalam. Dan bila ada tanda-tanda kalau si pemilik kedai es krim atau barangkali membawa serta anjing Siberian Husky milik mereka keluar dari kedai, maka Wonwoo akan segera mempercepat langkahnya. Sebelum akhirnya ketahuan atau bisa saja dia akan kembali berhadapan dengan si anjing. Huh, dia tidak mau disaksikan menangis lagi oleh anak perempuan pemilik kedai. Atau, reputasinya sebagai murid teladan yang serba bisa itu, akan hancur jika orang tahu.

Sejak akhir semester kelas delapan hingga tamat SMP, Wonwoo remaja sudah tidak pernah lewat di depan kedai es krim itu. Pun hingga sekarang, ketika dia sudah hampir tamat SMA.

Namun, dengan hanya sekali melihat sore ini, dia ingat semua kenangan masa kecilnya.

Setelah puas berkeliling di sekitar perumahan, motor kesayangannya kini sudah tiba di depan rumah Seungcheol. Wonwoo melangkahkan tungkai panjangnya dari halaman depan hingga ke depan pintu. Akibat sudah terbiasa, si lelaki selalu saja mengetuk pintu kendati dia sudah tahu; bahwa kedua orangtua Seungcheol pasti akan mempersilakan dia masuk ke dalam bahkan tanpa mengetuk pintu sekalipun. Mereka sudah hapal, siapa Jeon Wonwoo, siapa Kim Mingyu, dan siapa Choi Hansol.

"Ah, bibi. Apa Seungcheol ada di dalam?"

"Tentu. Dia di dalam kamarnya, bersama Hansol yang datang lebih dulu." Nyonya Choi menutup pintu depan dari dalam. Sembari memegang nampan berisi empat gelas teh hangat. Ia tersenyum sambil menepuk pundak Wonwoo pelan, "kau tidak pernah berubah ya, selalu sopan dan hm, tenang sekali. Bagaimana dengan ayah-ibumu? Apa kabar mereka? Kuharap mereka baik-baik saja," ucap Nyonya Choi melanjutkan.

Wonwoo hanya mampu mengangguk sambil menjawab, mencoba untuk tetap sopan, "ah ya. Mereka, baik-baik saja. Bibi dan paman apa kabar?"

"Kami, baik. Ya sudah, cepat sana masuk. Mereka sudah menunggu. Tinggal satu orang lagi, 'kan?"

"Ya, Kim Mingyu belum datang."

Nyonya Choi menjentikkan jari ketika Wonwoo menebak persis sama dengan pikirannya. Toh, memang tinggal Mingyu 'kan? Jadi, siapa lagi kalau bukan dia? Heol.

Mingyu datang lima menit setelah Wonwoo tiba di kamar Seungcheol. Keempatnya kini sedang dimabuk rasa bahagia. Akibat terlalu bahagia, kamar Seungcheol pun menjadi tak karuan, bak kapal pecah atau bisa juga kau katakan sebagai Titanic yang sedang menabrak gunung es. Tentu saja kekacauan yang mereka buat adalah segenap kekacauan biasa anak SMA bila sedang berkumpul di rumah temannya. Lupakan tugas-tugas yang sejak awal sudah menjadi alasan telak mereka untuk mampir ke sini, ke rumah keluarga Choi Seungcheol. Buktinya, tugas-tugas malang itu kini bukan lagi menjadi daya tarik mereka untuk berkumpul. Tentu saja bukan. Bahkan murid teladan bermarga Jeon itu, pun mengikuti kenakalan yang pertama kali diciptakan oleh Mingyu; melempar bantal. Meski dirinyalah korban bullying Mingyu yang pertama, menjadi sasaran empuk bantal yang dilempar itu bukanlah suatu yang asing. Baginya, dirinya yang dijuluki teladan itu, sama sekali tidak ada cerminan teladan lantaran pembullyan sering kali menghampirinya. Tentu saja, bullying yang dimaksud terjadi ketika keempatnya sedang berkumpul.

Wonwoo memang teladan, jika dilihat dari segi kecerdasan, kerajinan dan ketelitian. Tapi jika dia sedang berempat, murid teladan yang seharusnya disegani banyak orang, justru tak berdaya jika ia kerap diganggu oleh Mingyu. Jangan harap Kim Mingyu akan berhenti mengganggunya jika sedang mengerjakan tugas. Maka tugasmu juga akan ikut dihentikan. Lantaran kau harus selalu siap sedia menyerang balik si penyerang pertama. Atau tidak, kau akan kalah. Dugaan Wonwoo selalu berakhir seperti itu kala sang teman tiada henti mengganggunya.

"Ya, Kim Mingyu." Wonwoo mendengus protes ketika lagi-lagi pulpennya harus tergelincir dan menggoreskan coretan abstrak di atas buku tugasnya. Semua itu berkat lemparan bantal yang kesekian dari si lelaki bertaring. "Awas kau, Gyu. Dasar sialan."

"Tidak peduli. Lagi pula, untuk apa kau kerjakan tugas itu sekarang, huh? Di rumah 'kan bisa, bodoh!" balas si pembully. Mingyu benar-benar mengabaikan tugas-tugas baru mereka. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa lelaki yang paling tinggi di antara keempat sekawanan itu senang sekali mengganggu orang lain. Toh, pekerjaan sampingannya memang itu. Apa lagi kalau bukan jahil? "Kalau begitu, aku punya satu permintaan."

Seungcheol lekas duduk memeluk lutut. Dirinya merasa lelah ketika ia sudah berhasil menumpukkan beberapa bantal di atas tubuh Hansol. "Apa itu, Gyu?"

Yang ditanya berdecak, seraya melipat tangan di dada, dia mengernyitkan dahi. "Bagaimana kalau kita main ke luar? Berkumpul di taman? Aku ingin melihat keramaian di luar. Bosan kalau di dalam ruangan terus."

"Hm, begitu ya?" Hansol yang baru saja berhasil membebaskan diri dari tumpukan bantal yang menutupi dirinya, kemudian ikut mengutarakan ucapannya. "Aku 'sih ikut saja. Kalian mau ke mana?"

"Ke atap sekolah?"

Ketiga sahabat lekas melempar tatapan mereka ke arah si pencetus, Jeon Wonwoo.

"Apa kau bercanda? Heol, ayolah, Won! Cari tempat lain yang lebih seru!"

Seungcheol dan Hansol spontan tertawa keras setelah Mingyu melempar kalimat berupa protes. Wonwoo pribadi tidak mengerti kenapa ketiga sahabatnya bisa memaku tatap mereka ke arahnya. Seolah yang ia usulkan bukanlah ide yang bagus. "Jadi, mau ke mana huh?"

Setelah Wonwoo mendengus, ketiganya lekas melempar tatapan satu sama lain secara bergantian. Menunggu hingga ada yang memutuskan suatu tempat lain. Sesuai permintaan Mingyu, tempat lain yang lebih seru.

"Aku tahu," ucap Hansol setelah sekian detik berpikir. "Taman luas di depan perpustakaan kota! Di sana pasti ramai orang."

Kim Mingyu, si lelaki dengan banyak permintaan itu mengangguk-angguk. Dia mengernyitkan dahi sambil memeluk sandaran kursi―lantaran ia duduk dengan posisi yang bukan seharusnya.

"Baiklah aku setuju."

.

.

Tibalah mereka di taman berbentuk lingkaran di depan perpustakaan kota. Taman yang tadi diusulkan oleh Choi Hansol, ternyata benar-benar ramai akan orang. Banyak remaja yang juga mengunjungi taman itu dan tampak mengerumuni antrean di sekitaran.

Ketika sudah selesai memarkir motor dan mengunci stang, Wonwoo dan kawan-kawan spontan melepas helm masing-masing. Lalu segera menyampirkan pelindung kepala itu di salah satu kaca spion pada motor mereka.

"Jadi, sekarang apa?" tanya Wonwoo. Kedua netranya mengobservasi ke alam sekitar yang tengah ramai akan orang lain. Ia tak yakin apa yang akan mereka berempat lakukan setelah sampai di tempat tujuan. Karena memang dari awal, Mingyu-lah yang ingin main ke luar. Dengan alasan bosan terus-terusan berada di dalam kamar Seungcheol. Geez, anak itu.

"Kita sudah sampai," sahut Seungcheol, melempar tatapan ke arah Mingyu. "Sekarang, apa?"

"Terserah." Tandas lelaki Kim itu, terlihat tak acuh dan santai. "Apa kau tidak lapar? Di dekat sini 'kan ada kedai ramyeon."

Sebelah alis milik Seungcheol terangkat, tepat seusai Mingyu mengatakan kalau di sekitar mereka ada kedai ramyeon. "Aku belum lapar. Kau saja yang ke sana."

Mingyu tak membalas kalimat Seungcheol secepat dia menyambar kalimat Wonwoo. Lelaki tinggi itu hanya berdiam sejenak sambil melihat keadaan di sekitar. Kedua mata disorot ke berbagai tempat yang mungkin saja akan menarik perhatiannya. Sesekali dia berdecak, gelisah karena semua tempat tampak sudah penuh dan sesak. Ibaratkan tiada lagi ruang tersisa untuk keberadaannya di sana. Mingyu tahu, rasa jenuh yang seperti ini dapat menyerang kapan saja. Kau tidak perlu repot mengambil contoh jauh-jauh. Rasa jenuh yang dimaksud sudah melandanya pada menit-menit terakhir ketika mereka masih di dalam kamar Seungcheol. Maka dari itu, ia yang sangat antusias untuk pergi ke taman, yang masih menyajikan udara segar. Meski kenyataan di depan mata tidak seindah apa yang diharapkan, tetapi Mingyu masih merasa lega sudah berkesempatan dapat mengunjungi taman yang ramai akan manusia. Membuatnya sibuk memandangi siapapun yang berjalan melaluinya. Membuatnya sibuk memperhatikan siapapun yang sedang melakukan aktivitas mereka di luar ruangan. Membuatnya sibuk melihat-lihat keadaan di sekitar dan lupa akan semua tugas-tugasnya yang ditinggalkan di rumah Seungcheol.

Sebagai jawaban, Mingyu menghela napas dalam-dalam. Lalu ia beranjak dan bersiap untuk melangkah. Mungkin ia ingin pergi sejenak? Mengunjungi suatu tempat yang ia pilih secara acak namun tetap memuaskan hatinya? Ya, mungkin saja begitu. "Kalau begitu, aku pergi dulu sebentar. Tempat berkumpul kita di sini, oke?"

Tepat sebelum sang teman beranjak lebih dulu meninggalkan ketiga teman lainnya, Wonwoo menepuk pundak lelaki itu. "Baiklah, kalau sudah selesai dan kembali ke sini, hubungi kami."

"Yeah. Itu mudah saja."

Pergilah satu orang dari tempat parkir motor, meninggalkan mereka bertiga―yang belum memutuskan akan pergi ke mana.

"Seungcheol-ah, kau mau ke mana?" Wonwoo menoleh, menepuk pundak sang teman yang kini masih bergeming. Meski pada akhirnya si lelaki hanya mendapat jawaban berupa, "entahlah, Won."

"Kalau kau, Hansol?"

"Dari tadi aku melihat toko alat musik di seberang sana, sih," jawabnya. Salah satu jari telunjuk mengarah tepat pada toko alat musik yang ia maksud. "Kau lihat 'kan? Tokonya bersebelahan dengan galeri itu."

Wonwoo menoleh ke arah tempat yang dimaksud, dengan sebelah alis yang dinaikkan. Benaknya seakan digelitiki oleh rasa penasaran yang rasanya tidak mau berhenti. Sejak kata-kata itu keluar dari mulut seorang Choi Hansol, rasanya sesuatu sedang menggema di dalam rongga otaknya. Masih kelabu apa yang kini sedang bergema itu. Belum jelas dan belum terungkap.

"Kau lihat 'kan? Tokonya bersebelahan dengan galeri itu."

Galeri…

Sederet kalimat yang pernah ia dengar dan berhubungan dengan kata galeri itu terus menggema di dalam kepalanya. Wonwoo seakan merasa tidak diizinkan untuk memikirkan atau bahkan mengingat hal selain kalimat itu. Kalimat yang sempat melintas secara langsung ke dalam indra pendengarannya.

"―kalau besok sore kau ada waktu, mau ikut aku ke galeri tidak? Kita bisa melihat banyak lukisan karya anak muda di sana."

Wonwoo seketika ingat akan tawaran tersebut. Si lelaki yang sempat menolak tawaran bagus untuk pergi ke galeri bersama Song Jia itu tampaknya sudah berubah pikiran. Lantaran acara kelompoknya sudah berubah menjadi acara individual. Tidak ada salahnya 'kan jika dia menyusul sekarang? Toh, ini masih sore hari. Dan dia―mungkin―masih berkesempatan untuk bertemu Song Jia di sana.

Akibat rasa antusias yang kian membesar, Jeon Wonwoo lekas menepuk pundak Hansol dan Seungcheol. Bermaksud untuk memberitahu keduanya kalau dia ingin pergi ke suatu tempat. Bahkan ia lekas bergegas dengan mempercepat langkah seraya berjalan mundur dan berteriak kepada sang teman.

"Kau benar Hansol-ah. Galeri!" Ia berseru, meninggalkan kedua teman dengan wajah heran mereka di tempat. Keduanya saling berbalas tatapan sambil bertanya satu sama lain; "kenapa dengannya?"

Wonwoo yang sudah sampai itu, kini sedang menoleh ke kanan dan ke kiri, dibantu oleh kedua mata yang menyorot ke seluruh penjuru ruangan. Agaknya mencari gadis yang sempat mengajaknya ke tempat ini. Sial, di mana dia.

Penglihatan pun mendadak dengan sialnya berani membuat si lelaki menjadi kebingungan akan ramainya orang di dalam. Tampak ia sedang linglung dengan pemandangan yang begitu sesak oleh banyaknya manusia yang mengantre sejak dari luar hingga ke dalam. Wonwoo merasa bingung dan agak frustrasi. Semuanya berakibat dengan rasa tak sabaran yang akhirnya ia rasakan sejak beberapa detik dia tiba. Tak sedetikpun matanya berhenti disorotkan ke seluruh ruangan. Kedua kaki yang masih melanjutkan penjelajahan singkat kini tak lagi terasa lelah. Wonwoo merasa sangat antusias hingga hampir tak ingin menyerah mencari sosok yang tengah dicari.

Namun akhirnya ia berhenti. Dasar payah, decaknya kesal. Sejenak memaksa pasokan oksigen agar terhirup mengisi kekosongan rongga dadanya. Sedikit menunduk agar tangannya mencapai kedua lutut sambil terus memasok oksigen yang akan diembus menjadi karbondioksida. Wonwoo mengindikasikan, kalau dirinyalah yang sudah bodoh untuk menyisihkan waktunya bersantai sore dengan menyusul ke galeri. Padahal, sejak awal ia ditawarkan, ia sudah menolaknya. Bahkan ia tampak enggan hari itu. Lantas, untuk apa ia menyusul? Membuang waktu saja.

Ia mendengus dan berdecak lagi. Ketika semua pikiran dan tujuannya sudah terarah kemari, ke tempat yang ramai akan remaja ini, Wonwoo malah sempat-sempatnya merutuki diri sendiri. Sebab hasil pencariannya adalah nol. Tidak membuahkam hasil apapun. Memang benar, yang ialakukan semata-mata hanya ingin menyusul gadis itu karena kebetulan ia masih memiliki kesempatan. Namun sialnya, harapan bertemu itu kini sudah pudar. Seolah tidak membekas satu titik pun di depan mata. Entah kenapa rasanya mengesalkan. Benar-benar membuat Wonwoo repot dan merasakan kalau usahanya sudah sia-sia.

"Payah." Satu kata sederhana dan cukup menjengkelkan, baru saja keluar dari bibirnya. Meski yang menyebutkan itu tidak merasa kalau sebuah kata itu baru saja iaucapkan. Bahkan tanpa dipikirkan dahulu.

Merasa pasokan oksigen sudah benar-benar memenuhi paru-parunya, lelaki itu kemudian beranjak. Ia berdiri perlahan namun sempat menahan napas selama beberapa detik.

Lamban akhirnya ia menyadari sosok yang sedang berdiri di hadapannya, beserta wajah yang sama bodohnya dengan dia.

"Song Jia?"

"Jeon Wonwoo?"

Kau berhasil!

Si lelaki tersenyum sumringah, entah kenapa dia bisa tersenyum selebar itu. Namun, rasa lega yang bercampur sesak berhasil menyulubungi seluruh rongga dadanya, tepat ketika dia berhasil menemukan Song Jia. Yang berdiri tepat di depan wajahnya.

Sejak hari itu, di mana Wonwoo berhasil menyusul Song Jia di galeri, hari-harinya mulai berubah. Perubahan yang dirasa pun sangat besar. Bisa dikatakan, kehidupannya menjadi lebih berwarna.

Warna-warni kehidupan Wonwoo dimulai ketika gadis itu mulai berani untuk bertanya tentang soal-soal tugas yang diberikan oleh Guru Nam. Tentang betapa sulitnya dia mencintai pelajaran matematika di sepanjang hidupnya. Jia juga berani untuk memulai obrolan dengan Wonwoo ketika mereka sedang berdua di kelas―tepat saat jam makan siang, di mana Wonwoo selalu membawa bekal.

Terkadang, Jia juga sering bertukar bekal dengan si lelaki. Ia tak segan untuk berbagi apa yang ia bawa, termasuk mencicipi sendiri bekal milik Wonwoo. Mereka menjadi sangat akrab untuk waktu yang terbilang singkat. Meski di awal pertemanan, Wonwoo tetaplah menjadi lelaki dingin dan begitu seterusnya. Memang 'sih, Jia merasa kalau Wonwoo itu adalah lelaki yang diciptakan dari bongkahan es batu. Yang jika kau sentuh, maka tanganmu akan terasa membeku. Sampai-sampai, ia menghadiahkan Wonwoo sebuah julukan baru. 'Manusia Es', seperti itu lah Jia menyebutnya, akibat terlalu dingin.

Hingga pernah suatu hari, Wonwoo mengajak gadis itu untuk bertemu di perpustakaan kota. Mereka melakukan banyak hal di sana. Salah satunya adalah berbagi bacaan.

Wonwoo tak pernah tahu lebih dalam tentang kehidupan seorang Song Jia. Meski sebenarnya, ia selalu mencoba untuk merangkai kalimat yang tepat untuk ditanyakan kepada si gadis. Namun, semua kalimat yang telah tersusun di benaknya, seakan-akan dihancurkan oleh bongkahan es yang terjatuh akibat guncangan. Karena dia memang sedingin itu.

"Kau tahu Percy Jackson?" Saat itu, Jia bertanya kepada si lelaki. Mempertanyakan tentang buku yang sedang dipegang Wonwoo setelah satu jam mereka tiba di gedung perpustakaan. "Aku belum baca. Apa itu seru?"

"Sst, apa kau tidak bisa tenang?"

"Aih, aku 'kan hanya ingin tahu."

Si lelaki dengan santainya menyorotkan mata kepada si gadis. Sorot matanya seolah mengatakan; "jangan ganggu aku." Dan sempat membuat Jia merasa kesal akibat tatapan seperti itu.

"Ck, tatapan macam apa itu? Menyebalkan."

Atau, pernah ketika seluruh siswa kelas 12-A diharuskan belajar ke perpustakaan sekolah, Wonwoo dan Jia selalu duduk berdekatan. Mereka memilih tempat di sudut ruangan dekat jendela, dan juga penuh dengan usangnya debu yang tebal. Karena menurut mereka, tempat itu cocok sekali jika kau ingin memiliki ketenangan bak dunia milik sendiri. Dan ternyata, Wonwoo lah yang memberitahu Jia soal pemikiran demikian.

"Jika kau berkesempatan untuk tinggal di hutan, kau mau melakukan apa di sana?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Song Jia. Lagi-lagi, ia hanya mendapat jawaban berupa tatapan tajam dari sudut mata Wonwoo. Dan berakhir dengan sebuah jawaban singkat-padat-jelas dari si lelaki. "Aku ingin membuat rumah pohon di sana. Dan isi dari rumah itu adalah ranjang sederhana untuk―"

"Tunggu! Kau mau berbuat sesuatu yang tidak-tidak di sana?!"

"―bodoh. Aku bukan tipe lelaki semacam itu. Otakmu saja yang sudah diracuni bacaan berbau dewasa."

"Tapi, bukankah itu perlu?"

"Siapa bilang? Kalau pun perlu, kenapa tidak kau simpan saja di benakmu? Kenapa harus dibahas? Ck."

"Eh, Kim Mingyu bilang, pembahasan semacam itu perlu kita dalami lho!"

Dan pembicaraan semacam itu berakhir dengan dehaman keras dari Wonwoo. Itu tandanya, si lelaki sudah tidak tertarik untuk melanjutkan topik pembicaraan yang sama. Ia justru menggumam soal Jia di akhir obrolan, dasar byuntae (mesum).

Ada pula momen di mana mereka mendapat jadwal piket yang sama, Jia lupa akan jendela kelas yang belum dibersihkan. Dia malah pergi entah ke mana, meninggalkan Wonwoo sendirian di kelas. Sehingga Wonwoo lah yang berinisiatif untuk melakukan tugas sepele itu.

Si lelaki memutuskan untuk pergi keluar kelas menuju gudang kecil di ujung lorong. Tentu saja untuk mencari alat kebersihan, sekaligus membuang isi tempat sampah yang sudah penuh dari kelasnya. Dan ketika sampai, yang ia lihat di gudang bukan hanya alat kebersihan. Di sana duduklah seorang gadis yang ia kenal. Bahkan sudah akrab dengannya.

"Jia-ya, sedang apa kau?"

"Eh? Kau tidak bisa lihat?" Jia mendengus ketika mendapati Wonwoo memergoki dirinya―yang sedang membaca komik di dalam gudang alat kebersihan. Kepalanya dimiringkan ke kiri sambil sedikit menengadah. Kedua bola mata disipitkan dengan kedua alis yang bertaut. Heran, kenapa lelaki dingin itu bisa menemukannya. "Aku sedang membaca komik, Tuan Jeon yang rajin."

"Hm," sahut Wonwoo singkat. Matanya dengan sigap menyorot ke arah alat yang dicari. Sesegera mungkin ia meraih alat itu dan berbalik. Ia bermaksud untuk bergegas dan pergi dari sana. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan Jia, Jeon Wonwoo memberi isyarat bahwa ia akan kembali ke kelas. "Kalau kau tidak keluar dari sini dalam sepuluh detik, akan kupastikan kau tidak makan malam di rumah."

Dan, Blam!

Pintu tertutup dengan ancaman dari Wonwoo yang hampir berhasil menjadi nyata. Song Jia benar-benar ditinggalkan di dalam gudang kecil penuh debu itu, sendirian. Bahkan si lelaki tampak tak peduli jika Jia masih ada di dalam sana. Ia tak mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas, lalu membersihkan kaca yang kotor dan pulang dengan tenang. Tapi, belum sampai langkahnya mengantar ia sampai ke depan kelas, Wonwoo malah berbalik arah dan mendengus ketika telinganya terasa panas akibat seruan dari dalam gudang. Plus, suara pintu gudang yang tampaknya diketuk dengan keras berkali-kali dari dalam. "Anak itu," protesnya.

Dan hari ini, sudah genap satu purnama kedekatan antara Jia dan Wonwoo terjalin. Kehidupan Wonwoo yang semakin berwarna membuatnya lupa akan keluh kesahnya di hari-hari sebelumnya. Ia juga terkadang mengajak Jia bermain bersama ketiga sahabatnya. Juga berkenalan dengan kesembilan teman di dua kelas yang lain.

Hari ini, Wonwoo sudah berjanji ingin mengajak Jia bermain ke rumah Hansol, tentu dengan Mingyu dan Seungcheol. Mungkin mereka akan melakukan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya ketika sedang berlima. Atau, memikirkan hal yang belum pernah dilakukan. Dan kali ini, Wonwoo lah yang mencetuskan ide untuk berkumpul sepulang sekolah.

Dia yang kini sedang bersandar di dinding kelas tepat di belakang kursi miliknya, sedang menunggu jawaban dari Kim Mingyu dan Choi Seungcheol. Tentu saja jawaban atas idenya. Tidak perlu repot lagi untuk bertanya soal pendapat Hansol. Karena Hansol adalah orang yang easy going, dan selalu mengikuti arus asalkan itu berakhir seru.

"Pulang sekolah ya?" Seungcheol menyahuti. Sebelah alisnya terjungkit ke atas. Dari kursinya ia beranjak dan duduk di kursi milik Wonwoo. "Kalau satu jam setelahnya, apa boleh?"

Wonwoo menunduk, sepasang alisnya menyatu. "Satu jam? Aku bisa saja begitu. Tapi kalau Mingyu, 'sih tidak tahu."

"Kalau urusan berkumpul, aku adalah rajanya, man. Kita mau ke rumah Hansol, 'kan?"

"Hm, benar," sahut Wonwoo menanggapi kalimat milik Mingyu. "Gadis ini juga ikut. Boleh 'kan?"

Karena aku sudah berjanji padanya.

Wonwoo menunjuk kepada Song Jia yang kini tengah menidurkan kepala di atas meja. Mengabaikan semua perbincangan yang sedang berlangsung di sekitarnya.

Setelah saling berbalas tatapan, Mingyu dan Seungcheol bersama-sama mengedikkan bahu mereka, dan berakhir mengatakan; "terserah kau saja."

.

.

Sore hari, pukul 17.00

Di sebuah penyebrangan jalan, Song Jia tampak sedang menggiring sepedanya sambil menunggu lampu penyebrang menyala. Dia tampak berpakaian sederhana dengan sebuah senyum lebar di wajahnya. Mengingat kalau sore hari ini ia akan bermain bersama keempat teman sekelasnya, maka ia bersiap-siap lebih awal. Tentu saja ia bermaksud untuk tidak terlambat. Karena jika ia terlambat, ia pasti merepotkan.

Di tengah-tengah waktunya menunggu lampu penyebrangan, dering ponselnya mendadak terdengar. Membangunkan ia dari lamunan sesaatnya. Tangannya dengan cepat merogoh ke dalam saku, melihat nama siapa sedang tertera di layar. "Jeon Wonwoo?"

Ia segera mengangkat panggilan dari seberang telepon. "Ada apa? Hah? Oke, baiklah. Aku segera ke sana."

"Ada apa sih? Kenapa jadinya ke sini?"

Sesampainya Jia di tempat yang diinstruksikan Wonwoo melalui telepon, gadis itu lekas mengutarakan protesnya kepada si lelaki. Bagaimana tidak, rencana yang sudah tersusun apik dari awal―yang mana tadinya akan main ke rumah Hansol―malah harus digantikan ke tempat yang melenceng dari rencana. Jia terlihat kesal saat ini, kekesalannya dapat dilihat pada wajah yang memerah dan kerutan pada keningnya. "Kenapa kau jadi tidak konsisten sekarang?"

Wonwoo hanya bergeming. Tidak satu detikpun dua obsidian pekat miliknya teralihkan dari wajah si gadis. Tak satu detikpun bibirnya terbuka bahkan hanya untuk menjawab pertanyaannya. Yang Wonwoo rasakan saat ini; berdiri di depan Song Jia malah membuatnya terlihat kikuk jika mereka sedang berlima. Tak menutup kemungkinan, kalau dia sedang merasa ada yang aneh dan salah dengan dirinya. Sering kali merasa salah tigkah kalau Mingyu menggodanya pasal kedekatan dia dan Jia. Ia bahkan tak tahu harus berbuat apa, untuk menjawab saja rasanya enggan.

"Wonwoo-ya?"

"…"

"Hei, ayolah jawab aku."

"…"

Jia mulai merasa gerah. Baru saja dia tiba, tapi atmosfer yang hadir di tengah-tengah mereka malah berubah menjadi semakin panas. Kekesalan yang iarasakan bertumbuh semakin besar. Semua itu terjadi, akibat Wonwoo. Salahkan dia jika ketidak-konsistenan dirinya dalam membuat rencana. Baru saja beberapa jam yang lalu di sekolah, ia mengutarakan usulnya untuk berkumpul di rumah Hansol. Namun, kenyataan yang ialaksanakan justru berakhir di sebuah gang sempit antara gedung perpustakaan kota dan galeri.

"Untuk apa kita jauh-jauh ke sini? Apakah rumah Hansol berada di dekat sini?"

Si lelaki masih bergeming dan tampak memberi mimik wajah khas andalannya, yaitu sebuah tatapan datar yang tak mengandung arti apapun di dalamnya. Bahasa tubuhnya masih sama diamnya. Kedua tangan tetap berlindung dalam hangatnya kantung jeans, bersama dengan tubuh kurus yang terbalut hoodie abu-abu. Dan kali ini, Wonwoo memakai kacamata bulatnya, memandang tajam wajah kesal Song Jia dari sudut matanya.

"Kalau begitu," ucap Jia. Ia bersiap untuk segera pergi dari sana sembari menggiring sepedanya. "Lebih baik aku pulang saja, dari―"

"Aniyeo Jia-ya. Tahan dulu." Pada akhirnya, si lelaki mencegat maksud Jia untuk pergi dari gang itu. Sebelah tangannya meraih salah satu stang sepeda milik Jia, bersamaan dengan sebelah kakinya yang menahan roda belakang dari sepeda itu. Ia menatap kedua mata Jia, mulut sedikit terbuka maksud untuk kembali berbicara. Dengan kaku ia menggerakkan bibirnya dan mulai mengeluarkan satu kalimat singkat, "tunggulah sebentar."

"―tunggu? Untuk apa? Bukankah rencana kita sudah salah dari awal?"

"Aku tahu itu. Mianhae. Tapi, ada suatu hal," urainya, menjelaskan sederet kata yang sudah ia susun selama bergeming.

"Ada apa, Won? Katakanlah sebelum aku berubah pikiran."

Wonwoo berdeham seraya melepas tangannya dari stang sepeda itu, menaruh seluruh perhatiannya kepada wajah si gadis. Pandangan yang terkesan dalam dan tajam itu membuat Jia terpaku sejenak pada mata lawan bicaranya. Namun siapa yang tahu, kalau sekarang ini, Song Jia tengah merasakan hal aneh sedang menembus dirinya. Seingatnya, berteman selama sebulan lebih dengan Wonwoo dia tidak pernah ditatap sedalam itu, dan kini adalah kali pertama ia mendapat tatapan itu. Sungguh sebuah hal yang tidak biasa. "Wonwoo, kau baik-baik saja?"

Si lelaki mendadak terdiam. Layaknya tidak ada satu hal pun yang hendak keluar dari mulutnya. Layaknya semua yang sudah ia susun secara apik di dalam kepala telah buyar begitu saja. Tanpa ada satu pun yang tersisa.

"Ayolah Jeon Wonwoo, sekarang kau hanya melamun. Melamunkan apa huh?"

Wonwoo masih terdiam. Semua pandangan ia kerahkan tepat pada wajah Song Jia. Bahkan tak terlewat satu gerakan pun. Matanya selalu mengekor ke mana pun Jia memperhatikannya. "Uhm, Jia-ya," panggilnya. Tampak sudah siap akan berbicara apa.

"Ada apa?"

"Aku―" kalimatnya menggantung. Yang kemudian disusul oleh kepala yang menengadah, membuat Jia semakin penasaran akan kelanjutannya. "―aku ingin tahu keseharianmu."

Apa aku mengatakan yang salah?

Song Jia kemudian tersentak. Dua obsidian miliknya membulat sempurna. Wajah yang tadi tampak kesal kini menunjukkan semburat merah yang menyebar di sekitar dua pipinya. Bukan tidak ingin memberi tahu pasal keseharian yang ia alami di setiap harinya. Jia hanya bingung harus memulai dari mana. Bahkan kalimat pertanyaan Wonwoo masih berputar-putar dan memaksa untuk diingat di dalam otaknya. Apapun itu, Jia hanya tidak bisa berkata-kata saat ini. Dua pasang obsidian milik mereka hanya terpaku satu sama lain. Kedipannya bahkan terlaksana secara bersamaan.

"Jia-ya, apa aku salah?"

"Apa hanya karena itu, kau beralasan menyuruhku untuk datang kemari?". Wonwoo berdeham. "Ekhm, tidak juga."

"Lalu?"

"Lalu apa? Aku hanya ingin tahu itu."

"Sungguh?"

"Sungguh."

Kali ini Song Jia lah yang berdeham. Menunggu ada sesuatu yang bisa ia jadikan bahan cerita dengan awal yang tepat dan kelanjutan yang tidak melenceng. Karena Jia tidak mau berbohong apalagi sampai mengarang cerita tentang kehidupan sehari-harinya. Kendati dirasa sulit, Jia lebih memilih untuk bercerita masa SMA-nya saja. Ketimbang dari masa Sekolah Dasar.

"Baiklah," kata Jia, memulai. Satu tarikan napas kemudian disusul dengan suara hembusan keras, dan ia sudah siap.

Ia memulai dari pertama kali ia resmi menjadi murid SMA. Masuk ke sekolah favorit itu adalah impiannya sejak ia duduk di bangku SMP. Menjadi bagian dari sekolah dengan kehebatan tim basket laki-laki yang sudah terkenal, adalah angannya sejak ia memasuki kelas delapan. Saat itu, ia berpikir kalau hidupnya akan sedikit mengalami perubahan. Ia ingin membuat kedua orang tuanya bangga jika ia berhasil. Dan ternyata, ia sudah mewujudkan impian itu. Meski nilainya untuk memasuki SMA itu terbilang pas-pasan, namun ia masih memenuhi kriteria persyaratan.

Usai menjalani perjuangannya menjadi murid kelas sepuluh dan naik ke kelas sebelas, Jia sempat berada di titik jenuh. Masa itu, ia hampir tidak memiliki teman. Hampir seluruh murid di kelasnya, tidak menganggapnya berada di kelas yang sama. Hal itu membuatnya merasa tidak berguna. Sehingga, menangis di dalam kamar kecil khusus perempuan adalah kegiatannya―jika sedang mendapat diskriminasi berat dari sesama siswi.

"Ayah dan ibuku bercerai saat aku hendak mendaftar SMA, dan ibuku hanya seorang pedagang kecil yang masih mampu menyekolahkanku hingga detik ini."

"Jia-ya, mianhae." Wonwoo menengadah ketika menemukan ada raut penyesalan di wajah si gadis. Bahkan semburat merah itu tampak semakin menjadi. Mereka menjalar di seluruh pipi Song Jia hingga memenuhi seluruh wajahnya. "Aku tidak bermaksud."

"Ah, aku tidak apa-apa. Salahku, kenapa aku malah menceritakan masa laluku."

"Tidak, tidak!" Nada bicara si lelaki Jeon kini mulai meninggi. Ia tampak terbakar perasaan aneh yang membuatnya semakin bersabar untuk menunggu kelanjutan kisah gadis itu. Ia tidak peduli lagi akan waktu yang terus berlalu. Upayanya membatalkan sesuatu agaknya tidak sia-sia. Ya, jujur saja, Wonwoo sudah rela membuat alasan yang benar-benar sulit untuk dibantah oleh ketiga sahabatnya.

"Kau tidak perlu merasa bersalah," ucap si lelaki, masih tampak dingin dan kaku. Namun, rasa kaku dan dinginnya tidak untuk sorot matanya. Ia benar-benar tidak tahu akan kenyataan yang sudah menimpa gadis yang kini sudah hadir dalam kesehariannya.

"Tapi, bukankah yang kauminta hanya keseharianku? Lalu kenapa―"

"Tidak masalah." Wonwoo mengacak puncak kepala Jia. Sejenak tersadar, lalu kembali menjadi Wonwoo si Manusia Es.

Ya, Jeon Wonwoo, kenapa kau malah menyentuh kepalanya, huh?

"Lalu kaupikir, masa-masa itu tidak termasuk? Tentu saja itu masih bagian dari keseharianmu. Kaubilang, hampir setiap hari kau bersembunyi di toilet siswi hanya karena diskriminasi 'kan?"

"Lalu, dengan alasan apa kau tidak juga mengajakku untuk bermain ke rumah Hansol?"

"Itu? Uhm, bagaimana―" ia mulai tergagap. Sesungguhnya, alasan untuk Song Jia sudah tersusun dan melekat di kepalanya. Namun, entah karena apa, ia mendadak menjadi pengidap amnesia.

"Bagaimana, apanya?"

"―aku membatalkannya. Dan mereka setuju. Lagi pula, Seungcheol punya kesibukan sepulang sekolah, dan satu jam itu belum cukup untuknya."

Song Jia tidak menunjukkan kalau ia percaya begitu saja. Sebelah telunjuknya diarahkan kepada Jeon Wonwoo. Kedua matanya disipitkan. Lengkap dengan sebuah decakan keras dari mulutnya. "Ck, ternyata kau adalah rivalku."

"Rival apa?" tanya Wonwoo cepat, seraya menyingkirkan telunjuk milik si gadis dari hadapannya.

"Rival dalam membuat alasan. Kau baru saja berbohong kepada mereka, 'kan? Jujur."

Wonwoo bergeming sesaat. Menunggu akan ada tuntutan apa lagi yang dikerahkan Song Jia untuknya. Lantaran tebakan gadis itu tepat pada sasaran, maka si lelaki pun dengan pasrah mengangguk. "Sebenarnya―baiklah. Kau memang benar."

"Sudah kuduga."


Dan akhir dari sore yang menyebalkan itu, Jia dan Wonwoo pun memutuskan sesuatu. Usai berbincang di gang antar dua gedung, keduanya lalu bersepeda―kendati yang menaiki sepeda hanya Song Jia dengan Wonwoo yang berjalan di sisinya―di sepanjang perjalanan menuju tempat di mana motor Wonwoo terparkir.

Mereka tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas. Tidak sekali pun. Di sepanjang perjalanan singkat itu, mungkin keduanya akan terlihat seperti; Jia sedang mewawancarai Jeon Wonwoo, dengan si lelaki sebagai narasumber. Kenapa begitu? Karena yang selalu punya topik pembicaraan beserta pertanyaan adalah si gadis. Meski terkadang Wonwoo menjawab pertanyaannya dengan malas, kaku, dan bahkan hanya berupa dehaman singkat, namun, Jia tidak pernah marah akan balasan itu. Dia justru kerap mengganggu si lelaki jika pertanyaan yang iaajukan hanya dibalas dengan jawaban singkat. Atau, dia akan memekik seperti ini; "ya, Jeon Wonwoo!". Dan tidak jarang, ia memukul pundak Jeon Wonwoo sekuat yang ia bisa. Selama itu tidak mematikan.


Ya, kalau kau beranggapan bahwa kehidupan Wonwoo mulai terasa tidak membosankan, kau benar. Bahkan yang mengalami saja―Jeon Wonwoo―merasakan akan adanya perubahan dalam hidupnya. Salahkan Song Jia, si gadis aneh tidak bisa diam dan selalu punya cara untuk membuat Wonwoo setidaknya, tertawa. Kendati hanya sesekali. Tetapi, Wonwoo sendiri tidak bisa menangkis kenyataan itu. Dia cukup bersyukur akan perubahan di dalam hidupnya. Yang tadinya hanya hitam putih, lalu hampir memudar menjadi abu-abu, kini mulai berwarna.

Semua itu berkat kehadiran si gadis. Dan sudah seharusnya ia bersyukur. Ternyata Tuhan memiliki rencana yang baik; adalah salah satu kalimat yang sempat hinggap di dalam benaknya.

"These days, my daily life changed slightly. It's so iridescent."Jeon Wonwoo.

.

.

To Be Continued

Welcome back! Sorry for the absurd words of this third fanfic. Maafkan aku wahai para pembaca T-T. Aku tahu penggunaan bahasa di chapter ketiga ini justru lebih berantakan―banget malah―dari pada dua chapter sebelumnya /jiah pede banget. Karena saat mengetik ini, aku sedang berada di titik jenuh yang benar-benar membuat aku hampir putus asa untuk melewatinya. Mungkin kalian pernah mengalami hal yang sama.

Aduh kenapa jadi curhat sih thor? Skip.

Oke, jadi apa menurut kalian setelah membaca chapter ketiga ini? Karena jujur aja, aku agak aneh saat baca ulang. Pengennya sih diketik ulang. Tapi aku sedang jenuh berat, jadi aku berusaha semaksimal mungkin agar penyampaiannya tetap mudah untuk dimengerti. Semoga kalian bisa memaafkan aku dan karyaku yang tidak seberapa ini ya T-T, see you on the next chapter!

Dear beloved readers, mind to RnR before leaving this site?

Thanks!^-^