Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only
Warnings : AU, OOC, language—maybe? May contain sho-ai, extremely minor OCs, slight different format from usual, semi-drabbles
"Bacon atau selai, dear?"
Dua bola mata safir menatap piring berisi bacon hangat dan keranjang selai secara bergantian. Selai kacang kelihatan oke―dan selebihnya kelihatan payah. Tapi setelah Rachel menaruh beberapa sunny side-up egg di piring lain, selai kacang jadi tidak kelihatan semenarik sebelumnya.
"Bacon." putusnya.
Rachel menaruh tiga potong bacon di atas roti milik Ciel, lalu tertawa saat melihat wajah anaknya yang seakan mengatakan 'tidak cukup'. Ia pun menaruh satu bacon ekstra di tengah-tengah roti yang sudah tertutupi bacon lain, dan Ciel tersenyum lebar sebagai ucapan terima kasih.
"Aku tahu apa yang kau inginkan." Rachel kembali menaruh satu sunny side-up egg di atas roti yang sudah tertutupi bacon. Tentu saja ini membuat Ciel membelalakkan matanya dengan jenaka.
"Mum! Kau memang selalu tahu apa yang aku inginkan." Ciel segera mengolesi saus dan mustard di atas telur itu, lalu menutupnya dengan lembaran roti lain. Di sampingnya, Vincent menatap roti lapis luar biasa itu sambil ber-ck-ck kagum.
"Anakku baru saja berubah menjadi Godzilla." candanya.
"Oh, Dad, kau sangat berlebihan." Ciel memutar matanya. "Cuaca dingin membuatku gampang lapar. Ha, bahkan porsi sarapan Dad jauh lebih banyak."
Baik ia dan Rachel tertawa saat melihat piring Vincent yang terisi roti lapis yang berlapis-lapis. Butuh penekanan, karena Rachel membuatnya dengan benar-benar berlapis secara harfiah, yaitu roti-bacon-roti-sunny side-up egg-roti lagi-bacon lagi-dan roti lagi.
"Ayah Godzilla!" seru Vincent sambil mengangkat tangan kanannya dengan dramatis. "Dan Ibu Godzilla yang membuatnya."
"Hei, hei, jangan libatkan aku, Vince." Rachel berkacak pinggak, pura-pura marah. Vincent tertawa kecil melihat kelakuan Rachel, lalu bergeser untuk mencium pipinya. Ya, strategi yang tepat untuk meredakan amarah sang istri.
"Terserah." Ciel terkekeh dan mulai mengigit roti lapis porsi besarnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, dan mengamati kaca berembun yang didera titik-titik air hujan yang rapat. Sesekali bunyi gemuruh terdengar, namun kilatan cahaya tidak pernah terlihat. Setiap titik air yang mengenai kaca jendela selalu mengalir menyerong karena angin yang cukup kencang. Ciel menatap jendela itu dengan pandangan tidak suka.
"Akhir pekan yang buruk, eh?" suara Vincent membuatnya sedikit tersentak. Ia menghela napas, lalu kembali memakan sarapannya.
"Yeah. Cukup buruk." jawabnya sambil menghabiskan gigitan terakhir. Tangannya menggapai segelas susu yang baru dituang oleh Rachel dan meminumnya sedikit-sedikit.
"Oh? Tapi wajahmu seolah mengatakan kalau ini lebih dari 'cukup buruk'." Vincent menyesap tehnya. "Apa hujan menghalangi rencanamu?"
"Wow. Bagaimana Dad bisa tahu?"
"Hanya menebak." kata Vincent sambil mengedikkan bahu. "Kau melihat hujan seolah itu adalah musuh terbesarmu, Nak. Aku yakin pasti hujan menghalangimu untuk melakukan sesuatu."
"Sebenarnya bukan aku, sih." Ciel mengelap sudut mulutnya dengan serbet. "Alois ingin kemari pagi ini, tapi karena hujan deras begini, sepertinya tidak jadi."
"Mau bermain?" tanya Rachel, dan Ciel mengangguk.
"Tumben sekali." Rachel cepat-cepat menanggapi. "Biasanya kau selalu menghabiskan waktu bermainmu di rumah Sebastian."
Sudut bibirnya berkedut saat mendengar nama Sebastian, tapi ia berhasil menyembunyikannya dengan tawa. "Bukannya Mum sendiri yang selalu mengajarkan untuk menghabiskan waktu di luar rumah? Lagipula Alois ingin kesini hanya untuk menjemputku, kok. Kami memang berencana untuk ke rumah Sebastian setelah itu."
"Kedengaran menyenangkan." komentar Vincent. "Apa kau selalu menikmati waktumu di sana?"
"Memang, Dad!" jawab Ciel dengan wajah berseri-seri. "Dan tentu saja aku menikmati menghabiskan waktu dengan mereka. Sebastian, Claude, Ron, Soma, Grell, semuanya."
Vincent ikut menyunggingkan senyum melihat ekspresi cerah anaknya. "Tidak menyesal pindah ke Oakland, kan?"
"Sama sekali tidak." ia menggeleng. "Ini sempurna, Dad. Rasanya hidupku kini jadi lebih berwarna."
Ciel menirukan satu adegan kartun dimana tokoh utamanya menggambarkan lengkung pelangi dengan tangannya, dan hal itu membuat Vincent tertawa dan mengacak-acak rambut putra semata wayangnya itu. Saat itu, tiba-tiba Ciel menangkap kedipan Lampu LED di ponselnya yang ia taruh di atas meja makan, dan ia buru-buru menyambar benda hitam pipih itu. Jarinya dengan cepat menggeser unlock slide panel pada layar, dan tampillah ikon baterai dengan tanda coretan miring di tengahnya pada layar empat inci tersebut.
"Baterai lemah." ia bergumam. "Dad, Mum, aku duluan, ya? Aku harus men-charge ponselku sebelum ini benar-benar mati. Terima kasih untuk sarapannya."
Ia berlari dengan tergesa-gesa menaiki tangga menuju kamarnya. Ditutupnya pintu kamar pelan-pelan, lalu disambarnya charger yang tergeletak di atas meja belajar dan mencolokkannya pada stop kontak terdekat. Ia menghela napas lega saat kedipan lampu LED berubah dari warna merah menjadi warna kuning. Dengan hati-hati, ditaruhnya ponsel itu di atas meja.
Ciel melepas sandal rumahnya dengan sembarangan dan melempar tubuhnya ke atas tempat tidur, membuat seprai yang baru saja dirapikan jadi sedikit berantakan. Ditariknya bantal yang terletak di bagian atas tempat tidur, lalu dipeluknya bantal itu dengan posisi menggulung seperti kucing yang sedang tidur. Ia memejamkan mata pelan-pelan dan memfokuskan indera pendengarannya pada bunyi hujan yang menerpa atap, dinding dan jendelanya. Dan untuk kesekian kalinya, ia menghela napas.
Bosan, batinnya.
Bahkan ia baru menyadari ini baru saja lewat jam setengah delapan pagi. Ia memutar otak, berusaha mencari ide yang bagus untuk menghabiskan waktu, setidaknya sampai hujan berhenti. Ciel menggeliat, memutar posisinya menghadap meja belajar. Ditelitinya setiap benda yang terletak sembarangan di atas meja itu, sampai ia menemukan sesuatu yang cukup menarik minatnya.
Laptop.
Ia segera beranjak turun dari tempat tidur dan mengambil benda putih ringan itu dari atas meja belajar. Matanya berulang kali melihat tempat tidur dan meja belajar bergantian, dan akhirnya ia memutuskan bahwa tempat tidur rasanya lebih oke. Ciel setengah melompat kembali ke atas tempat tidur, berbaring menelungkup dan menaruh laptop itu di hadapannya. Buru-buru dinyalakannya gadget serbaguna satu itu. Setelah mengaktifkan sambungan wireless dan meng-upgrade beberapa perangkat lunak gratis, ia membuka halaman browser dan mengakses satu situs berita dan hiburan. Yah, setidaknya untuk menjaga image-nya yang kini bukan lagi kuper ataupun anti-sosial.
Jemari telunjuk dan tengahnya bergantian membuat bunyi klik-klik pada mouse di tangan kanannya yang digerakkan kian kemari. Permukaan seprai yang licin membuat pointer mouse bergerak agak tak terkendali, dan seringkali ia berdecak karena itu. Cuaca buruk membuat koneksi internet agak lambat. Tapi tak terasa sudah hampir satu setengah jam ia berselancar di dunia maya, dan terus-terusan membaca artikel juga menekan tombol download di situs pengunduhan musik, terutama dengan kecepatan transfer data yang kecil, membuatnya mulai jenuh.
Sembari menunggu proses unduhan terakhirnya selesai, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dan mencabutnya dari kabel charger, lalu kembali ke atas tempat tidur. Tiba-tiba saja lampu LED ponsel itu berkedip lagi, dan ternyata satu pesan singkat baru saja diterima. Dengan tidak sabar, dibukanya pesan itu.
From : Alois
Yo, sepupu, sepertinya rencana kita hari ini batal. Hujan deras menyebalkan. Maaf sekali. Aku akan berkutat di depan komputer seharian ini seperti seorang maniak game :P
Saturday, Nov 28 10.04 a.m
Ciel tertawa pelan. Serius, deh, orang-orang zaman sekarang. Dunia maya memang menjadi media hiburan nomor satu bagi mereka.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia melirik ikon aplikasi program komunikasi peer-to-peer yang terletak di sudut paling kanan desktop. Ia meng-klik kanan mouse dua kali pada ikon itu dengan agak ragu. Tulisan 'sign in' dengan logo aplikasi berwarna biru beserta kolom-kolom data di atasnya segera muncul di layar.
Ia segera mengetikkan alamat username dan password di dua kolom teratas dan meng-klik tombol sign in. Lingkaran biru dengan bar yang berputar-putar terpampang dengan tulisan 'loading' di tengahnya. Ia menunggu sembari berpikir. Setahunya, biasanya Alois selalu aktif di aplikasi ini jika sedang ada waktu senggang. Dan benar saja, saat tampilan utama muncul, nama Alois terpampang di urutan pertama online contact list-nya. Segera saja ia membuka tab konversasi di link sepupu angkatnya itu.
PhntmhvCiel : *buzz*
Selang satu menit, tidak ada respon. Kelihatannya Alois sedang sibuk dengan hal lain dengan komputernya. Tepat saat ia mengarahkan pointer ke tulisan Sign out, bunyi pop kecil terdengar. Ia buru-buru menarik scroll ke arah tab konversasi sebelumnya. Ternyata ada balasan dari Alois.
captaintrancy : Hoo, Ciel! Sudah berapa lama kau tidak mengaktifkan akun ini?
Ciel tertawa. Benar juga, ya? Ia mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menggunakan aplikasi ini, dan saat ia melihat bar di pojok kanan tampilan utama aplikasi itu, tanggal enam belas bulan delapan tertulis sebagai tanggal terakhir kalinya ia menggunakannya.
PhntmhvCiel : Enam belas Agustus. Lama juga ternyata -_-
captaintrancy : Kau itu memang seorang anti-sosial luar dalam, ya…
Ciel menaikkan sebelah alisnya membaca balasan dari Alois.
PhntmhvCiel : Apa?
captaintrancy : Tidak, lupakan. Sudah cek halaman notifikasi akunmu?
PhntmhvCiel : kenapa?
captaintrancy : Sana, cek dulu. Rasanya aku pernah mengirim sesuatu yang penting.
PhntmhvCiel : Oke.
Ciel menggeser tab konversasinya dan memindahkan tampilan utama ke tampilan halaman notifikasi. Ia sempat kaget meilhat empat puluh sembilan contact request dan dua belas request lainnya. Ia membuka dari nomor yang paling kecil, yang kebanyakan adalah berupa kartu undangan acara cyber, dan hanya satu yang ia terima, yaitu Castlemont '86. Itu adalah perkumpulan angkatan ke-86 sekolah Castlemont yang direkomendasikan oleh Alois. Pointer mouse-nya beranjak ke tulisan contact request, yang rata-rata juga siswa Castlemont, dan ia yakin jumlah ini membludak gara-gara insiden Madame. Dugaannya terbukti saat ia melihat akun bernama 'Brianna Evans' tercantum di dalam daftar.
Dengan wajah datar, ia terus menekan tombol accept di setiap nama kontak, dan jemari telunjuknya tiba-tiba berhenti bergerak saat ia sampai pada kontak di urutan ke empat puluh dua, dan keningnya sedikit berkerut.
Contact Request :
42. Sebastian Michaelis (Sebastianmich) - Oakland, CA
Berikut dengan nama-nama seperti Claude, Ronald dan Soma mengikut sampai urutan paling terakhir. Agaknya permintaan ini sudah dikirim lumayan lama, mengingat nama-nama mereka berada di urutan paling bawah. Ia nyaris menyelesaikan tugasnya dengan daftar itu saat bunyi pop kembali terdengar.
LotusLizzy2491 : Cieeeel! Kau online! X3
Ternyata Lizzy.
PhntmhvCiel : Yap!
LotusLizzy2491 : Sudah lihat halaman notifikasi? Aku yakin di akunmu pasti ada banyak sekali contact request!
PhntmhvCiel : Total 49. Bagaimana menurutmu?
LotusLizzy2491 : Keren! :)))
LotusLizzy2491 : Aku mendengar sesuatu yang melibatkanmu dengan Brianna saat jam pulang sekolah. Apa yang terjadi?
Ciel memutar matanya. See? Belum apa-apa, sudah tersebar rumor yang tidak-tidak di Castlemont.
PhntmhvCiel : Apa kau mendengarnya dari teman-teman Brianna?
LotusLizzy2491 : Salah satu dari mereka. Sebenanya ada apa, sih?
Phntmhv Ciel : Oh tidak :(
Sebenarnya Ciel agak tidak yakin untuk memberitahu Lizzy tentang masalah itu. Tapi sepertinya, Lizzy berhak tahu.
LotusLizzy2491 : Astaga, Ciel, itu kedengaran buruk. Ayo dong, cerita!
PhntmhvCiel : Oke, oke.
PhntmhvCiel : Kemarin Brianna mengajakku pulang bersamanya, dan aku tidak mau. Dia terus memaksa sampai akhirnya Sebastian datang untuk menjemput dan,yah… kau tahu.
LotusLizzy2491 : 'kau tahu' apanya? Aku tidak tahu!
PhntmhvCiel : Sebelumnya kau bisa janji untuk tidak tertawa saat aku selesai memberitahumu?
LotusLizzy2491 : Promise!
Ciel memenceti tombol-tombol keyboard untuk membuat balasan dengan ragu.
PhntmhvCiel : Brianna sempat menarik tanganku, eh, merangkul, sebenarnya.
LotusLizzy2491 : Lalu?
PhntmhvCiel : Lalu Sebastian datang, dan… AAAAARGH.
LotusLizzy2491 : Dan apa? Kenapa kau suka sekali menggantung ceritamu, sih?
PhntmhvCiel : Aku tidak bisa cerita! itu memalukan!
LotusLizzy2491 : Memalukan bagaimana? Memangnya Sebastian menarik celanamu di depan Brianna?
PhntmhvCiel : BUKAN!
LotusLizzy2491 : Lalu apa, Cieeeeel? Kesabaranku mulai habis, nih! :/
Rasanya Ciel ingin mati saja. Ia membenamkan wajahnya ke dalam bantal, lalu mengerang.
PhntmhvCiel : Dia menolongku.
LotusLizzy2491 : Tunggu, sebelah mananya yang memalukan?
PhntmhvCiel : Aku belum selesai, Liz!
LotusLizzy2491 :Oh oke, maaf. Teruskan.
PhntmhvCiel : Dia berusaha melepaskan rangkulan Brianna dari tanganku, tapi… ia menarikku terlalu keras, aku hampir terjatuh dan dia menangkapku, tapi malah lebih terlihat seperti memelukku.
Lizzy tidak segera membalas. Ciel menggigit bantalnya dengan gemas, dan mulai berprasangka bahwa sepertinya ia telah bercerita pada orang yang salah.
LotusLizzy2491 : Kyaaa! Manis sekali! :DD
Ciel pun membenturkan kepalanya ke dinding berkali-kali.
PhntmhvCiel : Ada apa dengan otakmu, Liz? Apanya yang manis?
LotusLizzy2491 : Sebastian baik sekali, ya! Kau pasti bahagia sekali! Kyaaa! XD
PhntmhvCiel : OH TUHAN, ELIZABETH, APA KAU SUDAH GILA?
LotusLizzy2491 : Tidak, tidak, lupakan saja. Apa yang terjadi setelah itu?
PhntmhvCiel : Nah, ini dia masalah yang ingin kuceritakan.
LotusLizzy2491 : Hm-mm?
PhntmhvCiel : Si mesum itu malah semakin provokatif saat Brianna melihatnya! Liz, bayangkan saja, apa yang akan dikatakan si model palsu itu saat melihat Sebastian memelukku dengan posesif seakan aku ini anak perempuan? Bisa-bisa aku dibilang gay!
LotusLizzy2491 : Ah, jadi begitu? Tapi sejauh ini yang kutahu Brianna belum buka mulut, kok. Hanya teman-teman terinya yang masih heboh bergosip ini-itu, tapi tidak tentang yang satu itu.
PhntmhvCiel : Eh? Serius?
LotusLizzy2491 : Iya, serius. Brianna malah diam saja. Sepertinya mereka tidak akan bertindak sebelum Brianna sendiri yang melakukannya.
PhntmhvCiel : Tapi bagaimana jika ia menyebarkan hal yang tidak-tidak?
LotusLizzy2491 : Geez, Ciel, tenang saja. Dia tidak akan berani dengan para pemandu sorak. Kekuatan mulut Brianna masih kalah jauh dengan kami!
PhntmhvCiel : Hah?
LotusLizzy2491 : Duh, mudah saja, aku dan yang lain bisa membuatnya bungkam. Kalau dia sampai berani cerita ke semua orang tentang kau dan Sebastian, akan kucat rambutnya menjadi hitam :D
Tanpa disadari, Ciel menghela napas lega.
PhntmhvCiel : Thanks, Liz. Kau memang sepupuku yang paling baik ;)
LotusLizzy2491 : Kau berhutang padaku dua scoop ice cream hari Senin!
PhntmhvCiel : Hahaha, oke!
Ia pun menutup tab konversasinya dengan Lizzy. Jam digital di sudut desktop menunjukkan pukul sebelas tepat, dan hujan belum juga berhenti. Ciel meng-klik mouse hitam di tangannya berkali-kali dengan asal, tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba terdengar bunyi ping pelan dan satu kotak dialog pemberitahuan muncul dari aplikasi yang sedang digunakannya.
Recent Activities :
Timothy Kettler (Chemistry-Kettler) posted in Castlemont '86 – 23 minutes ago
"Untuk evaluasi saya bulan ini :
1. Bagaimana pengajaran saya di bulan November?
2. Apa saran dan masukan yang tepat untuk saya sebagai referensi pengajaran kedepan?"
Alois Trancy (captaintrancy) replied this – about a minute ago
"Bahkan para guru pun ada di group ini…" gumamnya pelan sambil membuka link 'reply' di sebelah kanan pemberitahuan itu.
Alois Trancy (captaintrancy) replied :
"1. Pengajaran anda untuk bulan November : payah. Saya tidak mengerti apa yang anda ajarkan SERATUS PERSEN. Apa anda juga butuh pendapat saya untuk bulan-bulan sebelumnya ? Jawaban saya : sama payahnya.
2. Pertama : bisakah anda menguruskan badan anda? Badan anda seringkali menutupi sebagian besar layar proyektor dan papan tulis. Sedot lemak kelihatannya oke. Kedua : bisakah anda untuk berbicara dengan bahasa yang baik dan benar? Saya merasa seperti hidup di tahun 1700-an saat mendengar kosakata anda, dan itu membuat saya tidak bisa berkonsentrasi. Ketiga, bisakah anda tidak mendesak kami dengan kata-kata "Besok ulangan, lho. Besok ulangan." ? Itu membuat saya panik setiap saat. Dan terakhir : bisakah anda tidak mengajar kami lagi? Saya yakin kami semua akan sangat senang."
Tawa Ciel meledak saat ia membaca komentar Alois untuk kedua pertanyaan Mr. Kettler. Tapi tetap saja, itu kedengaran sangat tidak sopan. Ia segera menekan salah satu tombol speed dial di ponselnya untuk menghubungi sepupu angkatnya itu.
"Halo?"
"Alois!" serunya. "Cepat hapus komentarmu di posting milik Mr. Kettler!"
"Kau membacanya?" Alois malah tertawa terbahak-bahak.
"Aku membacanya dan aku tahu itu semua benar!" Ciel ikut tertawa. "Tapi, astaga, itu terlalu frontal! Hapus sekarang juga atau besok dia akan menggencetmu dengan perut berlemaknya!"
"Hahaha! Iya, iya! Baiklah!" jawab Alois di sela tawanya. "Jadi kau menghubungiku hanya untuk itu?"
"Tentu saja!" Ciel mengangguk, meskipun ia tahu Alois tidak akan bisa melihat anggukannya. "Memangnya kau berharap apa?"
"Aku berharap hujan segera berhenti." jawab Alois tidak nyambung.
Ciel menggertakkan giginya. "Yang benar saja, Al…"
"Hei, kau masih di tempatmu semula, kan?"
"Iya, kenapa?"
"Tidak." ujar Alois. "Hanya memastikan. Jangan buru-buru sign off, oke?"
"Hah?" dahi Ciel berkerut. "Memangnya―"
KLIK
Terlambat. Alois sudah lebih dulu mematikan sambungan teleponnya.
Ciel menaruh ponselnya di dekat bantal, lalu kembali menekuni layar persegi panjang di depannya. Ia membuka browser dan memutuskan untuk mengunduh beberapa permainan terbaru. Tidak sampai lima menit, bunyi ping kembali terdengar, dan Ciel membuka kembali aplikasi dengan ikon biru yang sempat ia biarkan dalam keadaan ter-minimize.
Recent activities :
Alois Trancy (captaintrancy) deleted his post – 3 minutes ago
Elizabeth Middleford (LotusLizzy2491) added 4 new contacts – 3 minutes ago
Alois Trancy (captaintrancy) shared a link – about a minute ago
You've been tagged in this link
Click here to view the page or here to untag
Ciel menaikkan sebelah alisnya. Link? Tumben sekali Alois memberinya link seperti kali ini. Dengan amat sangat penasaran, ia membuka link itu menggunakan browser default. Derasnya hujan masih menghambat koneksi internet, bahkan dibutuhkan waktu dua menit lebih untuk menunggu halaman itu tampil seratus persen. Ciel menggeser scroll sampai ke bagian yang tidak tertutupi iklan online, dan ternyata itu adalah semacam artikel. Ia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat ke layar dan membaca artikel itu.
YAOI (やおい) - from the Encyclopedia
Yaoi is a kind of Japanese word, which is actually something of an acronym. It comes from "YAma nashi, Ochi nashi, Imi nashi", which means "no climax, no point, no meaning". It is also a slang language to refer 'boys love' in meaning or 'shōnen-ai' in native language.
"…Apa ini?" jari telunjuk Ciel terus menggeser scroll ke arah bawah. Artikel itu lumayan panjang, dan dari awal sampai akhir yang bisa ditangkapnya adalah 'hubungan', 'laki-laki', dan 'sesama'. Ia meringis saat membaca bagian yang diperuntukkan untuk usia tujuh belas tahun keatas, dan sama sekali tidak mengerti dengan kata-kata seperti 'dōjinshi' atau semacamnya. Setengah isi artikel diketik dengan tulisan asiatik yang tidak begitu ia ketahui―bahasa Jepang, sepertinya―dan tentu saja ia langsung melewatkan bagian itu.
Ciel buru-buru menutup link itu dan kembali membuka tab konversasinya dengan Alois. Satu-satunya yang bisa ia tangkap dari artikel itu adalah kata 'anime', yang notabene adalah hal yang sangat digemari sepupu angkatnya itu. Jemarinya dengan cepat mengetikkan sesutu di keyboard dengan ekspresi super heran di yang terlihat jelas wajahnya.
PhntmhvCiel : Al, kenapa kau memberiku artikel itu? Apa itu berhubungan dengan hobimu yang baru? Kurasa itu… eww.
Alois Trancy (captaintrancy) has signed off. Take action
"Aaaargh." geramnya setengah kesal, setengah frustasi. "Siapa yang berkhianat sekarang, aku atau dia?"
Ia kembali membuka browser dan mengakses siaran streaming dan mulai bermain-main dengan panel kanal, tanpa peduli untuk me-non-aktifkan akunnya di aplikasi peer-to-peer itu. Artikel barusan dianggapnya sebagai angin lalu, dan memang dengan cepat sekali ia melupakan semua tulisan itu segera setelah terhanyut dengan siaran kartun di kanal yang cukup terkenal. Bahkan suara tawanya dapat menutupi suara pop dan ping yang berkali-kali muncul dari aplikasi.
Tetapi lama kelamaan bebunyian itu mulai membuatnya jengkel. Akhirnya ia me-minimize halaman browser dan kembali ke aplikasi itu untuk menutupnya. Sekilas ia membaca bagian aktivitas terbaru dan menyadari bahwa sudah lebih dari setengah halaman itu dipenuhi dengan itu. Saat Ciel mengarahkan pointer mouse-nya ke tulisan sign off, satu lagi bunyi ping terdengar dan kotak dialog kecil muncul di sudut halaman aplikasi.
Sebastian Michaelis (Sebastianmich) has signed on. Take action
Ciel nyaris meremukkan mouse di tangan kanannya.
Ciel akui, dia masih kesal dengan pemuda itu karena apa yang ia lakukan kemarin. Tapi setelah dipikir-pikir lagi… itu semua bukan kesalahannya. Sebastian jelas-jelas bermaksud untuk membantunya, dan membantu itu juga jelas-jelas perbuatan yang baik. Jadi, Sebastian tidak salah. Apa yang salah adalah situasi saat itu, dan―
"…dan teman-temannya pasti mengira kalau kita ini gay!"
―tunggu.
Ia tergesa-gesa membuka browser dan menilik daftar history dengan cermat, lalu membuka link yang sebelumnya diberi oleh Alois. Kembali dibacanya artikel itu dengan saksama―sampai dua kali, malah―bahkan ia mati-matian menggunakan translator untuk bagian berbahasa jepang yang tidak dimengertinya.
Kedua tangannya mencengkram bantal di bawahnya erat-erat, dan ia menenggelamkan wajahnya ke permukaan benda empuk itu untuk yang kesekian kalinya. Jika otaknya adalah mesin, ia bisa menebak kalau kini beratus-ratus roda gir sedang berputar cepat di dalam kepalanya. Entah kenapa saat-saat ia bersama Sebastian―dari awal sampai yang terakhir kali ia tahu―muncul di benaknya, bersamaan dengan semua potongan-potongan artikel yang sampai saat ini masih ia cerna apa maksudnya.
Ia ingat saat ia pertama kali bertemu Sebastian. Pemuda itu langsung saja dikatainya 'mesum'―bahkan mereka belum sempat berkenalan. Ia ingat bagaimana perasaannya saat mendengar suara velvet pemuda itu untuk yang pertama kalinya. Ia ingat saat mata claret itu menatapnya. Otaknya tidak mampu bekerja dan detik waktu seakan membuat tubuhnya menjadi sepotong agar-agar.
…as the relationship mostly begins with a coincidental act…
Ia ingat saat ia harus menginap di rumah Sebastian dengat sangat terpaksa. Dan gara-gara permainan konyol Alois, yang membuatnya harus menyerahkan ciuman pertamanya pada si rambut jet black itu, mampu membuat kedua iris birunya terjaga sampai keesokan paginya.
…it goes slowly through to the more complex part, whether it may be deemed quite not too apropriate for some common thoughts…
Ia ingat saat mulutnya melontarkan permintaan maaf untuk insiden satu itu. Bahkan hal ini membuat hubungan mereka sedikit membaik, dan ia tahu bahwa Sebastian tidak seburuk yang ia pikirkan. Kalau boleh jujur, Ciel sangat menikmati menghabiskan waktu bersamamnya. Walau di luar Sebastian menanggapinya dengan sangat santai―tapi siapa tahu dengan apa yang sebenanya ia pikirkan. Tapi tidak dengan dirinya. Ia tahu betul , bahkan sampai sekarang pun―jangankan membicarakannya, hanya sekadar mengingatnya pun―selalu berhasil membuat wajahnya merah padam atau malah menendang furnitur di depannya dengan tidak sengaja.
…in some conditions, they find it hard to consider this kind of thing, all due to their fellow gender…
Ia ingat saat Sebastian menolongnya lepas dari jebakan kecil Brianna. Dia tidak tahu apakan Sebastian sengaja atau tidak, saat pemuda itu memeluknya. Bukan, lebih tepatnya―mendekapnya. Ia ingat setiap detail kecil acak yang ia lihat dan gunakan untuk mengalihkan jantungnya dari detakkan yang tidak karuan. Wangi musk tipis yang menguar dari tubuhnya, tekstur coat Sebastian yang mengenai pipinya saat pemuda itu melindunginya dari tetes air hujan, sampai benang kecil yang mencuat di ujung syal yang saat itu Sebastian kenakan.
Ia ingat bahwa saat itu, ia merasa sangat gugup. Tapi entah kenapa, ia juga merasa sangat nyaman dalam waktu yang bersamaan.
Membingungkan.
Ciel menolehkan pandangannya ke jendela di samping kirinya. Hujan masih belum berhenti, bahkan ia menyadari titik-titik air langit itu berjatuhan semakin rapat. Suara deruan bercampur angin membuatnya lebih tenang, tapi tidak saat ia teringat akan sesuatu.
Rumah nomor enam yang terletak di depan rumahnya.
Tetes hujan yang membentur kaca jendela membuatnya tidak bisa melihat rumah itu dengan jelas―selain warna cat dindingnya. Ia kembali melihat layar pipih di depannya, yang menampilkan nama Sebastian pada aplikasi yang sedang ia gunakan dengan lingkaran berwarna hijau di online contacts list-nya, lalu kembali berpaling ke jendela.
Tanpa sadar, ia membayangkan isi dalam rumah itu dengan teliti. Ruang tamu, ruang tengah, dapur, dan yang paling penting : kamar Sebastian. Dari posisi lampu tidur hingga komputer yang terletak di samping jendela—yang ia yakini pasti sekarang Sebastian sedang menggunakan benda itu. Ciel bahkan teringat saat Claude menyingkap tirai di kamar Sebastian untuk membiarkan sinar matahari pagi masuk ke ruangan itu saat ia dan ketiga sepupunya menginap di sana, dan yang pertama kali ia lihat dari jendela itu adalah rumahnya.
Fakta bahwa kini bahwa ia dan raven itu hanya terpisahkan dua tembok―dan satu jalan kecil.
Dan kini ia mengerti kenapa Lizzy menyebut tindakan Sebastian saat itu sangat 'manis' dan kenapa Alois mengirim artikel itu kepadanya.
…despite the use of this term which customarily refers to sexual matters, it does not close a rather good reason as the basic content headlines in the most counterpart, on the other hand, such as love.
Ciel menggigit bibir bawahnya. Apa-apaan ini? Kenapa semuanya mengarah ke… hal seperti ini? Pipinya menghangat saat ia mengingat satu kata paling akhir―kata yang selalu ia cibir saat tokoh utama di drama serial favorit ibunya mengatakannya, dan kata yang selalu membuatnya geli saat Lizzy menceritakan salah satu cerita novel romantis yang dimilikinya.
Ia yakin sekali bahwa saat ia memikirkan kata itu, sekarang, wajahnya pasti sudah bisa menandingi warna stiletto milik Madame Red.
Apakah yang ia rasakan terhadap Sebastian selama ini adalah… cinta?
A/N : And it does happen! 100 review dan saya akan memberi kejutan – an earlier update! Say 'Eureka'! XD
FYI, chapter ini adalah cikal bakal lahirnya WTTMD. Sebelum saya membuat fic ini, chapter ini adalah bagian paling awal yang saya ketik. Karena takut nggak nyambung, jadilah saya perpanjang ceritanya sampai makin nggak nyambung begini *ketawa miris* dan juga sebelumnya, saya minta maaf kalau ini sangat pendek dan nggak ada Sebastian di sini. Namanya juga hadiah… #stabbed
Sorry again for the typos and missused structures! Not edited!
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : Rose, Aldred van Kuroschiffer, xblacklolitax, Nada-chan Laurant, Chernaya shapochka, Keshahaha, Kojima Michiyo, risa777, Kai Shadowchrive Noisseggra, TheChronaIria, resharave, dan RaFa LLight S.N! That was very Mamma Mia!
For anon reviewers :
Rose : Untungnya… saya masih baik sama Ciel, Rose-san. Jadi nggak bakalan ada masalah apa-apa, hohoho. Terima kasih lagi dan lagi buat reviewnya!
resharave : Salam kenal, Resharave-san! Wajar, saya emang nggak famous di FKI, kok. Hahaha. Terima kasih banyak untuk semua kritik dan sarannya! Juga… apresiasinya. Saya sampai nggak tau mau ngomong apa. Intinya, terima kasih! :D
RaFa LLight S.N : Haduh, tingkatin? Gimana kalau jenjangnya mentok? *digampar* Beres! Terima kasih sekali sudah mau menunggu kelanjutan fic ini, Rafa-san!
And six chapters to go! Saya bisa janji di chapter-chapter setelah ini bakal ada LEBIH BANYAK romance, tapi saya tetap nggak bisa janji untuk update secepat sebelumnya. Maaf sekali.
Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D
