Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only

Warnings : AU, OOC, language—maybe? May contain Sho-ai in the next chapters, semi-drabbles


Sabtu siang yang panas di Monday Dew.

Ciel menggulung-gulung pasta angel hair di yang baru separuh dimakannya malas-malasan. Saus tomat dan keju berlepotan di sekitar piring, membuat penampilannya agak jelek, tapi ia tidak peduli. Dengan tangan kirinya yang bebas, ia membuka aplikasi ramalan cuaca di ponselnya dan melihat temperatur udara saat ini. Angka 35 terpampang di layar touchscreen, dan hal itu membuatnya menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Ujung garpunya semakin liar menari-nari di atas piring, membuat semakin banyak jejak saus dan keju di sana.

"Ciel, berhenti bermain-main dengan makananmu." tegur Rachel dari balik counter bar. "Cepat habiskan. Kalau sudah kenyang, tinggalkan saja. Tidak perlu dibuat berantakan seperti itu."

"Bermain-main?" gerutunya. "Kalau sejumput pasta ini bisa bermain, sudah dari tadi aku ajak dia bermain poker di kamarku."

Rachel tertawa pelan. "Personifikasi. Ada apa denganmu, Ciel? Kau bosan?"

"Menurut Mum?"

"Aku mengerti betul soal anak muda. Jadi, ya."

"Ping-pong. Anda benar. Seratus poin untuk Rachel Phantomhive."

Rachel menaikkan sebelah alisnya. "Hei, mana semangat hidupmu, dear? Kau lesu sekali."

"Aku kepanasan dan bosan, Mum!" erang Ciel. "Apa California di musim panas selalu sepanas ini? Aku jadi bingung harus melakukan apa!"

"Pantai, Ciel. Ingat." Rachel mengingatkan. "Ngomong ngomong, sehabis libur musim panas ini, kau harus masuk sekolah lagi."

"Senin depan?"

"Ya, tanggal 1 September."

Ciel mengangguk-angguk pelan. "Mum sudah dapatkan tutornya?"

Kata-kata Ciel barusan membuat Rachel sedikit surprise, lalu tersenyum.

"Belum."

"Lho? Jadi bagaimana caranya aku bisa belajar tanpa ada tutor?"

"Kau tidak perlu tutor." Rachel dengan santai menanggapi wajah putra satu-satunya yang bingung itu. "Karena Mum sudah mendaftarkanmu di Sekolah Umum untuk semester depan dan selanjutnya."

Wajah Ciel yang semula kusut segera tergantikan dengan rona berseri-seri.

"Sekolah umum?" Ciel excited. "Kau tahu aku benar-benar menginginkan itu sejak lama! You are awesome, Mum!"

Saking senangnya, Ciel menghambur dari meja makan ke dapur untuk memeluk ibunya. Reaksi yang tiba-tiba itu membuat Rachel tertawa.

"Ow—hahaha, ya, ya, aku memang ibu yang hebat!" candanya.

"You are! Terima kasih, Mum!"

Acara kasih sayang antara ibu-anak itu pun segera berakhir karena bunyi bel dari pintu depan yang menginterupsi. Ciel melepas pelukannya dan mencegah ibunya yang hendak membukakan pintu, "Biar aku yang buka pintunya."

Rachel mempersilakan dan Ciel buru-buru berlari ke ruang tamu. Ia membuka pintu dan menyambut tamu yang datang dengan salam sopan.

"Selamat da—"

"SELAMAT SIANG!"

Belum sempat Ciel menyelesaikan salamnya, si tamu dengan tidak sopannya memotong dengan suara keras. Ditambah melihat rupa si tamu, membuat kerutan di dahi Ciel semakin dalam.

"—tang, Alois..."

"Ciel! Kau lesu sukali!" komentar Alois sambil membenarkan letak helm triathlon di kepalanya. Tangan kanannya memegang sesuatu di balik bungkusan plastik.

Ciel ingin sekali menjawab 'itu karena kau merusak hariku', tapi rasanya adu tinju di siang bolong dengan si pirang ini bukanlah ide yang bagus.

"Panas, Alois. Udara panas membuatku lesu." Ciel beralasan seadanya. "Ayo masuk."

"Oke, tunggu—suara berisik apa ini?"

Ciel melongokkan wajahnya ke dalam rumah, lalu mengangguk-angguk, mengerti dengan apa yang Alois maksudkan. "Ada pekerja yang sedang merombak kamar depan. Mum akan membuka klinik gigi di sini. Ayo."

Ciel berjalan memasuki rumah dan Alois mengikuti di belakangnya. Mereka menghampiri dapur dan Ciel setengah berteriak memberitahu ibunya dari balik counter bar.

"Mum, ada Alois!"

Rachel melongokkan kepalanya dari sudut sekat, "Oh, Alois, selamat datang. Ada hal apa datang kemari? Dan kenapa kau pakai helm dan pelindung lutut-siku lengkap seperti itu?"

"Oh? Ini? Tadi aku sedang bersepeda." Alois terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam bungkusan plastik yang ia bawa. "Bibi Francis menyuruhku untuk mengantarkan ini."

Alois menyodorkan dua buah clear file besar ke tangan Ciel. Ciel menatapnya heran.

"Apa ini?" tanyanya.

"Berkas-berkasmu. Paman Vincent minta tolong pada Paman Alexis untuk mendaftarkanmu ke Castlemont High, hitung-hitung sekalian ambil jadwal baru kelasku dan Lizzy. Tadi ia menitipkan ini, formulir dan surat persyaratan. Harus dibawa saat hari pertama masuk." jelas Alois panjang-lebar.

"Hmm. Sampaikan terima kasihku pada Alexis, kalau begitu." Rachel meyudahi pekerjaannya di dapur dan menghampiri mereka. Ciel pun menyerahkan clear file itu pada Rachel yang lalu membaca isinya dengan seksama.

"Ngomong-ngomong, Bibi," Alois memecah keheningan selagi Rachel memasukkan kembali berkas itu kembali ke dalam clear file, "apa benar Bibi akan membuka klinik gigi? Kalau iya, aku bisa pasang braces gratis, dong?" selorohnya.

Tak disangka, malah Ciel yang tertawa. "Hahaha—gigimu sudah rapi begitu! Yang kau perlukan bukan braces, tapi operasi jahit-bibir. Supaya kau tidak cerewet lagi."

Alois menyipitkan matanya ke arah Ciel. Sirine pernyataan perang.

"Hei, hei, Ciel. Jangan begitu." Rachel melerai. "Ya, Alois. Kau boleh datang ke klinik kapan saja. Gigimu itu sudah rapi, cukup routine check. Bibi gratiskan, deh, asal..."

"Mum, jangan promosi." Ciel memotong sebelum ibunya berhasil mengutarakan pikirannya.

"Dear, Ciel, ini kan simbiosis mutualisme. Alois dapat cek gigi gratis, aku dapat pelanggan." Rachel mendekatkan clear file itu ke wajahnya. Ia mencium aroma sedap yang menguar dari file itu. "Hmm? Kenapa ini berbau makanan?"

"Oh iya! Aku lupa aku harus mengantarkan breadstick ini ke rumah nomor enam. Titipan dari Bibi Francis juga." Alois mengangkat bungkusan plastik yang dibawanya.

"Wah, rumah nomor enam? Rumah yang dihuni dua mahasiswa tampan itu?"

"Mum, ingat, kau sudah punya Dad." tegur Ciel lagi. Namun ini diabaikan oleh Rachel.

"Iya! Claude dan Sebastian. Mereka teman baikku. Bibi Francis biasa mengirimkan makanan pada mereka. Kasihan, para mahasiswa sibuk." Alois bercerita dengan semangat. "Emm, ngomong-ngomong soal acara makan malam kemarin, Ciel... ada apa denganmu setelah memanggil Sebastian orang me—hmmmpf!"

Ciel buru-buru membekap mulut Alois setelah sadar dengan apa yang akan ia katakan. Ia menoleh ke ibunya, yang balas menatapnya dengan sorot mata seakan penasaran dan menuntut.

"Orang me—?" Rachel mengetuk-ngetukkan ujung jari telunjuknya di meja makan, menunggu penjelasan.

Ciel panik stadium akhir. Apa yang harus ia katakan pada ibunya tentang kejadian tadi malam?

"Uh... Orang me... me...merdeka! Ya! Orang merdeka! mereka itu mahasiswa yang merdeka!" ia memilih kata random yang berawalan 'me' yang pertama terpikirkan olehnya. Raut wajah Rachel tidak kunjung berubah dan Ciel memutuskan untuk kabur dari situasi seperti ini. "Duh—eh, sebenarnya Alois kesini ingin mampir dulu... iya, kan, Alois? Ya?" Ciel memaksa Alois mengangguk dengan pelototannya, "Kami akan main di kamar dulu, Mum! Daaah!"

Dengan demikian, Ciel menyeret Alois dengan mulut yang masih di'segel' ke lantai atas, meninggalkan Rachel yang menggeleng-geleng keheranan.

000

Pemuda biru-kelabu itu susah-payah naik tangga sambil terus menutup mulut sepupu angkatnya. Ia mendorong Alois lebih dulu masuk ke kamarnya, lalu dengan tergesa-gesa menutup dan mengunci pintu.

"Gaaah!" Alois segera menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah Ciel melepas bekapannya.

"Sssst! Jangan berisik! Kau hampir saja membuatku malu di depan ibuku!" Ciel menghentakkan kakinya. "Kalau mau berbicara soal itu, jangan di saat seperti tadi, dong!"

Alois ingin memprotes, tapi ia ingat dengan bekapan maut Ciel barusan. "Haaa—iya deh, maaf! Tapi kau itu memang benar-benar membingungkan! Masa memberi komentar tentang kesan pertama yang aneh pada seseorang, setelah itu malah... kabur?"

Flashback

"Well?"

Sebastian menahan tawa melihat ekspresi kaget Ciel yang absurd. Sayang, ia gagal. Senyum simpul tetap terkembang di wajah pucatnya.

Ciel menyadari itu. Senyum itu. Ekspresinya berubah menjadi sedikit janggal. Satu detik kemudian, si remaja biru-kelabu itu pun akhirnya membuka bibirnya perlahan.

"Ah—ya. Aku Ciel Phantomhive. Salam kenal, orang mesum."

Dia mengatakan itu dengan mudahnya, seakan sedang berkomentar tentang cuaca.

But it made everybody, at least, in utter shock.

"M—maaf?" si raven di hadapannya menaikkan sebelah alisnya, agak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Tiba-tiba saja, Ciel tersentak. Ia mengerjapkan matanya kuat-kuat. Pascatrance. Ia menatap lekat-lekat sekelilingnya. Alois yang menganga seperti orang dungu, Claude yang ekspresinya sulit ditebak—antara surprise, ingin tertawa terbahak-bahak, dan menahan lapar —dan pemuda bermata claret yang ekstrabingung.

Seketika mata biru langitnya membola.

"AAAAAAAAAH!"

Malam sabtu Ciel yang awalnya berjalan (hampir)normal pun harus diakhiri dengan teriakan frustasi, langkah seribu ke lantai atas dan pintu kamar yang dibanting menutup sampai keesokan hari menjelang.

.

.

Ciel menyandarkan punggungnya ke pintu kamar dengan canggung. "Ehm—itu..."

"Sudah, cerita saja. Kita sudah kenal sejak lama. Kau bisa percaya padaku."

Ciel menghela napas. Ia menatap iris light blue di hadapannya lekat-lekat.

"Baiklah. Kurasa aku bisa mempercayaimu." sungut Ciel. Alois pun berjalan seenaknya menuju tempat tidur Ciel dan duduk dengan nyaman disana.

"Hei—tidak ada yang mempersilakanmu duduk!"

"Aku capek." protes si pirang tidak nyambung. "Ya sudah, ayo cerita!"

Ciel tampak ragu, namun akhirnya ia berani untuk membuka mulutnya.

"Sebenarnya, aku... tidak tahu. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Tiba-tiba saja, waktu orang itu datang, uh... siapa namanya? Silas... eh—"

"Sebastian." ralat Alois.

"—Ya, Sebastian, atau apa pun namanya, saat aku melihatnya, tiba-tiba saja aku tidak tahu apa yang harus kulakukan! Aku speechless, uh... dia memang... well, keren, tapi—"

"Keren atau tampan?"

"—Iya, iya! Keren dan tampan! Maksudku, ehm, terserah, tapi... terutama senyumnya! Senyumnya itu! Seperti senyum om-om nakal yang melihat gadis cantik!" Ciel bergidik.

"Tidak sopan! Umur mereka masih 18 tahun."

"Apa? Kukira benar-benar om-om..."

Alois meggertakkan gigi. "They're freshman!"

Ciel hanya mengedikkan bahu.

"Sebenarnya ada apa sih denganmu?" kali ini Alois bertanya dengan serius.

"Sudah kubilang, aku tidak tahu! Tapi..." bola mata Ciel bergerak-gerak gelisah. "...kau tahu aku tidak terbiasa bertemu dengan orang asing. Apalagi berada di dekat-dekat mereka. Tapi ini... beda. Perasaanku jadi campur aduk saat melihat dia. Tiba-tiba panik. Speechless. Aneh."

Alois memandangnya dengan skeptis.

"H—hei." Ciel jadi tidak enak dipandangi seperti itu. "Kau tidak sedang menilaiku dengan yang tidak-tidak, kan?"

"Tidak, tentu saja tidak." Alois masih memasang raut wajah yang sama. "Sepertinya aku tahu apa yang harus kau lakukan sekarang."

Alois bangkit dari tempat tidur dan segera menarik tangan Ciel, buru-buru keluar dari kamar.

"Eh?"

"Ikut aku," Alois berusaha menyembunyikan senyum di sudut bibirnya. "Akan kutunjukkan kau bagaimana rasanya dikelilingi orang asing..." ia menarik napas, "...dan meminta maaf."

000

"Trancy bodoh! Kenapa aku dibawa ke sini?"

Remaja bermata cerulean itu tidak habis-habisnya merutuki si pirang pucat di sebelahnya yang hanya melengos tidak peduli. Ia pura-pura sibuk memerhatikan ukiran papan nama di depan pintu rumah Monday Dew nomor enam di hadapannya.

Ya, Monday Dew nomor enam.

"Aaah, berisik." dengus Alois. "Semua protesmu itu tidak berguna. Lagipula ibumu sendiri yang menyuruhmu keluar dari rumah. 'Sana ajak dia jalan-jalan, daripada dia menghabiskan waktu di rumah hanya dengan berdecak seharian', begitu katanya."

"Harusnya kau tidak dengarkan dia!'

"Anak durhaka! Mana boleh tidak mendengarkan perkataan orang tua?"

"Tapi juga jalan-jalannya jangan ke rumah ini! Kan masih banyak tempat lain!"

"Harus ke sini! Kau harus minta maaf ke Sebastian karena kata-katamu itu! Itu sama sekali bukan kesan baik!"

"Aku muak dengan kesan baik! Lagipula itu salahmu! Kalau kau tidak memberi panduan konyol itu, aku juga tidak akan keceplosan seperti itu!"

"Panduan konyol? Enak saja! Sudahlah! Yang penting selesaikan dulu urusanmu! Ayo minta maaf ke Sebastian!"

"Tidaaak mauuuu! Aku mau pulaaang! Aku tidak mau berurusan dengan si tampan mesum ituuu!"

"Siapa itu si tampan mesum?"

Ciel dan Alois sontak menghentikan aksi 'aku-ingin-pulang' dan 'takkan-kubiarkan-kau-kabur' mereka. Di depan pintu rumah yang sudah terbuka, berdiri Claude, mahasiswa berkacamata yang tetap cool walau hanya dengan pakaian santai. Ia bersandar di sisi engsel pintu sambil memerhatikan pertengkaran itu dengan heran.

"Astaga, Claude!" Alois buru-buru melepas cengkramannya di pergelangan tangan Ciel. "Bagaimana kau bisa tahu kami akan berkunjung? Aku bahkan belum menekan bel!"

"Bagaimana aku bisa tidak tahu kalian akan berkunjung jika sejak tiga menit yang lalu aku mendengar adu mulut antara dua remaja labil di depan rumahku yang terdengar sampai halaman belakang?" balas Claude retoris. "Ow, aku lupa, tetangga baru! Halo, Ciel."

Ciel membalas salam Claude sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah. "Halo, Claude. Eh—maaf sudah membuat keributan di depan rumahmu."

Claude membuat mimik seolah-olah mengatakan 'it's okay'. Lalu pandangannya beralih ke Alois.

"Separah itu, ya? Maaf, deh." yang diperhatikan malah menepuk-nepuk bungkusan plastik yang dibawanya, seolah memberi isyarat. Claude menyadari itu, dan seketika sinar matanya menjadi cerah.

"Breadstick?"

Alois mengangguk.

"Buatan Mrs. Middleford?"

Alois mengangguk lebih kencang.

"Oi, teman-teman!" Claude berteriak excited ke arah dalam rumah. "Today we're gonna have a party!"

Terdengar sorak-sorai samar menjawab dari dalam.

"Hah? Apa? Sedang kumpul, ya?" Alois pura-pura cemberut sambil meninju lengan Claude pelan. "Curang! Kenapa aku tidak diajak?"

"Aku barus saja ingin mengirimimu pesan, tapi kau keburu datang."

Alois malah nyengir.

Claude mengayunkan tangannya ke arah pintu. "Yah, tunggu apa lagi kalau begitu? Ayo masuk."

000

Pemuda tinggi bermata honey-hued itu memandu mereka ke halaman belakang rumahnya. Ciel yang berjalan paling belakang mengamati bagian rumah yang dilewatinya dengan sedikit tertarik. Seluruh sisi dalam rumah bercat broken white dengan mayoritas furnitur berwarna hitam, putih dan merah. Kecuali dapur dengan kitchen set khusus berbahan dasar utama kayu. Untuk ukuran rumah yang dihuni oleh mahasiswa, ini termasuk rapi, pikir Ciel.

Claude membuka pintu besar di sisi timur ruang makan. Pemandangan halaman belakang yang teduh dan ramai membuat Ciel sedikit mengerinyitkan dahinya. Sekeliling halaman dibatasi oleh dinding tinggi dengan kolam renang medium di tengahnya. Di pojok kanan ada miniatur air terjun dan little amazon, satu-satunya pemandangan segar diantara medan beton. Di sisi-sisi kolam ditaruh double-round table dengan kursi tinggi, juga beberapa kursi berjemur dan ayunan santai yang bisa memuat tiga orang.

Tapi akan lebih mudah bagi Ciel untuk memerhatikan detail halaman belakang itu sejelas mungkin jika tidak ada orang-orang yang berkerumun di sana.

Yang pertama kali dikenalinya, Hannah, wanita dengan kulit tan eksotis dan rambut pale purple yang digulung asal sedang asyik membaca majalah fashion di ayunan dengan posisi yang, well... sangat mencerminkan pekerjaannya sebagai model. Ronald, Grell dan Lizzy bermain Monopoli World Tycoon di lantai tepat di sebelahnya. Edward, kakak laki-laki Lizzy, agaknya sedang terlibat dalam adu renang seru dengan Agni sementara Soma menyemangati di pinggir kolam. Ada dua pemuda lain yang tidak Ciel kenali—yang satu memiliki wajah imut sedangkan yang satu lagi kebalikannya, kelihatan dewasa namun sama-sama berkacamata —terlibat dalam pembicaraan santai sambil berbaring di kursi berjemur.

"Oh, Casanova kembali membawa bawahannya!" Ronald yang pertama kali menyadari kedatangan Claude. "Dan si anak baru datang berkunjung! Yay!"

"Apa maksudmu dengan Casanova? Memangnya Alois bawahanku?" Claude melirik pintu halaman belakang dengan gusar. "Dan siapa yang dengan seenaknya menutup pintu belakang?"

"Aku, AKU!" Soma mengangkat tangan. "Claude, kau tidak tahu bagaimana brutalnya perang antara Edward dan Agni barusan. Mereka saling menciprati air kolam ke seluruh penjuru halaman. Aku tutup pintunya, jaga-jaga supaya ruang makan tidak ikut menjadi korban."

Claude memerhatikan lantai dan tembok di sekelilingnya yang penuh cipratan air, lalu menggeleng-geleng pasrah.

"Aku heran kenapa kau bisa bertahan dengan orang-orang barbar ini, hon." Lagi-lagi Hannah memasang ekspresi annoyed. Sedikit banyak, itu membuat Ciel berhasrat untuk menggosokkan sepatu olahraganya yang belum dicuci sejak ulang tahun terakhirnya ke wajah wanita itu. Ciel merasa ada yang menyenggol lengannya pelan. Itu Alois.

'Pacar Claude,' Ciel menangkap gerak bibir si pirang pucat. 'menyebalkan sekali, kan?'

Ciel mengangguk setuju dan terkikik pelan.

"Jadi, Ciel," Claude berusaha mengabaikan komentar-komentar di sekitarnya. "Kau sudah mengenal orang-orang yang ada di sini, kan? Khusus yang sedang berjemur di sana—Alan dan Eric—mereka bukan warga Monday Dew. Teman Hannah, kebetulan berkunjung."

"Begitu." Ciel menangkap dua orang asing itu melambai kepadanya dari sudut matanya. Ia membalas dengan senyum sopan. "Er— apa kalian sering mengadakan acara seperti ini?"

"Hmph—apa? Acara?" si rambut merah, Grell, tersenyum konyol. "Haha... apa-apaan ini? Memangnya dia tidak tahu apa itu berkumpul?"

Ciel mengerinyitkan dahinya sambil menatap Alois dengan pandangan bingung.

"Yeah, berkumpul." Alois mengangguk-angguk pelan. "Kami, anak-anak muda yang tinggal di Monday Dew biasa berkumpul seperi ini. istilah kerennya... hanging out. Tidak ada dasar khusus, sih, hanya..."

"Persamaan ideologi." celetuk Soma.

"Uh—terserah apa pun itu namanya—kira-kira begitu. Mungkin karena itu kami jadi akrab. Yah... sekedar untuk bertemu. Sharing. Having a party, sometimes." jelas Alois.

Sesama anak muda? Akrab? Berkumpul? batin Ciel. ...Kelihatannya seru juga.

"Senior Grell tidak boleh begitu." Lizzy setengah menegur. "Ciel tidak terbiasa dengan hal yang seperti ini. Sewaktu di Manhattan, Ciel jarang keluar rumah. Dia juga tidak masuk sekolah umum. Dia tidak terbiasa dengan kegiatan berkumpul atau semacamnya."

Agni tiba-tiba ikut dalam pembicaraan. "Eh? Begitu? Jadi, kelihatannya Ciel datang ke tempat yang tepat."

Claude menepuk bahu Ciel pelan. "Yah, Introvert Yankee, mulai sekarang...terbiasalah dengan kami. Para orang-orang asing dari Monday Dew. Just feel free to join us."

Ciel melirik Alois yang ikut-ikutan menepuk bahunya. Juga-orang-orang yang hadir yang memberinya senyum welcome. Bahkan ia bisa melihat bibir ber-lipgloss si jutek Hannah membentuk lengkungan tipis.

"...Okay, I'm in."

"Yeah! Anggota baru!"

"Orientasiiiii!" Ronald yang berteriak paling kencang dan tepat setelah setelah itu, mereka menghambur ke arah Ciel. Entah kenapa Ciel langsung berfirasat buruk. Mereka memegangi tangannya erat-erat, menariknya dengan paksa ke tengah halaman belakang sambil menyeringai.

Tengah halaman belakang. Kolam renang.

Firasat buruk terbukti.

"Waaaa! He—hei! Tidaaak! Hentikaaan!"

Namun kumpulan barbar—harus Ciel akui, kurang lebih sekarang mereka terlihat seperti itu— yang menariknya tidak mengacuhkan sama sekali. Lizzy, Alois, Claude dan Hannah yang tidak ikut-ikutan tertawa karena ulah mereka, minus Hannah yang hanya berdecak lalu kembali tenggelam di balik majalah yang ia baca.

"Aaaah! Stop! Stop! Jangan ke kolam!"

"Bau apa ini?"

Suara velvet yang terdengar tidak niatan itu menghentikan tingkah brutal mereka seketika. Genggaman dan cengkraman di baju dan tangan Ciel langung telepas dengan sedikit dramatis. Walau sedikit bingung, Ciel amat sangat bersyukur bisa lepas dari ritual 'orientasi' kaum purba itu. Melihat perhatian orang-orang itu tersedot ke pemilik suara bass barusan agaknya membuat Ciel sedikit penasaran. Ia melongokkan kepalanya ke celah kerumunan orang di depannya.

"Hei, Sebastian, apa-apaan wajahmu itu?"

Sebastian, si pusat perhatian baru, bersandar di sisi pintu halaman belakang sambil bersilang tangan. Kelopak matanya setengah tertutup, indikasi perlawanan terhadap kantuk. Ditambah pada kaus body fit dan celana basket yang ia kenakan terdapat lipatan di beberapa tempat dan rambutnya yang sedikit berantakan, menguatkan asumsi bahwa raven satu itu baru saja bangun tidur. Pemandangan itu membuat Ciel sedikit blushing.

Si mesum itu... kelihatan seksi, pikir Ciel.

Tepat setelah ia berpikit begitu, ia menampar dirinya sendiri. Apa-apaan kau ini, Ciel? Sadar! Dia itu tidak lebih dari laki-laki tampan yang mesum!

"Kenapa wajahku?" ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan malas. "Bau menggiurkan apa, sih, ini?"

"Hah?"

Claude yang tahu apa yang Sebastian maksudkan buru-buru menyembunyikan kotak yang diberi Alois ke belakang punggungnya.

"Menurutmu, apa?"

"Hmm," Sebastian tampak berpikir keras, agaknya ia berusaha mengendus-endus udara di sekitarnya semakin intens selagi berjalan mendekat ke arah Claude. Setelah investigasinya cukup, ia berkata dengan mantap. "...Breadstick."

Claude mengulum senyum. Alois tercengang tak percaya. Ciel menaikkan sebelah alisnya. Yang lainnya bertepuk tangan, takjub.

"Pfft—HAHAHAHA! Se-Sebastian, you good! Dasar anjing pelacak! Hahahaha!" Ronald tertawa terbahak-bahak sambil berguling di lantai, sampai-sampai dengan tololnya ia jatuh ke kolam renang. Yang lain ikut tertawa, namun bukan karena topik penciuman tajam Sebastian, melainkan kebodohan pemuda satu itu.

"Sebastian, aku tahu kau sangat lapar, tapi aku tidak menyangka kau akan berubah menjadi anjing pelacak karena itu." Claude pun mengeluarkan kotak itu dari tempat persembunyiannya. Ia hendak memberikan kotak besar yang penuh terisi breadstick itu pada si mata ruby, namun tepat sebelum itu, Alois menarik tangan Claude, mengisyaratkan untuk sedikit membungkuk. Si pirang pucat itu membisikkan sesuatu ke pemuda berkacamata di sampingnya. Setelah itu, Alois tersenyum simpul, mengacungkan jempolnya. Claude membalasnya dengan anggukan paham.

"Yeah, ahem—Soma, bisakah kau berbaik hati mengambilkan beberapa piring untuk menaruh breadstick yang beraroma menggoda ini? Oh, dan aku yakin kau akan butuh bantuan untuk membawa piring-piring keramik itu." Claude sebenarnya agak tidak tega melihat ekspresi Soma saat ia mendengar kata 'keramik', "Jadi, yah... semuanya, bisakah kalian membantu Soma? Kalian bisa membawa camilan lain dan bir juga coolbox. Oke? Ayo. Kerja, kerja!"

Suruhan yang agak maksa, memang. Tapi tatapan orb emas di balik kacamata minus itu membuat semua orang mengerti apa maksud di balik kata-katanya.

"Puah—haah, oke. Ayo, teman-teman! Breadstick partaaaaaay!" Ronald—yang entah sejak kapan keluar dari kolam renang—memandu yang lain untuk masuk ke dalam rumah, melakukan apa yang dikatakan Claude. Semuanya beranjak dari tempat masing-masing sambil terus berkomentar tentang apa yang akan mereka siapkan untuk pesta kecil-kecilan ini.

Ciel yang tidak tahu harus berbuat apa, dengan canggung ikut masuk ke rumah di belakang rombongan anak muda itu. Sebelum sampai di perbatasan pintu, Alois menahan tangannya dan menyuruhnya untuk menunggu di sini. Pemuda biru-kelabu itu mematuhi dengan polosnya sementara Alois menghampiri Claude yang membisikkan sesuatu ke Sebastian yang sepertinya tidak begitu memerhatikan karena masih terkena waking-up syndrome, menepuk pundaknya pelan lalu dengan seenaknya beranjak ke ruang makan bersama Alois, meninggalkan Sebastian dan Ciel berdua saja di halaman belakang yang mendakak sepi itu.

Ini jebakan.

Ciel merutuk dalam hati ketika melihat gerak bibir Alois sebelum remaja pirang itu menghilang di balik pintu.

'Good luck.'

Mata cerulean-nya mengerling bingung. Selamat berjuang untuk apa?

Sudut matanya menangkap pergerakan pemuda berambut jet black yang berdiri tiga kaki di depannya. Sebastian meregangkan badannya yang kaku sambil menguap, bertingkah seolah-olah tidak ada yang memerhatikan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan kabut kantuk yang mengganjal matanya. Dan saat ia sudah mulai sadar sepenuhnya, ia mendapati remaja pendek berambut kelabu tengan menatapnya dengan raut wajah yang sulit ditebak.

Sebastian menggeleng-gelengkan kepalanya sekali lagi, mengusap-usap matanya, lalu kembali melihat remaja di depannya itu.

Lalu ia menjentikkan jarinya.

"Aah..." otak Sebastian akhirnya loading 100%. "Kau... anak lelaki Mr. Phantomhive. Bocah tidak sopan itu."

Itu membuat urat kesabaran Ciel menegang. "Apa? Bocah ti—" ia segera menutup mulutnya saat melihat pelototan Alois dari balik jendela. Si pirang pucat itu kembali mengatakan sesuatu.

'Minta maaf!'

Ciel menghela napas. Ia berusaha menghilangkan semua emosinya lalu segera memasang senyum terpaksa. Sebastian menatap remaja itu heran dan sedikit meremehkan.

"Aku...aku minta maaf atas sikap bodohku waktu itu." Ciel berkata sedikit tidak tulus. "Itu hanya kesalahpahaman, aku tidak benar-benar memaksudkanya."

Sebastian masih menatap Ciel dengan pandangan yang sama.

"Eh—uh..." Ciel jadi salah tingkah, "Kalau begitu, bisa kita mulai semuanya lagi dari awal? Yeah, jadi—um, salam kenal. Aku Ciel Phantomhive."

Ciel menyodorkan tangannya dengan spontan, tapi yang ia dapatkan hanyalah wajah Sebastian yang masih sama dengan pertama kali ia melempar senyuman. Terus begitu sampai sepuluh detik berlalu.

1 menit. 2 menit berlalu. Tidak terjadi perubahan.

Tidak ada lagi toleransi bagi urat kesabaran Ciel.

"JANGAN DIAM SAJA, MESUM! KAU PIKIR WAKTUKU HANYA UNTUK MENUNGGUMU MENJABAT TANGANKU?"

Snap. Terjatuh di lubang yang sama dua kali.

Tapi kali ini, Ciel tidak peduli. Raven satu itu sudah benar-benar mempermainkan pikirannya. Setelah ia berteriak seperti itu, ia bisa melihat Alois yang menganga lebar di balik jendela. Juga orang-orang yang penasaran yang ikut terkejut di belakangnya. Ciel kembali menatap 'orang mesum' di depannya dengan pandangan penuh emosi.

Tapi... sorot matanya itu segera berubah setelah melihat apa yang dilakukan Sebastian.

"AHAHAHAHAHAHA!" raven itu tertawa kencang sambil memegangi perutnya. Setitik air mata terlihat di sudut matanya yang tertutup rapat, saking gelinya.

"...Eh?" gantian, kali ini Ciel yang superheran.

"Lucu sekali, uh... hahahahaha!" Sebastian terus tertawa. "Bisa-bisanya emosi hanya gara-gara aku berwajah begitu! B-bocah aneh! Ia sampai mengataiku orang mesum DUA KALI! HAHAHAHAHA—UHUK!"

Kaki kurus Ciel mendarat dengan mulus di perut Sebastian.

"RASAKAN ITU, MESUM!" Ciel benar-benar emosi kali ini. "Berani-beraninya kau bermain-main denganku! Kurasa itu adalah kesalahan besar bisa bertemu orang seperti dirimu!"

Dan dengan itu, Ciel melengos pergi tanpa berpamit pada siapa pun yang ada di sana.

Segera setelah Ciel menghilang dari pandangan, semua orang yang tadinya sibuk memerhatikan dari balik jendela ruang makan terburu-buru mengerumuni Sebastian yang kini meringkuk di lantai, ekspresinya bercampur antara kesakitan dan tertawa geli.

"Sebas-chaaaan! Kau oke? Bocah itu, dasar! Berani-beraninya dia menyakiti Sebas-ku!" Grell yang pertama kali berkomentar dengan berapi-api. Ronald dan Agni menenangkannya dengan sabar.

"Ssssh—hahaha, diam Grell. Kau membuatku geli. Aku bukan milikmu...uhhahahaha..." Sebastian membalasnya sambil tetap tertawa. Namun Grell mengacuhkan itu. Sebastian terus bergumam, "Baru kali ini ada yang berani memanggiku 'mesum' sampai tiga kali..."

"Lagipula, kau yang salah, sih..." Claude mencoba menengahi. "Sudah kuceritakan kalau dia itu tidak terbiasa dengan orang asing. Kau malah mengerjainya seperti itu. Wajar saja dia marah. Mana sampai sekarang masih tetap tertawa..."

Bahkan Alois terlalu kaget sampai ia tidak sempat mengejar sepupu angkatnya itu. "Dasar Sebastian! Uuugh! Usil sekali!" sepupu angkat Ciel itu menjewer telinga Sebastian. Sebastian mengaduh kecil sambil terus tertawa.

"Hei, sudah, sudah. Biarkan saja Sebastian menderita karena kesalahannya itu." Hannah tiba-tiba menyela. "Aku sudah menuangkan saus meksiko untuk breadstick-nya. Siapa yang lapar, cepat ke dalam."

Dan rombongan itu kembali ke ruang makan seolah tidak terjadi apa-apa. Kecuali Claude dan Alois yang masih tidak habis pikir dengan kelakuan pemuda bermata claret itu.

"Sampai kapan mau seperti itu?" Claude mengulurkan tangannya ke Sebastian yang masih bergulung di lantai bermaksud membantu raven itu bangun. Sebastian menghentikan tawanya untuk sementara, menyambut uluran tangan itu untuk bangkit berdiri, lalu mulai terkikik lagi.

"Terus saja tertawa sampai rahangmu lepas." dengus Alois. "Haaah... rasanya aku jadi menyesal telah berencana mengenalkan dirimu pada sepupuku itu."

"Tidak, tidak... baiklah. Maaf." Sebastian mengatur napasnya. "Hhh—oke. Aku tenang sekarang."

"Apa maksudmu mengerjainya seperti itu? Kau lihat wajahnya tadi, kacau sekali. Kepalanya hampir berasap." Claude berkomentar sedikit berlebihan. Sebastian hanya menggeleng.

"Ck, terpaksa aku mengembalikan mood-nya lagi. Susah, tahu." Alois menyikut lengan Sebastian. "Kali ini kau yang harus meminta maaf padanya."

Claude mengangguk setuju.

"Aye aye, sir." canda Sebastian sambil hormat pada Alois. Alois terkekeh.

"Hm, ngomong-ngomong..." Alois memiringkan kepalanya. "Bagaimana menurutmu?"

Sebastian sedikit bingung dengan pertanyaan itu, tapi melihat binar di mata Alois dan senyum aneh Claude, Sebastian menyeringai.

"Ciel Phantomhive, eh?" raven itu memainkan jemarinya, "...kelihatan menarik."


A/N : Kara's in the house, people! *jedigh* te-hee :P sebelumnya saya minta maaf tidak bisa update di akhir weekday seperti janji saya. School messed my brain up. Aaaaargh. Tapi... *lirik ke atas* Ini kayaknya gak begitu panjang! Migaaaad! Padahal saya ngebablasin ngetik buat nyelesain chapter ini dari jam 3 sore tadi! D:

Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : kusa, Kujo Kazuza Phantomhive, Rose, Ariefyana Fuji Lestari, Orlyzara, killinheaven, Chernaya shapochka, chiko-silver lady, Aldred van Kuroschiffer dan Kojima Michiyo! U guys rawk! ;D

For anon reviewers :

kusa : Jadi begini reaksinya Sebastian, Kusa-san... *lagi-lagi nunjuk ke atas* :D terima kasih sudah mau menunggu kelanjutannya dan juga review-nya!

Rose : Hahaha, tanggapannya juga sulit untuk dilupakan, lho, Rose-san XD Ya, Claude dan Sebastian tinggal satu rumah. Mereka masih mahasiswa baru, kalau Ciel ama Alois yaaa kira-kira lagi tahun terakhir di High School. Ini updatenya! Terima kasih sudah me-review lagi!

Orlyzara : Nah nah, no prob! Just use them as you please :DD Terima kasih atas review-nya, Orlyzara-san! Ahaha but he couldn't resist his pervy charm~ that's made him blabered out like that XD Semoga chapter ini bisa membuat Orlyzara-san stunning lagi!

Again and again! Maaf jika ada typo yang mengganggu! Saya sudah berusaha mengedit ini sebisa saya -_-

Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D