Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only

Warnings : AU, OOC, language—maybe? May contain Sho-ai in the next chapters, semi-drabbles, Extremely minor OCs


"Ciel, dear, apa yang kau lakukan di atas sana? Ini sudah hampir jam tujuh!"

"Iya, Mum! Sebentar! Tinggal pasang kaus kaki —uugh!"

Satu lagi kesibukan baru keluarga Phantomhive—lebih tepatnya, satu anggota keluarga Phantomhive.

Yeah, khusus untuk Ciel Phantomhive. Hari ini, dan mulai seterusnya dalam interval weekdays, ia akan memulai paginya dengan rutinitas bangun pagi-mandi-bersiap-pergi ke sekolah.

Dan tentu saja, kata 'sekolah' selalu membuatnya excited.

"Berkas-berkas, check. Buku, check. Alat tulis, check." Ciel mengabsen isi tasnya satu per satu. "Oke, semuanya lengkap. Saatnya berangkat."

Sebelum ia menginjakkan kaki ke luar kamar, sekali lagi Ciel mematut diri di cermin besar di kamarnya. Bayangan remaja enam belas tahun berseragam musim panas dengan bordiran lambang segilima dan inisial CHS di saku kiri. Tidak lupa dengan rona merah muda dan senyum semangat yang menghiasi wajahnya.

"Selamat datang di kehidupan barumu, Ciel." ia berkata pada dirinya sendiri. "Mulai hari ini, kau akan—"

"—menjadi ksatria baja hitam."

"Ya. Menjadi ksatria baja hitam. Dengan kekuatan yang kumiliki, aku akan melindungi dunia—lho? Kok ksatria baja hitam?"

Di balik pintu, si pelaku perusak motivasi pagi Ciel tertawa pelan. Remaja biru-kelabu itu pun membalikkan badannya ke arah suara tawa tersebut sambil pura-pura cemberut.

"Dad!"

"Hahaha... masih pagi begini, konsentrasimu saja sudah sangat buruk." Vincent membuka pintu kamar lebih lebar agar dapat masuk ke ruangan itu. "Kenapa lama sekali? Dad sudah sangat pusing mendengar gerutuan ibumu karena kau belum juga turun ke ruang makan. Ternyata kau masih sibuk berdandan."

"...Dad pikir aku ini anak gadis?"

"Tidak, hanya saja aku pikir kau itu anak laki-laki yang imut." Ciel memutar matanya saat mendengar ayahnya mengatakan kata 'imut', dan Vincent mengacak rambut putra semata wayangnya karena itu.

"Jadi... bagaimana perasaanmu menghadapi hari pertama masuk sekolah?"

Ciel menghela napas. Perhatiannya ia pusatkan ke kedua jempol kakinya yang bergerak tidak nyaman.

"Senang..." ia terdiam sejenak, "...tapi aku sangat gugup. Aku tahu bagaimana kehidupan pelajar di sekolah umum, tapi aku sama sekali buta tentang kenyataannya."

Vincent merangkul putranya itu dan menepuk bahunya pelan. "Semua akan baik-baik saja. Kehidupan sekolah menengah atasitu sangat menyenangkan, kok. Aku yakin kau akan sangat menikmatinya, walaupun hanya satu tahun. Percaya pada Dad."

Ciel menatap ayahnya yang terlihat seperti carbon copy dirinya versi lebih berumur itu.

"...Kuharap begitu."

Vincent menepuk punggung anaknya kuat-kuat. "Mana semangatmu?"

"Aduuh! Iya, iya! Aku semangat! Ciel Phantomhive, semangat! Oke? Dad puas?"

"Sangat puas."

Sang anak hanya bisa berwajah masam melihat ayahnya yang tertawa lepas.

"VINCENT, CIEL, APAKAH KALIAN SEDANG BERMAIN RUGBY DI ATAS SANA? TURUN KE RUANG MAKAN SEKARANG JUGA!"

Keduanya terlonjak mendengar teriakan Rachel yang sudah sangat kesal dari lantai bawah.

"O-ow." Ciel membulatkan bibirnya dengan jenaka.

"Ya, sayang—kami segera ke sana." jawab Vincent sambil menahan senyum. "Ayo, nak, cukup sampai disini sesi konseling pagi kita. Saatnya sarapan. Jangan sampai Medusa di ruang makan mengutuk kita menjadi batu."

Ciel hanya bisa tertawa kecil sambil mengikuti ayahnya menuruni tangga menuju ruang makan.

Di ruang makan, Rachel menunggu dengan kedua alis menukik tajam dan bibir yang sedikit melengkung ke bawah. Tangannya dengan gusar mengetuk-ngetukkan bread knife ke tutup selai di hadapannya.

"Rasanya tadi aku memintamu ke lantai atas untuk menyuruhnya cepat turun." wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah suaminya. "Tapi kenapa malah semakin lama? Apa yang kalian lakukan, hm?"

Vincent mengecup pipi Rachel, meredakan emosi istrinya itu. "Tidak ada, sayang. Anak kita hanya membutuhkan sedikit percaya diri ekstra."

"Geez. Apa maksud Dad dengan kata 'ekstra'?"

"Oh, oh, tunggu." Rachel mengerling jenaka. "Apakah itu maksudnya 'ada yang sedang nervous' secara tidak langsung?"

Ciel menanggapinya dengan mengunyah french toast miliknya dengan kesal.

Vincent mengedikkan bahu. "Aaah, tentu saja."

"Astaga. Ingat, dear. Bullying hanya ada di drama seri televisi." Rachel berusaha menyemangati anaknya dengan teori asal-asalan.

"Wewangah hafa hang haguh hihugi?"

"Telan makananmu sebelum bicara."

Ciel menelan makanannya dengan sok dramatis. "Em—maksudku, memangnya siapa yang takut di-bully? Mum sampai kepikiran saja."

"Tentu saja! Naluri seorang ibu selalu bisa merasakan bahaya apa yang akan mengancam anaknya!"

"...Mum mengatakan itu persis seperti narator acara satwa di National Geographic Channel."

Rachel menggeleng. "Aku serius."

Suara klakson mobil yang dibunyikan dua kali tiba-tiba terdengar dari halaman depan. Hal itu membuat Vincent refleks mengecek jam besar di dinding.

"Tepat jam tujuh." ia ber-hm kecil. "Ayo, nak. Jemputanmu sudah datang."

"Jemputan?" tanyanya. "Memangnya Dad mencantumkan di formulir untuk memakai fasilitas antar-jemput?"

"Menyediakannya saja tidak." jawab Vincent santai.

Ciel menaikkan sebelah alisnya. "...Hah? Lalu?"

Rachel berdiri dari kursi makan dan menyodorkan tas sekolah ke tangan Ciel. "Nanti saja tanyanya. Ayo, sana berangkat. Kau harus mengurus administrasi berkasmu di sekolah terlebih dulu. Jadi jangan sampai terlambat."

Ciel mematuhi apa kata ibunya meski seribu pertanyaan masih mengggantung di ujung lidah. Ia menyandangkan tasnya ke bahu kiri dan bangkit untuk mencium pipi ibunya. Vincent turut mengacak-acak rambut putranya itu.

"Dah Mum, Dad. Aku pergi dulu." pamitnya sebelum meninggalkan ruang makan. Orang tuanya balas melambai padanya.

"Dah, ksatria baja hitam! Kau pasti bisa menyelamatkan dunia!"

"...Dad berisik."

000

"Selamat pagi, Ciel!"

Gadis berambut pirang ikal dan bermata hijau zamrud yang sedang tersenyum cerah adalah pemandangan pertama yang dilihat Ciel sesaat setelah membuka pintu.

Siapa lagi kalau bukan sepupunya, Elizabeth.

Awalnya ia agak kaget dengan apa yang dilakukan gadis kucir dua itu sepagi ini di rumahnya, tapi melihat lambang di seragam mereka yang serupa dan mobil sedan hitam yang terparkir di depan halaman rumah membuatnya paham kalau itulah yang dimaksud dengan ayahnya dengan 'jemputan'. Asumsinya, supir keluarga Middleford yang biasa mengantar kedua sepupunya itu setiap pagi ke sekolah, dan termasuk dirinya mulai hari ini.

"Pagi, Lizzy." ia balas tersenyum.

"Kau selalu ingat kalau aku tidak suka dipanggil Elizabeth." Lizzy tertawa kecil. "Jadi, bagaimana? Siap untuk sekolah hari ini?"

"Yeah." Ciel menjawab absurd. "Kita berangkat sekarang?"

"Tentu saja. Ayo." gadis pirang itu berbalik dan berjalan menuju sedan hitam sementara Ciel mengikuti di belakangnya. Saat mereka makin mendekat, Ciel dengan susah payah melirik ke dalam mobil untuk melihat siapa si pengemudi, namun sia-sia karena kaca film gelap dengan mirror reflect itu menghalanginya. Sebelum ia sempat bertanya, Lizzy terlanjur membuka pintu penumpang mobil.

"Ada apa, Ciel?" Lizzy memandangnya agak bingung. "Silakan masuk duluan, kalau kau tidak keberatan."

"Ah—tidak. Oke, baiklah. Terima kasih, Liz." Ciel setengah meracau sambil masuk ke dalam mobil. Kepalanya hampir saja membentur bagian atap mobil saat mendengar suara yang cukup familiar di telinganya akhir-akhir ini.

"Pagi, Ci-el! Kau cocok juga pakai seragam itu!"

"Hiiih!—Pagi, Alois!"

"Apa? Kenapa responmu seperti orang yang baru saja bertemu orang gila begitu?" Alois yang duduk di sisi kiri bangku penumpang mengerutkan keningnya. Ciel hanya menggeleng dan Lizzy yang baru saja menutup pintu mobil terkikik geli sambil memasang muka yang seolah-olah mengatakan 'begitulah kenyataannya'. Si pirang satu lagi memberi gadis itu balasan berupa deathglare.

"Haloooo, sepupu-sepupu." Ciel yang berada di antara mereka menaruk kedua telapak tanganya di depan wajah masing-masing pihak yang berseteru. "Haaah... kapan kalian akan berhenti 'berperang' seperti ini? Ini selalu terjadi sampai-sampai sudah tidak lagi mengejutkanku."

Keduanya tidak melanjutkan persitegangan mereka ataupun berbaikan setelah Ciel berkata seperti itu, namun malah mendengus dan mengerucutkan bibir sambil melengos ke arah yang berlawanan. Ciel hanya bisa menghela napas sambil mengalihkan pandangannya dua single seat di hadapannya yang tidak lain adalah kursi pengemudi dan kursi penumpang depan.

Kenyataannya, apa—bukan,siapa—yang dilihatnya di sana adalah hal yang mengejutkannya.

"Kau tahu? 'Perang' antara mereka berdua sudah seperti sereal sarapan pagi bagi kami, Ciel." ujar pemilik iris keemasan yang duduk di bangku penumpang depan sambil menatap si remaja biru-kelabu dengan maksud meyakinkan. "Dan jangan pernah mencoba melerai mereka jika sudah mulai 'memanas' jika kulitmu sama sekali tidak membutuhkan beberapa bekas cakaran yang tidak diinginkan. Benar, kan, Mr. Driver?"

Oke, ralat. Bukan Claude Fautus yang membuatnya terkejut. Tapi...

"Jangan lupakan memar." suara bass yang mampu membuat seorang fangirl berteriak-teriak kesetanan merespon dari bangku pengemudi. "...Sekali lagi kau panggil aku 'Mr. Driver', kupastikan kau jalan kaki ke kampus setiap pagi."

...Yup, seorang Sebastian Michaelis-lah yang mengejutkannya.

Si mata claret itu membalikkan badannya ke arah kursi penumpang belakang. "My, ada tetangga baru di sini. Apa pagi ini aku tidak mendapat salam yang seperti biasa?"

Ciel menatap pemuda itu dengan pandangan aneh sambil menggigit bibir bawahnya. Ia berusaha mengabaikan wajanya yang sudah memerah karena emosi dan... tersipu, mungkin? Alois yang menyadari perubahan mood sepupunya itu langsung menepuk-nepuk pundaknya pelan untuk menenangkannya. Sorot matanya yang ia arahkan ke Sebastian seolah mengisyaratkan sesuatu.

"Aah... baiklah." Sebastian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehm... yang kemarin, aku cuma bercanda. Pemintaan maafmu kuterima. Jadi, sekarang... aku minta maaf."

Sepasang mata royal blue menatap raven itu dengan skeptis. Kali ini, sorot matanya kelihatan sungguh-sungguh. Perlahan kerutan di kening Ciel menghilang dan sudut matanya semakin rileks.

"...Baiklah. Kalau begitu, kita saling memafkan, eh..."

"Panggil Sebastian saja."

"...Oke, Sebastian." mulut Ciel terasa kering saat ia menyebutkan namaitu.

Mendengar jawaban Ciel, Sebastian menggumamkan 'thanks' pelan lalu memasangan trademark smile-nya sebelum kembali menghadap setir dan mulai mengendarai mobil.

"Nah, begitu dong." Alois nyengir kuda. "Coba saja kalian sudah seperti ini dari awal."

"Lagipula... salah Sebastian juga, sih." Claude menanggapi. Sebastian menaikkan sebelah alisnya karena perkataan rekannya itu.

"Memangnya apa salahku?"

"Kau sudah seenaknya mengerjai bocah ini, dan..." alis Ciel sedikit berkedut mendengar Claude memanggilnya bocah, "...berwajah mesum."

Ada selang waktu beberapa detik setelah kalimat terakhir diucapkan sampai semua orang di dalam mobil itu tertawa terbahak-bahak, minus Sebastian yang menggertakkan giginya dan Ciel yang bungkam dengan wajah sewarna tomat.

"...Claude Faustus. Turun dari mobilku sekarang juga."

Claude memegangi perutnya yang terasa agak sakit karena terlalu banyak tertawa. "Ahahahaha—kidding. Biar berwajah mesum, kau tetap menjadi the most wanted guy di Universitas Lincoln."

Walau Sebastian tahu bahwa maksud Claude adalah 'mencoba-menjilat-temanku-agar-aku-tidak-dirurunkan-di-tengah-jalan', tak ayal narsisme menguasai seperpuluhan bagian dari pikirannya. Ia melayangkan senyum tipis dan tertawa pelan, menandakan bangga dengan hal itu. Claude yang agak senang dengan keberhasilan idenya ikut tertawa dengan maksud 'lega' karena tidak jadi diturunkan di tengah jalan sambil meninju lengan Sebastian pelan. Sebastian balik meninju dengan tangan kanannya yang bebas. Claude membalasnya agak keras. Sebastian meninjunya dengan sekuat tenaga. Terus begitu sampai keduanya babak belur.

...Oke, kejadian di empat kalimat terakhir sebenarnya tidaklah benar.

"Jadi, senior berdua ada berapa mata kuliah hari ini?" tanya Lizzy sambil memainkan ponsel flip miliknya.

"Setiap hari kecuali kamis, ada dua mata kuliah." raven itu tetap memfokuskan pandangannya ke jalan beraspal. "Bagaimana dengan kalian? Apa jam pulang sekolah kalian masih tetap sama?"

Gadis pirang itu mengeluarkan kertas kuning yang terlipat-lipat dari sakunya lalu membacanya dengan seksama. "Menurut jadwal baru yang kupunya sih... sama."

Sebastian memutar setir ke kiri dan memasuki gerbang pertama yang ditemuinya. Ciel melihat ke sisi bangku penumpang yang lain dimana Alois dan Lizzy mulai membuka seatbelt mereka. Tepat setelah ia membuka seatbelt-nya sendiri, Sebastian menarik rem tangan dan kembali memutar badannya menghadap tiga anak sekolahan itu.

"Kalau begitu, sampai jumpa jam satu di tempat biasa."

"Baiklah." Lizzy keluar dari mobil, begitu juga dengan Alois dan Ciel di pintu yang berlawanan arah. "Hati-hati, senior."

Ketiga remaja itu bisa melihat Claude dan Sebastian yang mengacungkan jempol mereka sebelum sedan itu menghilang dari pandangan.

"Sepuluh menit sebelum bel masuk." Alois memutar-mutarkan ibu jarinya di kaca jam tangannya. "Masih ada waktu untuk mengantarmu ke bagian administrasi. Ergh—Liz, kau ikut?"

"Jika itu artinya aku punya sepuluh menit lebih lama bersamamu, kurasa tidak." Lizzy berdecak, lalu berpaling ke arah Ciel dengan wajah yang berbeda 180 derajat. "Oh, bukan maksudku tidak mau membantumu, Ciel. Dengan senang hati, tentu saja. Tapi aku harus menemui salah satu guruku segera pagi ini untuk memberi laporan tentang turnamen musim panas lalu. Dan juga jika si tengil satu ini tidak terus-terusan menempel padamu."

"Apa katamu? Dasar—aw!"

Ciel menginjak kaki Alois sebelum ia sempat mengutarakan sumpah serapah. "Tidak apa, Liz. Urusanmu lebih penting. Kurasa dengan Alois saja sudah oke."

"Hmm-mm? Rasanya berat mempercayakanmu ke tangannya. Tapi kalau kau bilang begitu... ya sudahlah. Sampai jumpa, sepupu. Semoga kau mendapat banyak jadwal kelas yang sama denganku." Lizzy menepuk-nepuk pipi Ciel pelan, lalu kembali melihat Alois dengan wajah annoyed, "Dah, sapi."

Gadis pirang itu berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya, lalu berteriak ke segerombolan murid perempuan berseragam cheerleader di dekat patung air mancuryang menyambutnya dengan misuh-misuh centil khas perempuan.

"Barbie palsu!" seru Alois.

Ciel menggeleng-gelengkan kepalanya melihat hal itu. "Kapan sih kalian bisa akur? Sejak kecil, selalu begitu. Saling ejek."

"Kau tidak akan pernah tahu." remaja bermata icy blue itu melambaikan tangannya, tanda abai. "Jangan buang-buang waktu untuk mempermasalahkan itu. Ayo."

Kedua remaja itu memasuki gedung sekolah berlantai empat itu dengan sedikit terburu-buru. Mereka melewati lobby dan hall yang dipenuhi beberapa siswa yang sibuk berbincang seputar libur musim panas dan jadwal baru mereka. Mereka melewati lorong locker dan langsung menuju tangga ke lantai atas. Ciel memerhatikan setiap sedut detail sekolah itu dengan antusias.

"Selamat datang di Castlemont High School." Alois merentangkan kedua tangannya dengan agak dramatis. "Kuharap satu tahunmu di sini menyenangkan."

"Yeah." Ciel menjawab sambil tetap fokus ke stall keran air minum di samping tangga. Bahkan hal yang biasa seperti itu terasa asing sedikit geli melihat tingkah sepupu angkatnya itu.

"Ngomong-ngomong, tadi... ada apa di jam satu?" tanya Ciel setelah sedikit puas melihat-lihat sekitarnya.

"Oh, itu?" respon remaja pirang di sebelahnya. "Aku lupa memberitahumu. Kami biasa diantar-jemput oleh mereka berdua, karena jarak Castlemont dan Universitas Lincoln tidak begitu jauh. Kau bahkan bisa lihat bangunan kampusnya dari halaman belakang sekolah. Yah... hitung-hitung juga balas budi karena Bibi Francis sering mengirimi mereka makanan."

Ciel hanya mengangguk-angguk, walaupun di hatinya ia protes berat karena harus bertemu, eh... orang mesum itu setidaknya dua kali sehari. Mereka pun terus menyusuri lorong di lantai dua sampai akhirnya berhenti di ruangan yang agak ramai.

"Ini bagian administrasi." Alois menelengkan kepalanya ruangan itu. "Kau bawa berkas-berkasnya?"

"Tentu saja." Ciel mengangkat clear file di tangan kanannya.

Sebelum Alois menariknya masuk, seorang anak lelaki berambut cepak yang berlari dari arah yang berlawanan dengan mereka menyadari kehadiran si pirang itu dan berhenti tidak jauh dari situ.

"Hei, Al, sudah mengumpulkan tugas esai musim lalu?" serunya pada Alois. "Mr. Caldron menetapkan batas pengumpulan sampai jam setengah delapan pagi ini." lalu ia kembali berlari.

Alois yang mendengar itu terlihat sedikit shock. "Astaga! Aku lupa ada tugas esai yang harus dikumpulkan! Maaf, Ciel! Aku hanya bisa membantumu sampai sini! Oh, kau tinggal serahkan bekasnya dan biarkan mereka mengurusnya, oke? Daaah!—Hei, tunggu aku, Todd!"

Dengan itu, Alois berlari menyusul si murid berambut cepak, meninggalkan Ciel yang hanya bisa menghela napas mafhum.

Ia lalu membuka pintu berkaca plexi di depannya dan mencari bagian yang antriannya tidak terlalu panjang. Saat gilirannya tiba, ia langsung menyerahkan clear file ke petugas administrasi di depannya.

"Murid baru, eh?" tanyanya pada Ciel sambil membolak-balikkan berkas yang ia serahkan. Ciel menjawabnya dengan anggukan.

"Ciel Phantomhive, kelas senior. Tinggal menyerahkan formulir dan mengambil daftar jadwal." ia menandatangani dan memberi cap di beberapa halaman berkas lalu menyelipkan satu kertas berwarna kuning—persis dengan yang dilihat Lizzy saat di mobil—ke dalam clear file itu. "Kau bisa menemui penanggung jawab kelas senior di ruang sebelah. Berikan berkas ini padanya."

"Terima kasih." Ciel menerima kembali berkas itu dan pergi ke ruangan yang dimaksudkan oleh pengurus administrasi. Ia mengetuk pintu ruangan itu dengan hati-hati. Jawaban 'Masuk' pelan terdengar dari dalam, dan Ciel pun membuka pintu kayu itu.

"Permisi, eh..." ia masuk dengan sungkan. "Saya mencari penanggung jawab untuk kelas senior."

"Itu aku." wanita berumur dua puluhan akhir muncul dari balik rak buku. Ia mengenakan kemeja lengan pendek putih dan rok span biru selutut dan pumps runcing hitam ber-heels lima senti. Rambut kecoklatannya dibiarkan tergerai sampai melewati bahu. Wanita itu berjalan menghampiri Ciel dan mengulurkan tangannya.

"Jodie Brown. Penanggung jawab kelas senior, guru biologi." ia memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Ciel. "Kau Ciel Phantomhive?"

Ciel menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana anda bisa tahu nama saya? Saya bahkan belum memperkenalkan diri."

"Mudah saja." guru muda itu tertawa basa-basi. "Satu-satunya murid pindahan kelas senior tahun ini dan keponakan dari Mr. Middleford, ketua perwalian murid angkatan ke-93 di Castlemont."

"Oh, hahaha." Ciel ikut tertawa seperti orang dungu. "Ah, Mrs. Brown—"

"Miss, nak. Aku masih single." tegurnya.

"Maaf—Miss Brown, petugas administrasi menyuruh saya menyerahkan ini kepada anda." Ciel menyerahkan berkas itu ke penanggung jawab kelas senior itu. Selagi wanita itu memeriksa kertas-kertas di tangannya, dering bel terdengar nyaring dari pengeras suara di lorong.

"Menurut catatan, kau tidak pernah masuk ke sekolah umum sebelumnya?"

"Begitulah." Ciel menganguk.

"Hmmm." ia mengalihkan pandangannya ke remaja biru-kelabu itu. "Kurasa ini sedikit menjadi beban untukmu."

"Tidak, bukan beban." Ciel membenarkan. "Hanya merasa sedikit... asing."

Wanita itu sedikit menelengkan kepalanya. "Terbiasalah, nak. Asalkan pintar beradaptasi, kau akan bertahan di rimba penuh remaja labil ini."

Ciel tertawa pelan. "Terima kasih atas saran anda, Miss Brown."

"Oke, ini sudah lengkap." ia menutup clear file itu dan berjalan ke arah pintu. "Ayo, nak, ikut aku. Kurasa ini waktumu untuk mendapat ucapan selamat datang dari kepala sekolah tercinta."

Tanpa sadar, Ciel tersenyum simpul saat menangkap konotasi dari kalimat wanita berambut auburn yang memutar matanya dengan jenaka.

000

Selama kurang lebih empat puluh menit mendengar cuap-cuap kepala sekolah Castlemont (yang Ciel sendiri lupa siapa namanya, yang jelas berupa bapak-bapak gendut beruban dengan suara tawa yang sangat keras), guru biologi itu pun membawanya menyusuri lantai tiga dan berhenti di pintu kedua sebelum tangga.

"Menurut jadwal, ini kelas pertamamu." Jodie —nama depan guru wanita itu—menyerahkan kertas kuning yang diambilnya dari berkas Ciel. Kertas jadwal pelajaran. Ciel menerimanya dan menekuninya sebentar, lalu melihat ke papan yang tergantung di atas pintu ruangan itu. Tertulis : 3-08. Mathematics II.

Aah, matematika. Betapa Ciel membenci pelajaran satu itu.

Sebelum Ciel sempat merutuk, wanita di sampingnya mengetuk pintu ruangan itu dan membukanya.

"Ah, Mr. Aberline. Bisa minta waktu sebentar?" ujarnya sambil tetap berdiri di depan pintu tanpa masuk ke ruangan itu satu langkah pun.

Seorang laki-laki dengan wajah tipikal berkumis tipis yang sedang mengajar di depan whiteboard berjalan ke arah pintu dan menghampiri mereka. "Oh, Jodie. Ada apa?" tanyanya.

"Ada murid baru. Kebetulan masuk di kelasmu jam pertama ini." ia menjelaskan. "Ciel Phantomhive. Dulunya home schooling di Manhattan."

"Astaga, Yankee!" Aberline membulatkan matanya. "Tak perlu khawatir, nak. Kelihatannya teman-teman barumu akan menyukaimu. Sebentar, aku akan mengumumkan perihal ini dulu pada anak-anak itu."

"Usaha bagus, Aberline." gumam Jodie tanpa terdengar baik oleh Ciel maupun Aberline. "Oh, sampai lupa. ini kunci locker dan kartu daftar hadir sementara. Ini bisa kau gunakan sampai kartu pelajarmu selesai diproses. Absensi di sini dilakukan secara otomatis, kau tahu."

"Baiklah. Terima kasih, Miss Brown." ujar Ciel.

"Oke, kuserahkan kau pada Mr. Aberline." guru muda itu menepuk pundak Ciel pelan. "Yah, selamat datang di Castlemont, Phantomhive. Jika butuh bantuan lagi, kau bisa hubungi aku di ruanganku."

Ciel mengangguk dan menatap kepergian wanita itu sampai menghilang di ujung lorong. Samar-samar ia mendengar suara Mr. Aberline yang sedang mengumumkan tentang dirinya, dan ketika pengajar matematika itu mengisyaratkannya masuk, ia melangkahkan kaki dengan agak gugup ke dalam ruangan itu.

Mata cerulean-nya tidak berani menatap ke atas sampai ia menutup pintu. Ia mengangkat kepalanya, namun tidak melihat ke arah mana pun kecuali ke arah Aberline dan berjalan mendekatinya. Laki-laki itu menepuk punggngnya pelan sesampainya ia di sana, dan mau tak mau, ini membuat Ciel sedikit kaget dan refleks menatap ke depan.

"Jadi, ini teman baru kalian, Ciel Phantomhive." umum Aberline. "Ciel, kuberi kau waktu tiga puluh detik untuk memperkenalkan dirimu di depan kelas."

Konyolnya, sepuluh detik pertama dibuang oleh Ciel dengan percuma. Ia agak speechless melihat berpuluh-puluh pasang mata yang melihatnya dengan penasaran. Saat sudut matanya menangkap sosok remaja pirang bermata biru pudar yang mengacungkan jempol di sudut ruang kelas, ia sedikit kaget, lalu kepercayaan dirinya perlahan muncul.

Ya, Alois Trancy, menyemangatinya dari jauh.

"Namaku Ciel Phantomhive. Asalku dari Manhattan, New York, dan beberapa minggu yang lalu orang tuaku memutuskan untuk pindah ke Oakland karena, eh... keinginanan mereka. Salam kenal."

Selesai perkenalan singkatnya, Ciel menatap semua yang ada di ruangan itu yang beberapa diantaranya mengangguk-angguk dengan wajah yang lebih rileks. Alois sendiri kini mengacungkan dua jempol kepadanya.

"Oke, lebih empat detik, sebenarnya." kata Aberline tidak perlu. "Taruh kartu daftar hadirmu di atas meja, dan silahkan duduk di bangku yang masih kosong.

Ciel menaruh kartu putih kecil di atas meja Aberline dan berjalan ke arah belakang kelas sambil mengabaikan tatapan di sekitarnya. Alois menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, menawarkan tempat.

"Surprise sekali. Aku tidak menyangka di jam pertama aku bisa sekelas denganmu." komentar Alois selagi Ciel merapikan tasnya di tempat yang disediakan.

"Ha. Kelihatannya kau senang." Ciel tersenyum malas. "Kuharap aku tidak bosan bertemu denganmu sepanjang hari."

"Jahat sekali." si pirang pucat menyikutnya. "Bagaimana menurutmu? Sekolah umum tidak semenyeramkan seperi yang kau pikirkan, kan?"

"Hm-mm. Kau benar."

"Ahaha. Dasar paranoid." gelak Alois sambil berusaha mengambil kertas jawal pelajaran Ciel yang sedang digenggamnya. "Hei, coba lihat jadwalmu. Aku ingin memastikan kalau-kalau kita bisa mendapatkan lebih banyak jam pelajaran yang sama dan—"

"Trancy, berhenti mengobrol di kelasku sebelum kau kudetensi." Aberline menatap mereka berdua tajam, suaranya yang ramah tadi berubah menjadi sedikit datar. "Dan kau, Phantomhive, aku yakin kau tidak akan suka mendapatkan surat panggilan di hari pertama sekolahmu. Diam dan perhatikan setiap detail materi yang kujelaskan."

Ciel sontak kaget karena perkataan guru matematikanya itu. Ini adalah pertama kalinya ia ditegur seperti itu oleh seseorang karena hal yang menurutnya sangat sepele. Ia melirik ke sebelahnya, dan ia mendapati sepupu pirangnya itu dengan santainya menatap balik gurunya itu seolah tidak terjadi apa-apa. Hal ini membuatnya sedikit bingung.

"Eh... maaf, Sir." seru Alois sambil cengengesan. Ia membisikkan 'tidak apa, kita lanjutkan nanti' pada Ciel yang (masih) agak pucat karena ancaman itu, lalu memutuskan untuk diam sampai jam pelajaran itu selesai.

000

"Hari ini aku sial!" Alois melempar tangannya ke udara sementara Ciel dan Lizzy tertawa geli sebagai respon.

Jam istirahat, ketiga remaja itu sedang menikmati makan siang mereka di atap sekolah yang sepi, seakan-akan menjadi tempat yang eksklusif dan lebih privacy bagi mereka.

"Haha, kenapa lagi kali ini, sapi?" gelak Lizzy sambil menggigit brokoli di garpunya. Alois yang sedang 'panas' semakin kesal karena perkataan gadis itu.

"Tadi pagi, Mr. Caldron hampir tidak mau menerima esaiku karena aku terlambat mengumpulkannya satu menit. SATU MENIT! Di jam pertama aku dan Ciel hampir terkena detensi oleh Mr. Aberline karena ketahuan mengobrol dan baru saja Mrs. Krüeger memberiku tugas tambahan karena lupa membawa buku teks! AAAARGH!"

"...Liz, apa dia selalu seperti ini?" Ciel bertanya agak khawatir ke Lizzy, sementara yang ditanyai hanya mengedikkan bahu.

"Hal biasa, sih..."

"Aaaah, sial. Sial. Siaaaal." si pirang pucat itu membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Ciel segera mencegahnya saat Alois mencoba membenturkan kepalanya lebih kuat.

"...Aku tidak menyangka kalau sekolah itu sekaku dan sekeras ini." Ciel menghela napas. "Aku sedikit terkejut saat Mr. Aberline menegurku hanya karena hal sekecil tadi. Juga, eh... kesialan-kesialan yang disebutkan Alois."

Baik Lizzy dan Alois menatap remaja biru-kelabu itu bersamaan.

"Bagaimana dengan interaksimu dengan murid-murid lain?" tanya Lizzy sesaat setelahnya.

"Kurasa tidak buruk." Ciel mengangkat bahu. "Aku tidak tahu kenapa, tapi kurasa aku tidak memiliki masalah yang berarti saat membaur dengan mereka. Yah... sedikit-banyak, aku berterima kasih untuk panduan bersosialisasimu waktu itu, Alois."

"Apa kubilang." dengus Alois.

"Kalau begitu, masalahmu hanya dengan sistem internal sekolah ini." gadis pirang itu menyimpulkan. Dahi Ciel tampak sedikit berkerut.

"Maksudmu?"

"Well... bisa kusimpulkan kau tidak biasa dengan peraturan. Contohnya, kau panik saat Mr. Aberline menegurmu karena mengobrol di kelasnya. Mungkin ini karena home schooling tidak punya peraturan yang mengikat secara khusus, kurasa." kata-kata Lizzy ini disambut dengan anggukan pelan Ciel. "Tapi—eh, tunggu—jadi selama ini bagaimana kau belajar saat masih di Manhattan? Apa kau selalu memerhatikan gurumu saat mengajar?"

Ekspresi Ciel menjadi sedikit enggan. "Kalau tutorku sedang mengajar, aku memperhatikannya. Tapi pikiranku pasti kemana-mana."

Lizzy speechless. Alois menahan tawa.

"Ah, salahkan tutorku! Mengajar seperti robot. Menuntut ini-itu. Tidak jelas. Walaupun aku tidak suka matematika, tapi harus kuakui aku lebih bisa menikmatinya saat aku masuk kelas matematika Mr. Aberline. Rasanya benar-benar seperti belajar." sungutnya kemudian.

"Jadi..." Lizzy memajukan posisi duduknya. "Itu sisi positifnya."

Ciel semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran sepupunya itu.

"Ah, begini, Ciel" Alois mencoba menjelaskan. "Sistem sekolah privat mungkin lebih menekankan ke kualitas individu dan mengesampingkan hal lain. Tapi, sekolah umum, disamping mengandalkan kuantitas, kualitas individu juga sama pentingnya dengan kedisiplinan dan tata perilaku. Makanya, di sini aturan sangat dijunjung tinggi."

"...Rasanya agak hipokrit kalau murid yang selalu mendapat hukuman sepertimu mengatakan hal bijak seperti itu." Ciel menyela.

"Hampir! Bukan selalu!" Alois memperotes, namun diabaikan oleh mereka.

Bel berdering dua kali, tanda jam istirahat telah usai. Lizzy yang lebih dulu menyelesaikan bekal makan siangnya berdiri dan menaruh tangannya di pundak Ciel, menatap remaja itu penuh keyakinan.

"Sekolah itu sama sekali tidak kaku dan keras, Ciel." katanya mantap. "Hanya saja... sedikit rumit."

000

Dua jam pelajaran terakhir bisa dijalani Ciel dengan cukup mulus. Walau ia sedikit tidak beruntung karena tidak memiliki jadwal yang sama dengan Alois ataupun Lizzy di sisa hari itu, namun sepertinya tidak begitu menjadi kendala yang berarti. Sedikit-banyak, ia bisa mengikuti apa yang seharusnya murid sekolah lakukan, dan tentu saja, dengan sedikit usaha keras bagi anak—nyaris—anti-sosial seperti dirinya.

Sesaat setelah bel pulang sekolah berdering, Ciel merasa ponselnya bergetar di saku kanan celananya. Ia segera memeriksanya, dan benar saja, satu pesan masuk. Jempol kanannya segera menyentuh bagian padscreen untuk membuka pesan itu.

From : Alois

Ciel, maaf sekali! Hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku lupa kalau hari ini ada regenerasi team baseball, dan mau tak mau aku sebagai kapten harus ikut. Sepupumu yang yang centil itu juga bilang padaku kalau dia harus latihan cheers sampai nanti sore. Kau pulang sendiri tidak apa-apa, kan?

Monday,Sep 1 13.06 p.m

Pulang sendiri, batin Ciel. Tiba-tiba ia teringat dengan percakapannya dengan Alois tadi pagi.

"...Kami biasa diantar-jemput oleh mereka berdua, karena jarak Castlemont dan Universitas Lincoln tidak begitu jauh."

Buru-buru ia membalas pesan singkat itu.

To : Alois

Aaaah, jadi aku harus pulang dengan dua mahasiswa itu? Baiklaaaah. Dimana aku harus menunggu?

Sent.

Dengan sedikit bete, Ciel merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja ke dalam tas. Tidak sampai satu menit, pesan balasan pun datang.

From : Alois

Iyaaa, maaf. Lain kali aku tidak akan lupa. Kau pergi saja ke lapangan parkir timur, biasanya mereka menunggu disana. Hati-hati, oke?

Monday,Sep 1 13.09 p.m

"'Hati-hati' yang di belakang kalimatnya... rasanya agak ambigu." entah kenapa Ciel bergumam seperti itu. Ia menyandang tasnya lalu dengan sedikit gontai berjalan ke tempat yang dimaksud.

Kalau boleh jujur, Ciel sedikit risih harus melewatkan waktu perjalanan pulangnya... terjebak bersama dengan dua orang yang tidak begitu ia kenal. Menurutnya, kalau dengan Claude, sih, tidak masalah. Orang itu terlihat sedikit lebih normal dari yang satunya.

Sekali lagi... siapa namanya? Sebastian? Mungkin. Well, Ciel Phantomhive bukanlah orang yang bisa diandalkan untuk mengingat sesuatu yang spesifik.

Lapangan parkir timur tampak sepi, mungkin karena letaknya yang sedikit jauh dari pintu gerbang atau ini sudah lewat beberapa menit dari waktu pulang sekolah. Dan satu-satunya mobil sedan hitam yang bisa ia temui berada di tengah-tengah parking rows, dimana dua jendela paling depan dibiarkan terbuka dan ia dengan sangat jelas melihat bahwa hanya ada Sebastian, sendirian, di dalam sana.

Ini mimpi buruk.

Raven itu sepertinya tidak memerhatikan Ciel yang datang menghampiri karena terlalu sibuk mendengar lagu You Make Me Feel yang diputar di radio mobilnya. Walau remaja itu sudah berdiri tepat di samping jendela pengemudi, Sebastian tetap tidak memalingkan wajahnya dari dashboard.

"...Hei." Ciel mengetuk-ngetukan buku jari telunjuknya ke pintu pengemudi. Sebastian sedikit kaget saat menoleh ke arahnya.

"Oh, sudah selesai rupanya." mata kemerahannya memerhatikan sekeliling Ciel. "Mana yang lain?"

"Yah, begitulah. Alois harus menghadiri regenerasi team baseball dan Lizzy latihan cheers sampai sore." jawabnya singkat. "Mana Claude?"

"Begitu." Sebastian mengangguk-angguk paham. "Claude juga sedang ada urusan dengan dosennya sampai jam empat nanti. Ayo pulang."

Ciel baru saja membuka pintu mobil bagian pengemudi belakang saat Sebastian buru-buru mencegahnya.

"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk di belakang?" raven itu menaikkan sebelah alisnya. "Itu membuatku terlihat seperti sopir yang sedang mengantar anak majikannya pulang. Sini, duduk di depan, mumpung Claude tidak ada."

Ciel freeze di tempat.

Untungnya Sebastian segera menyadari perubahan ekspresi si biru-kelabu itu saat ia menyuruhnya demikian.

"...Jangan membuat wajah seakan-akan aku akan memakanmu."

Ciel segera menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan pikirannya terbaca. "Hah? Si-siapa yang bilang begitu? Ck, baiklah!"

Dengan sangat berat hati, Ciel mengitari mobil dari belakang agar bisa masuk dari pintu penumpang depan. Sebastian mengecilkan volume radio setelah Ciel menutup pintu dan mulai menjalankan mobil.

"Jangan lupa seatbelt." Sebastian mengingatkan. Ciel memasang seatbelt-nya sambil menggerutu. Hal itu membuat Sebastian tertawa geli.

"Apanya yang lucu?" dengusnya.

"Tidak ada." Sebastian menggeleng pelan.

"Kalau tidak ada, kenapa tertawa? Dasar orang aneh."

Lagi-lagi Sebastian tertawa. Ciel menghela napas kesal sambil melengos ke jendela.

"Bagaimana hari pertama sekolahmu?" raven itu mencoba membuka pembicaraan. Ciel menolehkan kepalanya ke pemuda berambut jet black itu dengan dahi yang masih mengkerut.

"...Baik. Sedikit diluar perkiraaan." Ciel menjawab sekenanya. "Kenapa tanya-tanya?"

Sebastian tersenyum simpul. "Lho? Kenapa? Memangnya tidak boleh?"

"Eh? Yah... boleh, sih..."

Dalam hati, Ciel merasa sangat ingin menjambaki rambutnya sendiri.

Suasana canggung macam apa ini?

Sebastian tertawa pelan melihat semburat kemerahan di pipi remaja enam belas tahun itu. Diam menyelimuti beberapa saat sampai akhirnya Sebastian kembali berinisiatif untuk memulai pembicaraan kembali.

"Ah, ngomong-ngomong, Ciel," ini pertama kalinya Ciel mendengar raven itu memanggil namanya dengan suaranya yang oh-so-damn-cool, dan Ciel nyaris meleleh karena itu, "Aku ingin bertanya satu hal, kalau kau tidak keberatan..."

Ciel menatapnya malas seolah-olah mengatakan, 'Apa?'

"Kau suka makan kentang goreng dengan lumuran es krim?"

"...Pertanyaan macam apa itu?"

"Joking." Sebastian tersenyum geli. "Kukira kau tidak akan memperhatikan apa yang akan kuucapkan."

Ciel menggertakan giginya, kesal.

"Oke, maaf. Aku hanya ingin bertanya..." seketika air muka Sebastian berubah serius. "Kenapa dari awal kita bertemu, kau sudah menunjukkan sikap tidak suka padaku? Apa aku pernah melakukan hal yang salah padamu?"

Ini dia.

Perlahan-lahan, ekspresi Ciel melunak, dan ia menghela napas dengan berat. Ia tak berani menatap wajah lawan bicaranya. Hal ini sedikit-banyak membuat Sebastian maklum.

"Kalau kau tidak mau men—"

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan."

"Eh?"

Dengan cepat, Ciel membalikkan arah duduknya agar bisa menatap Sebastian dengan tatapannya yang kini tidak lagi ragu. Sebastian pun makin heran.

"Tentu saja kau tidak pernah melakukan hal yang salah kepadaku. Kita kan baru saja bertemu." Ciel menggigit bibir bawahnya sebelum menyambung kalimatnya. "...Dan bukannya aku tidak suka padamu. Kau tahu, aku tidak terbiasa berinteraksi dengan orang asing. Memalukan, memang... tapi begitulah kenyataannya. Kehidupan yang telah kujalani sebelumnya yang membuatku begitu."

Sebastian menurunkan kecepatan mobilnya dan beralih ke jalur paling kiri agar bisa memerhatikan anak itu bercerita sambil tetap bisa berkendara dengan aman.

"Aku selalu gugup jika bertemu dengan orang yang belum aku kenal. Apalagi saat acara makan malam waktu itu. Kau tidak punya ide seberapa sulitnya aku berusaha untuk menghilangkan rasa nervous saat mencoba berinteraksi dengan para tamu, sampai-sampai aku mendengarkan tips konyol Alois hanya untuk berbasa-basi dengan mereka." Ciel tertawa pelan mengingat peristiwa itu.

Sebastian tersenyum melihat remaja itu tertawa. Ciel lalu meneruskan ceritanya.

"Dan yang waktu itu..." ia mengambil jeda, "Entahlah. Seburuk-buruknya aku dalam masalah sosial, tapi aku sendiri juga tidak mengerti dengan apa yang kulakukan padamu waktu itu. Aku merasa tolol. Yang aku tahu, hanya..."

Ciel menunduk, dan Sebastian menatapnya semakin intens, sangat penasaran dengan apa yang akan si biru-kelabu itu katakan.

"...Aneh. Aku merasa aneh saat aku melihatmu."

Mata vermillion sang raven membola.

"Kumohon jangan tertawakan aku." pipi Ciel semakin merona. "Semuanya terlihat blur. Disekitarku terasa seperti agar-agar. Kegugupanku... semakin memuncak."

Ada jeda waktu yang lumayan panjang sampai akhirnya mereka sampai dan Sebastian memarkir mobilnya di depan halaman rumah Ciel. Ciel yang tidak tahu harus apa, terus duduk mematung di kursi penumpang depan.

"Benar juga, kita sudah sampai." ia tertawa canggung dan hendak melepaskan seatbelt sebelum...

PLUK.

"...Eh?"

Ciel mendongak untuk menatap pemuda yang dua tahun lebih tua darinya itu. Kini ia, Sebastian, dengan lembut mengusap puncak kepala Ciel sambil tersenyum tulus.

"Aku tahu." ujarnya pelan. "Aku tahu sangat sulit bagimu walau hanya melakukan hal remeh semacam itu. Wajar jika kau merasa nervous luar biasa. Aku mengerti itu. Ciel. Perasaan tidak bisa dipermainkan."

Awalnya Ciel tampak sedikit terkejut, sampai senyum tipis terkembang di wajahnya.

"...Terima kasih." gumamnya. "Aku tidak menyangka kalau sebenarnya kau itu orang yang sangat baik."

"Ahahaha, benarkah?" Sebastian mengacak-acak rambut Ciel sebelum membawa tangannya itu ke dagu remaja biru kelabu itu sambil bergerak mendekat ke arah kursi pengemudi, dan berkenti tepat saat kedua ujung hidung mereka hanya terpisahkan jarak dua sentimeter. Tentu saja perlakuan tak diduga itu membuat Ciel semakin bingung dan merona tak keruan.

"Se-Sebastian, apa maksud—"

"Bagaimana jika kata-katamu barusan itu salah?" raven itu berkata pelan, dan saking dekatnya jarak wajah mereka, sampai-sampai Ciel bisa mencium aroma mint yang menguar dari mulutnya, "Kau tahu... kata-katamu barusan juga seperti anak gadis yang sedang menyatakan cintanya pada orang yang disukainya. Aku sedikit tersanjung. Dan akan sangat kebetulan sekali jika kau tahu aku yang sebenarnya adalah seperti... asumsimu yang pertama?"

Sebastian mengakhiri kalimatnya dengan senyum yang sama dengan saat pertama kali Ciel bertemu dengannya.

Ya, senyum itu. Senyum yang menimbulkan asumsi pertama.

GYUUUUT.

"Aah—ADUUUH!"

"Ternyata aku memang salah, ya? Bodoh sekali aku mengira orang yang sudah MUTLAK MESUM sepertimu sebagai orang baik!" Ciel segera keluar dari mobil Sebastian segera setelah ia menjambak rambut pemuda itu. "Dan siapa juga yang suka dengan orang seperti dirimu? Kau pikir aku ini homo? Kau benar-benar ingin mencari masalah denganku, Michaelis! Sama sekali tidak terima kasih untuk tumpangannya!"

Dengan itu, Ciel membanting pintu mobil dan berjalan dengan kesal memasuki area rumahnya, meninggalkan Sebastian yang masih sibuk mengaduh kesakitan.

"Ciel, Ciel." Sebastian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus mengusap-usap kulit kepalanya yang masih terasa sedikit perih. Mau tak mau, senyum geli terulas di wajah pucatnya saat melihat remaja yang emosi karena ia(lagi-lagi) kerjai itu.

"...Sama sekali terima kasih untuk kejujurannya."


A/N : Spada, readers! Sebelumnya saya mau minta maaf (lagi) karena tidak bisa menepati janji saya untuk update akhir minggu lalu. Tumpukan PR merengek untuk segera diselesaikan, and I have nothing to much for rid them off first.

Untuk chapter ini, saya rasa saya perlu memberi sedikit klarifikasi. Kenyataannya, Castlemont HS dan Lincoln University memang ada dan keduanya terletak di Oakland, tapi letaknya sama sekali tidak berdekatan. Saya sengaja merekayasa posisi mereka demi kelangsungan cerita. Juga tentang orang-orang California dan New York yang pada dasarnya memang tidak mempermasalahkan perbedaan antar ras-distrik karena sifat dasar mereka yang relatif sama. Semua hal ini saya jelaskan berdasarkan pengalaman pribadi untuk menghindari segala bentuk kesalahpahaman.

Satu lagi, tentang semua kata-kata sindiran untuk Hannah, atau ejekan antar Alois-Lizzy, itu... saya sama sekali tidak memaksudkannya. Saya hanya memilih kata-kata random yang saya ketahui tanpa maksud untuk mem-bash mereka. Jadi saya mohon maaf untuk para Hannah, Alois, Lizzy FC juga semua pembaca yang tidak berkenan dengan hal itu.

Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : Kujo Kazuza Phantomhive, Rose, killinheaven, Kusa, Orlyzara, Kojima Michiyo, chiko-silver lady, Aldred van Kuroschiffer, Ariefyana Fuji Lestari dan Ayumi Tsukihime! All those great things handed back for you!

For anon reviewers :

Rose : Anda kurang beruntung, Rose-san! *ga jelas**ditabok* sayangnya mereka belum akur di sini. Tapi yaaa mudah-mudahan saya bisa bikin mereka cepat akur(?) Terima kasih banyak sudah mau mereview lagi!

Kusa : Haa, disini juga Sebastiannya jahil lagi, banget banget malah :D Terima kasih banyak atas dukungannya dan reviewnya (lagi)!

Orlyzara : This time, they're getting MORE closer! XD ahaha pervy-charm-nya Sebastian udah kayak radiasi nuklir dong yaaa harus dikasih warning and no one could resist *apasih?* and keep doing it, then :DD Terima kasih banyak untuk reviewnya!

Typo. Kesalahan struktur kalimat. Lagi. Maaf jika masih banyak ditemukan di chapter ini -_-

Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D