Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only

Warnings : AU, OOC, language—maybe? May contain Sho-ai , Extremely minor OCs, unimportant flirting scenes everywhere, semi-drabbles


Alois mengerjapkan matanya kebiruannya kuat-kuat setelah sekian lama berkutat pada layar proyektor di depan ruang kelas. Ia meringis pelan sambil menggosok-gosok matanya yang terasa kering dan agak perih. Cuap-cuap sang guru yang dengan menggebu-gebu menerangkan teori struktur atom berserta nama-nama penemunya seperti Rutherford, Bohr—atau apalah itu, ia sama sekali tidak peduli. Ini adalah jam pelajaran terakhir sebelum istirahat siang, dan perutnya semakin lapar saat guru dengan berat badan berlebih itu menjelaskan salah satu teori yang menyatakan bahwa elektron menyebar di seluruh permukaan atom seperti halnya roti kismis. Ia lalu menumpukan kepalanya di atas meja, sedikit bersyukur karena sudah memilih tempat duduk yang tepat—pojok belakang. Dengan cara apapun, sang guru tidak akan bisa melihat apa yang dilakukannya dengan begitu jelas.

Udara di awal bulan November membuatnya semakin sulit untuk berkonsentrasi. Yah, hawa dingin selalu membuat sebagian besar individu tidak begitu bergairah untuk menjalani aktivitas, termasuk dirinya. Kelopak matanya terasa berat, perutnya mulai keroncongan tidak karuan. Ia sedikit tersentak saat mendengar ketukan sepatu gurunya yang berjalan menuju papan tulis geser dan mulai mencoreti permukaan putih itu dengan tinta hitam basah. Decit ujung spidol yang beradu dengan papan tulis yang licin membuat giginya ngilu. Ditambah racauan lebih lanjut tentang ionisasi, keelektonegatifan dan kawan-kawan—semua kata-kata itu terdengar seperti rapalan mantra di telinganya—yang dijelaskan tanpa titik koma hanya semakin memperburuk suasana hatinya saja.

Hal ini tiba-tiba membuatnya sadar akan sesuatu. Apakah teman-temannya yang lain juga merasakan hal yang sama dengannya? Remaja pirang itu pun mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dan sungguh tidak disangka, keadaannya malah lebih parah dari apa yang ia bayangkan. Ada yang menguap lebar terang-terangan, ada yang membaca majalah di balik buku teks, ada yang sedang seru-serunya bemain multiplayer battle di portable game console masing-masing, beberapa anak perempuan terkikik di depan layar ponsel mereka atau sibuk dengan tatanan rambut kebanggaannya sementara sang guru terus pada pengajarannya seakan-akan murid-murid itu memperhatikannya tanpa berkedip sekali pun. Alois mendengus miris melihat hal itu.

Dengan penuh ekspektasi, ia menolehkan wajahnya ke samping kanan. Dan voila—ia menyeringai. Sosok remaja berambut biru keabuan yang menopangkan dagunya dengan tangan di atas meja membuatnya tertawa dalam hati—siapa lagi kalau bukan Ciel. Ia menatap lurus ke depan tanpa selera, agak terkantuk-kantuk setiap kali ia mencoba untuk lebih berkonsentrasi. Alois menatap sepupu angkatnya itu dengan agak heran. Sungguh pemandangan yang tidak biasa, batinnya.

"Pssst, Ciel." Alois memanggilnya pelan-pelan, dan Ciel berpaling ke arahnya malas-malasan. "Ada apa denganmu? Tumben sekali kau mengantuk di jam pelajaran penting seperti ini."

"Aku juga tidak tahu." balas Ciel setengah berbisik. "Rasanya ngantuk sekali, sejak tadi pagi."

"Aku juga." kekehnya. "Si Gendut Kettler ini membuatku tambah pusing. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Inti atom mengandung proton dan blah blah blah."

"Hush. Dia itu guru kita, tahu." tegur Ciel, meski ia juga ikut tertawa karena lelucon Alois. "Yang membuatku heran malah... ia kelihatan baik-baik saja dengan kondisi seperti ini. Padahal jelas-jelas tidak ada satu pun dari kita yang memperhatikannya."

Alois mengangguk setuju. "Iya juga, ya? Padahal dia bisa saja—"

GRAAAAK

Kalimat Alois terpotong saat mereka mendengar bunyi papan tulis geser yang ditutup. Semua murid sontak menoleh ke depan, dan guru gendut itu pun berdeham. Ia menatap tiap-tiap puncak kepala muridnya dengan sedikit pertimbangan, lalu berdeham lagi. Tidak sedikit dari murid-murid yang ada di ruangan itu menertawakannya diam-diam karena kecanggungannya itu.

"Sekian teori untuk kali ini." suara guru bernama Mr. Kettler itu terdengar agak keras dibanding saat ia tadi sedang menjelaskan materi. "Buka halaman 146, kerjakan evaluasi bagian A dan B di buku masing-masing. Saya akan meninggalkan kalian sebentar, dan saya harap kelas ini tetap tenang selama saya tidak berada di ruangan ini."

Diiringi dengan gumaman "Ya, Mr. Kettler," dari beberapa anak, ia pun keluar dari ruangan kelas. Tapi tetap saja, dasar anak muda hormonal, mau diberi peraturan seperti apapun, tetap saja dilanggar. Sebagian besar dari dua puluh remaja itu kembali melakukan kegiatan yang terhenti karena interupsi sang guru disamping melaksanakan apa yang disuruh untuk dikerjakan.

Alois mengerinyitkan dahi melihat keadaan yang sangat tidak sinkron di depannya. Tanpa pilihan lain, ia menyambar buku teks miliknya yang tergeletak di sudut meja. Ia membalik-balikan tiap lembar buku itu dengan cepat hingga meninggalkan beberapa jejak lipatan. Setelah menemukan halaman yang dimaksud, ia membaca baris-baris soal yang rapat itu sebatas lalu. Sambil menggertakkan gigi, dibacanya sekali lagi tulisan-tulisan itu dari awal sambil berpikir keras. Dan sampai berapa kali pun ia membacanya, Alois tetap saja tidak mengerti sama sekali setiap kata yang tercetak di sana.

Ia menghela napas. Baru kali ini ia tidak berminat dengan pelajaran kesukaannya. Sedikit-banyak, ia menyalahkan metode pengajaran Mr. Kettler yang kaku dan monoton. Sekali lagi, ia memutar kepalanya ke arah kanan. Tapi kali ini, tanpa seringai, melainkan dahi yang berkerut.

"Kau mengerti apa yang dia ajarkan?" Alois bertanya sangsi pada Ciel yang mengerjakan tugas-tugas itu di bukunya dengan santai. Ciel menggeleng cepat.

"Tapi kenapa kau mengerjakan tugas itu dengan mudah?" tanyanya lagi.

Ciel mengangkat buku teks miliknya dengan santai. "Semua sudah kuisi. Aku mempelajari bab ini kemarin sampai larut malam"

Alois memutar matanya. "Itu yang membuatmu mengantuk hari ini, anak rajin." cercanya. Ia mencondongkan tubuhnya agar dapat melihat buku teks Ciel, dan ia tersenyum senang melihat lembaran kertas itu sudah terisi penuh. "Aku boleh ikut?"

"Ikut apa? Ikut menyalin pekerjaanku?" Ciel tertawa melihat Alois yang mengerucutkan bibirnya. "Tentu saja boleh."

Remaja pirang pucat itu kembali memamerkan giginya. Ia mengambil buku tulis miliknya dan merapatkan kursinya ke arah tempat duduk Ciel. Ciel menggeser kursinya sendiri guna meluangkan sedikit spasi untuk ditempati Alois.

"Baru kali ini aku tidak fokus di pelajaran Kimia." sungut Alois disela kesibukannya menulis jawaban di bukunya. "Ini semua karena Kettler Tambun itu."

Ciel ber-hmm pelan sebagai respon. "Aku juga tidak begitu suka dia. Ngomong-ngomong, kemana pengajar Kimia kita yang lama?"

"Cuti melahirkan." jawabnya singkat. "Big Kettler akan menggantikannya selama dua bulan ke depan."

"Sial sekali. Dua bulan lamanya tidak mengerti Kimia." Ciel tertawa miris. "Lama-lama aku bisa minta jadwal tambahan pada Sebastian untuk materi ini."

"Oh, oh, oh. Aura-aura menyenangkan apa ini?" goda Alois. Remaja biru-kelabu di sampingnya buru-buru menggeleng dan menggigit bibir bawahnya.

"Kenapa kau selalu berpikiran seperti itu, sih?" gerutunya pada Alois yang terkekeh geli. "Memangnya ada yang salah dengan aku dan dia?"

"Yang 'salah'? Kenapa harus salah?" Alois balik bertanya. Merasa bahwa percakapan ini tidak akan mengalami kemajuan, Ciel menggembungkan pipinya, kesal.

Alois ber-ck-ck pelan. "Aku hanya merasa senang kondisi kalian sekarang. Apa itu salah?"

"Tidak." sungutnya. "Tapi aku merasa itu kelihatan lebih seperti... mengejek."

"Aww, Ciel sayang, mengejek? Yang benar saja! Atas alasan apa aku mengejekmu, hmm?" remaja pirang pucat itu mencolek bawah dagu Ciel yang tak sempat mengelak dengan ujung atas pulpen yang ia pakai.

"Bercermin saja dulu." Ciel memutar matanya. "Dan tolong jangan pangil aku 'sayang', oke?"

"Baiklah, dear, jika itu maumu." godanya lagi. Ciel kehabisan kata-kata untuk melawan sementara Alois tertawa dengan jumawa.

Seluruh kegiatan di ruangan ramai itu terhenti sejenak saat sang pengajar kembali. Ketak-ketuk sepatu kulitnya terdengar agak berlebihan, seperti dihentakkan kuat-kuat dengan sengaja. Ia berdiri di depan papan tulis geser dengan kedua ujung bibir yang berkedut-kedut. Dua puluh pasang mata otomatis memandangi lelaki itu dengan heran.

"Pengumuman penting, anak-anak." umumnya dengan sedikit nada kelewat senang—yang berarti janggal. "Seperti yang kita semua tahu, bahwa kurang dari dua bulan lagi, eh... yah, Natal segera tiba. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, asosiasi pembina pelajar tingkat kota—"

Bisik-bisik mulai terdengar dari tiap-tiap mulut para murid. Merasa jengkel karena perhatian murid-murid kepadanya berkurang, ia sengaja berdeham keras. Setelah itu, suasana hening kembali.

"—akan menyelenggarakan students charity event di Chabot Space pada tanggal 23 Desember mendatang. Soal acara, uh... mungkin akan seperti tahun lalu. Oleh karena itu—"

"—Maaf, Sir," seorang gadis berpenampilan seperti kutu buku mengangkat tangan. "apa tadi anda bilang Chabot Space?"

"Ya, Miss Allan. Ada masalah dengan itu?"

Gadis itu menggeleng cepat. "Tidak. Tapi bukankah tahun-tahun sebelumnya hanya diadakan di Fox Theater?"

Guru gendut itu tertawa canggung. "Teater kecil seperti itu tidak akan bisa mengimbangi perayaan akbar kali ini, Miss." Ia menyeringai, memamerkan gigi-giginya yang menguning akibat noda nikotin. "Asosiasi bahkan sudah bekerja sama dengan tenaga kerja profesional untuk mengoordinir acara ini."

Ruang kelas kembali ribut dengan berbagai macam misuh-misuh tentang ini dan itu. Tampaknya kali ini tidak menghiraukan, dan ia malah berjalan menuju satu-satunya pintu yang ada di ruangan itu. Tangan gempalnya menarik gagang pintu perlahan, lalu membukanya. Jelas sekali ada seseorang di luar sana, karena lelaki itu langsung memasang senyum terbaik yang ia punya—meski kebanyakan murid sedikit ketakutan melihatnya.

"Silakan masuk, Madame—Madam." ia memasang gestur tubuh mempersilakan pada seseorang di balik pintu. Murid-murid yang digerayangi rasa ingin tahu berusaha segigih mungkin 'memanjangkan leher' mereka hanya untuk melihat yang-dipanggil-Madame itu.

"Ah, je vous remercie." Madame itu berterima kasih menggunakan bahasa Prancis. Ujung stiletto sewarna stroberi adalah yang pertama kali menyapa mata-mata yang penasaran, diikuti dengan setelan semiformal yang didominasi oleh warna merah, dan terakhir adalah wajah tertutupi riasan yang dibingkai rambut kemerahan berpotongan bob kontemporer. Wangi parfum mahal yang digunakannya pun dengan cepat berdifusi ke segala penjuru ruangan, segera setelah ia menginjakkan kaki di sana. Ditambah tas jinjing dan kacamata anti-sinar-UV warna senada membuat wanita itu lebih cocok berwara-wiri dengan sekumpulan ibu-ibu sosialita dibanding menginjakkan kakinya di gedung sekolah tua macam Castlemont.

Wanita serba merah itu berjalan dengan anggun mengikuti Mr. Kettler ke bagian depan ruangan. Badannya yang menjulang tampak sangat tidak sepadan saat berdiri di samping guru Kimia yang sedikit tersipu itu. Murid-murid yang tadinya berbisik-bisik kini mulai membesarkan volume suara mereka saat Madame itu memutar tubuhnya menghadap mereka. Ia tersenyum, dan ini membuat wajah sebagian besar murid laki-laki merona sebagai efek samping.

"Dia... bukankah dia..."

Orang-orang mulai menyadari siapa dirinya.

Ia mengangkat jemarinya yang dihiasi cat kuku untuk melepas kacamatanya, memperlihatkan bola matanya yang dipasangi lensa kontak agar sewarna dengan atribut lain yang ia kenakan. Pandangannya mengedar ke tiap sudut ruangan, dan saat ia sampai pada satu titik, sudut bibirnya yang tadinya tertekuk ke atas perlahan tertarik ke arah yang sebaliknya.

"Mon dieu! Kau..."

Di saat yang sama, sosok murid berambut biru-kelabu menatap wanita red-fetish itu dengan ekspresi sama kagetnya.

"...Bibi An?"

000

"Bibi An?"

Lizzy nyaris menjatuhkan potongan tamale yang tertusuk di garpu yang digenggamnya ke lantai. Mata hijau cerahnya membelalak, mulutnya sedikit terbuka. Alois, di sisi lain, mengerutkan keningnya sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya seperti fakir yang baru diberi sepiring penuh kari kambing hangat. Sementara satu lagi yang tersisa—Ciel—malah menunduk, menopang kepalanya dengan kedua tangan.

"Ya, Bibi An." akhirnya ia mengangkat kepalanya. "Aku juga—"

"—Kenapa kau tidak pernah memberitahu kami, Cieeel?" Lizzy berteriak gemas, sampai-sampai wajahnya bersemu merah. "Kenapa kau tidak pernah memberitahu kalau adik ibumu adalah Madame Red, fashion-observer yang sangat terkenal?"

"Madame Red? Apa-apaan itu?" Ciel mengangkat sebelah alisnya mendengar julukan yang ditujukan pada adik ibunya itu. Alois melakukan hal yang sama persis, disamping mulutnya yang masih asyik memamah habis bekalnya.

Lizzy memutar bola mata hijaunya. "Dia dikenal di dunia internasional dengan nama itu, Ciel. Serius, deh. Masa' kau sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya bibimu itu?"

Ciel menggeleng. Alois ikut menggeleng sambil menelan makanannya. Lizzy menepuk dahinya.

"Madame Red—atau Angelina Durles—adalah seorang pengamat mode yang sudah memiliki nama besar di Eropa. Setiap kritik darinya adalah garis besar yang sedikit-banyak mempengaruhi dunia fashion. Kau tahu? Kebanyakan nasib para designer ahli juga tergantung dari mulutnya, lho." Lizzy menjelaskan penuh semangat. "Dia punya sekolah modeling yang cukup terkenal di Paris—aku ingin sekali bisa masuk ke sana—dan namanya juga sering masuk media massa skala besar dalam lima tahun belakangan. Dia selalu mengenakan apapun yang bernuansa merah—seolah sudah menjadi ciri khasnya. Maka dari itu, dia lebih dikenal dengan sebutan Madame Red dibanding Angelina Durles."

"Madame? Memangnya dia orang Prancis?" tanya Alois asal.

"Tentu saja tidak, sapi. Dia adik kandung Bibi Rachel dan kebetulan berdomisili di Paris." decak Lizzy.

"Wow." Alois membulatkan matanya. "Ini akan menjadi berita besar."

"Bibi An pindah dari Manhattan saat ia baru saja bercerai dengan suaminya. Kira-kira saat aku berumur lima atau enam tahun." Ciel mencoba menggali memorinya. "Aku tidak pernah tahu kalau sekarang dia tinggal di Paris ataupun sekarang dia sudah menjadi orang terkenal. Yang aku tahu, Bibi An sempat tinggal di kota lain di Amerika sebelum ia mulai bekerja di Eropa."

"Dan kau tidak tahu apa pekerjaannya?"

"Tidak." gumam Ciel. "Mum tidak terlalu sering menghubunginya karena dari dulu Bibi adalah orang yang selalu sibuk."

"Begitu." Lizzy kembali menekuni tamale-nya.

Ciel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ngomong-ngomong… itu acara apa, sih?"

"Students charyti event," kata Alois setelah menghabiskan soda miliknya yang tersisa, "adalah acara bebas terstruktur yang selalu dilaksanakan tiap akhir tahun. Para murid sekolah tingkat atas di Oakland mengadakan acara ini secara sukarela, dibantu oleh asosiasi dan donatur. Biasanya digelar di Fox Theatre, dan kali ini di Chabot Space, tempat yang lebih besar—kedatangan bibimu sepertinya bisa menjelaskan hal itu. Seluruh hasil penjualan tiket akan digunakan untuk hal-hal kemanusiaan."

"…"

Alois tertawa geli. "Kenapa? Ini jadi hal yang sangat baru bagimu, ya?"

Ciel mengangguk. "Begitulah."

Lizzy berdeham sebelum mengangkat wajahnya untuk berbicara. "Tapi… masih ada satu yang mengganjal."

Alois ingin menimpali, tapi karena mulutnya yang penuh, ia malah tersedak saat ingin berbicara. Secara kebetulan, Ciel memiliki maksud yang sama dengan sepupu angkatnya itu.

"Apa?"

Gadis pirang ikal itu berpikir keras dengan gaya bak detektif. "Oakland bukanlah kota besar… dan Castlemont juga bukan sekolah nomor satu yang ada di kota ini." ia menatap tajam ke arah lantai. Ini membuat kerutan di dahi Ciel semakin dalam.

"Lalu? Ada apa dengan itu?"

"Duh, Ciel, coba pikirkan lagi." katanya setengah mendesak. "Tidakkah itu aneh… tenaga profesional se-profesional dia mau direpotkan dengan hal yang bahkan tidak seujung kuku pun setara dengan levelnya?"

000

Ciel mengayunkan langkahnya malas-malasan saat memasuki pekarangan rumahnya. Dia kelihatan seperti melamun—padahal sebenarnya otaknya sedang membuat kilas balik seperti slideshow tentang apa yang terjadi selama perjalanan pulang. Lizzy tak henti-hentinya mengoceh soal ini dan itu tentang bibinya, Angelina —entah kenapa ia agak tidak nyaman dengan panggilan Madame Red—selama sedan hitam yang dikendarai Sebastian melaju di jalanan Oakland yang tidak begitu ramai. Terlebih Alois yang iseng-iseng menjalankan aplikasi browser di ponselnya dan mencari artikel yang terkait dengan Madame Red—yang ternyata menampilkan sekitar enam belas juta hasil pencarian non-akurat, opini Claude yang sering mendengar nama bibinya itu dari Hannah dan cerita Sebastian yang mengetahui pengamat mode serba merah itu lewat majalah Hannah yang sering tertinggal di ruang tengah rumahnya.

Kesimpulannya hanya satu: bibinya adalah orang terkenal.

Ia menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa dia tidak bisa mengenali anggota keluarganya sendiri sementara seluruh dunia malah mengenal anggota keluarganya itu dengan baik? Ini membuat Ciel benar-benar tidak habis pikir.

Diam-diam, ia mulai mengambil beberapa premis. Bermacam-macam premis, mulai dari dirinya yang memang tidak terlalu peduli dengan sekitar sampai bibinya yang memang sangat sibuk bahkan sampai tidak punya waktu walau hanya untuk sekedar say hi di telepon pada keluarganya. Ia sempat kaget saat mata azure-nya menangkap Si Kembar-maniak Landers dengan pakaian olahraga merah-kuning yang sedang berjalan-jalan bersama seekor anjing herder besar. Serius—kenapa harus di siang bolong begini dan selalu pakaian olahraga?

Ciel buru-buru menyembunyikan diri di balik pot besar di depan terasnya. Ia merasa sedikit konyol—tapi memang inilah cara terbaik agar keberadaannya tidak tercium oleh para maniak itu. Matanya mengikuti pergerakan duo aneh itu sampai hilang dari pandangan. Dengan satu hembusan napas lega, Ciel keluar dari tempat persembunyian.

Ngomong-ngomong… Landers?

Entah kenapa bayangan kejadian perayaan Halloween satu minggu lalu terlintas di pikirannya. Tiba-tiba saja udara di sekitar wajahnya terasa lebih hangat sekian derajat celcius dibanding sebelumnya.

'…Sial. Kenapa malah kepikiran hal itu, sih?' ia merutuk dalam hati.

Ia berusaha keras membuang bayangan itu jauh-jauh. Tangan kurusnya lalu mendorong pintu kayu bergagang dua di hadapannya dengan hati-hati. Saat menginjakkan kakinya di dalam rumah, suasana terlihat sepi. Tidak ada suara- suara berisik dari arah dapur atau klinik kecil seperti biasanya. Tepat saat ia mengganti sepatu sekolahnya dengan sandal rumah, ibunya datang dari arah ruang tengah. Ciel sedikit heran melihat binar mata dan senyum cerah di wajah cantik ibunya.

"Kau sudah pulang!" kicaunya riang, bahkan Ciel sampai lupa membuka mulutnya untuk berkata 'Aku pulang!'. Ia lebih kaget lagi saat Rachel tiba-tiba memeluknya erat-erat, persis seperti Lizzy yang memeluknya setelah satu tahun tidak bertemu.

"Whoa, Mum, ada apa ini?" Ciel heran melihat tingkah ibunya kali ini. Jika dilihat lagi dari ekspresi wajahnya… ini tanda-tanda bahwa ibunya sedang luar biasa senang.

"Kau pasti tidak akan menyangka apa yang terjadi, dear." ujar Rachel sambil melonggarkan pelukannya. Melihat ibunya yang gembira seperti itu, secara tidak sadar Ciel ikut tersenyum.

"Benarkah? Memangnya ada hal baik seperti apa?" Ciel memberi penekanan pada beberapa kata tertentu. Rachel mengangguk-anggukan kepalanya terlalu semangat sampai-sampai jepitan yang dikenakan di rambutnya melonggar.

"Kau bisa tebak?"

"Hmm." Ciel pura-pura berpikir keras. "Mum dapat pelanggan baru? Dad memenangkan trade besar?"

Rachel menggeleng, senyum masih tetap melekat di wajahnya.

"Kita akan pergi liburan ke Hawaii?"

"Salah!" Rachel tertawa. "Coba lagi!"

"Err—oke, aku menyerah. Aku kehabisan ide." Ciel memutar matanya sambil ikut tertawa. Rachel mengacak-acak rambut anak laki-lakinya itu dengan maksud membujuk.

"Ayolah, dear. Mum tahu kau bisa lebih baik dari itu." candanya.

"Baiklah. Apa, ya?" Ciel mengalihkan pandangannya ke sofa minimalis di ruang tamu. Di sofa paling panjang, sebuah mantel bulu panjang berwarna maroon tersampir dengan rapi di bagian sandarannya. Ciel menatap mantel itu sedikit heran, benda itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia yakin itu bukan milik Rachel karena ia tahu ibunya bukanlah tipe orang yang suka menghambur-hamburkan uang untuk benda mahal seperti itu.

Maroon? Merah?

"…Jadi? Apa tebakanmu?" ibunya masih menunggu.

Tidak ada respon dari remaja biru-kelabu itu sampai akhirnya suara ketak-ketuk ringan membuyarkan lamunannya. Sebelum ia sempat menoleh ke arah asal suara, tiba-tiba ia dipeluk oleh seseorang untuk yang kedua kalinya hari ini.

"Ooh, chérie! Kau sudah besar!" wanita beratribut merah dari ujung kepala sampai ujung kaki serta merta memeluknya dengan sangat erat. Ciel hampir saja kehilangan keseimbangan jika saja tidak ada meja buffet yang menahan di belakangnya.

"Bibi An!" serunya saat Angelina melepas pelukannya. Ia mengendus seragam sekolahnya yang kini tercemari aroma Chanel No.5 dari pakaian superior bibinya itu.

"Sepuluh tahun terasa cepat sekali, ya?" ujarnya dengan logat Prancis yang masih kental. "Aku kaget sekali saat melihatmu di Castlemont. Rasanya baru kemarin aku mengelap ingusmu!"

Ciel tertawa malu sementara Rachel menatap keduanya dengan heran. "Kau? Castlemont? Bagaimana bisa?"

"Ceritanya panjang, Kakak." Angelina mengibaskan tangannya. "Bagaimana jika kita membicarakannya sambil bersantai di ruang tamu… ah, sekaligus ditemani secangkir cokelat hangat?"

000

"Aku kaget sekali saat mendengar kalian sudah pindah dari Manhattan. Kenapa Kakak tidak memberitahuku?"

Angelina mengusapkan tangannya yang berkuku merah ke dinding luar cangkir yang hangat. Sesekali ia meniupi cokelat hangat di cangkir itu, lalu menyeruputnya perlahan. Wajahnya kelihatan lega setiap kali ia menyelesaikan satu tegukan.

Well, cokelat panas memang sudah menjadi favorit orang Prancis, kan?

"Untung saja aku sempat menelepon Vincent saat aku sedang kebingungan mencari kalian di Manhattan. Ia bilang, kalian baru saja pindah ke kota kecil ini." tambahnya. "Haah. Padahal tadinya aku berencana untuk memberi kejutan."

"Kami sudah berusaha memberitahumu, An." jawab Rachel cepat. "Tapi setiap aku menghubungimu, selalu saja asistenmu yang galak itu yang menjawabnya. Ia bahkan tidak menolerir bahwa kami ini keluargamu." ia mendengus. "Katanya, hanya orang penting yang boleh menghubungimu. Huh, memangnya keluarga tidak penting?"

"Benarkah? Selama ini aku tidak pernah tahu." mata Angelina berkilat. "Jika aku kembali ke Paris nanti, biar kupecat asistenku itu."

"E-eh? Tapi tidak perlu sampai seperti itu,kan?" Rachel tiba-tiba salah tingkah. "Maksudku, yah… setidaknya dia bisa menyampaikan panggilan dari kami kepadamu. Seingatku, terakhir kali kita berbicara langsung kira-kira empat atau lima tahun yang lalu."

"Jadwalku terlalu padat selama lima tahun terakhir, Kakak. Interview, fashion show, exhibition, job dari media dimana-mana… sampai-sampai tidur tiga jam sehari pun rasanya sulit." jelasnya. "Beruntung sekali sekarang namaku sudah dicap baik di mata internasional. Aku punya popularitas. Berkat kerja kerasku, kini pekerjaan-lah yang mencariku. Bukan aku yang mencari pekerjaan."

Rachel tertawa kecil. "Popularitas, eh? Kau selalu memiliki itu sedari dulu."

"Hmm." Angelina tersenyum di balik cangkirnya.

"Lalu… soal student charity event Oakland itu," Ciel tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. "bagaimana Bibi bisa tahu? Padahal Bibi kan—"

"Jangan panggil aku 'Bibi'!" tiba-tiba Angelina berteriak, membuat Ciel dan Rachel mengerjap kaget. "Panggil aku Madame! Aku merasa tua jika kau memanggilku 'Bibi', chérie!"

"Ah… iya, maaf…" Ciel menggigit bibir bawahnya. "Madam."

"Madame!"

"Ya, Madame." ia mengulang dengan sengau khas Prancis, tapi malah lebih kedengaran seperti anak kecil terkena flu. Saat ia mendongak ke arah Angelina, wanita itu tersenyum puas.

"Begitu lebih baik." katanya riang. "Soal event itu… hanya kebetulan, kok."

Rachel menelengkan kepalanya. "Kebetulan?"

"Ya." Ia menganggukkan kepalanya. "Kebetulan sekali, teman baik mantan suamiku adalah ketua asosiasi pelajar di Oakland. Ia mengenalku dari dia, dan ia sedang kekurangan tenaga untuk event seperti ini dan kebetulan, dia tahu aku sedang di Oakland. Yah, setidaknya pengalamanku dalam mengelola sekolah modeling sudah lebih dari cukup."

"Oh…" Ciel mengangguk angguk paham.

"Bagaimana dengan tempat tinggal?" Rachel bertanya dengan nada pengharapan. "Kau bisa tinggal disini kalau kau mau."

Angelina tertawa kecil. "Oh tidak, Kakak. Tidak perlu. Asosiasi sudah mengurus semua yang aku butuhkan selama kurang lebih dua minggu di Oakland." jelasnya. "Mereka sudah menempatkanku di hotel berbintang—terlalu sayang untuk ditolak. Hotel itu kebetulan sekali dekat dari Castlemont, jadi akan lebih efisien karena aku harus bolak-balik ke sekolah itu tiap hari. Tapi jangan khawatir—aku akan sering-sering bertandang ke sini, kok."

Rachel memandang adiknya itu dengan tatapan setengah kecewa.

"Lagipula aku juga ingin sering bertemu dengan keponakanku yang manis!" katanya setengah tertawa. "Aku langsung mengiyakan tawaran itu setelah tahu Vincent menyekolahkanmu di sekolah umum, lho!"

"Err—oh ya?" tanya Ciel dengan sebelah alis terangkat. "Lalu apa yang akan Bi—Madame lakukan dengan itu?"

"Banyak hal yang bisa kulakukan dengan itu, chérie!" Angelina mengedipkan matanya dengan jenaka. "Kudengar dari ibumu, kau sangat pintar bermain piano. Bagaimana jika aku menaruhmu di bagian orkestra?"

"Eh, Madame, kurasa tidak usah—"

"—Atau, ehm… wajahmu sangat meyakinkan, chérie! Aku yakin banyak gadis-gadis muda yang akan terpesona dengan wajah seperti itu. Sebentar, coba nanti kulihat di peran utama di bagian drama musikal—"

"Madame!" potong Ciel cepat. Saking cepatnya sampai ia tidak menyadari bahwa ia melafalkan kata 'Madame' dengan benar. "Itu tidak perlu!"

"Kenapa, dear? Bukankah itu bagus?" Rachel sedikit surprise melihat reaksi putranya yang seperti itu.

"Ugh—panggung, Mum? Yang benar saja!" ia berusaha sebaik mungkin untuk mencari alasan yang tepat. "Itu bukan aku. Oh, tolong—aku sama sekali tidak tertarik."

"Tapi, chérie!" Angelina masih berusaha membujuk keponakannya itu.

"Lagipula! Ya, lagipula," Ciel buru-buru menyanggah. "lagipula… kurasa akan sangat aneh jika aku yang tidak punya modal apa-apa tiba-tiba bisa tampil di event besar seperti itu. Terlebih jika mereka tahu bahwa aku adalah relasi Madame yang notabene berperan besar pada jalannya event itu."

Bibir merah Angelina melengkung naik setelah Ciel berkata seperti itu. "Coba saja kau tidak sekeras kepala seperti ini untuk menolaknya."

"Astaga. Sudahlah, Madame." balasnya. "Masih banyak murid yang lebih berbakat dibanding aku di Castlemont. Berikan saja kesempatan itu untuk mereka."

"Baiklah." Angelina menghela napas. "Aku kehabisan kata untuk melawanmu."

Tanpa Ciel sadari, senyum lega terkembang di bibirnya.

000

Ciel mengerutkan dahinya saat mencoba mengutak-atik rumus integral parsial yang tertulis pada buku tebal usang di depannya. Sesekali ia berdecak, entah karena kesal karena tidak bisa menemukan jawabannya atau suara berisik—teriakan Alois, jeritan Grell dan geraman Ronald yang terdengar paling keras—yang datang dari ruang tengah.

Merasa 'murid'nya terganggu, Sebastian yang sedang duduk santai di hadapan Ciel segera melempar bantal sofa ke arah ruang tengah. Ajaib—tiba-tiba saja suara itu mereda. Ciel yang keheranan mendongakkan wajahnya agar bisa melihat tutor-nya itu dengan jelas.

"Apa?" gerutu Sebastian. "Aku hanya membantu menciptakan suasana yang kondusif."

Ciel hanya menjawab dengan satu kedikan bahu.

"Tadi Ron membeli banyak sekali CD game di Game Corner." cerita Sebastian tidak perlu. "Mereka sudah seperti itu dari jam dua siang."

"Nonstop, ya? Menyenangkan sekali." dengusnya. Sebastian tertawa.

"Jadi… kau tergiur?"

"Sangat tergiur." Ciel berdecak. "Jika saja buku-buku matematika sialan ini tidak ada di hadapanku, mungkin aku sudah berada di ruang tengah sekarang."

"Hmm." Sebastian memaklumi. "Bagaimana jika aku memberimu sedikit motivasi?"

"Hah? Motivasi?"

"Iya, motivasi." Sebastian menyilangkan tangannya. "Jika kau bisa menyelesaikan soal-soal yang aku berikan dalam setengah jam… akan kubolehkan kau menghabiskan setengah jam lagi untuk bergabung bersama mereka."

"Motivasi yang menarik." remaja biru-kelabu itu terkekeh. Segera saja, ia mulai semangat menyelesaikan permasalahan-permasalahan Matematika itu satu demi satu.

"Apa tadi Madame Red mengunjungimu?" Sebastian bertanya tiba-tiba.

"Eh?" Ciel segera menghentikan aktivitasnya. "Tentu saja. Memang itu tujuan awalnya, kok."

Pemuda berambut jet black di depannya mengangguk-angguk. "Kurasa besok aku akan menemui satu kerepotan besar."

Karena perkataan Sebastian lebih terdengar seperti gumaman, Ciel hanya mengedikkan bahunya sebagai respon. Ia kembali hanyut dalam lautan soal-soal matematika sementara Sebastian terus mengawasinya. Memang terasa sedikit risih, tapi Ciel berusaha sangat keras mengabaikan Sebastian sampai ia berhasil menyelesaikan soal-soal itu tepat di waktu yang telah disepakati.

"Selesai!"

Ciel mengangkat buku usang itu tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar. Seruannya membuat Sebastian sedikit terkejut, dan ia melayangkan pandangannya ke arah jam dinding. Remaja biru-kelabu itu berhasil meyelesaikan semua soal-soal itu, bahkan lima menit lebih cepat dari perkiraan. Sebastian merapatkan bibirnya, menimbang-nimbang untuk apa yang akan ia lakukan.

"Ini sih bukan masalah." dengus Ciel sambil menurunkan buku di tangannya. "Rasanya senang sekali, ya, bisa memotong tiga puluh menit waktu yang harusnya kuhabiskan denganmu? Seperti keajaiban." sambungnya retoris.

Sebastian tertawa setengah hati. "Baiklah. Kau bisa ambil hadiahmu."

Tanpa perlu aba-aba lebih lanjut, Ciel buru-buru membereskan buku-buku di atas meja ruang tamu ke dalam tas yang dibawanya. Ia sudah sangat tidak sabar untuk bergabung dengan mereka yang sedang seru-serunya bermain permainan konsol di ruang tengah—setidaknya setengah jam cukup. Karena terlalu terburu-buru, ia menjatuhkan beberapa barang yang tersisa di dalam tasnya saat ia menarik benda itu dari atas sofa. Sedikit jengkel, ia membereskan barang-barang itu dengan asal. Ia menyadari sesuatu saat mata biru pekatnya mengenali sebuah buku teks yang baru-baru ini ia gunakan.

Dan sesuatu yang awalnya ia rencanakan dengan buku itu.

"Sebastian," refleks ia memanggil pemuda di hadapannya, "apa saja bidang eksak yang masih kau kuasai selain Matematika?"

Sebastian menaikkan sebelah alisnya, menyadari pertanyaan Ciel kali ini terdengar cukup random. "Selain Matematika?"

Ciel mengangguk dua kali.

"Sebagai mahasiswa jurusan kedokteran… Biologi, pastinya." terawang Sebastian. "Aku tidak suka Fisika—jadi harus kuakui aku agak payah dalam hal itu. Dan Kimia… rasanya itu oke." ia menatap Ciel dengan heran setelahnya. "Tunggu—apa maksudmu dengan 'masih'?"

Ciel tidak segera menjawab pertanyaan Sebastian. Sebaliknya, ia memandangi buku teks familiar di tangannya dengan sedikit ragu. Mulutnya gatal ingin mengatakan sesuatu, tapi ia merasa hal akan membuatnya sangat hipokrit karena apa yang belum lama ini ia katakan.

"Rasanya senang sekali, ya, bisa memotong tiga puluh menit waktu yang harusnya kuhabiskan denganmu? Seperti keajaiban."

Ia menggigit bibir bawahnya.

"Bagaimana kalau…" ia menatap mata deep red yang kebingungan di depannya taku-takut. "Bagaimana kalau kau ajari aku sedikit hal tentang Kimia untuk menghabiskan tiga puluh menit kedepan?"

Setidaknya saat itu Sebastian mulai bisa mengetahui sisi ke-hipokrisi-an Ciel dengan apapun yang dikatakannya.

000

"Puas bermain semalaman, eh?"

Harus Ciel akui, sebenarnya ia agak miris melihat Alois yang tampil dengan kantong mata kehitaman di wajahnya. Tapi apa mau dikata, kantong mata menyedihkan itu juga timbul karena kesalahan remaja pirang itu sendiri. Ciel tidak bisa berbuat apa-apa selain menertawakan Alois di luar, namun mengasihani sepupu angkatnya itu di dalam.

"Oh, diamlah." Alois mengibaskan tangannya. "Setidaknya permainanmu dengan Sebastian jauh lebih seru, kan?"

"…Apa kau selalu berkata ngawur seperti itu saat kau kurang tidur?" Ciel menghembuskan napasnya yang hangat ke kedua telapak tangannya. "Aku mati-matian belajar, bukannya bermain dengan orang mesum itu!"

Alois membuat mimik wajah lucu dengan kalimat Ciel barusan. Ciel mendengus, mengalihkan pandangannya ke lapangan Castlemont yang sepi dan becek. Musim dingin mulai datang, dan sebagai daerah coastal, memang sudah lazim jika hujan selalu turun mendahului salju yang datang belakangan di Oakland. Suhu yang tidak terlalu bersahabat dan suasana yang basah membuat lapangan sekolah yang biasanya ramai tiba-tiba berubah drastis. Hanya ada dua atau tiga murid yang bisa ia temukan melintasi tempat itu pagi ini.

"Jadi sepi sekali, ya?" Ciel kembali meniupi tangannya. "Biasanya para pemandu sorak itu selalu berkerumun dan ribut-ribut di dekat patung air mancur."

Si rambut pirang memutar matanya. "Sudah pindah."

"Hah?"

"Paling tidak kini mereka berkerumun di gym." jelas Alois. "Hari ini hari pertama pemilihan casts untuk students charity event, kan? Aku yakin mereka sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan bagian di acara itu."

"Oh." ia ber-oh paham. "Lama-lama ini kelihatan seperti ajang semacam pencarian bakat atau apalah."

Alois memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Padahal tahun lalu tidak seheboh tahun ini, lho. Kelihatannya sedikit banyak tenaga profesional yang direkrut asosiasi juga mempengaruhi."

"Wow. Aku yakin kata-katamu merujuk pada Madame." Ciel tertawa. "Setidaknya… secara tidak langsung."

"Tapi itu benar, kan?" Alois membela diri. "Tidak ada yang tidak tahu wanita setenar dia di sini. Aku berani sumpah satu Castlemont sudah tahu bahwa kau adalah keponakan Madame Red karena kejadian kemarin."

"Bagaimana bisa? Lalu apa urusanku dengan itu?" Ciel tiba-tiba memperlambat langkahnya.

"Kau tidak bisa mempercayai wanita. Terutama yang ber-make-up tebal." selorohnya. "Sudah pasti mereka menyebarkan berita itu lewat mulut ke mulut. Dan… voila. Aku yakin akan itu akan sedikit berdampak padamu."

"Kedengaran buruk." Ciel bergidik. "Entahlah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi."

Remaja biru-kelabu itu menatap Alois penuh tanda tanya, dan Alois hanya merespon dengan satu kedikan bahu. Tidak tahu.

"Yah, sudahlah. Aku juga tidak peduli." ia membuang pandangannya ke arah yang berlawanan. "Kurasa kita harus berpisah di sini. Kelas pertamamu ada di sebelah timur gedung ini, kan?"

"Eh? Iya." Alois mengecek jam tangannya. "Aku juga harus buru-buru. Ada tugas yang belum kuselesaikan. Daah!"

Ciel melambaikan tangannya ke arah Alois yang berlari menjauh sebelum berbalik ke arah tangga. Di lantai dasar, suasana sama sekali sepi. Entah karena suhu yang dingin atau para murid memang berkumpul di gym, Ciel tidak tahu. Langkah kakinya bahkan terdengar sangat jelas di telinganya sendiri. Sesampainya ia di lantai berikutnya, barulah ia menemui beberapa murid Castlemont yang lain di sepanjang koridor. Namun kali ini, ia menyadari satu hal yang tidak biasa.

Setiap pasang mata yang menangkap pegerakannya saat melewati koridor itu pasti tidak bisa melepas pandangan mereka. Jika ada dua orang atau lebih, mereka melihat Ciel dari atas sampai bawah, lalu segera membisikan sesuatu pada partner di sebelahnya. Saat Ciel memergoki mereka yang ketahuan memandanginya, orang-orang itu langsung berbalik seolah tidak terjadi apa-apa, namun tak lama setelah itu mereka kembali menatapnya atau saling berbisik.

"…Apa, sih?" ia bergumam, keningnya bahkan sedikit berkerut. Saat ia berpapasan dengan dua orang gadis yang meliriknya diam-diam dari arah berlawanan, kedua gadis itu buru-buru melewatinya sambil menutupi sebagian wajah mereka dan tertawa cekikikan. Sesaat bahkan Ciel mengira bahwa ada sesuatu yang konyol di wajahnya yang membuat orang-orang memperhatikannya sejak tadi.

Saat ia akan berbelok menuju ruangan kelasnya, tiba-tiba Ciel dikejutkan dengan seseorang yang sama sekali tidak ia sadari, berdiri di depan pintu. Jika saja orang itu tidak begitu ia kenal, mungkin ia sudah terkejut dan menjerit seperti anak perempuan. Tapi kini, di depannya, berdiri seorang gadis nyaris anoreksia berambut hitam sebahu dengan mata besar hasil operasi plastik sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Pagi, Ciel!" sapanya kelewat ramah. Gadis itu—Yajun—menarik syal hijau yang dikenakannya ke arah bahu dengan dramatis, seolah-olah hal itu dapat membuatnya terlihat cantik atau apalah.

"…Pagi?" balas Ciel tidak yakin. Tentu saja, seingatnya terakhir kali gadis itu menyapanya adalah saat ia dikenalkan oleh Lizzy—yang notabene juga untuk yang pertama kali. Sesekali ia pernah bertemu dengan gadis asia itu, tapi sepertinya ia lebih sibuk dengan teman-teman populernya dibanding menyadari keberadaannya. Atau terkadang dikerumuni oleh murid-murid lelaki yang sibuk menanyakan hal remeh untuk membuatnya tertarik. Tunggu, kata Lizzy… apa istilahnya? Playgirl? Kira-kira begitu, pikirnya.

"Kenapa responmu seperti itu, sih?" Yajun tertawa kecil sementara Ciel terkekeh canggung. Setelah menghentikan tawanya, Yajun memerhatikan Ciel sedikit skeptis, lalu dengan tiba-tiba(lagi) mengusapkan tangannya ke sisi lengan Ciel. Tentu saja perlakuan Yajun yang sangat tidak diduga ini membuat Ciel kaget, dan ia sedikit berjengit.

"Hari ini baru saja hujan. Memangya kau tidak merasa kedinginan?" tanyanya dengan wajah khawatir. Ciel semakin merasa aneh dengan semua itu.

"E-eh? Tidak. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Ciel memaksakan senyum—terutama setelah ia melihat murid-murid lain yang berada di sekitar koridor. Para murid perempuan melihat mereka dengan ekspresi seolah Yajun baru saja membakar pakaian kesayangan mereka, sedangkan yang lelaki tampak sangat ingin menertawakan mereka berdua. Ini membuatnya semakin salah tingkah. "Err—bisa aku masuk ke dalam sekarang? Sebentar lagi bel masuk berbunyi."

Yajun membulatkan matanya yang sudah bulat. "Ah, baiklah. Maaf sudah menghalangimu. Sampai jumpa nanti di kelas musik!"

Dengan satu genggaman erat di tangan kanannya dan kissbye khas Yajun, gadis itu pun meninggalkan Ciel yang terheran-heran seperti orang dungu di koridor yang mulai ramai.

"Apa-apaan ini?"

000

"Hai, Ciel!"

"Ng? Hai, eh—Bree…"

"—Brianna. Tidak apa-apa, hihihi…"

"Eh, yah, maaf."

"Oh, itu Ciel!"

"Mana, mana?"

"Itu, yang baru saja turun tangga!"

"Kyaaa! Pagi, Ciel!"

"…Pagi…"

"Eh, anda Senior Ciel?"

Wha—"Ya, ada apa?"

"Ti-tidak… hanya ingin bilang 'halo'…"

"…"

"Jadi itu yang namanya Ciel?"

"Iya! Bagaimana menurutmu?"

"Lumayan. Eh, dia lewat sini. Hai, Ciel!"

"Curang, aku juga—ups, hai, Ciel!"

"Itu dia! Er —Phantomhive, halo!"

"Hai, Ciel!"

"Selamat pagi!"

"Bonjour!"

Otak Ciel rasanya mau pecah.

"Ah, chérie! Menyenangkan sekali rasanya melihat dirimu yang populer di sekolah kecil ini!" tanpa disadari, Angelina muncul dari belakangnya dan merangkul bahunya, dan segera saja murid-murid yang melihat itu bersorak.

"Bi—Madame?" ia pun memutar tubuhnya agar berhadapan dengan wanita serba merah itu. "Bukankah seharusnya anda berada di gym?"

"Waktu istirahat, chérie. Pekerjaanku disini bukan hanya menyortir bakat anak-anak itu seharian penuh." Angelina mengibaskan jemari lentiknya. "Sudahlah, aku butuh makanan sekarang. Nanti, chérie, aku pergi dulu. Tetap tebarkan kharismamu!" ia mencium pipi Ciel sebelum ia sempat mengelak. Wanita itu pun buru-buru melenggang meninggalkannya begitu saja.

"Ada apa ini?" Ciel kembali ke alam sadar saat ia mendengar suara Alois dari belakangnya. Remaja pirang itu memandang sekelilingnya dengan ekspresi terganggu sebelum memusatkan penglihatannya ke Ciel. Ia tergelak sampai-sampai hampir menumpahkan minuman kemasan di tangannya saat menyadari noda merah lengket di pipi kanan sepupu angkatnya itu.

"Madame menciummu di tempat ramai seperti ini? Dasar bayi." tawanya. Ciel membalas Alois dengan tatapan kalut.

"Apa?" Alois sedikit mencondongkan tubuhnya. Dari air mukanya, sedikit-banyak ia kelihatan tidak seheran seperti apa yang Ciel pikirkan.

"Ini aneh." bisik Ciel pada Alois. "Ada apa dengan semua ini? Kenapa semua anak perempuan tiba-tiba menyapaku seolah-olah aku ini orang penting? Ada apa dengan mereka?"

"Ugh," Alois mengeratkan katupan giginya di sedotan minuman kemasannya. "Apa sebenarnya yang terjadi dengan naluri perasamu? Kenapa hal seremeh ini saja kau sampai tidak tahu?"

Ciel menatap Alois seolah sepupu angkatnya itu baru saja berbicara pada seekor kuda.

"Ayo, otak tumpul, mari kita bicarakan ini di tempat lain." Alois buru-buru menarik Ciel ke ruang seni rupa. "Kedipan para gadis pesolek itu membuatku gerah."

Alois membuka pintu ruang seni rupa dengan keras dan menutupnya kembali dengan sama kerasnya. beruntung sekali ruangan itu cukup sepi, hanya ada beberapa anak-anak komunitas seni yang sibuk membereskan patung tanah liat yang kelihatan sudah setengah kering. Tapi sudut mata Alois sedikit berkedut saat melihat sosok Lizzy yang sedang bermain-main dengan beberapa pisau pahat—entah sengaja atau memang sedang kurang kerjaan.

"Aku lupa kalau masih ada dia." keluhnya.

"Kau lupa di setiap pelajaran ini kita selalu di kelas yang sama? Lucu sekali. Ha." cecar si pirang ikal sambil meletakkan pisau-pisau pahat di tangannya. Mata hijaunya melihat Ciel dengan sedikit surprise. "Oh, Ciel? Bagaimana rasanya menjadi terkenal hari ini?"

"B-bagaimana kau bisa tahu?"

Lizzy memutar matanya. "Bagaimana aku bisa tahu? Yajun berteriak padaku kau menyapanya hari ini dan berpuluh gadis lainnya melakukan hal yang sama. Apa semudah itu caranya agar aku tahu?"

"Jadi itu tujuanku dan Ciel kemari." sambar Alois. "Si tidak peka ini ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ck—setidaknya kau bisa membantu."

"Tanpa kau minta pun, aku bersedia membantu." balas Lizzy tak kalah pedas.

"Semenit akur, setahun bertengkar." Ciel menghela napas berat. "Bisa tidak, sih, kali ini tidak usah bertengkar?"

"Maaf." kata Lizzy tak tulus. "Oke, jadi apa yang akan kita bicarakan? Soal Ciel yang tiba-tiba populer, hm?"

"Yah… itu cukup membingungkan. Maksudku—"

"Gadis-gadis itu? Hahaha!" kontan saja Lizzy tertawa. "Kau merasa terganggu?"

Ciel membasahi bibir bawahnya, jelas sekali ia ragu. "Sedikit, sih. Tapi alasannya yang masih membuatku bingung…"

"Apa? Astaga! Kukira… kukira kau bingung bagaimana cara mengatasinya! Ahahahaha!" Lizzy kembali menertawakan remaja biru kelabu-itu, kali ini terang-terangan sedikit mengejek.

"Apa kubilang!" Alois malah ikut-ikutan tertawa. "Dia payah sekali, kan?"

Lama-lama, Ciel mulai jengah. "Maaf? Apa maksudmu dengan kata 'payah'?"

"Tidak, tidak. Maksudku begini," Lizzy mengelap titik air di sudut matanya, "tidak ada alasan khusus, Ciel. Bibimu sendiri adalah jawabannya."

"Eh? Madame?"

"Iya. Memangnya sesulit itu untuk menyadarinya?"

"Uh…"

"Oh, keponakan Angelina yang terkenal." godanya. "Bibimu adalah kunci utama di event Natal tahun ini, ingat? Rasanya sudah rahasia umum kalau mereka sengaja mendekatimu. Untuk mendapatkan bagian, itu motifnya."

Sebelah alis Ciel terangkat. "Motifnya?"

"Acara seperti itu adalah salah satu cara cepat untuk mendongkrak popularitas, lho." ujar Alois setelah menyeruput minumannya untuk yang terakhir kali. "Kau tahu Brianna? Yang tadi pertama menyapamu—si model gagal itu sudah melakukannya dari dua tahun yang lalu dan itu selalu berhasil. Ia mendapat peran utama di acara puncak dua tahun berurut-turut."

"Pendekatan pribadi, kasarnya." Lizzy mengangguk setuju. "Cara curang. Mereka semua tahu kalau kau itu keponakan Madame. Lagipula di pikiran mereka, mencari link seperti ini adalah sesuatu yang bagus untuk itu."

"Dengan kata lain, aku dimanfaatkan, ya?" Ciel menyipitkan matanya. Sepertinya dia sudah agak mengerti sekarang.

"Begitulah." jawab Alois sekenanya. "Tapi itu tidak buruk, kok. Aku yakin kau bisa tahan dengan gadis-gadis itu."

"Kuharap aku bisa." Ciel merasa napasnya terasa lebih longgar. "Tapi sampai kapan aku terus menjadi 'mendadak populer' seperti ini?"

Lizzy menepuk pundak Ciel pelan. "Setelah event ini juga akan baikan, kok. Keperluan mereka hanya sampai di sana, kan? Malah nanti kau jadi 'mendadak tidak populer'!"

"Hahaha! Benar juga, ya?"

"So spread your charm, baby. Nikmati saja menjadi populer selama sebulan belakangan ini." canda Alois. "Setidaknya berterima kasihlah pada Madame Red itu."

"Ah, iya." tiba-tiba mata Lizzy berbinar cerah. Ia mengerling pada Ciel, dan Ciel merespon dengan pandangan heran.

"Apa, Liz?"

"Ide Yajun dan kawan-kawan boleh juga, ya?" jelasnya—seratus persen gurauan. "Kelihatannya tampil di acara itu cukup oke. Hei, Ciel, kau sepupuku yang paling baik, kan?"

Ciel mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa dengan perkatann Lizzy. "Hah?"

"Sepertinya mendekati sepupuku sendiri juga boleh—bagaimana jika kau rekomendasikan aku ke Madame untuk peran utama di drama musikal?"

"He-hei! Kenapa kau juga ikut-ikutan pakai cara curang?"

000

Dengan seribu satu cara, akhirnya Ciel berhasil mengelak dari rayuan gombal para murid perempuan yang genit itu, walau dalam hati ia merasa sedikit terhibur. Sapaan dari semua siswi junior hingga senior dan lirikan iri dari semua siswa walau memang awalnya terasa sedikit merepotkan—worth it.

Tidak ada yang salah untuk ingin merasakan bagaimana rasanya sehari jadi idol, kan?

Ini semua karena Angelina, kurang-lebih. Ia memang harus berterima kasih pada bibinya itu, seperti kata Alois. Sambil menekan tombol flush di belakangnya, Ciel tertawa sendiri. Tapi, hei, jadi pupuler sama sekali bukan gayanya. Ciel malah sangat berharap event itu cepat-cepat selesai, Angelina kembali ke Paris dan boom, semua kembali seperti sedia kala. Ia mengangkat bahu—juga mulai menyadari lama-kelamaan ia seperti orang bodoh yang sedang berpantomim. Akhirnya ia membuka pintu stall dan menghampiri wastafel guna mencuci tangan.

Toilet sekolah bukanlah tempat yang nyaman, terutama toilet pria dengan bau pesing ekstra. Sambil membasuh tangannya dengan sabun cuci tangan murahan yang tersedia di toilet, Ciel kembali larut dalam pikirannya sendiri. Hari ini, lagi-lagi, ia harus pulang sendirian. Ralat—berdua saja dengan Sebastian.

Lagi?

Ciel menekuk bibir bawahnya. Bagaimana bisa hal ini terjadi terus-menerus? Ia kembali mengingat bad poker smile Alois saat ia mengatakan bahwa ada urusan penting di klub baseball setiap pulang sekolah atau mata Lizzy yang selalu bergerak-gerak ke arak kiri saat mengutarakan alasan team gathering pulang sekolah ini di kelas terakhir bersamanya. Dan tiba-tiba saja di belakangan ia mendapat kabar bahwa Claude tidak kembali bersama Sebastian dengan kelas tambahan untuk sejuta kalinya.

Semuanya seperti sudah direncanakan seperti sedemikian rupa.

Meski masih penasaran, Ciel buru-buru menepis pikiran itu. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali sebagai penekanan, membenarkan tas di pundaknya dan keluar dari toilet. Matanya siaga mengawasi setiap gerak-gerik di lorong sepi sebelum jalan menuju lapangan parkir. Setelah dirasa aman, ia mulai melangkahkan kakinya satu-satu dengan hati-hati.

Ada alasan khusus mengapa ia melakukan hal itu. Hari yang sudah dilewatinya kali ini cukup menyusahkan, dengan para murid perempuan yang tak henti menyapa dan berteriak setiap kali ia lewat. Sebisa mungkin ia membuat dirinya tidak kelihatan agar keributan seperti tadi siang tidak terjadi lagi. Tapi saat beberapa bayangan melintas tepat saat ia akan keluar ke lapangan parkir timur, rencana briliannya gagal sudah.

"Well, teman-teman, lihat siapa yang aku temukan. Ciel Phantomhive!"

Sosok Brianna—yang tadi sempat dikatai Alois model gagal—menghadangnya di depan pintu keluar bersama beberapa murid perempuan lain dengan senyum misterius. Semuanya memiliki kesamaan dalam hal penampilan, kecuali Brianna sendiri yang terlihat lebih mencolok sebagai pemimpin dari mereka. Tinggi kurus, kulit tan palsu dengan rambut pirang hasil bleaching ala gadis Jersey menjadi ciri khasnya, ditambah dengan wajah yang tak pernah luput dari riasan. Brianna berdiri sangat dekat dengan Ciel, dan bahkan dalam jarak sedekat itu, Ciel bisa melihat perbedaan warna antara kulit wajah dan lehernya serta sapuan maskara yang sedikit menggumpal di bulu mata kanan gadis itu. Bibir mengilapnya menyunggingkan sebuah senyum yang bahkan Ciel sendiri tak tahu apa artinya.

"Siang, keponakan Madame." sapanya dengan keramahan yang jelas sekali dibuat-buat. "Kenapa hari ini kau pulang sendiri?"

"Eh? Aku memang biasa pulang sendiri." Ciel mencoba menjawab dengan santai. Setelah itu, hening sejenak. Merasa suasana kurang kondusif, Brianna mengisyaratkan teman-temannya untuk sedikit menjauh darinya dan Ciel, segera saja gadis-gadis bodoh itu menuruti dan mereka pun mulai sibuk sendiri, agak sedikit jauh dari mereka berdua.

"Di luar sana masih gerimis, lho." katanya. "Dingin, lagi. Bagaimana kalau kau pulang bersamaku? Aku bisa menyuruh teman-temanku pulang dengan mobil lain. Jadi aku bisa mengantarmu…"

Ciel menggeleng cepat. "Di-diantar? Tidak usah, tidak perlu." ia sedikit bergidik. Mau ditaruh dimana harga dirinya kalau ia diantar pulang oleh seorang gadis? Omong kosong. "Pulang saja dengan teman-temanmu, aku tidak apa-apa pulang sendirian. Dan… terima kasih untuk tawarannya."

Tanpa diduga, Brianna pun merangkul lengan kanan Ciel dengan erat. "Ayolah, Ciel… kali ini saja!"

"Uh…" Ciel merasa kali ini Brianna mulai kelewatan. Ia berusaha menarik tangannya, tapi gadis itu malah semakin mengeratkan rangkulannya. "Maaf, Brianna. Aku tidak bisa."

"Kenapa?" desaknya. "Bukankah lebih baik jika pulang denganku?"

Ciel merutuk dalam hati karena gadis keras kepala satu ini. "Karena…"

"Karena dia bersamaku."

Sontak keduanya menoleh ke asal suara yang menginterupsi mereka. Terkecuali Brianna dan teman-temannya, Ciel-lah yang terlihat paling terkejut sekaligus paling lega.

"…Siapa kau?"

"Sayang sekali, Miss." Sebastian 'Sang Penyelamat' berjalan menghampiri mereka denga senyum khasnya—yang bahkan dapat membuat beberapa dari teman Brianna menjerit. "Ciel tidak bisa pulang bersamamu karena dia harus pulang bersamaku. Ada masalah?"

Brianna mengedipkan mata bermaskaranya. Ia ingin protes, tapi ia merasa ada sesuatu yang tertahan di ujung lidahnya.

"Memangnya kau itu siapanya Ciel?"

Sebastian tersenyum kecil. Ia menghampiri Ciel yang menatapnya dengan was-was, seolah bertanya 'apa yang akan kau lakukan?' padanya. Sebastian membalasnya dengan tatapan 'tenang dan lihat saja'.

Ciel sedikit menggeser posisinya saat Sebastian semakin mendekat. Dia punya firasat buruk—dan benar saja, Sebastian tiba-tiba menarik tangannya dari Brianna dan merangkulnya dengan posesif. Sebastian agaknya sengaja menariknya dengan cepat agar Ciel kehilangan keseimbangan dan malah terlihat seperti terjatuh, dan Sebastian pura-pura menyelamatkannya dengan cara memeluknya tubuhnya.

"Hei, kau—" Ciel terkejut dan berusaha memprotes, tapi Sebastian buru-buru mendekapkan kepala Ciel lebih dekat ke dadanya untuk meredam suara remaja itu.

Sebastian pun menolehkan pandangannya ke arah Brianna sambil mengusap rambut Ciel, lalu berkata dengan nada meremehkan. "Menurutmu, siapa?"

Brianna tidak bisa berkata apa-apa melihat pemandangan di depannya, rahang bawahnya nyaris menyentuh lantai, jika ingin berlebihan. Begitu pula para pengikutnya yang hanya bisa mebelalakkan mata. Sebastian tertawa kecil, lalu berlalu begitu saja ke lapangan parkir dengan Ciel yang masih terdiam di dalam dekapannya.

Kondisi Ciel sendiri tak jauh beda dengan Brianna dan kawan-kawan. Untuk yang kesekian kalinya, ia speechless. Wangi musk yang menguar dari trench coat yang dikenakan Sebastian membuat otaknya seolah lumpuh, tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan ia tidak menyadari saat Sebastian menyurukkan kepalanya ke coat tebal tersebut untuk melindunginya dari tetesan air hujan dan memandunya berlari kecil menuju sedan hitam yang terparkir di sudut lapangan.

Apa yang salah pada dirinya?

Sebastian tergesa-gesa membukakan pintu penumpang depan dan menyuruh Ciel untuk masuk, lalu ia memutari bagian depan mobilnya dan masuk lewat pintu pengemudi. Ia menyalakan mobilnya dan segera memutar tombol kendali AC ke arah heater. Sambil menghangatkan telapak tangannya, ia melayangkan pandangan ke Ciel yang masih terlihat out of space.

"Ciel?" Sebastian memanggilnya hati-hati. Lima detik berselang, barulah Ciel menoleh ke arah Sebastian dengan tatapan lega.

"Aku… aku tidak tahu harus berterima kasih atau apa." cicitnya. Sebastian mengangkat bahu.

"Kenapa begitu?" tanyanya. "Dugaanku benar, kan? Kunjungan bibimu itu akan membuatmu repot. Untung saja aku datang di saat yang tepat. Kalau tidak, mungkin kini kau sudah terjebak dengan gadis menor mengerikan itu."

"Iya, aku tahu itu! Makanya aku ingin berterima kasih." Ciel buru-buru menyela. Kini tatapannya berubah seakan ingin melindas kepala Sebastian dengan sedan hitam itu. "Tapi… apa yang sudah kau lakukan?"

Alis Sebastian sedikit berkedut. "Apa? menyelamatkanmu, tentu saja. Orang macam itu tidak akan menyerah jika tidak dilawan dengan perlakuan yang sama."

"Tapi… tapi…"

"'Tapi' apa?"

"Tapi!" Ciel setengah menjerit. "Apa maksudmu dengan tiba-tiba memelukku seperti itu, mesum? Brianna dan teman-temannya pasti mengira kalau kita ini gay! Dan kau tahu bahwa mulut seorang perempuan tidak bisa dipercaya! Bagaimana jika ia menyebarkan hal yang aneh-aneh, hah? Aku akan tamat! Dan ini semua salahmu!"

Sebastian terdiam. Ciel mengatur napas sambil memandang Sebastian dengan tajam.

"Ah, itu…"

"Apa? Apa yang harus aku lakukan?" sungut Ciel. "Kau pasti sudah memikirkannya terlebih dulu, kan?"

"Benar juga." dengan kalem, Sebastian menjawab. Ia menoleh ke arah Ciel dengan senyum tanpa rasa berdosa. "…Aku lupa memikirkannya. Soalnya aku melakukan itu spontan saja, sih."

Mendadak bahu Ciel terasa lemas. Rasanya ingin sekali ia membenturkan dahinya ke dashboard.

"Mati aku."


A/N : Jadi... berapa lama saya nggak posting update? Empat minggu? Waduh. Saya kira pas liburan saya bakal nggak ada kerjaan, tapi ternyata kerjaan malah numpuk. Jadi maaf sekali atas keterlambatannya. *deep bow*

FYI, buat 4-5 bulan kedepan, saya bakalan sibuk banget, jadi saya mau minta maaf lagi kalau fic ini ga bakal bisa update secepat yang sebelumnya. Tapi saya janji ini nggak akan discontinued!

Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : Aldred van Kuroschiffer, Kojima Michiyo, Chernaya shapochka, chiko-silver lady, Rose, risa777, RaFa LLight S.N, Kai Shadowchrive Noisseggra, killinheaven, Keshahaha, Nada-chan Laurant, TheChronaIria, Fleur deCerisier Phantomhive, orlyzara, Qisti-Hime Kuroi Neko dan Adevarat Gaura! *Give tinypinches, squeals, hugs and kisses*

Ehee, mohon maaf lagi yaa kalau masih ada kalimat salah struktur dan typo… nggak diedit, sih.

For anon reviewers :

Rose : Ya ampun, sampai segitunya yah :D terima kasih buat reviewnya lagi ya, Rose-san!

RaFa LLight S.N : Maaf sekali, tapi yang ini dan yang seterusnya bakal update ngaret, Rafa-san! Haha, kita tunggu saja kemauan si Author tentang hubungan mereka ini bakalan gimana *evilsmirk* Terima kasih banyak, ya, buat reviewnya!

*le gasp* 89 reviews? Let's see if I get a hundred hits, maybe next I could throw some treats for you ;D

Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D