Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only
Warnings : AU, OOC, language—maybe? May contain Sho-ai , semi-drabbles, extremely minor OCs
"Go to fight and held it high. Shut 'em down, all win is own!"
Riuh yel-yel para pemandu sorak bergaung di seputaran indoor gym Castlemont. Kurang lebih sepuluh gadis berseragam bergerak teratur di tengah-tengah spasi luas berlantai kayu dengan posisi yang selalu berganti. Pom-pom biru dan kuning—serasi dengan kostum mereka yang juga didominasi oleh warna biru dan kuning—tersingkir ke pinggir lapangan sementara mereka menyiapkan formasi akhir. Teriakan penuh semangat mengakhiri pertunjukan itu, bersamaan dengan seorang Flyer berambut pirang melakukan jet spring di udara.
"We a-a-a-are the Blue Devils!"
Ciel masih asyik menikmati sebungkus keripik kentang di bangku penonton ketika para cheerleader itu mulai meninggakkan area gym satu per satu. Sang Flyer dengan rambut ikal pirang kucir duanya yang khas setengah berlari menghampirinya ke bangku penonton. Ia menyunggingkan senyum simpul saat gadis itu menduduki bangku yang terletak satu baris di depannya.
"Yang tadi keren sekali, Liz." remaja itu mengulurkan sebotol air mineral dingin ke pemandu sorak di depannya. "Ini untukmu."
"Thanks." Lizzy menerima botol itu dan segera meminumnya sampai tersisa setengah. "Aku lega sekali akhirnya latihan ini selesai. Lama kelamaan ini seperti membunuhku."
Ciel tertawa pelan. "Konsekuensi, eh? Setidaknya ini turnamen terakhir sampai kau bisa bersantai di musim dingin."
Lizzy mengangguk dua kali, lalu kembali menenggak sisa air mineral di dalam botol sampai habis. Ia menghela napas keletihan dan mulai mengipasi bagian lehernya dengan tangan sampai Ciel berinisiatif untuk memberinya sport towel untuk mengelap wajahnya yang lembab oleh keringat.
"Disini kau rupanya!" seorang gadis yang berpakaian sama dengan Lizzy berjalan menghampiri mereka dari sisi kiri dengan dua yang lainnya mengikuti di belakang. Baik Lizzy dan Ciel sontak memutar badan mereka ke asal suara.
"Oh—hai, Cassie." Lizzy menyapa pemandu sorak yang baru saja memanggilnya. Ketiganya segera mengambil tempat kosong di sekeliling Lizzy dan gadis itu pun kembali memutar posisi tubuhnya.
"Kami sudah menunggumu di ruang ganti, tahu!" pemandu sorak jangkung yang sebelumnya dipanggil Cassie itu meninju pelan pinggang Lizzy.
"Yeah, dan ternyata yang kami dapati hanyalah lokermu yang sudah kosong." gadis lainnya—berambut hitam sebahu dan mata ber-single eyelid khas orang Asia yang sepertinya sudah terkena 'sentuhan' pisau bedah plastik sehingga kini terlihat lebih besar dengan cara yang tidak normal—ikut berkomentar. "Kami pikir kau sudah pulang duluan."
Gadis ketiga yang wajahnya berbintik-bintik dan rambut auburn panjang bergelombang meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Kubilang juga apa! Tadi Liz langsung naik ke bangku penonton selesai latihan, tapi kalian tetap berkeras kalau dia sudah lebih dulu ke ruang ganti!"
"Oops, maaf!" Lizzy menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajah dengan sebagai simbol permintaan maaf, yang langsung disambut oleh gerutuan teman-temannya.
Cassie menyadari keberadaan Ciel yang sedari tadi diam sambil terus mengunyah keripik kentang di bangku penonton di belakang mereka, lalu terkikik pelan. "Ah, pantas saja—kau dengan mudahnya melupakan kami. Siapa dia, Liz? Pacar barumu, hmm?"
Ciel nyaris tersedak keripiknya sendiri mendengar itu, sedangkan Lizzy malah tertawa keras-keras.
"Ahahahaha—kalian bercanda?" gadis itu memegangi perutnya yang mulai kram karena tertawa terlalu keras. "Dia ini sepupuku, tahu!"
Gadis berwajah bintik-bintik ikut tertawa. "Sayang sekali! Padahal ini bisa jadi berita skandal yang menggemparkan Castlemont!"
"Selalu saja gosip." Lizzy memutar matanya. "Biar kuluruskan. Ini Ciel Phantomhive, sepupuku. Dia murid baru tahun ini. Ciel, hei—mereka bertiga teman-temanku. Ini Cassidy Gouldingstone."
Ciel yang baru sadar dirinya sedang diperkenalkan kepada orang lain buru-buru menghentikan kegiatannya dan mengelap tangannya yang dipenuhi remah keripik ke celananya dengan asal lalu menjabat tangan gadis jangkung di samping sepupunya. "Eh—halo. Panggil saja Ciel."
Cassie tertawa pelan. "Cassidy. Singkat saja dengan Cassie."
"Aku Yajun Hwang." gadis Asia di sebelahnya gantian mengulurkan tangan sambil mengerling centil. Ciel akui, ia agak merinding saat membalas uluran tangannya. "Salam kenal, Ciel."
Gadis terakhir yang berambut auburn dan berwajah bintik-bintik menjabat tangan Ciel dengan cukup kuat, membuatnya hampir meringis. "Jenna Bushmill. Kalau tidak salah, kita sudah bertemu beberapa kali di kelas literatur klasik."
"Benarkah?" Ciel berbasa basi, walaupun sebenarnya dia memang tidak ingat bahwa ia pernah bertemu gadis itu sebelumnya. "Senang sekali bisa bertemu dengan kalian semua."
"Pfft—santai saja, Ciel. Tidak perlu terlalu formal." tawa Yajun. Yang lain ikut-ikutan memamerkan gigi.
"...Oh. Yeah. Santai. Oke."
Cassie menjentikkan jari setelah beberapa detik menatap Ciel lekat-lekat. "Ah, iya! Aku tahu kau. Kau... Ciel Phantomhive yang selalu berjaya di kelas musik itu, kan?"
Jenna mengangkat sebelah alisnya, bersamaan dengan Ciel yang memandang Cassie dengan bingung. "Apa maksudmu dengan 'berjaya', Cass?"
"Madam Schmidt selalu menyebut-nyebut namamu akhir-akhir ini di kelasku." gadis jangkung berhidung betet itu mengangguk-angguk, terkesan untuk meyakinkan. "Beliau bilang kau sangat pintar bermain hampir segala jenis alat musik."
Remaja biru-kelabu itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh—tidak juga. Aku hanya bisa memainkan alat musik klasik..."
"Wow!" Yajun membulatkan matanya yang besar, tersenyum di akhir kalimatnya. "Cowok tampan pemusik. Seratus persen tipeku!"
"...Haah. Kau selalu berkata begitu pada semua laki-laki yang kau temui." Jenna menyikut pinggang Yajun sementara ia malah cekikikan. Ciel hanya bisa tertawa canggung menanggapi itu.
"Tidak, tidak, Yajun. Sepupuku tidak akan kuserahkan semudah itu pada playgirl sepertimu." Lizzy tertawa saat gadis Asia itu mengerucutkan bibirnya. "Ngomong-ngomong, ada hal apa kalian repot-repot mencariku? Biasanya kalian langsung pulang kalau melihat lokerku sudah kosong."
Jenna mengeluarkan kertas berwarna merah muda cerah dari tote bag yang dibawanya dan mengangkat itu sampai sejajar wajah. "Ingat ini?"
"Eh?" Lizzy menyempitkan pupil matanya, memerhatikan kertas yang berbentuk hati itu dengan saksama. "Tidak, aku tidak ingat. Apa itu?"
"Yang benar saja." Jenna memutar matanya. "Pesta ulang tahun Katarina Bostic, malam ini. Jelas-jelas undangan ini dikirim atas namamu."
Gadis pirang itu menepuk dahinya sambil tertawa konyol. "Astaga! Bostic yang itu!"
"Yeah, Bostic yang itu. Kita tidak boleh melewatkan ini." Yajun menanggapi dengan semangat. "Kau ingat saat pestanya tahun lalu? House party di rumahnya yang supermegah dan bertepatan saat kedua orangtuanya pergi ke Paris. Ia khusus mendatangkan DJ Novak dan semua orang populer hadir di sana. Oh—dan kalian tahu waktu itu Seren dan Rob masih pacaran, Rob mendatangi Katarina sambil merangkul Seren—keduanya setengah mabuk—dan bertanya apakah di rumahnya ada kamar kosong untuk—"
"Oke, Yajun. Stop sampai disitu." Cassie mengibaskan tangannya. "Tidak perlu diceritakan secara eksplisit!"
Yajun tersenyum geli. "Maaf!"
"Jadi bagaimana, Liz? Kau ikut?" tanya Jenna lagi.
Lizzy mengangguk cepat, membuat rambut ikal kucir duanya bergoyang naik-turun. "Tentu saja!"
"Good!" sorak Yajun. "Aku bawa mastercard milikibuku. Bagaimana kalau siang ini kita ke Rockridge dulu?"
"Ide bagus!"
Ciel yang terlupakan hanya bisa melihat gadis-gadis misuh itu tanpa suara selain bunyi derik keripik kentang yang dikunyahnya. Lizzy yang tengah tertawa tiba-tiba teringat akan sesuatu, lalu menolehkan kepalanya ke arah Ciel dengan cepat.
"Ciel, maaf sekali, aku tidak bisa pulang bersamamu." mata hijau cemerlang Lizzy sedikit meredup. ""Eh, yah—kau tahu, pesta ini hanya untuk para undangan yang—"
Remaja biru-kelabu itu buru-buru menggeleng. "Tidak apa-apa, Liz. Itu acaramu. Lagipula, aku sudah biasa pulang sendiri, kok."
"Serius?"
"Haah. Iya."
"Sayang sekali." Yajun bercecak-decak pelan. "Padahal dia cukup oke. Aku yakin pasti dia akan menarik perhatian jika ia datang ke pesta Katarina..."
"Ahaha, Ciel bukan jenis orang yang suka pesta!" Lizzy terkekeh melihat dahi Ciel yang berkerut.
Cassie menyandang tasnya dan bangkit dari bangku penonton. "Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Kita harus mempersiapkan banyak hal."
"Oke, oke." Jenna dan Yajun ikut berdiri. "Lewat belakang saja, sekalian ke ruang ganti."
Ketiganya langsung berlalu setelah mengucapkan salam perpisahan singkat pada Ciel (dan bonus kissbye dari Yajun), sementara Lizzy masih sibuk dengan sepupunya.
"Lagi-lagi kau tinggal sendirian." Lizzy menghela napas. "Hati-hati, Ciel."
Ciel mengangguk. "Pasti. Selamat bersenang-senang, Liz."
Cheerleader berambut pirang itu mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka, lalu berlalu begitu saja. Ciel mengikuti sosok Lizzy sampai bayangan gadis itu hilang di balik pintu belakang gym. Ia menyamankan posisi duduknya, lalu ber-huff pelan.
"Seperti ini lagi." ia bergumam pada dirinya sendiri. "Haaah. Kenapa aku harus selalu terjebak dengan orang itu..."
Si mata cerulean itu membiarkan pikirannya melayang-layang sementara bunyi sol karet yang bersentuhan dengan lantai kayu ia abaikan begitu saja. Ia lalu menolehkan wajahnya ke tangga di tribun tepat di sebelahnya dan melihat sepasang kaki terbungkus sepatu Converse hitam berhenti di sana. Ciel mengedipkan matanya sekali, lalu menghela napas berat.
"Ada apa? Kau bosan menunggu lama, ya?" tanya si pemilik kaki—yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sebastian—sedikit heran. "Mana Lizzy?"
Ciel tetap dengan posisinya semula, sengaja tidak menatap Sebastian secara langsung. Pikirannya bergumul—sibuk untuk tidak memikirkan sesuatu yang tidak ingin ia pikirkan —yang menyangkut dirinya dan Sebastian beberapa hari yang lalu.
"Dia pergi bersama teman-temannya. Ayo pulang." dengus Ciel kemudian. Ia berdiri dari tempat duduknya tanpa melihat Sebastian dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Sebastian menatapnya heran, lalu segera mengikuti remaja itu. Di koridor menuju lobby, Sebastian berkata setengah berteriak pada Ciel yang terpisah lumayan jauh darinya.
"Hei," ujarnya, "memangnya kau tahu dimana aku memarkir mobilku?"
Awalnya Ciel memperlambat laju langkahnya, kemudian ia benar-benar berhenti tepat di depan pintu masuk gedung Castlemont. Sayup-sayup, ia dapat mendengar Sebastian tertawa sementara mahasiswa itu berjalan melewati Ciel ke lapangan parkir barat alih-alih lapangan parkir timur dimana ia biasa memarkir mobilnya. Ciel mendengus kesal saat mengikuti Sebastian yang menghampiri sedan hitam di lapangan parkir yang terlihat lumayan padat.
"Lapangan parkir timur entah kenapa mendadak penuh." kata Sebastian pada Ciel setelah keduanya masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt. Ciel hanya mendengus sambil memalingkan wajahnya ke jendela.
Sebastian tersenyum simpul, seolah memaklumi, namun tidak berkata apa-apa. Ia mengendarai mobilnya keluar dari Castlemont, dan saat ia mulai fokus ke jalanan beraspal, dari sudut matanya ia dapat melihat Ciel menoleh ke arahnya. Mulutnya sedikit terbuka, seperti hendak menyampaikan sesuatu, tapi sepersekian detik kemudian ia buru-buru kembali berpaling ke jendela. Sebastian pura-pura tidak menyadarinya dan terus menatap ke depan. Keduanya tidak mengatakan apapun kepada satu sama lain di sepanjang perjalanan sampai Sebastian berinisiatif untuk membuka pembicaraan.
"Kau lapar?"
Ciel pun memalingkan wajahnya ke jam digital di dashboard yang menunjukkan waktu tepat jam setengah tiga siang. Ia menatap angka-angka itu agak lama sebelum memberikan respon.
"Tidak."
KRUYUUK.
"Hmph—" Sebastian buru-buru menutup mulutnya dengan tangan saat Ciel memelototinya dengan wajah kemerahan. Raven itu berusaha keras untuk menahan tawanya di momen yang ia anggap sangat konyol ini. Alhasil, walau sukses menahan tawa, namun senyum geli tidak dapat hilang dari wajahnya.
"Nah," ia segera memutar setir ke kanan—yang notabene bukan jalan pulang. "Yang itu baru jawaban dari hati nurani."
Remaja biru-kelabu itu berdecak kesal, rona wajahnya semakin merah, dan Sebastian tak kuasa lagi menahan tawanya.
000
Tidak sampai sepuluh menit, Sebastian berbelok ke satu restoran cepat saji yang terletak di dekat pusat kota. Tempat itu cukup sepi, mengingat jam makan siang sudah lama berlalu, dan ia memarkir mobilnya di tempat yang lebih dekat dengan bangunan restoran. Keduanya pun memasuki restoran yang di dalamnya hanya ada beberapa pengunjung di dekat counter dan tidak lebih dari sepertiga meja customer yang tersedia yang sudah terisi. Sebastian yang berjalan paling depan menghampiri counter yang sepi untuk mengambil tray yang tersedia lalu memberikannya kepada Ciel sebelum mengambil tray yang lain untuk dirinya sendiri.
"Lho?" Ciel sedikit kaget melihat baki cokelat tua itu disodorkan padanya. "Untuk apa ini?"
Sebastian, dengan reaksi yang sudah terduga, balas menatap Ciel dengan heran. "...Tentu saja untuk mengambil makanan yang kau pesan."
Mata safirnya masih tetap mengerjap kebingungan, namun tampaknya Sebastian tidak mau ambil pusing perihal ini untuk sementara karena pengunjung lain sudah mulai membuat barisan di belakang mereka. Ia berjalan ke food stall dan menatap sekian banyak makanan cepat saji yang tersedia di balik kaca pembatas itu.
"Kau mau makanan siap saji atau yang dibeku-keringkan?" Sebastian bertanya pada Ciel yang cukup, err—terpana melihat display aneka makanan itu.
"Ehm—eh, yang siap saji." sahut Ciel tanpa melepaskan pandangannya. "Sepertinya hotdog boleh juga."
Sebastian berdeham, lalu mengambil tong yang disediakan di pinggiran display dan mengambil satu hot beef sausage sementara ia menyuruh Ciel untuk mengambil kotak dan hotdog bun di pojok stall. Ia menaruh sausage ke dalam bun di atas tray milik Ciel, lalu menyambar satu kotak nacho favoritnya. Selanjutnya mereka terus menuju bagian stall untuk makanan yang dibeku-keringkan, dan Sebastian memutuskan untuk mengambil carbonara ukuran medium. Mereka kembali ke counter dan selagi mereka menunggu carbonara milik Sebastian dihangatkan terlebih dahulu di microwave yang tersedia, mereka pergi ke stall lain untuk mengambil topping, saus dan keju cair. Sebastian tersenyum geli saat melihat Ciel yang dengan girang mengisi gelas minumannya dengan slurpee berbagai rasa seperti anak kecil. Mereka langsung membayar ke kasir setelah pegawai restoran memberikan carbonara yang kini sudah layak makan pada Sebastian. Sebastian memilih tempat duduk yang tidak begitu ramai dan lebih privasi, namun agaknya ini malah membuat mereka lebih nyaman.
Ciel masih sibuk memandangi makanan di atas bakinya dengan mata yang berbinar-binar, melupakan Sebastian yang sedang mengaduk cokelat panas di hadapannya begitu saja. Pemuda berambut jet black itu terus menatap Ciel yang kelihatan sangat excited sedari mereka menginjakkan kaki ke dalam bangunan itu.
"Kau ini terlihat seperti orang yang belum pernah ke restoran cepat saji saja." komentar Sebastian pada remaja di depannya. Tapi entah terlalu terpana atau memang sengaja, Ciel tetap membisu sambil menatap tray di depannya. Merasa tidak dihiraukan, Sebastian sedikit menaikkan nada suaranya dengan agak kesal.
"Hei, Ciel." ulangnya. "Aku sedang berbicara padamu."
Dua mata biru pekat pun akhirnya terangkat dan menatapnya jengkel, seolah ada kilat yang membunuh keluar dari sana. "...Apa?"
Sebastian memutar matanya. "Aku yakin aku tidak perlu mengatakannya dua kali."
Ciel mendesis si balik giginya, lalu membuang pandangannya ke arah lain. Raven itu tetap menunggu.
"Kau benar. Ini pertama kalinya aku datang ke tempat seperti ini." gumamnya setengah hati. "...Yeah, aku tahu kau akan menertawakanku."
Diluar dugaan, Sebastian hanya diam dan memandang Ciel penuh penilaian. Remaja biru-kelabu itu menaikkan sebelah alisnya seperti orang dungu.
"Uh..." Ciel menghela napas, gusar. "Lagi-lagi kau memandangiku seperti itu! Memangnya selalu ada yang salah di wajahku?"
Pemuda di depannya menggeleng, kedua bola matanya tidak sesenti pun bergeser dari Ciel. "Tidak."
"Lalu kenapa?"
"Hanya untuk berspekulasi." putusnya. "Lagipula sepertinya sejak tadi dari kita masih di dalam mobil... kau ingin mengatakan sesuatu."
'Sial... dia tahu.' rutuk Ciel dalam hati.
Sebastian yang menyadari perubahan air muka Ciel jadi semakin penasaran. "Oh? Ternyata memang ada, ya?"
"Ugh—kenapa kau selalu menyebalkan, sih?" gerutunya. "Iya. ada—aku ingin membicarakan soal insiden Sabtu malam itu."
Rubi gelap Sebastian membola, tidak yakin apakah harus terkejut atau tertawa.
"Eh —hanya ingin meluruskan." Ciel melanjutkan dengan setengah berbisik. "Yah, kau tahu... kupikir cium yang dimaksudkan Alois itu, uh... cium yang seperti itu. Dasar pirang tolol, ia tidak menyebutkan spesifikasinya. Jadi, yah—kau tahu maksudku. Jangan salah paham."
"Tentu saja tidak." jawab Sebastian tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku juga sempat heran, kenapa waktu itu kau menciumku—ADUH!"
"Jangan keras-keras, mesum! Itu memalukan!" gertak Ciel setelah menendang tulang kering Sebastian. Yang ditendang sendiri hanya bisa meringis kesakitan.
"Iya, iya, maaf!" Sebastian mengusap-usap kakinya yang masih agak ngilu. "Jadi hanya karena insiden itu... kau jadi bersikap galak begini padaku?"
Ciel mengerucutkan bibirnya, lalu menggeleng. "...Aku hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa."
Mereka tidak mengatakan apapun lagi setelah itu, suasana hening sementara keduanya bingung harus berbuat apa.
"Kau anak yang aneh, Phantomhive." Sebastian menumpukan kedua sikunya di meja, akhirnya bisa memutuskan untuk merespon remaja itu dengan benar. "Aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi di masa lalumu sehingga membuatmu menjadi remaja yang kaku dan canggung seperti ini."
Ciel menatap Sebastian sambil tertawa miris. "Aku yakin sedikit-banyak Alois sudah menceritakan masa laluku padamu dan Claude."
"Hanya sedikit, lebih tepatnya." koreksinya. "Aku tahu dulu kau selalu ditinggal sendirian oleh kedua orang tuamu yang sibuk bekerja. Cuma sebatas itu."
"Kau melupakan satu hal. Aku tidak pernah keluar rumah."
Sebastian tersenyum simpul. "Ah, iya. Itu juga."
Ciel menyamankan posisi duduknya, merasa jauh lebih rileks dibanding lima menit yang lalu. "Mereka memutuskan untuk pindah dari Manhattan ke Oakland untuk memulai semuanya dari awal. Maksudku—mereka merasa bersalah karena selalu meninggalkanku sendirian sejak kecil. Dulu aku benar-benar orang yang kacau. Terkurung dalam kondominium besar, apa-apa sudah tersedia. Makan, tinggal diantar. Pakaian kotor, tinggal dikirim ke laundry. Sekolah, tinggal memanggil tutor. Bisa dibilang dalam setahun paling banyak hanya enam kali aku keluar dari sana. Aku merasa seperti tahanan yang diasingkan."
Setelah berbicara panjang-lebar, ia menyeruput slurpee-nya seperti orang yang sangat kehausan. Matanya beralih ke Sebastian yang terlihat masih mencerna ceritanya barusan.
"Kurasa keputusan orang tuamu kali ini adalah keputusan yang tepat." komentar mahasiswaitu kemudian. Ciel membalasnya dengan anggukan pelan.
"Kuharap begitu."
Sebastian tersenyum simpul, diikuti oleh Ciel yang mulai memakan hotdog miliknya. Ia ber-hmm pelan di gigitan yang pertama, lalu menelannya dengan hati-hati.
"Wow." ia menatap makanan di tangannya itu dengan puas. "Aku tidak tahu kalau hotdog di restoran cepat saji bisa seenak ini."
"Aku yakin masudmu adalah 'aku tidak pernah makan hotdog di restoran cepat saji sebelumnya'." canda Sebastian. Ciel menyipitkan matanya dengan jenaka.
"Yeah, bahkan aku tidak tahu kalau sekarang pelayan restoran cepat saji tidak lagi melayani pembeli—malah kita yang melayani diri sendiri." remaja biru-kelabu itu menambahkan. "Amerika sudah banyak berubah."
Sebastian hampir saja tersedak carbonara yang sedang dikunyaknya saat Ciel mengatakan kalimat yang terakhir. "Ukh—apa maksudmu? Kau mengatakan hal itu seolah-olah kau adalah kakek-kakek pendatang dari Somalia."
"Hahaha! Aku bercanda! Ini efek terjebak dalam gedung besar selama hampir enam belas tahun, tahu!"
Sebastian mau tidak mau ikut tertawa. Tetapi bukan tertawa karena leluconnya, tapi karena merasa lucu bisa melihat Ciel tertawa selepas ini untuk pertama kalinya. Setelah itu, mereka pun kembali hanyut pada makanan masing-masing. Lampu LED di ponsel Sebastian yang sebelumnya ia taruh di atas meja tiba-tiba berkedip, tanda pesan masuk. Ia menaruh garpu di tangannya dan segera mengambil ponselnya untuk membaca pesan yang diterima. Tanpa peduli untuk membalasnya, Sebastian menaruh kembali ponselnya ke atas meja dalam keadaan tidak terkunci. Secara tidak langsung, Ciel dapat melihat display picture di ponsel Sebastian melalui pantulan kaca di sebelahnya. Tepat saat lampu background meredup, ia menyadari gambar apa yang terpampang di layar ponsel itu.
"Tunggu sebentar—rasanya aku pernah melihat yang seperti itu." Ciel buru-buru menaruh hotdog-nya yang sudah separuh dimakan ke atas tray. "Boleh aku lihat ponselmu?"
Sebastian mengerjap kaget, menyadari sesuatu, lalu meyodorkan ponsel hitam itu ke arah Ciel sambil menahan senyum. Ciel lalu menekan salah satu keypad ponsel untuk menyalakan lampu background kembali. Butuh waktu beberapa detik untuk menekuninya baik-baik sampai akhirnya tawanya meledak.
"Lucu sekali, kan? Aku tahu." Sebastian kembali menaruh ponselnya ke dalam saku celananya. Ciel masih saja tertawa dan itu berlangsung cukup lama sehingga mulai menarik perhatian pengunjung lain.
"Hei, sudah cukup. Kau menarik perhatian orang lain." Ciel segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari pandangan orang-orang di sekitarnya. Ia menatap Sebastian sedikit sangsi sementara pemuda itu terkekeh geli.
"Oh, maaf. Soalnya... yang tadi lucu sekali." ia mengusap air mata di sudut mata kanannya. "Bisa-bisanya kau memotret Claude dengan wajah penuh make-up begitu saat ia sedang tidur!"
"Dimana ada kesempatan, mudah untuk melakukannya." kata Sebastian santai. "Aku juga sudah mencetaknya beberapa lembar dalam ukuran besar. Benda itu akan sangat bermanfaat jika digunakan di saat yang tepat."
"Oh ya? Bermanfaat seperti apa?"
Raven itu mengedikkan bahunya. "Bisa kutaruh di buletin kampus jika ia mulai macam-macam denganku."
"Kau kejam." Ciel kembali tergelak.
"Dan ini sedikit membingungkan..." Sebastian menyesap cokelat panasnya, sorot matanya terlihat seperti sedang berpikir keras. Ciel berhenti tertawa, heran melihat Sebastian yang tiba-tiba berubah serius.
"Apanya?"
Mahasiswa itu berdeham pelan. "Tidak, ini soal Claude."
"Claude membingungkan?" Ciel menelengkan kepalanya. Sebastian masih berpikir, dan Ciel merasa sedikit canggung dengan suasanya seperti ini. "Oh iya, ngomong-ngomong, kau tahu kemana Claude dan Alois pergi?"
Mendadak Sebastian kembali dari lamunannya. "Eh? Memangnya Alois tidak memberitahumu?"
"Tidak." jawabnya. "Tadi ia kelihatan buru-buru sekali setelah menerima pesan dari Claude sampai tidak sempat memberitahu alasannya padaku. Ia langsung pergi begitu saja, melewatkan jam pelajaran terakhir."
"Begitu juga Claude. Dia juga kabur dari mata kuliah terakhir." Sebastian memakan suapan carbonara-nya yang terakhir. "Kacamatanya rusak, dan dua hari lagi adalah hari pertama jadwal tes tertulis untuk evaluasi hasil studi lapangannya. Ia bersikeras untuk memperbaiki kacamata itu, padahal ia masih punya kacamata cadangan dari Hannah. Kacamata itu hadiah dari Alois—kata Claude ia suka bentuk frame-nya—dan hanya Alois yang tahu dimana optik yang menyediakan frame kacamata seperti itu."
Ciel mengangguk-angguk paham. "Sepertinya dia terlalu menyayangi kacamata itu."
Sebastian tertawa menanggapinya. "Saking sayangnya, ia sampai menamai kacamata itu Tar—oops. Untuk yang satu ini, tidak boleh kubocorkan."
"Ahaha, rasanya konyol sekali, sampai diberi nama begitu." jemari kurus Ciel sibuk mencoleki keju cair di atas hotdog-nya. "Lalu, apanya dari Claude yang membingungkan?"
Raven itu tampak sedang menimbang-nimbang sesuatu. "Waktu itu bukanlah pertama kalinya kami bermain Truth or Dare."
"Lalu?" Ciel mengerinyitkan dahinya.
"Tiga tahun yang lalu adalah terakhir kalinya ia memilih Truth dibanding Dare. Bayangkan saja, selama ini ia tetap terpaku dengan pilihan Dare di permainan itu, meski seaneh apapun tantanganya. Ini membuatku heran."
"Mungkin dia takut untuk jujur?"
"Ha, yang benar saja." Sebastian berdecak. "Bohong pun, dia tidak akan ketahuan. Itu kan hanya permainan. Untuk apa dia repot-repot mau melakukan hal-hal konyol seperti itu kalau berbohong adalah cara yang paling mudah?"
"Benar juga." Ciel bergumam. "Pasti dia punya nyali yang sangat besar."
Lagi-lagi Sebastian tertawa. "Yeah, sangat."
"...Apanya yang lucu? Eh—tunggu, tunggu." Ciel yang semula bingung tiba-tiba memahami arti tawa Sebastian. "Memangnya Claude pernah melakukan tantangan konyol seperti apa?"
"Dia pernah berlari mengelilingi pemakaman Oakland tengah malam." Sebastian berusaha bercerita di sela tawanya. "Juga makan delapan buah cacing hidup yang kami gali langsung dari halaman depan. Dan yang paling lucu... uh—dia... dia pernah membuat fanvideo lipsync menggunakan lagu Lady Gaga."
"Pfft—kau serius?" Sebastian hanya bisa mengangguk pelan, tidak bisa menghentikan tawa yang menggelitik perutnya.
"Haha—dan kau tahu? Sebenarnya kau bukan orang pertama yang pernah menyalah-artikan tantangan dalam Truth or Dare." ujar pemuda bermata claret itu setelah berhasil mengendalikan dirinya kembali.
"Eh? Siapa?" tanya Ciel penasaran.
"Kau tahu Grell, yang berambut merah panjang itu? Dia mendapatkan Dare untuk menciumku dan dia hampir saja melakukan hal yang sama sepertimu di acara orientasi mahasiswa baru tahun lalu."
"Eww—lelaki flamboyan itu?" remaja biru-kelabu itu bergidik. "Hampir? Artinya tidak jadi?"
Sebastian menghela napas. "Ya, untung saja ada senior yang berbaik hati untuk menjelaskan Dare tersebut lebih lanjut. Awalnya dia mati-matian ingin menciumku karena katanya itu adalah lambang untuk menyatakan rasa cinta—yucks— dan ternyata dia ditantang untuk... mencium kakiku."
Hening sebentar, dan Sebastian sangat berharap agar Ciel meyadari penekanan intonasi yang sengaja ia selipkan dari beberapa kata sebelumnya.
"Ahahahahaha—astaga! Aku terlalu banyak tertawa hari ini! Hahahahaha!" Ciel malah tertawa sekeras-kerasnya. Sebastian merasa harga dirinya retak dari dalam, tidak tahu harus menyalahkan dirinya yang sudah sangat bodoh menceritakan hal seperti itu atau remaja di depannya yang sangat polos. Namun dengan cepat ia menutupi rasa kecewanya dengan ikut tertawa.
"Ah, bukannya itu bagus?" guraunya pada Ciel. "Ini lebih baik daripada aku melihat wajah masammu sepanjang waktu."
Ciel menatap Sebastian agak lama, lalu tersenyum tipis. "Aku yakin ini kedua kalinya aku berkata seperti ini padamu. Ehm—kau itu sebenarnya orang baik. Tapi tetap saja, wajahmu—dan bahkan kadang perkataanmu —sangat mesum. Dasar om-om pedophilia."
"...Kau itu sebenarnya bermaksud untuk memuji atau mengejek, sih?"
"Dua-duanya."
"Bukan salahku dilahirkan dengan wajah begini." Sebastian mengedikkan bahunya.
"Lho, memangnya siapa yang menyalahkanmu?" Ciel malah tertawa geli. "Ternyata Mum benar. Do not ever judge the book by its cover."
Sebastian menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya di matamu aku terlihat seperti buku apa?"
"Seperti... novel porno." ujar Ciel dengan raut wajah serius. "Dengan isi karya-karya Nietzsche."
"Err...Terima kasih?"
"Ahaha, sama-sama." balasnya. "Kurasa aku bisa memperbaiki sikapku selama ini padamu... selama sifatmu yang menyebalkan itu tidak ada."
"Akhirnya, kita tidak perlu berperang lagi." Ciel memutar matanya mendengar itu. "Tapi aku yakin lama-kelamaan kau akan merindukan sifatku yang seperti itu."
"Geez. Belum apa-apa, kau sudah mulai menyebalkan seperti biasa." keduanya kembali tertawa. Di tengah-tengah atmosfir yang menyenangkan itu, tiba-tiba Sebastian menghentikan tawanya. Mata kemerahannya membulat, terfokus pada apa yang dilihatnya di luar jendela.
Sepasang pria dan wanita berusia dua puluhan akhir berjalan melewati luar restoran. Mereka identik—mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Keduanya menggunakan track jacket kuning dan celana training putih, agaknya mereka habis berolahraga. Tapi... orang tolol mana, sih, yang mau berolah raga di dekat pusat kota sore-sore begini? Potongan dan warna rambut yang sama, putih keunguan, hanya saja yang wanita sedikit lebih panjang. Bola mata mereka, yang entah kenapa juga bisa persis sama, berwarna sedikit keunguan. Mereka tengah terlibat dalam pembicaraan seru sambil sesekali tertawa. Saat mereka masuk ke dalam restoran, sontak Sebastian menarik tangan Ciel untuk bangkit dari tempat duduk mereka. Tentu saja hal ini membuat remaja itu kaget.
"Eh, lho, Sebastian? Ada apa?" tanyanya sedikit panik karena melihat ekspresi Sebastian yang tidak santai.
"Kita harus cepat pergi dari sini." ia buru-buru membawa Ciel ke pintu keluar, tapi segera setelah itu ia merutuk dan malah berbalik arah. "Sial—harus lewat pintu samping."
"Sebastian, ada apa, sih?" lagi-lagi Ciel bertanya, walaupun ia tahu Sebastian sama sekali tidak akan menghiraukannya. Kesal, remaja biru-kelabu itu membalikkan wajahnya kembali ke arah dalam restoran. Ia menyadari pasangan nyentrik yang dilihat Sebastian sebelumnya yang kini berada di dekat counter. "Wah, dua orang itu aneh sekali! Dari atas sampai bawah terlihat sama—"
Dan ucapannya segera terputus saat telinganya menangkap nada suara Sebastian yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.
"Firasat buruk..." raven itu terus meracau. "Aku punya firasat buruk untuk apa yang akan terjadi setelah ini."
A/N : A very happy 136th birthday to Ciel Phantomhive! *telat* akhirnya saya bisa update juga, fuuh. Setelah 2 minggu full hidup tanpa laptop dan akhirnya saya berhasil ngetik ini selama... 4 hari. Chapter kali ini full of laughter, maaf kalau mengecewakan karena tidak sepanjang chapter-chapter sebelumnya dan terasa lebih seperti filler. Tapi setidaknya hubungan SebasCiel mengalami kemajuan disini :D
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : Rose, Aldred van Kuroschiffer, chiko-silver lady, TheChronaIria, Fleur deCerisier Phantomhive, Kojima Michiyo, risa777, killinheaven, Qisti-Hime Kuroi Neko, Chernaya shapochka, dan Kai Shadowchrive Noisseggra! Did I ever mention that you're awesome? ;)
For anon reviewers :
Rose : Terima kasih ya buat kiriman semangatnya! Ini saya udah berjuang buat ngebut nyelesain fic ini dalam waktu kurang dari 1 minggu! XD
Tanpa edit, pastinya. Maaf jika masih ada typo dan kalimat salah struktur.
Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D
