Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only

Warnings : AU, OOC, language—maybe? A little Sho-ai appears here, semi-drabbles, Additional OC inserted


Ciel bergelung nyaman di balik selimut tebalnya, mencoba mengabaikan rasa dingin udara pagi yang masuk menembus ventilasi udara. Alarm dari ponsel di atas nightstand yang sudah di-snooze berkali-kali kembali berbunyi, dan dengan setengah sadar ia mematikan suara berisik itu dengan paksa. Ia berbalik ke arah yang berlawanan perlahan-lahan dan mengeluarkan suara berdecap, masih menolak membuka mata meskipun ia sudah sepenuhnya terbangun. Tawa pelan terdengar dari pangkal tenggorokannya, merasa lucu sendiri karena memasang alarm pagi di hari sabtu.

Yah, hanya pelajar yang punya kelainan otak yang ingin bangun jam lima subuh di hari sabtu.

Kedua mata royal blue itu akhirnya membuka, walaupun dengan malas-malasan, menatap jam dinding yang terletak tepat di atas pintu kamar dalam cahaya ruangan yang minim. Jarum pendek sudah hampir sampai di angka tujuh, membuatnya agak terkejut karena perkiraannya tentang waktu agak meleset. Ia mengerang sebelum bangkit untuk duduk dan mengosok kedua matanya. Cahaya matahari yang masuk dari celah-celah tirai membuat refleksi titik dan garis di sebagian permukaan lantai dan selimut. Ciel menguap lebar dan menggelengkan kepalanya cepat untuk menghilangkan rasa pusing.

Tanpa peduli untuk merapikan tempat tidurnya yang berantakan, remaja biru-kelabu itu menyeret langkahnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia melepaskan seluruh pakaiannya dan membiarkannya begitu saja di lantai kamar dan menyambar mantel handuknya sebelum mengunci pintu kamar mandi.

Lima belas menit kemudian, ia siap dengan kaus rumah longgar dan trunks selutut. Tetes kecil air turun dari rambutnya yang baru dikeramasi, membasahi sebagian kecil bahu dan tengkuk kausnya. Tangannya hendak mencapai gagang pintu, namun segera ditariknya kembali setelah melihat kekacauan di atas tempat tidur dan kain-kain yang beserakan di lantai. Ia menghela napas lalu memutuskan untuk merapikan kamarnya itu terlebih dulu. Setelah melipat selimut tebal bermotif kingcross dan melempar beberapa baju kotor ke keranjang cucian, Ciel mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nightstand dan segera keluar dari kamarnya yang keadaannya sudah jauh lebih rapi.

Ciel berlari kecil menuruni tangga menuju ruang makan. Tidak seperti apa yang diharapkannya, ruangan itu sepi tanpa ada tanda-tanda ibu ataupun ayahnya yang biasanya sudah standby sejak jam enam pagi. Tidak ada bau kental teh yang baru diseduh maupun bunyi gerasak kertas koran yang sedang dibaca. Ia menaikkan sebelah alisnya melihat kejanggalan ini. Sudut matanya menangkap selembar Post-it besar di pintu kulkas. Ia mencabut kertas memo kuning itu dari dinding kulkas dan membaca isinya.

"Dad dan Mum pergi menjenguk nenekmu ke rumah sakit di Sacramento. Kami berangkat tengah malam dan sengaja tidak membangunkanmu karena kami tahu kau keletihan setelah tutoring sampai jam 11 malam. Jika kami tidak kembali sebelum sarapan, ada chicken pie di freezer. Hangatkan dulu sebelum dimakan." gumamnya sambil menerawang.

"...Aku bahkan tidak ingat bagaimana wajah Granny."

Ia mengedikkan bahunya tidak peduli, lalu melempar memo itu ke tempat sampah dan membuka freezer. Ia menemukan sepotong besar chicken pie beku —yah, memang terasa janggal sarapan pagi dengan menu makan malam, tapi Ciel tidak peduli—dalam wadah pyrex datar, mengeluarkannnya dari pendingin dan membuka wrapping plastic yang menutupinya. Dihangatkannya pie itu menggunakan microwave dan sementara timer berjalan mundur, ia menuang susu segar ke dalam gelas besar dan menyiapkan botol saus di atas meja makan. Bunyi 'ting' lantang terdengar dari microwave dan Ciel segera mengeluarkan pie itu dengan hati-hati, memindahkannya ke atas piring dan menyemprotkan saus di atasnya. Remaja itu menimbang-nimbang sebentar sampai akhirnya ia memutuskan untuk tidak sarapan di ruang makan.

Ciel bergegas membawa sepiring pie hangat dan segelas susu segar ke ruang tengah. Ia menaruh gelas ke atas meja sebelum menghenyakkan dirinya di atas sofa kulit yang berukuran paling besar dari yang lain. Ditariknya beberapa lembar tisu di atas meja untuk mengalasi piring di tangannya yang mulai menghangat. Ia menyilakan kedua kakinya di atas sofa lalu menggapai remote TV dengan tangan kirinya yang bebas dan menyalakan kotak-elektronik-yang-bisa-mengeluarkan-gambar-bergerak tersebut. Tangannya berhenti mengutak-atik tombol remote setelah layar TV menampilkan kanal yang sedang menayangkan kartun pagi.

Well, baik Vincent maupun Rachel tak akan segan untuk memarahinya jika mereka mendapati Ciel sedang melakukan ini.

Ia keletihan dan matanya masih terasa agak berat karena 'dipaksa' belajar matematika oleh tutor barunya yang menyebalkan itu di hari kedua tutoring-nya. Bayangkan saja, ia disuruh menyelesaikan 100 soal Matematika tingkat olimpiade nasional! Ia tidak diperbolehkan pulang sampai semuanya terjawab dengan benar. Alhasil, ia menghabiskan hampir enam jam hanya untuk menjalani tutoring a la Sparta itu.

Ciel menikmati sarapannya dengan tenang sambil sesekali tertawa saat melihat adegan-adegan konyol di kartun yang sedang ditontonnya. Tidak sampai dua puluh menit, ia menyelesaikan makan paginya itu. Ia menenggak habis sisa susu di gelasnya lalu menyeka mulutnya dan membersihkan kaus dan sofa yang terkena remah kulit pie yang garing menggunakan tisu bekas alas piring pie. Tepat saat Ciel menaruh piring dan gelas kotor di tempat cuci piring, refrain lagu Angie terdengar dari ponselnya yang ditaruh di ruang tengah. Setengah berlari, ia kembali ke ruang tengah dan segera mengangkat panggilan masuk itu tanpa melihat identitas si penelepon yang terpampang di layar ponsel.

"Halo?"

"Halo, Ciel?" suara yang sudah tak asing lagi di telinganya merespon dari seberang. "Dear, kau sudah bangun? Kau sedang apa sekarang? Apa kau sudah sarapan?"

"Whoa, Mum, satu-satu." Ciel mengerjapkan matanya mendengar kecemasan berlebihan ibunya itu. "Aku sudah bangun dan sekarang sedang menonton TV dan baru saja selesai sarapan dengan chicken pie yang Mum sediakan. Kalianmasih di rumah sakit?"

"Yah, begitulah. Ayahmu sekarang sedang pergi ke bagian administrasi rumah sakit untuk mengurusi biaya rawat inap."

Ciel ber-hmm pelan. "Bagaimana keadaan Granny?"

"...Tidak begitu baik." jeda sejenak. "Penyumbatan di jantungnya memburuk. Sudah tiga bulan ini Beliau mengalami tremor hampir setiap minggu. Kami memutuskan untuk memasang Ring, dan sekarang kami dan Alexis juga Francis sedang membicarakan tentang prosedur operasinya dengan dokter."

Ciel menaikkan sebelah alisnya, "Tunggu—mereka juga ada disana?"

"Tentu saja, dear. Bibi Francis kan juga anak beliau." Rachel terdengar gusar. "Dan, yah... sepertinya kami tidak akan pulang dalam waktu dekat. Dokter bedah kardio bilang kalau prosedur pemasangan Ring baru bisa dilaksanakan besok. Jadi kami harus menunggu seminimal mungkin sampai itu selesai."

"Oh..." si mata cerulean itu mengangguk-angguk pelan. "Jadi Mum dan Dad tetap disana sampai besok..."

"Kemungkinan besar begitu. Ah, benar juga—kenapa kau tidak menginap di rumah Bibi Francis saja? Daripada kau kesepian sendirian di rumah. Bibi Francis bilang, Lizzy, Edward dan Alois ada di rumah, kok."

"Hah? Tapi tidak apa-apa... aku kan sudah terbiasa sendirian, Mum..."

"...Yakin tidak apa-apa? Kau di lingkungan baru, lho, Ciel. Oakland sangat berbeda dengan Manhattan."

Ciel tertawa pelan. "Mum tidak usah khawatir. Nanti kalau ada apa-apa, aku kabari lagi."

"Baiklah. Kalau kau ingin menginap disana malam ini, jangan lupa kunci pintu rumah, oke?"

"Iya, oke." jawabnya. "Cepat sembuh buat Granny."

"Akan kusampaikan. Jangan lupa kabari aku kalau kau berubah pikiran."

"Sip, Mum. Daah."

"Dah, dear. Jaga dirimu."

Ciel menutup sambungan panggilan terlebih dahulu. Tangannya memainkan layar sentuh ponsel sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya. Ia menghela napas, lalu kembali menuju dapur dan mencuci piring yang sudah ia pakai. Setelah itu ia mengumpulkan sampah dapur dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di depan rumahnya sebelum diambil oleh petugas kebersihan setiap pukul sembilan pagi. Ia mengambil kunci rumah cadangan yang disediakan ayahnya di dalam laci buffet ruang tamu dan membuka pintu utama. Kakinya menginjak sesuatu yang empuk saat ia menginjakkan kakinya ke luar rumah, dan sesuatu itu adalah koran dan beberapa surat. Ia memungutnya dengan tangan kirinya yang bebas dan terus berjalan keluar pekarangan.

Matanya sibuk memerhatikan sekitar, dan apa yang dilihatnya adalah lingkungan Monday Dew yang sangat sepi. Di hari weekend seperti ini memang biasanya orang-orang lebih memilih bersantai di dalam rumah mereka dibanding melakukan aktivitas outdoor, apalagi bagi orang-orang yang pada malam sebelumnya berkesempatan 'merayakan' Friday night mereka. Laki-laki pirang kecil yang sedang menyiram tanaman—sejauh ingatan Ciel, namanya Finnian—melambai ke arahnya dengan riang dari rumah tepat di sebelahnya, dan ia membalasnya dengan senyum simpul. Ia segera menaruh plastik sampah itu ke dalam tong hijau besar di depan halaman rumahnya.

Saat hendak berbalik kembali menuju rumah, sekilas ia melihat remaja perempuan yang juga sedang membuang sampah berbungkus plastik hitam besar di depan rumah nomor dua dengan wajah yang sedikit ditekuk. Ciel sedikit menyipitkan matanya karena tidak bisa melihat dengan jelas dari kejauhan sampai akhirnya ia menyadari siapa orang itu.

"Lizzy!"

Mendengar namanya dipanggil, orang yang dimaksud menoleh.

"Ciel?"

Mereka saling menghampiri satu sama lain sampai pertengahan jalan Monday Dew menjadi titik temu mereka. Ciel tertawa kecil setelah melihat penampilan sepupunya yang agak 'beda' dari dekat.

"Kukira tadi kau itu bukan kau." komentar Ciel. "Habis... tidak biasanya aku melihatmu dengan rambut lurus dan wajah kusut seperti itu. Ngomong-ngomong, memarmu sudah sembuh?"

"Seperti yang bisa kau lihat—aku sudah bisa kembali ke sekolah Senin depan." Lizzy mengenyampingkan rambutnya yang biasa ikal dan dikucir dua, namun sekarang terlihat lebih lurus dan digerai. "Yah, biasanya aku memang mengeritingkan rambutku. Tapi karena ibu dan ayah pergi, jadi aku tidak punya waktu untuk itu. Kau tahu... aku capek mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian."

"Sendirian? Tapi Mum bilang padaku kalau kau, Edward dan Alois tinggal di rumah. Kemana yang lain?"

"Ke Hypermart. Baru saja berangkat." jawab si gadis pirang santai. "Tidak ada apapun yang tersisa di kulkas yang bisa kami makan, jadi mereka kusuruh berbelanja bahan makanan."

Ciel menelengkan kepalanya. "Satu orang sudah cukup untuk pergi berbelanja. Kenapa Alois tidak tinggal saja?"

Lizzy malah tertawa sarkastis. "Kurasa jika aku dan dia yang tinggal malah akan membuat rumah tambah berantakan."

"Hah?" Ciel bingung, sedetik kemudian ia mengerti apa maksud sepupunya itu." Ah— Iya juga, ya..."

"Jadi, kau tinggal sendirian di rumah?" Lizzy mengalihkan arah pembicaraan.

"Iya." jawabnya. "Dad dan Mum bahkan baru memberitahuku kalau mereka pergi tadi pagi."

Tiba-tiba wajah Lizzy berubah cerah. "Kebetulan sekali! Tadi pagi Ayah juga bilang kalau orang tuamu ikut menyusul ke Sacramento, jadi Beliau menyarankan padamu untuk menginap di rumah kami saja!"

"Eh? Mum juga bilang begitu,sih..." Ciel mengangkat kedua bahunya. "Tapi kurasa aku baik-baik saja sendirian di rumahku."

Lizzy merengut. "Ayolah, Ciel. Baik kedua pihak sudah berkata seperti itu. Menginap saja di rumah kami. Kita bisa bermain sepuasnya sampai besok."

"Uh—tapi..."

"Aku memaksa!"

Ciel menghela napas. Sorot mata hijau zamrud Lizzy membuatnya sulit untuk berkata tidak.

"...Baiklah."

"Yay!" soraknya. "Begitu, dong! Tidak baik jadi anak anti-sosial terus-terusan!"

Ciel langsung protes mendengar dirinya lagi-lagi dikatai 'anti-sosial'. "Hei! Aku bukan—"

"Terserah, terserah!" tiba-tiba Lizzy menggamit lengan remaja biru-kelabu itu dan menyeretnya kembali ke rumahnya. "Ayo cepat kemasi barang-barangmu! Biar sekalian kubantu! Haha!"

"Lho? Hei! Sebentar, pelan-pelan, Liz! Aku tidak bisa berjalan—dengan posisi terbalik seperti ini!"

Namun sayang, gadis pirang itu malah mengabaikan panggilan Ciel yang makin kepayahan karena seenaknya dipaksa olehnya berjalan mundur dengan cepat.

000

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas tengah hari. Ciel duduk malas-malasan di ruang tengah rumah keluarga Middleford sambil sesekali menyesap cola dingin di tangannya. TV plasma di hadapannya menampilkan tayangan red carpet di satu acara premiere sekuel film Hollywood yang sedang booming di seluruh dunia. Hampir satu jam acara berlalu dan sampai sejauh ini yang ia lihat adalah para artis dan orang-orang terkenal yang disoroti kamera silih beganti, sibuk melambaikan tangannya pada hujan blitz di seberang mereka sambil menyunggingkan senyum tiga jari. Atau sesekali wawancara singkat dengan topik yang relatif sama dan kadang terkesan tidak perlu.

Membosankan.

Ciel menyambar remote TV di hadapannya dan menggantinya ke kanal yang sedang menayangkan serial bergenre sci-fi. Ditaruhnya kembali remote itu ke atas meja dan merilekskan posisi duduknya. Bunyi berisik terdengar dari arah dapur, dan awalnya ia tidak mengacuhkannya. Namum bunyi berisik itu kembali dan terus berulang dan ini membuat telinga Ciel gatal.

"Err—Liz? Apa yang sedang kau lakukan?"

Tidak ada respon dari arah dapur, tapi tak lama kemudian gadis pirang itu muncul dengan satu bungkusan plastik besar berwarna merah dan sebotol marmalade. Ia menaruh bawaannya itu di atas meja yang ada di depan Ciel lalu duduk bersila di di lantai yang beralas karpet. Ciel menaikkan sebelah alisnya melihat kedua benda yang dibawa sepupunya itu.

"Apa itu?"

"Camilan dadakan." Lizzy menggulung asal rambutnya menjadi messy bun. "Hanya ini yang tersisa di dapur."

Ciel mengangkat bungkusan merah besar yang sudah separuh terbuka itu lebih dekat ke wajahnya sambil ikut duduk di atas karpet. "Biskuit ladyfinger? Ini kan tidak ada rasanya..."

"Karena itu aku sekalian membawa marmalade." gerutunya. "Kemana, sih, dua orang itu? Kenapa sudah jam segini belum sampai juga? Apa mereka lupa masih ada seseorang yang hampir mati kelaparan menunggu mereka pulang?"

Ciel hanya bisa tersenyum simpatik melihat sepupunya yang mencocoli biskuit ladyfinger ke botol selai jeruk di tangannya dengan wajah masam.

"Kami pulang!"

Suara Edward terdengar dari ruang tamu, bersamaan dengan bunyi pintu yang ditutup perlahan. Lizzy segera menghentikan pergerakannya sampai dua batang hidung muncul dari arah ruang tamu dan tiba-tiba kembali menarik ladyfinger di tangannya dari botol marmalade dan memakannya tepat saat Edward dan Alois yang membawa masing-masing satu kantong kertas besar lewat di depannya.

"A-apa-apaan itu?" Edward sedikit shock melihat apa yang dilakukan adiknya. "Kenapa kau makan biskuit tanpa rasa itu dengan selai jeruk?"

"Kau pikir kenapa aku mau memakan ini dengan ini?" balas Lizzy sarkastis—kelaparan sepertinya sukses membuatnya bad mood, "Itu karena kalian lama sekali!"

Sebaliknya, Alois malah mengulum senyum geli melihat itu. "Ahaha... rasanya menyedihkan sekali ya, memakan itu dengan itu? Untung saja tadi aku dan Ed sempat pergi ke food parlor dan makan dua cheeseburger juga milkshake langsung di sana dan—"

"—Jangan dengarkan si gila ini, Liz." potong Edward. "Baik aku atau Alois sama sekali belum makan dan kami membeli semua pesanan untuk takeaway. Jadi ini bagianmu." Edward memelototi Alois sebelum menyodorkan satu kantong kertas yang lebih kecil ke hadapan adik perempuannya yang segera menyambar bungkusan itu begitu saja tanpa ucapan terima kasih. Ia lalu melirik ke arah Ciel yang duduk berhadapan dengan adik perempuannya itu.

"Oh, aku sampai tidak sadar kalau kau ada disini, Ciel."

"Ah—yah, halo, Ed." Ciel terbata. "Tadi Liz menyuruhku untuk menginap sementara di sini—"

"Ya, ya, aku tahu. Ayah sudah bilang begitu tadi pagi." Edward memotong perkataan Ciel dengan sedikit tidak sopan. Ciel menghela napas maklum.

"Kau sudah makan?" tanya Edward lagi. Remaja itu agak bingung, apakah maksudnya sudah makan pagi atau sudah makan siang, mengingat waktu yang sudah sangat tanggung untuk keduanya. Ia putuskan untuk mengangguk, lalu Edward mengedikkan bahunya sambil mengeluarkan satu lagi cheeseburger dari kantong kertas dan mulai menggigiti makanan bundar itu dengan lahap. Alois terus berjalan ke arah dapur dan menaruh kedua kantong belanjaan di atas meja makan yang kosong melompong. Ia lalu mengambil makanan bagiannya dan kembali ke ruang tengah untuk bergabung dengan yang lain. Mereka bertiga menghabiskan cheeseburger itu dengan cepat—mungkin efek kelaparan akut—sementara Ciel ikut memakan kentang goreng yang ditawarkan Lizzy.

"Worthless." ujar Edward sambil meremat kertas bekas bungkusan burger miliknya. "Satu cheeseburger sama sekali tidak mengenyangkan."

Lizzy mengangguk setuju. "Aku juga! Ini lebih seperti mengotori gigi daripada mengganjal perut."

"Kebetulan sekali, ini hampir jam makan siang." Alois melihat jam dinding di sisi kanan ruangan dengan mata berbinar. "Bagaimana kalau sekarang kita mulai membuat makan siang?"

"Benar juga..."

"Kalau begitu, ayo kita memasak!" seru Edward sambil berlari ke dapur. Lizzy, Alois dan Ciel saling pandang sampai ia kembali melongokkan kepalanya ke ruang tengah. "Apa yang kalian lakukan? Cepat bangun dan bantu aku di dapur!"

Ketiganya bangkit dari tempat duduk mereka semula dan segera mengikuti Edward. Mereka menghampiri dua kantong kertas di atas meja makan.

"Kita akan masak apa hari ini?" tanya Lizzy antusias.

"Banyak." Alois merespon. Lizzy memutar matanya.

"Terserah." katanya abai. "Ed, memangnya kau membeli apa saja? Kantung belanjaan ini terlihat penuh sekali."

Edward mulai mengeluarkan isi kantong itu satu per satu dan menjejerkannya dengan rapi di atas meja makan. Hampir semua bahan makanan mereka beli, mulai dari daging, ayam potong, telur, tepung, kentang, kaldu, keju, roti perancis, sayuran organik, sampai segala jenis herbs.

"Banyak sekali!" gadis pirang itu membulatkan matanya.

Alois mengangguk-angguk santai. "Tentu saja. Hari ini kita akan makan sepuasnya!"

"Ngomong-ngomong," Edward mengelus dagunya."...siapa yang akan memasak?"

"Lho?" Alois menatap Edward heran. "Bukannya kau yang akan memasak? Ini semua kan bahan makanan pilihanmu!"

Edward menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya aku pernah bilang kalau aku yang akan memasak?"

"Tadi kau dengan mudahnya mengambil ini-itu di hypermart. Kupikir kau sudah punya bayangan akan memasak apa sesampainya kita di rumah." Alois menyela.

"Hem..." Edward terlihat serius. "Semuanya kuambil karena terlihat enak. Tapi... aku tidak tahu caranya memasak."

"LALU KENAPA KAU TIDAK AMBIL BAHAN MAKANAN INSTAN SAJA?"

"Hei, santai!" Edward membela diri. "Kukira kau bisa memasak, makanya kuambil bahan makanan apa yang kusuka! Lagipula sedari tadi kau tidak protes melihatku menaruh semua ini di keranjang belanjaan!"

"Itu karena aku tidak tahu apa-apa!"

"Ya sudah! Kalau begitu, Liz saja yang memasak! Dia kan perempuan!"

Lizzy kaget mendengar namanya dibawa-bawa. "Eeh? Kenapa aku?"

Alois merengut. "Karena perempuan biasanya bisa memasak!"

Wajah Lizzy memerah malu saat Alois berkata begitu. "E-enak saja! Memangnya semua perempuan harus bisa memasak?"

"Tentu saja! Kalau tidak, kenapa ada yang namanya 'ibu rumah tangga'?" Edward ikut-ikutan.

"Aah, berisik! Aku—aku juga tidak bisa memasak!"

"Payah!" dengus Alois. Lizzy ingin balas memprotes, tapi ia hanya bisa bungkam. Ciel yang sedari tadi speechless melihat perdebatan itu dengan tidak sengaja menjatuhkan bungkusan tomat yang ia genggam. Alois sontak menyadari itu dan segera menoleh ke arah Ciel.

"Dia... satu-satunya harapan kita." ujarnya sok dramatis.

Edward dan Lizzy ikut-ikutan mengangguk sok dramatis, lalu Edward berjalan menghampiri remaja bermata cerulean itu dan memegang pundaknya dan berkata seolah-olah itu adalah wasiat terakhir darinya.

"Kau sudah lama hidup sedirian di Manhattan, dan aku tahu kau biasa melakukan pekerjaan rumah sendirian. Jadi beritahu kami..." ia menatap Ciel penuh harap, "Apa kau bisa memasak?"

"Eh... dulu Dad memesan makanan rutin untukku dari restauran khusus di kondominium. Praktisnya, aku tidak pernah memasak makananku sendiri." jawabnya takut-takut. "Jadi, yah... Aku juga tidak bisa memasak."

Edward, Alois dan Lizzy menghela napas lunglai.

"Memangnya... Bibi Francis tidak punya buku resep?"

Lizzy menggeleng. "Ibu terlalu pandai memasak sampai tidak membutuhkan buku resep."

Ciel menelengkan kepalanya ke arah ruang tengah. "Kalau begitu, kenapa kita tidak menonton siaran memasak saja? Di internet pun juga banyak."

Edward tertawa miris. "Aku dan Liz sudah pernah mencobanya. Dan kebanyakan hasilnya... arang goreng mentega. Skill kami dalam memasak sepertinya memang payah..."

"Aah, sial sekali." lirih Lizzy. "Sepertinya kita harus makan di luar untuk hari ini..."

Alois berdecak. "Mustahil. Semua uang yang ditinggalkan Paman Alexis habis untuk membeli ini semua."

"Jadi... apa yang harus kita lakukan?"

Semuanya terdiam lesu sampai Alois menangkap bayangan sedan hitam yang lewat dari jendela dapur yang langsung tembus ke garasi. Seketika senyum terkembang di wajah pucatnya.

"Kurasa aku tahu dimana kita bisa makan kenyang tanpa perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk hari ini..." ia menyeringai, "juga besok."

000

"Jadi... kalian ingin menginap disini hanya karena tidak bisa memasak makan siang dan makan malam?"

Tiga wajah cerah dan satu wajah cemberut mengangguk serempak. Si pemuda kacamata di hadapan mereka, Claude, memijit pangkal hidungnya melihat pemandangan di depan rumahnya ini.

"Kami bahkan sudah membawa banyak bahan makanan supaya tidak merepotkan kalian!" Alois mengangkat bungkusan besar yang dibawanya. "Kami hanya meminjam tenaga dan tempat, kok!"

"...Baiklah, baiklah." Claude akhirnya menyerah. "Silakan masuk."

"Horeee!" ketiganya (kecuali satu) bersorak kegirangan, lalu melepas sepatu mereka dan menaruhnya sekenanya di sudut ruangan sebelum menggantinya dengan sandal rumah yang sudah disediakan. Rumah itu kelihatan tenang dan sepi, hanya ada suara TV yang dinyalakan dan bunyi gemericik air dari arah dapur. Claude memandu mereka berempat ke lantai dua dan membuka pintu paling akhir yang ada di sudut ruangan.

"Edward, Alois dan Ciel bisa tidur di sini." Claude menyalakan lampu kamar itu. Di dalamnya ada satu king-sized bed, satu lemari, dua sofa kecil dan kaca besar. "Kasurnya cukup besar. Aku yakin itu akan muat untuk kalian bertiga."

Edward mengetuk-ngetukkan kakinya sebelum menoleh ke pemuda bermata kekuningan itu. "Tempat tidur, sih... bukan masalah. Tapi apa bisa aku mendapatkan kamar sendiri, Claude? Aku akan membuat tugas nonstop sampai subuh dan aku takut itu akan mengganggu tidur mereka."

"Hmm..." Claude berpikir sejenak. "Kau bisa pakai kamarku. Aku bisa tidur di kamar Sebastian kali ini. Ada di sebelah sana, tidak dikunci."

"Oke, thanks." Edward berlalu sambil membawa backpack-nya yang kelihatan berat. Claude lalu berbalik ke arah tamu yang tersisa.

"Kamar ini jadi hak milikmu dan Ciel untuk malam ini." katanya pada Alois. Alois ber-hmm pelan dan masuk ke kamar itu, diikuti oleh Ciel. Lizzy yang sedari tadi diam saja menyikut lengan Claude.

"Aku bagaimana?"

"Sepertinya yang tersisa hanya kamar di lantai bawah." jelasnya. "Nanti aku akan minta tolong pada Hannah untuk menemanimu."

Alois berdecak saat ia mendengar nama wanita itu. Ciel menelengkan kepalanya, sedikit heran, tapi ia diam saja.

"Kutinggal kalian sekarang, ya? Aku harus mengantar Lizzy ke kamarnya. Kalau ada apa-apa, aku di lantai bawah, oke?" pemuda berkacamata itu pun menutup pintu kamar setelah Alois dan Ciel mengangguk sebagai jawaban.

"Nah," Alois menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Ciel memeriksa saku hoodie-nya dan mengeluarkan ponselnya dari sana. "Entahlah. kurasa aku harus memberitahu Mum dulu kalau aku menginap di sini."

"Ah, iya." Alois memutar tubuhnya ke arah sisi pintu dan menyadari bahwa kantong bahan makanan mereka masih tergeletak di sana. Ia segera bangkit dan menyambar kantong itu sebelum berbalik ke arah sepupu angkatnya. "Aku mau ke lantai bawah untuk mengantarkan ini. Ini sudah hampir waktu makan malam, jadi mereka bisa menggunakan bahan makanan kita untuk membuat menu makan malam. Kau mau ikut?"

Ciel menekan tombol dial di ponselnya sembari merespon Alois. "Kurasa aku akan menyusul nanti. Kau duluan saja."

"Oke. Sampai jumpa di dapur." pemuda pirang itu pun menghilang di balik pintu kamar.

000

Ciel berlari kecil ke lantai bawah menuju dapur segera setelah menelepon ibunya. Semuanya sudah berkumpul di sana, sedang sibuk menyiapkan makan malam. Ciel menyipitkan matanya saat ia melihat sesosok berambut hitam dan bermata scarlet yang sedang memotong-motong daging. Yang sedang ditatap sendiri menyadari aura kebencian yang menguar dari samping kanannya, lalu berbalik menghadap remaja biru-kelabu itu.

"Ah, satu tamu lagi." sapanya absurd. "Akhirnya berinisiatif untuk membantu?"

"Apa maksudmu dengan kata 'akhirnya'?" balas Ciel sewot. "Tadi aku harus mengurus sesuatu, bukannya tidak mau membantu, tahu!"

Raven itu hanya tertawa pelan menanggapi gerutuan Ciel.

"Tadi sepertinya aku melihat Senior Ron." Lizzy memutar-mutar spatula di atas wajan yang sedang dipanaskan. "Kemana perginya dia?"

"Tidak tahu. Waktu ia melihat Alois turun membawa bahan makanan, ia langsung berlari keluar rumah." Claude mengangkat bahunya.

Alois tertawa geli. "Mungkin dia ketakutan melihat paha ayam."

"...Konyol."

"Kalian tahu? Kita bisa memberi makan lima rumah lain dengan semua bahan makanan ini." komentar Sebastian. "Aku tidak yakin kita bisa menghabiskannya."

"Mau bagaimana lagi? Kulkas kita tidak muat untuk menyimpan sisanya." Claude menunjuk ke arah pendingin silver besar di pojok dapur. Sebastian mengedikkan bahunya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Satu jam kemudian, mereka pun berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka. Kurang lebih sepuluh hidangan dengan porsi banyak tersusun rapi di meja makan. Saat mereka sedang membersihkan dapur dari sisa-sisa makanan, suara berisik terdengar dari arah depan.

"Wah, benar juga! Wangi masakannya tercium sampai ke ruang tamu!"

"Ini sih namanya pesta makanan!"

"Aku bisa mengendus aroma tipis saus steak dari sini..."

"Kyaaa~! Malam ini aku akan makan masakan Sebas-chan lagiiii~!"

"Yo, semuanya!" Ronald memberi salam a la alien saat muncul dari ruang tengah, diikuti oleh serombongan pemuda berwajah familiar dengan wajah superlapar di belakangnya. "Aku kembali! Maaf menunggu lama!"

"Ron, kau..." simpang empat muncul di dahi Sebastian. "KAU KEMBALI MEMBAWA PASUKAN UNTUK IKUT MAKAN DI SINI?"

"Lho, Sebastian? Jangan marah." Soma memandang mashed potato yang masih hangat di meja makan penuh harap. "Sepertinya semua makanan ini terlalu banyak untuk kalian semua, jadi kami berbaik hati datang untuk membantu menghabiskannya..."

"Siapa yang butuh kebaikan hati kalian?"

Grell mengangguk setuju, mencoba meyakinkan Sebastian namun matanya tidak lepas dari meja makan. "Iya, Sebas-chan~ kau tahu kami selalu kelaparan dan rumahmu adalah tumpuan hidup kami satu-satunya. Jadi—"

"Kau pikir rumahku ini restoran?"

"Pleaaseeeee?"

Sebastian menatap tamu-tamu tak diundang itu dengan penuh pertimbangan, lalu menoleh ke meja makan, lalu kembali ke tamu-tamu tak diundang.

"...Sesuka kalian sajalah."

"HOREEEE! MAKANAAAAAAAN!"

Claude buru-buru menghadang mereka dengan tangannya. "Eits, Tunggu dulu. Setidaknya kalian bisa menghormati tuan rumah terlebih dahulu, kan? Kami akan mengambil bagian kami lebih dulu, baru sisanya kalian habiskan sepuasnya."

"Yaaaaah..."

Alois menatap rombongan itu sedikit takjub. "Ya ampun... kami akan sisakan banyak untuk kalian, tenang saja..."

"Dan tolong jangan mengganggu ketenangan makan malam kami." Sebastian menekankan intonasinya pada kata 'tenang'. "Makan di ruang tengah saja, oke? Disini hanya ada enam kursi."

Semua wajah kembali cerah.

"OKE, BOS!"

000

Selesai makan malam, Edward langsung kabur ke kamar Claude. Tamu-tamu tak diundang dengan berat hati harus membereskan piring dan gelas kotor sebagai 'upah makan' oleh Sebastian. Semuanya bergelimpangan di ruang tamu setelah itu, merasa kekenyangan sekaligus keletihan. Alois, Lizzy dan Claude duduk tenang di ruang tamu, menonton suatu acara pencarian bakat dengan khusyuk. Ciel yang bingung harus melakukan apa menghampiri Sebastian yang sedang merapikan meja makan dengan ogah-ogahan.

"Hari ini tidak ada jadwal tutoring?" tanya Ciel sekenanya.

Sebastian berpikir sebentar, lalu berdeham pelan. "Berhubung aku sedang baik hari ini... jadi jadwal tutoring untuk hari ini ditiadakan."

Ciel nyaris ingin melompat kegirangan, tapi karena Sebastian berada tepat di depannya, ia urungkan niat itu. "Yeah... dengan sangat terpaksa aku mengakui kau baik untuk hari ini."

Raven itu seketika menatap Ciel skeptis, menelengkan kepalanya ke satu sisi. "...Kau tidak mau tanya 'kenapa'?"

"...Benar juga—"

"Aku datang." suara Hannah memberi salam menginterupsi mereka. "Kenapa ada banyak sepatu—KYAAAA! APA INI?"

"ADUUH! SIAPA YANG MENGINJAK TANGANKU?"

Sebastian dan Ciel saling pandang, lalu menghampiri ruang tamu dengan sedikit terburu-buru. Alois, Lizzy dan Claude ikut menyusul melihat apa untuk melihat apa yang terjadi di sana!"

"Makanya, jangan tiduran sembarangan!" gerutu Hannah pada Ronald yang mengusap punggung tangannya. "Kukira kalian ini bukan manusia, tahu!"

"Hei, hei, sudahlah." Claude melerai sebelum Ronald balas merutuk lebih lanjut. "Kenapa lama sekali? Sayang sekali kau melewatkan makan malam dengan kami."

"Ada pemotretan di Berkeley dan baru selesai jam enam tadi." jawab Hannah ringkas. "Lagipula aku sudah makan malam sebelum ke sini."

"Hee? Kalau begitu, apa yang ada di tanganmu?" Grell menunjuk bungkusan putih di tangan kanan Hannah.

"Oh, ini? Bukannya kalian tadi memesan bir?"

Ronald segera bangkit dan menyambar bungkusan itu dari Hannah. "Astaga! Tidak kusangka Ratu dingin sepertimu mau membawakan pesananku! Terima kasih banyak, Mademoiselle!"

Hannah mendengus kesal. "Kau berhutang banyak untuk itu."

"...Iya, oke!" Ronald membalasnya santai, lalu menoleh ke arah si empunya rumah sambil mengangkat bungkusan di tangannya. "Hei, Seb, Claude, kami pinjam kamar tamu yang dibawah, ya?"

"Iya, sana pergi." usir Sebastian "Jangan mengacau."

Tanpa lebih banyak ba-bi-bu, para barbar itu pun menyerbu masuk kamar tamu di dekat tangga.

"...Mau apa mereka?" Ciel memandang pintu kamar itu dari kejauhan dengan heran.

"Paling-paling pesta bir lagi." Hannah mengibaskan rambut ungu pucatnya. "Biasanya sih, di ruang tamu. tapi karena ada kalian, bocah-bocah, mereka harus mengungsi ke ruangan yang lebih privasi."

Sebastian melepaskan pandangannya dari pintu yang baru saja ditutup. "Sepertinya kau dan Lizzy harus pindah ke kamar tamu lantai atas, Han."

"Eh? Itu kan kamar kami." sungut Alois. "Lalu bagaimana aku dan Ciel? Masa kami harus tidur di ruang tamu?"

Claude menggaruk kepalanya yang tidak gatal sementara Hannah berlalu ke kamar tamu mengambil barang-barang Lizzy yang tertinggal. "Ah, iya, soal itu—"

"Gampang." Sebastian cepat-cepat menyela. "Mereka bisa tidur bersama kita di kamarku. Keberatan, Claude?"

Kata-kata itu diikuti oleh cengiran khas sang raven sendiri, kedikan santai pemuda bermanik emas, ekspresi lega remaja pirang pucat dan shocking moment untuk si biru-kelabu.

000

"Aku tidak percaya ini. Aku tidak percaya ini."

Alois hanya bisa menghela napas saat Ciel berkata seperti itu untuk yang kesekian kalinya.

"Aku tidak percaya—"

"STOP!" Alois membekap mulut Ciel setelah kesabarannya habis menguap. "Bisa tidak, sih, kau tidak protes untuk kali ini?"

"Aku tidak—"

"Iya, iya! Kau tidak percaya!" gerutunya "Apa yang tidak kau percaya?"

"Ini."

Remaja yang lebih tinggi menggertakkan giginya. Ciel tetap tak bergeming dengan raut wajah yang sedikit banyak terlihat menyedihkan.

"Sudahlah, pembicaraaan ini tidak akan ada habisnya. Ayo kita kembali ke kamar."

Alois menyeret sepupu angkatnya itu dengan sedikit paksaan dikarenakan Ciel yang sengaja menumpu berat tubuhnya segenap tenaga di lantai yang dipijaknya. Ia memutar gagang pintu kamar mandi dan membuka pintu selebar mungkin, mendorong Ciel keluar terlebih dahulu agar kesempatannya untuk mengunci diri di ruang sempit itu—persis seperti rencana awalnya—gagal.

"Lama sekali ganti bajunya." Claude tepat menyelesaikan kancing piyamanya yang paling akhir saat dua anak lelaki itu muncul dari balik pintu kamar mandi. "Apa yang kalian lakukan?"

Alois menggeleng cepat, sedikit memalingkan wajah melihat pemandangan di hadapannya. "Tidak ada. Piyama kami tertukar, jadi kami membutuhkan sedikit waktu ekstra untuk menggantinya."

Pemuda berambut dark blue itu berdeham sambil menggeser bola matanya ke arah tempat tidur.

"Satu tempat tidur untuk kita berempat." ia bergumam. "Apa ada cara untuk mengakalinya?"

"Pindahkan saja kasur di atasnya. Tempat tidur itu kan ditumpuk dengan dua kasur." respon seseorang dari arah pintu kamar. Sontak ketiganya menoleh ke asal suara.

Si pemilik suara, Sebastian, bersandar di kusen pintu sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia sudah berganti pakaian dengan piyama katun hitam bergaris ungu tipis membujur. Dua kancing teratas sengaja tidak dikancingkan, memamerkan kulitnya yang sangat pucat diterpa cahaya lampu.

"Ide bagus." Claude mengangguk setuju. "Kalau begitu, ayo bantu aku. Jangan berdiri begitu saja di depan pintu seolah-olah kau itu majikanku."

Sebastian tertawa pelan, lalu beranjak ke dalam kamar dan membantu Claude memindahkan kasur paling atas ke sisi bawah yang masih luang, sehingga kini posisi kasur memanjang dan muat untuk menampung empat orang. Alois dan Ciel menggeser barang-barang yang menghalangi di lantai sementara Claude memasang seprai di kasur yang belum dialas sama sekali dan Sebastian mengeluarkan bantal tambahan dari lemarinya. Setelah terlihat rapi, keempatnya segera menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur dadakan itu.

Hening menyelimuti saat mereka menyamankan diri di atas tempat tidur. Ciel berbaring terlentang, kedua mata safirnya mengitari seluruh penjuru kamar Sebastian. Ruangan itu sedikit lebih luas dari kamarnya sendiri, didukung dengan ukuran tempat tidur dan lemari yang lebih besar. Semua didekorasi dengan warna hitam dan merah yang dominan, sangat kontras dengan dinding yang dicat putih bersih. Namun satu hal yang membuat dahinya dipenuhi kerutan kecil, yakni beberapa barang yang ditaruh sembarangan dan terkesan berantakan. Sedikit berbeda dengan kondisi kamarnya yang seratus persen rapi.

"Ini kebetulan sekali." Alois akhirnya buka suara. "Kita semua mengenakan piyama malam ini."

"Yeah, sekaligus sangat mengejutkan. Jarang sekali aku melihat Claude tidur berpiyama selain dengan kaos lusuh dan celana pendek." Sebastian terkekeh dan seketika mengelak ke samping saat Claude melempar bantal ke wajahnya.

Alois tiba-tiba membulatkan mata biru cerahnya saat melihat bantal yang dilempar Claude mendarat di lantai. "Hei, ini seperti pajama party. Kenapa kita tidak memainkan permainan seru saja sampai tengah malam?"

Claude bangkit dari posisinya semula dan memandang sekelilingnya dengan sedikit antusias. "Boleh juga. Lagipula aku juga belum terlalu mengantuk."

"Hmmm." Sebastian mengelus dagunya. "Kedengaran menarik."

"Apa, sih? Konyol sekali." dengus Ciel, tapi ia segera diam dan merengut saat Alois memelototinya, tanda dilarang protes.

"Permainan apa yang akan kita mainkan?" tanya Sebastian kemudian.

"Stations?" usul Claude.

Alois menggeleng. "Tidak begitu seru, ah."

Selanjutnya ide Sebastian. "Tell and scream?"

"Big no. Aku tidak suka cerita hantu."

"Foldfinger?"

"Itu sih permainan anak kecil!"

"Poker strip?"

"...Kau bercanda?"

"Petak umpet?"

"Oh ayolah, Ciel. Memangnya petak umpet terdengar seperti permainan pesta piyama?"

"Ups. Maaf."

"Bagaimana kalau aku saja yang memutuskan?" Alois merasa lelah karena tidak ada satu usul pun yang menarik minatnya. "Bagaimana kalau truth or dare? Yah, kedengaran biasa, memang. Tapi untuk kali ini, sepertinya akan... menyenangkan."

Alois tersenyum penuh arti ke arah Sebastian, sementara si rambut jet black itu menaikkan sebelah alisnya dengan jenaka.

"...Jadi? Bagaimana?" ia bertanya kembali. Sebastian, Claude dan Ciel berpikir sejenak sebelum mengangguk hampir bersamaan.

Keempatnya mengatur posisi duduk secara melingkar dengan urutan Claude, Alois, Ciel dan Sebastian. Alois mengambil botol soda kosong dari dalam tasnya sembarangan (yang membuat semua orang heran) dan buku tebal besar milik Sebastian sebagai tatakan. Ia lalu menaruh kedua benda itu di tengah-tengah lingkaran.

"Sebelum mulai, aku butuh persetujuan. Apapun jenis pertanyaan dan tantangan yang masing-masing kita berikan—seaneh apapun itu, kita harus benar-benar menyanggupinya." ujarnya sambil mengangkat kedua kelingkingnya. "Janji."

"Janji." ketiganya mengulang perkataan sambil menautkan kelingking masing-masing ke orang di sebelahnya. Alois berdeham, matanya menilik tiga wajah di hadapannya baik-baik.

"Siapa yang paling tua diantara kita semua?" tanyanya.

"Sebastian lebih tua delapan hari dariku." Claude menunjuk Sebastian yang duduk di sebelah kanannya.

Alois menggeser botol soda itu sedikit lebih dekat ke arah Sebastian. "Kau mendapat kehormatan untuk menjadi penantang pertama."

Sebastian menggumamkan 'terima kasih' pelan, lalu memutar botol itu perlahan. Setelah beberapa detik berputar dengan tidak seimbang sampai akhirnya berhenti dan mulut botol mengarah ke lutut Claude.

"Oke, Claude." Sebastian sedikit beringsut dari tempatnya, menatap Claude dengan janggal. "Truth or Dare?"

Claude merasakan ada hawa tidak beres dari sorot mata teman sharehouse-nya. "Bisa aku tahu pertanyaanmu terlebih dulu?"

Sebastian tersenyum licik. "Oh, tentu saja tidak."

"...Baiklah. Aku pilih Dare."

"Payah." cibir Sebastian. "Kutantang kau untuk... tunggu sebentar, apa itu?"

Telunjuk Sebastian mengarah ke barang-barang yang berserakan dari dalam tas Alois. Beberapa benda kecil berserakan dari satu pouch kecil berwarna merah muda. Remaja pirang itu mengamati dengan saksama sampai ia menyadari benda-benda apa itu.

"Ah, benar juga. Matamu sangat jeli, Sebastian." Alois mengumpulkan benda-benda itu dan menaruhnya di atas seprai. "Ini bisa menjadi tantangan yang bagus untuk Claude."

"I-itu..." Ciel mengerinyitkan dahinya, kali ini menahan tawa. "...Alat make-up milik Lizzy!"

"Bingo!" serunya. "Sengaja kuambil tadi siang. Untung saja si centil itu tidak menyadarinya."

Sebastian tertawa terbahak-bahak membayangkan tantangan macam apa yang akan ia berikan dengan itu. Ia menatap Claude yang mulai berkeringat dingin sambil tersenyum puas. "Faustus, kutantang kau untuk memakai make-up komplit sampai 24 jam ke depan!"

Claude speechless.

"Alois, Ciel, kuizinkan kalian untuk ikut mendandaninya!" Sebastian tertawa kejam sambil mulai memoleskan foundation ke wajah Claude. Dengan senang hati kedua remaja itu ikut andil mendandani pemuda malang itu. Lima belas menit kemudian, Claude tampil dengan bedak supertebal, glitter eyeshadow, perona pipi yang berlebihan dan lipstik merah menyala.

"Oke, sekarang giliranku." Claude memutar botol di hadapannya dengan sedikit kesal. Yang lain tidak mampu berkomentar lebih jauh selain tertawa dalam hati melihat pemuda berkacamata penuh make-up itu sedikit bad mood. Kali ini, dewi keberuntungan tidak berpihak pada Alois.

"Balas dendam itu memang manis, eh?" Claude memainkan jemarinya, sedikit menyunggingkan senyum licik. "Truth or Dare?"

Alois balas tersenyum, seakan menantang balik. "Truth."

"Sayang sekali." Claude pura-pura berdecak. "Apakah akhir-akhir ini... ada seseorang yang kau sukai?"

Mata icy blue Alois membola seketika.

"...Pertanyaan yang sangat tidak profesional." Alois tertawa canggung, wajahnya terasa lebih hangat. "Kuharap kau tidak kecewa dengan jawabanku."

Claude menaikkan sebelah alisnya, menatap remaja pirang di sebelahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Alois menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab. "Ya. Ada."

"...Hanya itu?"

"Kan sudah kubilang, kuharap kau tidak kecewa dengan jawabanku." ulangnya. "Pertanyaanmu itu itu hanya bisa dijawab dengan 'ya' atau 'tidak'."

Claude tertawa pahit. "Aku salah strategi."

Si remaja pirang tertawa—entah kenapa terdengar seperti tawa kelegaan—dan memutar botol di hadapannya. Botol berhenti berputar beberapa detik kemudian dengan mulut botol berhenti tepat di depan Sebastian.

Alois tergelak. "Kesempatan bagus! Truth or Dare, Sebastian?"

Sebastian berpikir sejenak. "Kurasa Truth lebih baik."

"Baik. Hmm..." Alois menatap Ciel lekat-lekat, sementara yang ditatap balas menatap keheranan.

"Apa?" cicit Ciel, merasa segan dipandangi seperti itu.

"Menurutmu, Ciel itu bagaimana?" tanya Alois blak-blakan pada Sebastian.

"Lho—hei, kenapa aku?" remaja biru-kelabu itu melayangkan protes.

"Hush, jangan ribut." Alois mengibaskan tanggannya di depan Ciel. "Apa jawabanmu, Sebastian?"

Bola kemerahan di rongga mata Sebastian sedikit memutar ke langit-langit. "Dia itu... pendek."

"Apa maksudmu?"

"Emosional. Labil. Plin-plan. Moody." cerocosnya. "Berisik. Konyol. Aneh. Ceroboh. Introvert. Bodoh—"

Ciel merasa darahnya mulai mendidih. "Bodoh?"

"—Kaku. Bicara seenaknya. Tidak peka. Kadang suka mengejek—"

"—Oke, Sebastian. Stop. Cukup." Alois membekap mulut Sebastian. "Ini tidak akan selesai sampai kiamat. Ayo putar botolnya."

Sebastian mengerucutkan bibirnya, lalu memutar botol itu perlahan.

"Yang benar saja! Aku lagi?" Alois berjengit saat botol berputar melambat dan berhenti di hadapannya.

"Truth or Dare, hmm?" Sebastian tidak bisa menyembunyikan tawanya.

"Truth. Sial." rutuknya.

"Baiklah." Sebastian mencari topik yang bagus untuk si pirang pucat itu. "Deskripsikan seperti apa orang yang kau sukai."

Alois berdecak. "Kau licik."

"Bukan. Aku Sebastian."

"Nice joke." gerutunya. "Dia... orang yang sempurna di mataku"

Sebastian menaikkan sebelah alisnya. "Itu sih bukan deskripsi!"

"Tapi itu mendeskripsikan secara keseluruhan!" Alois membela diri.

"Maksudku, mungkin kau bisa memberitahukan ciri-ciri fisiknya seperti rambut panjang, mata bundar, kulit kecoklatan..."

"Cukup satu clue. Yang penting itu Truth" si pirang pucat menghela napas, bintik-bintik merah muda bermunculan di wajahnya. "Dia lebih tinggi dariku."

Ciel tertawa. "Ahahaha—kau mengencani perempuan yang lebih tinggi darimu?"

"Ha." dengus Alois saat mendengar kalimat Ciel. "Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan."

Remaja itu menelengkan kepalanya. "Apa maksudmu?"

"Tidak ada maksud apa-apa." jawabnya sambil lalu. "Kau puas dengan jawabanku, Sebastian?"

Yang ditanyai mengangkat bahunya dengan enggan. "Sebenarnya tidak. Tapi kurasa akan membosankan mendengar kau bercerita tentang orang itu layaknya gadis yang sedang dimabuk cinta."

"...'Gadis'? Dimana matamu?" gerutunya. "Sekarang giliranku lagi."

Alois memutar botol itu sedikit kencang dan hal itu membuat botol berputah lebih lama. Empat pasang mata memerhatikan baik-baik kemanakah botol itu akan berhenti. Di detik-detik terakhir, Alois terlihat sedikit panik karena putaran botol mulai melambat dan akhirnya berhenti di arah ujung kaki rekan yang berada di samping kirinya.

Ciel.

"Akhirnya!" Alois mengepalkan tanganya dengan dramatis. "Truth or Dare, Ci-el?"

Ciel menjambaki rambutnya sendiri. "Aargh! Kenapa harus kau yang jadi penantangnya?"

"Ini artinya takdir." Alois tertawa mengejek.

"Ugh. Dare saja, deh."

"Yakin?" ia mencoba meruntuhkan keyakinan Ciel.

"Ck. Truth."

"Hmm-mm?"

"DARE!" geram Ciel. Pikirannya terasa dipermainkan oleh sepupu angkatnya satu itu. Alois terlihat berpikir keras untuk memutuskan tantangan apa yang harus ia berikan untuk Ciel. Berulang kali ia menatap ketiga orang di hadapannya itu sebelum memutuskan apa yang akan ia katakan.

"Kutantang kau..." ia menghela napas dalam-dalam, lalu mengumbar seringai. "...untuk mencium Sebastian."

BUAGH!

"DASAR TIDAK WARAS!" Ciel berteriak tepat setelah melempar bantal ke wajah Alois yang dengan mudahnya menghindar sehingga bantal itu sukses membentur dinding di belakangnya. "TANTANGAN MACAM APA ITU?"

"Lho? Namanya tetap tantangan, kan?" ia menjawab di sela tawa. "Tantangan kan memang bermacam-macam."

"Tapi itu juga ada batasnya! Mana mungkin aku mau mencium laki-laki mesum seperti dia?"

Sebastian yang ditunjuk Ciel dengan kasar, sebenarnya tak kalah shock dengannya. Tapi saat mendengar kata 'mesum' meluncur kembali dari mulut Ciel, ia tak kuasa menahan tawa.

"Astaga—hahaha—sudah lama tidak dipanggil begitu..."

"Diam!" Ciel memelototi raven yang tengah tertawa itu dengan kejam, lalu mata biru pekatnya kembali ke arah Alois. "...Bisa tidak aku pindah ke Truth saja?"

"Peraturan menyatakan bahwa 'Pemain tidak boleh berubah pikiran'. Pilihan pertama adalah pilihan terakhirmu." Claude menjelaskan seolah-olah ia memihak pada Alois.

Ciel merutuk dalam hati saat mengingat sedari awal pilihannya adalah Dare.

"Ayolah, Ciel. Ini bukan masalah besar." rayu Alois. "Jangan bertingkah seperti pengecut."

"Pengecut? Kata-katamu sangat menginjak-injak harga diriku, Trancy." desisnya.

Si pirang pucat mengangkat dagunya. "Kalau begitu, lakukan."

Ciel membalikkan badannya ke hapadan Sebastian yang memandangnya tidak yakin. Ia kembali gugup, detak jantungnya tak karuan saat melihat wajah tampan terbingkai rambut hitam di depannya. Ingin sekali ia berlari secepat mungkin kembali ke rumahnya, namum bayangan harga diri berkelebat ramai menghalangi pikiran itu.

"Tutup matamu." perintahnya.

Sebastian memandangnya bingung, tidak berkata apapun namun mematuhinya. Wajahnya yang sudah semerah lipstik di bibir Claude tak lagi ia dihiraukan, telinganya berdengung saat ia jarak diantara mereka semakin memendek. Saat ujung hidung mereka saling bersentuhan, Ciel dapat merasakan Sebastian sedikit tersentak. Untuk kedua kalinya, Ciel dapat merasakan bau mint segar dari napas Sebastian, membuatnya tenang sekaligus berdebar di saat yang bersamaan. Tanpa berpikir dua kali, ia menutup matanya perlahan dan menyentuhkan bibirnya ke bibir sang raven.

Tidak ada yang istimewa. Hanya lima detik, satu kecupan yang sangat singkat dan sederhana. Sebatas dua bibir yang saling bertemu. Ciel menarik diri sama pelannya dengan saat ia memulai, keduanya membuka mata di di saat yang sama. Mata cerulean miliknya tidak berani menatap Sebastian selagi ia mengatur napas dan detak jantungnya. Pikirannya mengabut, namun dengan mudah 'si harga diri' kembali menariknya ke kondisi rasial seperti semula.

"Puas, eh?" dengan senyum kemenangan, ia menoleh ke arah si penantang, berharap akan merasa terkalahkan. Namun apa yang dilihatnya sama sekali berkebalikan dengan apa yang diharapkannya.

Alois menganga lebar dengan mata nyaris membulat sempurna, tanpa berkedip sama sekali. Claude sendiri, tak kalah terbelalak, tapi dengan ekspresi yang lebih masuk akal dibanding sepupu angkatnya. Ciel mengerinyitkan keningnya melihat kedua orang itu.

"...Ada apa dengan kalian? Kau lihat, eh, Alois? Aku berhasil menyelesaikan tantanganmu. Aku bukan pengecut."

Alois malah menggeleng tak percaya. "Oh Tuhan. Oh Tuhan. OH TUHAN."

Ciel menggertakkan giginya. "Apa, sih?"

"OH TUHAN!" teriaknya. "Ciel. Oh. Astaga. ASTAGA. Kau—bagaimana bisa—kenapa—kau menciumnya?"

"Konyol. Itu kan tantangan darimu. Tentu saja aku harus menciumnya, bukan mengajaknya bermain boneka."

"Maksudku—astaga—menciumnya." semua kata-kata Alois terdengar random karena masih shock. "Kau tidak harus menciumnya di bibir—sesukamu. Aku sama sekali—My God—tidak menyuruhmu untuk menciumnya—di bibir."

Kali ini Ciel-lah yang terkena sindrom shock. Wajahnya memanas sampai ubun-ubun. Dengan cepat ia berbalik ke depan, akhirnya memberanikan diri menatap orang yang baru saja diciumnya.

Dan disana dia, Sebastian, dengan gurat merah muda di pipi yang sulit ditangkap dengan mata dan senyum khasnya. Senyum yang membuat alis Ciel kembali berkedut tak nyaman.

"...Oh Crap."


A/N : Mohon maaf yang sebesar-besarnya! Laptop saya mati total setelah terdiagnosa diserang 1300+ virus dan saya cuma bisa nangis sambil garuk-garuk dinding. Yah, jadilah saya kejar ngetik chapter ini dari awal di tempat lain dan akhirnya telat update enam hari dari yang dijadwalkan. Sekali lagi, maafkan saya!

Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : Rose, risa777, Kujo Kazuza Phantomhive, Aldred van Kuroschiffer, chiko-silver lady, orlyzara, Chernaya shapochka, killinheaven, Fleur deCerisier Phantomhive, Kojima Michiyo dan Ariefyana Fuji Lestari! *sungkem sungkem*

For anon reviewers :

Rose : Kayaknya apa yang disembunyiin Alois udah mulai kelihatan di chapter ini. Tapi sayang pikiran Sebastian baru ketahuan belakangan, hehe. Terima kasih untuk reviewnya lagi, Rose-san!

Dan kayaknya ini bakal jadi update terakhir saya sampai tiga minggu ke depan. Ujian semester segera datang! Disaster! Tapi saya akan berusaha untuk update secepat yang saya bisa. Seperti biasa, non-edited chapter. Maaf jika ada typo juga kalimat salah struktur.

Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D