Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only

Warnings : AU, OOC, language—maybe? May contain Sho-ai , semi-drabbles, Not a special Halloween fic


"Firasat burukku terbukti."

Sebastian memandangi kertas hitam kecil yang baru saja diambilnya dengan gusar, berulang kali membaca tulisan-tulisan tangan yang kacau bertinta silver di atasnya, dan terus membayangkan agar huruf-huruf itu dapat berputar-putar dengan sendirinya dan membentuk tulisan lain selain apa yang sudah dibacanya. Yah, setidaknya huruf-huruf di bagian nama pengirim.

Dia sangat, sangat berharap bahwa nama pengirim undangan itu bukanlah nama yang sedang dibacanya.

Tangannya sibuk membolak-balik kertas itu, melihatnya dengan saksama, dan mendapati isi sebenarnya berada di antara dua lipatan lembaran hitam tebal tersebut. Bola matanya bergerak-gerak dari kiri ke kanan selama beberapa kali sebelum menutup lipatan kertas itu kembali. Ia menghela napas, dan bersandar di kusen pintu rumahnya. Pandangannya beralih ke tabung hijau besar yang berdiam di sudut kiri pekarangan rumah. Tong sampah. Tiba-tiba saja tangannya terasa sangat gatal untuk melempar kertas hitam yang digenggamnya ke dalam benda hijau bau itu.

"Kenapa lama sekali, sih?" Claude—teman sharehouse-nya—muncul dari ruang tamu dengan baik tangan kanan dan kirinya berisi segelas jus jeruk dan sandwich. Sebastian tak bergeming, masih tetap dalam posisinya semula, terdiam sambil memegang secarik kertas hitam. Heran, Claude menaikkan sebelah alisnya. Dihampirinya pemuda yang sedikit lebih tua darinya itu, dan tampaknya ia masih saja melamun sampai-sampai tidak menyadari Claude yang kini berada tepat di sampingnya. Mahasiswa bermata yellowish itu mulai cemas dengan keadaan ini dan mulai berspekulasi—apakah temannya ini baru saja kemasukan arwah gentayangan atau kemungkinan terburuk, diajak kencan oleh Grell—dengan segala kemungkinan yang ada. Ia segera menyadari kertas hitam di tangan Sebastian, lalu sedikit memajukan tubuhnya agar bisa membaca tulisan amburadul di atas lembaran yang terlipat-lipat tersebut.

With many proud, we invite you to attend our bizzare Halloween party.

Monday Dew 4th, 13. October 31th 8.00 p.m

All tricks in the treats,

Landers'

Claude buru-buru menaruh gelas di tangan kanannya ke atas meja buffet dan menyambar kertas itu dari tangan Sebastian, membuat raven itu sedikit terkejut. Kali ini giliran Claude yang dengan sangat gusar membaca tulisan keperakan tersebut berulang kali. Sebastian saling menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dengan sabar menunggu reaksi Claude selanjutnya.

"Kupikir mereka tidak akan kembali lagi ke sini." Claude mengangkat wajahnya—menatap Sebastian dengan ekspresi yang sama jengkelnya. Sebastian hanya mengangkat bahunya pelan.

"Tapi ternyata tidak." Sebastian menegaskan pernyataan Claude. "Prediksi kita sudah salah besar."

"'Sudah'? Maksudmu?"

Sebastian berdeham. "Bulan lalu, saat aku mengajak Ciel makan siang di Jimmy Jorg's... sebenarnya kami sudah bertemu dengan mereka."

Mata Claude seketika membulat. "Lalu? Apa yang terjadi?"

"Untungnya tidak ada." si rambut jet black kembali bersandar ke kusen pintu. "Aku cepat-cepat menariknya keluar dari sana sehingga mereka tidak sempat menyadari keberadaan kami."

"Beruntung sekali. Kalau tidak... astaga, bahkan aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada kalian setelah itu." Claude tertawa miris—setengah mengejek.

"Tapi untuk kali ini kita tidak beruntung." sergah Sebastian. Matanya tertuju kembali ke kertas hitam kontroversial itu, begitu pula Claude.

"Yah..." ujar Claude kemudian. "Menurutku kita sedikit lebih beruntung karena setidaknya masih banyak orang kurang beruntung lain yang mendapatkan kartu undangan ini."

000

Chaos yang terjadi di ruang tengah kediaman nomor enam itu hanya sedikit mereda saat kedua mahasiswa itu kembali ke sana. Orang-orang yang berkerumun terus melanjutkan kesibukan masing-masing sampai menyadari air muka Sebastian dan Claude benar-benar terlihat janggal di mata mereka.

"Yo, ada apa?" Ronald menolehkan wajahnya ke arah mereka berdua, lalu dengan tidak sopannya kembali berbalik ke meja bundar penuh kartu Uno di hadapannya semula. "Sial, reverse!"

"Bukan apa-apa." jawab Claude sekenanya sambil menghempaskan tubuhnya di arm sofa merah di dekat mereka. Ia memutar-mutar kertas yang sedari tadi masih dipegangnya, dan Alois yang awalnya serius memerhatikan tayangan reality show di televisi menyadari hal itu.

"Kalian juga dapat undangan dari Si Kembar Landers?" jelas sekali remaja pirang itu kesulitan menahan tawa dibalik nada suaranya.

Soma yang duduk berseberangan dengan Alois memutar matanya, setengah meremehkan. "Tentu saja. Mereka menyebar undangan itu pagi-pagi buta sekali ke seluruh Monday Dew 4th. Konyol."

"Pagi-pagi buta?" Lizzy tekikik. "Kurang kerjaan sekali!"

"Apa? Landers?" Hannah yang tengah berbaring santai di sofa paling panjang bak Ratu Agung bahkan terdengar kaget meski wajahnya yang tertutupi masker kecantikan ekstratebal itu menghalanginya untuk berbicara dengan benar. "Bukankah mereka sudah pindah dari Monday Dew?"

"Haah." Alois melemaskan bahunya. "Kartu undangan itu tidak akan ada jika mereka sudah pindah dari sini."

Dahi Edward mengkerut karena bingung. "Lho? Kenapa bisa begitu?"

"Entahlah. Tidak ada yang tahu."

Ciel, yang semenjak awal pembicaraan hanya duduk diam saja di samping Alois akhirnya angkat suara. "...Landers? Siapa itu?"

"Penghuni Monday Dew nomor 13." jelas Claude sambil mengangkat kertas di tangannya. "Yang mengirimi ini."

"Itu?" Ciel memerhatikan benda itu lekat-lekat. "Oh... tadi pagi aku melihat Mum menggerutu sambil memegangi kertas seperti itu. Katanya, ia mendengar suara ketukan keras dari arah depan dan ia mendapati kertas itu diikat dengan sebuah batu di depan pintu rumah kami. Seperti sengaja dilempar oleh seseorang."

Ronald tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Lucu sekali! Pasti mereka kira rumahmu masih belum ada penghuninya! Hahahaha!"

Yang lainnya ikut tertawa, dan remaja biru kelabu itu menatap mereka semua dengan heran.

"Aku masih tidak mengerti." ujarnya. "Memangnya mereka itu siapa, sih?"

"Ash dan Angela Landers." akhirnya Lizzy dengan berbaik hati mau menjelaskan padanya. "Mereka kembar, tinggal di rumah nomor 13. Ash dan Angela itu, eh... bagaimana mengatakannya, ya?"

"Aneh." sambung Ronald. "Norak. Mencurigakan. Err—kau tahu? Mereka berlaku seperti orang bodoh setiap harinya. Berpenampilan sama, mengenakan pakaian yang sama—membuat mereka seperti orang kembar yang sangat identik."

Alois mengangguk-angguk setuju. "Gaya hidup mereka juga benar-benar irasional. Mereka sangat percaya dengan hal-hal aneh seperti mitos, takhayul, kehidupan luar angkasa, negeri dongeng... uh, semacam itulah."

"...Serius, ada orang yang seperti itu?"

"Iya, serius. Sebenarnya mereka itu orang baik. Tapi terkadang... mereka suka mengganggu." Soma bergidik.

"Menganggu?"

Grell menambahkan cerita sambil membersihkan kutikula kuku tangannya. "Juga menyebalkan. Mereka pernah melempariku dengan garam saat aku melewati rumah mereka malam-malam. Mereka kira aku ini Setan Merah. Huh, kampungan."

"Aku juga." Alois menimpali. "Tanpa sebab apa-apa, suatu kali aku pernah disiram air dan ditaburi bebungaan sementara mereka berkomat-kamit seperti membacakan mantra. Sampai sekarang aku tidak mengerti apa maksud mereka melakukan itu."

"Mereka pernah memberiku potongan tangan monyet kering."

"Mereka pernah berbicara bahasa urdu pada nenekku."

"Mereka bilang tidak pernah memakan daging selama minggu ketiga bulan ganjil."

"Mereka percaya kalau unicorn dan pegasus itu ada."

"Mereka pernah bilang kalau dulu mereka memelihara anak anjing berkepala tiga."

"Mereka selalu membawa-bawa hio jika berjalan-jalan malam hari."

"Mereka—"

"Oke, stop." Sebastian kelihatan jengah. "Intinya—mereka itu aneh. Kau masih ingat dengan orang yang kelihatan sama dari ujung kepala sampai ujung kaki yang kau lihat di restoran cepat saji satu bulan yang lalu?"

Ciel terdiam, tampak seperti berpikir keras. "Ah... iya. Aku ingat. Tunggu—apa mereka Si Kembar Landers yang kalian bicarakan?"

Sebastian mengangguk.

"Tapi mereka kelihatan cukup normal." ia menelengkan kepalanya. "Yah, disamping penampilan mereka yang nyaris sama..."

"Penampilan bisa menipu, Ciel." ujar Claude. "Waktu itu, Sebastian cepat-cepat menarikmu keluar dari sana agar mereka tidak menyadari kehadiran kalian. Jika mereka melihat Sebastian yang notabene mereka kenal, bisa-bisa kalian tidak akan pulang dari sana dengan selamat."

"...Kau menceritakannya seolah-olah mereka akan melakukan sesuatu yang menyeramkan."

"Memang!" Alois buru-buru mengiyakan perkataan Claude. "Aku dan Claude pernah bertemu dengan mereka waktu kami pergi ke bazaar buku di Chinatown. Tiba-tiba saja kami ditarik ke festival aneh bernama 'Hari Selai Kacang' yang diadakan tidak jauh dari sana dan memaksa kami mengikuti perayaan itu sampai selesai bersama teman-teman mereka yang sama anehnya."

"Pfft—'Hari Selai Kacang'? Apa-apaan itu?"

Claude memutar matanya. "Perayaan 871 tahun setelah hari lahirnya selai kacang. Siapa pun yang hadir berpakaian serba cokelat. Mengenakan aksesori berbentuk kacang atau terbuat dari kacang, berbagai macam lomba dari lomba makan selai kacang sampai gulat selai kacang, makanan serba selai kacang—bahkan mereka menyediakan bir dari fermentasi selai kacang..."

"Wow, itu baru aneh." Ciel tergelak. "Lalu apa yang selanjutnya terjadi?"

Alois menerawang, lalu membuat wajah seolah-olah hendak muntah. "Aku dan Claude tidak bisa keluar rumah selama tiga hari karena kebanyakan minum bir selai kacang..."

"Yuck. Bir selai kacang." Lizzy pura-pura mencibir.

Ciel mengangguk-angguk paham. "Jadi, intinya... aku dan Sebastian bisa celaka jika waktu itu kami tidak segera keluar dari restoran cepat saji itu."

"Tepat sekali."

"Jadi, bagaimana sekarang?" Ronald akhirnya mengakhiri topik sebelumnya. "Itu artinya, kita semua diundang. Apa yang akan kita lakukan? Datang... atau tidak?"

Claude menopang dagunya dengan tangan kanannya, berpikir keras. "Itu keputusan yang sangat sulit. Datang atau tidak, keduanya memiliki konsekuensi."

"Hah?" Lizzy bangkit dari tempat duduknya semula, lalu pindah ke sofa kecil di samping Alois dan Ciel. "Memangnya ada yang lebih buruk daripada datang ke acara mereka?"

"Kalian ingat tahun lalu? Saat Si Kembar itu mengundang kita semua ke acara Halloween juga." Sebastian tertawa kecil. "Aku dan Claude tidak datang karena sibuk dengan proyek akhir tahun kelas senior sampai tengah malam. Dan saat kami terbangun keesokan harinya, kami mendapati seluruh pekarangan rumah dipenuhi oleh sampah permen dan gulungan tisu toilet. Butuh seharian penuh untuk membersihkan itu semua dari pekarangan rumah kami."

"...Dasar duo gila." Soma menggeleng-gelengkan kepalanya. "Memangnya mereka itu membalas dendam karena tidak diberi permen?"

Sebastian mengedikkan bahu, sementara Claude mendecakkan lidahnya.

"Kurasa jalan satu-satunya adalah datang." Alois memberi masukan. Seketika, semuanya langsung mendelik tajam ke remaja pirang itu.

"...Apa?" sergahnya defensif. "Itu kan hanya saran. Kita masih punya waktu dua minggu lagi sebelum Halloween. Lagipula... kalian tidak ingin melihat seluruh Monday Dew 4th tertutupi sampah permen dan gulungan tisu toilet pada tanggal 1 November, kan?"

000

Hari yang seharusnya menyenangkan—tapi berubah menjadi mimpi buruk karena suatu hal—akhirnya datang juga.

Ciel memain-mainkan garpu dessert di tangannya sambil memerhatikan langit yang mulai menggelap dari jendela dapur. Kakinya bergerak-gerak gusar di bawah meja makan, dan kini matanya beralih pada kegiatan yang sedang terjadi di ruangan kecil itu.

Rachel terlihat sangat bersemangat saat menaruh cokelat-cokelat koin ke dalam mangkuk dan toples yang berjejer rapi di atas counter bar. Merasa kurang puas, ia berjalan ke arah kabinet dan mengambil beberapa bungkusan besar berwarna-warni dari sana. Ia merobek bungkusan-bungkusan itu satu per satu, mengeluarkan isinya—yang ternyata berbagai macam permen dan manisan—lalu menaruh semuanya ke dalam mangkuk dan toples yang sebelumnya sudah terisi cokelat koin sedikit-sedikit sampai penuh. Sedangkan ayahnya, Vincent, sibuk mengukir labu kuning besar yang isinya sudah dikeluarkan menjadi bentuk Jack'o Lantern. Ia mulai membentuk bagian mulut di kulit luar labu sambil sesekali menggumamkan lagu-lagu ceria era sembilan puluh-an.

"Err—Dad?" Ciel sedikit melongokkan kepalanya agar bisa melihat labu itu dengan jelas. "Rasanya bentuk mata yang di sebelah kanan sedikit lebih besar dari yang sebelah kiri."

"Benarkah?" Vincent mengerutkan keningnya, lalu kembali meneliti labu di depannya. Ia melihat kedua bolongan di bagian atas labu itu secara bergantian sebelum mengganti pisau di tangannya dengan pisau lain yang berukuran lebih kecil.

"Iya, ya. Matanya kelihatan tidak begitu seimbang." Ia tertawa kecil sambil membuat celah yang lebih besar pada mata sebelah kiri si labu.

"Ah, Ciel, kau tidak bersiap-siap? Ini sudah jam tujuh, lho." Rachel berseru sambil melihat jam dinding di ruang tengah.

"Iya, iya, aku tahu." dengan malas-malasan, Ciel turun dari kursi meja makan dan menyeret langkahnya ke arah tangga. Tepat saat ia menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir, ia mendengar derap kaki dari arah belakangnya.

"Ciel, tunggu sebentar!" Rachel buru-buru mengejar anak laki-lakinya itu sebelum ia sempat masuk ke dalam kamarnya. Ciel menaikkan sebelah alisnya melihat Rachel yang tergesa-gesa melewatinya. "Jangan masuk dulu sebelum aku menyuruhmu!"

Rachel masuk dengan hati-hati ke dalam kamar Ciel, lalu menutup pintu rapat-rapat. Ciel memandangi pintu kayu di hadapannya dengan sangat heran. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengetuk-ngetukkan ujung kaki kanannya, menunggu. Tiga menit berselang, suara 'klik' pelan terdengar dari pintu yang terbuka perlahan, kepala Rachel menyembul dari celah pintu yang sengaja dibuatnya sekecil mungkin.

"Sekarang kau boleh masuk." ujarnya sambil membuka pintu kecoklatan itu sedikit lebih lebar.

"Ada apa, sih, Mum?" tanya Ciel penasaran, namun ibunya hanya merespon dengan tawa geli. Dahinya makin keriput karena hal itu. Tawa Rachel semakin kencang saat ia mengedikkan kepalanya ke arah ranjang Ciel. Mata safir Ciel pun ikut berpaling ke arah yang diisyaratkan oleh ibunya itu.

"Oh—" ia agak terkejut dengan apa yang ada di atas tempat tidurnya. Satu set pakaian yang digantung dengan hanger dan terbungkus plastik ber-waterprint—agaknya baru keluar dari laundry. Di sampingnya, ada dua buah kotak berukuran sama namun dengan bahan dan warna yang berbeda.

"Ta-da!" Rachel mengangkat hanger pakaian itu dan mengangkatnya sampai sejajaran bahunya. "Bagaimana menurutmu?"

Wajah Ciel bersemu merah saat ia memerhatikan lebih jauh setiap detail pakaian di tangan ibunya itu. "Me-menurutku?"

Awalnya, pakaian itu terlihat biasa saja. Kemeja putih bersih, vest abu-abu dengan luaran jas—karena agak kecil dan bagian pinggangnya terbentuk, lebih tepat disebut blazer—berwarna hitam yang bagian tangannya diperpendek sampai bawah siku. Celana yang sewarna dengan blazer-nya juga dibuat pendek, kira-kira hampir mencapai lutut. Semua itu kelihatan normal di matanya sampai ia menyadari sesuatu yang janggal menggantung di bagian belakang celananya.

Bulu. Sesuatu yang cukup panjang dan berbulu lembut menggantung di bagian belakang celananya.

"Apa-apaan itu, Mum? Kenapa di bagian belakang celananya ada buntut kucing?"

"Hmm... bukankah ini lucu?" Wanita itu membuka plastik yang menutupi pakaian itu dan membuangnya begitu saja ke lantai. Ia memutar hanger agar bagian belakang pakaian itu menghadap ke arah Ciel, mengambil bulu sintetis halus berwarna keabuan itu dan mengusapkannya ke pipinya. "Sepuluh hari bukanlah waktu yang cukup untuk menjahit kostum Halloween, dear. Jadi Mum memutuskan untuk merombak setelan lamamu menjadi kostum yang pas untuk acara seperti ini atas saran si penjahit."

Remaja itu menyipitkan matanya. Penjahit macam mana yang mau membuat kostum Halloween sekonyol ini? Ia membatin. "Siapa nama penjahitnya?"

"Aleister Chamber." Rachel terkekeh. "Dia bahkan menyebut dirinya sendiri sebagai Viscount."

"Oke, sudahlah." Ciel menghela napas berat. Tebakannya terbukti—ternyata yang menjahit kostumnya adalah orang tidak waras.

"Dan kau tahu, Ciel? Bahkan dia berbaik hati untuk membuat segala aksesori pelengkapnya." ujar Rachel tak sabaran sambil menaruh kembali set pakaian itu ke atas tempat tidur. Ia pun membuka kotak yang sempat terlupakan dengan hati-hati, lalu mengeluarkan isinya. Kotak pertama berisi berbagai macam pelengkap kostum yang akan ia kenakan seperti ikat pinggang, kaus kaki hitam, dasi kupu-kupu dengan lonceng emas di tengahnya, dan yang paling mengerikan—kuping kucing buatan.

Ciel mengerang—setengah frustasi dan setengah jijik—sambil mengangkat sepasang kuping kucing buatan itu seperti memegang kantung berisi muntahan. "Mum, yang benar saja... aku harus pakai ini?"

"Tentu saja. Memangnya kenapa? Kalau kau tak pakai kuping kucingnya, mana bisa dibilang kostum?" Rachel mendelik sambil membuka kotak yang kedua. Ciel segera melempar kuping-kupingan berbulu itu kembali ke tempat asalnya dan mengalihkan pandangannya pada kotak di tangan ibunya. Di dalamnya, sepasang combat boots baru berwarna hitam tergeletak dengan rapi.

"Dari semuanya, aku hanya menyukai ini." Ciel mengambil boots itu dan mencobanya. Sepatu setinggi betis itu setidaknya ber-heel satu setengah inci juga memiliki banyak kancing dan belt, namun ia merasa tertipu karena sebenarnya ada resleting yang dipasang memanjang di bagian belakang. Ukurannya sedikit kebesaran, tapi Ciel tak ambil pusing.

"Hei, kenapa sedari tadi wajahmu seperti itu?" Rachel menyadari ekspresi masam anaknya, meskipun ia sedang sibuk mengagumi sepatu di kakinya.

"Aku enggan sekali pergi, Mum." katanya. "Orang-orang bilang... kalau mereka yang mengundang kita ke acara ini adalah orang aneh."

Rachel mencerna setiap kalimat yang dikatakan oleh putranya. "Kau tidak boleh berkata seperti itu. Biar kata orang mereka itu aneh, mereka tetap manusia. Tetangga kita." ia mengusap-usap dagunya saat bayangan kartu undangan yang dilempar dengan batu melintasi benaknya. "Yah, Mum juga tidak memungkiri kalau mereka itu... sedikit aneh."

Ciel tertawa kecil. "Bahkan jika aku tidak datang, mereka mungkin akan menghancurkan rumah kita dengan tisu toilet." dan Rachel pun ikut tertawa.

"Akan kutinggal kau untuk bersiap-siap." Rachel akhirnya berdiri, lalu merapikan blus yang dikenakannya sebelum berjalan ke arah pintu. "Temui Mum dan Dad segera setelah kau selesai, oke?"

"Eh, Mum, tunggu—"

Seolah tidak mendengarkan protes Ciel, Rachel menutup pintu kamar anaknya itu cepat-cepat, lalu melenggang kembali ke dapur dengan senyum lebar untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.

000

"Seperti ini?"

Ciel mengangkat kedua tangannya ke sisi-sisinya setinggi pinggang, sedikit memutar badannya ke arah samping. Sementara itu, kedua orang tuanya yang duduk dengan nyamannya di sofa ruang tengah, melihat putranya dengan penuh penilaian. Mata Rachel berbinar kagum sementara Vincent... tidak jelas apakah hendak memuji atau tertawa.

"Aku tahu arti pandangan itu, Dad." Ciel menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sedikit tersinggung. "Kalau ingin tertawa, tertawa saja. Aku tahu ini kelihatan konyol."

Ayahnya hanya tersenyum geli. "Oh, tidak, Nak. Hanya saja... buntut kucing itu kelihatan lucu."

Untuk kesekian kalinya, Ciel berdecak.

Rachel memandangi rambut biru-kelabu Ciel dengan sebelah alis terangkat. "Mana kuping kucingnya, dear?"

Vincent yang mendengar itu segera tergelak. "Pfft—kuping kucing?"

Sementara Ciel, dengan susah payah mengabaikan sang ayah yang tertawa, berjalan menuju Rachel sambil menyerahkan kuping kucing palsu itu ke tangannya. "Aku tidak mengerti bagaimana cara memakainya."

Rachel meneliti kedua benda itu baik-baik. "Oh, benar juga. Biar kupasangkan."

Ia menyisir rambut Ciel dengan jari, menyibakkan beberapa helai rambut dan menyisipkan hairclip yang terpasang di bagian bawah kuping-kupingan itu. Rachel menekannya dengan jempolnya pelan-pelan untuk memastikan apakah hairclip itu sudah terpasang dengan kuat.

"Sudah selesai." wanita bermata biru cerah itu mengusapkan kedua tangannya, puas. "Aah... kau tampak seperti anak kucing betulan."

Ciel meraba-raba kuping kucing palsu yang masih terasa asing di kepalanya. "Aku merasa seperti anak perempuan betulan."

"Jepitan bukan berarti selalu dipakai anak perempuan." ujar Vincent. "Rocker sekalipun pernah pakai jepitan di rambutnya."

Ciel memutar matanya dengan jenaka sebagai respon.

"Nah, ayo sini. Mum ingin memberi sentuhan terakhir." Rachel melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Ciel mendekat ke arahnya. Ciel mematuhi, dan sorot matanya kelihatan heran saat ibunya mengambil palet kecil dan kuas ujung runcing di atas meja di hadapan mereka.

"Untuk apa itu?" tanyanya saat tangan Rachel mulai bekerja dengan palet dan kuas itu.

"Untuk membuat kumis dan hidung." Rachel menyapukan kuas kecil itu pada palet pewarna hitam. "Supaya lebih kelihatan seperti kucing."

Ciel menghela napas pasrah. Rachel pun mulai melukisi garis-garis panjang di kedua pipi Ciel dan membuat bentuk hidung kucing. Sesekali ia tertawa kegelian saat ujung kuas yang tipis itu menyentuh kulitnya.

"Kenapa Mum dan Dad tidak ikut?" ia bertanya dengan membuka mulutnya ekstra hati-hati agar Rachel tetap bisa melukis wajahnya dengan benar.

"Tidak. Banyak hal yang masih harus kami urus." Rachel bergumam, dan tak lama setelah itu bunyi bel pun terdengar. Vincent segera berdiri dan tergesa-gesa berlari ke dapur, membawa setoples permen, cokelat dan manisan sebelum menghampiri pintu depan. Suara anak-anak meneriakkan 'trick or treat!' terdengar pelan, dan senyum Rachel mengembang. "Nah, yang itu contohnya."

"Benar juga." gumamnya.

"Oke, semua selesai." Rachel berdeham, lalu berdiri. Ia mematut putranya sambil tersenyum—puas dan... bangga?—dan menepuk pundaknya. "Sekarang pergilah, dear. Teman-temanmu sudah menunggu."

Ciel balas tersenyum, kemudian berlari kecil menuju ruang tamu. Akan tetapi, sesuatu menghentikannya. Ia cepat-cepat berbalik naik ke kamarnya, mengambil kamera saku miliknya yang tergeletak di atas meja belajar, lalu turun kembali menghampiri ibunya yang memasang ekspresi bingung.

"Ini Halloween pertama kita. Iya kan, Mum?" katanya ceria sambil mengeratkan genggamannya pada kamera di tangannya. Senyumnya semakin lebar saat melihat ayahnya yang baru saja kembali ke ruang tengah. "Aku ingin kita selalu mengingat ini."

000

"Kenapa lama sekali?"

Remaja pirang pucat yang sedang berkacak pinggang adalah yang pertama menyambut kedatangan Ciel di depan pintu rumah nomor enam. Sambil mengatur napas, Ciel menyusun kata-kata alasannya.

"Tidak ada." ia menjawab setelah merasa sedikit lebih tenang. "Hanya sedikit momen interaksi keluarga... foto bersama... yah, seperti itulah."

"Hmm." Alois sedikit geli mendengar sedikit nada bahagia yang terselip di suara sepupu angkatnya itu. Namun lagi-lagi, ia memasang topengnya yang seakan-akan marah karena Ciel terlambat sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan.

"Ayolah, Al. Maafkan aku." kata Ciel penuh penyesalan. Ia menatap wajah Alois, dan tiba-tiba sepupu angkatnya itu tertawa geli.

"Hahaha... sudahlah. Aku bercanda. Tidak ada yang marah padamu." Alois menepuk pundak Ciel yang menghela napas lega. "Ayo, semua sudah menunggu di dalam."

Alois menuntun Ciel memasuki rumah itu. Saat melewati ruang tamu yang sarat pencahayaan, ia memerhatikan Alois yang berpakaian seperti Robin Hood dengan saksama.

"Kostummu bagus." komentarnya. Alois pun berhenti sejenak, lalu berbalik.

"Terima kasih." ia balik memandangi Ciel dari atas sampai bawah. "Jadi... kau ini apa? Siluman kucing?"

Ciel memutar matanya. "Anggap saja begitu."

Mereka lalu meneruskan langkah mereka menuju ruang tengah. Semuanya sudah berkumpul di sana.

"Waaai, Ciel! Kau lucu sekali!" Lizzy sekonyong-konyong memeluk Ciel dengan gemas saat remaja itu memasuki ruang tengah.

"Hegh—terima kasih, Liz." jawabnya setengah tercekik. Lizzy lalu melepas pelukannya, dan Ciel menatap gadis yang kini tidak lagi pirang itu sedikit surprise. "Kau, itu..."

"Ya, aku Wonderwoman!" soraknya sambil merapikan rambut hitamnya yang dihiasi bandana emas dengan satu bintang merah di tengah-tengah. "Tenang saja, ini cuma rambut palsu, kok!"

"Begitu." ia berdeham. "...Lalu siapa yang mengenakan kostum Spiderman itu?"

"Aku Ronald!" seru si Spiderman. "Aku tidak bisa bernapas!"

"Buka saja topengmu!"

"Benar juga!" dengan bodohnya, Ronald mengiyakan. Ia segera membuka topengnya yang memang terlihat agak ketat, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.

"Kenapa Senior Ron menyiksa diri dengan kostum seperti itu, sih?" Lizzy menyambar topeng Spiderman di tangan Ronald. "Lihat, bahkan di topeng ini tidak ada bolongan hidungnya."

Alois tertawa terbahak-bahak. "Setidaknya tidak separah tahun lalu, kan, Senior? Kau hanya membalut asal sekujur tubuhmu dengan perban, berpura-pura menjadi mumi di pesta Si Kembar Landers, dan akhirnya mereka menyiramimu dengan air bekas cucian karena kau dianggap sama sekali tidak niat datang ke acara mereka!"

Ronald menanggapi pernyataan Alois itu dengan anggukan lemah.

"Hei, bocah." Grell yang duduk di samping Ronald menatap tajam ke arah Ciel. "Kau tidak mau memuji kostumku?"

"Eh, um..." Ciel agak tidak yakin melihat Grell yang berpakaian ala bangsawan—tapi malah lebih terlihat seperti komposer lawas. "Kostum yang menarik."

Dan dengan itu, Grell menyatakan kepuasannya dengan tersenyum arogan.

Hannah yang berpenampilan seperti Medusa—yang menurut Ciel sangat cocok dengan kepribadiannya, apalagi ditambah dengan properti ular-ular kecil sebagai rambut yang ia kenakan—tertawa. "Kelihatannya kau berjuang sangat keras untuk itu. Kenapa tidak sekalian berperan menjadi Juliet saja?"

"Awalnya, sih... mauku begitu." Grell mengerucutkan bibirnya. "Tapi Sebas-chan menolak mentah-mentah untuk menjadi pasanganku sebagai Romeo."

"Oh, sayang sekali." Claude, dengan pakaian compang-camping datang dari arah dapur. Pakaianya yang berantakan dan penuh robekan di sana-sini dipenuhi bercak merah—darah?—dan sesuatu seperti pisau bertengger di sisi kepalanya, seolah-olah benda itu menembus tengkoraknya. Lensa kacamata sebelah kananya retak parah dan jejak merah terlihat mengalir di sudut bibirnya.

"Eh, Senior Claude? Apa peran Senior kali ini?" Lizzy sedikit bergidik melihat penampilan pemuda itu.

"Korban pembunuhan." Claude tertawa garing. "Aku sudah tidak punya ide lagi untuk memakai kostum apa."

"Semuanya sudah siap, kan?" dengus Hannah kemudian. "Mana Sebastian?"

"Masih di atas." ujar Claude. "Kelihatannya dia agak kerepotan dengan kostumnya."

"Siapa yang kau bilang agak kerepotan?"

Sebastian muncul menuruni tangga dengan... well—memang agak kerepotan. Kostum Shinsengumi hitamnya yang sedikit rumit menghalangi langkahnya. Seketika semua mata tertuju pada sosok satu itu.

"Wow! Sebastian menjadi Ninja keren!" Ronald mengacungkan jempol.

"Dasar tolol!" Grell menoyor kepala Ronald. "Dia itu Shinsengumi, bukan Ninja!"

"Lho? Apa bedanya?" protes Ronald.

"Tentu saja beda!"

Sebastian buru-buru memotong pembicaraan tidak penting itu. "Mana Soma dan Agni? Aku tidak melihat keberadaan mereka."

"Mereka sudah pergi terlebih dulu." jawab Claude. "Memeriksa keadaan di sana. Sejauh ini aku belum melihat mereka berlari kabur ke rumah mereka dari kediaman Landers, dan kurasa sepertinya di sana baik-baik saja."

"Ayolah, sudah hampir jam delapan." Hannah menggertakkan giginya. "Aku ingin acara konyol ini cepat selesai. Ayo berangkat."

Semuanya pun berjalan meninggalkan ruang tengah. Saat Sebastian melewati tangga, sudut matanya menangkap sosok remaja biru-kelabu familiar berkostum kucing yang terus-terusan menatapnya. Sebastian tersenyum geli, lalu menjentikkan jarinya tepat di depan remaja itu.

"Ah—" Ciel, sang korban, terkejut dan mengerjapkan matanya. "Kau mengagetkanku!"

"Siapa suruh melamun." tawanya sambil membenarkan pedang mainan yang ditaruh di pinggangnya. "Kenapa kau memandangiku seperti itu?"

Ciel merasa wajahnya menghangat, dan ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Aku hanya merasa... kau kelihatan keren dengan kostum itu."

"Benarkah?" Sebastian pura-pura terkejut. "Terima kasih. Kostummu juga lucu."

Untuk kesekian kalinya, daun telinga Ciel memerah karena kata-kata 'lucu' yang selalu ditujukan oleh orang-orang kepadanya karena pakaian yang dikenakannya. "Kau bermaksud mengejek—"

Sebastian tiba-tiba merendahkan tubuhnya, menyejajarkan antara pandangannya dengan Ciel. Ia mengambil untaian bulu sintetis berwarna kelabu yang menggantung di bagian belakang celana Ciel, membawanya ke wajahnya, dan menciumnya. Ciel merasa ada sesuatu yang meledak di kepalanya saat Sebastian melakukan hal itu. Sebastian lalu mengangkat kepalanya, sepasang mata crimson miliknya beradu dengan cerulean milik Ciel.

"Aku suka kucing."

"..." Ciel speechless.

"Sebastian, Ciel, sampai kapan kalian akan berdiri di sana?" suara Claude memanggil mereka dari ruang tamu. "Cepat keluar, aku akan mengunci pintunya."

"Kami segera ke sana." Sebastian menyahut balik. Ia lalu memutar tubuhnya untuk melihat wajah Ciel yang merah padam, lalu mengacak-acak rambut biru-keabuan itu perlahan. "Nah, mari kita pergi... kucing kecilku yang lucu."

Dan segala macam rutukan pun keluar dari mulut Ciel sepanjang perjanan mereka menuju pintu depan.

000

"Apa yang sudah terjadi antara kau dan Sebastian?"

"Huh?"

Alois memutar matanya dan memelankan langkahnya, begitu pula dengan Ciel. Jalanan di Monday Dew 4th sangan sepi, sesekali kerumunan anak-anak lewat dan menyambangi setiap pintu rumah untuk melancarkan aksi 'trick or treat' khas malam Halloween. Sebastian, Claude, Lizzy, Hannah, Ronald dan Grell sudah berjalan beberapa langkah lebih jauh di depan mereka.

"Jangan pura-pura tidak tahu, deh." Alois menyeringai. "Pasti sudah terjadi sesuatu."

"Apa maksudmu?" Ciel menyikut lengan sepupu angkatnya itu. "Tidak terjadi apa-apa di antara kami."

Si pirang tertawa pelan. "Hmm, benarkah? Selain insiden permainan Truth or Dare waktu itu?"

"Ck." Ciel mendecakkan lidah. "Aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu."

"Tapi wajahmu berkata sebaliknya." Alois menunjuk wajah Ciel yang sedikit merona.

"Astaga, Alois—kau selalu ingin tahu." Ciel menepis tangan berbalut sarung tangan hitam di depan hidungnya. "Yah, hubungan kami hanya sedikit membaik. Sejak kira-kira satu bulan lalu, waktu kau, Liz dan Claude tidak pulang bersama kami, kami pergi makan siang... hanya berdua. Aku meluruskan masalah insiden itu, juga masalah yang sebelum-sebelumnya. Kira kira seperti itu."

"Hmm." Alois mengangguk-angguk sok bijak. "Itu bagus."

Ciel menaikkan sebelah alisnya. Ia hendak bertanya tentang apa maksudnya dengan kata 'bagus' yang ia ucapkan, tapi Alois lebih dulu memotong tindakannya.

"Kita sampai." Alois mendongakkan kepalanya ke arah yang berlawanan dengan jalanan beraspal.

Ciel turut memalingkan wajahnya, dan apa yang ia lihat adalah sebuah rumah yang jauh dari kata normal. Well, bangunannya memang seperti bangunan rumah seperti biasanya, namun penampilannya tampak sangat berbeda. Pekarangannya penuh tanaman-tanaman yang Ciel sendiri bahkan tidak tahu apakah tanaman jenis itu pernah eksis di muka bumi. Jack'o Lantern dan orang-orangan sawah yang menyeramkan bertebaran di mana-mana—bahkan di atas atap. Rumah itu sendiri dilapisi cat dengan segala macam warna yang tertera di katalog produk cat yang bisa ditemui di home depot—hijau pucat, merah darah, kuning pekat, jingga-kecoklatan hingga shocking pink—membuat matanya sedikit perih. Rumah ini terletak sedikit jauh dari rumahnya, dan Ciel bersyukur dalam hati karena tidak akan bertemu pemandangan yang merusak mata seperti ini setiap hari.

"Rumah macam apa ini?" Ciel sedikit berjengit melihat lampu-lampu kecil yang disusun sembarangan di sekitar pintu dan jendela. Ia dan Alois menaiki tangga teras dengan hati-hati, menghampiri yang lain yang sudah sampai lebih dulu. Claude pun segera menekan bel pintu yang berbunyi aneh seperti koak gagak, dan semuanya menutup telinga mereka karena itu.

Kenop pintu pun tak lama berputar dan akhirnya pintu itu terbuka, Si Kembar Landers berdiri menyambut mereka dengan senyum superlebar. Keduanya mengenakan pakaian aneh, kurang-lebih seperti alien hijau kembar bersisik.

"Selamat datang, teman lama!" alien Landers jantan merapatkan jari kelingking dan manis juga jari tengah dan telunjuk bersamaan—salam khas alien. "Hail the Earth—ooh, lihat siapa yang datang, Claude dan Hannah! Pasangan favoritku!"

Alis Alois sedikit berkedut saat mendengar lelaki itu menyebutkan 'pasangan favorit'. Namun ia menutupinya dengan senyum yang dibuat-buat.

"Aaah, cincin Saturnus, Elizabeth dan Alois." perempuan di sebelahnya turut menyapa. "Juga Ronald dan Grell. Astaga, Ronald kelihatan lebih 'berniat' kali ini." ia tertawa kecil.

"Pemimpin Agung dari semuanya, Michaelis." lelaki itu menepuk pundak Sebastian yang tertawa ramah—namun dipaksakan. "Selalu tampan seperti biasanya."

"Terima kasih atas pujiannya, Mr. Landers." ujar Sebastian. "Dan terima kasih juga karena telah mengundang kami semua ke acara kalian."

"Kembali, kembali." jawabnya sambil tertawa. Ia segera menyadari keberadaan Ciel yang sedari awal menatapnya di samping Alois. "Dan siapakah kucing kecil lucu yang kelihatan tersesat ini?"

"Dia tetangga baru kita." jelas Alois sambil menyenggol bahu Ciel pelan. Ciel nyaris kehilangan keseimbangan karena sentakan kecil itu.

"Begitu." gumamnya. Ia mengulurkan tangannya ke arah remaja biru kelabu itu. "Boleh aku tahu namamu, hmm?"

Ciel sedikit merinding saat orang berkostum alien itu menjabat tangannya. "C-Ciel Phantomhive. Senang bertemu dengan anda, eh—"

"Ash, Ash Landers." ia memperkenalkan diri. "Dan ini adik kembarku, Angela."

"Mignon petit garçon!" seru wanita yang bernama Angela dengan bahasa Prancis—dengan arti harfiah cowok imut. "Aku Angela Landers!"

"Yah, senang bertemu dengan... anda." katanya kemudian.

"Kalau begitu, silakan masuk, para penikmat pesta." Ash berbalik dan mengisyaratkan mereka untuk masuk dengan tangannya. Angela pun menutup pintu, lalu kembali bergabung dengan saudara kembarnya yang sudah lebih dulu kembali ke ruang tengah. "Selamat menikmati pesta! La Noche de las Brujas!"

"...Apa itu?" Alois mengerinyitkan dahinya.

"Bahasa latin. Artinya ini adalah malam penyihir." jawab Claude. Ia melirik ke arah Ciel yang bermimik sama bingungnya dengan Alois. "Mereka memang terbiasa menggunakan bahasa-bahasa aneh, Ciel. Maklumi saja."

"Oh..." jawabnya datar. Bola matanya bergerak kian kemari, memerhatikan seluruh sudut ruangan. Ruang luas yang ia yakini ruang tamu itu didekorasi ala perayaan Halloween, namun memberikan kesan janggal. Kertas-kertas hias warna warni digantung seadanya, balon-balon besar bertebaran di dinding dan di lantai. Banyak benda-benda aneh yang ada di ruangan itu—bonsai dengan kemiringan ekstrim, patung tribal Afrika dan sesuatu seperti gigi dinosaurus. Ia sedikit kaget saat melihat pajangan boneka perca tua yang menyeramkan di sudut ruangan, dan lebih kaget lagi saat ia menyadari teman-teman yang dari tadi berada di sekelilingnya sekarang menghilang entah kemana.

"Kau terlalu sibuk memperhatikan sekitar, sih." suara bass Sebastian mengejutkannya dari belakang, dan ia segera berbalik menghadap si pemilik suara. "Mereka sudah pergi mencari makanan di ruang makan."

"Kenapa kau tidak ikut?" tanya Ciel pada raven itu.

"Kalau kau tersesat di rumah hantu ini sendirian, bagaimana?" canda Sebastian. Ciel mendengus.

"Tidak lucu, tahu."

"Sebastian?"

Seorang pria pirang dengan rokok di mulutnya memanggil Sebastian dari belakang. Sebastian menoleh ke arah si pemanggil, lalu melambaikan tangan.

"Bard!" sapanya. "Lama tidak bertemu. Apa kabar?"

"Baik, baik!" pria yang berpakaian layaknya tentara Amerika itu menepuk-nepuk punggung Sebastian sambil tertawa. "Setelah menjadi mahasiswa, kau jadi sibuk sekali. Bahkan di dalam satu lingkungan pun kita jarang bertemu."

"Begitulah." Sebastian ikut tertawa. "Bagaimana dengan pemilik rumah tempatmu bekerja? Apa dia sudah kembali?"

"Majikanku itu sangat sibuk, kau tahu. Paling sering ia kembali hanya sekali dalam enam bulan. Bahkan aku sampai lupa bagaimana rupanya." Ia menambahkan. "Oh, bukankah ini anak lelaki Mr. Phantomhive?"

Ciel mengangguk sopan pada pria perokok itu. "Ya, Aku Ciel Phantomhive. Anda Bard, benar?"

"Ya, aku Bard, koki yang bekerja di rumah nomor tiga." Bard menepuk pundaknya sendiri.

"Kau kesini sendirian?" tanya Sebastian tiba-tiba.

"Tidak. Aku bersama Finni dan Maylene." katanya. "Aah, padahal kami masih punya banyak tugas untuk diselesaikan. Pesta ini menyusahkan saja."

"Aku sangat setuju denganmu." raven itu mengangguk pelan.

"Kau tahu? Aku sangat kaget mengetahui kalau Si Kembar Landers ini kembali ke Oakland." ia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuang puntungnya yang sudah pendek ke lantai dan menginjaknya. "Kutanyai pada mereka, sih... katanya Angela tidak sukses menjadi voice actress di perusahaan animasi besar di San Fransico. Jadi mereka memutuskan untuk kembali ke pekerjaan awal mereka."

"...Bahkan aku sendiri tidak tahu apa pekerjaan awal mereka." gumam Sebastian.

"Ash adalah seorang web-seller. Sedangkan Angela bekerja sebagai dubber drama asing di sebuah stasiun televisi lokal." Bard menyalakan sebatang rokok baru. "Heh. Pekerjaan yang tidak begitu menjanjikan."

"Tapi itu sangat mencerminkan mereka yang sangat... maniak." Sebastian menyilangkan kedua tangannya. Bard tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat itu.

"Ya, ya... maniak." pria pirang itu memegangi perutnya. "Tapi sepertinya ke-maniak-an mereka tidak separah sebelumnya. Itu bisa kusimpulkan dari makanan yang mereka sajikan. Tidak seperti tahun lalu yang menyajikan—eh, otak monyet dan bola mata sapi."

"Ewwh—serius?" Ciel memasang wajah jijik. Bard mengangguk sebagai balasan.

"Ngomong-ngomong, kalian tidak minum?" Bard tertawa melihat ekspresi Sebastian dan Ciel yang tampak tidak yakin. "Hahaha... tenang saja. Mereka masih berbaik hati menyediakan minuman bersoda kali ini."

Seorang wanita berkacamata bulat sempurna menghampiri mereka dengan tergesa-gesa dengan dua gelas minuman di tangannya. Ia nampak kewalahan berjalan dengan rok flamenco-nya yang kepanjangan. Dahi Ciel berkerut, seakan mengira hal yang tidak terlalu baik akan terjadi pada wanita itu.

"Ah, Maylene!" Bard bersorak ke arah wanita itu. "Kebetulan sekali. Bisakah kau mengambil dua gelas lagi—"

Belum sempat Bard menyelesaikan kalimatnya, wanita bernama Maylene itu dengan tidak sengaja menginjak ujung roknya yang berlipit, membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia tersandung, namun untungnya tidak terjatuh sampai mencium tanah. Sialnya, minuman di tangannya tumpah berceceran dan mengenai sebagian kemeja Ciel yang berwarna putih bersih.

"Waakh!" Maylene yang panik langsung menaruh gelas itu ke meja terdekat. Ia menghampiri Ciel, berusaha membersihkan tumpahan minuman di bagian kerah itu dengan saputangan yang dibawanya. "Ma-maaf! Maafkan saya!"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa." Ciel meyakinkan wanita gugup itu, Maylene, yang terus menotol-notolkan sapu tangannya di pakaian Ciel dengan canggung.

"Bard, kau tahu dimana letak kamar kecil di rumah ini?" Sebastian bertanya pada Bard yang masih sedikit kaget.

"Ah—ya. Kau masuk ke ruang tengah, pintu kayu hitam di sisi kiri." Bard memberitahu. Sebastian segera menarik Ciel berlalu ke ruang tengah, sementara si ceroboh Maylene masih terus mengucapkan kata maaf berulang-ulang sampai mereka menghilang di balik pintu kayu hitam yang Bard maksudkan.

000

"Untung saja minuman itu tidak berwarna."

Sebastian berdiri di depan wastafel kamar kecil kediaman Landers. Ia menemukan handuk kecil bersih yang tergantung di dinding, dan tanpa berpikir panjang membasuh handuk itu dengan air. Sementara itu, Ciel mengendus kerah bajunya yang kini berbau manis khas minuman bersoda. Sebastian pun mengeringkan handuk di tangannya dan mulai membersihkan pakaian Ciel.

"Maylene memang ceroboh." Sebastian mengusap-usapkan handuk kecil itu ke pakaian Ciel dengan hati-hati. "Dia berpenglihatan jauh, dan kacamata tebal itu hanya memperparah kemampuan melihatnya."

"Hmm." Ciel hanya bisa menggumam. Dengan posisi seperti ini—ia menumpukan pinggangnya di pinggir wastafel sementara Sebastian membantu membersihkan kerah bajunya dengan wajah yang berjarak hanya beberapa senti di atas wajahnya—membuat Ciel tidak bisa berpikir jernih.

Beberapa detik kemudian, Sebastian menaruh handuk lembab itu ke atas wastafel. Ciel mengira pemuda itu sudah selesai membersihan bajunya, dan alangkah terkejutnya ia saat Sebastian tiba-tiba melepas dasi kupu-kupunya dan membuka dua kancing teratas kemejanya.

"A-apa yang kau lakukan?" sontak Ciel menjauhkan badannya. Sebastian menatap remaja biru-kelabu itu dengan sebelah alis terangkat.

"Aku belum selesai." Ia mengambil handuk yang tadi ia taruh di atas wastafel. "Kau memakai kemeja tipis, dan pasti minuman itu menembusnya dan mengenai badanmu. Kau bisa gatal-gatal jika minuman itu mengering di atas kulitmu."

"O-oh." Ciel salah tingkah, dan akhirnya ia membiarkan Sebastian membersihkan leher dan sebagian kecil dadanya yang terkena tumpahan minuman. Walau jemari Sebastian tidak bersentuhan langsung dengan kulitnya, tetap saja Ciel tidak bisa menahan wajahnya yang memerah hebat.

"Oke." Sebastian akhirnya mencuci kembali handuk itu dan menaruhnya ke tempatnya semula, sementara Ciel mengancingkan kembali kemejanya.

"Terima kasih." ujarnya lirih. Ia berusaha sekeras mungkin untuk tidak menatap Sebastian, tapi sayang, niatnya gagal dengan mudah. Sebastian menatap Ciel yang menunduk dalam-dalam dengan heran, lalu tertawa kecil.

"Ada apa?" tanya Sebastian sok polos. "Kau kelihatan seperti kucing betina yang sedang jatuh cinta."

"Eh—enak saja!" Ciel bermaksud membalasnya dengan cara memukul Sebastian, namun raven itu sedikit terlalu jauh dari jangkauannya. Alhasil ia hanya bisa menarik kostum Shinsengumi yang Sebastian kenakan hingga membuatnya sedikit berantakan.

"Iya, iya, ampun! Aku cuma bercanda!" Sebastian dengan susah payah menghindar dari jangkauan tangan Ciel. "Lama-lama kau jadi mirip kucing sungguhan!"

Ciel yang semula kesal malah ikut-ikutan tertawa melihat Sebastian yang tertawa lepas. "Ck, sudahlah. Ayo keluar dari sini. Aku tidak suka bau kamar kecil."

Sebastian menuruti apa kata Ciel. Sambil tertawa geli, ia membuka pintu kamar kecil tanpa peduli untuk membenarkan kembali kostumnya yang sempat ditarik oleh remaja bermata safir itu. Saat keduanya menginjakkan kaki ke ruang tengah yang cukup sepi, mereka berpapasan dengan Angela yang kebetulan melewati ruangan itu. Baik Sebastian dan Ciel tidak merasa ada yang aneh sampai mereka menyadari banyak hal.

Pertama, mereka berdua keluar dari kamar kecil bersamaan.

Kedua, mereka keluar dengan wajah sumringah.

Ketiga, kemeja Ciel terlihat kusut dan basah sementara baju Sebastian cukup berantakan.

Angela melihat mereka dengan tatapan yang sulit ditebak.

Dan menjelaskan sesuatu di kondisi yang sulit seperti ini kepada seorang maniak bukanlah hal yang mudah.

"Ah, Miss Landers..." Sebastian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ini tidak seperti yang anda kira..."

"Hmm?"

Tiba-tiba raven itu teringat sesuatu. Ponsel. Ya, teman-temannya bisa membantunya keluar dari masalah ini.

Ia sedikit surprise melihat satu pesan masuk dari Claude. Buru-buru ia membaca pesan singkat itu, dan seketika wajahnya kembali panik.

Sial! rutuknya. Mereka sudah kabur terlebih dahulu saat Ash dan Anglela tidak memerhatikan mereka!

Sebastian melirik Ciel yang berdiri di belakangnya, dan remaja itu tampak lebih pucat dari biasanya. Dengan sangat ragu, akhirnya ia kembali berbalik menghadap Angela.

"Jadi..." Sebastian pun memutuskan untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. "Uh... tadi kami hanya—"

"Ohohoho! Aku tahu, aku tahu!" dengan sangat tak diduga, Angela tertawa santai. "Anak muda jaman sekarang. Yeah, aku tahu, bukan hanya pasangan straight yang bisa menikmati hal itu."

"Eh? Maaf?" Ciel berusaha menyangkal. "Tapi kami—"

"Sí, sí." Angela mengiyakan dalam bahasa Spanyol. "Santai saja, tidak perlu cemas. Aku mengerti betul bagaimana hormon bekerja. Bukan hal yang baru, kurasa. Aku akan tutup mulut, kujanjikan itu. Kalian pasangan yang sangat serasi, sih. Oh iya—kalau kalian butuh sesuatu untuk... ehm, beritahu saja aku. Aku akan dengan senang hati membantu kalian. Live long and prosperity!"

Dan dengan itu, alien Landers betina itu pun berlalu meninggalkan Sebastian dan Ciel yang hanya bisa terdiam dengan satu kesimpulan di benak mereka.

Bahwa seorang maniak sekalipun bisa bertingkah senormal manusia biasa jika dihadapkan dengan satu situasi yang tidak normal.


A/N : Harusnya saya nge-post ini dua hari yang lalu, tapi modem berkata lain. Huaaah. Saya mau curcol dikit nih. Ternyata... brainstorming itu susah banget, ya? Seminggu belakangan, kerjaan saya cuma pergi ke Sevel terdekat, bawa laptop, ngetik beginian, ngopi dari siang sampai malem, pulang, besoknya begitu lagi. Saya heran, penulis yang biasa ada di film-film aja biasanya bisa dapet inspirasi sambil ngopi. Setelah saya coba, nyatanya : nol besar. Nggak lagi deh saya brainstorming sambil ngopi -_-

Anyway, saya akhirnya update... walau numpang nge-wifi lagi di tempat ngopi.

Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : Rose, killinheaven, Nada-chan Laurant, Aldred van Kuroschiffer, Kai Shadowchrive Noisseggra, chiko-silver lady, Chernaya shapochka, risa777, dan Kojima Michiyo! Berhubung saya baru isi modem besok, jadi mungkin semua rewiew saya balas besok juga, maaf, hehe. But many many thanks for everything!

For anon reviewers :

Rose : Voila! Orang misterius itu muncul di sini! XD Terima kasih banyak buat reviewnya lagi, Rose-san!

Mohon maaf lagi kalau ada typo dan kalimat salah struktur. Not edited!

Terakhir, Merry Christmas for everyone who celebrate it! :D

Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D