Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only

Warnings : AU, OOC, language—maybe? May contain Sho-ai in the next chapters, semi-drabbles


DING-DONG.

"...Ya, tunggu sebentar." Rachel menaruh sendok sup yang dipegangnya dengan hati-hati dan melepas celemeknya. Dengan sedikit terburu-buru ia berjalan dari dapur ke ruang tamu guna menyambut siapa yang datang bertandang. Sesampainya di ruang tamu, ia membuka pintu dan segera memasang senyum ramahnya.

"Selamat datang, ah... Francis!"

"Selamat siang, Rachel." Francis—adik ipar Nyonya Phantomhive itu menjawab salamnya dengan dagu terangkat. "Apa kedatanganku menganggumu?"

"Tidak. tentu saja tidak." wanita yang sedikit lebih tua menjawabnya santai. "Silakan masuk, kalau begitu."

Francis berdeham pelan sambil masuk ke kediaman baru Phantomhive itu. Di belakangnya, mengekor seorang anak perempuan berambut pirang cerah seusia putranya dengan masker merah muda yang menutupi bagian hidung dan mulut sambil memegangi pipi kiri bagian bawah. Rachel sedikit mengerutkan keningnya melihat pemandangan itu.

"Lizzy? Kau tidak masuk sekolah hari ini?"

Gadis itu merespon dengan suara yang agak tertahan karena terhalang masker. "Eh... selamat siang, Bibi Rachel. Kebetulan aku mengalami insiden kecil dua hari lalu." ia menunjuk rahang bawahnya sebagai isyarat. "Jadi... aku dengan sengaja berkunjung ke sini."

Rachel menelengkan kepalanya. "Insiden kecil?"

"Anak ini membuat dirinya dipukuli oleh temannya sendiri." ujar Francis to the point. Hal itu membuat Lizzy menyenggol lengan ibunya pelan.

"Kecelakaan, Ibu!" sungut Lizzy. "Eh... bukan seperti itu hal yang sebenarnya, Bibi Rachel. Base di tim cheers-ku gagal menangkapku saat aku sebagai Flyer melakukan reverse-spin salto di rehearsal untuk showcase Castlemont musim ini. Dia anggota baru. Kurang terapan teknik, sepertinya."

Rachel menatap si kucir dua itu dengan sedikit iba—walaupun ia sama sekali tidak mengerti apa itu Base, Flyer ataupun reverse-spin salto. "Gadis malang. Lalu, apa yang terjadi?"

"Untungnya, yah... aku tidak terjatuh langsung ke lantai. Tapi, sialnya, tangannya membentur rahang bawahku."

"Oh my." Rachel menangkupkan tangannya. "Bisa kulihat rahang bawahmu?"

Lizzy mengangguk pelan lalu melepas masker merah mudanya dengan sangat hati-hati, memperlihatkan rahang bawah bagian kirinya yang sedikit bengkak dan berwarna merah-keunguan di kulit sekitarnya. Ia mendesis pelan saat Rachel meraba bagian yang janggal itu.

"Kapan kejadiannya?"

Lizzy tertawa miris. "...Empat hari yang lalu."

"Dasar, anak ini!" Rachel pura-pura menjitak kepala Lizzy sementara gadis itu terkekeh. "Sudah tahu sakit, malah ditunggu sampai parah begini!"

"Dia memang keras kepala." dengus Francis. "Dia pasti akan membiarkan lukanya membusuk jika aku tidak memaksanya ke sini."

Rachel menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gadis pemalas. Ya sudah, langsung saja ke ruang periksa di sebelah sana. Biar kuambilkan minum dulu."

"Oke, oke. Baiklah." jawabnya sementara ibunya menarik tangannya ke ruangan yang dibuat agak berbeda dengan yang lain yang terletak di sebelah kiri ruang tamu. Francis menggeser pintu kaca transparan ruangan itu pelan-pelan.

"Cepat sekali renovasinya." Francis memberi komentar. Lizzy mengangguk setuju seraya menghenyakkan dirinya di kursi pasien.

"Yeah. Padahal baru dua minggu Ciel pindah ke sini."

"Itu karena kami langsung mempekerjakan lima orang sekaligus." Rachel muncul dengan satu pitcher penuh lemonade dan dua gelas kosong, agak mengejutkan keduanya bagaimana wanita itu bisa menyiapkannya begitu cepat. "Ide Vincent, sebenarnya. Semuanya selesai satu minggu lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Aku bahkan sudah mulai kerja dari hari Senin lalu."

"Ah, bagus kalau begitu."

"Tapi, praktiknya, kau adalah pasien pertamaku, Liz." Rachel menuangkan lemonade itu ke kedua gelas kosong sambil mengerling ke arah keponakan perempuannya.

"Wah benarkah? Artinya aku bisa dapat potongan harg—"

Ucapannya terputus saat ia menyadari Francis yang menatap tajam padanya. Rachel hanya bisa maklum melihat itu. Sudah menjadi sifat khas Francis Middleford untuk menjadi orang yang pantang menurunkan walau hanya seperkian persen dari harga diri.

"Baiklah, baiklah. Ayo, duduk yang benar. Biar kuperiksa gigimu." putus Rachel sambil menyiapkan peralatan yang ia butuhkan sementara Lizzy bersandar santai di kursi pasien. Dengan tangan terbungkus sarung tangan steril, Rachel memegangi rahang bawah Lizzy dengan hati-hati dan menyuruh gadis itu membuka mulutnya. Ia menurut dan Rachel langsung memeriksa bagian yang sakit dengan teliti.

"Hmm." gumamnya kemudian. Kedua tangannya masih sibuk menyenteri dan menekan-nekan gusi dalam Lizzy menggunakan spatula sementara gadis itu mengerinyitkan dahinya, menahan ngilu. "Memar di kulit luar dan gusi karena benturan yang cukup keras. Pendarahan dalam di gusi antara caninus dan premolar pertama. Untungnya tidak mencederai gigi. Kalau akar gigi sampai retak, bisa fatal."

"Kuanggap itu sebagai tidak begitu parah." respon Francis. "Jadi, apa yang kau lakukan untuk menanganinya?"

"Cukup meredakan pendarahan dalamnya saja." Rachel menaruh senter kecil yang dipegangnya. "Tiga suntikan di area memar, satu kali sehari. Ini akan sembuh dalam waktu kira-kira satu minggu."

Lizzy agak bergidik saat mendengar kata suntik, namun kekhawatirannya sedikit mereda saat Rachel menyambung kalimatnya. "Oh, tidak, dear, kau tidak akan kusuntik begitu saja. Kau bisa gunakan obat bius-kumur, kalau mau."

Rachel menuang cairan bening kebiruan dari botol putih besar ke gelas agak kecil dan menyuruh Lizzy untuk berkumur dengan itu. Gadis itu melakukannya dengan agak enggan sementara Rachel memasukkan obat yang diperlukan ke dalam suntikan. Rachel bertanya apakah efek obat bius itu sudah mulai terasa, Lizzy pun menjawab dengan anggukan dan Rachel segera menyuntikkan obat itu ke gusi kiri Lizzy.

"Wow." Lizzy beranjak dari kursi pasien setelah Rachel menyuntiknya, lalu menghampiri ibunya yang duduk di kursi konsultasi pasien yang disediakan di sudut ruangan dekat pintu. "Tidak begitu sakit seperti yang kubayangkan. Malah sekarang mulutku serasa mati rasa."

"Apa ibu bilang." wanita berwajah tegas itu menegur putrinya. "Sudah besar begini, masih takut dengan suntikan. Memalukan"

Lizzy hanya bisa tersenyum kecut sambil sedikit menundukkan kepalanya.

"Efek dari suntikan itu akan terasa segera setelah pengaruh biusnya hilang, Liz. Akan kuberikankan beberapa obat penghilang rasa sakit disamping antibiotik yang diperlukan. Apa kau memiliki alergi pada jenis antibiotik tertentu?" tanya Rachel sambil menuliskan sesuatu di papan pemeriksaannya. Lizzy menjawabnya dengan gelengan cepat.

"Baiklah. Kurasa Amoxil bisa." Rachel terus fokus menulis sampai tiba-tiba ia teringat sesuatu. Tangannya berhenti seketika, lalu memandangi ibu-anak yang sedang duduk diam di depannya.

"Aku baru sadar kalau rumah kita hanya berjarak empat pintu." ia bergumam pada Francis. "Kutebak, kau pasti punya alasan lain selain sekadar menemani Lizzy jika kau dengan sangat sempatnya datang kemari."

"Tentu saja. Aku juga masih banyak urusan yang jauh lebih penting selain mengunjungimu." Francis menjawab agak galak. "Kebetulan aku hanya ingin mengantarkan ini."

Kening Rachel sedikit berkerut saat ia melihat amplop putih yang disodorkan Francis di atas meja.

"Apa ini?"

"Hasil Tes Akademik Dasar putramu." terang Francis. "Dikirim lewat pos. Sepertinya pengantar surat itu dengan cerobohnya melewatkan ini ke alamat rumah kami."

Rachel mendadak paham. "Aah, tes awal tahun ajaran baru itu. Bagaimana dengan hasil tes Lizzy dan Alois?"

"Mengagumkan, seperti biasa. Liz mendapatkan dua nilai A di Kimia dan Aljabar, dan Alois mendapatkan rata-rata B+."

"Yah, anak-anakmu memang hebat seperti biasa." puji Rachel setengah-setengah karena sedang kewalahan membuka perekat amplop.

Hidung agung Francis kembang-kempis. "Tentu saja. Anak-anakku tidak akan mungkin menjadi bukan yang terbaik."

Wanita bermata safir itu menjawabnya dengan tawa. Akhir kata, amplop itu berhasil dirobeknya dan ia membuka lipatan kertas di dalamnya dengan sedikit terburu-buru. Matanya dengan teratur menyambangi deretan nilai yang tidak begitu mengecewakan yang berhasil diperoleh putranya sambil tersenyum bangga. Namun sayang, senyum itu tidak bertahan lama di wajah cantiknya saat ia melihat satu deret tulisan dengan warna yang sama sekali berbeda dari yang lain.

"Astaga..."

000

"Kalau saja mereka berdua tidak sibuk, pasti kita tidak akan menderita karena berdiri di atas bus saat cuaca panas seperti ini."

Dua orang remaja yang sangat berbeda—yang satu pirang dan semampai sementara yang satunya berambut biru-kelabu dan agak pendek—berdiri tengah-tengah bus umum yang agak padat sambil mengipas-ngipaskan tangan mereka yang bebas ke arah bawah dagu mereka. Walaupun sudah dilengkapi dengan air conditioner, musim panas di California bukanlah hal yang mudah ditaklukkan oleh pendingin sakti itu.

"Sudahlah, Alois." Ciel, pemuda biru-kelabu berusaha meredakan emosi si pirang pucat yang mengerucutkan bibirnya. "Urusan mereka jauh lebih penting dari mengantar kita sampai rumah."

"Kalau alasan Sebastian, sih, masih bisa kuterima. Ia masih sibuk di perpustakaan kampusnya untuk mencari bahan makalah. Sedangkan Claude? Dia pergi kencan ke Telegraph-Avenue melihat Culturefest dengan Hannah! DENGAN HANNAH!"

Ciel menaikkan sebelah alisnya. "Eh? Wajar saja, kan? Hannah kan pacar Claude? Memangnya kau cemburu?"

"—Hah? T-tentu saja tidak! Untuk apa aku cemburu? Memangnya apa peduliku? Aku... aku hanya iri saja, mereka bisa datang ke festival itu sementara aku tidak bisa karena sangat bentrok dengan jadwal sekolah!"

Remaja biru-kelabu itu malah manggut-manggut. Dalam hati Alois merasa sangat lega dengan keluguan sepupu angkatnya itu karena tidak menyadari kepalsuan alibi yang dibuatnya. Pemberitahuan halte berikutnya segera terdengar dari pengeras suara, memecah keheningan yang cukup lama setelah percakapan yang canggung itu.

"Kita turun di halte ini." ujar Alois. "Ayo."

Bus pun berhenti di halte yang dimaksud. Kedua remaja itu turun di antrian paling akhir, karena hampir setengah dari penumpang bus itu juga turun di halte itu. Alois tertawa dalam hati melihat Ciel yang kelihatan sedikit linglung memerhatikan sekitarnya.

"Yang benar saja! Halte ini terletak tepat di 44th street dan kita selalu melewatinya setiap pergi dan pulang sekolah." semburnya. "Apa ingatanmu selalu sependek itu?"

Ciel memasang raut wajah jengah. "Aku hanya tidak memerhatikan, Alois."

"...Selalu begitu."

"Apa katamu?"

Alois buru-buru menggeleng. "Tidak, tidak. Lupakan. Eh, ngomong-ngomong... kita tinggal jalan kaki saja ke Monday Dew. Hanya setengah kilometer dari sini."

"Apa? Kau bercanda? Itu kan jauh!" Ciel membulatkan matanya.

"Dasar anak manja!" Alois pura-pura memukul belakang kepala Ciel dengan buku teks Fisika yang dipegangnya. "Bahkan gerbangnya pun sudah kelihatan dari sini! Jauh dari sisi mananya?"

Ciel hanya bisa bersungut-sungut sambil mengusap kepalanya sementara Alois sudah terlebih dahulu menyeberangi jalan.

"Ah—tunggu." remaja bermata cerulean itu segera menyusul rekannya. Dengan susah payah ia mengimbangi langkah Alois yang lebih panjang dan cepat. Alois menghela napas sebelum memperlambat kecepatannya dan menoleh ke belakang.

"Cepat sedikit." gerutunya. "Panas sekali. Aku sudah tidak sabar untuk segera sampai ke rumah dan berdiri di depan kulkas yang terbuka."

Ciel tertawa geli sebagai respon. Ia berlari kecil sampai ia berhasil menyusul Alois, lalu mulai berjalan normal kembali.

"Setiap sore..." Alois memulai percakapan saat mereka sudah sampai setengah jalan, "Biasanya kau kemana?"

Ciel menatap Alois dengan alis sedikit terangkat. "Tidak kemana-mana. Memangnya kenapa?"

"Kau sibuk belajar dirumah, kalau begitu?"

"Tidak juga. Ada apa, sih?"

"Tidak." Alois mengedikkan bahunya sambil fokus menatap aspal. "Kalau kau tidak sibuk, ke basecamp saja. Yang lain suka menanyakanmu, lho."

"Hah?" keningnya mengerut kali ini. " Basecamp?"

Si pirang pucat melambaikan tangannya. "Aah, maaf, maaf. Rumah nomor enam, maksudku. Yah... kau tahu. Yang waktu itu."

"Eh—yah. Oke."

Jujur, lidahnya sangat berat untuk menyatakan satu kata terakhir, namun Ciel dengan refleks mengatakannya saat mata biru langit itu menatapnya dengan sorot meminta, dan ia merasa tidak enak untuk mengatakan tidak. Tapi tetap saja ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya, dan ia sangat sulit untuk menyimpan hal itu terlalu lama seolah-olah akan menjadi 'tumor' jika tidak segera diutarakan.

"Hei, Al." gumamnya kemudian. "Aku ingin bertanya padamu. Soal... sesuatu."

Alois tiba-tiba menatap sepupu angkatnya itu dengan penuh semangat dan memperkecil jarak langkahnya. "Hee? Sesuatu? Apa itu?"

Ciel mengangguk pelan." Yah... sesuatu. Dan kumohon—jangan tertawa saat aku sedang bertanya."

Alois sedikit tergelak. "Ahaha... uh... sesuatu yang rahasia, kalau begitu? Soalnya tidak biasanya kau memanggilku 'Al', kecuali memang jika kau akan memberitahu sesuatu yang privasi."

"Geez, bukan rahasia." Ciel menatap alois sedikit kesal. "Berhenti tertawa. Kau mau aku cerita atau tidak?"

"Iya, maaf. Aku siap mendengarkan."

Selang beberapa detik sebelum Ciel siap untuk berbicara.

"Sebastian Michaelis itu..." ia memulai takut-takut. "Apa dia... abnormal?"

Alois langsung menatap Ciel seolah-olah sepupunya itu sudah gila.

"A-atas dasar apa kau menanyakan hal aneh seperti itu?"

Ciel menggeleng pelan. "Karena itulah aku bertanya padamu. Kau ingat dua minggu yang lalu, saat aku pulang sendirian sementara kau dan Lizzy masih ada urusan di sekolah?"

Alois terlihat sedikit kaget, ia mengangguk satu kali sambil mempercepat langkahnya.

"...Sebenarnya waktu itu aku pulang hanya berdua dengan Sebastian."

"Err—benarkah? Kukira juga dengan Claude." si pirang pucat merespon canggung—seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

"Yeah. Eh, dan dia, uh..." Ciel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dia..."

Ciel menggantung kalimatnya sementara Alois mulai bergerak-gerak gelisah.

"Ah—sudahlah. Lupakan." Ciel memalingkan wajahnya ke jalanan beraspal.

"Lho?" Alois memasang wajah heran, padahal dalam hatinya ia lega setengah mati.

"Ya—eh, tapi, tunggu... aku agak tidak enak menceritakannya, tapi—"

"Astaga! ASTAGA!" tiba-tiba Alois berteriak seperti orang kesetanan sambil menunjuk-nunjuk ke arah rumahnya dari kejauhan. "Bibi Francis sudah pulang! Aku, eh... aku lupa menyembunyikan Xbox yang kumainkan tadi malam di kamar! Gawat kalau sampai ia melihatnya! Aku duluan, Ciel! Daaaaah!"

Alois segera berlari secepat mungkin menuju rumahnya, meninggalkan Ciel yang hanya bisa tercengang di tengah jalanan yang kering.

'Haaah, selamat.' batin Alois dalam hati saat ia sampai di depan pekarangan rumahnya. Ia menengok sebentar ke belakang, kalau-kalau Ciel masih bisa terlihat di ruang penglihatannya. 'Meninggalkan Xbox? Yang benar saja! Alasan konyol macam apa itu?' ia tersenyum sendiri.

"Yah, setidaknya sampai sejauh ini... rencanakumasih aman."

000

"Aku pulang."

Tepat saat Ciel berbalik setelah menutup pintu rumahnya, ia mendapati ibunya, Rachel, duduk dengan kaki dan tangan menyilang di sofa ruang tamu. Di tangan kanannya, terlihat sebuah kertas putih ukuran normal yang terlihat masih baru meski memiliki banyak bekas lipatan yang rapi. Wanita itu menatapnya dengan pandangan tegas, sudut-sudut bibirnya sedikit tertekuk ke bawah.

"Mum?" Ciel melihat ibunya dengan sedikit heran. "Tumben sekali Mum menungguku pulang sekolah di ruang tamu."

"Ya, tumben sekali, eh?" Rachel mengerucutkan bibirnya. "Duduk, Ciel Phantomhive. Aku ingin bicara empat mata denganmu, sekarang juga."

Walau bingung, Ciel mematuhi perintah ibunya. Kerutan di dahinya semakin jelas saat ia sekilas melihat gambar di sisi kanan surat yang dipegang ibunya sama dengan lambang di saku kemeja yang sedang ia pakai.

Dari Castlemont. Sekolahnya.

"Mum baru saja menerima hasil Tes Akademik Dasar-mu."

Ciel mengangguk-angguk cepat. "Yeah... tes itu. Maaf, Mum, aku lupa memberitahumu waktu itu."

"Tidak masalah." Rachel berdecak di balik giginya. "Bagaimana menurutmu tentang tes itu?"

"Itu hanya mengukur batas kemampuan dasar saja, kan? Kurasa aku tidak banyak menemui kesulitan saat mengerjakan semuanya." ia mengedikkan bahu.

"Begitu?" wanita itu memberikan kertas ditangannya ke remaja biru kelabu di depannya. "Tapi kupikir aku menemukan kesulitan di salah satunya."

Ciel menerima kertas itu dengan sebelah alis terangkat. Ibunya masih dengan ekspresi yang sama, menunjukkan kegusaran. Ia segera mengalihkan pandangannya ke kertas yang diterimanya, lalu ia membukanya pelan-pelan. Ia membaca goresan-goresan tinta printer itu dengan cepat. Apa yang dilihatnya adalah mayoritas huruf B dan sesekali huruf A. Ciel masih merasa tidak ada yang salah sampai mata azure-nya menangkap satu deret tulisan bertinta merah terang.

9. Math - - - (F)

Inilah yang salah.

"Sudah menemukan dimana kesulitanmu?" tanya Rachel sedikit menuntut. Ciel tetap membelalakkan matanya di tulisan itu, kedua telapak tangannya mulai berkeringat.

"...Ya." cicitnya.

"Oh, baguslah. Bisakah Mum tahu apa itu?"

"...Matematika. Nilai F."

"Hebat!" Rachel pura-pura memberikan applause sementara alis matanya makin menukik tajam. "Yang benar saja, Ciel. Apa kau bercanda dengan nilai F yang ada di sana? Nilai macam apa itu?"

"Tapi, Mum! Kau tahu aku tidak suka matematika!" Ciel berusaha membela diri. Ia merasa sedikit gentar saat menyadari sejauh ini ibunya memanggilnya tanpa sebutan dear seperti biasanya.

"Ya, ya, dan ya. Mum selalu tahu." ia mengetuk-ngetukkan ujung kakinya. "Mum tahu dari dulu kau tidak suka matematika. Tapi bukan berarti kalau kau itu tidak bisa! Sia-sia saja rasanya Mum memberimu jadwal tutoring lebih untuk subjek ini dari awal kalau sampai sekarang kau masih seperti ini!"

"Tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian!" sela Rachel cepat. "Ini tidak akan berhasil. Kau tidak akan bisa lulus sekolah dengan nilai seperti itu. Mulai hari ini, kau akan belajar lagi dengan tutor yang sudah Mum carikan."

"Aaargh! Tutor lagi?" Ciel mengerang frustasi. "Kala begini sih, Mum yang bercanda! Belajar di sekolah kan sudah cukup! Aku tidak butuh tutor!"

"Kau butuh." Rachel menekankan kalimatnya. "Khusus untuk satu mata pelajaran ini. Aku tidak menyangka kau sepaya ini dalam matematika, Ciel."

Ciel memutar matanya. "Ayolah, Mum, Please. Kata tutor saja sudah membuat suasana hatiku buruk. Apalagi Matematika. Double sial."

Rachel menatapnya galak, dan remaja biru-kelabu itu pun menghela nafas. Pasrah.

"Aku menyerah." sungutnya kemudian. "Siapa tutornya? Dari pengajar akademi?"

Ibunya menggeleng sebagai jawaban. "Lebih baik dari itu."

"Ahli matematika? Profesor?"

"Itu berlebihan. Tapi Mum rasa dia memang ahli di bidang itu." jelasnya. "Lagipula... kau sudah kenal baik orangnya."

"Eh? Jangan-jangan Mr. Aberline sendiri, guru Matematikaku di Castlemont?"

Lagi-lagi Rachel menggeleng.

Ciel semakin heran. "Lalu, siapa?"

"Itu..."

000

Sebastian memarkir mobilnya dengan hati-hati di bagian halaman rumahnya yang tertutupi kanopi. Jam digital di dashboard menunjukkan pukul setengah enam sore, sinar matahari yang sudah memudar sedikit mengaburi matanya. Ia mematikan mesin mobil, lalu melihat sekilas bayangan rumah di belakangnya melalui spion tengah sebelum keluar dari sedan hitam itu.

Tentu saja dengan maksud tertentu.

Tangan kanannya sedikit sibuk mencari kunci rumah di saku celananya, dan tepat saat pintu cokelat besar tepat berada di depan batang hidung, ia menemukannya. Dengan tidak sengaja telapak tangannya mendorong pintu itu, dan dengan mudah saja pintu itu terbuka. Sebastian tertawa pelan, merasa sedikit konyol karena hampir membuka pintu yang tidak terkunci dengan sebuah kunci.

Pemandangan pertama yang ia lihat saat memasuki rumah adalah: sepatu. Bukan hanya satu, tapi berpasang-pasang sepatu, dengan ukuran, model dan warna yang berbeda-beda. Bahkan beberapa terasa familiar di matanya, meski ia bukanlah tipe orang yang tidak terlalu suka memerhatikan sesuatu secara mendetail. Sepatu-sepatu itu tergeletak dengan sangat tidak rapi sehingga menutupi sebagian besar jalan masuk. Sebastian menggeser sepatu-sepatu yang menghalangi jalannya menggunakan kakinya dengan sembarangan, alisnya makin berkedut mendengar suara-suara ribut yang datang dari arah ruang tengah.

"Sebas-chan sudah pulang!" kelebat rambut merah panjang menghampirinya dengan tiba-tiba saat kakinya tepat menginjak ubin ruang tengah. Dengan sangat sigap raven itu mengelakkan diri dari 'serangan mendadak' itu, dan dengan sangat mirisnya, si 'penyerang' terjatuh karena berlari terlalu semangat. Gelak tawa terdengar keras sementara si rambut merah itu mengusap-usap hidungnya yang mencium lantai dengan kesal.

"Kupikir kau akan pulang nanti malam." Sebastian menoleh ke seseorang yang duduk di sofa besar bersama wanita berambut purplish, mengabaikan insiden yang baru saja terjadi. "Aku sempat heran kenapa bisa ada banyak tamu sementara kupikir rumah masih terkunci."

Yang diajak berbicara, Claude, menelengkan kepalanya ke arah wanita di sebelahnya. "Hannah tidak begitu menikmati festivalnya. Jadi kami memutuskan untuk kembali lebih awal."

"Apa sih enaknya jalan-jalan di tengah keramaian seperti itu?" Hannah menggerutu sambil tetap fokus pada layar ponsel di tangannya. "Panas. Sesak. Kotor. Lebih baik aku pergi ke shopping town di Rockridge daripada ke sana"

Sebastian memutar matanya mendengar jawaban Hannah.

"Kau bawa makanan, Seb?" si poni pirang, Ronald, mendongakkan kepalanya dengan susah payah karena sedang tidur terlentang di atas karpet bersama Alois, Agni, Soma, dan Edward. "Aku lapaaaaar."

"Jadi maksudmu datang kesini hanya untuk minta makan? Kau pikir aku ibumu, hah?"

Ronald mencoba merayu Sebastian dengan mengedip-negipkan matanya dengan sok imut—yang membuat Sebastian nyaris muntah. "Ayolah, Seeeeeb. Aku tahu kau pintar memasaaak."

"...Ada banyak mini sandwich di kulkas dan keripik kentang di kabinet nomor dua dari kanan." Sebastian akhirnya menyerah. "Dan jangan panggil aku 'Seb'. Itu seperti—"

"UOOOH! MAKANAN!" rombongan manusia itu segera menyerbu dapur seperti vampir haus darah sebelum Sebastian sempat menyelesaikan kalimatnya. Sebastian menghela napas keras-keras melihat kelakuan tamu-tamunya itu, lalu berlalu menaiki tangga ke lantai dua.

"Dasar barbar."

Sebastian melangkahi anak tangga dua-dua dan menuju ke kamarnya yang terletak di sudut lantai dua. Ia membuka pintu kayu hitam di hadapannya dan menghempaskan backpack yang ia bawa begitu saja ke atas kasur. Dengan sedikit buru-buru ia membuka lemarinya dan mengambil asal beberapa potong pakaian dan membawanya ke kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian, Sebastian keluar dari kamarnya mengenakan kaus putih polos dan celana cargo dan handuk yang masih bergantung di puncak kepalanya yang masih basah. Ia turun ke ruang tengah pelan-pelan setelah menyambar Dr. Pepper di buffet kecil dekat banister. Ia menaikkan sebelah alisnya melihat tumpukan-tumpukan kertas sandwich dan remah-remah keripik di atas karpet—dan sedikit kesal mendapati sekotak nacho kesukaannya yang telah kosong yang sengaja ia sembunyikan di pojok kulkas, bagaimana bisa mereka menemukannya?—sambil menggeleng-geleng pasrah. Segelintir orang yang duduk mengelilingi makanan-makanan itu sibuk mengelus perut mereka yang terasa lebih penuh.

"Kenyang, eh?" kata Sebastian sarkastis. "Bereskan itu sebelum pulang atau kukuliti kalian semua satu-satu."

"Beres, bos!" jawab mereka hampir serempak sebelum salah satu dari mereka mengeluarkan suara sendawa yang agak keras.

"Rasanya dari tadi aku tidak melihat Liz." tambahnya. "Kemana dia?"

"Sakit." jawab Soma singkat. Sebastian ber-hmm pelan.

"Aku butuh minuman." keluh Alois sambil mengaisi sisa-sisa keripik di bungkusan yang sudah kosong. "Boleh kubuka jus apel yang ada di kulkas?"

"...Kalian benar-benar bermaksud membuat aku dan Sebastian mati kelaparan." kali ini Claude yang angkat suara.

"Kuanggap itu sebagai 'boleh'." remaja pirang itu segera berlalu tanpa peduli apa yang akan protes lebih lanjut dari dua mahasiswa itu. Sebastian hanya bisa mengedikkan bahunya ke Claude yang tersenyum miris.

Tak lama, suara bel berbunyi dua kali, menginterupsi keadaan yang semula hening. Semua orang di ruangan itu tiba-tiba menngerinyitkan dahinya sambil melihat ke arah satu sama lain, kecuali Sebastian yang malah tersenyum lebar.

"Hee? Sepertinya semua sudah hadir disini." Grel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Siapa lagi yang akan datang ke sini? William?"

"Ha! Itu kedengaran mirip seperti saat kau menceritakan ada kucing yang pandai bermain ukulele." sergah Soma.

"Hei, hei, Sebastian, ada apa dengan senyum di wajahmu itu?" Edward bertanya to the point, agak heran dengan raven satu itu. "Kau tahu siapa yang datang?"

Sebastian memutar tubuhnya sebelum beranjak ke ruang tamu, memamerkan raut wajah misteruisnya yang dibuat-buat.

"Oh, tentu saja. Dia adalah ...seseorang yang sudah membuat janji bertemu denganku malam ini."

000

"Ck... selamat malam."

"Apa-apaan dengan decakan sebelum ucapan salammu itu?"

Sebastian menatap remaja berambut biru-kelabu di depannya yang malah cemberut dan memalingkan wajahnya ke arah samping sebelum menjawab pertannyaannya dengan malas-malasan.

"Dengan berat hati aku datang ke sini dan sangat sangat banyak berharap bahwa kau tidak akan ada di rumah untuk malam ini, tutor matematika baru." dengusnya. "Tapi rupanya aku kurang beruntung."

Sebastian tersenyum geli. "Begitukah? Bukannya kau malah beruntung?"

Ciel, sang tamu, pura-pura tertawa. "Lucu sekali. Dasar orang mesum narsis."

"Yah, sesukamu sajalah." Sebastian terkekeh. "Silakan masuk."

Ciel mengumamkan kata 'permisi' sambil membuka sepatunya di depan pintu. Ia agak kaget melihat begitu banyak sepatu yang berceceran di lantai ruang tamu sementara Sebastian dengan asal menumpuknya di satu tempat.

"Biasa, mereka." ujar si raven. "Di sini saja, ya? Ruang tengah... agak berantakan."

Remaja itu berdeham sebagai jawaban. Sebastian menyuruh Ciel untuk duduk sementara dirinya kembali memeriksa ruang tengah. Ternyata ruangan itu sudah kosong, hanya tersisa bungkus-bungkus makanan dan jaket-jaket yang ditaruh sembarangan. Sebastian berdecak saat mendengar suara-suara heboh yang datang dari arah halaman belakang. Ternyata mereka dengan seenaknya pindah ke sana dan meninggalkan ruangan itu dengan kondisi yang sangat kacau.

"Aman." Sebastian berkata pada Ciel sekembalinya ia ke ruang tamu. "Para barbar itu sudah pindah ke halaman belakang. Jadi setidaknya kau bisa belajar dengan tenang."

Si mata cerulean menatap tutor barunya itu dengan pandangan tidak peduli.

"Kapan kau akan mulai mengajar?" gertaknya.

"Eh? Langsung ingin belajar?" Sebastian sedikit surprise. "Kupikir kau ingin sesi perkenalan lebih dulu..."

Ciel memutar matanya. "Oh, ayolah. Kita sudah saling kenal. Aku Ciel Phantomhive dan kau Sebastian Michaelis. Rasanya tidak penting juga mengenal orang aneh sepertimu lebih jauh."

"Apa? Aku aneh?"

"...Mungkin?"

"Siapa itu?"

Baik Ciel dan Sebastian membalikkan badannya ke arah suara asing yang mereka dengar.

"Aaah... sesi perkenalan." Ronald, si interuptor, tertawa mengejek di balik dinding pemisah antara ruang tamu dan ruang tengah. "Seperti kencan buta saja... Apakah—"

Satu bantalan kursi tepat mengenai wajah Ronald, memotong perkataan absurdnya.

"Ron..."

"Waaaa! Aku dimarahi Sebastian! Hahahaha!" Ronald segera berlari seperti orang gila ke halaman belakang. Sebastian memijit pangkal hidungnya, sakit kepala mendadak karena kelakuan orang satu itu sementara Ciel speechless.

"Abaikan yang barusan." Sebastian melambaikan tangannya. "Jadi... Ron sialan. Sampai mana tadi?"

"Uh... sesi perkenalan?" bodohnya, Ciel malah memberitahukan hal yang sebenarnya ingin ia hindari.

"Yah, benar. Sesi perkenalan." Sebastian mengangguk-angguk pelan. "Kalau kau tidak ingin tahu apapun tentangku, maka aku mungkin saja ingin tahu apapun tentangmu."

"...Aku ingin pulang."

"Hei, hei, aku bercanda." katanya kemudian. "Maksudku bukan perkenalan seperti itu."

"Memangnya seperti apa? Data diri? Umur? Berat badan? Ukuran sepatu? Hobi? Makanan kesukaan? Penyanyi favorit? Motto hidup? Alamat e-mail?"

"Bukan!"

Ciel menggertakkan giginya. "Lalu?"

"Yang simpel saja. Berhubung aku adalah tutor Matematika, aku ingin bertanya..." Sebastian menopang dagunya seolah sedang memikirkan sesuatu, "Apa yang membuatmu tidak suka Matematika?"

Yang ditanyai malah menaikkan sebelah alisnya. "...Hah?"

"Kenapa 'hah'?"

"Uh... kau tahu dari maka kalau aku tidak suka Matematika?" tanyanya ragu.

"Lalu apa gunanya Mrs. Phantomhive meneleponku langsung tadi siang saat aku sedang ditengah-tengah kuliah kalau bukan untuk meminta bantuan untuk membantu anaknya yang sedang memiliki kesulitan?" jelas raven itu panjang lebar. Ciel membulatkan matanya mendengar itu.

"...Benar juga." gumamnya.

Sebastian menahan senyumnya melihat reaksi Ciel. "Jadi, apa jawabanmu?"

"...Aku tidak suka angka."

Kali ini giliran Sebastian yang keheranan. "Hah?"

"Kenapa 'hah'?" Ciel membalikkan pertanyaan Sebastian, senyum geli terbentuk di wajahnya. "Harusnya kau memberi masukan dan saran dan bla bla bla, bukannya kaget."

Sebastian menyilangkan kedua tangannya. "Tidak, tidak. Aku hanya sedikit heran. Tapi ibumu bilang... nilai pelajaran eksakmu yang lain baik-baik saja. Terutama Fisika dan Kimia. Padahal kedua pelajaran itu memiliki basic awal Matematika, lho."

"Tapi kalau Fisika dan Kimia kan mempunyai rumus pasti. Tidak serumit Matematika." gerutunya.

"Tunggu... rumus pasti?" pemuda jet black itu bertanya ulang, takut salah menangkap perkataan Ciel barusan. Ciel mengangguk cepat.

"Oke. Aku mengerti masalahmu sekarang." putus Sebastian.

"Lho? Apa maksudmu?" Ciel mengerinyitkan dahinya.

"Kau lupa kalau Matematika membutuhkan logika."

Kerutan di kening Ciel terlihat semakin dalam.

Sebastian berdeham. "Maksudku... Matematika bukanlah sesuatu yang sederhana. Tidak semudah bagaimana cara menghitung besar radiasi benda hitam dalam Fisika atau stoikiometri dalam Kimia. Kau tidak bisa menerapkan satu rumus saja dalam satu persoalan Matematika. Yah... kecuali jika kau adalah anak kelas dua Sekolah Dasar."

Ciel berdecak. Sebastian tertawa kecil lalu melanjutkan narasinya.

"Seperti saat kau bertemu dengan soal yang kelihatannya mudah, tapi sebenarnya menjebak. Misalnya, jika ada permasalahan Matematika dimana kau diberi satu persamaan kuadrat dengan akar-akar simetris dalam variabel, dan disediakan optional fungsi perbandingan. Kau pasti akan memfokuskan pikiranmu hanya untuk mencari nilai masing-masing akar. Sebenarnya yang perlu kau lakukan hanyalah menganalisa kurva dan menemukan titik maksimum dengan sumbu x berdasarkan hasil—"

"Stop, stop. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Ciel menekan pelipis kanannya dengan jempol, wajahnya berubah hijau. "Bisakah kau tidak memulai teori hari ini? Rasanya memang lebih baik kalau hari ini full untuk perkenalan diri saja."

"Ternyata kau itu adalah jenis orang yang mudah menyerah." sindir Sebastian.

"Berisik." sungutnya.

Lagi-lagi Sebastian tertawa.

"Aku sangat tidak menyangka orang mesum sepertimu adalah seorang jenius Matematika." remaja biru kelabu itu memiringkan kepalanya, memandang Sebastian skeptis.

Sebastian tersenyum simpul. "Memangnya kau berharap apa?"

"Kupikir kau itu hanyalah mahasiswa biasa yang kerjaannya berkeliaran kemana-mana, tebar pesona pada semua mahasiswi di kampusmu dan mengoleksi majalah dewasa."

"Pfft... hahaha!" Sebastian tergelak. "Pemikiran macam apa itu? Aku memang hanya mahasiswa biasa, tapi sama sekali tidak seperti yang kau sebutkan dalam deskripsimu."

Ciel mengangkat bahunya. "Yah... itu pemahamanku menurut apa yang kulihat di drama televisi."

"Kalau begitu, kurangi nonton drama dan perbanyak belajar Matematika." usulnya.

"Bisa tidak berhenti menggunakan kata 'Matematika'?" Ciel protes. "Aku sudah cukup muak mendengar ceramah Mum tentang hal satu itu seharian ini."

"Lho? Tapi aku ini kan tutor Matematikamu."

"Tapi ini kan sesi perkenalan!"

Sebastian menghela napas. "Iya, oke. Tidak ada lagi kata 'Matematika'."

Jeda sebentar sampai Ciel berinisiatif memulai pembicaraan baru.

"Kau ini mahasiswa jurusan pendidikan Matematika?"

Si raven malah tersenyum bingung. "Tuh, kan? Tadi kau sendiri yang bilang 'berhenti gunakan kata 'Matematika''."

"Itu peraturanku, jadi aku yang berhak untuk melangggarnya." ia membela diri. "Jawab saja pertanyaanku."

"Bukan, kok." responnya. "Aku mahasiswa kedokteran."

"LHO? KENAPA PINTAR MATEMATIKA?"

Sebastian ikut-ikutan kaget melihat Ciel yang berteriak kaget. "...Memangnya tidak boleh"

"Bukan begitu!" elaknya. "Aneh! Mahasiswa mesum pintar Matematika sepertimu ini ternyata seorang mahasiswa fakultas kedokteran! Mengherankan sekali!"

"... Well, aku tidak tahu apakah aku harus menganggap itu sebagai ejekan atau pujian."

"Kenapa bisa begitu?" Ciel mengabaikan kalimat Sebastian. "Padahal Biologi dan Matematika kan sangat berseberangan!"

"Kedokteran tidak hanya mempelajari Biologi. Aku juga masih belajar ilmu eksak lainnya." jawab Sebastian sekenanya. Tapi melihat tatapan Ciel yang belum puas, Sebastian dengan sedikit berat melanjutkan alasannya.

"Sebenarnya... yah, aku tidak berminat pada kedokteran. Aku hanya mengikuti kemauan kedua orang tuaku saja."

Ciel menatap Sebastian agak lama, lalu menganguk-angguk mafhum.

"Yeah, aku tahu bagaimana rasanya dipaksa untuk melakukan hal yang tidak disuka." gumamnya. "Apapun yang kau usahakan akan berakhir seperti dikerjakan setengah-setengah."

Sebastian membenarkan posisi duduknya. "Begitu menurutmu?"

"Ya, kurasa." kedua mata sapphire itu beralih ke jam dinding besar di sudut ruangan dengan tidak nyaman. "Seperti... lho?"

"...Lho?"

"Aah! Tidak terasa sudah tujuh saja!" dengan riang Ciel bangkit dari sofa, lalu meregangkan tubuhnya yang terasa agak kaku karena duduk terlalu lama. "Akhirnya selesai juga! Hampir saja aku cerita yang tidak perlu kau ketahui padamu!"

"..."

Ciel memasang senyum kelegaan di wajahnya. "Senang sekali satu jam neraka denganmu akhirnya selesai. Terutama... aku tidak perlu belajar pelajaran menyebalkan itu. Haaah."

Raven itu segera pulih dari keadaan speechless-nya. "Time saves you."

"Yeah!" dengkingnya. "Oke, aku pulang sekarang! Diantar-jemput olehmu setiap hari sekolah saja sudah membuatku malas! Semoga aku tidak bertemu lebih sering lagi denganmu!"

CTIK!

'Anak ini...' rutuk Sebastian, 'Ternyata sangat menyebalkan!'

"Ah, iya benar juga." Ciel berbalik ke arah Sebastian setelah selesai memasang sepatunya. "Sebenarnya aku sangat tidak ingin menanyakan ini, tapi... dengan sangat terpaksa. Kapan jadwal belajarku selanjutnya?"

"Eh, itu..."

Secepat kilat, sebuah ide balas dendam terlintas di benak Sebastian. Raven itu pun menyunggingkan senyum liciknya pada Ciel yang tidak mencium sedikit pun hal buruk di pikirannya.

"Besok." ia menjawabnya dengan cepat, disengajakan. "Ibumu sudah mengatur jadwalmu untuk mendapakan tutoring setiap hari."

"Oke!" saking senangnya, Ciel menanggapi itu dengan abai. "Aku pulang dulu. Selamat malam!"

'Kena!' batin Sebastian lagi. Ia melambaikan tangan pada Ciel yang perlahan menghilang di balik pintu rumahnya, masih dengan senyum licik yang sama.

"Sampai jumpa besok malam."

BLAM.

Dua mata cerulean membelalak tepat setelah ia menginjakkan kakinya di pekarangan rumah nomor enam itu.

'...setiap hari.'

"APA?"


A/N : P-permisi... saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak ada update untuk minggu lalu! *brb bakar sekolah -kidding-* But now here I am, bringing a (unfortunately, short T_T) newest stuff just for you, dear readers!

Ahaha, juga tentang hint sho-ai... kayaknya ga ada di chapter ini, ya? Maaf sekali untuk yang menantikannya, saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda disini. Tapi kalau anda semua mau bersabar menunggu chapter depan... Voila. There's going to be a lot of them, I promise ;)

Oh iya, soal OC. Saya sampai lupa pasang pengumuman(?) penting kalau sebenarnya... mereka bukan OC. Itu orang asli, teman-teman saya malah, dan dengan seenaknya saya pakai nama mereka sampai akhirnya Keshahaha dan Jodie Brown sendiri yang memberitahu saya soal itu. Sorry, pals -_-

Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : chiko-silver lady, Rose, killinheaven, Orlyzara, risa777, Kujo Kazuza Phantomhive, Keshahaha, Kojima Michiyo, Aldred van Kuroschiffer dan Kusa! I wish I could give a better payback!

For anon reviewers :

Rose : Haha, disini untungnya beda! Wah, iya sih, tapi tentu saja teman-teman Ciel selain para sepupunya itu tetap jadi minor OCs dan akan saya munculkan seperlunya. Terima kasih lagi untuk reviewnya, Rose-san!

Orlyzara : Glad to hear from you again, dear! Even you used Morse code I won't give a damn as long as it pleased me XD haha, is this naughty? Instead I could easily say that Sebastian WAS naughty! And please do pray for the more further personal attack because my magic wand probably would make your wish comes true! Thanks for the review, Orlyzara-san! Your ramblings are nectar to me! :D

Kusa : Di chapter ini cukup kata 'mesum' saja, ya, Kusa-san? Kasihan Ciel kalau di 'mesum'in(?) melulu. Semoga Kusa-san tidak kecewa. Oke, tidak apa-apa, terima kasih lagi untuk reviewnya!

Mohon maaf lagi yaaa atas nama mbak typo dan mas kalimat salah struktur~

Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D