Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only
Warnings : AU, OOC, language—maybe? May contain Sho-ai in the next chapters, semi-drabbles
"Nanny Vi, Nanny Vi! Aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan tugas bahasa lagi!"
Sesosok anak kecil bermata cerulean berlari-lari sepanjang jalan dari kamarnya ke ruang tengah yang temaram sambil memegang buku tebal bersampul marun. Jam dinding besar di ruangan itu berdentang sembilan kali. Matanya yang bulat-besar bergerak-gerak sedikit liar, dengan semangat mencari sosok wanita paruh baya dengan rambut sanggulnya yang sudah dipenuhi uban. Setiap sudut ruangan besar itu sudah ditelitinya, namun negatif. Seseorang yang ia cari tidak ada di sana.
"Nanny Vi? Kau dimana? Apa kau masih sibuk mengurusi sayuran di dapur?" selorohnya sambil berlari ke arah dapur yang gelap, yang berarti tidak ada tanda-tanda ada orang di sana. Hal itu membuat dahi anak kecil itu berkerut. Kemanakah orang yang dicarinya?
Dengan kecepatan berlari yang lebih pelan, anak itu menghampiri sebuah kamar yang berada di paling belakang. Sesampainya di tujuan, ia mengetuk pintu perlahan.
"Nanny Victoria, kau ada di dalam?" tanyanya. Tidak ada jawaban. Ia menunggu sejenak, lalu mengetuk lagi. Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia menyerah. Ia mengayunkan gagang pintu dan mendapati ruangan kecil dan rapi itu dalam keadaan kosong.
"Nanny?" ia masih berusaha memanggil pengasuhnya itu. Percuma saja. Tidak ada orang. becah sepuluh tahun itu menghela nafas, mafhum. Mungkin Nanny-nya itu sedang pergi ke mini-mart untuk membeli beberapa keperluan kamar mandi. Pagi sebelumnya, anak itu mendapati botol sabunnya cuma terisi tidak lebih dari seperdelapannya. Ia mengangkat bahunya santai sebelum berbalik menuju kamarnya. Di perbatasan antara pintu dan lorong luar, Ia mendapati kaki kanannya menginjak sesuatu yang kesat dan dingin. Anak itu berjongkok untuk mengamati benda yang diinjaknya lebih dekat.
Sebuah surat.
"Apa ini?" Ia mengamati surat bersampul kecoklatan itu seraya berjalan kembali ke ruang tengah. Ia duduk di single sofa, lalu merobek sampul surat itu sembarangan. Di dalamnya ada selembar kertas yang dilipat tiga dengan rapi. Ciel mengenali tulisan di kertas itu, tulisan pengasuhnya. Ia membaca surat itu setengah berbisik.
Ciel sayang,
Aku yakin kau saat ini sedang mencariku dan kau berlari ke kamarku dengan wajah binggung dan, yah, akhirnya kau menemukan surat ini. Sebelumnya, aku minta maaf atas semua yang sangat tiba-tiba ini. Aku harus kembali ke Modesto hari ini juga karena sesuatu hal yang tidak kuduga. Albert, suamiku, meninggal dunia. Aku ingin berpamitan denganmu tadi sore, tapi kuintip di kamarmu kau sedang sibuk mengerjakan setumpuk tes tertulis dari tutormu. Aku ingin menunggu, tapi saudaraku menjemputku lebih awal. Aku benar-benar minta maaf, sayang. Aku harus mengurusi pemakamannya dan anak-anakku di sana. Kuharap aku bisa kembali ke Manhattan secepatnya.
Nanny Victoria
Anak itu terdiam. Hatinya mencelos, antara karena turut berduka dan... sedih. Sedih, lagi-lagi ditinggal sendirian. Ia mengerjapkan matanya yang mulai terasa perih kuat-kuat. Lalu ia berbalik menghadap buffet table di samping sofa tempatnya duduk. Ia mengangkat gagang telepon yang ada di meja itu dan menekan beberapa tombil angka dengan telunjuknya yang kecil. Ia menekankan bagian voice receiver ke telinga kanannya. Yang bisa ia dengar hanya nada 'bip' cepat tiga kali, tanda jaringan sibuk. Lima kali seperti itu, sampai ia mencoba menhubungi nomor telepon lain yang dihapalnya. Setelah beberapa nada sambung, akhirnya seseorang menjawab panggilannya. Sebelum yang di seberang sana menjawab, anak itu dengan buru-buru mengeluarkan isi pikirannya.
"Mum, kau dimana? Kenapa Dad tidak menjawab panggilanku? Lalu apa kau tahu kalau Nanny Vi pulang ke Modesto? Mum, kau disana?"
"...Maaf, adik siapa? Ada yang bisa kubantu?"
Yang menjawabnya adalah suara asing. Lembut seperti suara ibu yang dikenalnya, tapi asing. Sadar orang itu bukan ibunya, ia buru-buru minta maaf.
"Oh, maaf. Aku hanya... um... apa Mum—maksudku, Rachel Phantomhive— ada disana? Bisa aku berbicara dengannya?"
"Oh, Dokter Phantomhive? Boleh aku tahu namamu, dik?"
"Aku Ciel, Ciel Phamtomhive. Anaknya."
"Baiklah. Mohon tunggu sebentar ya, Ciel." setelah itu terdengar bunyi orang berbicara samar-samar, sampai suara yang ditunggu-tunggunya berbicara di balik speaker.
"Halo, Ciel? Ini Mum. Ada apa?" kata suara lembut itu.
"Mum! Aku... aku, eh, kenapa Dad tidak menjawab teleponku? Padahal dia sendiri yang menyuruhku untuk menghubunginya pertama kali jika sesuatu terjadi!" ia bercerita cepat sekali sampai hampir tersedak. Namun ia hanya mengakhiri kalimatnya dengan batuk pelan.
"Jam segini... mungkin di China masih pagi, dear. Ayahmu pasti sedang menghadiri pertemuan. Sebentar—oke, Turner, aku segera ke sana—aku tahu kau pasti akan bertanya soal Nanny Vi, benar, dear? Ia sedang terkena musibah, sayang. Suaminya baru saja berpulang. Ia memberitahuku segera setelah ia mendapatkan kabar itu dari kampung halamannya. Dia tidak sempat berpamitan denganmu, jadi ia memberimu surat, katanya ia taruh di depan kamarnya. Aku yakin kau sudah membacanya, karena itu kau meneleponku. Sepertinya ia tidak akan kembali dalam waktu yang lama, mengingat anak-anaknya yang masih belum berkeluarga. Akan sulit baginya untuk meninggalkan mereka tanpa bekal apapun, apalagi setelah kepergian Albert." tutur Rachel tak kalah buru-buru. Ciel menggaruk pipinya yang tidak gatal, tanda sedikit canggung.
"Begitu?" nada suaranya sedikit parau. Tapi terlintas di benaknya dengan tindakan baik macam apa yang akan dilakukan orang tuanya. Ia sangat berharap, setidaknya Rachel, bisa menemaninya di rumah selama Nanny Victoria pergi. Ia melanjutkan dengan tidak sabar.
"Jadi bagaimana denganku? Setiap malam Mum bisa..."
"—Ciel, akan kuusahakan untuk mencari pengasuh baru untukmu. Nanti akan kudiskusikan tentang hal ini dengan Dad. Nanti kita bicara lagi—oh Tuhan, Turner! Jangan berteriak seolah aku tidak bisa mendengarmu! Bahkan obat biusnya pun belum bekerja!—oke, dear? Sampai mana tadi? Oh iya—nanti kita bicara lagi. Masih banyak yang harus Mum kerjakan. Hati-hati di rumah."
Tut. Tut. Tut.
Bocah itu sempat membuka mulutnya untuk berbicara sebelum ibunya menutup telepon. Ia terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan ibunya di seberang sana. 'Nanti kita bicara lagi'. Kapankah itu? Tiga minggu lagikah, seperti sebelumnya?
'Mencari pengasuh baru'? Artinya bukan ibu atau ayahnya-lah yang akan menemaninya setiap malam.
Dadanya sesak. Ia menunduk, menatap buku tebal yang ia bawa sejak tadi. Alice in Wonderland. Tugas bahasa-nya, untuk esensi materi resensi dari tutor bahasa-nya yang baru. Buku yang bercerita tentang seorang gadis bernama Alice yang terjatuh ke lubang yang dalam dan tersesat di dunia bernama Wonderland. Ia bertemu banyak orang—bukan, makhluk—aneh, sebagian bermaksud membantunya, namun hanya membuat gadis itu semakin bingung. Dengan begitu banyak makhluk yang ditemuinya di Wonderland, sebaliknya, ia merasa kesepian. Linglung karena sendirian. Namun Alice dengan keberaniannya menghadapi semua keganjilan dan masalah-masalah yang menghadangnya, sendirian.
Tidak. Dia bukan Alice.
Alice tersesat di dunia antah-berantah, sedangkan dia tidak.
Alice mengenal banyak teman, sedangkan dia tidak.
Alice punya keberanian untuk menghadapi segalanya sendirian, sedangkan dia tidak.
Dia tidak boleh, dan tidak bisa menjadi Alice. Di satu sisi, ia dituntut untuk menjadi Alice.
Mempunyai keberanian untuk menghadapi segalanya sendirian. Keberanian untuk membuatnya bertahan dari situasi seperti ini.
Dia menggeleng, menyangkal. Tapi dia harus.
Semuanya begitu rumit.
Bahunya bergetar. Wajahnya memanas menahan luapan emosi. Ia sudah tidak tahan lagi. Anak itu berlari ke kamarnya dengan pandangan yang mengabur. Satu kecerobohan membuatnya terjatuh di lorong yang gelap.
Seperti Alice yang baru saja terjatuh ke lubang yang dalam menuju Wonderland.
000
BRUK!
"Aduuh!"
Ciel mengusap-usap punggung bagian kirinya yang sukses 'menjotos' lantai. Ia meringis, merutuki lantai yang tidak punya salah apa-apa seperti orang bodoh. Kepalanya sedikit pusing, merasa jetlag karena terbangun tiba-tiba. Ia memandang sekelilingnya, merasa asing, hampir lupa kalu dia baru saja pindah rumah. Ia memijit kedua sisi dahinya,mencoba menghilangkan rasa pusing. Ciel menoleh ke arah jendela dan mendapati pendar matahari yang bersinar kuning-jingga. Jam mejanya menunjukkan hampir jam 4.
"Ya ampun, aku sudah tertidur selama itu. Seperti beruang saja." gumamnya sambil duduk kembali ke atas tempat tidur. Ia menekuni ulang jam mejanya itu. Hampir jam 4. Jam 4... dan ia teringat sesuatu. Pemuda itu meraba-raba bed cover di sekitar bantal. Ia menemukan ponselnya di pinggiran tempat tidur, nyaris jatuh saat tangannya menyenggol bantal. Ia membuka kunci ponselnya dan mendapati beberapa pemberitahuan.
1 missed call
3 new messages
Ia memeriksa panggilan tak terjawab terlebih dahulu.
Missed call. (1)Alois. Friday, Aug 29 10.38 a.m
Sudah kuduga, batinnya. Lalu ia beralih ke pesan masuk.
From : Alois
Haha! Kau tahu dari mana? Kupikir akan jadi lebih spesial kalau aku membuatnya menjadi surprise! Baiklah, akan kuusahakan untuk datang. Aku sedang ada urusan di luar. Ow, aku harus membayar berapa padamu, Ci-el? Dompetku tipis. Bagaimana kalau kubayar dengan sesuatu selain uang? Seperti... diriku sendiri? XD
Friday, Aug 29 08.55 a.m
Ciel memasang muka yang menyatakan 'what the—?' setelah membaca pesan pertama. Dasar Alois. Anak satu itu memang selalu punya pikiran yang aneh-aneh.
From : Lizzy
Ciel! Kenapa tidak bilang kau sudah sampai di Oakland? Aku SANGAT tidak terima mengetahui berita baik ini dari si tengil Trancy! Apa kabarmu, hm, sepupu?
Friday, Aug 29 12.04 p.m
Ciel tertawa geli. Ia heran sekali, sampai kapan kedua orang itu terus-terusan menjadi seperti tikus dan kucing di kartun kesukaannya? Sambil terus tertawa, Ciel membalas pesan singkat Lizzy seperlunya. Setelah itu ia membaca pesan yang ketiga.
From : Alois
Ciel, sepertinya aku tidak bisa kerumahmu jam 4 nanti, karena kata Bibi Francis... orang tuamu akan mengadakan acara malam ini! Dude, kenapa kau tidak beritahu aku? Kau bermaksud untuk balas dendam, eh? Aku merasa seperti orang bodoh karena Lizzie-centil itu menertawakanku kalau aku tidak tahu kami akan mengunjungimu nanti malam -_- dan kenapa kau tidak balas pesanku? Apa kau sedang sibuk menikmati rumah barumu, Ci-el? Hahaha. Sampai jumpa nanti malam!
Friday, Aug 29 15.40 p.m
"...Dasar orang aneh." simpulnya. Sepupu-angkatnya yang satu itu memang tidak pernah bertindak dalam lingkaran rasionalitas. Ia tertawa pelan sebelum kembali mengerinyitkan dahinya karena pesan singkat si pirang yang dilihatnya tadi pagi itu. Ia buru-buru menyentuh pad screen seolah secara random di ponselnya.
To : Alois
Maaf, aku ketiduran. Ngomong-ngomong, aku sama sekali tidak tahu Mum dan Dad akan mengadakan acara malam ini. Kukira malah mereka akan beristirahat seharian. Jadi kuanggap kita impas. Aku lebih memilih kau tidak membayar apa pun daripada diberi tawaran seperti itu. Jadi nanti kalian berlima akan berkunjung? Dear Lord. Kuharap Bibi Francis tidak akan meneriaki poniku kali ini!
"Send." Ciel bergumam sendiri. Ia menaruh ponsel itu di sampingnya dan mulai membenahi penampilannya. Baik wajah dan pakaiannya kusut sehabis tidur. Tidak sampai 2 menit, ponselnya kembali menampilkan pemberitahuan pesan masuk.
From : Alois
Perbaiki gaya tidurmu itu, orang kota. Kau terlalu dalam masuk ke dunia mimpi sampai tidak mengetahui berita tentang dunia nyata. Tenang saja, Bibi Francis sekarang sudah tidak se-strict itu dalam hal hairstyle... walau harus kuakui dia masih sedikit norak.
...Kau bercanda? Maksudku, kami semua. Seluruh penghuni Monday Dew 4th akan datang di acara makan malam di orang tuamu tidak memberitahukan itu?
Friday, Aug 29 15.53 p.m
Kalau ini adalah anime dan entah bagaimana Ciel tengah minum, mungkin saat ini dia sudah menyemburkan minuman yang ada di mulutnya dengan sound effect berlebihan sampai-sampai cat dinding di hadapannya luntur.
"Apa?" sontak ia berdiri dari kasur. Bodohnya, ia tidak memerhatikan kardus-kardus penuh barang di depan kakinya dan alhasil... ia sukses terjatuh untuk kedua kalinya dan menimbulkan bunyi berisik dari isi kardus yang jatuh berceceran.
"Aduuh! Sial!" bentaknya. Ia bangkit berdiri dan memegangi bagian sikunya yang menahan lantai saat jatuh sambil meringis kesal.
"Ciel, sayang? Kau tidak apa-apa di atas sana?" terdengan suara Rachel yang kaget bercampur khawatir dari lantai bawah.
"Ya—uuugh—yeah, Mum! Aku baik-baik saja!"
"Tapi aku mendengar sesuatu yang tidak baik-baik saja! Kau perlu aku mengecekmu ke lantai atas, dear?" tanya Rachel lagi.
"Aku hanya tersandung, Mum!" Ciel berusaha meyakinkan ibunya. "Tidak usah, aku saja yang turun ke bawah!
Remaja tanggung itu buru-buru memakai sandal rumahnya dan berlari kecil menuju lantai dasar. Dari arah dapur, terdengan bunyi desis yang hilang-timbul dan aroma yang membuat air liurnya menggenang. Benar saja, ibunya itu sedang sibuk berkutat dengan beragam macam bahan makanan dan peralatan dapur di hadapannya. Di counter bar perbatasan antara dapur dan ruang makan, Ciel bisa melihat berpiring-piring hidangan yang sudah siap yang beberapa diantaranya ditutupi wrapping plastic.
"Wow," Ciel terpana melihat sekian banyak hidangan yang menggugah selera di depannya. "Serius, Mum? Kita akan mengadakan acara makan malam dan mengundang tetangga sekitar?"
"Seperti yang kau lihat." Rachel meneruskan pekerjaannya dengan tuna fillet dan pisau di tangan kanannya. "Hm, rasanya Mum belum memberitahukanmu soal ini. Bagaimana kau bisa tahu?"
"Alois yang memberitahuku. Tadi kami saling berkirim pesan. Ngomong-ngomong, mana Dad?"
"Ayahmu sedang pergi membeli cake di toko kue dari tadi siang, sekalian berkeliling untuk mengundang para tetangga untuk datang malam ini."
"Mum curang sekali, kenapa aku tidak diberi tahu lebih dulu! Setidaknya aku kan juga bisa ikut membantu Mum." Ia pura-pura cemberut.
"Kau saja tertidur sangat pulas seperti orang yang baru diberi sedatif, Nak." Vincent muncul dari arah ruang keluarga dengan kunci mobil di saku kanan celana dan beberapa kotak cake di kedua tangannya. Agaknya dia baru saja kembali dari toko kue. "Mana tega kami membangunkanmu hanya untuk hal sepele ini?"
"Maaf? Sebelah mananya yang sepele?" Rachel menyelipkan nada sarkastik di ujung kalimatnya.
"Dad kejam. Dapur itu kan sama saja dengan medan perang bagi ibu-ibu." Ciel tergelak melihat ekspresi Rachel yang seolah-olah akan melempar pisau di tangannya ke wajah Vincent.
"Oops. Salah bicara, Chef Phantomhive."
Satu potong kentang kupas melayang.
"Ngomong-ngomong," Ciel menginterupsi sebelum ayahnya balas melempar kotak cake ke arah dapur, "tadi kalian belum menjawab pertanyaanku sewaktu di mobil. Bagaimana dengan pekerjaan kalian, Mum? Dad?"
Vincent mengedikkan bahunya santai. "Tenang saja, Nak. Ayah sudah memindahkan kantor pusat perusahaaan Phantom di New York ke cabang California. Juga setidaknya ayah hanya perlu mengkhawatirkan saham dan manajemen untuk sekarang. Para investor sudah setuju untuk mulai menjalankan bagian mereka sehingga aku tidak akan sesibuk dulu."
"Mum juga." Rachel menimpali dari balik counter bar. "Mum sudah memutuskan untuk berhenti bekerja di rumah sakit dan berencana untuk membuka klinik gigi. Sudah seharusnya orthodontist mengurusi gigi, bukan tulang."
"Siapa suruh ambil dua jurusan spesialisasi kedokteran." sindir Ciel. "Salah Mum yang terlalu pintar."
"Seharusnya kau bangga, dear! Lagipula ayahmu sudah mengizinkan kalau kamar depan boleh dirombak dan dijadikan ruang praktek!" Rachel berseri-seri.
"Jadi, ada komplain?"
"Tidak, tentu saja tidak." Ciel mengangguk-angguk pelan.
"Kau tahu, dear? Kami senang sekali akhirnya bisa menjalani kehidupan keluarga yang normal denganmu. Menjadi orang tua yang seharusnya. Bisa mendapatkan waktu lebih lama untukmu." tutur Rachel tiba-tiba.
"Yeah, Mum. Aku juga senang." Respon Ciel datar, sedikit lirih. Tapi siapa yang tahu dalam hatinya ia sangat sangat sangat bahagia bisa berkumpul dengan keluarganya dan menjalani kehidupan keluarga normal yang selama ini diimpikannya?
"Okay, it's time to out of blue. Ayo, Ciel. Rapikan dirimu. Kau kelihatan seperti kuli bangunan yang belum mandi dua hari." Vincent mengalihkan pembicaraan ini untuk yang kedua kalinya. "Acara akan dimulai jam 6 nanti. Kalau kau lapar, makan ini saja dulu."
Ciel menatap kotak cake kecil yang disodorkan ayahnya setengah kecewa. Bukannya ia benci cake. Fanatik, malah. Tapi ada hal lain yang membuatnya rela meninggalkan makanan manis itu.
"Yaaah, cake? Tidak bisakah aku makan masakan Mum? Aku kan tidak sempat makan siang! Sudah hampir sepuluh tahun juga aku tidak mencicipi canneloni buatan Mum!" rayunya.
Rachel menatap putranya itu sejenak, menimbang-nimbang, lalu kembali fokus ke pisau dapurnya.
"Tidak."
"KENAPA?"
"...Oh ayolah, Ciel. Hanya untuk mengganjal perut. Kau bisa simpan nafsu makanmu untuk canneloni itu untuk nanti malam. Kalau kau makan sekarang, bisa kupastikan perutmu tidak akan cukup untuk acara makan malam nanti. Lagipula Mum kan juga tidak akan memasak sekali ini saja." tegas Rachel sambil berjalan menuju freezer.
"'Sekarang' dan 'nanti' kan beda!"
"'Sekarang' untuk canneloni saja atau 'nanti' untuk canneloni dan oreo cheesecake?" wanita itu mengeluarkan seloyang cheesecake besar, makanan favorit Ciel, dari freezer dengan senyum kemenangan. Senjata terakhir untuk membuat anak semata wayangnya itu mematuhinya.
Bang. Tepat sasaran.
Ciel menggeleng kuat-kuat, mengenyahkan cake menggiurkan itu dari pandangan dan pikirannya. "...Baiklah! Tapi jika kalian mendapati aku mati kelaparan sebelum jam 6, itu seratus persen salah Mum dan Dad!"
"Ralat, seratus persen salahmu. Siapa suruh tidak ikut makan siang." goda Vincent. "Makanya, perbaiki gaya tidurmu itu, orang kota."
Ciel menggigiti bibir bawahnya sebelum ia menyadari sesuatu.
Perbaiki gaya tidurmu itu, orang kota.
...Damn Alois.
000
Setelah selesai membenahi kamarnya yang berantakan karena barang-barang dari kardus yang berceceran kesegala penjuru kamar (mohon jangan tanya, Ciel sendiri bingung kenapa bisa begitu. Seberapa kuat ia menyandung kardus-kardus itu?), Ia segera mandi, berendam sebentar menghilangkan lelah, dan berpakaian. Untuk kali ini, tidak biasanya Ciel menggunakan pakaian dengan rapi. Biasanya dia berkeliaran di kondominiumnya hanya dengan kaus distro yang sudah buluk karena terlalu sering dipakai dan celana cargo. Lebih bagus sedikit, denim belel. Kurangnya frekuensi sosialisasi membuat Ciel kehilangan sense of fashion. Namun ia sama sekali tidak peduli soal itu.
Saat merapikan jacket birunya di depan cermin, ia menyadari lampu LED yang berkedip di sudut ponselnya dari pantulan cermin. Tanda pesan masuk. Ia buru-buru menyambar ponselnya dan membuka pesan masuk itu.
From : Alois
Hei, Ciel, kau masih hidup? Sebentar lagi kami akan berangkat menuju rumahmu. Aku yakin sekali banyak orang yang akan datang, termasuk teman-teman akrabku di Monday Dew! Nanti pasti aku kenalkan. Serius, deh, kau tidak akan menyesal ikut acara malam ini.
Friday, Aug 29 17.41 p.m
"Tentu saja aku masih hidup, Trancy." dengus Ciel setelah membaca pesan dari sepupu angkatnya itu.
Ya, sepupu angkat. Alois Trancy, teman baiknya itu, adalah anak angkat dari adik ayahnya, Francis, dan suaminya, Alexis Middleford. Kedua orang tua Alois, Trancy terdahulu (yang Ciel lupa siapa namanya) adalah salah satu kolega terdekat dari Alexis meninggal akibat kecelakaan pesawat saat Alois masih berusia enam tahun. Sang kepala keluarga Middleford yang saat itu yang sedang menjadi rekan perjalanan bisnis mereka dan selamat dari kecelakaan tersebut memutuskan untuk mengangkat Alois yang telah menjadi yatim-piatu menjadi anak mereka dan mengurus perpindahan domisili anak itu dari Kanada ke Amerika. Ciel yang notabene adalah sepupu akrab dari Elizabeth dan Edward, anak kandung pasangan Middleford, mau tidak mau harus menerimanya sebagai bagian dari keluarga. Mereka merasa cocok (walaupun yang satu masih waras dan yang satu otaknya sedikit korslet) dan sampai sekarang menjadi teman baik walau jarang bertemu dan hanya bisa berkomunikasi lewat pesan singkat, e-mail atau live-chat. Untungnya sekarang mereka akan lebih sering bertemu karena, yah, secara tidak langsung—memang direncanakan, sudah menjadi tetangga.
Ciel sedikit kaget saat mendengar bunyi bel dan suara pintu yang dibuka, juga suara-suara beberapa orang yang sedang mengobrol basa-basi. Ia melihat display ponselnya, jam analog di layar menunjukkan pukul 17.56. Acara hampir mulai dan tamu mulai berdatangan.
Entah kenapa, Ciel merasa excited. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasa. Agak senang dan cemas dengan bagaimana menyambut tetangganya yang akan tinggal berseberang tembok dengannya selama bertahun-tahun ke depan.
Bagaimanakah mereka? Apakah mereka baik? Apakah mereka ramah? Apakah mereka berpenampilan bagus? Apakah mereka akan cocok dengan dirinya? Apakah ia akan bertemu dengan wanita berambut violet, pria berpakaian koki, dan pemuda bermata scarlet yang dilihatnya sekilas tadi pagi?
Bertemu tetangga baru umumnya adalah hal yang biasa. Namun jadi luar biasa untuk orang yang sedikit introvert dan buta dunia luar seperti dirinya.
Rasanya seperti Alice yang terjatuh ke Worderland. Everything makes him wonder.
Ciel menarik napas, dalam, lalu membuangnya perlahan. Rasa penasaran yang overload itu membuatnya gugup. Ia memantapkan hati, lalu meletakkan tangannya di gagang pintu. Siap untuk bertemu wajah-wajah yang baru diluar sana.
As if he were going to be welcomed by his own Wonderland.
A/N : Halo! Saya kembali dengan 'Opening part 2' di cerita ini! Semoga bagian ini tidak membawa banyak kebingungan seperti sebelumnya. Pakai insert Alice in Wonderland segala -_- Mudah-mudahan bisa menjelaskan kebingungan dari part yang lalu atau malah... membawa kebingungan baru? :P
Oh iya, kemarin saya bikin kesalahan (besar), yaitu lupa ngejelasin salah satu warning yaitu... semi-drabbles! Maksudnya, saya berencana bikin cerita ini dengan sorotan keseharian Ciel selama tinggal di Monday Dew, dari segala macam aspek dan latar belakang berbeda tiap chapter (mungkin), tapi dengan mengikuti satu plot inti yang tetap membuat cerita ini saling berkesinambungan. Berhubung ini masih bagian opening, mohon maklum karena bikin bingung. I'm deeply apologize. Saya akan usahakan untuk menata alurnya semudah mungkin untuk dicerna.
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : killinheaven dan Kujo Kazuza Phantomhive! You all make my day!
Lagi-lagi saya minta maaf kalau ada struktur kalimat yang salah ataupun typo. Jujur, ini ga sempet diedit :P
Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D
